Tpk197 Oke

download Tpk197 Oke

of 6

  • date post

    15-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    75
  • download

    0

Embed Size (px)

description

hok

Transcript of Tpk197 Oke

  • e-mail: [email protected] / [email protected]; kardiovk; @kardio_vaskuler; tpkindonesia.blogspot.com

    ISSN

    : 085

    3-83

    44Perangko Berlangganan No.11/PRKB/JKP/DIVRE IV/2013

    Harga eceran Rp.9.000,-

    197/Thn. XIX/Juli-Agustus 2013

    (Bersambung ke hal.6)

    Exercise capacity is frequently impaired inpeople with diabetes due to the high prevalence ofobesity, sedentary lifestyle, periphe-ral neuropa-thy (both sensory and motor) and vascular dis-ease.

    Perhatian terutama untuk perempuan,agar mewaspadai bahwa pasien denganDiabetes Mellitus (DM) tipe 1 dan tipe 2memiliki risiko tinggi untuk mendapatkanpenyakit jantung koroner (PJK) pada usiadini. Sebagian besar tidak merasakan ge-

    jala sebelum terjadinya kematianatau infark miokard (MI) akut yang

    selamat. Hal ini menjadi pentinguntuk memilah diantara pasien-pasien

    yang telah memiliki PJK berat sebelumterjadinya sindroma koroner akut (SKA).Pada individu dengan risiko tinggi PJK (ber-dasarkan umur, gender, deskripsi sakit dada,riwayat MI sebelumnya, electrocardiogram(ECG) istirahat yang abnormal dan keber-adaan beberapa faktor risiko), maka strestesting akan bermanfaat untuk menilai di-agnosis.

    Perlu dicatat pada pasien dengan DMmemiliki kapasitas latihan yang berkurangdisebabkan tingginya prevalensi obesitas,hidup santai-kurang olahraga, neuropatiperifer, dan penyakit vaskular. Bagi yangtidak mampu melakukan tes treadmill, tesfungsionil imejing seperti tes imejingfarmakologik maupun krdiologi nuklirmenjadi sangat penting. Pada individu yangmemiliki risiko PJK, tes treadmill berman-faat untuk menilai progno-sisnya. Sebagi-

    an besar teknik imejing terlihat manfaat-nya dalam studi prospektif untuk identifi-kasi pasien dengan risiko tinggi. Sejauh inibelum ada studi adu kekuatan masing-ma-sing cara mana yang terbaik dengan hargayang memadai. Tujuan skrining tidak lainuntuk memperbaiki usia kehidupan dankualitas hidupnya dengan mencegah terja-dinya MI dan gagal jantung melalui deteksidini PJK.

    Pasien DM sebagian besar (65%-80%)akan meninggal karena penyakit jantung.Prevalensi yang tinggi iskemi miokard padapenderita DM, dan mendekati sepertiganyatanpa diketahui atau bergejala khas (silentMI). Oleh karena perlu dilakukan skriningdengan ECG istirahat pada pasien-pasienDM. Stress testing untuk pasien-pasien de-ngan gejala PJK atau adanya faktor risikolainnya. Ketika terdeteksi iskemi pada stres-tes sebaiknya dikirim ke spesialis jantungdan pembuluh darah.

    Dalam mengobservasi PJK dalam wa-wasan klinis yang terpenting adalah ada-

    nya riwayat sakit atau rasa tidak enak didada. Pada pasien DM tercatat 20-50% tanpakeluhan. Penemuan klinis seperti sesak nafaspada kegiatan, kelainan pada ECG istirahatatau terda-patnya faktor risiko bergandauntuk aterosklerosis memprediksi keber-adaan PJK. Menemukan PJK pada tahap awalsangat penting pada penderita DM meng-ingat kejadian serangan jantung menjadisangat buruk akibatnya bagi penderita DM.Oleh karena itu, skrining awal dan inter-vensi pada penderita DM dengan iskemiatersembunyi sangat menguntungkan danmungkin memperbaiki angka keselamatandikemudian hari.

    Peranan stress testing sangat pentingpada risiko tinggi PJK karena mengukurprognosis dan mengidentifikasi individuyang mungkin akan mendapatkan manfaatsekiranya dilakukan revaskularisasi arterikoronernya untuk memperbaiki hidup jang-ka panjang. Keberadaan faktor-faktor risi-ko PJK lainnya dan adanya kelainan ECG

    Resusitasi Jantung Paru yang BerkualitasANGKA kematian akibat penyakit kardio-vaskular di dunia mencapai > 135 jutaorang setiap tahun sedangkan insiden hentijantung di luar rumah sakit mencapai 20-140 kejadian setiap 100.000 orang denganangka ketahanan hidup 2-11%. Di negaramaju seperti Amerika Serikat, henti jantungmasih menjadi masalah masyarakat palingutama.

    Kualitas resusitasi jantung paru (RJP)memberi pengaruh sangat besar terhadapangka ketahanan hidup, perlu dicatatbahwa RJP yang dilakukan mengikuti pe-doman hanya mampu menyediakan se-jumlah 10-30% dari aliran darah normal kejantung dan 30-40% ke otak, sehingga parapemberi resusitasi harus mampu memberi-kan RJP dengan kualitas terbaik dan sedinimungkin.

    Aliran darah yang cukup guna meng-hantarkan oksigen dan substrat ke organvital merupakan target utama RJP selamaperiode henti jantung. Hal ini dapat dicapaidengan kompresi dada yang efektif. Kem-balinya sirkulasi spontan sangat tergantunghantaran oksigen dan aliran darah ke mio-kardium selama RJP. Tekanan perfusi ko-roner (perbedaan tekanan diastolik aortadengan tekanan diastolik atrium kanan padafase relaksasi kompresi dada) adalah penen-tu utama aliran darah miokardium selamaRJP dan merupakan target utama resusitasisecara fisiologis.

    Lima komponen utama RJP berkualitasadalah sebagai berikut: Fraksi kompresidada, laju kompresi dada, kedalaman kom-presi dada, rekoil dada, dan ventilasi.

    Fraksi kompresi dada (proporsi durasikompresi dada yang dilakukan selama pe-riode henti jantung) yang ideal > 80%. Padahenti jantung yang tidak disebabkan olehasfiksia (misal aritmia), tebukti bahwakompresi dada tanpa ventilasi pada tahapawal sudah menjamin sirkulasi darah ter-oksigenasi yang adekuat ke seluruh tubuh.Fraksi kompresi dada yang ideal dapat

    dicapai dengan: minimalisasi interupsikompresi dada (dianjurkan tidak terjadiinterupsi oleh karena tindakan intubasiyang mudah-pemasangan akses intravena-pemasangan pad defibrilator), hindaritindakan evaluasi nadi yang tidak perlu, danminimalisasi jeda waktu sekitar kejutjantung dengan defibrilator.

    Laju kompresi dadayang dianjurkan 100-120kali per menit dengan keda-laman > 5 cm pada orang de-wasa atau 1/3 dimensi an-terior-posterior pada bayidan anak-anak. Tingkat ke-dalaman ini dapat dicapaidengan melakukan tindak-an resusitasi di atas alasyang kokoh dan rotasi idealanggota tim resusitasi yangmelakukan kompresi.

    Rekoil dada sempurnadidapat dengan menghin-dari bersandar pada dadayang sedang dikompresi.Bersandar pada dada pasienmenghambat ekspansi pe-nuh dada, sehingga dapatmenurunkan aliran venasistemik dan curah jantung.Rekoil dada sempurna di-harapkan pada setiap kom-presi dada yang dilakukan.

    Laju ventilasi yang dian-jurkan < 12 kali per menitdengan kenaikan dindingdada yang minimal (volumetidal rendah) oleh karenaventilasi dengan tekananpositif dapat menurunkancurah jantung baik dalamresusitasi maupun sirkulasispontan dan menyebabkanaspirasi lambung pada tin-dakan resusitasi yang be-lum terintubasi.

