Translate Sip

download Translate Sip

of 78

  • date post

    02-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    855
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of Translate Sip

KATA PENGANTARPada awal tahun 1960-an, timbulnya teori lempeng tektonis telah memulai revolusi dalam dunia ilmu pengetahuan. Semenjak itu, para ilmuwan telah membuktikan dan mengembangkan teori ini, dan kini telah jauh lebih memahami bagaimana planet kita terbentuk oleh proses lempeng tektonis. Kita tahu bahwa secara langsung maupun tidak, lempeng tektonis mempengaruhi hampir seluruh proses geologi. Malahan, konsep bahwa seluruh permukaan bumi secara terus menerus mengalami perubahan telah merubah secara drastis sudut pandang kita terhadap bumi. Orang-orang mendapat keuntungan dari pemahaman mengenai kekuatan dan konsekuensi lempeng tektonis. Dengan sedikit atau tanpa peringatan, sebuah gempa atau letusan gunung berapi akan melepaskan semburan energi yang sangat dahsyat dari semua energi yang mampu kita hasilkan. Meskipun kita tidak memiliki kontrol atas proses lempeng tektonis, kini kita telah memiliki pengetahuan untuk belajar dari proses tersebut. Semakin kita tau tentang lempeng tektonis, maka semakin baik penghargaan kita terhadap kebesaran dan keindahan bumi yang kita diami, sama halnya dengan kekerasan yang kadang kala ditunjukkan oleh kekuatan bumi yang luar biasa. Buklet ini memberikan pengenalan singkat mengenai konsep lempeng tektonis yang dilengkapi gambar dan informasi tertulis (untuk detail dapat dilihat dalam Rekomendasi), sebuah peta yang diterbitkan pada tahun 1994 oleh US, Geological Survey(USGS) dan Institut Smithsonian. Buklet menyoroti beberapa tokoh dan penemuan yang mengedepan pengembangan dari teori dan jejak kemajuannya sejak teori tersebut dimunculkan. Walaupun gagasan umum dari lempengan tektonis sekarang diterima secara luas, banyak aspek yang hingga kini masih belum jelas dan menantang ilmuwan untuk memecahkan misterinya. Revolusi ilmu bumi yang diluncurkan oleh teori lempengan tektonis belum selesai.

2

I. PERSPEKTIF SEJARAH Dalam istilah geologi, lempeng adalah sebuah potongan besar batuan yang solid. Kata tektonis berasal dari bahasa Yunani dengan kata dasar untuk membangun/ mendirikan. Jika dua kata ini digabungkan, maka akan muncul istilah lempeng tektonis, yang mengacu pada bagaimana permukaan bumi terbentuk oleh potongan batu yang solid. Teori lempeng tektonis menyatakan bahwa lapisan bumi yang paling atas terbagi atas lusinan bahkan lebih lempengan-lempengan kecil yang bergerak berhubungan satu sama lain menuju lempengan teratas yang lebih panas, menjadi material yang lebih aktif. Sebelum munculnya lempeng tektonis, di sisi lain, beberapa orang telah percaya bahwa benua-benua yang ada sekarang merupakan pecahan dari massa daratan yang lebih besar yang pernah ada sebelumnya (benua super). Diagram di bawah ini menunjukkan bahwa pecahan dari benua super Pangaea (yang berarti semua daratan dalam bahasa yunani), yang membentuk sebagian besar teori daratan mengapung- teori sebelum lempeng tektonis.

3

225 juta tahun lalu

200 juta tahun lalu

135 juta tahun lalu

65 juta tahun lalu

SEKARANG

Menurut teori pemisahan benua, benua super Pangaea mulai terbagi sekitar 225 200 juta tahun yang lalu, hingga akhirnya terbagi menjadi benua seperti yang kita ketahui sekarang.

