TUgas Design Majalah Antik

Click here to load reader

  • date post

    20-Jan-2017
  • Category

    Design

  • view

    227
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of TUgas Design Majalah Antik

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.1

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.2

    Pesta demokrasi di Indonesia diadakan lima tahun sekali. Setelah tahun 2009, kini tahun 2014 menjadi tahun pesta demokrasi berikutnya. Apa yang terjadi di pemilu kali ini ? Apakah sama seperti tahun kemarin ? Pastikan kita semua menjadi saksi pesta demokrasi tahun ini.

    Pemilihan legislatif sudah selesai. Siapa yang akan maju ke Senayan dan siapa yang akan benar-benar mewakili rakyatnya. Bagaimanapun hasilnya, setelah pileg akan ada perebutan kursi menuju RI 1 dan RI 2. partai yang akan berkuasa di Senayan maka akan mudah melenggang ke jabatan ter-tinggi di negeri ini.

    Partai yang tidak memperoleh banyak suara berbondong-bondong merapat-kan barisan. Saling melengkapi kekurangan dan yang pasti untuk bisa mendapatkan suara yang lebih banyak. Pertemuan antar petinggi partai marak dilakukan. Banyak yang bilang untuk kepentingan pemilu, walaupun mungkin ada yang berniat untuk sekedar bersilaturahmi.

    Lalu, siapa yang akan melenggang ke istana Negara ? kita tunggu saja hasil-nya nanti. Siapapun dia, itu adalah pilihan rakyat yang harus kita hargai. Bagaimana cara mereka bisa melenggang ke istana Negara? Jangan terlalu banyak berburuk sangka.

    Penulis

    Salam RedaksiDapur Redaksi

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.3

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.4

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.5

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.6

    Kemana Arah Koalisi Jelang Pilpres 2014?

    News

    Setelah dilakukan Pemilu Legisla-tif pada 9 April 2014, maka terjadi tiga poros calon presiden, yaitu Po-ros PDI-P dengan capres Jokowi. Poros Partai Golkar dengan capres Aburizal Bakrie (ARB) dan Poros Gerindra dengan capres Prabowo Subianto. Ketiga Poros Calon Pres-iden ini pada tahap pertama meng-hadapi tantangan politik untuk mampu membentuk sebuah koalisi, sehingga mampu menembus keten-tuan Presidential Threshold yang sesuai UU Pilpres sebesar 25%. Poros capres Jokowi yang dikendal-ikan oleh PDI-P kurang dari dua min-ggu sudah berhasil menben-tuk koalisi pokok yang dapat menyelesaikan tantangan pertama yaitu dicapainya Presidential Threshold dengan jumlah sekitar 30% (PDI-P 15%, PKB 9 % dan Nasdem 6%). Kini Poros capres Jokowi yang telah merasa cukup dengan koalisi tiga Parpol, sedang disibukan untuk memilih politisi yang akan diplilih sebagai tokoh Wakil Presidennya. Terdapat anggapan, bahwa tokoh politisi yang akan dipilih Jokowi harus mempunyai pengaruh yang signifikan

    terhadap elektabilitas dalam Pilpres tanggal 9 Juli 2014 dan yang lebih penting harus mendukung Jokowi apabila terpilih sebagai Presiden. Risalah pencapresan Jokowi meru-pakan episode yang sangat me-narik karena polah tingkah para politisi PDI-P, PKB dan Nasdem dalam menggarap koalisinya telah memunculkan berbagai persoalan politik yang menarik. Munculnya satu deretan tokoh nasional yang semuanya mempunyai track record yang menarik telah menghiasi pang-gung pemilihan bakal Cawapres, karena naluri manusia dalam me-milih sesearang yang dianggap ter-baik akan selalu mengandung faktor evaluasi kemanusiaan yang luas.