    Beberapa parameter keberhasilan tin-dakan resusitasi adalah sebagai berikut: Te-kanan perfusi koroner melalui monitor in-vasif > 20 mmHg, tekanan diastolik arteri> 25 mmHg, ETCO2 (konsentrasi karbondioksida akhir tidal dengan kapnografi)> 20 mmHg.

    Dengan berkembangnya ilmu resusis-

    tasi jantung paru (RJP), kita mendapatkesempatan besar dalam rangka mening-katkan performa RJP selama tindakanresusitasi baik di dalam maupun di luarrumah sakit. Peningkatan performa RJPmelalui RJP yang berkualitas akan mem-perbaiki angka ketahanan hidup pada hentijantung. (Circulation 2013; 128) EM

    (Canadian Diabetes Association Clinical Practice Guidelines)

  • 197/Thn. XIX/Juli-Agustus 2013 2

    Tabloid ProfesiKARDIOVASKULER

    STT no. 2143/SK/Ditjen PPG/STT/1995tanggal 30 Oktober 1995

    ISSN : 0853-8344

    SUSUNAN REDAKSI

    Ketua Pengarah:Prof.DR.Dr. Budhi Setianto, SpJP(K), FIHA

    Pemimpin Redaksi:Dr. Sony Hilal Wicaksono, SpJP

    Redaksi Konsulen:Dr. Anna Ulfah Rahajoe, SpJP(K)

    Prof.DR. Haris Hasan, SpPD, SpJP(K)Dr. Budi Bhakti Yasa, SpJP(K)

    Dr. Fauzi Yahya, SpJP(K)Dr. Antonia A. Lukito, SpJP(K)

    Tim Redaksi:Bidang Cardiology Prevention & Rehabilitation

    Dr. Basuni Radi, SpJP(K)Dr. Dyana Sarvasti, SpJP

    Bidang Pediatric Cardiology

    Dr. Indriwanto, SpJP(K)Dr. Radityo Prakoso, SpJP

    Bidang Cardiovascular Emergency

    Dr. Noel Oepangat, SpJP(K)Dr. Isman Firdaus, SpJP

    Bidang Clinical Cardiology

    Dr. Sari Mumpuni, SpJP(K)Dr. Rarsari Soerarso, SpJP

    Bidang Interventional Cardiology

    Dr. Doni Firman, SpJP(K)Dr. Isfanudin, SpJP(K)

    Bidang Echocardiography

    Dr. Erwan Martanto, SpPD, SpJP(K)Dr. BRM. Ario Soeryo K., SpJP

    Bidang Cardiovascular Intensive Care

    Dr. Sodiqur Rifqi, SpJP(K)Dr. Siska Suridanda, SpJP

    Bidang Cardiovascular Imaging

    Dr. Manoefris Kasim, SpJP(K)Dr. Saskia D. Handari, SpJP

    Bidang Cardiac Surgery & Post-op Care

    Dr. Bono Aji, SpBTKVDr. Pribadi Boesroh, SpBTKV

    Dr. Rita Zahara, SpJPBidang Vascular Medicine

    Dr. Iwan Dakota, SpJP(K)Dr. Suko Ardiarto, PhD, SpJP

    Tim Editor:Dr. Sidhi Laksono Purwowiyoto

    Fotografer:Dr. M. Barri Fahmi Harmani

    Sekretaris/Keuangan:Endah Muharini

    Bagian Iklan:Bimo Sukandar

    Bagian Perwajahan:Asep Suhendar

    Alamat Redaksi dan Tata Usaha:Wisma Harapan Kita Bidakara, Lt.2,

    RS Jantung Harapan Kita,Jln. S Parman Kav. 87, Jakarta 11420,

    Telp: 02170211013 atau Telp/Fax.: 5602475atau 5684085-93 pes. 5011

    e-mail : [email protected] [email protected]

    Penerbit:H&B

    Heart & Beyond PERKI(Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia)

    Manajemen:Yayasan PERKI

    Pencetak:

    PT. Oscar Karya Mandiri, Jakarta

    Diedarkan terbatas khusus untuk dokter Indonesia.Infak ongkos cetak/kirim Rp150.000/tahun,

    transfer melalui Bank Mandiri acc:Tabloid Profesi Kardiovaskuler,

    RK no. 116-0095028024, Sandi Kliring: 008-1304KK. Harapan Kita, Cab. S. Parman, Jakarta.

    Tabloid Profesi KARDIOVASKULER diterbitkan

    oleh Perhimpunan Dokter Spesialis

    Kardiovaskular Indonesia (PERKI). Tabloid unik

    ini memang bereda dengan media kedokteran

    lainnya. Tata letaknya sedikit konservatif

    tapi enak dipandang. Bukan media

    yang berkesan ilmiah, tetapi media ilmiah

    yang sangat terjaga akurasinya, ditulis

    dengan bahasa tutur yang enak dibaca.

    Tabloid KARDIOVASKULER memang

    merupakan sarana untuk menyampaikan

    setiap informasi kedokteran mutakhir

    --khususnya terkait bidang kardiovaskuler--

    bagi seluruh dokter Indonesia.

    Di era globalisasi, dikenal pemeo "so many

    journals, but so little time". Untuk itulah

    Tabloid KARDIOVASKULER hadir, membawa

    berita ilmiah kardiovaskuler terkini.

    Dr. Sony Hilal Wicaksono, SpJPPemimpin Redaksi

    Selamat hari raya Idul Fitri 1434H bagipara pembaca tabloid profesi kardio-vaskuler yang merayakannya, minal aidinwal faidzin taqobbalallahu minna wa minkum,semoga amal ibadah puasa Ramadhan kitaditerima oleh Allah SWT. Mohon maaf lahirbatin juga kami ucapkan untuk seluruhpembaca setia tabloid, atas digabungnya edisiJuli dengan Agustus sebagai kebijakan internalkami.

    Pada edisi Juli-Agustus ini kami sajikansebagai Headline sebuah artikel menarik ber-judul Skrining untuk penyakit jantung koronerpada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 dariCanadian Diabetes Association Clinical PracticeGuidelines, di bawahnya kami sajikan artikelyang berjudul resusitasi jantung paru yangberkualitas yang disadur dari artikel di jurnalCirculation 2013.

    Artikel di bawah salam pembaca iniadalah tentang Efek awal, akhir dan jangka

    TERDAPAT lebih dari lima juta pasienyang mengalami regurgitasi katup moder-at sampai berat di Amerika Serikat. StudiFramingham menyebutkan prevalens re-gurgitasi mitral (MR) meningkat 1.3 kali li-pat tiap dekade. Hal ini perlu diantisipasibahwa prevalens MR akan terus meningkatdi masa depan karena berkembang pesat-nya populasi usia tua di Amerika Serikatdan seluruh dunia.

    Intervensi bedah yang dilakukan dinipada MR organik kronik telah dilakukan ditahun-tahun sekarang, terutama ketika per-baikan katup mitral nampaknya memper-lihatkan hasil yang baik. Walau demikian,kebanyakan pasien dengan MR kronik akanmenjalankan intervensi bedah. Sebagaicontoh, terdapat 500000 pasien yang pulangdari rumah sakit dengan diagnosis penya-kit katup mitral setiap tahunnya di Ame-rika Serikat, tetapi hanya 18000 pasien (3.6%)yang menjalani operasi katup mitral setiaptahunnya.

    Terdapat debat yang terus menerusmengenai strategi manajemen yang optimaluntuk pasien asimptomatis dengan MRkronik dan fungsi ventrikel yang normal,terutama ketika perbaikan katup mitraltidak dapat dilakukan atau terdapat ko-mordibiditas yang signifikan. Sehingga,para klnisi telah lama menekuni temuanterapi non bedah untuk MR kronik. Obattradisional untuk pengobatan penyakitgagal jantung, termasuk vasodilator danpenghambat enzim pengkonversi angio-tensin telah dicoba. Walau terapi inimungkin mempunyai efek akut yang baikterhadap MR, tetapi tidak memberikanhasil yang menjanjikan pada beberapastudi jangka panjang.

