tgs sepsis neonatorum.docx

of 29/29
BAB I PENDAHULUAN ALatar Belakang Dengan meningkatnya taraf kesehatan Indonesia, dimana hal ini sangat berpengaruh terhadap kualitas SDM anak Indonesia yang cerdas, sehat untuk masa yang akan datang maka pemerintah bersama Dinas Kesehatan beserta jajarannya berupaya sedini mungkin untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan yang sangat banyak terjadi di masyarakat khususnya yang terjadi pada anak-anak. Diantaranya tingkat mortalitas bayi setelah lahir, dengan sepsis, malnutrisi, BBLR dan prematurisme yang sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Sepsis neonatorum merupakan salahsatu masalah yang dapat menyebabkan kematian pada bayi dengan insiden sepsis neonatal sangat rendah, antara 1-8 kasus per 1000 kelahiran hidup dengan Meningitis sebanyak 20%-25%, mortalitas berkisar antara 20%-30%. Epidemiologi infeksi neonatal dapat berubah-ubah seperti halnya bayi berat lahir rendah yang dapat bertahan hidup untuk waktu yang lebih lama. Insiden infeksi berbanding terbalik dengan umur kelahiran dan berat badan lahir mungkin mencapai 25%-40% diantara bayi dengan berat badan 500-1000 gr saat lahir dan 12%- 40% pada bayi 1000-1500gr. Infeksi nasokomial pada bayi berat badan lahir sangat rendah (< 1500gr ) rentan sekali menderita sepsis neonatal. 1
  • date post

    03-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    223
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of tgs sepsis neonatorum.docx

BAB IPENDAHULUAN

ALatar BelakangDengan meningkatnya taraf kesehatan Indonesia, dimana hal ini sangat berpengaruh terhadap kualitas SDM anak Indonesia yang cerdas, sehat untuk masa yang akan datang maka pemerintah bersama Dinas Kesehatan beserta jajarannya berupaya sedini mungkin untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan yang sangat banyak terjadi di masyarakat khususnya yang terjadi pada anak-anak.Diantaranya tingkat mortalitas bayi setelah lahir, dengan sepsis, malnutrisi, BBLR dan prematurisme yang sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Sepsis neonatorum merupakan salahsatu masalah yang dapat menyebabkan kematian pada bayi dengan insiden sepsis neonatal sangat rendah, antara 1-8 kasus per 1000 kelahiran hidup dengan Meningitis sebanyak 20%-25%, mortalitas berkisar antara 20%-30%.Epidemiologi infeksi neonatal dapat berubah-ubah seperti halnya bayi berat lahir rendah yang dapat bertahan hidup untuk waktu yang lebih lama. Insiden infeksi berbanding terbalik dengan umur kelahiran dan berat badan lahir mungkin mencapai 25%-40% diantara bayi dengan berat badan 500-1000 gr saat lahir dan 12%-40% pada bayi 1000-1500gr. Infeksi nasokomial pada bayi berat badan lahir sangat rendah (< 1500gr ) rentan sekali menderita sepsis neonatal.Selain perubahan-perubahan tersebut, spektrum etiologi bakteri dan mortalitas sepsis neonatal yang berkembang. Pada tahun 1930,Steptococcushemolitikus grup A merupakan penyebab terbanyak infeksi neonatal dan dikendalikan dengan penisilin. Pada tahun 1940 insiden infeksi gram negatif, khususnyanE.colli,meningkat dan pada tahun 1950-an insiden staphilococcus penghasil penisilinase( S.aureus )meningkat.Sejalan dengan berkembangnya pemahaman kolonisasi pada neonatus, praktik perawatan kulit dan tali pusat berkembang pula. Infeksi gram negatif menonjol pada tahun 1960 dan tahun 1970 streptococcus b hemolitikus grup B yang menonjol. Pada tahun 1980-an infeksi nasokomial merupakan masalah utama dalam bangsal perawatan intensif. Bersamaan dengan perubahan organisme penyebab infeksi bisa terjadi menurunnya mortalitas, mungkin sebagian mencerminkan besarnya organisme gram positif sebagai agen etiologi yang menonjol hingga sekarang mortalitasnya dilaporkan sebesar 11% 20 %.Bila tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan kematian dalam beberapa jam, oleh Karena itu perlu adanya pengetahuan bagi tim kesehatan dalam pemberian pelayanan keperawatan dan medis dalam penatalaksanaan sepsis neonatorum, sehingga dapat mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas bayi, dan dapat mempertahankan generasi penerus yang sehat.Sepsis pada bayi baru lahir masih merupakan masalah yang belum dapat dipecahkan dalam perawatan dan penanganan bayi baru lahir. Di negara berkembang hampir sebagian besar bayi baru lahir yang dirawat mempunyai kaitannya denagn sepsis. Hal yang sama ditemukan pada negara maju yang dirawat di unit intensif bayi baru lahir. Disamping morbiditas, mortalitas tinggi ditemukan pada penderita sepsis bayi baru lahir.Dalam laporan WHO yang dikutip dalam Child Health Research Project Special Report : reducing perinatal and neonatal mortality (1999) dikemukakan bahwa 40% kematian bayi baru lahir terjadi karena berbagai bentuk infeksi seperti infeksi saluran napas, tetanus neonatorum, sepsis dan infeksi gastrointestinal. disamping tetanus neonatorum, case fatality rate yang tinggi ditemukan pada sepsis neonatorum. Hal ini terjadi karena banyak faktor resiko infeksi pada masa perinatal yang belum dapat dicegah dan ditanggulangi.Sepsis neonatorum atau septicemia neonatorum merupakan keadaan dimana terdapat infeksi oleh bakteri dalam darah di seluruh tubuh. Perjalanan penyakit sepsis neonatorum dapat berlangsung cepat sehingga sering sekali tidak terpantau,tanpa pengobatan yang memadai bayi dapat meninggal dalam 24 sampai 48 jam.Angka kejadian sepsis neonatorum masih cukup dan merupakan penyebab kematian utama pada neonatus.Hal ini karena neonatus rentan terhadap infeksi. Kerentanan neonatus terhadap infeksi dipengaruhi oleh berbagai faktor.(Surasmi, 2003)