    Kini menunggu waktu kapan

    bakal capres PDI-P Jokowi mengumumkan bakal cawapres pilihan-

    nya merupakan momen yang men-egangkan, bukan sekedar karena masyarakat menunggu siapa figur politisi tersebut, tetapi ada serang-kaian persoalan yang terkait, yaitu pertama ada kesan beredar bahwa Jokowi adalah mendekati seratus persen bakal capres yang bakal ter-pilih, sedangkan bakal cawapres haruslah seorang yang betul-betul jagoan, karena ia harus mampu mendukung suksesnya Jokowi. Bakal Cawapres poros PDI-P ini me-mang diyakini harus tokoh yang di-pilih oleh Jokowi dan disetujui oleh Megawati. Demikianlah risalah pen-capresan Jokowi yang kini masyara-

    kat seakan akan menunggu la-hirnya cabang bayi cawapres poros PDI-P, yang berdasar bocoran terakhir mengindi-

    kasikan bukan seorang man-tan Jenderal TNI, karena oleh Jokowi disebut seorang ahli hukum dan sekaligus ahli eko-

    nomi berasal dari luar Jawa.

    Beberapa rumors yang berkem-bang di media sosial ataupun

    kalangan politisi/pengamat menye-

    butkan, Jokowi saat ini ingin mendekat ke hi-

    jau bukan dalam artian bekas militer, melainkan tokoh Islam. Hal ini wajar karena

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.7

    selama ini Jokowi berkiprah dalam dunia politik selalu ditemani oleh orang-orang non hijau, sehingga Jokowi berkunjung ke sejumlah ponpes, tokoh Islam bahkan men-gangkat Khofifah Indar Parawansa sebagai juru bicara Jokowi, adalah indikasi-indikasi yang ingin diben-tuk atau diskenariokan bahwa Jokowi juga dekat dengan hijau atau Islam. Ketegangan menunggu koalisi par-pol yang akan muncul dalam Pil-pres 9 Juli 2014, secara politis juga dipengaruhi oleh jadwal waktu yang terus mendesak, yaitu tanggal pendaftaran capres dan cawapres di KPU, segera mulai akan datangnya masa kampanye Pilpres, mengingat bulan Mei sudah mulai dimasuki.

    Pakar Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Sa-trio, mengatakan, sejumlah partai politik peserta Pemilu 2014 akan berusaha membangun koalisi dan berharap bisa memperoleh suara lebih besar.

    Akankah PDIP berkoalisi dengan Golkar atau Demokrat? atau partai lainnya yang beruntung dipilih PDIP, ujar Hendri, Jumat (21/3/2014).

    Ia mengatakan, partai Gol-

    kar terlihat berambisi untuk berkoal-isi dengan PDIP, mengingat selama ini partai berlambang beringin ini tidak pernah punya keinginan ke-luar dari kekuasaan. Siapapun nanti parpol yang memenangkan pileg pasti akan belajar dari koalisi ala politik santunnya Demokrat.Nah apakah Koalisi ala Demokrat juga dijalankan oleh PDIP misalnya, bila menang? Namun perlu digaris bawahi politik Indonesia masih di-tentukan oleh koalisi partai, terang-nya.

    Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat Ulil Abshaar Ab-dalla menilai analisis beberapa ka-langan terkait tiga partai yaitu De-mokrat, Golkar dan PDIP.

    Menurut dia, ketiga partai tersebut dilihatnya sebagai jangkar. Namun dalam kenyataan bisa saja muncul kuda hitam lain yang me-matahkan prediksi itu.

    Demokrat sendiri tidak bo-leh terlena, Demokrat akan bekerja keras. Meskipun demikian kami juga punya rencana lain jika kami ti-dak berhasil dalam pencalonan pres-iden maka kami akanmencari mitra koalisi dengan menawarkan calon wakil presiden, pungkasnya.

    Bakal calon presiden dari

    PDI Perjuangan Joko Widodo men-egaskan, sistem pemerintahan di Indonesia adalah presidensial. Oleh sebab itu, Jokowi menjamin kerja sama politik ala partainya tidak berujung pada bagi-bagi kursi menteri.

    Kita sistem presidensial.Yang namanya bagi-bagi kursi men-teri itu adanya di koalisi.Kita tidak seperti itu, ujar Jokowi di luar pagar Balaikota, Jakarta Pusat pada Kamis (10/4/2014).

    Bagi-bagi kursi dalam sistem koalisi yang dimaksud Jokowi, misal suatu partai politik dalam pemilihan legislatif hanya memperoleh suara 20 persen.Oleh sebab itu parpol itu mendapatkan jatah kursi menteri 8.Misal lainnya, partai politik yang memperoleh suara 10 persen hanya mendapatkan 5 kursi menteri.

