TUgas Design Majalah Antik

download TUgas Design Majalah Antik

of 20

  • date post

    20-Jan-2017
  • Category

    Design

  • view

    219
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of TUgas Design Majalah Antik

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.1

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.2

    Pesta demokrasi di Indonesia diadakan lima tahun sekali. Setelah tahun 2009, kini tahun 2014 menjadi tahun pesta demokrasi berikutnya. Apa yang terjadi di pemilu kali ini ? Apakah sama seperti tahun kemarin ? Pastikan kita semua menjadi saksi pesta demokrasi tahun ini.

    Pemilihan legislatif sudah selesai. Siapa yang akan maju ke Senayan dan siapa yang akan benar-benar mewakili rakyatnya. Bagaimanapun hasilnya, setelah pileg akan ada perebutan kursi menuju RI 1 dan RI 2. partai yang akan berkuasa di Senayan maka akan mudah melenggang ke jabatan ter-tinggi di negeri ini.

    Partai yang tidak memperoleh banyak suara berbondong-bondong merapat-kan barisan. Saling melengkapi kekurangan dan yang pasti untuk bisa mendapatkan suara yang lebih banyak. Pertemuan antar petinggi partai marak dilakukan. Banyak yang bilang untuk kepentingan pemilu, walaupun mungkin ada yang berniat untuk sekedar bersilaturahmi.

    Lalu, siapa yang akan melenggang ke istana Negara ? kita tunggu saja hasil-nya nanti. Siapapun dia, itu adalah pilihan rakyat yang harus kita hargai. Bagaimana cara mereka bisa melenggang ke istana Negara? Jangan terlalu banyak berburuk sangka.

    Penulis

    Salam RedaksiDapur Redaksi

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.3

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.4

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.5

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.6

    Kemana Arah Koalisi Jelang Pilpres 2014?

    News

    Setelah dilakukan Pemilu Legisla-tif pada 9 April 2014, maka terjadi tiga poros calon presiden, yaitu Po-ros PDI-P dengan capres Jokowi. Poros Partai Golkar dengan capres Aburizal Bakrie (ARB) dan Poros Gerindra dengan capres Prabowo Subianto. Ketiga Poros Calon Pres-iden ini pada tahap pertama meng-hadapi tantangan politik untuk mampu membentuk sebuah koalisi, sehingga mampu menembus keten-tuan Presidential Threshold yang sesuai UU Pilpres sebesar 25%. Poros capres Jokowi yang dikendal-ikan oleh PDI-P kurang dari dua min-ggu sudah berhasil menben-tuk koalisi pokok yang dapat menyelesaikan tantangan pertama yaitu dicapainya Presidential Threshold dengan jumlah sekitar 30% (PDI-P 15%, PKB 9 % dan Nasdem 6%). Kini Poros capres Jokowi yang telah merasa cukup dengan koalisi tiga Parpol, sedang disibukan untuk memilih politisi yang akan diplilih sebagai tokoh Wakil Presidennya. Terdapat anggapan, bahwa tokoh politisi yang akan dipilih Jokowi harus mempunyai pengaruh yang signifikan

    terhadap elektabilitas dalam Pilpres tanggal 9 Juli 2014 dan yang lebih penting harus mendukung Jokowi apabila terpilih sebagai Presiden. Risalah pencapresan Jokowi meru-pakan episode yang sangat me-narik karena polah tingkah para politisi PDI-P, PKB dan Nasdem dalam menggarap koalisinya telah memunculkan berbagai persoalan politik yang menarik. Munculnya satu deretan tokoh nasional yang semuanya mempunyai track record yang menarik telah menghiasi pang-gung pemilihan bakal Cawapres, karena naluri manusia dalam me-milih sesearang yang dianggap ter-baik akan selalu mengandung faktor evaluasi kemanusiaan yang luas.

