Tugas Kel. ABI 2011

download Tugas Kel. ABI 2011

of 27

  • date post

    04-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    811
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of Tugas Kel. ABI 2011

MAKALAH INDUSTRI MINYAK KAYU PUTIHDiajukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Analisis Bahan Industri Semester Genap

Disusun Oleh : Dwi Surya Atmaja Ina Noprastika Noermala Syari Rosdiana Sapto Adi Wibowo Yeni Setyaningsih Diah Kurnia Sari Mike L.T J2C 008 087 J2C 008 0 J2C 008 046 J2C 008 062 J2C 008 076 J2C 008 087 J2C 006 034

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG MEI, 2011

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman kayu putih (Malaleuca leucadendron L) telah tersebar secara alami di kepulauan Indonesia dan berkembang secara luas di Indonesia, terutama di pulau Jawa dan Maluku dengan memanfaatkan daunnya untuk disuling menjadi minyak atsiri yang bernilai ekonomi tinggi yang disebut minyak kayu putih, yang warna minyaknya dari warna kekuning-kuningan sampai kehijau-hijauan. Daun yang telah disuling menjadi minyak kayu putih memiliki beberapa kegunaan sebagai : anti rematik, menghilangkan nyeri pada tulang dan syaraf (neuralgia), menghilangkan sakit karena radang usus, diare, perut kembung, menghilangkan radang kulit, menghilangkan Ezkema (sakit kulit karena elergi), dll. Karena pada daun yang disuling mengandung : minyak atsiri, yang terdiri dari sineol 50%-65%, Alfaterpineol, valeraldehida, dan benzaldehida. Karena penggunaan minyak kayu putih yang luas itu, minyak kayu putih yang dijual dipasaran perlu mendapat perhatian. Dan lahirlah standar nasional minyak kayu putih sesuai dengan SNI 06-3954-2001. Standar tersebut menetapkan istilah dan definisi, syarat mutu, cara uji, pengemasan, dan penandaan minyak kayu putih yang digunakan sebagai pedoman pengujian minyak kayu putih yang diproduksi di Indonesia. Mutu minyak kayu putih diklasifikasikan menjadi dua, yaitu mutu utama (U), dan mutu pertama (P). Keduanya dibedakan oleh kadar sineol yang terkandung. Sineol merupakan senyawa kimia golongan ester turunan terpen alkohol yang terdapat dalam minyak atsiri seperti kayu putih. Minyak kayu putih (U) mempunyai kadar sineol 55%, sedangkan mutu (P) kadar sineolnya kurang dari 55%. Secara umum minyak kayu putih dikatakan bermutu apabila mempunyai bau khas minyak kayu putih, memiliki berat jenis yang diukur pada suhu 15oC sebesar 0,90-0,93, memiliki indeks bias pada suhu 20oC berkisar antara 1,46-1,47 dan putaran optiknya pada suhu 27,5oC sebesar (-4)o-0o. Indeks bias adalah bilangan yang

