tranplantasi hati

29
BAB I PENDAHULUAN Transplantasi hati pada dasarnya adalah mengganti hati yang rusak dengan hati yang sehat untuk lebih meningkatkan angka harapan hidup pasien-pasien dengan penyakit hati akut ataupun kronik yang mengalami kegagalan fungsi. Saat ini banyak kemajuan dibidang tranplantasi hati baik itu dari segi tehnik operasi yang dilakukan ataupun obat- obatan imunosupresi yang diberikan. Apabila dilakukan dengan baik maka survival rate pasien yang menjalani tranplantasi hati akan mencapai 90-95 % dalam satu tahun dan 65- 85 % dalam lima tahun (1,2) . Tranplantasi hati pada manusia pertama kali dilakukan pada tahun 1963 oleh Thomas Starzl di Denver Colorado. Sampai tahun 1983 tranplantasi hati masih berstatus eksperimental dan setelah ditemukannya obat imunosupresi baru, merubah sejarah tranplantasi hati. Penemuan Siklosporin pada penelitian klinis yang dilaksanakan oleh Roy Calne dari University Cambridge London terjadi perubahan keberhasilan yang besar, survival rate dari 30% meningkat menjadi 70 %. Penemuan obat imunosupresi yang baru seperti takrolimus dan interleukin -2 reseptor bloker telah mempercepat perkembangan kemajuan tranplantasi hati, dimana survival rate 1 tahun menjadi 85-90 % sedangkan 1

Transcript of tranplantasi hati

Page 1: tranplantasi hati

BAB I

PENDAHULUAN

Transplantasi hati pada dasarnya adalah mengganti hati yang rusak dengan hati

yang sehat untuk lebih meningkatkan angka harapan hidup pasien-pasien dengan

penyakit hati akut ataupun kronik yang mengalami kegagalan fungsi. Saat ini banyak

kemajuan dibidang tranplantasi hati baik itu dari segi tehnik operasi yang dilakukan

ataupun obat- obatan imunosupresi yang diberikan. Apabila dilakukan dengan baik

maka survival rate pasien yang menjalani tranplantasi hati akan mencapai 90-95 %

dalam satu tahun dan 65- 85 % dalam lima tahun(1,2).

Tranplantasi hati pada manusia pertama kali dilakukan pada tahun 1963 oleh

Thomas Starzl di Denver Colorado. Sampai tahun 1983 tranplantasi hati masih berstatus

eksperimental dan setelah ditemukannya obat imunosupresi baru, merubah sejarah

tranplantasi hati. Penemuan Siklosporin pada penelitian klinis yang dilaksanakan oleh

Roy Calne dari University Cambridge London terjadi perubahan keberhasilan yang

besar, survival rate dari 30% meningkat menjadi 70 %. Penemuan obat imunosupresi

yang baru seperti takrolimus dan interleukin -2 reseptor bloker telah mempercepat

perkembangan kemajuan tranplantasi hati, dimana survival rate 1 tahun menjadi 85-90

% sedangkan untuk 5 tahun 65-75 %. Sejak tahun 1983 status tranplantasi hati sudah

dianggap dan diterima sebagai terapi definitif untuk penyakit hati terminal. Perbaikan

selanjutnya terjadi pada tahun 1986 dengan penemuan antibodi monoklonal(3).

Di Amerika serikat lebih dari 6.000 tranplantasi hati dilakukan setiap tahunnya

sedangkan di Indonesia transplantasi hati pertamakali dan dilakukan di RS Puri Indah

Jakarta pada Desember 2010 dimana teknik yang digunakan pada operasi ini

adalah living donor liver transplant  dimana dalam teknik ini digunakan hati dari orang

hidup.Transplantasi hati adalah operasi tingkat tinggi dan di Indonesia masih tergolong

baru(4,5).

Tantangan utama dalam tranplantasi hati adalah jurang yang semakin besar

antara jumlah donor yang tersedia dan banyaknya penderita calon tranplantasi yang

menunggu, jumlah ini diperbesar dengan adanya kasus yang kambuh setelah tranplantasi

1

Page 2: tranplantasi hati

hati. United Network for Organ Sharing (UNOS) melaporkan di USA pada tahun 1999

terdaftar sejumlah 14.709 untuk tindakan tranplantasi tetapi hanya terdapat 4.527 donor

hati oleh karena itu perlu dilakukan pemilihan pasien-pasien yang akan menjadi kandidat

untuk tranplantasi hati(3,6)