    Kita ndak begitu.Kita ini presidensial. Harus kerja sama. Ha-rus begitu memang, lanjut Jokowi.

    Sekedar gambaran, berdasar-kan hasil hitung cepat sejumlah lem-baga survei dan media, PDI-P mem-eroleh suara sah nasional di bawah 20 persen. Artinya, partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu tidak dapat mengajukan capres sendiri dan harus berkoalisi dengan parpol lain.

    UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden menyatakan, syarat men-gajukan pasangan capres-cawapres adalah 20 persen kursi di Parlemen atau 25 persen suara sah nasional.

    News

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.8

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.9

    Info

    Apa sih Pemilu itu ?Pemilihan Umum (Pemilu) adalah proses

    pemilihan orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Sistem pemilu di Indo- politik tertentu. Sistem pemilu di Indo-politik tertentu. Sistem pemilu di Indo- tertentu. Sistem pemilu di Indo-tertentu. Sistem pemilu di Indo-nesia tidak terlepas dari fungsi rekrutmen dalam sistem politik. Mengenai sistem pemilu, Norris menjelaskan bahwa rekrutmen seorang kandidat oleh partai politik bergantung pada sistem pe-milu yang berkembang di suatu negara. Di Indo-nesia, pemilihan legislatif menggunakan sistem proporsional dengan daftar terbuka.

    PEMILU DI INDONESIA

    1. Zaman Demokrasi Parlementer (1945-1959)

    Pada masa ini pemilu dilaksanakan oleh kabinet Baharuddin Harahap pada tahun 1955. Pada pemilu ini pemungutan suara dilakukan dua kali yaitu yang pertama untuk memilih ang-gota DPR pada bulan September dan yang kedua untuk memilih anggota Konstituante pada bulan Desember. Sistem yang digunakan pada masa ini adalah sistem proporsional. Pemilu menghasilk-an 27 partai dan satu perorangan berjumlah total kursi 257 buah.

    2. Zaman Demokrasi Terpimpin (1959-1965)

    Setelah pencabutan Maklumat Pemerin-tah pada bulan November 1945 tentang kebe-basan untuk mendirikan partai, Presiden Soek-arno mengurangi jumlah partai menjadi 10 buah saja. Di zaman Demokrasi Terpimpin tidak dia-dakan pemilihan umum.

    3. Zaman Demokrasi Pancasila (1965-1998)

    Setelah runtuhnya rezim Demokrasi Ter-pimpin yang semi-otoriter, masyarakat menaruh harapan untuk dapat mendirikan suatu sistem politik yang demokrati dan stabil. Tindakan per-tama yang dilakukan oleh Soeharto adalah men-gadakan fusi diantara partai-partai, mengelom-pokkan partai-partai dalam tiga golongan yaitu Golongan Spiritual (PPP), Golongan Nasional (PDI), dan Golongan Karya (Golkar). Pemili-han umum tahun1977 diselenggarakan dengan menyertakan tiga partai, dalam perolehan suara terbanyak Golkar selalu memenangkannya.

    4 . Zaman Reformasi (1998- 2009)

    Ada satu lembaga baru di dalam lembaga legislatife, yaitu DPD (Dewan Perwakilan Dae-rah). Untuk itu pemilihan umum anggota DPD digunakan Sistem Distrik tetapi dengan wakil se-banyak 4 kursi untuk setiap propinsi. Untuk pe-milihan anggota DPR dan DPRD digunakan sys-tem proposional dengan daftar terbuka, sehingga pemilih dapat memberikan suaranya secara lang-sung kepada calon yang dipilih. Dan pada tahun 2004, untuk pertama kalinya diadakan pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung, bu-kan melalui MPR lagi.

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.10

    News

    Setiap perhelatan pesta de-mokrasi, kampanye menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi itu sendiri. Kampanye me-miliki arti yang penting, baik bagi peserta Pemilu maupun pemilih. Secara norma-tive, kampanye Pemilu sudah diatur dalam UU No. 8 Tahun 2012, dan secara teknis mengacu pada Peraturan KPU No. 1 Tahun 2013. Ditentukan bahwa yang dikatakan kampanye adalah kegiatan peserta Pemilu untuk meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi, program peserta Pemilu dan atau informasi lainnya. Meru-juk pada definisi ini maka setiap aktivitas kampanye Pemilu setidaknya harus men-gandung empat hal, yakni tindakan kampa-nye berupa aktivitas penawaran, khalayak sasaran berupa pemilih,dan rangkaian ko-munikasi yang guna meyankinkan pemilih serta materi kampanye yang terdiri dari visi, misi, program dan informasi lainnya.

