Toegoe Edisi Laporan Publik WALHI Yogya 2005-2008

Click here to load reader

  • date post

    10-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.857
  • download

    9

Embed Size (px)

description

Kerja-kerja ADVOKASI WALHI Yogya 2005-2008

Transcript of Toegoe Edisi Laporan Publik WALHI Yogya 2005-2008

Diterbitkan Oleh: Devisi kampanye Walhi yOgyakartatim maJalah tOegOe penanggungJaWab umumsuparlan, s.sOs. i

penanggungJaWab penerbitanumbu Wulang tap

pimpinan reDaksiJumiat

repOrterumbu Wulang tap Jumiat tata

FOtODOkumen Walhi yOgyakarta

karikaturiseDy prima habibi

tOegOe p e m b a c a ............... 2 suara tOegOe............... 5 tOegOe utama............... 7 tOegOe mapala.............. 33 tOegOe Walhi............... 34 pOtret tOegOe............... 41 tOegOe shalink............... 49 tOegOe khusus............... 50 ceritera tOegOe............... 80 arena tOegOe............... 82catatan lingkungan...............

Desain graFis & tataletakFathur rOziqin Fen FreDy FebrisOn

alamat reDaksi

Jl. nyi pembayun nO. 14 a karang semalO kOtageDe yOgyakarta 55172, telp/Fax: 0274-378631 e-mail: [email protected] reDaksi menerima sumbangan tulisan berupa surat pembaca, tips pengelOlaan lingkungan, artikel atau Opini. Diketik 3 halaman kuartO, 1,5 spasi, times neW rOman. antar langsung ke reDaksi Dalam bentuk File atau Dikirim via e-mail. reDaksi berhak mengeDit sepanJang tiDak mengurangi esensi tulisan. tiDak aDa imbalan berupa materi bagi naskah yang Dimuat.

tim penyusun lapOran publiks uparlan, s.s Os.i nanang ismuhartOyO, s.psi reknO purWanti h alik s anDera , st ari a nDy prastOWO, sh Fathur rOziqin Fen, s.ip muhammaD s aDri umbu Wulang tap, s.sOs

85

toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

1

tOegOe pembaca

Pekerjaan rumah yang harus Diselesaikan

asah asih asuh Walhi yogyakarta

Herry Zudianto, Walikota Yogyakarta;

sebagai orang nomor satu Di kota y ogyakarta, tentu beliau Punya PanDangan tentang kiPrah Walhi y ogyakarta selama ini, khususnya Dalam kurun Waktu 2005-2008WALHI selama ini telah menjalankan fungsinya Saya sebagai lembaga WALHI advokasi ranah mampu lingkungan, khususnya dalam hal kontrol. memandang berarti dalam harus Asah, asih, asuh. Asah kan WALHI Asih mengasah kemampuannya dalam menjalanfungsinya. mampu berarti bagaimana kontribusi WALHI memberikan

nyata dalam upaya kelola lingkungan ke arah yang lebih baik. Sementara asuh adalah bagaimana pihak lain termasuk pemerintah mampu memberikan ruang bagi WALHI dan mengingatkan bila ada yang salah. Pernyataan ini dikemukakan Herry Zudianto seusai audiensi tentang penyelenggaraan Pertemuan Daerah Lingkungan Hidup (PDLH) Publik di Kampung Gambiran, Kota Yogyakarta. Beliau menambahkan WALHI kedepannya harus lebih memperkenalkan diri ke publik agar lebih dikenal luas. Selain itu, WALHI harus mampu menjadi lembaga yang mandiri, khususnya dalam kerangka keuangan agar tidak menimbulkan ketergan-tungan kepada pihak donor asing. Saya pikir gagasan untuk penggalangan dana publik dan pembuatan unit usaha harus dikampanyekan terus-menerus, ungkapnya. Selanjutnya beliau berterima-kasih atas dukungan WALHI Yogyakarta selama ini yang telah membantu upaya pengelolaan lingkungan. Beberapa waktu lalu, majalah TEMPO menobatkan beliau sebagai salah satu daftar pemimpin yang berhasil dalam hal pengelolaan lingkungan hidup. Itu berkat panjenengan juga dan pegiat lingkungan yang lain, tuturnya saat audiensi.

toegoe pembaca kali ini tampil dengan konsep yang berbeda. Reporter toegoe melakukan wawancara langsung baik lisan maupun tulisan dengan para pembaca yang notabene terdiri dari masyarakat umum, anggota partisipan WALHI dan dari aparat pemerintah. Berikut hasil wawancara dengan mereka yang dirangkum oleh Jumiat dan Umbu Wulang tAP.

2 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

Ati (Pedagang) Wirobrajan Kota Yogyakarta

Air menjadi kebutuhan hidup sehari-hari. Tak terkecuali bagi seorang ibu rumah tangga. Ati yang membuka warung minuman ini sangat risau melihat keadaan air semakin kotor dan terbatas debitnya. Bila menggunakan air PAM sangat sulit. Pada saat-saat dibutuhkan, seperti pagi dan sore hari, air yang dinantikan tidak mengalir. Akhirnya, ibu yang berusia 39 tahun ini harus menyedot mengunakan pompa air pada malam hari. Langkah antisipasi agar tidak kekuarangan air pun telah diupayakan yaitu meminta bantuan orang lain untuk mengali sumur di sekitar rumahnya. Namun kondisi air yang ada sangat tidak menentu. Bila dimasak untuk konsumsi air minum keluarga dilihat dengan kasat mata tampaknya bersih saja, tetapi saat diminum airnya berasa. Padahal sumur tersebut juga digunakan oleh tetangganya. Bila tidak, ya tidak etis, Wong tetangga saya ujarnya seraya berharap dengan pemerintah agar memberi bantuan fasilitas air untuk masyarakat di sekitar Wirobrajan.

ibu rumah tangga, Cemas akan keberaDaan air bersih

Asap kendaraan bermotor dan industri menyebabkan polusi udara di Kota Yogyakarta. Masyarakat terlihat gusar dengan udara yang tidak bersahabat sekarang ini. Adrimas (45) misalnya, salah satu warga yang berdomisili di Kusumanegara merasa sangat dirugikan karena asap tebal kendaraan bermotor dan asap PT SGM. Kerugian pun kian bertambah karena dagangan bajunya yang dipajang dalam ruangan toko semakin kotor. Ia hanya bisa berkeluh kesah, susah mau mengadu dengan siapa sehinga ujung-ujungnya pasrah. Kami hanya menikmati susu asapnya PT SGM dan kendaraan bermotor, tuturnya. Bila diingat, lanjut Andrimas, pemerintah pernah mencanangkan kendaraan bermotor yang banyak mengeluarkan asap, khususnya motor dua tak, akan ditertibkan. Akhir-akhir ini kelihatanya pemerintah juga tidak berdaya apa lagi masyarakat.

Andrimas (Pedagang) Kusumanegara Kota Yogyakarta

meraDang nikmati asaP

Ir. H. Hadi Prabowo (Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta)

Pengelolan lingkungan hidup di kawasan perkotan bukanlah hal mudah. Salahsatu penyebab utama buruknya kualitas lingkungan lantaran meningkatnya kepadatan penduduk. Kalau soal lahir mati mungkin bisa kita batasi tapi kalau orang datang dan pergi kan tidak bisa, itu kan hak asasiujarnya. Soal kedua adalah belum berubahnya perubahan pola pikir masyarakat untuk beraktifitas dan tetap ramah lingkungan. Beliau mengakui perlu waktu yang lama soal perjuangan tersebut. Selanjutnya, pemerintah memilik beberapa target soal persoalan lingkungan khususnya di Kota Yogyakarta. Pertama, soal pengelolaan sampah. pemerintah menargetkan pada tahun 2011, 50 % penduduk kota telah mengelola sampahnya sendiri dari rumah tangga. Kedua, pencanangan program biopori untuk mencegah terjadinya banjir. Beliau berharap masyarakat dapat mendukung secara aktif program-program pemerintah soal lingkungan hidup.

Pengelolaan lingkungan kota tiDak muDahbagi kePala Dinas lingkungan hiDuP kota yogyakarta, banyaksoal yang harus Diselesaikan Dalam uPaya menuju kota yang ramah lingkungan.

berikut PenDaPatnya.

toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

3

tOegOe pembacaPerlahan, lingkungan perkotaan Yogyakarta mulai tampak bersih dari sampah yang menumpuk. Kebersihan lingkungan tersebut berkat peran pemerintah Daerah Istimewah Yogyakarta yang memperhatikan lingkungan. Kondisi ini diungkapkan salah satu warga kota Yogyakarta, Herry (41). Pengolahan sampah misalnya, pemerintah kota sudah menyediakan tempat-tempat penampungan di sekitar rumah penduduk. Tidak hanya itu, lanjut Herry, mobil pengankut sampah banyak yang telah beroperasi membawa sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Untuk kebersihan lingkungan sudah agak lumayanlah dibandingkan dengan kota lain, kata Herry. Ia berharap Pemerintah Kota Yogyakarta tidak hanya berhenti sampai pada penampungan akhir saja menyelesaikan masalah sampah. Namun sampah-sampah yang bertumpukan di tempat pembuangan akhir tetap dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan efek negatif bagi masyarakat. Pemerintah Kota Yogyakarta perlu meningkatkan kinerjanya, sampah-sampah itu kan bisa dimanfaatkan untuk kesuburan tanaman,tuturnya. Melihat sejarah dan keberadaannya hingga kini, maka WALHI

Herry Kota Yogyakarta

Pemkot (teruslah) memPerhatikan samPah

Anung WiboWo (ketuA LeSei-YPP JogJAkArtA)

dapat menjadi aktor sentral bagi bertemunya berbagai kepentingan dalam proses pembangunan yang berbasis kawasan. Pertemuan antar kepentingan ini selayaknya diikuti oleh sinergitas antar sektor pembangunan. Oleh karena itu sudah layak dan saatnya Walhi memporsikan diri untuk dapat dipercaya oleh masyarakat luas di bidang sosial dan politik dalam menumbuhkan dinamika pembangunan. Kedepannya, Sangat perlu untuk WALHI melakukan program berbasis kawasan. Alasannya adalah bahwa pembangunan di Indonesia harus berbasis pemberdayaan dan pengembangan masyarakat yang mencakup:

Walhi Perlu memPertahankan Program berbasis kaWasan

Mobilisasi sumberdaya kawasan secara partisipatif Perpaduan sumberdaya kawasan Pengembangan landasan perekonomian rakyat dikawasan. Pengembangan industri strategis berbasis masyarakat. Pengembangan wawasan ekologis Penempatan WALHI di garis depan pembangunan sebagai

pelopor pengembangan proses praksis dalam pembangunan untuk tercapainya pemantapan demokrasi politik dan ekonomi melalui proses pemberdayaan masyarakat, komunitas dan lembaga-lembaga pengambil keputusan pada tingkat desa, dusun dan lingkungan. Salam lestari

Johan (Pegawai) Parangtritis, Bantul

Sejak pertemuan PNLH X di Gabusan, Bantul,

WALHI kembali

menegaskan arah perjuangan oranisasinya yaitu mengerakan sayap politik ke arah grass root. Namun masih banyak masyarakat tidak tahu keberadaan organisasi ini. Salahsatunya, Johan. WALHI itu apa sih? tanya pegawai PLN ini. Setelah beberapa lama dijelaskan bahwa WALHI adalah organisasi yang bergerak di bidang lingkungan hidup, akhirnya beliau tahu. Oh Baguslah, organisasi itu, karena ada yang bisa membantu dan mengajak masyarakat menanam pohon untuk melestarikan alam, katanya.

