Tugas Bioetika

download Tugas Bioetika

of 37

  • date post

    11-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    22
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of Tugas Bioetika

KASUS BENEFICENCESumber : Buku Harian Manna Sorgawi, edisi April 2007.Sakit penyakit yang lama diderita bukan hanya melelahkan fisik si sakit, tetapi juga jiwanya. Ituah sebabnya kita sering menjumpai orang sakit yang sampai pada titik putus asa. Suasana yang penuh keputuasaan ditemui sepasang dokter yang juga misionaris, Dutch Sheets dan istrinya ketika mereka mengunjungi bangsal para penderita TBC, di Guatemala. Rumah sakit itu memang didirikan untuk menampung orang-orang miskin, sehingga satu bangsal bisa dihuni sampai empat puluh orang. Dutch Sheets dan istrinya pergi ke rumah sakit itu untuk melayani seorang ibu dari jemat yang mereka layani. Ibu itu mengalami hal menyedihkan karena tim dokter rumah sakit tersebut tanpa sengaja telah memotong saraf tulang belakangnya. Kesalahaan itu fatal dan dokter tidak bisa berbuat apa-apa untuk memulihkan kondisinya. Akhirnya Dr. Dutch Sheets pun berusaha menolong ibu tersebut, dengan meminta bantuan dari rekan dokter lainnya yang dikenalnya. Tetapi usahanya tidak berhasil, karena masalah tersebut bukan dianggap sepele. Karena pemotongan saraf tulang belakang, sangat berisiko tinggi. Akhirnya, Dr. Dutch pun tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi sebagai dokter yang merangkap menjadi misionaris, ia terus memberikan kekuatan rohani bagi ibu tersebut.

PEMBAHASANSebagai seorang dokter, Dutch Sheets tentunya merasa menyesal dengan apa yang telah dilakukan oleh rekan sejawat kedokteran. Memang kesalahan itu dilakukan secara tidak sengaja, tetapi sungguh kesalahan tersebut sangat membawa dampak yang besar bagi si ibu. Selain itu juga,Dr. Dutch juga sudah turut membantu ibu tersebut dengan mengusahakan untuk dioperasi perbaikan. Tetapi karena risiko yang sangat tinggi, ia pun tidak dapat berbuat apa-apa, selain memberikan dukungan moril bagi ibu tersebut. Dan dari kasus ini, dapat dilihat bahwa Dr. Dutch Sheets adalah seorang yang murah hati, yang menolong orang tanpa pamrih, dan melakukan pasien dengan sebaik mungkin. Walaupun ia sendiri tidak dapat berbuat sesuatu kepada ibu tersebut, tetapi dengan dukungan moril yang diberikan, dapat meneguhkan hati si ibu tersebut untuk tetap bersyukur atas hidupnya.

KASUS NON-MALEFICENCE

Ada seorang ibu muda, baru 30an tahun umurnya, yang tiba-tiba dilarikan ke sebuah Rumah Sakit. Entah apa penyebabnya, sebagian besar jaringan ototnya tiba-tiba lumpuh total. Termasuk otot-otot yang diperlukannya untuk bernafas, menelan, membuang kotoran, dan sebagainya. Tapi syaraf-syarafnya hidup. Karena itu ia cuma bisa tergolek, namun sadar sepenuhnya. Dokter pun dengan segera mengambil beberapa tindakan medis dengan cepat dan berusaha melakukan yang terbaik untuk menolong ibu tersebut. Tetapi, karena masalah ini cukup serius, tindakan dokter pun sepertinya tidak berpengaruh pada perkembangan kondisi ibu tersebut. Karena penyakit yang diderita ibu ini tentu amat menyiksa. Sebab, ia tetap saja merasakan rasa sakit luar biasa yang mengiringi penyakitnya, serta yang tanpa henti menderanya. Setelah berbulan-bulan dilakukan perawatan khusus oleh dokter, hasilnya tetap saja tidak berdampak apa-apa. Dengan 1001 macam jarum selang tertanam di tubuhnya. Sebab lantaran alat-alat itu sajalah, ia masih bisa bertahan hidup. Tentu saja ia hidup dalam tanda kutip. Sebelum ini, suaminya banyak melakukan perjalanan, mengurus usahanya yang lumayan maju. Kini tentu tak bisa lagi. Seluruh usahanya berhenti total. Sebaliknya, lebih dari semilyar rupiah harus dikeluarkan, untuk membiayai pengobatan. Satu per satu miliknya yang berharga terpaksa dijual. Anak-anak pun berhenti sekolah. Suatu hari dokter berkata dengan berat hati, bahwa usaha yang dilakukan para dokter sudah maksimal, tapi kemungkinan istrinya untuk sembuh nyaris tiada. Bahwa ia masih bisa bertahan, itu semata-mata adalah karena alat-alat penunjang yang mahal biaya pemakaiannya. Sementara itu, banyak pasien lain membutuhkan alat-alat tersebut. Karena itu, dokter meminta agar keluarga mempertimbangkan, apakah tidak sebaiknya alat-alat itu dicabut saja. Dengan demikian, sang istri tercinta bisa meninggal secara alamiah, bahkan terbebas dari penderitaannya. Sebab, di