    Studi observasional klinis yang kecilmemperlihatkan carvedilol memperbaikiremodeling ventrikel kiri dan mengurangiMR pada pasien gagal jantung yang disebab-kan oleh penyakit jantung non katup (pe-nyakit jantung iskemik atau kardiomiopatinon iskemik). Studi retrospektif memper-lihatkan penghambat beta 1 dapat memper-lama angka harapan hidup pasien MR,walau studi ini secara signifikan terbataskarena terdapat banyak faktor perancu.

    Karena terapi penghambat beta berman-faat untuk gagal jantung yang tidak disebab-kan oleh MR, hal ini masuk diakal untukmemberikan hipotesis bahwa penghambatbeta memiliki efek menguntungkan padagagal jantung kongestif yang disebabkanoleh MR organik kronik. Efek menguntung-kan tersebut mungkin akan terlihat jikapenghambat beta tersebut dimulai pada faseawal sebelum perkembangan yang irever-sibel dari disfungsi ventrikel kiri.

    Studi dengan hewan uji memperlihat-kan penghambat beta dapat memperbaiki

    fungsi sistolik ventrikel kiri pada MR or-ganik kronik, tetapi efek menguntungkantersebut pada remodeling ventrikel kiribelumlah jelas. Belum ada studi yang mem-perlihatkan penghambat beta dapat mem-perbaiki remodeling ventrikel kiri pada MRorganik kronik.

    Lebih lanjut, disosiasi antara efek burukremodeling ventrikel kiri dan perbaikankontraktilitas miosit kardiak pada perco-baan MR yang diobati dengan penghambatbeta telah dilaporkan. Disosiasi tersebutmenimbulkan kemungkinan patofisiologiyang bertolak belakang karena remodelingventrikel kiri yang tidak baik sering kalidihubungkan dengan disfungsi ventrikelkiri dan hasil keluaran jangka panjang yangburuk pada semua bentuk gagal jantungkongestif.

    Sehingga perlu menentukan apakah efekmenguntungkan penghambat beta dapatdiperlihatkan jika MR organik kronik dio-bati pada fase awal sebelum berkembangmenjadi difungsi ventrikel kiri dan jikapengobatan ini dapat berlangsung lama. Inijuga perlu dipertimbangkan apakah remod-eling ventrikel kiri dihubungkan denganterapi penghambat beta memiliki dampaknegatif terhadap fungsi ventrikel kiri padaMR organik kronik atau jika terjadi per-baikan awal dari fungsi ventrikel kiri dankontraktilitas miokard yang diamati padastudi sebelumnya dapat menuju ke arahyang lebih baik pada remodeling ventrikelkiri jika pengobatan tersebut dilakukanpada fase awal dan jangka panjang.

    Untuk mengklarifikasi isu penting ter-sebut, dilakukanlah studi oleh Gao et al. se-bagai studi prospektif untuk menentukanefek awal, akhir dan jangka lama pengham-bat beta pada remodeling ventrikel kiri,fungsi sistolik dan harapan hidup padahewan uji dengan MR kronik. Hipotesisstudi ini menyatakan bahwa apakah carve-dilol (penghambat beta non selektif denganaktivitas alfa 1) yang diberikan awal se-belum terjadinya perkembangan disfungsisistolik ventrikel kiri dan jangka panjangmemiliki efek yang menguntungkan.

    Menggunakan 87 tikus dengan MR or-ganik yang signifikan, dirandomisasi dalamkelompok penghambat beta (n = 43) sertakontrol (n = 44). Carvedilol dimulai padaminggu ke dua setelah induksi MR dan di-berikan selama 2335 minggu pada kelom-pok penghambat beta. Ekokardiografi dila-kukan pada saat awal dan minggu ke 2, 6,12, 24, 30, dan 36 setelah induksi MR.

    Setelah 23 minggu diberikan pengham-bat beta, denyut nadi secara signifikanmenurun pada carvedilol (30825 vs 35131 denyut per menit; p < 0.001). Diastolikakhir ventrikel kiri (2.20.7 vs 1.590.6 ml;

    Efek Penghambat Beta Nonselektifpada Pasien dengan RegurgitasiMitral Organik Kronik

    panjang penghambat beta non selektif padaremodelling ventrikel kiri, fungsi dan harapanhidup pasien dengan regurgitasi mitral orga-nik kronik yang dirangkum dari Circulation HeartFailure 2013.

    Berikutnya Kardiologi Kuantum dari ProfBudhi berjudul the Self, yang selalu menarikuntuk disimak.

    Seperti biasa artikel yang disponsori kamijuga sajikan, masih tentang dabigatran.

    Efek dosis ganda ASA terhadap parameterfungsi platelet dan hiperreaktivitas plateletdari sub analisis studi AVOCADO juga menarik.Berikutnya, ternyata obesitas lebih berisikoatrial fibrilasi dibanding yang non obese, di-bahas dalam artikel Obesitas pencetus fibrilasiatrium juga dirangkum dari Circulation. Tera-khir kami sajikan artikel penting tentang pre-diabetes dan penurunan berat badan.

    Demikian sajian artikel-artikel kami padaedisi Juli-Agustus ini, Selamat membaca.*

    (Bersambung ke hal.6)

    Transcendence to The Depth of The Heart

    and Beyond, adalah benang merah yang

    menghubungkan antara profesi penulis

    sebagai guru besar, dokter ahli jantung dan

    pembuluh darah dengan buku yang

    ditulisnya tentang Candra Jiwa Indonesia.

    Candra Jiwa Indonesia (CJI) adalah

    warisan ilmiah kepada dunia tentang jiwa

    manusia serta peta perjalanannya menuju

    candra ideal sebagai batas akhir dari

    perkembangan kesadaran manusia. Konsep

    tersebut telah dibandingkan secara ilmiah

    (disertasi Dr. Soemantri Hardjoprakoso:

    Indonesisch Mensbeeld als Basis ener Psyco-

    therapie) dengan Candra Jiwa Freud, Adler,

    dan Jung di Rijkuniversiteit di Leiden (1956),

    Nederland; memang kandungan asli dari

    bumi Indonesia, dari bangsa Indonesia, dan

    dipertahankan oleh orang Indonesia pula.

    Dua orang putra Indonesia R. Soenarto

    Mertowardojo dan Dr. Soemantri

    Hardjoprakoso telah membuktikan

    hipotesis Jung tentang intuisi. Sejak itu

    Candra Jiwa Indonesia (Soenarto) berdiri

    sejajar bahkan lebih lengkap dari candra

    jiwa sebelumnya dari Sigmund Freud, Alfred

    Adler, dan Carl Gustav Jung.

    Penulisnya berharap, buku ini dapat

    membantu memperluas pengetahuan kita

    tentang candra manusia dan candra dunia,

    karena dapat merangkum dari yang telah

    ada sebelumnya. Walaupun sedikit-banyak

    menyentuh masalah keyakinan dan

    kepercayaan justru memberikan dasar

    pendidikan budi pekerti, pembinaan mental

    spiritual dan mempertajam empati secara

    luas kepada siapa saja terutama para

    mahasiswa.