Beberapa kriteria telah dipergunakan untuk menilai tingkat beratnya penyakit

hati seperti: klasifikasi kriteria Child-Turcoaate –Pugh (CTP), kriteria model prognosis

penyakit hati tahap akhir model for end stage of liver disease (MELD), atau adanya

keadaan dan kondisi yang kurang baik sebagai akibat dari komplikasi penyakit. Salah

satu contoh kriteria yang sangat sering di pergunakan untuk menilai tingkat beratnya

penyakit adalah sistem skor CTP. Seorang penderita dinyatakan mempunyai klas A jika

ia mempunyai skor kurang dari 7, klas B jika skor berkisar 7-9 dan termasuk klas C jika

ia mempunyai nilai yang lebih dari 10 poin. Untuk kepentingan masuk dalam daftar

tunggu untuk tindakan tranplantasi penderita harus mempunyai skor 7 atau klas B

menurut Child. Namun demikian sekarang sistem skor CTP tidak lagi merupakan dasar

utama untuk alokasi organ, karena sekarang harus didasarkan juga pada MELD skor (7).

Suatu studi menunjukkan bahwa terjadi peningkatan angka tranplantasi hati dan

penurunan angka kematian pasien-pasien yang menunggu untuk dilakukan tranplantasi

hati setelah digunakanya MELD skor sebagai suatu metode untuk menentukan pasien-

pasien yang akan menjalani tranplantasi hati(8).

Menurut American Society of Liver Tranplantation dan AASD ada beberapa

kriteria minimal untuk para calon tranplantasi hati antara lain: Kebutuhan yang segera

untuk tranplantasi hati, perkiraan masa hidup 1 tahun < 90%, Score Child-Pugh > 7

( klas B dan C ) dan perdarahan hipertensi portal atau kejadian peritonitis bakterialis

spontan(9)

Reperat ini dibuat untuk lebih mengetahui tentang tranplantasi hati pada

penderita penyakit hati akut ataupun kronis yang mengalami kegagalan fungsinya.

2

Page 3: tranplantasi hati

BAB II

ANATOMI DAN FISIOLOGI HATI

2.1 Anatomi hati

Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh, rata-rata sekitar 1500 gram atau

2,5 % berat badan orang dewasa normal. Hati merupakan organ plastis lunak yang

tercetak oleh struktur sekitarnya. Permukaan superior adalah cembung dan terletak

dibawah kubah kanan diafragma dan sebagian kubah kiri. Bagian bawah hati adalah

cekung dan merupakan atap ginjal kanan, lambung, pankreas, dan usus. Hati memiliki

dua lobus utama, kanan dan kiri. Lobus kanan dibagi menjadi segmen anterior dan

posterior oleh fisura segmentalis kanan yang tidak terlihat dari luar. Lobus kiri dibagi

menjadi segmen medial dan lateral oleh ligamentum falsiforme yang dapat dilihat dari

luar. Ligamentum falsiforme berjalan dari hati ke diafragma dan dinding depan

abdomen. Permukaan hati diliputi oleh peritoneum viseralis, kecuali daerah kecil pada

permukaan posterior yang melekat langsung pada permukaan diafragma. Beberapa

ligamentum yang merupakan lipatan peritoneum membantu menyokong hati. Dibawah

peritonium terdapat jaringan penyambung padat yang dinamakan kapsula Glisson, yang

meliputi seluruh permukaan organ, kapsula ini pada hilus atau porta hepatis

dipermukaan inferior melanjutkan diri ke dalam massa hati membentuk rangka untuk

cabang- cabang vena porta, arteri hepatika, dan saluran empedu(10,11).

2.1.1 Struktur mikroskopik

Setiap lobus hati terbagi menjadi struktur-struktur yang dinamakan lobulus yang

merupakan unit miroskopis dan fungsional hati. Setiap lobulus merupakan badan

heksagonal yang terdiri atas lempeng- lempeng sel hati berbentuk kubus, tersusun radial

mengelilingi vena sentralis. Di antara lempengan sel hati terdapat kapiler- kapiler yang

dinamakan sinusoid yang merupakan cabang vena porta dan arteri hepatika. Tidak

seperti kapiler lain, sinusoid dibatasi oleh sel fagositik atau sel Kupffer. Sel Kupffer

merupakan sistem monosit-makrofag dengan fungsi utamanya adalah menelan bakteri

dan benda asing lain dalam darah. Hanya sumsum tulang yang mempunyai massa sel

3

Page 4: tranplantasi hati

monosit-makrofag yang lebih banyak daripada yang terdapat dalam hati, jadi hati

merupakan salah satu organ utama sebagai pertahanan terhadap invasi bakteri dan agen

toksik. Selain cabang- cabang vena porta dan arteri hepatika yang melingkari bagian

periper lobulus hati, juga terdapat saluran empedu. Saluran empedu interlobular

membentuk kapiler empedu yang sangat kecil yang dinamakan kanalikuli dan berjalan

ditengah-tengah lempengan sel hati. Empedu yang dibentuk dalam hepatosit dieksresi

kedalam kanalikuli yang bersatu membentuk saluran empedu yang makin lama makin

besar, hingga menjadi saluran empedu besa(10,11)