4

Lempeng

tektonis

sebenarnya

merupakan

konsep

ilmiah

baru,

diperkenalkan sekitar 30 tahun lalu, namun konsep ini telah merevolusi pengertian ini mengenai planet dinamis yang kita huni. Teori ini telah menggabungkan kajian mengenai bumi dengan menggambarkan secara bersama cabang-cabang dari ilmu bumi, mulai dari paleontologi(ilmu mengenai fosil) hingga seismologi(ilmu tentang gempa bumi). Teori ini telah menyediakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan para ilmuwan selama berabad-abadseperti mengapa gempa bumi dan letusan gunung berapi terjadi hanya pada daerahdaerah tertentu di dunia, serta bagaimana dan mengapa rangkaian pegunungan besar seperti Alpen dan Himalaya terbentuk. Mengapa bumi begitu resah? Apa yang menyebabkan tanah bergetar dengan dahsyat, gunung meletus dengan kekuatan yang luar biasa dan rangkaian pegunungan besar begitu tinggi menjulang? Ilmuwan, filsuf dan ahli agama telah bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan serupa selama berabad-abad. Hingga tahun 1700-an, orang Eropa umumnya menganggap bahwa banjir besar seperti yang diceritakan dalam Injil-lah yang membentuk permukaan bumi. Cara berpikir seperti ini disebut dengan faham katastropik dan geologi(ilmu tentang bumi) didasarkan atas kepercayaan bahwa semua hal di dunia berubah secara tiba-tiba dan disebabkan oleh serangkaian katastrop. Akan tetapi, pada pertengahan abad ke 19, faham katastropik mengalah pada faham uniformitas, cara berpikir baru yang terpusat pada prinsip uniformitarian yang diperkenalkan oleh James Hutton tahun 1785, ahli geologi dari Scotlandia. Prinsip ini umumnya dijelaskan sebagai berikut: masa kini adalah kunci ke masa lalu. Mereka yang memegang perspektif ini beranggapan bahwa kekuatan dan proses geologi -- secara perlahan seperti halnya katastropik -- yang berperan terhadap bumi sekarang adalah sama dengan proses dan kekuatan yang berperan di bumi di masa lalu.

5

Lapisan bumi yang kita huni terbagi atas lusinan bahkan lebih balok-balok solid(disebut lempeng tektonis oleh geolog), yang bergerak saling berhubungan satu sama lain. Kepercayaan bahwa benua tidak selalu dapat kembali sesuai dengan posisinya sekarang, diduga jauh sebelum abad ke 20; konsep ini pertama kali diperkenalkan di awal tahun 1596 oleh seorang pembuat peta berkebangsaan belanda Abraham Ortelius dalam karyanya Thesaurus Geographicus. Ortelius menyatakan bahwa Amerika terpisah dengan Eropa dan Afrika dikarenakan gempa dan banjir dan selanjutnya mengatakan: sisa-sisa pecahan tersebut menegaskan keberadaannya, jika seseorang membawa peta dunia dan memperhatikan dengan seksama daerah pesisir 3 benua tersebut. Ide Ortelius mengemuka kembali pada abad ke 19. Akan tetapi, baru pada tahun 1912 ide mengenai pergerakan benua ditanggapi secara serius sebagai teori ilmiah yang sempurna -- disebut benua mengapung yang diperkenalkan dalam 2 artikel yang dipublikasikan oleh seorang meteorolog Jerman bernama Alfred Lothar Wegener. Dia berargumentasi bahwa sekitar 200 juta tahun lalu, benua super Pangaea mulai

6

terpisah-pisah. Alexander Du Toit, seorang professor geologi dari Universitas Johannesburg dan merupakan salah seorang pendukung fanatis dari konsepkonsep Wegener, menerangkan bahwa pertama Pangaea terbagi menjadi 2 bagian benua yang luas, Laurasia pada hemisphere bagian utara dan Gondwana di selatan. Laurasia dan Gondwana kemudian terbagi-bagi lagi menjadi benua yang lebih kecil seperti yang ada sekarang.