tak kenal, maka tak sayang4 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

suara tOegOe

y ogia j aga j ogja !Pertanyaan atas yogia Jaga JogJa adalah, bisa Jaga JogJa? rangkaiankata tersebut mengantarkan kita Pada suasana reflektif sekaligus evaluatif.WALHI Yogyakarta menyadari hal tersebut, beberapa keberhasilan yang diraih ternyata belum berbanding lurus dengan menurunnya tingkat eksploitasi dan kerusakan lingkungan yang terjadi, khususnya di Yogyakarta. Namun optimisme mesti tetap terjaga! Kepengurusan WALHI Yogyakarta periode 2005-2008 telah berakhir. Berbagai mandat organisasi yang sekaligus diamini sebagai amanat publik telah dijalankan. Banyak hal yang dicapai sekaligus masih banyak yang belum dicapai. WALHI mengemban tugas di berbagai kawasan di Yogyakarta dan sekitarnya. Kawasan Merapi, Menoreh, Perkotaan dan Pesisir Selatan adalah di dalamnya. Pekerjaan ini sungguh menantang, lantaran ke empat kawasan tersebut memiliki kompleksitas persoalan lingkungan hidup yang berbeda. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pratek eksploitasi, pelanggaran hukum lingkungan hidup dari aktifitas pembangunan marak terjadi di empat kawasan ini. Fenomena inilah yang paling banyak menyita waktu dan energi WALHI Yogyakarta. Hampir setiap bulan selalu ada keluhan ataupun pengaduan ke WALHI Yogyakarta tentang masalah lingkungan hidup. Terus terang, dengan energi yang terbatas tidak semua kasus tersebut terselesaikan secara tuntas. Apalagi kebanyakan kasus tersebut menghadapkan pemerintah dan masyarakat dalam ranah konfrontatif. Selanjutnya, bencana gempa bumi Yogyakarta-Jawa Tengah pada

selama

ini PerJuangan mengwuJudkan keadilan ekologis tamPaknya Pertanyaan tersebut menJadi relevan untuk menJadi semacam

cambuk.

toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

5

2006 silam. Upaya bantuan dan penanganan bencana ini juga paling banyak menyedot waktu dan energi. Panjang proses ini lebih karena ketidaksiagaan publik dalam menghadapi bencana. Berbagai kendala dan hambatan juga bermunculan. Baik secara internal maupun eksternal dalam pelbagai aktivitas kawasan sebagai program reguler maupun aktifitas lain sebagai program non reguler. Dari sisi internal, salahsatunya yakni keterlibatan anggota partisipan WALHI yang minim dengan beragam alasan yang memang masuk akal. Misalnya, tengah sibuk mengerjakan program lembaga tersebut. Secara eksternal, salahsatunya yakni upaya adu domba yang dilakukan oknum-oknum tertentu yang menghadapkan WALHI sebagai penghasut alias provokator. Sehingga pendampingan masyarakat di beberapa tempat sempat menemui jalan buntu. Namun sepanjang kepengurusan ini, banyak poin pembelajaran diperoleh. Poin-poin belajar itu antara lain adanya kesenjangan bahasa antara WALHI dan masyarakat yang menyebabkan masyarakat sulit memahami ilmu yang diberikan oleh WALHI. Ada juga soal, pengenalan kearifan-kearifan lokal yang dibagikan masyarakat kepada WALHI sebagai bagian dari proses belajar bersama. Berbagai dinamika kepengurusan dan program telah kami rangkum dalam Laporan Publik ini. Laporan ini merupakan bagian dari upaya kami untuk membangun transparansi kepada masyarakat sebagaimana khitah WALHI sebagai organisasi publik. Harapannya, masyarakat umum dapat mengetahui dan memahami siapa, apa, dan bagaimana kiprah WALHI dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Baik dalam skala mikro maupun makro. Masukan dan kritikan yang kemudian dilayangkan publik kepada WALHI dapat dijadikan sumber energi baru untuk perjalanan kedepannya. PDLH Publik Pertemuan Daerah Lingkungan Hidup Daerah yang diselenggarakan oleh WALHI Yogyakarta merupakan yang pertama di Indonesia. Hal ini sebagai wujud konsistensi dari penyelenggaran PNLH publik setahun silam dimana Yogyakarta menjadi tuan rumah. Kampung Gambiran di Kota Yogyakarta kemudian dipercaya sebagai tuan rumah mulai tanggal 22 hingga 25 Januari 2009. Berbagai persiapan pun telah digelar. Panitianya pun datang dari masyarakat setempat selain anggota WALHI sendiri. Harapannya lewat ajang akbar ini berbagai masukan dari masyarakat umum dari berbagai elemen dapat diketahui. Selain itu, guna lebih mengakrabkan lagi wacana pelestarian lingkungan kepada publik luas. Matur Nuwun Dimana negara yang tak disirami hujan? Siapa Manusia (baca, organisasi) yang tak pernah salah? Selain ada keberhasilan tentu juga ada kekhilafan. WALHI Yogyakarta meminta maaf kepada publik bila selama ini banyak problem yang tak terselesaikan dengan tuntas. Terimakasih kepada publik yang selama ini telah bahu-membahu bersama WALHI melakukan upaya penyelamatan lingkungan. Apa Bisa Jaga Jogja, Kawan?! Seyogianya, bisa! Kalau bersama-sama menjadi pionir untuk keadilan lingkungan.

6 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

t O e g O e u ta m a

Dinamika Di kaWasankaWasan ituSebagaimana mandat PDLH dan KDLH sebelumnya, program reguler WALHI Yogyakarta berbasis kawasan. Artinya berbagai isu dalam kawasan tersebut yang berhubungan dengan upaya tata kelola lingkungan ditangani sesuai dengan posisi dan kapasitas WALHI. Isu tersebut yakni sumber daya air, bencana, tambang, agraria, tata ruang dan lain sebagainya. Kawasan-kawasan tersebut adalah Merapi, Menoreh, Pesisisr Selatan, Perkotaan. Siapa, apa, bagaimana, dimana dan sejauhmana aktifitas di kawasan tersebut, kami rangkum dalam rubrik TOEGOE UTAMA.

toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

7

t O e g O e u ta m a

m enuju k esejatian m eraPibAgi YogYAkArtA, kAWASAn gunung MerAPiSAngAt berArti.

kebutuhAnSAngAt

hiduP YAng MendASAr bAgi WiLAYAh SeLuAS

318.580 hA

bergAntung PAdA

MerAPi. PoSiSi

gunung YAng SecArA geogrAfiS dAn AdMinStrAtif terLetAk di

JAWA tengAh

dAn

YogYAkArtA

ini

MeruPAkAn kAWASAn PenYAnggA SuMber dAYA Air YAng beSAr.

Selain itu kawasan ini memiliki kekayaan sumber daya alam tambang seperti batu dan pasir. Kondisi ini memang membuat banyak orang tergiur untuk memperoleh keuntungan ekonomi secara besar-besaran. Faktanya hingga kini praktek eksploitasi tumbuh subur di wilayah Merapi. Praktek pembangunan dan penambangan yang serampangan tersebut telah menimbulkan berbagai persoalan pelik. Baik soal keberlanjutan ekologis hingga hajat hidup masyarakat. Kini Merapi yang anggun menjadi rebutan banyak pihak yang datang dengan kepentingan konsevasi namun menggunakan pendekatan ekofasisme.

Oleh karena itu, Gunung Merapi (3968 m dpl) yang meliputi wilayah Kabupaten Magelang, Sleman, Klaten dan Boyolali berada di 9 Kecamatan, 26 Desa dan 76 dusun memerlukan sebuah sistem pengelolaan yang menjamin eksistensi fungsinya. Misalnya, kebutuhan air, udara, keragaman hayati dan ekosistemnya. WALHI sebagai organisasi forum lingkungan hidup bersama masyarakat setempat tentu menjadi salah satu aktor di dalamnya. Berikut cerita tentang advokasi yang dilakukan masyarakat Merapi bersama WALHI Yogyakarta di berbagai lingkup isu. Mari bersama merawat Merapi!

8 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

yang m emberi (terbanyak) y ang teranCam*tentang advolasi sumber daya meraPi bersama masyarakatair

Hal ini lantaran berbagai aktivitas pembangunan fisik seperti, perumahan, perhotelan, tambang telah merusak berbagai sumber air di kawasan tersebut. Soal makin pelik lantaran erupsi Merapi juga turut berkontribusi terhadap kerusakan yang terjadi. Tapi, bagi masyarakat soal pembangunanlah yang paling berpengaruh. Penurunan debit air dan hilangnya berbagai sumber air di daerahnya menimbulkan kesulitan tersendiri. Baik yang berada di kawasan hulu maupun hilir. Dalam berbagai pertemuan masyarakat kerap mengeluhkan kondisi ini. Lalu bagaimana peran pemerintah dalam menjawab kesulitan dan keluhan masyarakat? Sayang, tampaknya niat masyarakat untuk memperjuangkan keberlanjutan suplai air bertepuk sebelah tangan dengan agenda pemerintah. Pemerintah justru membiarkan berbagai aktivitas berskala besar maupoun kecil berseliweran di kawasan tersebut. Contoh, pembangunan perumahan dan aktivitas pertambangan. Pemerintah Yogyakarta terkesan lenggang kangkung dan lebih fokus pada pembangunan Sabo untuk pengelolaan lahar Merapi serta berencana membeli air dari Kabupaten Magelang pada periode 2005 hingga 2006 silam. WALHI sebagai organisasi forum bersama Lembaga Wanamandira, SeTAM, Lessan dan masyarakat setempat melakukan berbagai kegiatan advokasi sumber daya air. Beberapa kegiatan seperti Sarasehan Kearifan Lokal Pengelolaan Merapi serta Investigasi proyek Sabo pun diadakan. Aktivitas lainnya melakukan demonstrasi pada Pemerintah Sleman untuk mendesak penyelesaiaan kasus privatisasi air yang dilakukan oleh perusahan Abras dan Evita. Berikutnya mengkritisi draft penjualan air dari Magelang. daya air. Masyarak at pun menunjukkan kearifan lokalnya dengan melakukan ruatan air setiap tahun di Umbul Wadhon dan Umbul Lanang. Namun berbagai aktivitas tersebut dibiarkan menjadi angin lalu oleh pemerintah. Hingga kini belum ada kejelasan sikap dari pemerintah khususnya Sleman untuk menyelesaikan polemik sumber daya air. Merapi sebagai kawasan penyangga sumber daya air tentu harus terus dijaga keberlanjutannya. Pemerintah sebagai pelayan masyarakat harus mampu memberikan kepastian tersebut kepada tuannya. Bila tidak, selamat datang krisis air! WALHI juga menyusun draft buku dan film tentang kearifan masyarakat Merapi serta kasus-kasus pengrusakan sumber

Secara fungsional, Merapi merupakan kawasan resapan dan penyuplai air terbesar di Yogyakarta. Namun seiring perjalanan waktu, eksistensi kawasan hulu ini terancam.

toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

9

t O e g O e u ta m a

*tentang

mau bertani atau menambang?advokasi

agraria meraPi

Merapi merupakan kawasan yang cocok untuk aktivitas bertani, berkebun maupun berternak. Sayangnya, keberadaan para petani justru terancam karena pengalih-fungsian lahan menjadi areal pertambangan. 10 toegoe ::

PoLA

kehidupan

masyarakat

Keberadaan petani jelas makin luntang-lantung lesaikan. jelas Para bila persoalan Merapi nasibnya agraria Merapi tidak segera disepetani akan meratapi

pun berganti. Orientasi ekonomi yang semula tetap dalam koridor mempertahankan ekologis kini keberlanjutan terbalik. menjadi

Beberapa kelompok masyarakat mengeluhkan kondisi ini. Apalagi para penambang batu, pasir pun berasal luar daerah tersebut. WALHI Yogyakarta bersama Lessan pun turut prihatin. Aksi nyata digelar. Melakukan tekanan publik dengan hasil analisis dan kajian SK Prosedur Tetap merintah tentang di Merapi serta riset Peraturan PePengaturan Penggunaan Tanah adalah beberapa diantaranya. Hasilnya, pemerintah Sleman mengeluarkan Peraturan Pemerintah tentang Pengaturan Penggunaan Tanah. Namun soal SK Protap, pemerintah terkesan tidak mau ambil pusing dan tanpa ada kejelasan hingga kini.::

kelak, karena asap dapurnya yang mengepul dalam suasana rindang Merapi akan berakhir di tangan-tangan para pengambil kebijakan yang serakah dan tanpa mempedulikan kelestarian alam Merapi. Sebuah plang di daerah Kemiren, Kecamatan Srumbung tertera tulisan Desa Ekowisata namun banyak truk bermuatan hasil tambang batu dan pasir berseliweran di sana. Pertanyaan, mengapa realitas tersebut paradoks? Bukankah seharusnya yang lalu lalang adalah truk-truk pengangkut hasil pertanian rakyat? Kawan, perjuangan agraria di Merapi belum selesai!