2.1.2 Sirkulasi

Hati memiliki dua sumber suplai darah yaitu dari saluran cerna dan limfa melalui

vena porta dan dari aorta melalui arteri hepatika. Sekitar sepertiga darah yang masuk

adalah darah arteri dan sekitar dua pertiga adalah darah dari vena porta. Volume total

darah yang melewati hati setiap menit adalah 1500 ml dan dialirkan melalui vena

hepatika kanan dan kiri yang selanjutnya bermuara pada vena kava inferior.

Vena porta bersifat unik karena terletak diantara dua daerah kapiler, satu dalam

hati dan lainnya dalam saluran cerna. Saat mencapai hati, vena porta bercabang-cabang

yang menempel melingkari lobulus hati. Cabang –cabang ini kemudian

mempercabangkan vena-vena interlobaris yang berjalan diantara lobulus-lobulus. Vena-

vena ini selanjutnya membentuk sinusoid yang berjalan diantara lempengan hepatosit

dan bermuara dalam vena sentralis. Vena sentralis dari beberapa lobulus bersatu

membentuk vena sublobularis yang selanjutnya kembali menyatu dan membentuk vena

hepatika. Cabang- cabang terhalus dari arteri hepatika juga mengalirkan darahnya

kedalam sinusoid, sehingga terjadi campuran darah arteri dari arteri hepatika dan darah

vena dari vena porta(10).

4

Page 5: tranplantasi hati

Gambar 1: Struktur hati(10)

2.2 Fisiologi hati

Selain merupakan organ parenkim yang berukuran paling besar, hati juga

menduduki urutan pertama dalam hal banyaknya, kerumitan, dan ragam serta fungsinya.

Hati sangat penting untuk mempertahankan hidup dan berperanan pada hampir setiap

fungsi metabolik tubuh, dan khususnya bertanggung jawab atas lebih dari 500 aktivitas

berbeda. Untunglah hati memiliki kapasitas cadangan yang besar, dan hanya dengan 10-

10% jaringan yang berfungsi, hati mampu mempertahankan kehidupan(10,11).

Hati mempunyi kemampuan regenerasi yang mengagumkan. Pada banyak kasus,

pengangkatan sebagian hati, baik karena sel yang sudah mati atau sakit akan diganti

dengan jaringan hati yang baru(10).

5

Page 6: tranplantasi hati

Tabel 1. Fungsi utama hati(10)

6

Page 7: tranplantasi hati

BAB III

TRANPLANTASI HATI

Tranplantasi hati merupakan salah satu penemuan besar dibidang kedokteran

modern. Sekarang tranplantasi hati sudah diterima sebagai terapi definitif untuk penyakit

hati kronik ataupun akut yang mengalami kegagalan fungsinya. Sukses tranplantasi hati

terus berlangsung dengan perbaikan yang nyata. Angka keberhasilan survival

dimungkinkan karena kemajuan yang pesat dalam obat-obatan imunosupresi dan

pengembangan tehnik operasi(3).

3.1 Sejarah dan perkembangan tranplantasi hati.

Tranplantasi hati pada manusia pertama kali dilakukan pada tahun 1963 oleh

Thomas Starzl di Denver Colorado. Tranplantasi hati dikerjakan pada seorang anak

dengan atresia bilier, yang kemudian meninggal dimeja operasi sebagai akibat gangguan

perdarahan yang tidak dapat dikontrol. Demikian pula beberapa kegagalan lain terjadi

dalam tahun-tahun pertama pada pelaksanaan tranplantasi hati. Tranplantasi hati yang

benar-benar berhasil baru dicapai pada akhir tahun 1967 yang juga dilakukan oleh

Starzl(3,12).

Pada tahun 1970 dengan memakai obat imunosupresi yang terdiri dari steroid

dan azathioprine angka keberhasilan tranplantasi masih sangat rendah sekitar 15 % pada

follow up 1 tahun. Sampai tahun 1983 tranplantasi hati masih berstatus eksperimental,

dan setelah ditemukannya obat imunosupresi baru, merubah sejarah tranplantasi hati.