B.Rumusan Masalah1.Apa yang dimaksud dengan sepsis neonatorum?2.Apa klasifikasi dari sepsis neonatorum?3.Apa penyebab terjadinya sepsis neonatorum?4.Bagaimana patofisiologi sepsis neonatorum?5.Apa manifestasi klinis dari sepsis neonatorum?6.Apa komplikasi pada sepsis neonatorum?7.Apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan terhadap pasien sepsis neonatorum?8.Apa saja tindakan dan pencegahan yang harus dilakukan dari sepsis neonatorum?9.Apa prognosis dari sepsis neonatorum?10.Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada pasien sepsis neonatorum?

Tujuan1 Tujuan Umum Mengetahui asuhan keperawatan pada bayi dengan sepsis neonatorum

2 Tujuan Khusus Mengetahui landasan teori dari sepsis neonatorum (pengertian, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, pemeriksaan penunjang, prognosis, komplikasi, dan penatalaksanaan) Mengetahui WOC sepsis neonatorum Mengetahui Pengkajian pada bayi dengan sepsis neonatorum Mengetahui Diagnosa pada sepsis neonatorum Mengetahui Nanda, NIC dan NOC berdasarkan pengkajian pada sepsis neonatorum

BAB IIPEMBAHASAN

1. PENGERTIAN Sepsis neonatorum adalah infeksi berat yang diderita neonatus dengan gejala sistemik dan terdapat bakteri dalam darah. Perjalanan penyakit sepsis neonatorum dapat berlangsung cepat sehingga seringkali tidak terpantau, tanpa pengobatan yang memadai bayi dapat meninggal dalam 24 sampai 48jam.(perawatan bayi beriko tinggi, penerbit buku kedoktoran, jakarta : EGC). Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri pada aliran darah pada bayi selama empat minggu pertama kehidupan. Insiden sepsis bervariasi yaitu antara 1 dalam 500 atau 1 dalam 600 kelahiran hidup (Bobak, 2005). Sepsis neonatorum adalah infeksi berat yang diderita neonatus dengan gejala sistemik dan terdapat bakteri dalam darah. Perjalanan penyakit sepsis dapat berlangsung cepat sehingga sering kali tidak terpantau tanpa pengobatan yang memadai sehingga neonatus dapat meninggal dalam waktu 24 sampai 48 hari. (Surasmi, 2003) Sepsis neonatal adalah merupakan sindroma klinis dari penyakit sistemik akibat infeksi selama satu bulan pertama kehidupan. Bakteri, virus, jamur, dan protozoa dapat menyebabkan sepsis bayi baru lahir. (DEPKES 2007) Sepsis neonatorum adalah infeksi yang terjadi pada bayi dalam 28 hari pertama setelah kelahiran. (Mochtar, 2005)Dari beberapa pengertian diatas, kami menyimpulkan bahwa sepsis neunatorum adalah infeksi berat karena bakteri pada aliran darah bayi selama empat minggu pertama kehidupan dan dapat menyebabkan kematian.2. ETIOLOGI

