transfer pricing

Click here to load reader

  • date post

    06-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    200
  • download

    1

Embed Size (px)

description

transfer pricing

Transcript of transfer pricing

KONSEKUENSI PENERAPAN KONVERGENSI IFRS TERHADAP PERLAKUAN AKUNTANSI ENTITAS BERTUJUAN KHUSUS

Oleh : Rima Sari Pratiwi NIM : 2012200720 Kelas : JP B

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2012

1. LATAR BELAKANG MASALAH Sejak mencuatnya kasus Enron sekitar tahun 2002, praktisi bisnis dan akuntan baik di Indonesia maupun di dunia mulai menyoroti kelemahan aturan di pencatatan akuntansi sehingga manipulasi laporan keuangan masih bisa terjadi saat itu. Mengantisipasi hal yang serupa, maka aturan-aturan terkait special purpose entities mulai diperketat. Dengan penerapan konvergensi IFRS di

Indonesia sebenarnya hal ini menjadi salah satu solusi untuk meminimalkan kecurangan seperti yang terjadi pada kasus Enron. Dimana IFRS telah menggunakan konsep principle based yang lebih menekankan pada pengukuran, penilaian, penyajian dan pengungkapan. Hal ini terlihat dengan diadopsinya IAS 24 menjadi PSAK 7 : Pengungkapan pihak-pihak berelasi dimana PSAK ini merupakan tambahan pengungkapan yang harus dilakukan terkait standar akuntansi pada PSAK No. 4 : Laporan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri apabila terdapat suatu transaksi dengan pihak-pihak berelasi. Selain itu, konsekuensi dari diadopsinya IAS 27 menjadi PSAK No. 4, maka SIC 12 juga perlu diadopsi menjadi ISAK No. 7 : Konsolidasi Entitas Bertujuan Khusus sebagai tambahan penjelasan dari PSAK No. 4 yang belum mengatur mengenai bagaimana konsolidasi entitas bertujuan khusus itu dilakukan. Pada intinya, semua transaksi terkait pihak-pihak berelasi yang berada dalam satu kendali termasuk didalamnya Entitas Bertujuan Khusus (Special Purpose Entities) harus diungkapkan dan dilakukan konsolidasi laporan keuangan. Sehingga semua transaksi akan tampak dan kecurangan seperti yang dilakukan Enron diharapkan tidak akan terjadi lagi. Permasalahan utamanya adalah dengan diadopsinya SIC 12, maka jelas diatur bahwa Entitas Bertujuan Khusus yang berada dalam kendali perusahaan induk harus dilakukan konsolidasi atas laporan keuangannya. Dengan demikian otomatis penyajian dan pengungkapannya memerlukan penyesuaian sesuai dengan PSAK dan ISAK yang berlaku. Artinya, entitas pelapor harus menyajikandan mengungkapkan informasi yang lebih banyak terkait dengan konsolidasi EBK ini. Selain itu, entitas pelapor/ induk, juga harus menyajikan Laporan keuangan tersendiri dan mengungkapkan transaksi-transaksi dengan EBK (jika ada) sesuai PSAK 7.

2. PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Special Purpose Entity (SPE) adalah suatu entitas yang dibentuk oleh perusahaan sponsor/ perusahaan induk untuk suatu tujuan tertentu (khusus, sempit, dan temporary), misalnya untuk membagi atau menghilangkan resiko finansial.Suatu entitas dapat didirikan untuk mencapai suatu tujuan khusus yang terbatas (misalnya untuk melakukan sewa, kegiatan riset dan pengembangan atau sekuritisasi aset keuangan). Suatu entitas bertujuan khusus (EBK) atau special purpose entities (SPE) dapat berbentuk perusahaan, perserikatan, firma atau entitas yang tidak berbentuk badan hukum. EBK umumnya dibentuk dengan ketentuan kontraktual yang mengatur secara ketat atau memberikan batasan tetap atas kewenangan pimpinan, wali amanat, atau manajemen untuk membuat keputusan mengenai pengoperasian EBK.

Tujuan SPE :

Mendanai aset tertentu atau layanan tertentu dan tetap membuat hutang perusahaan induk (sponsor) off-balance-sheet

Mengubah aset finansial tertentu, seperti hutang dagang, pinjaman, atau hipotek ke dalam bentuk liquid

Mengurangi besarnya pajak

Karakteristik SPE : 1. Memiliki modal yang terbatas 2. Biasanya tidak memiliki manajemen yang independen 3. Fungsi administratifnya sering dijalankan oleh suatu trustee yang menerima dan mendistribusikan kas sesuai dengan persyaratan kontrak, sekaligus bertindak sebagai perantara SPV dengan pihak yang membentuk SPV. 4. Jika SPV memegang aset, maka salah satu pihak akan memberikan jasa tertentu sesuai perjanjian.

Alasan pembentukan SPE :

Sekuritisasi Risk sharing Keuntungan kompetitif Financial enginering Regulatory reasons