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

(aWas) jangan salah menata meraPi!*Tentang Advokasi Tata Ruang Merapi

Menata Merapi seharusnya bukan persoalan maha rumit bila tetap patuh pada potensi khas yang ada di wilayah tersebut. Ragam Persoalan bermunculan gara-gara perencanaan dan aplikasi tata ruang oleh pemerintah yang jauh panggang dari api.beberAPAkawasan yang bukan diperuntukkan sebagai penambangan,

justru pada realitasnya berbeda. Banyak aktivitas penambangan maupun pembangunan fisik lainnya yang berpotensi merusak ekosistem Merapi sebagai kawasan penyangga. Pemerintah tampaknya mengabaikan persoalan ekologis dalam menata Merapi. Hal ini banyak dikeluhkan dan dikecam masyarakat setempat. Tata kelola dan tata ruang rakyat menjadi alternatif untuk melawan arus besar kebijakan pemerintah yang minim partisipasi masyarakat. Masyarakat bersama WALHI, Mapalaska, Majestic, Caravan, Mapala STTL, Mapeal, Sasenitala, Mapala Unisi, Mapala UMY, Hancala, Janagiri, MPA Cakrawala, Kappala, Wanamandira, Lessan, LABH melakukan enam kali FGD untuk merumuskan tata kelola dan ruang yang berasal dari rakyat. Pelatihan pemetaan wilayah juga digelar bersama masyarakat setempat. Dari berbagai pertemuan tersebut menghasilkan dua draft tata kelola dan wilayah masyarakat Merapi. Selain itu menghasilkan dua peta tata kelola dan ruang. Berikutnya, dua buku draft kelola rakyat di merapi, khususnya Ngandong dan Palemsari. Masyarakat juga mulai menyoal dan melakukan public hearing dengan DPRD Sleman untuk menunda pemberlakuan tapal batas TNGM. Dalam pertemuan dengan DPRD, para wakil rakyat sepakat untuk menyerukan TNGM tidak masuk dalam tata ruang propinsi karena masih dalam proses Banding ke Mahkamah Agung. Persoalan tata ruang terus diperjuangkan oleh masyarakat karena akses mereka yang selama ini leluasa menjadi terbatasi. Padahal masyarakat mengaku tak pernah melakukan aktivitas yang merugikan kepentingan ekologis Merapi. Riset yang dilakukan WALHI membuktikan bahwa keberadaan TNGM ternya turut memberikan implikasi negatif pada keseharian masyarakat terutama di bidang pertanian, perkebunan dan peternakan. Janji wakil rakyat untuk melakukan berbagai pengusutan berkaitan persoalan penggunaan kawasan yang tak sesuai dengan tata ruang hingga kini pun belum ada kejelasan. Kedepannya, pelibatan rakyat dalam tata kelola dan ruang Merapi adalah kemestian. Apakah Merapi akan tetap eksis dengan ragam fungsinya? Diakui atau tidak, penegakan tata ruang dan tata kelola wilayah yang benar menjadi faktor penentu. toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

11

t O e g O e u ta m a

hati-hati DamPak eruPsi meraPi!*tentang aDvokasi bersama masyarakat korban aeruPsi meraPi Ditahun 2006

gunung Merapi merupakan gunung berapi teraktif di dunia. Wajar, fenomena erupsi kerap menghujam kehidupan masyarakat di sekitarnya sebagaimana yang terjadi di tahun 2006 silam. Selain membawa berkah juga berpotensi menimbulkan bencana.JutAAndari kubik pasir yang turun tentu pasir merupakan Banyak maupun tersendiri. kebanyakan adalah para petani yang menyandarkan hidup mereka pada hasil pertanian, perkebunan maupun peternakan. WALHI Yogyakarta kemudian berinisiatif menjadi salah satu aktor dalam upaya meminimalisir dampak negatif erupsi. Tiga posko informasi dan penanganan pengungsi didirikan di tiga kabupaten yakni, Sleman, Klaten dan Magelang. Selain untuk memberikan bantuan langsung di masa tanggap darurat, juga untuk memberikan informasi kepada berbagai pihak tentang kondisi para pengungsi lewat komunitas Jalin Merapi. Penanganan dampak erupsi yang lamban oleh pemerintah membuat WALHI bersama perwakilan masyarakat melakukan konsultasi publik (public hearing) dengan aparat pemerintah di Kabupaten Sleman dan Klaten Dalam ajang tersebut pemerintah pun berjanji memperbaiki pola bantuan lima kebutuhan dasar agar menyentuh seluruh masyarakat korban. Program pemulihan trauma (trauma healing) juga digelar. Di Kabupaten Klaten misalnya, selama tiga hari WALHI mendampingi anak-anak untuk kegaitan menggambar dan melukis. Pemutaran film mengenai kesiap-siagaan Merapi juga digelar di berbagai tempat. Film ini sendiri merupakan hasil dari dokumentasi penanganan korban erupsi Merapi yang selama ini dilakukan. Selama penanganan masyarakat korban, WALHI bekerja bersama dengan Lembaga Kappala, Lessan, Yawama, Mitra Tani, Masyarakat Merapi, Lingkar jalin Merapi, Langkah Bocah, Combine, Shalink Yogyakarta. Setelah kurun waktu kurang lebih dua bulan, program penanganan masyarakat masa tanggap darurat dan pemulihan pun berakhir. Akhirnya, soal penanganan dampak erupsi tidak berakhir sampai di situ saja karena suatu saat Merapi pasti akan berulah lagi. Ini gunung berapi teraktif di dunia, kawan! Lahar Merapi yang telah kawah

keuntungan pengusaha

bangunan di Yogyakarta maupun di Jawa Tengah bersandar pada kebera-daan pasir di lereng gunung tersebut. Apalagi pasir Merapi terkenal dengan kualitasnya. Berkah lain yakni bagi para petani. Pupuk dalam alami lahar terkandung

membantu penyuburan tanah di kawasan tersebut. Alhasil, para petani pun tak perlu bersusah payah mengeluarkan uang untuk membeli pupuk. Itu soal berkah. Bagaimana dengan maupun tentu bencananya? awan panas berpotensi

merenggut

ketentraman bahkan nyawa para penduduk. Faktanya, akibat erupsi banyak penduduk mengungsi agar tak terkena bahaya erupsi bahkan juga menelan korban jiwa. Beragam persoalan pun mulai bermunculan. Seperti pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi. Bukan apa-apa, para pengungsi

12 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

tngm m i l i k siaPa?*tentang aDvokasi hutan meraPi

Perubahan status fungsi hutan Merapi menjadi taman Nasional gunung Merapi (tNgM) menimbulkan berbagai polemik di masyarakat. Parahnya lagi, alih fungsi hutan menjadi wahana pertambangan juga menjadi-jadi.TNGM yang disahkan pada tahun 2004 lewat untuk penghentian proses TNGM tak pernah ditanggapi. Bahkan seruan DPRD Sleman untuk mengkaji dan mengusut bangunan-bangunan di kawasan Merapi tak dihiraukan. Terakhir, upaya Banding yang dilakukan juga ditolak oleh Mahkamah Agung. Selain dilibatkan WALHI kapasitas aksi melawan terlibat keputusan upaya ikut pemerintah, peningkatan serta dalam juga dalam dengan Keputusan Menteri Kehutanan No.SK.134/MENHUTII/2004 menuai kecaman dari masyarakat setempat. Kawasan TNGM seluas 6.410 Ha dinilai membatasi ruang dan akses masyarakat dari berbagai sisi seperti, ekonomi, sosial maupun ekspresi kulutural. Apalagi masyarakat merasa tak dalam pemetaan dan upaya pengalihfungsian yang dilakukan pemerintah. Padahal pemerintah sendiri dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan, Pembangunan yang berhasil harus melibatkan partisiapasi masyarakat. Masyarakat pun tidak tinggal diam. Masyarakat Merapi bersama WALHI, Wanamandira, Lessan, Mapalaska, Majestic, Caravan, Mapala STTL, Mapeal, Sasenitala, Mapala Unisi, Mapala UMY, Hancala, Janagiri, MPA Cakrawala, Shalink, WGCoP, EKNAS, LABH, Setam, YBK, Langkah Bocah di melakukan kabupaten kegiatan advokasi. Pengorganisasian masyarakat Magelang, Klaten dan Sleman, riset, investigasi, audiensi dengan pemerintah, public hearing, hingga demonstrasi dilakukan. Belakangan Kabupaten Boyolali juga turut melakukan aksi demonstrasi menolak TNGM. Selain itu juga melakukan aksi litigasi dengan mengajukan banding ke Mahkamah Agung. Pemerintah tetap tak bergeming untuk membatalkan TNGM, walaupun berbagai elemen masyarakat di 3 kabupaten sepakat untuk menolak kehadiran TNGM. Surat Kepada Menteri Kehutanan toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

masyarakat

pembuatan sanggar pendidikan lingkungan serta pembuatan film dan draft buku Merapi. Tak lupa juga menggelar pelatihan pemetaan dan Pelatihan GIS bagi Masyarakat. Pemerintah jelas tak konsisten. Di satu sisi membuat TNGM dengan alasan pelestarian lingkungan namun di sisi lain membiarkan pertambangan dan pembalakan pohon tumbuh subur di hutan-hutan Merapi. Lebih dari itu, proses pembuatan TNGM telah mengabai berbagai aspek kultural atau kearifan lokal masyarakat setempat. Seorang peternak hendak menuju ke hutan untuk mencari pakan bagi ternaknya. Dalam perjalanan, tiba-tiba langkahnya dihentikan oleh petugas TNGM. Bapak jangan masuk ke kawasan TNGM, kurang lebih demikian pengutaraan sang petugas. Sungguh ironis, seseorang yang tak pernah merusak hutan seperti halnya para pengusaha tambang dilarang masuk kawasan TNGM. Kawasan yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan sang peternak. Sebenarnya TNGM milik siapa?

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

13

t O e g O e u ta m a

bila tambang memberikan benCana(1)*tentAng MerAPiAdvokASi PertAMbAngAn di

kekAYAAn

tersebut justru banyak oleh pihak luar.

class action di pengadilan negeri Sleman oleh masyarakat Kali Gendol. sayang, aksi litigasi ini kemudian gagal karena kalah di tangan sang hakim. Sementara aksi public hearing mendapat apresiasi dari DPRD para anggota dewan berjanji Peraturan Merapi. akan mengkaji dan mengevaluasi kembali Daerah Rancangan Pertambangan

dimanfaatkan

Baik yang legal maupun tidak. Eksploitasi yang dilakukan pun kerap keluar batas dan melanggar berbagai Misalnya, peraturan adanya hukum. aktivitas

penambangan yang menggunakan alat berat, seperti Bego. Masyarakat setempat merasa terus dirugikan oleh keberadaan tambang Mulai dari pengrusakan mereka. aktivitas yang asal-asalan. hingga pertanian tidak kebisingan wilayah Bagi

Selain itu lewat FGD diperoleh Draft kesepahaman antar desa untuk penolakan pertambangan ke Kabupaten Magelang Riset yang dilakukan bersama menunjukkan kehilangan bahwa kurang Merapi lebih pasir

Merapi dikenal dengan kekayaan alam sektor tambangnya. Batu, pasir yang melimpah menjadi magnet tersendiri bagi para pengusaha dan penambang. Ironisnya kekayaan tersebut hanya sedikit yang dinikmati oleh masyarakat sekitar.

masyarakat,

penambangan

dipersoalkan namun bobot dan perijinan penambanganlah yang dipermasalahkan. Bahkan aparat pemerintah desa pun kewalahan untuk mengingatkan dan para penambang. Masyarakat pemerintah tanggap membiarkan atas nama alias PAD. Warga Merapi dan Bantaran sungai gendol bersama WALHI, Lessan, Kappala, Perapeka, Pasag Merapi, Kantor kemudian aktivitas LABH, Wanamandira, Heru Mulai CS dari berbagai Pengacara melakukan advokasi. pemerintah yang tidak desa juga mengeluh soal perilaku daerah dengan aktivitas pemasukan persoalan tersebut daerah

3.360.560 m3 per tahun atau enam puluh satu kali Candi Borobudur. Ironisnya lagi, lima puluh persen pertambangan di wilayah Merapi ternyata illegal. Hingga kini persoalan tambang di Merapi belum selesai. Masih banyak ilegal berat. aktivitas dan Aktivitas penambangan alat penambangan ekologis penggunaan

tersebut. Pemerintah dinilai terlalu

di sungai pun kian marak tanpa menghiraukan dampak maupun keselamatan jiwa. Padahal sudah ada program normalisasi sungai yang dilakukan pemerintah untuk Siapa pertama, membatasi pun tahu, aktivitas kekayaan materi. penambangan pasir. Merapi dapat mendatang dua hal, keuntungan Kedua, petaka. Bila tak dikelola secara serius tentu kemungkinan kedualah yang bakal lebih dominan. Permintaan masyarakat sederhana, jangan menggunakan alat ijin! berat dan jangan main tambang saja dengan atau tanpa