menunjukkan perbandingan antara sinus sudut datang dengan sinus sudut bias cahaya, sedangkan yang dimaksud dengan putaran optik adalah besarnya pemutaran bidang polarisasi suatu zat. Disamping itu, minyak kayu putih yang bermutu akan jernih apabila dilakukan uji kelarutan dalam alkohol 80%, yaitu dalam perbandingan 1:1, 1:2, dan seterusnya sampai 1:10. Dalam minyak kayu putih tidak diperkenankan adanya minyak lemak dan minyak pelican. Minyak lemak merupakan minyak yang berasal dari hewan maupun tumbuhan, seperti lemak sapi dan minyak kelapa, yang mungkin ditambahkan sebagai bahan pencampur dalam minyak kayu putih. Demikian juga minyak pelican yang ditambahkan yang merupakan golongan minyak bumi seperti minyak tanah (kerosene) dan bensin yang digunakan sebagai bahan pencampur minyak kayu putih, sehingga merusak minyak kayu putih tersebut. Bagian terpenting dalam standard tersebut, selain penetapan mutu diatas, adalah cara uji untuk mengetahui mutu minyak kayu putih, baik yang tercantum di dalam dokumen maupun kemasan. Pengujian dilakukan dengan dua cara, yaitu cara uji visual dan cara uji laboratorium. Cara uji visual dilakukan dengan cara uji bau sedangkan cara uji laboratorium dilaksanakan untuk menguji kadar sineol, berat jenis, indeks bias, putaran optik, uji kelarutan dalam alkohol 80%, kandungan minyak lemak, dan kandungan minyak pelican. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai proses produksi dan cara menganalisis minyak kayu putih secara garis besarnya. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan minyak kayu putih dan apa saja senyawa kimia yang terkandung di dalamnya ? 2. Apa saja khasiat yang dimiliki oleh minyak kayu putih ? 3. Bagaimana proses produksi minyak kayu putih yang berjalan dalam pabrik ? 4. Bagaimana analisis minyak kayu putih yang sesuai dengan standard mutu minyak kayu putih ? 5. Bagaimana cara pengolahan limbah minyak kayu putih yang dihasilkan ?

1.3 Tujuan 1. Mengetahui pengertian minyak kayu putih dan kandungan senyawa kimia yang terkandung di dalamnya. 2. Mengetahui khasiat yang dimiliki oleh minyak kayu putih. 3. Mengetahui proses produksi minyak kayu putih yang berjalan di dalam pabrik. 4. Mengetahui cara menganalisis minyak kayu putih yang sesuai dengan standard mutu. 5. Mengetahui cara pengolahan limbah minyak kayu putih yang dihasilkan.

BAB II ISI 2.1 Tanaman Kayu Putih Gelam atau Kayu putih (Melaleuca leucadendra syn. M. leucadendron) merupakan pohon anggota suku jambu-jambuan (Myrtaceae) yang dimanfaatkan sebagai sumber minyak kayu putih (cajuput oil). Minyak diekstrak (biasanya disuling dengan uap) terutama dari daun dan rantingnya. Namanya diambil dari warna batangnya yang memang putih. Tumbuhan ini terutama tumbuh baik di Indonesia bagian timur dan Australia bagian utara, namun demikian dapat pula diusahakan di daerah-daerah lain yang memiliki musim kemarau yang jelas. Tanaman minyak kayu putih berupa pohon tinggi lebih kurang 10 m. Batang berkayu, bulat, kulit mudah mengelupas, bercabang, warna kuning kecokletan. Daun tunggal, bentuk lanset, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, permukaan berbulu, pertulangan sejajar, warna hijau. Bunga majemuk, bentuk bulir, panjang 7-8 cm, mahkota 5 helai, warna putih. Buah kotak, beruang tiga, tiap ruang terdapat banyak biji.