Perlu disadari pula bahwa EBK bisa menjadi pihak berelasi jika dikendalikan oleh perusahaan sponsor/ induk dan perusahaan sponsor/ induk memiliki pengaruh signifikan terhadapnya, sebagaimana di jelaskan pada PSAK No. 7 bahwa Pihak-pihak berelasi adalah orang atau entitas yang terkait dengan entitas yang menyiapkan laporan keuangannya (dalam Pernyataan ini dirujuk sebagai entitas pelapor). a. Orang atau anggota keluarga dekatnya mempunyai relasi dengan entitas pelapor jika orang tersebut : i. Memiliki pengendalian/ pengendali bersama atas entitas pelapor. Pengendalian adalah kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional dari suatu entitas sehingga memperoleh manfaat dari aktivitas entitas tersebut. Pengendalian Bersama adalah persetujuan kontraktual untuk berbagi pengendalian terhadap suatu aktivitas ekonomi. ii. Memiliki pengaruh signifikan atas entitas pelapor. Pengaruh signifikan adalah kekuasaan untuk berpartisipasi dalam keputusan kebijakan keuangan dan operasional dari suatu entitas, tetapi tidak mengendalikan kebijakan tersebut. Pengaruh signifikan dapat diperoleh dari

kepemilikan saham, anggaran dasar atau perjanjian. iii. Merupakan personil manajemen kunci entitas pelapor atau entitas induk dari entitas pelapor. Personil Manajemen kunci adalah orang-orang yang mempunyai kewenangan dan tanggung jawab untuk

merencanakan, memimpin, dan mengendalikan aktivitas entitas, secara langsung atau tidak langsung, termasuk direktur dan komisaris (baik eksekutif maupun bukan eksekutif) dari entitas.

b. Suatu entitas berelasi dengan entitas pelapor jika memenuhi salah satu dari hal berikut: i. Entitas dan entitas pelapor adalah anggota dari kelompok usaha yang sama (artinya entitas induk, entitas anak, dan entitas berikutnya saling berelasi dengan entitas lainnya) ii. Suatu entitas adalah entitas asosiasi atau ventura bersama dari entitas lain (atau entitas asosiasi atau ventura bersama yang merupakan anggota suatu kelompok usaha, yang mana entitas lain tersebut adalah anggotanya) iii. Kedua entitas tersebut adalah ventura bersama dari pihak ketiga yang sama. iv. Satu entitas adalah ventura bersama dari entitas ketiga dan entitas yang lain adalah entitas asosiasi dari entitas ketiga. v. Entitas tersebut adalah suatu program imbalan pascakerja untuk imbalan kerja dari salah satu entitas pelapor atau entitas terkait dengan entitas pelapor. Jika entitas pelapor adalah entitas yang

menyelenggarakan program tersebut, maka entitas sponsor juga berelasi dengan entitas pelapor. vi. Entitas yang dikendalikan atau dikendalikan bersama oleh orang yang didefinisi dalam huruf (a). vii. Orang yang diidentifikasi dalam huruf (a) (i) memiliki pengaruh signifikan atas entitas atau merupakan personil manajemen kunci entitas (atau entitas induk dari entitas)

2.2 Perlakuan Akuntansi dan Permasalahannya Perkembangan bisnis menuntut standar akutansi berubah mengikuti perkembangan yang ada tanpa menghilangkan prinsip-prinsip akuntansi itu sendiri. Contoh yang sering dijumpai adalah suatu perusahaan mendirikan atau membentuk entitas baru dengan tujuan khusus. Sponsor (entitas yang diwakiliEBK) sering kali mengalihkan atau menjual asetnya ke EBK, memperoleh hak pemakaian aset yang dikuasai oleh EBK, atau memberikan jasa untuk EBK, sementara pihak lain (penyedia modal) mungkin menyerahkan dana kepada EBK. Entitas yang

bertransaksi dengan EBK (sering kali adalah pendiri atau sponsor) mungkin secara substansi mengendalikan EBK. Dalam banyak hal, pendiri atau sponsor (atau entitas yang menjadi alasan pembentukan EBK atau yang diwakili) memperoleh manfaat utama dari kegiatan EBK, walaupun ia hanya memiliki sebagian kecil ekuitas EBK atau bahkan tidak memiliki sama sekali. PSAK 4 mensyaratkan konsolidasi atas entitas yang dikendalikan oleh entitas pelapor. Akan tetapi, PSAK 4 tidak memberikan aturan yang eksplisit mengenai konsolidasi EBK. Oleh karena itulah perlu diadopsi SIC 12 menjadi ISAK 7 : Konsolidasi Entitas Bertujuan Khusus. Konsekuensinya, entitas pelapor harus menyajikan dan mengungkapkan informasi yang lebih banyak terkait dengan konsolidasi EBK ini. Selain itu, entitas pelapor/ induk, juga harus menyajikan Laporan keuangan tersendiri dan mengungkapkan transaksi-transaksi dengan EBK (jika ada) sesuai PSAK no. 7.

Laporan keuangan konsolidasian adalah laporan keuangan suatu kelompok usaha yang disajikan sebagai suatu entitas ekonomi tunggal. Laporan keuangan tersendiri adalah laporan keuangan yangdisajikan oleh entitas induk yang mencatat investasi pada entitas anak, entitas asosiasi, dan pengendalian bersama entitas berdasarkan kepemilikan ekuitas langsung bukan berdasarkan pelaporan hasil dan aset neto investee.ISAK No. 7 menjelaskan bahwa, suatu EBK dikonsolidasikan jika substansi hubungan antara suatu entitas dan EBK mengindikasikan adanya pengendalian EBK oleh entitas tersebut. Dalam PSAK 4, Pengendalian dikatakan ada jika

memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. Memiliki secara langsung atau tidak langsung melalui entitas anak 2. Lebih dari setengah kekuasaan suara suatu entitas, kecuali dalam keadaan yang jarang dapat ditunjukkan secara jelas bahwa kepemilikan tersebut tidak diikuti dengan pengendalian 3. Pengendalian juga ada ketika entitas induk memiliki setengah atau kurang kekuasaan suara suatu entitas jika terdapat :

kekuasaan yang melebihi setengah hak suara sesuai perjanjian dengan investor lain;

kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional entitas berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian;

kekuasaan untuk menunjuk atau mengganti sebagian besar Dewan Direksi dan Dewan Komisaris atau organ pengatur setara dan mengendalikan entitas melalui dewan atau organ tersebut; atau

kekuasaan untuk memberikan suara mayoritas pada rapa