TUGAS Koas Muhammad Novran Chalik

download TUGAS Koas Muhammad Novran Chalik

of 24

  • date post

    05-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    219
  • download

    0

Embed Size (px)

description

FK Unsri

Transcript of TUGAS Koas Muhammad Novran Chalik

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

BAGIAN ILMU KESEHATAN GIGI DAN MULUT

Oleh :

Muhammad Novran Chalik, S.Ked 04054811416049

Pembimbing :

Drg. Billy Sujatmiko, Sp.Kg

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN GIGI DAN MULUTRUMAH SAKIT UMUM PUSAT MOHAMMAD HOESIN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

PALEMBANG

1. Karies D1-D6ICDAS mengklasifikasikan karies berdasarkan tingkat keparahan karies. Klasifikasi dibuat dalam bentuk angka, dan diawali dengan huruf D. Menurut ICDAS (International Caries Detection and Assessment System), karies terbagi menjadi 6, yaitu:1. D1:Dalam keadaan gigi kering, terlihat lesi putih pada permukaan gigi.2. D2:Dalam keadaan gigi basah, sudah terlihat adanya lesi putih pada permukaan gigi.3. D3:Terdapat lesi minimal pada permukaan email gigi.

4. D4:Lesi email lebih dalam. tampak bayangan gelap dentin atau lesi sudah mencapai bagian dentinoenamel junction (DEJ).5. D5:Lesi telah mencapai dentin.6. D6:Lesi telah mencapai pulpa.

2. Progresivitas karies

Lesi email awal di dapat saat level PH pada permukaan gigi lebih rendah sehingga tidak dapat diimbangi dengan remineralisasi, tetapi tidak cukup rendah untuk menghambat proses remineralisasi pada daerah permukaan email. Ion asam berpenetrasi dalam menuju porus lapisan prisma yang dapat menyebabkan demineralisasi subpermukaan. Permukaan gigi dapat tetap utuh karena adanya remineralisasi di permukaan yang disebabkan peningkatan level ion fluoride, ion Ca2+ dan HPO 42+, dan juga saliva. Yang termasuk karakteristik klinis lesi email awal adalah kehilangan translusensi normal dari email yang memberikan penampakan putih kapur, terlebih lagi pada saat dehidrasi, selain itu juga terdapat lapisan permukaan yang rentan rusak pada saat probing, khusunya pada pit dan fissura. Termasuk pula didalamnya, adanya peningkatan porusitas, khususnya pada subpermukaan sehingga terdapatpeningkatan potensial terjadinya noda dan adanya penurunan densitas pada bagian sub permukaan, yang dapat di deteksi dengan radiograf atau dengan transluminasi. Ukuran lesi sub permukaan dapat berkembang sehingga dentin dibawahnya terlibat dan terdemineralisasi lalu kemudian lesi interproksimal dapat terdeteksi oleh radiograf. Walau begitu, selagi permukaan gigi menyatu, lesi masih dapat dikatakan reversible. Dalam mengatasi lesi email dini, secara idealnya adalah berusaha mengembalikan densitas email, tetapi pada realitanya hanya terdapat sebagian perbaikan pada densitas permukaan. Walaupun demikian, remineralisasi sebagian pada lesi awal menjadikan email tersebut lebih resisten terhadap demineralisasi asam daripada email normal dan secara fisik lebih kuat. Sehingga lebih bauk bagi pasien untuk tetap menjada oral hygiene daripada langsung memperbaiki gigi dan mengabaikan usaha remineralisasi. Jika ketidakseimbangan remineralisasi atau demineralisasi berlanjut, maka permukaan lesi awal akan runtuh dengan adanya pelarutan apatit atau fraktur kristal yang lemah, sehingga menghasilkan kavitas. Bakteri plak akan memenuhi kavitas dan membuat proses remineralisasi semakin sulit dan kurang efektif sehingga kompleks dentin-pulpa akan menjadi aktif. Pulpa akan menghasilkan respon segera terhadap invasi asam pada tubuli paling luar. Akan terdapat mineralisasi pada kanal lateral yang menggabungan tubuli dentin sehingga menghasilkan lapisan translusen.Hal ini tidak terlihat secara klinis tetapi dapat diungkapkan secara radiograf dan dapat dilihat apabila seluruh dentin yang terdemineralisasi diangkat pada saat preparasi kavitas. Hal ini sebenarnya adalah suatu reaksi pertahanan dari pulpa yang membuktikan pulpa dan dentin merupakan satu kesatuan organ dan memiliki kemampuan yang sama dalam proses penyembuhan. Sekali demineralisasi berlanjut dari email menuju dentin dan bakteri menjadi permanen didalam kavitas, mereka akan menerobos ke dalam dentin yang lebih dalam dengan sendirinya. Demineralisasi masih dapat dikontrol dengan diet substrat tetapi bakteri juga akan memproduksi asam untuk melarutkan hidroksapatit pada dentin yang lebih dalam. Tekstur dan warna dentin akan berubah seiring perkembangan lesi. Tekstur akan berubah karena demineralisasi dan warna akan bertambah gelap akibat produk bakteri atau noda dari makanan dan minuman. Pada lesi kronik, perubahan warna akan lebih terlihat dan tekstur dasar kavitas akan lebih lunak. Proses karies akan terus berlanjut, mencapai pulpa dan menimbulkan infeksi pulpa sehingga terjadi kematian pulpa atau nekrosis dan selanjutnya menjadi abses. Secara radiografis, gambaran abses gigi permanen akan tampak disekitar periapikal sedangkan pada gigi susu, abses kronik berupa kerusakan inter-radikular, terutama terlihat di daerah bifurkasi. Secara klinis infeksi telah menyebar ke jaringan lunak didaerah bukal berupa parulis atau abses ginggival berupa eksudat, yang akan pecah dan meninggalkan saluran fistel. Infeksi kronis yang terjadi pada gigi susu pada saat pembentukan aktif dari mahkota gigi permanen erupsi dengan efek hipoplasia atau hipokalsifikasi email. Hal ini sering dijumpai pada gigi premolar.