    Penulis : Budhi SetiantoPurwowiyoto

    Penyunting : Puji SantosaPenerbit : H&B / Heart and

    Beyond PERKISize : 143 x 205 mmTebal : xvii (dwi halaman) +

    102 (dwi halaman)Kertas : Book paper BWCover : Art Carton 310 gr F/CHarga : Rp. 75.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

    UNTUK TAHAP AWAL PENJUALANHANYA DENGAN PIHAK KANTOR KAMI.

    dapatkan HARGA KHUSUS bila Andadatang membeli langsung di alamat:

    Redaksi dan Tata UsahaTabloid Profesi KARDIOVASKULER

  • 197/Thn. XIX/Juli-Agustus 2013 3

    - Indirect comparison based on the RE-LYtrial (for dabigatran etexilate) and the RocketAF trial (for rivaroxaban) suggests advantagesof Pradaxa in stroke prevention in patients withatrial fibrillation

    Ingelheim, Germany, Friday 24th August2012 In the absence of a head-to-head study,a comprehensive analysis published in Throm-bosis and Hemostasis,1 looks into the efficacyand cost-effectiveness of Pradaxa for strokeprevention in patients with non-valvular atrialfibrillation in an indirect comparison to rivarox-aban. The analysis, based on two large scaletrials including more than 32.000 patientscombined, suggests that patients treated withPradaxa may have lower rates of ischaemicstroke and intracranial haemorrhage (ICH), andalso accumulate lower costs from acute care andlong-term follow-up over their lifetime thanpatients treated with rivaroxaban.1

    Cost Effectiveness and Clinical Efficacy of Pradaxa (Dabigatran Etexilate)versus Rivaroxaban Analysed

    (Bersambung ke hal.4)

    Kardiologi Kuantum (20)TheSelf

    (Bersambung ke hal.5)

    Many people utter words of wisdom: Manmust have faith in himself. In fact they do notknow what is called Self, and which way to takeso they can always have strong faith in them-selves. Most of them only know their non-eter-nal-self [ego] which they regard as their TrueLeader and Guide. Soenarto Mertowardojo

    RUPANYA, baik orang Barat maupunorang Timur menaruh perhatian penuhterhadap pertanyaan siapakah diri kitayang sesungguhnya. Sabrina bahkan takutuntuk menceritakan kepada kita siapa se-sungguhnya diri kita itu. I am afraid to showyou who I really am, because if I show you whoI really am, you might not like itand thatsall I got. Sabrina Ward Harrison. Yangpaling banyak diketahui adalah sang Aku(Ego) dari diri kita. Mengapa demikian?Karena dialah yang merupakan kristalisasidari angan-angan manusia. Ego juga mewa-kili tiga sentra vitalitas manusia: inteligen-si (angan-angan), nafsu, dan perasaan kita,oleh karena itu dunia mental/jiwa kitadapat disebut sebagai dunia-ego. Bahkan,Ego mewakili seluruh mikrokosmos manu-sia seutuhnya, misalnya aku sedang makan,sedang belajar, atau sedang marah.

    Dalam perjalanan hidup manusia SangAku juga mengalami evolusi, perubahanuntuk menghadapi dinamika masyarakat.Melalui pancaindra manusia berinteraksidengan dunia luar, makrokosmos. Manusiadapat memanfaatkan flora dan fauna yangada sekaligus melestarikannya bila adakemauan dan kemampuan. Ia mengeksplo-rasi minyak, dan batu-bara sebagai sumberenergi yang tak tergantikan sekaligusmerusak lapisan ozon di luar angkasa.Sementara itu pabrik-pabrik kendaraanbermotor bermunculan dengan produksi-nya yang selalu meningkat setiap tahun.

    Setiap sepeda motor dan mobil memerlu-kan bensin sebagai bahan bakarnya, dengangas buangnya yang merusak ozon sehing-ga panas matahari langsung menghunjambumi, terjadilah pemanasan global. Es-es dikutub utara dan selatan mulai mencair,beberapa negara di dunia seperti Maladewaterancam tenggelam, hapus dari muka bumibeserta seluruh isinya. Dengan segalakemampuan sang Aku yang memilikikemampuan inteligensi yang luar biasa di-tantang alam semesta untuk menunjukkankemampuannya dalam melestarikan mak-rokosmos.

    Tanggal 22 Juli 2013, seorang bayi Kera-jaan Inggris baru saja lahir di RS St MarysLondon dengan berat badan 3,8 Kg, iaadalah putra dari Pangeran William danKate Midleton (The Duke and Duchess of Cam-bridge). Beberapa saat kemudian bayi terse-but sudah memiliki gelar kerajaan sebagaiHRH Prince George of Cambridge, langsungmenjadi pewaris tahta kerajaan nomor urutke tiga, menggeser nomor urut pamannya(Pangeran Harry). Ego manusia menurutpenelitian baru muncul dalam perilakusekitar usia 3 tahun. Dalam kehidupan se-hari-hari ia nampak seperti seorang raja/ratu, seolah-olah dunia menjadi miliknya,ingin mengatur semuanya. Tentu saja bayikerajaan yang baru saja lahir tersebutbelum muncul sang Akunya, ia masih ka-get karena harus mulai mandiri dalammenyusu, menghirup nafas, dan beradap-tasi dengan makrokosmos.

    Baru saja ia meninggalkan Sorga Dunia,di dalam kandungan seorang ibu, ia tidakperlu menyedot susu, menangis, bahkantidak perlu menghirup udara sendiri, kebu-tuhan akan oksigen dan sari makanan sudahdipenuhi oleh sang ibu melalui tali pusar-nya. Di dalam kandungan bayi berhubung-an secara strukturil dengan ibunya, setelahlahir hubungan antar egonya dikenal se-bagai hubungan fungsionil. Oleh karena itu

    The authors conducted a formal indirecttreatment comparison between Pradaxa andrivaroxaban (according to the Markov model).

    The analysis has to be viewed in light of theabsence of a head-to-head study. The currentinterest in healtheconomic aspects of new treat-ments may encourage further scientific assess-ments to confirm the findings. Boehringer Ingel-heim would endorse and support further inves-tigation.

    In the analysis the authors conclude:1

    Pradaxa may provide a lower risk ofstroke (RR=0.62; 95% CI 0.45-0.87) thanrivaroxaban

    Pradaxa may provide a lower risk ofintracranial haemorrhage (ICH)(RR=0.38; 95% CI 0.21-0.67) than rivar-oxaban

    Looking at events per 100 patient-years, themodel predicts that over a lifetime horizon, AFpatients may experience1

    Considerably fewer ICH with Pradaxathan with rivaroxaban (0.33 vs. 0.71)

    Less ischaemic strokes with Pradaxathan with rivaroxaban (3.40 vs. 3.96)

    More quality-of-life-years with Pra-daxa than with rivaroxaban (6.17 vs.6.01)

    When assessing the costs of care, the analy-sis implies that patients treated with Pradaxaincur lower costs of acute care and long termfollow-up per patient, which, according to theauthors, more than offset differences in drugcosts.1 The study shows consistent conclusionsto previous analysis evaluating novel oral anti-coagulant treatments in the Canadian market.2

    The indirect comparison model is based ondata from ROCKET AF3 where patients weretreated with rivaroxaban and Pradaxa clinicalevent rates as observed in the safety-on-treat-ment population4 in RE-LY, a prospective,randomized, open-label trial with blinded

    endpoint evaluation, comparing two fixeddoses of the oral direct thrombin inhibitor da-bigatran etexilate (110mg and 150mg bid) eachadministered in a blinded manner, with openlabel warfarin.5,6 The Pradaxa data wereadjusted mainly to reflect the higher level of war-farin control in RE-LY) (the mean TTR (TTR =time in therapeutic range) was 64% in RELYand 55% in ROCKET-AF) and simulated dos-ing corresponding to the approved Canadiantreatment algorithm7 for Pradaxa.

    Dr Anuraag Kansal a research scientist inHealth Economics, United BioSource Corpora-tion, headquartered in the US said, As moreanticoagulation therapies become available,there is a need to understand the clinical andeconomic differences between new therapies.This research tells us that the benefits of da-bigatran etexilate accrue steadily over time andthat the novel oral anticoagulant continues to

  • 197/Thn. XIX/Juli-Agustus 2013 4

    Pemberian dosis double ASA memperbaikireaktivitas platelet pasien DMT2 dan kondisi reak-tivitas platelet yang meningkat

    DMT2 dihubungkan dengan peningkatan 2-4 kali risiko penyakit kardiovaskuler (CVD)diakibatkan peningkatan koagulasi berhu-bungan dengan fibrinolysis yang tergang-gu, disfungsi endotel dan reaktivitas plate-let yang tinggi (HPR) dengan peningkatanadesi, aktivasi dan agregasi. Berdasarkanpanduan klinis perkumpulan diabetes Ame-rika dan Polandia, pasien DMT2 seharus-nya diberikan dosis rendah ASA 75-162mg/hari untuk pencegahan primer pasien risi-ko tinggi CV dan untuk pencegahan sekun-der dari CVD pada semua pasien.