samping itu, keluarga akan dapat mengonsentrasikan semua sumber daya dan dana yang masih ada untuk keperluan masa depan, -- khususnya masa depan anak-anak mereka. Lagi pula pasien-pasien lain yang membutuhkan, segera dapat ditolong dengan alat-alat langka tersebut. Dan,kalaupun Tuhan berkenan melakukan mujizat, Ia toh tidak bergantung pada menempel atau tidaknya alat-alat itu.

PEMBAHASAN Menolong pasien emergensiAda : Karena, telah dikatakan dengan jelas, ada seorang ibu yang tiba-tiba dibawa ke Rumah Sakit karena jaringan ototnya tiba-tiba lumpuh total. Akhirnya dokter pun dengan segera mengambil tindakan medis dengan cepat untuk menolong si ibu. -Pasien dalam keadaan amat berbahaya (darurat)Ada : Karena, tiba-tiba saja jaringan otot si ibu lumpuh total. Otomatis, si ibu tidak dapat melakukan apa-apa. Apalagi, termasuk otot-otot yang diperlukan untuk bernafas, menelan, dan sebagainya lumpuh total. Tentu saja, keadaan si ibu ini sangat berbahaya / darurat jika tidak ditolong.-Dokter sanggup mencegah bahayaTidak ada : Karena,toh usaha dokter tetap tidak berdampak apa-apa pada perkembangan kesehatannya, walaupun dokter telah berusaha melakukan yang terbaik. Tetap saja, hal tersebut tidak mencegah sakit yang diderita si ibu.-Tindakan kedokteran tadi terbukti efektifTidak ada : Karena, usaha dokter yang dilakukan secara maksimal pun tidak menghasilkan apa-apa. Karena setelah dilakukan tindakan medis pun, si ibu tetap merasakan sakit yang luar biasa sakitnya.-Manfaat bagi pasien lebih banyak daripada kerugian dokterTidak ada : Karena, penyakit pasien tetap saja tak kunjung sembuh, walaupun dokter telah berusaha semaksimal mungkin. Dan juga dokter tidak mengalami kerugian dari kejadian yang dialami si ibu.

Mengobati pasien yang lukaTidak ada : Sebab, yang diderita si ibu adalah kelumpuhan jaringan otot dan tidak mengalami luka pada sekitar kulitnya. Tidak membunuh pasien (tidak melakukan euthanasia)Ada : Karena dokter telah berusaha melakukan tindakan medis, yang walaupun tidak berdampak apa-apa. Dan dokter pun hanya menggunakan peralatan medis yang dapat membuat si ibu tetap bertahan hidup, tanpa melakukan euthanasia pada si ibu. Tidak menghina / mencaci maki / memanfaatkan pasienAda : Karena dokter tidak mengambil kesempatan untuk memanfaatkan si ibu. Melainkan dokter berusaha sekuat tenaga untuk menolong si ibu tersebut. Mengobati secara tidak proporsionalTidak ada : Karena dokter telah melakukan tindakan medis semaksimal mungkin, sehingga biaya yang dikeluarkan pun cukup banyak. Walaupun memang usaha dokter tidak berdampak apa-apa. Tidak mencegah pasien dari bahayaTidak ada : Karena, ketika si ibu dilarikan ke Rumah Sakit, dokter dengan segera memberikan tindakan medis dengan cepat. Sehingga dokter dapat mencegah si ibu dari bahaya yang mungkin lebih parah lagi. Tidak membahayakan kehidupan pasien karena kelalaianAda : Karena dokter telah berusaha dengan maksimal tanpa melakukan suatu kelalaian yang nantinya akan berakibat buruk bagi si ibu tersebut.