    Melihat definisi di atas jelaslah bah-wa kampanye bukanlah persoalan seder-hana. Kampanye Pemilu harus disiasati dengan sungguh-sungguh dan saling ber-sinergi antara stakeholders agar apa yang diharapkan dari kampanye politik tersebut dapat tercapai. Meminjam istilah Jalalu-ddin Rakhmat, pakar komunikasi (Venus, 2007:iii) bahwa kampanye tidak gam-pang. Pernyataan itu benar adanya kare-na yang direncanakan sebelum kampanye menghasilkan output yang tidak mengem-birakan karena tidak dipantau dengan baik. Untuk itu, kampanye harus dipantau secara serius dengan melibatkan banyak pihak.

    Peneliti Perkumpulan Pemilu untuk Demokrasi (Perludem), Veri Juanidi men-gatakan, kampanye terbuka pada pemilu 2014 ini cenderung sepi. Menurutnya hal itu wajar, lantaran kampanye terbuka me-

    mang tidak cocok dengan sistem suara terbanyak. Kampanye rapat umum selama ini, lebih menonjolkan partai politik. Dan mendorong masyarakat untuk mendukung parpol. Sedangkan masyarakat juga ingin mengenal calon legislatifnya secara lang-sung.

    Harapan kita, kampanye Pemilu 2014 yang dijadwalkan KPU dapat men-jadi ajang yang empuk untuk memper-tontonkan proses kampanye damai dan bermartabat sebagai bagian dari pendidi-kan politik. Sementara, memantau meru-pakan tugas kolaboratif tidak bisa dilakoni secara parsial. Untuk itu, kesadaran sosial semua pihak terkait menjadi penentu sejauh mana Pemilu Legislatif 2014 akan mam-pu menghasilkan output yakni terpilihnya anggota legislatif yang amanah dan ber-integritas sehingga mampu menghasilkan kinerja yang bersentuhan langsung dengan

    Sistem Kampanyedi Indonesia

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.11

    Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat praktik politik uang terus meningkat dari pemilu ke pemilu setelah reformasi terjadi di Indo-nesia. Peneliti Divisi Korupsi Politik Indo-nesia ICW, Donal Fariz, mengatakan ICW mencatat pada pemilu 1999 terjadi praktik politik uang sebanyak 62 kasus. Kemudian pada pemilu 2004 meningkat menjadi 113 kasus. Pada pemilu 2009, jumlah kasus politik uang kembali meningkat men-jadi 150 kasus dan pada pemilu 2014 hingga pemilu legislatif kemarin, ter- catat sebanyak 313 kasus. Ini bukti bahwa tren pelang-garan pemilu untuk poli-tik uang terus meningkat dari pemilu ke pemilu, ujar Donal di Kedai Kopi Deli, Menteng, Senin (21/4/2014).

    Dari 15 provinsi yang dipantau ICW, lanjut Donal, praktik politik uang kebanyakan dilaku-kan oleh caleg yang bertarung dalam p e m i l u legislatif 2014. Poli- tik uang yang dilakukan caleg sebanyak 170 kasus. Yang dilakukan oleh tim sukses sebanyak 107 kasus, dan oleh aparat pemerintah seban-yak 24 kasus, tuturnya. Praktik suap dan money politik dalam pelaksanaan Pemilu 2014 mengalami perubahan. Hal itu dis-ampaikan pemerhati Pemilu Komite Pe-milih Indonesia (TEPI) Jeirry Sumampow.