Penemuan Siklosporin pada penelitian klinis yang dilaksanakan oleh Roy Calne dari

University Cambridge London terjadi perubahan keberhasilan yang besar, survival rate

dari 30% meningkat menjadi 70 %. Penemuan obat imuunosupresi yang baru seperti

takrolimus dan interleukin -2 reseptor bloker telah mempercepat perkembangan

kemajuan tranplantasi hati, dimana survival rate 1 tahun menjadi 85-90 % sedangkan

untuk 5 tahun 65-75 %. Sejak tahun 1983 status tranplantasi hati sudah dianggap dan

diterima sebagai terapi definitif untuk penyakit hati terminal. Perbaikan selanjutnya

terjadi pada tahun 1986 dengan penemuan antibodi monoklonal(3,12)

7

Page 8: tranplantasi hati

3.2 Perkembangan obat-obat imunosupresi

Perkembangan tranplantasi hati dari tahap operasi eksperimental pada manusia

menjadi tingkat operasi bedah rutin, terutama disebabkan oleh perkembangan yang

sangat pesat dalam obat siklosporin yang merupakan obat pertama dengan sistem

imonosupresi selektif. Penggunaannya menyebabkan angka survival rate dari 30 %

menjadi 70 %. Penemuan dan perkembangan siklosporin mempunyai andil yang sangat

besar dalam kesuksesan tranplantasi hati(3).

Tabel 2. Riwayat penggunaan obat-obat imunosupresif(3)

Pemberian obat imonosupresi pada tranplantasi hati dibagi dalam pentahapan:

permulaan atau disebut juga induksi, mempertahankan dan pengobatan rejeksi akut serta

kronik. Fase induksi merupakan fase segera sesudah implantasi dan reperfusi alograft.

Biasanya saat itu dipergunakan obat imunosupresi dengan dosis tinggi, untuk

menghasilkan keadaan non responsif imunologik atau imonoparalisis yang biasa

mencegah early cell mediated rejection. Transisi fase ini ke fase manitenance biasanya

berjalan perlahan-lahan dan dimulai sebelum keluar rumah sakit. Pemberian awal

pengobatan imunoterapi didasarkan kepada kombinasi dosis tinggi glukokortikoid dan

calcineurin-inhibitor ( siklosporin, takrolimus ) yang akan menlindungi terhadap

kejadian rejeksi seluler akut. Inhibitor calcineurin merupakan dasar penggunaan

8

Page 9: tranplantasi hati

manitenance imonosupresif dan merupakan era baru dalam tranplantasi organ solid.

Dengan munculnya takrolimus pemakaian siklosporin berkurang, jika fungsi graft

berjalan dengan baik tanpa adanya penolakan, maka upaya diusahakan untuk

mengurangi dosis obat- obat imunosupresi(3).

3.3 Perkembangan tehnik operasi baru

Tantangan utama dalam tranplantasi hati adalah jurang yang semakin besar

antara jumlah donor yang tersedia dan banyaknya penderita calon tranplantasi yang

menunggu, jumlah ini diperbesar dengan adanya kasus yang kambuh setelah tranplantasi

hati, terutama kekambuhan oleh karena hepatitis C. Isu yang sangat penting kedepan

akan terpusat kepada penggunaan yang efektif donor kadaver yang tersedia. Termasuk

disini adalah evaluasi kembali yang seksama terhadap kriteria seleksi untuk mengatasi

keseimbangan diantara kebutuhan medik dan kemungkinan keberhasilan tindakan

tranplantasi(3,6).

Perkembangan awal obat imunosupresif juga diikuti oleh perkembangan teknik

operasi tranplantasi hati dimulai dengan tranplantasi hati ortotopik yang bermula masih

berstatus eksperimental sampai tahun1983, dimana kemudian ditetapkan sebagai cara

pengobatan yang definitif untuk kasus penyakit hati berat. Perbaikan para penderita

penerima tranplantasi dengan tranplantasi ortotopik menyebabkan daftar para calon

penerima tranplantasi sangat bertambah padahal donor tidak bertambah dengan cukup.

Hal ini telah diperlihatkan dengan data United Network for Organ Sharing (UNOS) yang

melaporkan sejumlah 14.709 terdaftar untuk tindakan tranplantasi hati di Amerika

Serikat pada tahun 1999, tetapi hanya terdapat 4.527 donor hati kadaver(3,6).