Penyebabnya biasanya adalah infeksi bakteri: Ketuban pecah sebelum waktunya / ketuban pecah dini Perdarahan atau infeksi pada ibu.Penyebab yang lain karena bakteri virus, dan jamur, yang terserang bakteri, jenis bakteri bervariasi tergantung tempat dan waktu, seperti Streptococus group B (SGB), akteri enterik dari saluran kelamin ibu, Virus herpes simplek, Enterovirus, E. Coli, Candida, dan stafilokokus.3. PATOFISIOLOGI

Patogenesis dapat terjadi pada antenatal, intranatal, dan pascanatal yaitu;1. a.AntenatalTerjadi karena adanya faktor resiko, pada saat antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan umbilikus masuk ke dalam tubuh melalui sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang menebus plasenta, antara lain: virus rubella, herpes, influeza, dan masih banyak yang lain.1. IntranatalInfeksi saat persalinan terjadi karena kuman ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion dan amnion.akibatnya terjadilah amnionitis dan korionitis, selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk ketubuh bayi. Cara lain saat persalinan, cairan amnion yang sudah terinfeksi oleh bayi sehingga menyebabkan infeksi pada lokasi yang terjadi pada janin melalui kulit bayi saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman.1. c.PascanatalInfeksi yang terjadi sesudah persalinan, umumnya terjadi akibat infeksi nasokomial dari lingkungan di luar rahim,( misal : melallui alat-alat, penghisap lendir, selang endotrakea, infus, dan lain-lain). Dan infeksi dapat juga terjadi melalui luka umbillikus.Pohon MasalahZat-zat patogen (bakteri,virus,jamur)Rangsangan endo/eksotoksinsistem imunologiaktivasi magrofag sekresi berbagai Aktivasi komplemen&sitokinin& mediator neutrofildisfungsi&kerusakan endotelaktivasi sistem koagulasi&trombositGangguan perfusi ke berbagai jaringan & disfungsi organ multiple

4. MANIFESTASI KLINIS

1. Umum : panas, hipotermi, tampak tidak sehat, malas minum, letargi, sklerema2. Saluran cerna : distensi abdomen, anoreksia, muntah, diare, hepatomegali3. Saluran napas : apnea, dispnea, takipnea, retraksi, napas cuping hidung, merintih, sianosis.4. Sistem kardiovaskuler : pucat, sianosis, kulit marmorata, kulit lembab, hipotensi, takikardi, bradikardia.5. Sistem saraf pusat : irritabilitas, tremor, kejang, hiporefleksi, malas minum, pernapasan tidak teratur, ubun-ubun menonjol,high-pitched cry6. Hematologi : ikterus,splenomegali, pucat, petekie, purpura, pendarahan.(Kapita selekta kedokteran Jilid II,Mansjoer Arief 2008)Gejala sepsis yang terjadi pada neonatus antara lain bayi tampak lesu, tidak kuat menghisap, denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik. Gejala-gejala lainnya dapat berupa gangguan pernafasan, kejang, jaundice, muntah, diare, dan perut kembungGejala dari sepsis neonatorum juga tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya: Infeksi pada tali pusar (omfalitis) menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari pusar Infeksi pada selaput otak (meningitis) atauabses otakmenyebabkan koma, kejang,opistotonus(posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau tungkai yang terkena Infeksi pada persendian menyebabkan pembengkakan, kemerahan, nyeri tekan dan sendi yang terkena teraba hangat Infeksi pada selaput perut (peritonitis) menyebabkan pembengkakan perut dan diare berdarah5. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan neutropemia dengan pergeseran ke kiri (imatur: total seri granolisik > 0,2). Kultur darah dapat menunjukkan organisme penyebab. Analisis kultur urine dan cairan sebrospinal (CSS) dengan lumbal fungsi dapat mendeteksi organisme. DPL menunjukan peningkatan hitung sel darah putih (SDP) dengan peningkatan neutrofil immatur yang menyatakan adanya infeksi. Laju endah darah, dan protein reaktif-c (CRP) akan meningkat menandakan adanya inflamasi.