Focuss Group Discussion (FGD), sarasehan, investigasi, riset, public hearing hingga demonstrasi kerap digelar. Pembuatan keterlibatan buletin Perapeka luas juga dilakukan untuk mengajak masyarakat khususnya di daerah Magelang. Selanjutnya, melakukan gugatan

14 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

berkubang DamPak negatif i nDustrialisasi

Kawasan perkotaan Yogyakarta, dengan luas wilayah 32,5 km2 atau kurang lebih 1,02% dari luas wilayah Propinsi Yogyakarta, terdiri atas 14 kecamatan, 45 kelurahan, 610 RW dan 2512 RT, menjadi sangat dominan atas aktivitas di antara empat kawasan perkotaan/kabupaten yang lain. Rotasi ekonomi, politik, pemerintahan, transportasi, pariwisata, pendidikan, budaya dan industri. Permasalahan lingkunganpun mulai bermunculan dari semua sektor didukung dengan semakain pesatnya tingkat pembangunan dan pertumbuhan penduduk, yang tidak disertakan sistem menajemen pengelolaan kawasan perkotaan yang ramah lingkungan serta tidak di dasarkan pada tingkat keseimbangan daya dukung wilayah, tetapi di dasarkan pada investasi yang masuk. Sehingga wajar jika perkotaan dijadikan ajang untuk saling melakukan eksploitasi sumber daya alam atau ruang-ruang publik yang ada di Yogyakarta demi kepentingan bisnis maupun pribadi. Imbasnya, ancaman krisis ekologi mulai menghancurkan kota Yogyakarta yang bersimbol berhati nyaman menjadi berhenti nyaman. Pesatnya pembangunan yang cenderung mengarah pada pemanfaatan ruang semaksimal mungkin, mengubah ruang publik dan kawasan hijau perkotaan menjadi bangunan-bangunan gedung, mall, swalayan, hotel dll. Begitu juga dengan persoalan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang hanya dijadikan legalitas laju pertumbuhan pembangunan di kawasan perkotaan. Hal tersebut berimplikasi pada kepada ekologi sekitar, AMDAL seringkali hanya diposisikan sebagai syarat formalitas atau administratif tanpa melihat detail substansinya. WALHI Yogyakarta sebagai organisasi publik lingkungan telah banyak melakukan Advokasi lingkungan melalui berbagai aktifitas seperti Capacity Building, comunity Organising, Kampanye dll. Hal ini sesuai dengan visi dan misi WALHI Yogyakarta yang mendorong terwujudnya sistem pengelolaan SDA dan Lingkungan Hidup di satu kawasan yang Adil dan berkelanjutan. Berikut rekam jejak advokasi yang kami lakukan sejak tahun 2005 silam. Ayo lestarikan suasana perkotaan yang nyaman!toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

15

t O e g O e u ta m a

*tentAng

jangan bilang ini Persoalan sePeleAdvokASi PerSoALAn

SAMPAh dAn PenceMArAn udArA PerkotAAn

Resiko dari laju pertumbuhan penduduk dan pembangunan adalah penghasilan sampah yang meningkat pesat. Di wilayah perkotaan Yogyakarta, DKKP Kota pada tahun 2005 mencatat produksi sampah sebanyak 1.700 m3 perhari. Lalu bagaimana kiprah WALHI?16 toegoe ::DKKP juga mengakui sampah yang dapat diangkut baru sekitar 1300 m3 perhari. Penumpukan sampah 400m3 per hari pun tak terelakkan. Kalau ini dibiarkan akan terjadi penumpukan sampah yang kemudian berdampak buruk bagi Kota Yogyakarta. Hal ini yang melatarbelakangi WALHI Yogyakarta melakukan advokasi terhadap sistem menajemen pengelolaan sampah, yang mengarah pada regulasi untuk meminimalkan pembuangan sampah dan barang yang potensial menjadi sampah. Berikutnya, melakukan kampanye dan pelatihan upaya pemanfaatan sampah menjadi barang berharga seperti komposting dan lain-lain. Persoalan samapah mengarah pada bagaimana membangun kelompok-kelompok kerja di level komunitas dalam pengelolaan sampah dengan sistem swakelola yang di gagas oleh WALHI Yogyakarta. Permasalahan sampah sebenarnya bukan hanya berdampak pada persoalan lingkungan tetapi juga telah menimbulkan kerawanan sosial dan bencana kemanusiaan. Kasuskasus seperti itu telah terbukti di Bantar Gebang, Bojong Gede dan Leuwi gajah. Ini berarti persoalan sampah bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Pendekatan persoalan sampah yang biasanya menggunakan paradigma endpipe of solution (pendekatan ujung-pipa) sudah saatnya ditambah lagi dengan pendekatan sumber.

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

Dengan pendekatan sumber sampah ditangani dari sumber pembuangannya. Dan hal ini lebih efektif dari pada pengolahan di akhir tempat pembuangan. Penerapan 4R (replace, reduce, reuse, recycling) merupakan paradigma yang terbukti mampu menangani permasalahan sampah secara mandiri. WALHI. SHALINK, Yasanti, melakukan pengorganisasian masyarakat sehingga Terbentuknya 4 kelompok komunitas pengelolaan sampah di kota Yogyakarta Belajar ternyata dari pengelolaaan efek sampah positif. swakelola Sukunan, Banyuraden, Gamping, Kabupaten Sleman menimbulkan Penanganan sampah mulai dari sumbernya yaitu dari rumah tangga terbukti mampu mengelola potensi sampah yang selama ini luput dari perhatian masyarakat. Sampah organik yang selama ini dibuang karena bau dapat dimanfaatkan lagi menjadi kompos. Sedangkan sampah kertas, plastik, logam dan kaca mampu dimanfaatkan sebagai kerajinan seni atau dijual ke industri pengolahan selanjutnya. Contoh lain adalah di Gondolayu Lor, Cokrodiningratan, Jetis, dan gambiran baru Kota Yogyakarta tengah memproduksi secara masal alat pembuatan kompos. Mereka juga memilah sampah non organik mulai plastik dan kertas yang masih mempunyai nilai ekonomis dimanfaatkan dan dikelola. Sampah organik lainnya akan dibuang di tempat khusus. Terobosan masyarakat ini merupakan sesuatu yang perlu kita dorong dan kembang tularkan ke tempat-tempat yang lain. Untuk mengembangan ide pengelolaan sampah swakelola WALHI bersama beberpa kelompok ibu-ibu yang konsesn terhadap pengelolaan sampah di awali dengan simulasi pengolahan sampah swakelola dan pembuatan bakteri. Hal ini merupakan upaya untuk mencari solusi atas permasalahan sampah yang cukup berkembang pesat di Kota Yogyakarta. ini

Mitra Tani selain

sebagai anggota WALHI di posisikan memberikan satu pemahaman

sebagai narasumber dalam kegiatan ini. Kegiatan untuk pengelolaan sampah kepada partisipan dan kelompok masyarakat dalam hal pengelolaan sampah, juga merupakan pelatihan pendidikan lingkungan. Sistem yang di kembangkan dalam pelatihan ini adalah pembuatan bakteri dan bagaimana sistem pemilahan sampah yang benar agar sampah bisa bernilai ekonomis dan dapat teratasi. Pasca pelatihan implementasi pelaksanaan pengelolaan sampah terjadi di 6 titik di wilayah perkotaan yang didampingi oleh lembaga anggota seperti Yasanti dan SHEEP. Fokus utama pengelolaan sampah adalah sampah rumah tangga yang bisa diubah menjadi kompos. Seperangkat peralatan dan sistem kerja monitoring telah terbentuk dengan baik dan bahkan sudah bisa menghasilkan produk yang bisa di pakai. Sedangkan sampah non organik diupayakan dibuat kerajinan, seperti tas.

PenceMArAn

udArA

hinggA

PenAtAAn

LingkungAn

Menyadari persoalan perkotaan sangat kompleks maka diadakan koordinasi di level FGD partisipan anggota WALHI melibatkan LBM, Wamana Mandira, LABH, Lessan, CD Bethesda, Setam, PKBI, YLKI dan Patrapala. Dari hasil FGD di 14 kecamatan teridentifikasi beberapa persoalan di antaranya adalah kian meningkatnya pencemaran udara, penataan ruang publik yang minim. Berbagai kegiatan dilakoni WALHI, baik yang diinisiasi WALHI maupun pihak lain. Diskusi, pelatihan, kampanye publik terus digelar dalam kurun waktu tiga tahun belakangan. Namun hingga kini, salah satu agenda penyelamatan kualitas udara belum tercapai. Kedepannya, pekerjaan rumah ini harus diselesaikan bersama dengan seluruh elemen masyarakat. Mari bersama lestarikan kenyamanan perkotaan kita!

toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

17

t O e g O e u ta m a

SeLAMAragam

tiga

tahun air

WALHI berbagai yang aktivitas kemudian

Termasuk adanya pelanggaran atas kepatuhan untuk mentaati UKL/UPL dan AMDAL-nya. Kedua, Kurangnya pengetahuan masyarakat dalam mengolah proses produksi terkait dengan buangan limbahnya, khususnya pada kasus limbah komunitas produsen tahu. WALHI Yogyakarta, PSLH UAJY, LKY, Shalink, SHEEP juga melakukan sampling riset atas AMDAL, khususnya terkait dengan pengelolaan limbahnya, pada 4 sektor usaha besar, yaitu rumah sakit, pabrik, hotel, dan mall. Yang diwakili oleh RS Sarjito, PT Budi Makmur, Hotel Melia, dan Galeria Mall. Beberapa temuannya riset dokumen AMDAL pada 4 badan usaha tersebut, ditemukan bahwa semuanya tidak melakukan laporan pengelolaan lingkungan secara periodik sebagaimana yang seharusnya dilakukan dan diatur. Atas realitas tersebut, WALHI mendesakkan kepada pemerintah untuk memberikan sanksi tegas kepada PT KA atas kasus kebocoran solar tersebut, dalam Bapedalda Hukum rangka DIY penegakan hukum lingkungan. Akhirnya, melalui Biro Pemprop

Yogyakarta dilakukan

mencatat berbagai yang

pencemaran

industrialisasi

diadvokasi oleh WALHI. Pertama, Pencemaran sumur-sumur warga sekitar Stasiun KA Tugu akibat bocornya tangki penyimpanan solar PT KA Daop VI Yogyakarta. Kedua, Pencemaran sumur warga akibat buangan limbah pabrik aliran limbah Makmur. sumur limbah Kelima, Madukismo di Bantul. Ketiga, sungai pabrik warga Jogja kulit akibat Saphire pencemaran buangan PT Budi akibat

air Di kota, siaga satu!?*tentAngAdvokASi SuMber dAYA Air PerkotAAn

Salah satu dampak dari industrialisasi perkotaan yang tak diikuti oleh kesadaran pengelolaan lingkungan dan pengawasan ketat adalah semakin buruknya kualitas dan kuantitas sumber daya air.

Berikutnya,

Pencemaran bocornya Mall.

Pencemaran sumur warga akibat buangan limbah dari pabrik kulit PT Adi Satria Abadi dan PT Bintang Alam Semesta di Bantul. Keenam, Berkurangnya debit sumur warga akibat pembangunan Jogjatronik Mall. Ketujuh, Pencemaran aliran sungai Code akibat jebolnya bangunan pengelolaan limbah RSUD Sarjito. WALHI Yogyakarta, Bapedalda DIY, dan warga korban pencemaran melakukan investigasi langsung di lapangan terhadap kasus-kasus pencemaran air tersebut. Hasilnya, pertama, ditemukan pelanggaran oleh para perusahaan dalam pengelolaan limbah dan proses produksinya.

DIY mengajukan gugatan kasus kebocoran tersebut ke PN. Selain itu PT KA juga telah melakukan pembersihan sumur-sumur warga yang tercemar.

18 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

Berbagai ragam advokasi kami jalankan di kawasan ini. Dalam catatan kami, kawasan ini paling banyak dirundung persoalan lingkungan hidup. Mulai dari bencana, Sumber daya Air, tata ruang, agraria hingga masalah pertambangan. Tak hanya itu, dalam hal pengaduan masalah lingkungan hidup kepada WALHI Yogyakarta, masyarakat pesisir selatan kuantitasnya paling banyak. Artinya, makin banyak masyarakat di kawasan ini yang sadar akan hak-hak atas lingkungan hidup yang layak. Masalah-masalah yang muncul, secara mayoritas menempatkan masyarakat berhadap-hadapan dengan pemerintah ( konflik vertikal). Kalaupun ada konflik horisontal, lebih dikarekan imbas dari konflik vertikal. Investigasi WALHI menunjukkan bahwa konflik horisontal sengaja diciptakan untuk mengalihkan energi masyarakat yang sebelumnya melawan pemerintah maupun pengusaha. WALHI Yogyakarta secara tegas menolak aksi adu domba yang kerap terjadi dalam penanganan berbagai persoalan pembangunan. Pelajaran berharga dari Pesisir Selatan kedepannya adalah AWAS! ADA UPAYA PELESTARIAN ADU DOMBA ANTAR MASYARAKAT! Berikut rekam jejak advokasi yang kami lakukan sejak tahun 2005 silam. Ayo lestarikan Pesisir Selatan!