Saat ini jumlah angka kematian calon penerima tranplantasi hati menjadi lebih

banyak terjadi dalam masa penungguan diandingkan dengan angka kematian yang

terjadi pasca tranplantasi selama kurun waktu satu tahun. Hal ini tersebut merangsang

timbulnya inovasi baru untuk memaksimalkan penggunaan organ donor. Pada penderita

anak atau dewasa kecil telah dikembangkan 3 prosedur baru. Pada prinsipnya adalah

bahwa sebagian hati dimana sistem percabangan pembuluh darah, saluran empedu,

sistem pengaliran venanya dan dengan sel-sel hatinya yang masih cukup baik dianggap

akan dapat melaksanakan fungsinya dengan baik sebagai seluruh organ(13).

9

Page 10: tranplantasi hati

Dengan demikian menjadi sangat penting adalah masalah pengembangan teknik

baru tranplantasi hati dengan mempergunakan donor yang dikurangi ukuran besarnya

yang berasal dari kadaver. Bismuth pada tahun 1984 dalam menghadapi kekurangan

donor pediatrik melaksanakan tranplantasi dengan mengurangi ukuran besar donor

hatinya dan juga dikembangakannya split liver tranplantation (SLT)(13).

Selanjutnya juga para dokter mengupayakan donor hati hidup. Tranplantasi hati

dengan donor hidup dimulai sejak tahun 1997. Tranplantasi dilaksanakan dengan

memakai donor hati lobus kanan yang diberikan pada resipien. Walaupun cara ini sudah

merupakan standar terapi bagi anak, namun pada orang dewasa mAsih bersifat

kontroversial. Namun sekarang tehnik ini telah mencapai jumlah5% dari tranplantasi

yang dilakukan pada orang dewasa(14).

Gambar 2. Tranplantasi dari donor hidup(5)

10

Page 11: tranplantasi hati

Pada tahun 1989 operasi tranplantasi hati pertama dari donor hidup berhasil

dilaksanakan dimana selanjutnya hasilnya sama dengan organ donor kadaver dan

terdapat beberapa keuntungan dengan pengunaan donor hidup seperti seleksi donor lebih

ideal, perencanaan program lebih seksama secara efektif, masa persiapan resipien yang

lebih maksimal dan masa iskemia dingin yang pendek. Namun masalah yang penting

adalah keamanan donor dan ukuran hati donor lebih kecil dan mungkin kurang baik bagi

resipien. Untuk mengatasi hal tersebut dikembangkan operasi SLT. Dengan tehnik ini

dimungkinkan penambahan pool donor cadaver. Pirchmayr mempublikasikan pertama

kali pengalaman kliniknya dengan SLT, sedangkan Broelsch melaporkan kasus-

kasusnya pada tahun 1990. Pengalaman pada awal-awalnya mengecewakan sehingga

pada mulanya kurang bisa diterima. Secara berangsur-angsur hasil-hasil operasinya

menjadi lebih baik dalam 10 tahun terakhir ini. Sekarang cara ini sudah diterima sebagai

cara operasi alternatif dengan hasil yang lebih sama baiknya(15)

3.4 Indikasi dan evaluasi untuk tranplantasi pada orang dewasa(16)

Rujukan dini pada pasien yang memerlukan tranplantasi hati sangat menentukan

keberhasilan proses tanplantasi tersebut.

Ada tiga kriteria umum resipien yang akan dilakukan tranplantasi hati, yaitu:

1. Tidak ada tindakan operasi maupun pengobatan medik yang dapat

memperpanjang harapan hidup pasien

2. Tidak ada komplikasi penyakit hati kronis yang menyebabkan peningkatan

risiko operasi atau kontraindikasi dilakukannya tranplantasi hati.

3. Adanya pengertian dari pasien dan keluarganya tentang konsekuensi

tranplantasi hati meliputi risiko, keuntungan, dan biaya yang diperlukan.

Ada empat macam katagori penyakit hati yang diindikasikan untuk dilakukan

tranplantasi hati yaitu(16):

1. Penyakit hati kronik irreversibel oleh sebab apapun

2. Keganasan hati non metastatik

3. Gagal hati fulminan

4. Gangguan metabolisme herediter

11

Page 12: tranplantasi hati

Sekarang seorang penderita penyakit hati akut maupun kronik dimana dia tidak

dapat lagi mempertahankan kualitas kehidupan yang normal karena fungsinya yang

buruk dan yang bisa berakibat membahayakan kehidupannya, harus dipertimbangkan

sebagai kandidat tranplantasi hati. Penderita seperti ini sudah harus direncanakan untuk

pertimbangan kapan dievaluasi untuk tranplantasi hati dan selanjutnya dijadwalkan

untuk menjalani tranplantasi hati. Yang paling utama adalah kapan saat yang diperlukan

terapi operasi tranplantasi diperlukan sesudah semua upaya dan cara pengobatan yang

selektif lainnya telah dicoba. Pertanyaan yang penting juga adalah apakah pasien

merupakan kandidat yang tepat untuk tindakan tranplantasi hati(7).