    Pada beberapa pasien HPR akan berlan-jut walaupun telah diberikan ASA rutin.Prevalens HPR tergantung dari definisi,populasi yang diteliti, dosis obat dan tesyang digunakan untuk mengevaluasi fung-si platelet. Dalam praktek klinis, pasiennon compliance merupakan penyebab ter-sering HPR selama pengobatan dengan ASA,yang diukur menggunakan cyclooxygenase

    (COX)-1-dependent tests. Hasil dari studi se-belumnya mengenai efek berbagai dosisASA adalah inkonsisten. Studi-studi terse-but sangatlah jarang dilakukan pada pasienDMT2 dan kebanyakan pasien-pasien terse-but dalam kriteria compliance. Tujuan daristudi ini adalah untuk mengevaluasi efekdosis double ASA pada reaktivitas plateletpasien DMT2 klinis stabil yang memperli-hatkan HPR selama pengobatan kronisdengan ASA 75 mg, dengan evaluasi pasiencompliance berdasarkan pengukuran ting-kat serum thromboxane B2 (sTXB2).

    Menggunakan 304 pasien DMT2 yangdiberikan pengobatan 75 mg ASA yang di-lakukan secara randomisasi dan prospektifdari studi AVOCADO (Aspirin Versus/OrClopidogrel in Aspirin-resistant Diabetic inflam-mation Outcomes). Reaktivitas platelet diukurdengan Platelet Function Analyzer (PFA)-100, VerifyNow Aspirin Assay dan serumthromboxane B2 (sTXB2) dan pengukurantingkat urin 11-dehydrothromboxane B2(u11dhTXB2). Pasien dengan HPR dinilaidengan CEPI-CT (collagen/epinephrine-induced closure time) berdasarkan pengu-

    Efek Dosis Double ASA terhadap Parameter Fungsi Platelet danHiperreaktivitas Platelet(Sub analisis Studi AVOCADO)

    kuran PFA-100 yang dirandomisasi denganrasio 2:3 diberikan 150 mg ASA (kelompok1) atau 75 mg clopidogrel (kelompok 2).Reaktivitas platelet dinilai pada saat nilaidasar dan setelah delapan minggu pengo-batan.

    Hasil data klinis dan sampel darah yanglengkap terdapat pada 260 dari 304 pasienyang diteliti. Enam pasien dieksklusikandari analisis berdasarkan suspek ASA non-compliance (tingkat sTXB2 > 7200 pg/ml).dari 254 pasien dimasukkan ke dalam anal-isis, HPR ditemukan pada 90 (35.4%) pasien,38 dari pasien tersebut dirandomisasikan kedalam kelompok 1 dan 52 pasien ke dalamkelompok 2. Dosis double ASA menghasil-kan CEPI-CT yang memanjang secara sig-nifikan ( 111 detik, p < 0.001) dan reduksitingkat sTXB2 ( -101.3 pg/ml, p = 0.001)tetapi tidak signifikan berdampak pada ha-sil tes fungsi platelet lainnya.

    Reduksi yang signifikan pada tingkatsTXB2 memberikan gambaran peningkatandosis ASA menghasilkan supresi sintesisthromboxane A2, contohnya inhibisi COX-1. Pada saat yang sama, peningkatan CEPT

    menggambarkan adanya respon perbaikanterhadap ASA dihubungkan dengan penu-runan reaktivitas platelet.

    Pada metaanalisis yang dipublikasikantahun 2008 oleh Reny et al. memperlihat-kan reduksi CEPI-CT pasien dengan penya-kit arteri koroner dihubungkan denganpeningkatan lebih dari dua kali lipat risikorekurensi kejadian iskemik (OR 2.1; 95% CI1.4-3.4; p < 0.001). Temuan ini mungkinmemberikan gambaran pemanjangan nilaiCEPI-CT dihubungkan dengan peningkatandosis ASA mungkin dihubungkan jugadengan reduksi pada risiko kejadian CV.Walaupun hubungan yang ditemukan padametaanalisis oleh Simpson et al, dibanding-kan dengan efek berbagai dosis ASA padarisiko kejadian CV, metaanalisis ini terma-suk 2 studi randomisasi pasien yang diberi-kan dosis harian moderat ASA (101-325 mg),dengan hanya 2% pasien dengan diabetespada kedua studi populasi tersebut, dimanasecara luas menurunkan kemampuan ek-strapolasi dari hasil temuan tersebut.

    (Kardiol Pol 2013; 73(6): 552-7)SL Purwo

    OBESITAS sering kali ditemukan pada kese-hatan public dengan makin meningkatnyaprevalens. Fibrilasi atrium (AF) merupakanmasalah klinis aritmia tersering dan meng-hasilkan banyaknya sekuel yang tidak di-inginkan termasuk stroke, gagal jantung,penurunan fungsi kognitif, demensia, penu-runan kualitas hidup dan kematian.

    Dalam studi komunitas dan kohortpopulasi, obesitas telah menjadikan sebagaifaktor risiko AF. Sebagai perbandingandengan referensi berat badan normal, indi-vidu obese mempunyai risiko 2.4 kali lipatpeningkatan risiko AF. Pada studi kohortbedah kardiothoraks, risiko AF post ope-

    rasi berkisar antara 1.4-2.4 kali lipat pening-katan risiko jika dibandingkan denganrefernsi non obese.

    Risiko AF meningkat secara progresifdengan peningkatan indeks masa tubuh(BMI). Dalam seri bedah kardithoraks yangluas, individu-individu dengan BMI yangekstrem (> 40 kg/m2) memiliki 2.3 kalilipat peningkatan risiko AF post operasidibandingkan dengan 1.2 kali lipat risikopada individu dengan berat badan berlebih(BMI 25-30 kg/m2). Suatu kohort observa-sional dari klinik Mayo memperlihatkanhasil yang sama dengan peningkatan ke-mungkinan bergantinya AF dari paroksis-

    Obesitas Pencetus Fibrilasi Atrium

    offer effective stroke protection for patientsliving with AF.

    NOTES TO THE EDITORSStroke Prevention in Atrial Fibrillation

    AF is the most common sustained heartrhythm condition8, with one in four adults overthe age of 409 developing the condition in theirlifetime. People with AF are more likely to expe-rience blood clots, which increases the risk ofstroke by five-fold.9,10 Up to three million peo-ple worldwide suffer strokes related to AF eachyear.11-14 Strokes due to AF tend to be severe,with an increased likelihood of death (20%), anddisability (60%).15

    Ischaemic strokes are the most common typeof AF-related stroke, accounting for 92% ofstrokes experienced by AF patients and frequent-ly leading to severe debilitation.16-20 Appropri-ate anticoagulation therapy can help to preventmany types of AF-related strokes and improveoverall patient outcomes.21

    Worldwide, AF is an extremely costlypublic health problem, with treatment costsequating to $6.65 billion in the US and over 6.2billion across Europe each year.21,22 Given AF-related strokes tend to be more severe, thisresults in higher direct medical patient costsannually.23 The total societal burden of AF-related stroke reaches 13.5 billion per year inthe European Union alone.23

    About the dabigatran etexilate clinical trial pro-gramme

    Boehringer Ingelheims clinical trial pro-gramme to evaluate the efficacy and safety ofdabigatran etexilate encompasses studies in:

    Primary prevention of venous throm-boembolism (VTE) in patients under-going elective total hip and knee replace-ment surgery

    mal ke permanen dengan peningkatan BMIyang progresif.