    Jika dahulu praktik money politik di-lakukan para caleg dengan cara mendatan-gi pemilih untuk memberikan sembako, atau uang jelang pemungutan suara. Maka, pada Pemilu kali ini, para caleg menghe-

    Money Politik dalam Pemilu

    News

    mat membelanjakan dana kampanye mer-eka dan menyediakan dana untuk menyuap penyelenggara pemilu. Kita melihat para caleg tak lagi keluarkan duit habis-habisan untuk baliho dan menyuap pemilih. Tapi mereka menyimpan duit untuk bermain di badan peradilan pemilu, ungkap Jeirry, di Jakarta, Senin (17/2)

    Menurut Jeirry, praktik politik uang belum bisa hilang. Kendati demikian,

    caleg mulai menyadari masyarakat kini sudah kian sadar dan cerdas, sehingga mereka tidak bisa dipas-tikan apakah akan memilih caleg

    yang memberikan uang. Jadi para calon akan bermain di KPU atau MK yang bisa menentukan kemenan-gan salah satu calon. Begitupun bawaslu yang bisa menyelesaikan perselisihan antar caleg. Makanya semua harus pelototi lembaga per-

    adilan pemilu, tandasnya.

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.12

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.13

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.14

    Bagi kita anak rantau yang kuliah atau mencari kerja di tanah rantau, banyak yang berpikir bagaimana hak suara kita bisa digunakan, sementara daerah asal sangat jauh apabila pulang kampung akan menghabiskan banyak uang untuk ongkos mudik.Untuk pemilu kali ini, bagi anak rantau ada cara mudah untuk bisa memilih di daerah tempat kita merantau, yaitu:

    1. Bagi yang sudah terdaftar dalam DPT di daerah asal, yang harus dilakukan adalah memindahkan nama kita dari data daerah asal ke data PPS di daerah tempat kita merantau. Caranya dengan membawa KTP dan KK ke PPS daerah asal, lalu beritahu jika kita ingin memilih di daerah lain (tempat kita merantau), atau kita dapat memin-ta surat A5 (surat yang akan kita berikan pada PPS di daerah lain yang menandakan kita sudah disetujui untuk pindah tempat memilih). Setelah mendapat surat A5 ini, kita melapor dan memberikan surat ini ke PPS daerah rantau. Kemudian, nama kita akan dicatat dan masuk daftar pemilih tambahan. Bagi yang tidak dapat pulang, surat A5 dapat diurus oleh orang tua atau wali di daerah asal.

    2. Bagi yang belum terdaftar dalam DPT di daerah asal, kita melapor ke RT, RW atau Kelurahan atau PPS daerah rantau, dan daftarkan diri dengan bawa KTP dan KK. Dan nyatakan bahwa kita belum terdaftar dalam DPT di daerah asal dan ingin me-milih di daerah rantau.

    Selamat memilih dengan cerdas, satu suarapun itu menentukan

    Hak Pilih Anak RantauInfo

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.15

    Menghukum Partai Politik

    Opini

    Penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) un-tuk memilih anggota DPR, DPD, dan DPRD telah dilangsung- kan pada 9 April lalu. Hasil perole-han suara masing-masing partai politik versi hitung cepat (quick count) juga telah dirilis oleh beberapa lem-baga. Meskipun hasil hitung resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum selesai, setida-knya hasil penghitungan cepat sedikit-banyak bisa meng-gambarkan pilihan politik publik.

    Awalnya, begitu ban-yak harapan agar hasil pemilu akan mengubah wajah parlemen Indone-sia lima tahun mendatang. Namun beberapa politikus bermasalah di daerah pe-milihan tertentu masih saja memperoleh suara dan berkemungkinan terpilih lagi sebagai anggota parlemen (Koran Tempo, 21/4).

    Dalam konteks ini, maraknya politik uang yang dil-aporkan oleh lembaga swadaya masyarakat dan terpil-ihnya calon bermasalah seolah menjadi pembenar bahwa pilihan politik begitu mudah dibeli. Namun, di sisi lain, publik juga memperlihatkan betapa rasional-nya mereka ketika menilai kinerja partai politik.

    Berdasarkan data hitung cepat Pemilu 2014, Partai

    Demokrat ditempatkan sebagai satu-satunya partai politik dengan perolehan suara yang begitu jauh dari pemilu sebelumnya. Jika dibandingkan, menurut data KPU, pada Pemilu 2009 Partai Demokrat mendapat-kan 20,81 persen suara. Namun, pada Pemilu 2014, berdasarkan hitung cepat litbang Kompas, perolehan-nya turun hingga 9,43 persen suara.