Gambar Tanaman Kayu Putih

Tanaman ini tumbuh di daerah berawa-rawa bahkan dalam air, dataran rendah ataupun di pegunungan. Kandungan kimia dari minyak kayu putih adalah minyak atsiri (Kayuputol, terpineol) dan Tanin. 2.2 Minyak Kayu Putih Minyak kayu putih merupakan salah satu produk kehutanan yang telah dikenal luas oleh masyarakat. Minyak atsiri hasil destilasi atau penyulingan daun kayu putih (Melaleuca leucadendron Linn.) ini memiliki bau dan khasiat yang khas, sehingga banyak dipakai sebagai kelengkapan kasih sayang ibu terhadap anaknya, terutama ketika masih bayi. Minyak kayu putih digosokkan hampir di seluruh badan untuk memberikan kesegaran dan kehangatan pada si jabang bayi. Minyak kayu putih mengandung eukaliptol (1,8-cineol) (komponen paling banyak, sekitar 60%, -terpineol dan ester asetatnya, -pinen, dan limonen. Tumbuhan ini terutama tumbuh di Indonesia bagian timur dan Australia bagian utara, namun demikian dapat pula diusahakan di daerah-daerah lain yang memiliki musim kemarau yang jelas. Minyak kayu putih mudah menguap. Pada hari yang panas orang yang berdekatan dengan pohon ini akan dapat membauinya dari jarak yang cukup jauh. Mutu minyak kayu putih diklasifikasikan menjadi dua, yaitu mutu Utama (U) dan mutu Pertama (P). Keduanya dibedakan oleh kadar cineol, yaitu senyawa kimia golongan ester turunan terpen alkohol yang terdapat dalam minyak atsiri seperti kayu putih. Minyak kayu putih mutu U mempunyai kadar cineol 55% sedangkan mutu P kadar cineolnya kurang dari 55%. Secara umum, kayu putih dikatakan bermutu apabila mempunyai bau khas minyak kayu putih, memiliki berat jenis yang diukur pada suhu 15oC sebesar 0,90 0,93, memiliki indeks bias pada suhu 20oC berkisar antara 1,46 1,47 dan putaran optiknya pada suhu 27,5oC sebesar (-4)o 0o. Indeks bias adalah bilangan yang menunjukkan perbandingan antara sinus sudut datang dengan sinus sudut bias cahaya, sedangkan yang dimaksud putaran optik adalah besarnya pemutaran bidang polarisasi suatu zat.

2.3

Khasiat Tanaman Kayu Putih Kayu putih telah dimanfaatkan sejak zaman nenek moyang sebagai bahan

yang digunakan untuk mengatasi aneka gangguan kesehatan. Daun kayu putih misalnya, sejak dulu dimanfaatkan untuk mengurangi rasa sakit maupun bengkak akibat gigitan serangga. Daunnya yang telah dijadikan ekstrak atau dikeringkan biasa dimanfaatkan untuk ramuan penambah stamina. Minyak kayu putih (Cajuput oil, Oleum-melaleuca-cajeputi, atau Oleum cajeputi) dihasilkan dari hasil penyulingan daun dan ranting kayu putih (M. Leucadendra). Minyak atsiri ini dipakai sebagai minyak pengobatan, dapat dikonsumsi per oral (diminum) atau, lebih umum, dibalurkan ke bagian tubuh. Khasiatnya adalah sebagai penghangat tubuh, pelemas otot, dan mencegah perut kembung. Minyak kayu putih banyak menjadi komponen dalam berbagai salep dan campuran minyak penghangat. Salep macan dan minyak telon diketahui menggunakan minyak kayu putih sebagai penyusunnya. Sebagai tumbuhan industri, kayu putih dapat diusahakan dalam bentuk hutan usaha (agroforestri). 2.4 Industri Minyak Kayu Putih Minyak kayu putih merupakan salah satu produk kehutanan yang telah dikenal luas oleh masyarakat. Minyak atsiri hasil destilasi atau penyulingan daun kayu putih (Melaleuca leucadendron Linn.) ini memiliki bau dan khasiat yang khas, sehingga banyak dipakai sebagai kelengkapan kasih sayang ibu terhadap anaknya, terutama ketika masih bayi. Minyak kayu putih digosokkan hampir di seluruh badan untuk memberikan kesegaran dan kehangatan pada si jabang bayi. Minyak kayu putih merupakan komponen utama dalam pembuatan berbagai salep dan campuran minyak penghangat. Salep macan dan minyak telon diketahui menggunakan minyak kayu putih sebagai penyusunnya. Minyak kayu putih yang bermutu akan tetap jernih bila dilakukan uji kelarutan dalam alkohol 80%, yaitu dalam perbandingan 1 : 1, 1 : 2, dan seterusnya s.d. 1 : 10. Dalam minyak kayu putih tidak diperkenankan adanya minyak lemak dan minyak pelican. Minyak lemak

merupakan minyak yang berasal dari hewan maupun tumbuhan, seperti lemak sapi dan minyak kelapa, yang mungkin ditambahkan sebagai bahan pencampur dalam minyak kayu putih. Demikian juga minyak pelican yang merupakan golongan minyak bumi seperti minyak tanah (kerosene) dan bensin biasa