KASUS AUTONOMYDr. Stephen Edmondson adalah seorang dokter spesialis kandungan, yang membuka praktek pribadi selama 19 tahun di Atlanta, USA. Menuntut ilmu di Medical College of Georgia, Augusta, USA dan kuliah kerja nyata di Piedmont Hospital, praktek kerjanya dilaksanakan di University Hospital, Baltimore, USA. Dua tahun terakhir praktek kerjanya dilaksanakan di Emory University Hospital, lalu bergabung sebagai US Navy Medical Officer. Dalam tahun-tahun praktek pribadinya, Dr. Stephen telah banyak menangani masalah Aborsi. Dan salah satu masalah yang pernah ditangani Dr. Stephen adalah seperti berikut ini: Ada seorang wanita muda berusia sekitar 17 tahun yang ingin melakukan aborsi. Hal ini dikarenakan, ia telah hamil di luar nikah. Dan menurutnya, aborsi adalah satu-satunya jalan keluar baginya agar nantinya, masalah ini tidak menimbulkan aib bagi keluarganya. Saat itu, usia janin di kandungannya telah berusia 1 bulan. Pertama-tama, Dr. Stephen pun menolak permintaan wanita tersebut dan juga memberikan anjuran, dengan alasan bahwa usianya masih terlalu muda untuk melakukan aborsi. Dan juga, dampaknya akan berisiko sangat tinggi. Selain itu juga, nantinya akan timbul dampak-dampak pada perubahan perkembangan kejiwaan wanita tersebut. Tetapi, wanita tersebut tetap bersikeras untuk melakukan aborsi. Karena, ia tidak ingin keluarganya tahu akan masalah ini, dan tidak ingin keluarganya mendapat cemooh akibat aib yang ditimbulkannya. Akhirnya aborsi pun berhasil dilakukan. Karena, di lain sisi, Dr. Stephen juga merasa itu adalah hak dari seorang pasien. Selain itu, tanpa mengurangi hak-hak pasien, ia pun bersedia menyetujuinya. Memang, janin di dalam kandungan berhasil dikeluarkan, tetapi ada satu masalah lagi yang Dr. Stephen beritahukan kepada wanita tersebut. Bahwa pada saat dioperasi, ternyata ada benjolan kecil yang menempel dan bertumbuh bersamaan dengan janin. Dan ia mendiagnosa bahwa benjolan tersebut adalah tumor. Akhirnya, Dr. Stephen pun mengangkat tumor tersebut bersamaan dengan janin. Selain itu juga, ia mengatakan bahwa, si wanita juga harus melakukan operasi pengangkatan rahimnya yang telah rusak akibat tumor tersebut. Sehingga, kemungkinan besar wanita tersebut tidak dapat hamil lagi. Singkat cerita, 6 bulan kemudian setelah melakukan aborsi dan operasi pengangkatan rahim, wanita tersebut mengalami perubahan tekanan kejiwaan, yang ternyata setelah diteliti, ia mengalami Sindrom Paska-Aborsi pada kejiwaannya (Sindrom Paska-Aborsi masuk dalam kategori kelainan paska-trauma berat).Dan Dr. Stephen menyarankan bahwa pasien penderita Sindrom Paska-Aborsi, harus mencari bantuan pada orang-orang yang pro-kehidupan, tim konseling atau konsultan yang menentang aborsi dan dapat membantu memulihkan perasaan penderita akan art