Pesisir selatan dalam kerangka advokasi WALHI Yogyakarta selama tiga tahun ini adalah Kabupaten Bantul, Kulonprogo, gunung Kidul di Yogyakarata dan Kabupaten Cilacap di Jawa tengah. Artinya, pesisir selatan bukan soal daerah administrasi tapi kawasan geografis.

toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

19

(bersama) siaga haDaPi a nCaman*tentAngAdvokASi berSAMA MASYArAkAt MenghAdAPi bencAnA di

PeSiSir SeLAtAn

Fenomena gempa bumi 27 Mei 2006 di Yogyakarta dan Jawa tengah memang menggemparkan. Ribuan nyawa melayang dan kerugian materi yang bejibun menjadi tanda bahwa kita tidak siap dalam menghadapi berbagai ancaman alam raya.Potret kepanikan sangat terasa pada masa-masa awal pasaca gempa bumi. Berbagai isu yang tidak benar ditelan begitu saja dan mempengaruhi cara penduduk bertindak. Contohnya, saat isu tsunami beredar masyarakat begitu ketakutan dan bebondong-bondong menjauhi kawasan yang dirasa akan dilanda tsunami. Faktanya, tsunami tak pernah terjadi. Bukan hanya masyarakat awam yang tidak siap dan gentar sedemikian rupa. Pemerintah pun tak jauh berbeda. Pola dan distribusi bantuan yang dilakukan sangat kacau balau. Bupati Bantul, Idham Samawi mengakui hal tersebut. Padahal sebelum terjadi bencana di Yogyakarta dan Jawa Tengah, tiga tahun sebelumnya telah terjadi gemapa bumi dan tsunami di Aceh. Bukankah, seharusnya kita sudah belajar dari potret di Serambi Mekah tersebut. Setelah penanganan masa tanggap darurat di kawasan pesisir selatan (gunung Kidul, Bantul, Kulonprogo), WALHI bersama Kappala, Lessan, Patra Pala, LBH Yogyakarta, SeTAM, LBM dan berbagai komunitas masyarakat menggelar pendidikan dan pelatihan kesiapsiagaan menghadapi fenomena gempa bumi dan tsunami. Pendidikan dan pelatihan diselenggarakan di tiga kabupaten tersebut. Temanya kesiapsiagaan menghadapi bencana berbasis kawasan dan komunitas masyarakat. Selain itu, WALHI juga melakukan pendidikan publik lewat radio-radio sepanjang September 2006 hingga Jauari 2008. Diskusi tata ruang pasca bencana pun dilakukan. Salah satu hasil yang diterbitkan oleh WALHI adalah buku Panduan Advokasi Bencana yang diterbitkan pada Juni 2008. Buku ini diharapkan mampu menjadi sumber pengetahuan masyarakat seputar hak-haknya, sbelum, saat dan sesudah bencana yang diatur dalam perundangan di Indonesia. Advokasi lain yang dilakukan yakni menginisiasi pembentukan FKKJ yang fokus terhadap Penolakan Hutang Luar Negeri untuk penanganan Bencana Pasca Gempa JogjaJateng. Ini dilakukan agar bencana tidak dijadikan pembenaran oleh pemerintah untuk berhutang yang pada akhirnya juga membenani seluruh masyarakat. Peristiwa gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah tentu kian menyadarkan kita bahwa negeri ini tidak hanya kaya sumber daya alam tetapi juga potensi bencana. Pendidikan dan pelatihan kesiapsiagaan adalah sesuatu bagian dalam berbagai siklus penanggulangan dampak bencana. Bersiap-siagalah, karena bencana bukan takdir!

20 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

Petani*tentAng

Dan

Pangan lokal harus lestari

AdvokASi

AgrAriA PeSiSir SeLAtAn

Di tengah hiruk pikuk pasar bebas, rupanya keberadaan para petani dan pangan lokal kita terancam. Pola konsumsi, tata produksi pertanian hingga konsep pembangunan wilayah yang berubah menjadi sebab.Tak terkecuali di kawasan Pesisir Selatan yang terdiri dari Kabupaten Gunung Kidul, Kulonprogo dan Bantul. Masyarakat perlahan mulai meninggalkan pangan lokal dengan mengkonsumsi makanan siap saji dan instan. Sampai-sampai seorang anak di Kabupaten Bantul memberikan jawaban bahwa salah satu makanan khas Bantul adalah mie instan. Kalau cerita diatas belum cukup, coba tengok dagangan-dagangan di berbagai sekolah di Yogyakarta, mayoritas didominasi oleh makanan ringan dari pabrik bukan hasil pertanian setempat. Ini tentu cerita memprihatinkan bagi kita yang mengaku negara agraris. Oleh karena itu, WALHI Yogyakarta melakukan pembuatan kampanye pangan dan lokal. pelatihan Kegiatan selatan terhadap lahan pertanian di wilayah Bantul ternyata diabaikan. Dalam catatan WALHI Yogyakarta, akan terjadi pengurangan pekarangan sebesar 27.455 M2, sedangkan untuk pengurangan sawah, tegalan sebesar 718.131 M2, rumah 72 buah dan luas wilayah sebesar 454.183. Begitupun implikasi rencana tambang pasir besi terhadap lahan pertanian produktif di pesisir selatan Kulonprogo. Petani yang sudah puluhan tahun di sana terancam eksistensinya bila penambangan pasir besi dilanjutkan dalam skala besar. Ironis, di satu sisi pemerintah Kulonprogo mengembar-gemborkan kawasan tersebut sebagai daerah pertanian produktif lewat websitenya, namun di satu sisi membiarkan nasib lahan tersebut terancam. Berikutnya, WALHI juga bersama LABH Yogyakarta bersama Masyarakat Pundong, Bantul melakukan advokasi terhadap upaya pendirian pusat rehabilitasi korban gempa di daerah tersebut. Public hearing sebanyak dua kali dilakukan. Pertama, dengan DPRD Bantul. Kedua, DPRD Propinsi Yogyakarta. Alasan mendasar bagi WALHI soal ini adalah mengenai bersama masyarakat bertema lahan pertanian warga yang kemungkinan besar akan hilang akibat pembangunan tersebut. Hasilnya, kedua lembaga tersebut menyatakan akan meminta Pemerintah untuk mengkaji kembali proyek tersebut dan tidak diperbolehkannya aktivitas pembangunan sebelum urusan dengan warga setempat kelar. Kedepannya, WALHI memperkirakan pembangunan masih yang banyak merusak aktivitas tatanan pembangunan masyarakat Ruwatan Desa

dilakukan tiga kali untuk pelatihan dan satu kali menggelar lomba pangan lokal. Kegiatan-kegiatan aparat Bupati pemerintah. Kulonprogo tersebut nyatanya Wakil akan lokal diapresiasi positif oleh masyarakat dan Misalnya, menyatakan pangan

mengakomodasi masyarakat. WALHI melakukan juga

produk

gumregah desaku. Dalam kegiatan ini digelar pentas seni dan pameran produk pangan lokal oleh masyarakat, serta sekali Pemu-taran film Pangan Lokal. Dalam skala lain WALHI juga melakukan riset adaptasi mitigasi masyarakat pesisir di kawasan kering. LAhAnPertAniAn berkurAng

Adanya

aktivitas

infrastruktur yang marak di kawasan ini ternyata tak disertai dengan kajian mengenai karakteristik ekonomi masyarakat sekitar. Implikasi jalur lintas

pertanian. Setidaknya seperti yang kerap terjadi dalam kurun waktu tiga tahun ini; Penggusuran Lahan Tani Rakyat!

toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

21

t O e g O e u ta m a

air berlimbah tuai Perkara*tentAng AdvoLASiSuMber dAYA Air berSAMA MASYArAkAt

PeSiSr SeLAtAn

SebAgAiMAnA kota-kota besar di Indonesia,pencemaran air oleh berbagai perusahan juga terjadi di kawasan Pesisir Selatan Yogyakarta. Ironisnya, tidak ada penegakan hukum yang serius dari aparat pemerintah. Berbagai pengaduan dari masyarakat berdatangan. Mereka menyayangkan air sumur dan atau sungai yang selama ini menjadi salahsatu tempat pemenuhan kebutuhan primernya tercemar. Salahsatunya adalah pencemaran oleh UKM Pabrik Tahu dan pabrik gula Madukismo. Setelah ditelisik lebih jauh ternyata ada UKM yang tidak memiliki IPAL Komunal. Namun ada juga lantaran permintaan segelintir orang untuk mencari keuntungan sendiri. Seperti yang terjadi di kawasan Pabrik gula Madukismo. Para pemilik sawah meminta dialiri limbah dari sisa pengolahan karena mereka percaya dapat menyuburkan tanah garapannya. Padahal bagi masyarakat setempat, air sumurnya menjadi tercemar dan tak layakj minum. WALHI Yogyakarta kasus dalam ini. Mulai kurun dari waktu tiga tahun ini juga terus berupaya menuntaskan investigasi, public hearing, demonstrasi, kampanye hingga meminta dilakukannya audit lingkungan bagi pabrik-pabrik yang

bermasalah. Tapi kenyataannya, hingga kini proses pencemaran air oleh perusahan masih kerap terjadi. Airuntuk MASYArAkAt

bLAdo

Adanya pemukiman baru di Blado, Gunung Kidul ternyata belum disertai dengan penyiapan sumber air yang mudah dikonsumsi oleh masyarakat setempat. WALHI bersama LESSAN, Masyarakat Blado dan CO Mapala STTL melakukan upaya pengadaan air. Berbagai aktivitas pun dilakukan. Mulai dari FGD mengenai pengangkatan air ke lokasi pemukiman hingga studi debit air di Blado sendiri. Hasilnya, masyarakat sepekat untuk bergotong-royong. Kedua, studi tersebut memperlihatkan terdapat 2 mata air tapi hanya 1 mata air yang dapat dimanfaatkan untuk dilakukan 3 bak pengangkatan air. Selanjutnya pengadaan penampung (1 bak sumber, 1 bak transit dan 1 untuk bak distribusi ke masyarakat) dan 2 Pompa air (jet pump). Akhirnya, air pun berhasil didapatkan oleh masyarkat setempat dengan lebih mudah. Model pengelolaan secara bersama menjadi kemutlakan agar air di di Blado, tetap mengalir dan bermanfaat. Ya, Air untuk Rakyat!

22 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

gara-gara 605 juta ton*tentang advokasi di Pesisir selatanPertambangan

SeJAk puluhan tahun silam, kawasan tersebut telahdiubah oleh masyarakat menjadi lahan pertanian produktif dari sebelumnya lahan kerontang. Lahan pasir tersebut ternyata mampu memberikan kehidupan yang lebih layak bagi masyarakat. Banyak cerita sukses soal aktivitas pertanian mereka. Sejak pertanian dianggap potensial, banyak TKI maupun perantau asal daerah setempat yang memilih pulang dari perantauan. Lebih dari itu, masyarakat petani juga sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dari tingkat primer, sekunder bahkan tersier. Pendidikan, misalnya. Anak-anak mereka sudah dapat mengenyam pendidikan yang lebih layak. Pemerintah daerah juga mengakui kehebatan masyarakat. Namun tiga tahun belakangan, polemik mulai mencuat. Semua gara-gara pemerintah daerah mengijinkan investasi pertambangan biji besi di kawasan pesisir selatan. Apa boleh buat, bisa jadi pemerintah menginginkan keuntungan dalam jumlah yang besar dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Kulonprogo bikin heboh. Pemerintah setempat menetapkan 605 juta ton biji besi terdapat di kawasan pesisir pantainya. Namun masyarakat setempat tidak sudi memberi tempat bagi aktivitas penambangan. Mengapa?