    Obesitas dan penyakit metabolik me-miliki kontribusi dalam risiko terjadinyaAF. Hipertensi secara kuat dihubungkandengan obesitas dan juga obesitas sebagaifaktor risiko AF; insidens hipertensi me-ningkat dengan peningkatan berat badandan secar progresif naik pada kelompokobesitas. Penyakit kardiovaskuler, baikmakro dan mikrovaskuler iskemik memi-liki prevalen tertinggi yang berhubungandengan obesitas dan AF. Obesitas sentralmerupakan bagian dari sindroma meta-bolik dan berdasarkan studi kohort komu-nitas dengan penambahan sindroma meta-bolik akan meningkatkan risiko 10 tahununtuk terjadinya AF sebesar 4 kali lipatjika 5 kriteria sindroma metaolik tersebutterpenuhi.

    Sebagai tambahan adipositas sistemik,deposisi jaringan adipose regional teru-tama jaringan adipose epikardial diukurmenggunakan tomografi atau MRI, telahmenjadikan faktor risiko yang poten untukterjadinya AF. Data epidemiologi menyim-pulkan secara konsisten bahwa obesitasdihubungkan dengan risiko subtansialuntuk perkembangan AF. Meta analisismelaporkan individu obes memiliki pening-katan 49% risiko AF dibandingkan individunon obese.

    Remodeling kardiovaskuler sekunderakibat obeistas merupakan focus terpentingdalam beberapa penelitian, mengidentifi-kasi tahapan intermediet dalam jalur an-tara paparan dan hasil akhir. Remodelingatrial mungkin dapat menjadi sebagaikarakteristik proses yang heterogen olehadanya disrupsi integrasi elektrik atrial

    sekunder terhadap paparan klinis jangkapanjang.

    Perubahan pada fungsi elektrofisiologiatrial dan remodeling yang bersamaan men-jadikannya sebagai respon yang maladap-tif terhadap hasil metabolik, hemodinamikdan stress iskemik. Hasil kumulatif adalahkekacauan elektrik, modifikasi struktur daninflamasi yang mengakibatkan fibrosis atri-al interstitial dan menghasilkan substratproaritmik.

    Obesitas dihubungkan dengan 2.4 kalilipat risiko 10 tahun pembesaran volum atri-um kiri yang dinilai dari ekokardigrafi.Fungsi diastolik ventrikel berdampak padaintegritas atrium. Obesitas dan hipertensimungkin menghasilkan hipertrofi ventrikelyang mana akan mengubah fungsi diasto-lik, meningkatkan tekanan atrial dan meng-hasilkan remodeling atrium.

    Gelombang P berasal dari EKG permu-kaan dan merupakan pengukuran vek-torkardiografi dari morfologi, durasi danamplitude gelombang P. Mereka memberi-kan pengukuran yang murah dan dapat di-ulang pemeriksaannya dalam menggambar-kan fungsi elektrik atrium. Gelombang Psecara progresif akan berubah oleh karenaobesitas dan lingkar pinggang.

    Studi kecil senter tunggal melaporkanhasil yang signifikan terhadapa perbedaanelektrofisiologi atrium dan vena pulmona-lis antara individu obese dengan non obese.Individu obesememliki periode refrakteryang pendek pada atrium dan vena pulmo-nalis dibandingkan non obese, memberikangambaran bahwa sebagai substrat proatit-mik.

    (Circulation 2013; 128: 401-5)SL Purwo

    Treatment of acute VTE Secondary prevention of VTE Stroke prevention in AF Prevention of thromboembolism after

    heart valve replacement.

    Boehringer IngelheimThe Boehringer Ingelheim group is one of the

    worlds 20 leading pharmaceutical companies.Headquartered in Ingelheim, Germany, it oper-ates globally with 145 affiliates and more than44,000 employees. Since it was founded in 1885,the family-owned company has been commit-ted to researching, developing, manufacturingand marketing novel medications of high the-rapeutic value for human and veterinary medi-cine.

    As a central element of its culture, Boehring-er Ingelheim pledges to act socially responsible.Involvement in social projects, caring for em-ployees and their families, and providing equalopportunities for all employees form the foun-dation of the global operations. Mutual cooper-ation and respect, as well as environmental pro-tection and sustainability are intrinsic factors inall of Boehringer Ingelheims endeavours.

    In 2011, Boehringer Ingelheim achieved netsales of about 13.2 billion euro. R&D expendi-ture in the business area Prescription Medicinescorresponds to 23.5% of its net sales.

    Please be advisedThis release is from Boehringer Ingelheim

    Corporate Headquarters in Germany. Please beaware that there may be national differencesbetween countries regarding specific medicalinformation, including licensed uses. Please takeaccount of this when referring to the informationprovided in this document. This press release isnot intended for distribution within the USA,Canada or UK.

    (References available atwww.tpkindonesia. blogspot.com)

    SPONSORED ARTICLE

    (Cost.................... hal.3)

  • 197/Thn. XIX/Juli-Agustus 2013 5

    * 1970 Pemasangan pacu jantung tempo-rer, di RSCM

    * 1974 Pacu jantung permanen anak per-tama di RSCMPemakaian anticoagulan pada in-fark akut

    * 1974 Tes jantung dengan ergocycle, diRSCM

    * 1976 Pemeriksaan arteriografi koronerdi RSCM

    * 1976 Tes jantung dengan treadmil, diRSCM

    * 1977 Pemeriksaan elektrofisiologi diRSCMPemeriksaaan Ekhokardiografi diRSCM

    * 1980 Holter monitoringProgram rehabilitasi jantung diRSCM

    * 1981 Pembedahan pintas koroner* 1985 National Cardiac Center/RSJHK* 1986 Pemakaian trombolise pada IMA* 1987 PTCA di RSJHK

    Balon pulmonal valvuloplasty diRSJHK

    * 1988 BMP di RSJHK* 1992 Ablasi di RSJHK

    Dokter Gan Tjong Bing yang baru kem-bali dari luar negeri memaparkan perkem-bangan ilmu penyakit dalam sebagai beri-kut : Perkembangan Departemen Kardiolo-gi dan Kedokteran Vaskular FKUI tidakdapat dipisahkan dari Ilmu Penyakit Jan-tung dan Pembuluh Darah di Indonesia yangmulai berkembang pada tahun lima pulu-han.

    Pada masa itu tokoh yang merintis ilmupenyakit jantung dan pembuluh darah un-tuk orang dewasa adalah dr. Gan TjongBing, dr. Soehardo Kertohusodo dan kemu-dian dr.Lie Khioeng Foei.

    Perhatian yang terarah terhadap ilmuini digalakan dengan berdirinya Perkum-pulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PA-PDI) dan Perkumpulan Kardiologi Indone-sia (PerKI) pada tanggal 16 Nopember 1957.Keduanya disyahkan sebagai Cabang Ika-tan Dokter Indonesia (IDI) pada tanggal 28Nopember 1957 di Rumah Sakit St.Carolus,Jakarta. Sebelum itu Sub-Bagian Kardiolo-gi pada Bagian Penyakit Dalam sudah di-mulai pada tahun 1957 dengan Kepala dr.Gan Tjong Bing.

    Sebagai Ketua PERKI (yang pertama),dr. Gan Tjong Bing juga menjabat sebagaiSekretaris PAPDI. Pada sambutan berdiri-nya PERKI antara lain dikemukakan beliaubahwa lapangan kardiologi sebegitu luas-nya, hingga bagi para Internis Umum takmungkin lagi dapat tetap mengikuti danmenguasai kemajuan-kemajuan dalamlapangan ini.