Beberapa kriteria telah dipergunakan untuk menilai prognosis penyakit hati

seperti: klasifikasi kriteria Child-Turcoaate –Pugh (CTP), kriteria model prognosis

penyakit hati tahap akhir model for end stage of liver disease (MELD), atau adanya

keadaan dan kondisi yang kurang baik sebagai akibat komplikasi spesifik sirosis

terhadap harapan hidup pasien. Salah satu contoh kriteria yang sangat sering di

pergunakan untuk menilai tingkat beratnya penyakit adalah sistem skor CTP. Seorang

penderita dinyatakan mempunyai klas A jika ia mempunyai skor kurang dari 7, klas B

jika skor berkisar 7-9 dan termasuk klas C jika ia mempunyai nilai yang lebih dari 10

poin. Untuk kepentingan masuk dalam daftar tunggu untuk tindakan tranplantasi

penderita harus mempunyai skor 7 atau klas B menurut Child.

Tabel 3. Child-Pugh score(17)

12

Page 13: tranplantasi hati

Pada saat ini sistem skor CTP tidak lagi merupakan dasar utama untuk alokasi

organ, karena sekarang harus didasarkan juga pada MELD skor(7). Freeman pada tahun

2004 dalam suatu penelitiannya mendapatkan bahwa terjadi peningkatan pasien-pasien

yang akan menjalani tranplantasi hati sebesar 10 % dan terjadi penurunan angka

kematian pasien-pasien yang menjadi daftar tunggu tranplantasi hati sebesar 4 % setelah

MELD skor digunakan untuk menentukan pasien-pasien yang menjalani tranplantasi

hati(8).

Sistem alokasi organ yang baru yang dipakai oleh Procurement Tranplantation

Network pada tahun 2002 didasarkan terutama pada beratnya keadaan penyakit hati

yang dinilai dengan cara model MELD dan Pediatric End-Stage Liver Disease (PELD)

pada setiap kasus dengan penyakit hati kronik. Skor MELD didasarkan kepada 3

variabel: serum bilirubin, serum kreatinin, INR dan dibuktikan baik secara retrospektif

maupun prospektif mempunyai nilai prediksi yang tinggi angka kematian penderita

penyakit hati menahun dalam 3 bulan. Demikian pula sistem skor PELD merupakan

model untuk kasus pediatrik(18).

3.5 Kriteria minimal calon tranplantasi hati dan faktor prediksi keberhasilan operasi

Kriteria minimal untuk para calon kasus tranplantasi hati telah disusun oleh

American Society of Liver Tranplantation dan AASD yang terdiri dari(9)

1. Kebutuhan yang segera untuk tranplantasi hati

2. Perkiraan masa hidup 1 tahun < 90%

3. Score Child-Pugh > 7 ( klas B dan C )

4. Perdarahan hipertensi portal atau kejadian spontaneus bakterialis peritonitis

dapat langsung menjadi kriteria untuk kasus tersebut untuk menjadi calon

tranplantasi hati dan tidak perlu berhubungan dengan skor Child-Pugh

Perkiraaan akan keberhasilan operasi sangat ditentukan oleh beberapa faktor. Perlu

penilaian seksama dan lengkap terhadap penderita calon tranplantasi yang dilakukan

pada suatu pusat tranplantasi hati. Perlu diperiksa apakah penderita calon tranplantasi

dapat berhasil menjalani operasi dan dapat mengatasi penggunaan obat-obatan yang

kompleks sesudah tindakan tranplantasi. Adakah keadaan yang akan menjadi penyulit

pasca operasi seperti penyakit pembuluh darah koroner dan lain-lain.