Aksi penolakan warga pun bermunculan terkait dengan rencana penambangan pasir besi. Bukan apaapa, kesejahteraan dan kenyamanan yang selama ini mereka lakoni akan amblas akibat penambangan. Tak mau sekadar berjuang tanpa hasil, masyarakat kemudian membentuk wadah perjuangan bersama yang disebut PPLP (Paguyuban Petani Lahan Pasir). Tak hanya sampai di situ, PPLP juga menetapkan LBH Yogyakarta (anggota WALHI Yogyakarta) sebagai kuasa hukum mereka. Berbagai aksi demonstrasi, audiensi telah berulang kali mereka gelar demi dibatalkannya proyek tersebut. Salahsatu keberhasilan aksi mereka yakni membuat UGM mundur menjadi salahsatu tim kajian dampak pertambangan. Sementara WALHI Yogyakarta juga melakukan kegiatan advokasi pada lingkup yang berbeda. Dalam konteks pengorganisasian, terlibat dalam konsolidasi NGOs di Yogyakarta terkait Pasir Besi dan konsolidasi nasional terkait tambang Pasir Besi. Dalam hal riset, implikasi pertambangan Pasir Besi terhadap ekologi diketahui akan terjadi perubahan bentang alam dan alih fungsi lahan 22 km x 1,8 km (6,8%) dari total luas Kabupaten Kulonprogo 586.27km2. Selain itu, pertanian dari segi kuantitas dan kualitas terancam (Lahan Pertanian Produktif mencapai 4.434 ha,: sumber, BPS 2005). Selanjutnya, habitat fauna pesisir di Kecamatan Galur yakni burung-burung migran terancam hilang.

toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

23

Implikasi lain yakni terhadap pemukiman Wates, karena oleh buah dan keselamatan dan Galur) abrasi akibat pesisir besi penduduk di 4 kecamatan (Temon, Panjatan atau di 21 dusun (123.601 jiwa) kemungkinan gelombang eksploitasi laut pasir kawasan

dari surat tersebut dan meminta agar perusahan memperkenalkan diri secara terbuka kepada publik. Konsolidasi nasional juga telah digalang bersama JATAM, LBH, PPLP dan WALHI sendiri. Berbagai agenda lanjutan telah dibahas dan dipersiapkan guna advokasi pertambangan ini. Pada saat yang sama, WALHI mengharapkan konflik horisontal di level komunitas masyarakat agar dihentikan. Ini penting agar perjuangan yang tidak terpecah-belah berbuntut

telanjangnya

nantinya. Kondisi makin diperparah adanya perubahan iklim di wilayah Asia Pasifik sehingga muka air laut akan mengalami kenaikan hingga 1 meter pada tahun 2025 ( hasil riset dalam IPCC WGI 2007 dan Preston Et al 2006). Sampai saat ini, WALHI masih terus melakukan advokasi. Press release juga telah dilakukan. Surat mosi tidak percaya juga telah dilayangkan kepada kementrian ESDM Namun dan Bupati juga Kulonprogo. mendapat keberadaan Jogja Megasa belum

pada kegagalan perjuangan. Bagi WALHI, sikap pemerintah yang meneruskan proses rencana penambangan pada ranah penandatangan kontrak karya di Jakarta pada akhir tahun 2008 membuktikan bahwa pemerintah tidak konsisten. Baik soal aturan main sebagaimana diamanatkan undang-undang, maupun slogan pemerintah sendiri mengenai Bukankah setempat telah kemandirian masyarakat menuju kesejahteraan. masyarakat

tanggapan. Kemudian WALHI juga mempertanyakan manajemen PT.

Mining (JMM) yang tidak transparan mengenalkan perusahannya. Surat kepada JMM juga telah dikirimkan sebagai balasan atas surat permohonan kerjasama oleh perusahan tersebut. Intinya, WALHI mempertanyakan maksud

mandiri? Bukankah mereka juga telah merasa sejahtera? Kenapa coba dirusak dengan khayalan 605 juta ton?

24 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

berjubelnya Pelanggaran tata ruang*tentAng AdvokASi tAtA ruAng PeSiSir SeLAtAn

PerSoALAn tata ruang di PesisirSelatan kompleks secara kuanti tas dan kualitas. Berbagai masalah bermunculan sekaligus berbagai langkah jalan keluar ditempuh. Baik yang bersifat reaktif maupun antisipatif. Kasus pelebaran Jalan Cino Mati, pembangunan rumah sakit Pundong, Pembangunan Pelabuhan Pantai Glagah, Pembangunan Sekolah Polisi Negara (SPN) di Imogiri, Pembangunan SUTET di Bantul, hingga keberadaan PLTU Cilacap, terkait ruang. WALHI Kappala Yogyakarta Indonesia, bersama LBH LaBH, Jawa dengan Tengah banyak tata persoalan

bagi masyarakat yang terkena dampak RS Pundong. Berikutnya, dalam kasus Pantai Glagah ternyata pembangunan telah dilakukan padahal AMDAL masih dalam proses penyusunan. Keempat, soal Sekolah Polisi Negara. Pembangunan sudah berjalan saat AMDAL dalam Proses Penyusunan dan lokasi bangunan Berada di Kawasan Karst yang merupakan Kawasan Lindung. Selanjutnya, soal PLTU. Adanya ketidaksetujuan masyarakat secara mayoritas berdasarkan Polling dan Kertas Posisi. Dalam riset lainnya di pantai Kukup, bersama masyarakat membuat RIPPMA Pantai Kukup dan Peta Wisata Berbasis Masyarakat. Sedangkan lewat kampanye berhasil membuat infosheet di beberapa wilayah dampingan. Sementara public hearing dengan Komisi A dan C DPRD Cilacap terkait PLTU menghasilkan kesepakatan bahwa Masyarakat terlibat dalam penyusunan Community Development dan Pemulihan Lingkungan bersama Pemda dan PLTU. Sedangkan untuk memberikan tekanan kepada pengambil kebijakan, masyarakat di sekitar PLTU Cilacap melakuakn demonstrasi selama tiga kali. Tak lupa, press release juga dibuat agar media dapat mengetahui dan menyebarluaskan permasalahan akibat keberadaan PLTU. Banyak hal yang dilakukan dalam persoalan tata ruang di Pesisir Selatan. Kesimpulan akhirnya bahwa banyak pembangunan yang dilakukan di kawasan tersebut yang melanggar aturan main tata ruang yang ada. Bahkan hingga sampai saat ini, pelanggaran demi pelanggaran masih terus berlangsung. Butuh keseriusan dan dukungan penuh masyarakat untuk menyelesaikan perkara ini. Ingat, kawasan Pesisir Selatan adalah daerah rawan terjadi fenomena alam yang berpotensi menimbulkan bencana. Seperti, gempa bumi dan tsunami. toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

Yogyakarta dan LKY Yogyakarta melakukan masyarakat, kampanye, berbagai kegiatan riset, hingga advokasi berupa pengorganisasian investigasi, demonstrasi

public hearing. Langkah-langkah tersebut diambil untuk meperkuat posisi masyarakat yang tak pernah dilibatkan dalam pengelolaan tata ruang. Kegiatan-kegiatan menghasilkan Pertama, ganti soal banyak pelebaran tersebut hal. Jalan

Cino Mati, masyarakat meminta rugi. Kedua, Pemerintah lahan Kabupaten Bantul mengeluarkan pernyataan penggantian

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

25

t O e g O e u ta m a

menjaga kelestarian menoreh

Pegunungan Menoreh secara administratif terletak di tiga Kabupaten dari dua Propinsi. Kabupaten Kulonprogo di Yogyakarta, Kabupaten Magelang dan Kabupaten Purworejo di Jawa Tengah. Sebagai satu kawasan, Menoreh membentuk satu ekosistem khas yang menjadi sumber kehidupan berbagai mahluk hidup, termasuk manusia. Salah satu bukti nilai penting kawasan Menoreh adalah berdirinya Candi Brobudur pada masa kerajaan Syailendra abad IX M. Tidak hanya candi yang menjadi satu dari tujuh keajaban dunia berdiri disana, tapi puluhan candi lain yang beberapa diantaranya masih dapat dinikmati sebagai peninggalan yang tak ternilai serta digunakan sebagai tempat ibadah. Seperti candi Mendut, candi Berdirinya simbol-simbol sosial masa kejayaan kerajaan nusantara tersebut, tentu ada atau tidak didirikan begitu saja. Namun telah melewati berbagai dasar dab pertimbangan serta analisis cermat para arsitek penata kawasan pada masanya, baik secara fisik maupun non fisik. Kawasan Menoreh terpilih karena memiliki nilai lebih dibandingkan kawasan-kawasan lain. Perkembangan ini mewariskan sebuah sistem sosial dan ekosistem region. Namun kearifan tersebut mulai memudar seiring perkembangan jaman. Pola hubungan sinergis kawasan dan manusia lebih didasarkan kepentingan ekonomi jangka pendek. Nilai strategis atau tidaknya lahan lebih didasarkan atas potensi pengembangan, bukan atas fungsi. Sehingga sangat wajar jika muncul kehawatiran atas kelestarian Brobudur sebagai warisan dunia. Kekuatiran kelestarian menoreh sebagai kawasan penyangga situs-situs budaya. Penyangga sumber-sumber kehidupan. Sebagai kawasan penyangga benda-benda warisan budaya maupun sumber-sumber kehidupan, pengelolaan kawasan Menoreh tidak dapat dikelola dengan pendekatan administratif sebagaimana yang dilakukan sekarang. Oleh karena itu bersama masyarakat dan lembaga lain, WALHI Yogyakarta bersama lembaga anggotanya seperti, SeTAM, Mapala-Mapala melakukan kegiatan advokasi di kawasan ini. Berikut rekam jejak advokasi yang kami lakukan sejak tahun 2005 silam. Ayo lestarikan Menoreh!::

26 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

longsor menoreh bukan takDir*tentAngdi PendAMPingAn MASYArAkAt korbAn LongSor

Menoreh 2005 WALhi bersama Setam, Lessan, CD Bethesda, YEU, Sanggar Anak Bumi Tani, Kappala melakukan kegiatan tanggap darurat untuk mengurangi dampak negatif lain dari longsor di kedua desa tersebut. Selain memberikan bantuan juga mendorong Pemerintah kabupaten Magelang untuk melakukan pemenuhan kebutuhan korban bencana longsor serta ganti rugi. Pemerintah setempat pun kemudian segera melakukan tindak tanggap darurat dan memberikan bantuan bantuan ganti rugi. Masyarakat pun terorganisir dan mampu membuat penataan distribusi bantuan yang datang. Selain itu, kegitan-kegiatan penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman juga dilakukan. Pelatihan dan pendidikan kesiapsiagaan bagi masyarakat setempat terus digelar. Harapannya masyarakat dapat mengenali dan mewaspadai setiap ancaman bencana di tempatnya sehingga di kemudian hari masyarakat dapat menghindari jumlah korban dalam skala besar maupun kecil. Hasilnya masyarakat telah dapat membentuk komunitas penanggulangan bencana di tingkat desa. Selain itu masyarakat telah membuat rencana kerja untuk membuat peta ancaman desa. Selanjutnya, terlaksananya studi analisis independen atas kejadian longsor di Selorejo. Bencana tanah longsor tersebut sebenarnya tak perlu terjadi apabila aktivitas pembangunan, salah satunya pertambangan tidak beraktivitas. Pertambangan telah merusak siklus ekologis di tempat tersebut yang sebelumnya memang menjadi kawasan rawan longsor. Hasil studi analisis di lapangan pun menunjukkan kesimpulan yang sama bahwa Menoreh rawan longsor dan tidak diperkenankan adanya aktivitas penambangan di kawasan tersebut. Oleh karena WALHI mengirimkan surat kepada Bupati Magelang untuk mengkaji kembali keberadaan perusahan tambang di Menoreh. Salah satunya, PT Margola dengan tambang marmernya. Namun hingga kini penambangan marmer tetap saja berlangsung. Dalam penanganan bencana longsor di Menoreh, WALHI kembali mendorong pengelolaan bencana berbasis komunitas. Dorongan tersebut juga disambut tangan terbuka oleh masyarakat. Masa penanganan bencana yang lekas dan lancar di Menoreh tercipta karena pengorganisasian komunitas tanggap bencana yang dilakukan oleh masyarakat sendiri. Kalau begitu, lanjutkan pengelolaan bencana berbasis komunitas. toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

27

t O e g O e u ta m a

kami ingin (tetaP) jaDi Petani!*tentAngAdvokASi

AgrAriA Menoreh

Secara mayoritas, masyarakat Selorejo adalah petani. Kondisi ini membuat mereka bergantung pada ketersediaan lahan dan sumber-sumber penghidupan lain yang disediakan alam.

beLAkAngAn sejak munculnya aktivitas pertambangan, ketersediaan lahan merekaberkurang. Bahkan banyak masyarakat setempat yang beralih profesi dari petani menjadi penambang. Lahan yang kini ditempati oleh PT. Margola semula merupakan kawasan pertanian rakyat. Bersama dengan SeTAM, masyarakat setempat kemudian bereaksi dengan melakukan berbagai kegiatan FGD tentang potensi oengembangan sumber daya alam (pertanian, perkebunan, peternakan). Pendidikan Publik Pengembangan ekonomi dari perternakan kelinci adalah salahsatunya. Setelah melewati berbagai bentuk pengorganisasian dan pertemuan warga di tiga tempat di Selorejo, akhirnya dihasilkan draft Konsep Wanatani untuk pengembangan potensi pertanian di wilayah Selorejo. Mereka juga mempunyai 33 kelompok/anggota Ingon Tani pemelihara kelinci dengan 181 ekor populasi kelinci. Kegiatan lain, Selorejo juga ikut serta dalam Kampanye Lomba Kampung Kelinci dan berhasil menembus sepuluh besar tingkat Kabupaten Magelang. Hasil berkat ketekunan masyarakat setempat untuk memelihara kelinci sebagai salah satu mata pencarian. Saat ini, perubahan pola hidup dari pertanian menjadi buruh pertambangan Marmer juga mewarnai kehidupan masyarakat. Walaupun tidak besar, setidaknya memberi tanda bahwa dunia pertanian di negeri ini, khususnya di kawasan Menoreh terancam. Selanjutnya, banyak elemen masyarakat berharap agar daerah Selorejo kembali seperti sedia kala, menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi para petani. Hingga kini, mereka masih terus berjuang!