Kesimpulan Tahapan Proses Karies

1. SmallPit

Mikroorganismemulaimenyerangbagiangigiyangrentan,yaitupit.2. BluishWhiteArea Dentinlebihlunakemailsehinggamikroorganismeakanmenyerang dentino enamel junction yang akan menimbulkan warna keputihan pada email.3. OpenCavity

Jikapennyeranganmikroorganismeterusberlanjut,makaakanterlihat kavitas besar warna coklat muda.4. PulpitisPulpamulaidiserangsehinggamenimbulakninfeksi.5. ApicalabscessPulpasudahmatidanpulpitismulaimerambahkeligamentperiodontal.

3. Inervasi gigi atas dan bawah

Nervus sensori pada rahang dan gigi berasal dari cabang nervus cranial ke-V atau nervus trigeminal pada maksila dan mandibula. Persarafan pada daerah orofacial, selain saraf trigeminal meliputi saraf cranial lainnya, seperti saraf cranial ke-VII, ke-XI, ke-XII.

NERVUS MAKSILA

Cabang maksila nervus trigeminus mempersarafi gigi-gigi pada maksila, palatum, dan gingiva di maksila. Selanjutnya cabang maksilanervus trigeminusini akan bercabang lagi menjadi nervus alveolaris superior. Nervus alveolaris superior ini kemudian akan bercabang lagi menjadi tiga, yaitu nervus alveolaris superior anterior, nervus alveolaris superior medii, dan nervus alveolaris superior posterior. Nervus alveolaris superior anterior mempersarafi gingiva dan gigi anterior, nervus alveolaris superior medii mempersarafi gingiva dan gigi premolar serta gigi molar I bagian mesial, nervus alveolaris superior posterior mempersarafi gingiva dan gigi molar I bagian distal serta molar II dan molar III.

NERVUS MANDIBULACabang awal yang menuju ke mandibula adalah nervus alveolar inferior. Nervus alveolaris inferior terus berjalan melalui rongga pada mandibula di bawah akar gigi molar sampai ke tingkat foramen mental. Cabang pada gigi ini tidaklah merupakan sebuah cabang besar, tapi merupakan dua atau tiga cabang yang lebih besar yang membentukplexusdimana cabang pada inferior ini memasuki tiap akar gigi.

Selain cabang tersebut, ada juga cabang lain yang berkonstribusi pada persarafan mandibula. Nervus buccal, meskipun distribusi utamanya pada mukosa pipi, saraf ini juga memiliki cabang yang biasanya di distribusikan ke area kecil pada gingiva buccal di area molar pertama. Namun, dalam beberapa kasus, distribusi ini memanjang dari caninus sampai ke molar ketiga. Nervus lingualis, karena terletak di dasar mulut, dan memiliki cabang mukosa pada beberapa area mukosa lidah dan gingiva. Nervus mylohyoid, terkadang dapat melanjutkan perjalanannya pada permukaan bawah otot mylohyoid dan memasuki mandibula melalui foramen kecila pada kedua sisi midline. Pada beberapa individu, nervus ini berkontribusi pada persarafan dari insisivus sentral dan ligament periodontal.

Serabut saraf yang terapat pada gigi baik rahang atas dan rahang bawah juga pada mata terhubung melalui saraf trigeminus ( nervus V/ganglion gasseri).

1. N.V1 Cabang Opthalmicus

2. N.V2 Cabang Maxillaris

3. N.V3 Cabang Mandibula

Cabang maxillaris (rahang atas) dan mandibularis (rahang bawah) penting pada kedokteran gigi.

Cabang maxillaris memberikan inervasi sensorik ke gigi maxillaris, palatum, dan gingiva.

Cabang mandibularis memberikan persarafan sensorik ke gigi mandibularis, lidah, dan gingiva. Variasi nervus yang memberikan persarafan ke gigi diteruskan ke alveolaris, ke soket di mana gigi tersebut berasal.

Nervus alveolaris superior ke gigi maxillaris berasal dari cabang maxillaris nervus trigeminus.

Nervus alveolaris inferior ke gigi mandibularis berasal dari cabang mandibularis nervus trigeminus.

CABANG MAXILLARIS MEMPERSARAFI :PALATUM Membentuk atap mulut dan lantai cavum nasi Terdiri dari :

Palatum durum (langit keras) Palatum mole (langit lunak)PALATUM DURUMTerdapat tiga foramen :

foramen incisivum pada bidang median ke arah anterior foraminapalatinamajor di bagian posterior dan foramina palatina minor ke arah posterior Bagian depan palatum : N. Nasopalatinus (keluar dari foramen incisivum), mempersarafi gigi anterior rahang atas Bagian belakang palatum : N. Palatinus Majus (keluar dari foramen palatina mayor), mempersarafi gigi premolar dan molar rahang atas.PALATUM MOLAEN. Palatinus Minus (keluardari foramen palatina minus), mempersarafi seluruh palatina mole.PERSARAFAN DENTIS DAN GINGIVA RAHANG ATASPermukaan labia dan buccal : N. alveolaris superior posterior, medius dan anterior

Nervus alveolaris superior anterior, mempersarfi gingiva dan gigi anterior

Nervus alveolaris superior media, mempersarafi gingiva dan gigi premolar dan molar I bagian mesial

Nervus alveolaris superior posterior, mempersarafi gingiva dan gigi molar I bagian distal, molar II dan molar III

Permukaan palatal : N. palatinus major dan nasopalatinus