13

Page 14: tranplantasi hati

3.6 Kontraindikasi tranplantasi hati

Kontraindikasi untuk tranplantasi hati menjadi sangat kurang seiring dengan

kemajuan tranplantasi hati. Adanya kombinasi keadaan infeksi lokal atau infeksi

sistemik laten potensial akan muncul dan bermanifestasi di luar sistem hepatobilier

seperti peritonitis, pneumonia, atau bakteremia dan kebutuhan pemberian obat

imunosupresif pasca operasi akan menempatkan penderita pada posisi yang sulit. Hal ini

bisa menimbulkan keadaan dengan kemungkinan terjadinya infeksi yang bersifat fatal,

sehingga kesuksesan tranplantasi hati terancam(19,20).

Kontraindikasi untuk tranplantasi hati adalah para penderita sirosis yang masih

terkompensasi, keganasan diluar hati dan sistem bilier, infeksi ekstrahepatik yang berat

dan tidak terkontrol, penyakit kardiopulmoner yang lanjut, kegagalan sistem multi

organ, pengguna obat-obatan terlarang, dan kelainan anatomi yang tidak memungkinkan

dilakukan prosedur tranplantasi hati. Kebanyakan tranplantasi hati dilaksanakan dengan

mempergunakan seluruh hati utuh yang berasal dari hati kadaver dan diletakkan dalam

posisi ortotopik. Seluruh hati yang lama diangkat karenanya disebut teknik tersebut

sebagai tranplantasi ortotopik. Adapula tanplantasi heterotopik dimana hati donor

disisipkan kepada hati yang lama dan tidak dibuang. Teknik terakhir ini dilakukan pada

penderita dengan kegagalan hati fulminan. Diharapkan bahwa hati yang sakit masih

mungkin mengadakan regenerasi.

Dewasa ini keadaan yang diterima sebagai kontra indikasi absolut untuk tindakan

tranplantasi dibanyak pusat adalah apabila terdapat infeksi HIV, PBS atau keadaan

infeksi berat lainnya. Keadaan lainnya yang bisa menjadi kontraindikasi absolut adalah:

penyakit kardiovaskuler yang lanjut, manifestasi keganasan ekstrahepatik lainnya,

peminum alkohol, atau pengguna obat atau pada keadaan dimana penderita tersebut

tidak dapat memakai obat-obatan imunosupresi(19,20).

14

Page 15: tranplantasi hati

Tabel 4. Kontraindikasi tranplantasi hati(16)

3.7 Komplikasi(16)

Selama dan setelah dilakukan tranplantasi dapat terjadi komplikasi pada resipien

yang meliputi:

1. Komplikasi berkenaan dengan prosedur

Meliputi infeksi, hernia, granuloma pada jahitan fasial, limfokeles,

perdarahan, trombosis, stenosis, peritonitis, localized bile collection dan

psedoaneurisma.

2. Kegagalan graft perioperatif

Kecepatan retranplantasi pada 3 bulan pertama pasca pembedahan mencapai

10-20%. Ada empat alasan utama penyebab kegagalan ini:

a. Tehnik operasi yang tidak sempurna

b. Penyakit hati yang tidak diketahui pada donor hati

c. Iskemia jaringan graft

d. Rejeksi

3. Komplikasi non teknis

Tiga penyebab utama komplikasi ini meliputi hipertensi, infeksi, dan rejeksi.

15

Page 16: tranplantasi hati

3.8 Penatalaksanaan jangka panjang setelah tranplantasi hati.

Saat ini banyak para penderita pasca operasi tranplantasi hati yang mencapai

lebih dari 5 atahun, bahkan banyak pula yang lebih dari satu dekade. Para penderita

tersebut menikmati hidupnya dengan hati yang baru dan dengan fungsi hati yang

normal. Namun demikian bisa juga terjadi berbagai kelainan metabolik dan medik yang

harus segera ditegakkan diagnosisnya dan diberikan pengobatan. Keadaan seperti

hiperlipidemia, kegemukan, diabetes melitus, gangguan fungsi ginjal, hipertensi,

penyakit tulang dan sindroma neuropsikiatrik akan merupakan penyulit yang mungkin

dihadapi para penderita dan keadaan tersebut harus dicegah kejadiaanya.

Secara umum perlu diperhatikan hal-hal seperti dibawah ini. Upaya pencegahan

secara umum seperti imunisasi, skrining untuk proses keganasan, menghindarkan

terhadap faktor risiko kejadian kearah aterosklerosis, memperhatikan diet dan

pencegahan dengan antibiotika(20).

16

Page 17: tranplantasi hati

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Transplantasi hati adalah suatu proses penggantian hati yang rusak dengan hati

yang masih sehat pada pasien dengan penyakit hati akut ataupun kronik yang

mengalami kegagalan fungsi

2. Tranplantasi hati saat ini sudah dianggap dan diterima sebagai terapi definitif

untuk penyakit hati terminal

3. Penemuan obat-obatan imunosupresi yang baru telah membawa perubahan yang

besar dalam keberhasilan tranplantasi hati.