    Kegiatan perkembangan Ilmu Kardiolo-gi secara terpadu bermula di Rumah SakitDokter Cipto Mangunkusumo (RSCM) de-ngan kegiatan Poliklinik jantung di kamar17, dimana berbagai unsure dari berbagaiBagian mengadakan pelayanan dan disku-si-diskusi teratur. Selain nama-nama yangdisebut terdahulu antara lain juga dr. Suka-man S. dan dr. Endot M Achya turut dalamperintisan ilmu kardiovaskular ini.

    Kateterisasi jantung pertama kali dila-kukan pada akhir tahun 1950-an di RumahSakit Yang Seng Ie (sekarang RS.Husada)oleh dokter-dokter dari RSCM, yaitu : dr.Kwee Tien Boh, dr. I.S.F Ranti dan dr. GanTjong Bing. Sedangkan dr. Sukaman adalahStaf yang pertama kali mendapat pendidi-kan di luar Negeri dibidang kardiovasku-lar di Amerika Serikat dengan Prof Paul DWhite yang juga sebagai pioneer kardiolo-gi di Amerika Serikat (1960). Pemeriksaan

    invasive ini mulai dilaksanakan pula di ru-mah sakit Gatot Subroto dengan Tim yangsama. Pada awal tahun 1960-an bedah jan-tung tertutup pertama untuk stenosis mi-tralis dilakukan oleh dr. Pouw.dkk. Selan-jutnya setelah itu pembedaahan untuk PDAlebih sering dilakukan.

    Sub-bagian Kardiologi pada awal 60-antelah menjadi salah satu sub-bagian yangberkembang pesat di lingkungan BagianPenyakit Dalam dengan kegiatan Poli Jan-tung di kamar 17. Kateterisasi jantungkanan di RSCM dimulai tahun 1960 oleh dr.Gan Tjong Bing, dr. I.S.F.Ranti, dr. AsikinHanafiah dan dr. Kwee Tien Boh di KamarRontgen Bagian Ilmu Kesehatan Anak. DiBagian Penyakit Dalam pemeriksaan inidimulai oleh dr. Tagor G.M.Siregar dandr.Makes setelah kateterisasi dipindah kebagian Radiologi RSCM pada tahun 1964.

    Bedah jantung terbuka dengan hipoter-mia dilakukan pertama kali pada tahun1963. Sementara itu sub-bagian Kardiologidi Bagian Kesehatan Anak sudah dipeloporioleh Prof. Yo Kian Tjay, dr. I.S.F.Ranti danpada tahun 1961-1962 dr.Asikin Hanafiahdikirim ke London untuk memperdalamkardiologi, sedangkan dari Bagian Penya-kit dalam dr. Tagor G.M.Siregar dan dr. Lo-ethfi Oesman dikirim ke Mc Gill Univer-sity, Canada pada tahun 1966-1967.

    Untuk mewujudkaan pelembagaankhusus dibentuk suatu THORACIC CENTERuntuk menanggulangi permasalahan jan-tung dn paru. Termasuk didalam ThoracicCenter ini unsure-unsur antara lain dariBagian Bedah, Bagian Ilmu Kesehatan Anak,bagian Ilmu Penyakit Dalam, Bagian Anes-tesi, Bagian Radiologi dan Bagian Patologi.Ternyata pemusatan kegiatan dari berbagaidisiplin ilmu tidak mencapai hasil sebagai-mana diharapkan, karena tenaga-tenaganya

    masih terikat dalam disiplin Bagian masing-masing, hal mana tidak dimungkinkanpengembangan kegiatan Throracic Centertersebut.

    Dengan makin meningkatnya tuntutandari masyarakat dan pesatnya perkemba-ngan ilmu kardiovaskular, dirasakan per-lunya tenaga-tenaga yang secara penuhdapat mengembangkan minat dan keahlian-nya didalam bidang tersebut, dirasa perlusuatu pelembagaan yang khusus yang me-nangani kardiovaskular. Timbulah gagasanterbentuknya suatu LEMBAGA KARDIOLO-GI NASIONAL (disingkat LAKARNAS)pada tanggal 17 Agustus 1965 dengan Kon-sep Surat Keputusan 3 Menteri yaitu Men-teri Kesehatan, Menteri Riset Nasional danMenteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Penge-tahuan.

    Ide pendiriannya berasal dari dr. DjakaSutadiwiria yang maksud dan tujuannyaadalah menghimpun dan mengarahkan segalatenaga dan alat-alat untuk memberantas pe-nyakit jantung dan pembuluh darah dalam artiyang seluas-luasnya Anggota Dewan Pengu-rus yang pertama adalah Kolonel CDM.dr. Djaka Sutadiwirya (Ketua, selaku wakilDepartemen Kesehatan), dr. Soehardi Har-djolukito (Wakil Ketua selaku DepartemenUrusan Research) dan Prof. dr. Djamaludin(Sekretaris/Bendahara, selaku Wakil De-partemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pe-ngetahuan). Sedangkan para Anggota : Ny.Sumarno (Selaku Ketua yayasan Kardiolo-gi Indonesia), dr. Irawan S. Santoso (SelakuDirektur lembaga), Prof. dr. Syahrial Rasad,Prof.dr. M Soekarjo dan Prof.dr D.Biran.Lembaga ini berkedudukan di IbukotaRepublik Indonesia dan secara fisik beradadi Rumah Sakit Dokter Cipto Mangun-kusumo.

    Sejarah Kardiologi (Bagian Kedua)

    (BERSAMBUNG)

    tidak heran bila doa seorang ibu kepadaTuhan YME sering dikabulkan dan diyaki-ni oleh sebagian besar masyarakat Indone-sia bahwa sorga itu terletak di telapak kakiibu.

    Mari kita lihat gambar-1; Setiap Egomemiliki pengalaman dan jalur hidupnyasendiri, tidak dapat seseorang menumpangkepada jalur orang lain sehebat apapunjabatan orang itu di dunia. Apakah ia seo-rang pemimpin, ilmuwan, guru, bahkannabi sekalipun tidak mungkin disejajarkandengan jalur hidup siapapun, suatu saat akanbersimpangan sesuai amal perbuatannya. Dijalur manapun Ego berjalan memiliki 2tugas utama eksoteris (ke luar) untuk men-jadi manusia yang bermanfaat bagi lingku-ngannya, menjadi kusuma bangsa, kunciutamanya adalah jujur. Mengapa jujur?karena kejujuran menimbulkan keadilan,keadilan seorang pemimpin menghasilkankesetiaan rakyatnya. Kejujuran juga me-nampilkan keberanian dan memuluskansikap ikhlas, sabar, dan syukur pada akhir-nya memiliki sifat dan perilaku unggulanbudi luhur. Tugas berikutnya adalah tugasesoteris (ke dalam) mendekat kepadaTuhan di dalam lubuk hatinya, kunci uta-manya adalah percaya (iman) merupakankompas ke mana Ego-yang-tidak abadi niberevolusi. Percaya adalah fungsi tertinggidari perasaan manusia, salah satu dari 3vitalitas jiwa. Masih diperlukan sadar se-bagai fungsi tertinggi dari angan-anganmanusia dalam arti yang seluas-luasnyamisalnya doa, meditasi, dzikir, ibadat, danmembaca kitab suci. Satu lagi sikap esoterisyang harus dimiliki oleh sentra vitalitasketiga: nafsu-nafsu yaitu taat menjalankanperintah Tuhan.

    Nah, konsep esoteris yang dijalankanoleh egonya manusia ini memungkinkania menuju ke hati nurani-nya sebagai lapisterdalam dari jiwanya, sekaligus lapis ter-luar dari Egonya-yangabadi ialah Roh Suci(TheSelf) itu sendiri. Perhatikan lingkaranEgo-Hati Nurani-TheSelf terdapat koridor

    (the gate) dimana terjadi kontinuitas kesa-daran antara Ego dan TheSelf, sinar daripusat imateri dipancarkan keluar melaluikonduksi asensorik. The Gate (Rahsa Jati)bukanlah indra ke-enam dalam arti SangEgo dapat mengintip ke dalam Dunia ke-4yang omnipotensi (mahakuasa) itu, tetapijustru sebaliknya, pengetahuan yang belumada sejarahnya dapat terpancar dari dalamberupa intuisi, bila syarat-syaratnya ter-penuhi. Ego hanya dapat menunggu beritadari dalam tanpa memiliki kekuatan me-maksa, ia harus menyerahkan seluruhkedaulatannya kepada TheForce, utusanTuhan yang abadi untuk dituntun kembalikepada sumber dan tujuan hidupnya ialahTheSource, Tuhan yang Maha Kuasa di dalamdirinya.