    Kini menunggu waktu kapan

    bakal capres PDI-P Jokowi mengumumkan bakal cawapres pilihan-

    nya merupakan momen yang men-egangkan, bukan sekedar karena masyarakat menunggu siapa figur politisi tersebut, tetapi ada serang-kaian persoalan yang terkait, yaitu pertama ada kesan beredar bahwa Jokowi adalah mendekati seratus persen bakal capres yang bakal ter-pilih, sedangkan bakal cawapres haruslah seorang yang betul-betul jagoan, karena ia harus mampu mendukung suksesnya Jokowi. Bakal Cawapres poros PDI-P ini me-mang diyakini harus tokoh yang di-pilih oleh Jokowi dan disetujui oleh Megawati. Demikianlah risalah pen-capresan Jokowi yang kini masyara-

    kat seakan akan menunggu la-hirnya cabang bayi cawapres poros PDI-P, yang berdasar bocoran terakhir mengindi-

    kasikan bukan seorang man-tan Jenderal TNI, karena oleh Jokowi disebut seorang ahli hukum dan sekaligus ahli eko-

    nomi berasal dari luar Jawa.

    Beberapa rumors yang berkem-bang di media sosial ataupun

    kalangan politisi/pengamat menye-

    butkan, Jokowi saat ini ingin mendekat ke hi-

    jau bukan dalam artian bekas militer, melainkan tokoh Islam. Hal ini wajar karena

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.7

    selama ini Jokowi berkiprah dalam dunia politik selalu ditemani oleh orang-orang non hijau, sehingga Jokowi berkunjung ke sejumlah ponpes, tokoh Islam bahkan men-gangkat Khofifah Indar Parawansa sebagai juru bicara Jokowi, adalah indikasi-indikasi yang ingin diben-tuk atau diskenariokan bahwa Jokowi juga dekat dengan hijau atau Islam. Ketegangan menunggu koalisi par-pol yang akan muncul dalam Pil-pres 9 Juli 2014, secara politis juga dipengaruhi oleh jadwal waktu yang terus mendesak, yaitu tanggal pendaftaran capres dan cawapres di KPU, segera mulai akan datangnya masa kampanye Pilpres, mengingat bulan Mei sudah mulai dimasuki.

    Pakar Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Sa-trio, mengatakan, sejumlah partai politik peserta Pemilu 2014 akan berusaha membangun koalisi dan berharap bisa memperoleh suara lebih besar.

    Akankah PDIP berkoalisi dengan Golkar atau Demokrat? atau partai lainnya yang beruntung dipilih PDIP, ujar Hendri, Jumat (21/3/2014).

    Ia mengatakan, partai Gol-

    kar terlihat berambisi untuk berkoal-isi dengan PDIP, mengingat selama ini partai berlambang beringin ini tidak pernah punya keinginan ke-luar dari kekuasaan. Siapapun nanti parpol yang memenangkan pileg pasti akan belajar dari koalisi ala politik santunnya Demokrat.Nah apakah Koalisi ala Demokrat juga dijalankan oleh PDIP misalnya, bila menang? Namun perlu digaris bawahi politik Indonesia masih di-tentukan oleh koalisi partai, terang-nya.

    Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat Ulil Abshaar Ab-dalla menilai analisis beberapa ka-langan terkait tiga partai yaitu De-mokrat, Golkar dan PDIP.

    Menurut dia, ketiga partai tersebut dilihatnya sebagai jangkar. Namun dalam kenyataan bisa saja muncul kuda hitam lain yang me-matahkan prediksi itu.

    Demokrat sendiri tidak bo-leh terlena, Demokrat akan bekerja keras. Meskipun demikian kami juga punya rencana lain jika kami ti-dak berhasil dalam pencalonan pres-iden maka kami akanmencari mitra koalisi dengan menawarkan calon wakil presiden, pungkasnya.