4. Tantangan utama dalam tranplantasi hati adalah jurang yang semakin besar

antara jumlah donor yang tersedia dengan banyaknya penderita calon tranplantasi

yang menunggu.

5. Child-Turcoaate–Pugh (CTP) dan Model for end stage of liver disease (MELD)

skor merupakan kriteria yang sering dipakai dalam menentukan calon

tranplantasi hati.

4.2 Saran

Seorang penderita penyakit hati akut maupun kronik dimana dia tidak dapat lagi

mempertahankan kualitas kehidupan yang normal karena fungsinya yang buruk dan

yang bisa berakibat membahayakan kehidupannya, harus dipertimbangkan sebagai

kandidat tranplantasi hati

17

Page 18: tranplantasi hati

DAFTAR PUSTAKA

1. Yersiz H, Cameron AM, Carmody I, et al. Split liver

transplantation. Transplant Proc. 2006;38(2):602–603

2. Cardenas A, Gines P, “Management of complications of cirrhosis in patients

awaiting liver transplantation”, J Hepatol (2005);42: S124–S133.

3. Sulaiman A. Tranplantasi hati. Dalam buku ajar ilmu penyakit hati. Editor

Sulaiman A dkk. Edisi pertama. Jayabadi.Jakareta.2007:581-89.

4. Kementerian komunikasi dan informatika Republik Indonesia. Tim dokter

RSCM berhasil transplantasi hati pertama di Indonesia diakses dari

http://www.depkominfo.go.id

5. American society of transplantation. Living donor liver transplantation diakses

dari http://www.a-s-t.org/files/pdf/patient_education/english/

6. Annual report of the US scientific registry for organ tranplantation and the organ

procurement and tranplantatation network. richmont: United Network for Organ

sharing,2000.

7. Saab S, Han SH, Martin P. Liver tranplantation. Selection, listing Criteria and

preoperatif management in advances in liver tranplantation. In Clinics in liver

disease.2000:513-32.

8. Freeman, R.B. et al. United Network for organ sharing organ procurement and

transplantation network liver and transplantation committee: Results of the first

year of the new liver allocation plan. Liver Transplantation 10(1): 7-15. January

2004.

9. Lucey MR, Brown KA, Everson GT et al: minimal criteria for placement of

adults on the tranplants waiting list: a report of national confrence organized by

American Society of transplant physicians and American Association for the

study of the liver. Liver transplant surg 1997: 628-37

18

Page 19: tranplantasi hati

10. Wilsom LM, Lester LB. Hati saluran empedu dan pankreas. Dalam: Patofisiologi

konsep klinis proses-proses penyakit. Editor: Wijaya C. Buku 1 edisi 4. Penerbit

buku kedokteran EGC.1995: 426-63.

11. Wikipedia. Hati. Diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Hati

12. Wikipedia.Liver tranplantation.Diakses dari http://en.wikipedia.org/wiki/liver-

tranplantation

13. Broelsch CE, Whiting PF, Emont JC et al. Liver tranplantation in children from

living related donors: surgical techniqus and results. Ann Surg 1991;214:428-

439.

14. Brown, Russo MW, Lai M. Survey of liver tranplantation from living adult

donors in the USA,2003:818-25

15. Pichlmayr R, Ringe B, Gubernatis B: Tranplantation of a donor liver to 2

recipients (splitting tranplantation)- a new method in the further development of

segmental liver tranplantation. Langenbecks arch cir 1998:127-30

16. Nusi IA. Tranplantasi hati. Dalam: Buku ajar ilmu penyakit dalam. Editor

Sudoyo AW dkk. Jilid I edisi V. Interna publishing. Jakarta:753-56.

17. Wikipedia. Child pugh score. Diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Child-

pugh-score.

18. Fattovich G, Giustina G, degos F et al. Morbidity and mortality in compensated

cirrhsos type C: a retrospective follow up study in 384 patient.

Gastroenterology,1996:463-472.

19. Trotter, Brimhall, Arjal B et al. Spesific laboratory metthodologies achieve

higher model for endstage liver disease (MELD) scores for patient listed for liver

tranplantation. Liver transpl 2006:995-1000.

20. Keefe EB. Liver tranplantation at the milennium. Past, present and the future. In:

hepatology: A century of progres. In clinics in liver disease,2000:241-55.

19