    Sebenarnya evolusi tadi dapat diartikansebagai ditariknya kembali sinar kehi-dupan The Self oleh TheForce atas nama The-

    Source. Di sini terjadi peristiwa yang menak-jubkan secara teoritis: pertama adalah peris-tiwa intuisi yaitu bertemunya TheSelf danTheForce yang dampaknya terasa olehsang Ego sebagai pencerahan yang dapatmengubah peradaban manusia. Pencerah-an ini dapat berupa penemuan-penemuanbaru sain dan teknologi, kemajuan kebu-dayaan yang berarti, dan terangkatnya de-rajat suatu kaum atau bangsa. Pada posisiini seluruh vitalitas sudah terintegrasidengan baik, manusia di sini sudah memi-liki integritas yang tinggi. TheSelf telahmengambil tongkat komando dari sang Egoyang sudah menyerahkan kedaulatannyatadi untuk patuh pada TheSelf. TheSelf selalumendengarkan arahan dan tuntunan dariSang Guru Sejati (TheForce) karena dialahyang menghidupi TheSelf tersebut untukpada akhirnya juga yang menuntun kembalikepada sumber dan tujuan hidupnya yang

    Gambar-1. TheSelf adalah Ego-nya manusia di dalam dunia spiritual di dalam pusathidupnya manusia yang imateri ialah dirinya yang hakiki. Hati nurani adalah lapis luar

    dari TheSelf (D4: imateri) dan adalah lapis dalam dari Ego-nya manusia dalam dimensimental (D3: fisik halus, terikat oleh ruang dan waktu) oleh karena itu hati nurani masih

    memiliki dua ekstrim baik dan buruk. Tripurusa (TriAspect), Suksma Kawekas(TheSource), Suksma Sejati (The-Force), Roh Suci (TheSelf) berada di pusat imateri

    tidak terikat ruang dan waktu. (Purwowiyoto BS. Candra Jiwa Indonesia Warisan IlmiahPutra Indonesia. Penerbit H&B PERKI, Jakarta 2012)

    hakiki yaitu Suksma Kawekas (TheSource),menyempurnakan evolusinya. Peristiwakedua adalah peristiwa pamudaran yaituselesainya tugas evolusi Egonya manusiabukan hanya pada saat terjadinya kematiansaja, berarti kurang bermanfaat dalam artisempit, tetapi evolusi itu dapat selesai jauhsebelum kematiannya badan jasmani kasarsebagai Dunia ke-2 manusia/mikrokosmos.

    Candra Jiwa Indonesia menjelaskan bah-wa yang benar-benar berubah pada prosesPamudaran adalah kesadaran. Kesadaranmanusia menjadi semakin mengecil diba-tasi oleh kesadaran sang aku, semakin lamasemakin bersifat apribadi sampai akhirnyamenjadi absolut tidak terbatas dalam peris-tiwa Pamudaran. Siapa saja yang berhasilmenyelesaikan Pamudaran ini akan merasa-kan kesadaran dalam dirinya berada padasetiap bentuk kehidupan dan keberadaan-nya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.Tidak ada lagi perbedaan dunia dalam mau-pun dunia luar, juga tidak ada lagi proseskegiatan di dalam jiwa.

    Kesadaran pada status Pamudaran adalahsuatu istilah dalam mengikuti perkemba-ngan terakhir kesadaran hidupnya perasa-an, angan-angan, dan nafsu-nafsu. Ketigafungsi itu sekarang menyatu di dalam sta-tus Pamudaran dan menjadi akhir keber-adaannya. Status Pamudaran adalah identikdengan status Suksma Sejati (TheForce) danpotensiil dapat dicapai oleh setiap manu-sia. Dalam berbagai sistem psikologi Barat,Jung satu-satunya yang mengemukakankemungkinan perkembangan lanjut darijiwanya manusia.

    Menurut Freud, titik akhir kehidupanadalah kematian. Bagi Adler yang ideal ada-lah mengikuti kebutuhan masyarakat secaramutlak, tanpa kemungkinan sang akudapat menyatukan dirinya dengan masya-rakat. Proses Pembebasan atau Pamudarandalam Candra Jiwa Indonesia telah disebutoleh Jung sebagai werden zur Persnlichkeit,atau Selbstverwirklichung, Verselbstung atausebagai Individuationprozess, proses individ-uasi. Sekian dan terima kasih.

    Budhi S. Purwowiyoto

    (Kardiologi.................... hal.3)

  • 197/Thn. XIX/Juli-Agustus 2013 6

    pada istirahat bagi penderita DM mening-katkan pentingnya identifikasi PJK tahaplanjut dengan kemungkinan lebih mung-kinnya ditemukan hasil pemeriksaan stres-ECG dan perfusi yang positif. Profil risikopasien DMT1 berbeda dengan DMT2. Keja-dian serangan jantung pada dewasa mudadengan DMT1 (umur 28-38 tahun) adalah0,98% per tahun, meningkat menjadi 3%setelah umur 55 tahun. Pada dewasa mudamemiliki prevalensi tinggi untuk PJK ter-sembunyi. Serangan jantung yang beratterjadi 10-15 tahun lebih awal dibandingnondiabetik. Laki-laki Amerika keturunanAfrika lebih sering terkena PJK. Prosesnya-pun lebih berat

    Prediktor untuk penyakit vaskular pe-rifer (PVD) meliputi peningkatan umur,pria, riwayat koreng, tekanan darah dias-tolik, LDL Kolesterol, Hb A1C, lamanyadiabetes, hipertensi, ekskresi albumin, ratefiltrasi glomerular, merokok dan retinopati.Pendekatan kita untuk identifikasi PJK padaDMT1 dapat dipakai dengan cara yang samauntuk DMT2 meliputi penghitungan risikodan strategi diagnosisnya. Untuk pasienyang dapat berjalan pada treadmill tanpa

    kelainan berat segmen ST-nya, TreadmillTest masih tetap merupakan lini pertamadiagnostik karena harga terjangkau danpenggunaannya yang luas.

    Progresi kalsium arteri koroner akanberkurang dengan kontrol gula darah. Ke-beradaan kalsium pada arteri koroner ber-hubungan dengan peningkatan prevalensiPJK. Prevalensi kalsium arteri koroneradalah 11% pada pasien 15 tahun dan beru-mur >30 tahun, adanya kerusakan mikro

    atau makrovaskular, dan dengan beberaparisiko kardiovaskular. 2) Pada pasien dengandiabetes, pemeriksaan ECG berdasarkankonsensus [Grade D] dapat diulang dalam 2tahun. 3) Pasien dengan diabetes harus di-lakukan pemeriksaan kearah adanya PJKdengan ECG stres testing [Grade D, konsen-sus], jika didapatkan keberadaan sebagaiberikut: gejala jantung tipikal maupun atipi-kal (seperti sesak nafas tanpa sebab, tidakenak di dada) [Grade C, Level 3(4)], Tanda-tanda dan gejala-gejala penyakit arteri peri-fer, bising karotis, serangan iskemik tran-sien, strok, dan ECG abnormal pada isti-rahat (contoh adanya gelombang Q) [GradeD, konsensus]. 4) Stres Tes Farmakologidengan ekho atau imejing nuklir [Grade C,Level 3]. 5) Individu dengan diabetes yangmemperlihatkan iskemia pada kapasitaslatihan rendah (