    Bakal calon presiden dari

    PDI Perjuangan Joko Widodo men-egaskan, sistem pemerintahan di Indonesia adalah presidensial. Oleh sebab itu, Jokowi menjamin kerja sama politik ala partainya tidak berujung pada bagi-bagi kursi menteri.

    Kita sistem presidensial.Yang namanya bagi-bagi kursi men-teri itu adanya di koalisi.Kita tidak seperti itu, ujar Jokowi di luar pagar Balaikota, Jakarta Pusat pada Kamis (10/4/2014).

    Bagi-bagi kursi dalam sistem koalisi yang dimaksud Jokowi, misal suatu partai politik dalam pemilihan legislatif hanya memperoleh suara 20 persen.Oleh sebab itu parpol itu mendapatkan jatah kursi menteri 8.Misal lainnya, partai politik yang memperoleh suara 10 persen hanya mendapatkan 5 kursi menteri.

    Kita ndak begitu.Kita ini presidensial. Harus kerja sama. Ha-rus begitu memang, lanjut Jokowi.

    Sekedar gambaran, berdasar-kan hasil hitung cepat sejumlah lem-baga survei dan media, PDI-P mem-eroleh suara sah nasional di bawah 20 persen. Artinya, partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu tidak dapat mengajukan capres sendiri dan harus berkoalisi dengan parpol lain.

    UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden menyatakan, syarat men-gajukan pasangan capres-cawapres adalah 20 persen kursi di Parlemen atau 25 persen suara sah nasional.

    News

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.8

  • ANTIK | Edisi Mei 2014 Hal.9

    Info

    Apa sih Pemilu itu ?Pemilihan Umum (Pemilu) adalah proses

    pemilihan orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Sistem pemilu di Indo- politik tertentu. Sistem pemilu di Indo-politik tertentu. Sistem pemilu di Indo- tertentu. Sistem pemilu di Indo-tertentu. Sistem pemilu di Indo-nesia tidak terlepas dari fungsi rekrutmen dalam sistem politik. Mengenai sistem pemilu, Norris menjelaskan bahwa rekrutmen seorang kandidat oleh partai politik bergantung pada sistem pe-milu yang berkembang di suatu negara. Di Indo-nesia, pemilihan legislatif menggunakan sistem proporsional dengan daftar terbuka.

    PEMILU DI INDONESIA

    1. Zaman Demokrasi Parlementer (1945-1959)

    Pada masa ini pemilu dilaksanakan oleh kabinet Baharuddin Harahap pada tahun 1955. Pada pemilu ini pemungutan suara dilakukan dua kali yaitu yang pertama untuk memilih ang-gota DPR pada bulan September dan yang kedua untuk memilih anggota Konstituante pada bulan Desember. Sistem yang digunakan pada masa ini adalah sistem proporsional. Pemilu menghasilk-an 27 partai dan satu perorangan berjumlah total kursi 257 buah.

    2. Zaman Demokrasi Terpimpin (1959-1965)

    Setelah pencabutan Maklumat Pemerin-tah pada bulan November 1945 tentang kebe-basan untuk mendirikan partai, Presiden Soek-arno mengurangi jumlah partai menjadi 10 buah saja. Di zaman Demokrasi Terpimpin tidak dia-dakan pemilihan umum.

    3. Zaman Demokrasi Pancasila (1965-1998)

    Setelah runtuhnya rezim Demokrasi Ter-pimpin yang semi-otoriter, masyarakat menaruh harapan untuk dapat mendirikan suatu sistem politik yang demokrati dan stabil. Tindakan per-tama yang dilakukan oleh Soeharto adalah men-gadakan fusi diantara partai-partai, mengelom-pokkan partai-partai dalam tiga golongan yaitu Golongan Spiritual (PPP), Golongan Nasional (PDI), dan Golongan Karya (Golkar). Pemili-han umum tahun1977 diselenggarakan dengan menyertakan tiga partai, dalam perolehan suara terbanyak Golkar selalu memenangkannya.

    4 . Zaman Reformasi (1998- 2009)