28 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

airku minim, hutanku malang*tentang advolasisumber daya air dan hutan

menoreh

bersama masyarakat

AdAnYA praktek penambangan dan pembalakan hutan menjadi faktor penyebab.Dalam investigasi yang dilakukan WALHI Yogyakarta, Mapalaska, Majestic, Caravan, Mapala STTL, Mapeal, Sasenitala, Mapala Unisi, Mapala UMY, Hancala, Janagiri, MPA Cakrawala, Shalink dan SeTAM ditemukan bahwa penurunan debit air banyak disebabkan oleh kedua hal diatas. Selain itu investigasi juga dilakukan di kawasan sumber-sumber air lain di kawasan Menoreh termasuk kondisi Sungai Elo. Hasil temuan yang mengejutkan, banyak sumber air yang tak bisa diakses oleh masyarakat sekitar lantaran berada pada kawasan penambangan marmer milik PT. Margola. Beberapa penduduk menunjukkan beberapa lokasi tersebut saat investigasi. Langkah-langkah advokasi pun mesti dilakukan. Beberapa diantaranya melakukan penananaman seratus pohon di sekitar sungai Elo. Berikutnya, melakukan ritual adat untuk penyelamatan sumber-sumber air di wilayah Kecamatan Salaman. Dari hasil pendataan juga ditemukan sepuluh sumber air potensial di Kecamatan Salaman. Menoreh yang merupakan salah satu kawasan resapan dan penyuplai air juga terancam eksistensinya. Masyarakat sadar dengan kondisi tersebut. Mereka juga terus mendorong pemerintah agar menata Menoreh sesuai dengan fungsinya. Tampaknya keinginan tersebut masih jauh dari kata terwujud. Hingga kini masih ada sumber-sumber air yang dikuasai oleh perusahan tambang marmer. Air dan hutan bagi masyarakat Menoreh adalah teman keseharian. Oleh karena itu aktivitas kesehariannya tak jauh dari aktivitas yang membutuhkan bantuan temannya tersebut. Kalau kini mereka, khususnya di Kecamatan Salaman dilanda kekuatiran akan kekurangan sumber daya air dan sumber penghidupan lain dari hutan; siapa mau membantu? toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

29

t O e g O e u ta m a

menambang marmer, menorehkan b enCana*tentAng AdvokASi PertAMbAngAn MArMer di Menoreh

hASiL Analisis dan investigasi yang ditorehkan dalam kertas posisioleh WALHI Yogyakarta menunjukkan fakta-fakta negatif. Pertama, tergusurnya masyarakat dari tempat tinggalnya. Mereka kemudian memilih bertempat tinggal di daerah perbukitan yang notabene rawan longsor. Kedua, monopoli dan privatisasi sumber daya air rakyat di kawasan pertambangan. Ketiga, perubahan pola hidup dari pertanian menjadi buruh. Berikutnya, pengangguran meningkat serta hilangnnya lokasi pariwisata yang dijadikan lokasi pertambangan. Lebih dari itu, konflik sosial antara masyarakat yang pro dan kontra juga bermunculan. Padahal sebelum pertambangan didirikan kehidupan masyarakat setempat aman, tentram dan tidak ada gejolak sosial negatif yang besar. Hasil analisis aturan UKL-UPL PT Margola pun yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan alias banyak dilanggar. Kontrol pemerintah terhadap pertambangan marmer di kawasan menoreh juga terbilang lemah. Itu soal penegakan hukum, berikutnya pemerintah belum mempunyai Perda khusus pertambangan marmer di kawasan ini. Aktivitas pertambangan padahal berada dekat dengan tempat masyarakat beraktivitas. SeTAM, LABH, LBH Yogyakarta, Paguyupan Pecinta Gua Lowo, Kappala, BEM Universitas Magelang kemudian berinisiatif bersama masyarakat melakukan advokasi. Pengorganisasian, FGD, riset, investigasi, audiensi, hingga aksi demonstrasi dan public hearing ke DPRD Magelang dan PPLH Regional Jawa juga dilakukan. Bahkan kampanye publik dengan menggelar Musyawarah Besar SeTAM di Menoreh juga dilakoni. Hasilnya, data analisis tentang pelanggaran hukum yang dilakukan PT Margola, seperti pelanggaran UU No.23 tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup didapatkan. DPRD Magelang juga kemudian melakukan investigasi lansung ke areal pertambangan. Berikutnya, Pertemuan langsung di lokasi pertambangan antar warga, DPRD Magelang dan PT Margola. Hasilnya, PT Margola berkomitmen memperbaiki sistem pertambangan yang tidak merusak lingkungan dan menggangu masyarakat. KLH juga berjanji untuk mengeluarkan hasil study lapangan Kementerian Lingkungan Hidup. Namun masyarakat berpendapat berbeda. Keberadaan PT Margola telah melanggar UU pengelolaan lingkungan hidup serta mendiskreditkan masyarakat sudah. Oleh karena itu, banyak pihak termasuk masyarakat meminta agar pertambangan ini segera di tutup. Hingga tahun 2008 ini pertambangan marmer masih tetap berjalan, dan masyarakat tetap konsisten bersikap antipati dan terus berda dalam keresahan akan bahaya longsor, lalu bagaimana dengan pemerintah? Tampaknya para pelayan rakyat itu, terlanjur terbuai keuntungan ekonomi sesaat yang bernama Pendapatan Asli Daerah!

Menambang marmer di Menoreh bukanlah pilihan tepat. Selain menggusur berbagai aktivitas keseharian masyarakat petani setempat, juga berpotensi besar menimbulkan bencana bagi penduduk sekitar. 30 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

kenaPa seramPangan menata menoreh?*tentAng AdvokASi tAtA ruAng Menoreh riSet yang dilakukan secara bersama dengan Patrapala,SeTAM, Geologi UGM, LBH Yogyakarta menunjukkan pengelolaan kawasan Menoreh tidak dapat dengan pendekatan administratif sebagaimana yang dilakukan sekarang. Karena sebuah ekosistem suatu kawasan seperti Menoreh tidak pernah mengenal batas-batas administratif. Menoreh memiliki sejarah panjang peradaban kebudayaan seharusnya dikelola dalam sudut pandang sama. Menoreh memiliki ekositem yang menjadi sumber penghidupan manusia maupun binatang semestinya dikelola tetap pada pola pandang ekologis. Sayang, dan ini tak disadari. Wajar, bila sistem pertambangan budaya dan pembalakan banyak merusak

ekologis di kawasan ini. Diskusi kritis Tata Ruang Wilayah Kabupaten Magelang yang dilakukan juga sebenarnya tetap menunjukkan bahwa kawasan Menoreh tidak dojadikan areal pertambangan. Peta wilayah rawan bencana yang dihasilkan oleh tim Geologi UGM sepertinya juga tidak mampu mengubah paradigma pemerintah yang bermental ekonomi semata. Hingga saat ini, belum ada kebijakan menyeluruh dari pemerintah untuk menata sekaligus melindungi Menoreh. Justru inisiatif selalu datang dari masyarakat dengan selalu mewacanakan kampung budaya dan kampung tani. Wujud konkretnya, mereka selalu melakukan ritual-ritual perlindungan alam sebagaimana yang dilakukan nenek moyangnya. Mereka juga tahu bagaimana seharusnya membangun dan menata Menoreh. Caranya? Tetap menjadi petani! toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

31

t O e g O e u ta m a

r P

e g u L e r e r i o d e

P r o g r A 2 0 0 5 -

M

2 0 0 8

35.000.000.00

30,000,000.00

35,0000,000.00

20,000,000.00

15,000,0000.00

10,000,000.00

5,000,000.00

KDLH Kawasan Merapi Kawasan Monoreh

Kawasan Perkotaan

Kawasan Pantai Selatan

I II II

2,977,700 13,376,400

14,581,530 28,900,450 1,750,000

1,750,000 1,750,000 1,125,000

750,000 625,000 2,534,000

1,500,000 17,690,350 2,744,850

reguLer ProgrAMkdLh kAWASAn MerAPi kAWASAn Menoreh kAWASAn PerkotAAn kAWASAn PAntAi SeLAtAn

tAhunI 14,581,530 1,750,000 750,000 1,500,000 II 2,977,700 28,900,450 1,750,000 625,000 17,690,350 III 13,376,400 1,750,000 1,125,000 2,534,000 2,744,850

32 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

tOegOe mapala

b ukan s ekaDar h ijau *tentAngkiPrAh AdvokASi

MAPALA

Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) adalah bagian yang tak terpisahkan dalam berbagai proses advokasi WALHI Yogyakarta selama ini. Sumbangsihnya beragam, dalam konteks kampanye, pengorganisasian masyarakat hingga riset.

SoAL penghijauan lahan, MAPALA (anggota WALHI) beberapa kalimenggelar aksi ini. Diantaranya, penghijauan di bantaran Kali Gajahwong, Yogyakarta dan Sungai Elo, Magelang. Ratusan bibit pohon ditanam di kedua wilayah tersebut sebagai upaya mencegah terjadinya erosi dan sebagai tempat resapan air. Sebagai media kampanye, kegiatan ini untuk mengajak publik luas untuk turut serta memberikan kontribusi nyata dalam pelestarian lingkungan. Apalagi kedua sungai tersebut merupakan salahsatu sumber pemenuhan kebutuhan bagi kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat sekitar sungai. Majestic 55, Mapala STTL, Mapalaska, Cakrawala, Janagiri, Mapala UMY, Mapala UNISI, Mapeal, Sasenitala ISI, Caravan adalah anggota WALHI yang menginisiasi kegiatan-kegiatan tersebut diatas. Kesepuluh MAPALA ini juga terlibat dalam berbagai penanganan bencana, baik saat gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah maupun erupsi Merapi tiga tahun silam. Adapun keterlibatannya, mulai dari pembangunan posko bencana, pendistribusian bantuan, evakuasi, pengobatan gratis. Dari masa tanggap darurat hingga masa rehabilitasi. Riset pemetaan kawasan juga dilakoni. Pemetaan Wilayah Kelola di Merapi misalnya. Riset dan Pemetaan dilakukan di Dusun Ngandong dan Dusun Palemsari. Dalam kegiatan tersebut menghasilkan draft kelola wilayah Merapi yang berbasis Masyarakat dan peta Dusun Ngandong dan Dusun Palemsari. Pemetaan wilayah juga dilakukan di kawasan Pantai Kukup, Gunung Kidul. Latar belakang dari kegaiatan ini guna menginisiasi pembuatan Rencana Induk Pengelolaan Pariwisata Masyarakat (RIPPMA). Tujuannya untuk menghasilkan peta kawasan dan draft kelola rakyat. Untuk aksi demonstrasi juga dilakukan. Salahsatunya menolak Better Air Quality (BAQ) yang menggunakan dana hutang luar negeri untuk program peningkatan kualitas udara bersih perkotaan. Salahsatu Mapala yang terlibat adalah Mapeal dari AMP YKPN. Kendala dan hambatan dalam menggelar berbagai kegiatan juga ada. Mulai dari masalah koordinasi yang tidak solid hingga persoalan teknis lain di lapangan. Oleh karena itu, selain kiprah MAPALA patut diapresiasi positif dan dikembangkan, pembenahan mesti tetap dilakukan. Ya, setidaknya titik start pembenahan mulai dari masalah dan kendala yang dihadapi selama ini. toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