6. PROGNOSISPada umumnya angka kematian sepsis neonatal berkisar antara 1040% dan pada meningitis 1550%. Tinggi rendahnya angka kematian tergantung dari waktu timbulnya penyakit penyebabnya, besar kecilnya bayi, beratnya penyakit dan tempat perawatannya. Gejala sisa neurologik yang jelas nampak adalah hidrosefalus, retardasi mental, buta, tuli dan cara bicara yang tidak normal. Kejadian gejala sisa ini adalah sekitar 30 50% pada bayi yang sembuh dari meningitis neonatal. Gejala sisa ringan seperti gangguan penglihatan, kesukaran belajar dan kelainan tingkah laku dapat pula terjadi.7. KOMPLIKASI Dehidrasi Asidosis metabolic Hipoglikemia Anemia Hiperbilirubinemia Meningnitis DIC.8. PENATALAKSANAAN Diberikan kombinasi antibiotika golongan Ampisilin dosis 200 mg/kg BB/24 jam i.v (dibagi 2 dosis untuk neonatus umur < 7 hari dibagi 3 dosis), dan Netylmycin(Amino glikosida)dosis 7 1/2 mg/kg BB/per hari i.m/i.v dibagi 2 dosis (hati-hati penggunaan Netylmycin dan Aminoglikosida yang lain bila diberikan i.v harus diencerkan dan waktu pemberian sampai 1 jam pelan-pelan). Dilakukan septic work up sebelum antibiotika diberikan (darah lengkap, urine, lengkap, feses lengkap, kultur darah, cairan serebrospinal, urine dan feses (atas indikasi), pungsi lumbal dengan analisa cairan serebrospinal (jumlah sel, kimia, pengecatan Gram), foto polos dada, pemeriksaan CRP kuantitatif). Pemeriksaan lain tergantung indikasi seperti pemeriksaan bilirubin, gula darah, analisa gas darah, foto abdomen, USG kepala dan lain-lain. Apabila gejala klinik dan pemeriksaan ulang tidak menunjukkan infeksi, pemeriksaan darah dan CRP normal, dan kultur darah negatif maka antibiotika diberhentikan pada hari ke-7. Apabila gejala klinik memburuk dan atau hasil laboratorium menyokong infeksi, CRP tetap abnormal, maka diberikan Cefepim 100 mg/kg/hari diberikan 2 dosis atau Meropenem dengan dosis 30-40 mg/kg BB/per hari i.v dan Amikasin dengan dosis 15 mg/kg BB/per hari i.v i.m (atas indikasi khusus). Pemberian antibiotika diteruskan sesuai dengan tes kepekaannya.Lama pemberian antibiotika 10-14 hari. Pada kasus meningitis pemberian antibiotika minimal 21 hari.Pengobatan suportif meliputi : Termoregulasi, terapi oksigen/ventilasi mekanik, terapi syok, koreksi metabolik asidosis, terapi hipoglikemi/hiperglikemi, transfusi darah, plasma, trombosit, terapi kejang, transfusi tukarPENCEGAHANa. Pada masa antenatalPerawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala, imunisasi, pengobatan terhadap penyakit infeksi yang di derita ibu, asupan gizi yang memadai, penanganan segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan ibu dan janin, rujukan segera ketempat pelayanan yang memadai bila diperlukan.b. Pada saat persalinanPerawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptik, yang artinya dalam melakukan pertolongan persalinan harus dilakukan tindakan aseptik. Tindakan intervensi pada ibu dan bayi seminimal mungkin dilakukan (bila benar-benar diperlukan). Mengawasi keadaan ibu dan janin yang baik selama proses persalinan, melakukan rujukan secepatnya bila diperlukan dan menghindari perlukaan kulit dan selaput lendir.c. Sesudah persalinanPerawatan sesudah lahir meliputi menerapkan rawat gabung bila bayi normal, pemberian ASI secepatnya, mengupayakan lingkungan dan peralatan tetap bersih, setiap bayi menggunakan peralatan tersendiri, perawatan luka umbilikus secara steril. Tindakan invasif harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip aseptik. Menghindari perlukaan selaput lendir dan kulit, mencuci tangan dengan menggunakan larutan desinfektan sebelum dan sesudah memegang setiap bayi. Pemantauan bayi secara teliti disertai pendokumentasian data-data yang benar dan baik. Semua personel yang menangani atau bertugas di kamar bayi harus sehat. Bayi yang berpenyakit menular di isolasi, pemberian antibiotik secara rasional, sedapat mungkin melalui pemantauan mikrobiologi dan tes resistensi. (Sarwono, 2004)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA SEPSIS NEONATORUM

A. Pengkajian

1. Biodata / identitasNama : Diisi sesuai nama pasienUmur : Biasanya menyerang pada usia neonatal 0 hari 28 hariInfeksi nasokomial pada bayi berat badan lahir sangat rendah (