    Fakta yang tak bisa diabaikan juga adalah ketika partai politik seolah mengambil jarak dengan publik selepas penyelenggaraan pemilu. Parahnya, hal itu seolah menjadi lumrah. Pada saat pemilu, partai poli-tik (dan caleg) berubah menjadi sangat alim dan der-mawan. Ada banyak fasilitas pribadi yang dijadikan fasilitas umum. Misalnya, mobil pribadi yang disu-lap menjadi ambulans, lalu selepas pemilu tiba-tiba hilang ditelan bumi, dan seterusnya.

    Ini hanyalah sekelumit gambaran betapa partai poli-tik kehilangan akarnya manakala mereka mengesa-

    m p - ingkan publik dalam kerja-kerja partai. Untuk itu,

    pada masa

    mendatang, publiklah yang dipaksa un-tuk bersama-sama mengontrol partai politik. Tentu ini tidak hanya dalam konteks pemilu, tapi juga selepas pemilu.

    oleh :Reza Syawawi

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.16

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.17

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.18

    Biografi

    Beliau lahir di Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969 adalah seorang intelek-tual dan akademisi asal Indonesia. Ia menelurkan Gerakan Indonesia Mengajar yang mengirimkan anak-anak muda terbaik negeri untuk mengajar di Sekolah Dasar se-lama satu tahun. Selain memiliki pemaha-man terhadap masyarakat akar rumput, ia merupakan seorang intelektual yang memi-liki kompetensi internasional, hal ini terbuk-ti dari beberapa penghargaan internasional yang ia dapatkan. Ia juga merupakan rek-tor termuda di Indonesia. Pada tahun 2007, ia dilantik menjadi rektor untuk Universitas Paramadina pada saat ia berumur 38 tahun.

    Anies baswedan menghabiskan masa kecil hingga tumbuh dewasa di kota yogyakarta, saat pendidikan dasar Anies kecil berseko-lah di TK Masjid Syuhada, Yogyakarta. Menginjak usia enam tahun, Anies masuk ke Sekolah Dasar (SD) Laboratori, Yogyakarta. Anies kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 5 Yogyakarta dan melanjutkan ke SMA Neg-eri 2 Yogyakarta. Anies Baswedan menem-puh pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogya-karta. Saat kuliah Anies aktif dalam organ-isasi kemahasiswaan. Saat itu Anies menjadi

    Ketua Senat Mahasiswa UGM yang pertama setelah dibekukan dalam jangka waktu yang lama. Senat Mahasiswa adalah embrio mun-culnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di beberapa universitas saat ini. Sewaktu menjadi mahasiswa Anies Baswedan juga mendapat beasiswa Japan Airlines Founda-tion untuk mengikuti kuliah musim panas bidang Asian Studies di Universitas Sophia, Tokyo, Jepang.Karir Anies yang juga tidak jauh dari du-nia pendidikan. Menyelesaikan program S1 di Fakultas Ekonomi UGM, Anies adalah seorang peneliti dan koordinator proyek di Inter-University Center for Economic Stud-ies UGM. Kemudian, ia bekerja sebagai manajer riset di IPC, Inc. Chicago, sebuah asosiasi perusahaan elektronik di seluruh dunia. Dia kemudian bergabung dengan Partnership for Governance Reform, sebuah organisasi non-profit yang berfokus pada reformasi birokrasi di Indonesia dengan menekankan kerja sama antara pemerintah dan sektor sipil . Anies menjadi direktur riset dari The Indonesian Institute.

    Pada tanggal 15 Mei 2007, Anies Baswedan melihat momen penting dalam karirnya. Ia dilantik menjadi Rektor Universitas Para-madina. Anies Baswedan Gerakan Indone-sia Mengajar memicu untuk terlibat secara langsung memecahkan masalah pendidikan di Indonesia.

    Sekarang pada usia 44 tahun, pejuang cucu AR. Baswedan ia ingin melunasi janji ke-merdekaan yang tercantum dalam Pembu-kaan Undang-Undang ( Constitution ) Dasar 1945. Perspektif Anies , negara ini tidak hanya bercita-cita untuk , tapi dijanjikan . Menurut Czech dibangun dengan janji yang mengikat , ia disebut Janji Kemerdekaan . Janji kemerdekaan bahwa janji seperti per-lindungan , kesejahteraan , dan kecerdasan peran global setiap anak di negara ini . Oleh karena itu, ia siap untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden melalui konvensi presiden dari Partai Demokrat

    ANIES BASWEDAN

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.19

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.20