33

tOegOe Walhi

WALHI DIY merupakan gerakan lingkungan hidup untuk meningkatkan control dan pengawasan masyarakat sipil terhadap penyelenggaraan kekuasaan pemerintah daerah, maupun negara. WALHI DIY sebagai wahana untuk memperjuangkan pemenuhan keadilan, pemerataan, pengawasan rakyat atas kebijakan pengelolaan sumberdaya alam. Eksekutif Daerah (ED) WALHI periode 2005-

Walhi yogyakarta memikul manDat menuju keaDilan lingkungan

2008 dengan prinsip keterbukaan, Keswadayaan; Profesional, Ketauladanan, Kesukarelawanan terus bergerak bersama masyarakat dan lembaga lain untuk mengwujudkan harapan bersama tersebut. Harapan tersebut yang terciptanya keadilan lingkungan dalam kehidupan bersama, khususnya di Yogyakarta dan sekitarnya. Berbagai persoalan mencuat, namun di sisi yang lain selalu ada solusinya. Pekerjaan menuju keadilan lingkungan masih terus berjalan. WALHI di satu bagian, bisa jadi anda di bagian lainnya. MengenAL gerAk WALhi YogYAkArtA WALHI Yogyakarta merupakan organisasi forum lingkungan hidup yang memliki anggota 33 lembaga swadaya masyarakat yang tersebar di propinsi ini. Lembaga-lembaga tersebut selama ini bersama WALHI melakukan advokasi lingkungan sesuai dengan karakteristik lembaga tersebut. Misalnya, bila ada persoalan hukum lingkungan hidup maka LBH Yogyakarta menjadi salahsatu aktor kuncinya. Intinya, anggota mempunyai peran sebagai pemegang strategi kampanye dan data base. Strategi kampanye meliputi membuat skenario kampanye kawasan sesuai dengan apa yang menjadi fokus advokasinya. Sedangkan WALHI bertindak sebagai fasilitator. Penjelasan diatas semoga memberikan gambaran kepada khalayak siapa, apa dan bagaimana posisi berdirinya WALHI. Berikut laporan kami tentang mandat dan dinamika perjalanan internal kelembagaan ED perode 2005-2008, lengkap dengan laporan keuangan.

34 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

kamiSePAnJAng kurun waktu 2005-2008, praktis terjadi beberapa kalipergantian pengurus di tingkat devisi-devisi. Kekosongan yang sempat terjadi lantaran beberapa pengurus memilih mengundurkan diri dengan beragam alasan. Salahsatunya, soal penyelesaian studi. Beberapa pengurus awal yakni Tatang Elmy Wibowo, Ara Sumantri, Aji Andrianto mengundurkan diri. Selanjutnya, Feybe EN Lumuru, Khusni Abdilah, Dimas Arga Y, Hendra Novariadi, Heri Widodo, dan Abdul Aziz juga mengundurkan diri. Hingga akhir periode kepengurusan, tinggal delapan orang pengurus ED. Beberapa diantaranya adalah muka baru. Berikut potret profil para pengurus yang terlibat aktivitas advokasi lingkungan hingga PDLH Publik kali ini.

direktur ekSekutif, SuPArLAn. Lelaki kelahiran 27 januari 1978 di Karanganyar ini merupakan alumnus IAIN Sunan Kalijaga (kini, UIN Sunan Kalijaga) Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. Semenjak kuliah telah aktif terlibat dalam persoalan lingkungan hidup dengan bergabung di komunitas Mahasiswa Pencinta Alam MAPALASKA.

dePuti direktur, nAnAng iSMuhArtoYo Alumnus UGM jurusan Psikologi ini juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Konsumen Yogyakarta yang notabene merupakan salahsatu anggota WALHI Yogyakarta. Beliau dilahirkan di Medan pada 22 September 1965 dan kini bertempat tinggal di kawasan Wirogunan, Kota Yogyakarta.

toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

35

MAnAger AdMiniStrASi

dAn

keuAngAn, rekno PurWAnti

Wanita kelahiran 15 Desember 1982 di Sleman ini masih menjalankan studi di kampus STIE-SBI Yogyakarta Jurusan Akutansi. Bergabung di WALHI sejak 2004 silam

MAnAger riSet

dAn

dAtA bASe, hALik SAnderA

Lelaki kelahiran 11 Juli 1981 di Bangkalanini merupakan alumnus Universitas Ahmad Dahlan jurusan Teknik Informatika. Sejak kuliah terlibat dalam komunitas Mahasiswa Pecinta Alam KASPALA.

MAnAger inveStigASi & reSPon iSu, Ari AndY PrAStoWoAlumnus Fakultas Hukum UGM ini sekarang ini tengah menjalani pendidikan Advokat di Bandung. Semasa kuliah, lelaki kelahiran 17 April di Lampung ini juga terlibat dalam komunitas Mahasiswa Pecinta Alam MAJESTIC di kampusnya.

StAf inveStigASi & reSPon iSu, MuhAMMAd SAdriLelaki kelahiran 14 April 1983 di Lombok Barat ini masih menempuh kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas ADAB UIN Sunan Kalijaga. Sejak 2003, dia juga bergelut di Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam MAPALASKA di kampusnya.

uMbu WuLAng tAP, MAnAger kAMPAnYe & PSdAlumnus Ilmu Sosiatri STPMDAPMD Yogyakarta ini bergabung WALHI Yogyakarta sejak PNLH X di Bantul. Sejak kuliah, lelaki kelahiran 13 Oktober 1980 di Kananggar, Sumba Timur ini terlibat dalam Lembaga Penerbitan Mahasiswa TEROPONG di kampusnya.

StAf kAMPAnYe & PSd, fAthur roziqin fenLelaki asli Lombok kelahiran 8 Juni 1984 ini sebelumnya terlibat dengan LAPERA Indonesia sebagai relawan. Kini, dia juga menjabat sebagai Kordinator Pustaka Hijau yang merupakan lini penerbitan buku WALHI Yogyakarta. Semasa mahasiswa juga menimba ilmu di Lembaga Penerbitan Mahasiswa TEROPONG di kampus STPMDAPMD.

36 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

berbenah Demi gerakan nan soliD*dinAMikA ekSekutif dAerAh WALhi YogYAkArtA Periode 2005-2008

Banyak soal yang dijalankan oleh eksekutif Daerah (eD) WALHI Yogyakarta. Mulai dari peningkatan kualitas SDM eD, konsolidasi anggota, upaya kemandirian finansial maupun peran advokasi secara nasional. Bagaimana ragamnya? Simak dalam laporan ini.

kerJA-kerJA ED di internal kelembagaan difokuskan padabeberapa hal. Diantaranya penguatan manajemen kelembagaan, penguatan kapasitas sumber daya manusia serta menciptakan ruang komunikasi antara ekskuitif daerah dengan anggota WALHI Yogyakarta. Penguatan manajemen kelembagaan ED WALHI Yogyakarta diawali dengan penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP). Hal ini untuk mempertegas dan memperjelas tangung jawab dari masing-masing organ yang tergabung dalam struktur ED. Faktanya, SOP yang tersusun membuat aktifitas di masingmasing devisi bisa dilakukan dan terkontrol sesuai dengan kewajiban dan kewenangan dalam menjalankan aktifitas kelembagaan. Misalnya, dari masing-masing organ kelembagaan

toegoe :: suara rakyat dalam wahana lingkungan ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

37

eksekutif daerah

mulai dari direktur hingga pada masing-masing devisi telah

mempunyai acuan kerja yang jelas dalam menjalankan aktifitas keseharian yang terencana hingga satu tahun. Sedangkan pada penguatan kapasitas sumber daya manusia, WALHI melakukan Organiser Training sesuai dengan kebutuhan dan menghadirkan para fasilitator handal di bidangnya. Misalnya pelatihan pembuatan film, jurnalis lingkungan, investigasi lingkungan, pelatihan Cefil dari Satu Nama, pelatihan advokasi dari Eksekutif Nasional WALHI, pelatihan mitigasi bencana, pelatihan keuangan, pelatihan GIS, pembuatan kompos dari sampah, pembuatan bakteri hingga pelatihan fasilitator. Selain dari ED, peserta dalam pelatihan tersebut terlibat Sahabat Lingkungan (SHALINK), anggota serta masyarakat dampingan anggota WALHI Yogyakarta. Jika dilihat dari proses perkembangan penguatan kapasitas kelembagan terdapat banyak sekali referensi seperti modul, materi berkaitan dengan berbagai jenis pelatihan. Begitu juga dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang bisa dikatakan ahli di bidanganya. Beberapa produk yang dihasilkan antara lain, model acuan investigasi WALHI dalam melakukan study maupun investigasi kasus, jenis media kampanye yang efektif dengan pembuatan film, kader fasilittator yang mampu melakukan fasilitasi kegiatan dan aktifitas. Hal tersebut tentu menjadi bagian pendukung dalam proses kerja-kerja WALHI dalam menjalankan mandatnya sebagai organisasi lingkungan di Yogyakarta. Walau demikian di kelembagaan eksekutif daerah WALHI Yogyakarta bukan tanpa hambatan dalam melakukan kerja-kerjanya. Selama 3 tahun terakhir terjadi pengunduran dan pergantian kepengurusan di level koordinator program, kampanye, investigasi dan respon isu. Sehinga secara langsung maupun tidak memperngaruhi kerja-kerja WALHI. Pada akhirnya pergantian pun dilakukan guna tetap menjalankan aktifitas-aktifitas yang sudah berjalan sesuai dengan mandat organisasi. Pengkaderan ulang bagi ED yang baru menjadi penting untuk tetap menjaga konsistensi perjalanan program. Pada proses menjalin komunikasi yang harmonis, ED melakukan road show ke anggota-anggota WALHI. Walau hingga akhir periode ini, road show hanya menjangkau 50% dari jumlah anggota. Pertegasan dalam keterlibatan anggota WALHI dalam implementasi pelaksanaan aktifitas kerja-kerja kawasan, ED melakukan konsolidasi dan koordinasi di level kawasan. Sehingga peta keterlibatan anggota di 5 kawasan utama terlihat jelas. Konsolidasi yang dilakukan ditekankan pada proses pembagian peran antara ED dan partisipan. Dalam kerja-kerja, posisi ED sebagai fasilitator. Sedangkan anggota mempunyai peran sebagai pemegang strategi kampanye dan data base. Strategi kampanye meliputi membuat skenario kampanye kawasan sesuai dengan apa yang menjadi fokus advokasinya di masing-masing kawasan. Begitupun proses-proses pengorganisasian dan penguatan kapasitas masyarakat ada di level anggota. Di dalam setiap kawasan di bentuk koordinator kawasan yang di ambil dari anggota guna melakukan proses konsolidasi yang lebih efektif. Selama 3 tahun terakhir kami dari ED menuangkan berbagai aktifitas konsolidasi dengan partisipan, dan publik atau masyarakat serta mengulas catatan penting advokasi lingkungan dalam laporan publik.

38 toegoe ::

| edisi khusus laporan publik | Tahun II | januari 2009 |

suara rakyat dalam wahana lingkungan

::

PenggALAngAn dAnADalam upaya pelaksanaan kerja-kerja ED WALHI Yogyakarta melakukan upaya penggalangan dana, melalui berbagai jaringan. Pada awalnya WALHI Yogyakarta mendapatkan anggaran dari Eksekutif Nasional WALHI untuk program-program internal dan advokasi lingkungan. Upaya melakukan pengiriman proposal ke lembaga donor juga dilakoni. Misalnya, Both N dengan program DAS, ke GGF tentang advokasi Merapi, ke FOE untuk kampanye Merapi. Dari kerja-kerja pengiriman proposal yang dapat disetujui hanya dari X-Y dengan jaringan dari FOE Belanda dan FOE Jepang dengan studi perubahan iklim. Sedangkan pengiriman ke GGF, sebenarnya ada respon namun harus ada perbaikan terkait dengan perubahan kondisi Merapi pasca letusan tahun 2006. Namun karena pada saat itu kesibukan akan penanganan bencana gempa bumi, kelanjutan dari GGF tidak di respon kembali. Selebihnya pendanaan dari kerja-kerja aktifitas WALHI Yogyakarta dibiayai dari Eksekutif Nasional. Lain halnya dengan program penanganan bencana gempa bumi yang difasilitasi oleh Eksekutif Nasional dalam memban