Pada tahun 1858, ahli geografi Antonio Snider-Pellegrini membuat 2 peta ini yang menunjukkan bagaimana Benua Amerika dan Afrika sebelumnya merupakan satu benua,lalu kemudian terpisah. Kiri: gambar benua sebelum terpisah(avant). Kanan: Benua setelah terpisah(aprs). (Repro Peta atas ijin University of California, Berkeley.) Teori Wegener sebagian didasarkan pada fenomena luar biasa pada benua Afrika dan Amerika Selatan, yang dicatat pertama kali oleh Abraham Ortelius tiga abad sebelumnya. Wegener juga terkesima dengan struktur geologi yang unik dan temuan fosil satwa dan tumbuhan pada pertemuan garis pantai Amerika Selatan dan Afrika, yang kini dipisahkan oleh Samudera Atlantis. Dia menyatakan bahwa secara fisik tidak mungkin organisme-organisme ini berenang atau berpindah melintasi samudera yang begitu luas. Bagi Wegener, keberadaan dari fosil dari species yang identik di sepanjang pesisir pantai Afrika dan Amerika Selatan

7

merupakan bukti yang paling meyakinkan bahwa sebelumnya 2 benua ini merupakan satu daratan yang sama. Dalam pikiran Wegener, daratan yang ditemukan mengapung setelah Pangaea terpisah tidak hanya menjelaskan keberadaan fossil yang identik, tapi juga bukti dari perubahan iklim secara drastic di beberapa benua. Sebagai contoh, penemuan fosil tanaman tropic(dalam bentuk deposit batubara) di Antartika mengacu pada kesimpulan bahwa daerah kutub ini sebelumnya pasti terletak berdekatan dengan equator, pada iklim yang lebih hangat dimana vegetasi hijau yang memerlukan udara lembab dapat tumbuh. Ketidakcocokan antara geologi dan iklim juga termasuk karakteristik fosil pakis(Glossopteris) yang ditemukan di daerah yang sekarang merupakan kutub dan penemuan deposit glacial di daerah kering Afrika(sekarang) seperti di Vaal River valley, Afrika Selatan. Teori daratan terapung akan menjadi pencetus cara pandang baru terhadap bumi. Akan tetapi pada saat Wegener memperkenalkan teorinya, masyarakat ilmiah sangat yakin bahwa benua dan samudera merupakan teksture permanent pada permukaan bumi. Tidak mengejutkan, teorinya tidak dapat diterima dengan baik, walaupun masyarakat ilmiah sepakat dengan informasi ilmiah yang disajikan pada saat itu. Kelemahan yang sangat fatal dari teori Wegener adalah ketidakmampuan teori ini memberikan jawaban yang memuaskan dari pertanyaan yang paling mendasar yang justru timbul dari kritiknya sendiri: Kekuatan apa yang begitu dahsyat yang mampu memindahkan batuan solid yang begitu besar ke tempat yang begitu jauh? Wegener menjelaskan bahwa benua-benua tersebut berpindah tempat melalui dasar samudera, namun Harold Jeffreys, seorang ahli geofisika Inggris, mengoreksi bahwa secara fisik tidak mungkin batuan solid yang besar meluncur melalui dasar samudera tanpa pecah.

8

Sebagaimana yang dicatat oleh Snider-Pellegrini and Wegener, lokasi dari fosil tumbuhan dan satwa tertentu sekarang, tersebar luas di beberapa benua akan membentuk pola tertentu(ditunjukkan oleh garis warna), jika benua-benua kembali bersatu. Tanpa khawatir teorinya ditolak, Wegener mendedikasikan hidupnya bekerja keras mencari bukti-bukti pendukung untuk teorinya. Wegener meninggal dalam kondisi kedinginan pada tahun 1930 dalam ekspedisi melintasi Greenland, namun