Ternaba FK UMI MEDAN(Psikosis Manik Depresif ( Bipolar)

download Ternaba FK UMI MEDAN(Psikosis Manik Depresif ( Bipolar)

of 37

  • date post

    19-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    237
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Ternaba FK UMI MEDAN(Psikosis Manik Depresif ( Bipolar)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pada psikosis manik depresif yang klasik terdapat keadaan manik disusul

dengan depresi, atau sebaliknya. Akan tetapi tidak jarang dilihat hanya satu jenis saja, yaitu manik dan depresi. Kadang kadang hanya timbul satu atau dua kali serangan saja seumur hidup orang itu. Interval antara dua fase tidak tentu lamanya, kadang kadang lama, tetapi kadang kadang tidak ada sama sekali, artinya satu jenis segera disusul oleh jenis yang lain. Segala macam kombinasi mungkin saja ada ( Maramis, 2004 ). Menurut beberapa ahli psikiatri sosial dikatakan bahwa penyakit ini kebanyakan terdapat pada masyarakat yang tergolong inner directed. Misalnya pada zaman Renaissance dan reformasi dahulu. Juga masyarakat begini terdapat pada suku Hutterian di beberapa tempat di Canada. Karena itulah menurut mereka pola masyarakat yang inner directed ini yang menyebabkan seseorang individu menderita penyakit psikosis manik depresif ( Kaplan, 2010 ). Berdasarkan ras atau suku bangsa didapati bahwa orang Yahudi dan Irlandia mempunyai insiden yang lebih tinggi. Sedangkan negara negara Skandinavia dan beberapa negara di Eropa Utara penyakit ini hampir tidak dijumpai. Suatu laporan yang menarik adalah menurut pengamatan seseorang penyelidik bahwa insiden penyakit ini meninggi pada akhir musim semi dan permulaan musim panas ( Kaplan, 2010 ). Psikosis manik depresif merupakan kekalutan mental yang berat yang berbentuk gangguan emosi yang ekstrim, yaitu berubah ubahnya kegembiraan yang berlebihan (manik) menjadi kesedihan yang sangat mendalam (depresi) dan sebaliknya seterusnya berulang pada penderita tersebut ( Kuntjojo, 2008 ).

2

Reaksi manik depresif biasanya timbul pertama kalianya diantara umur 14 40 tahun dan secara ststistik adalah wanita lebih banyak dari pada pria yang terkena psikosis manik depresif, dan sekitar 10 30% dari pada seluruh jumlah penderita gangguan jiwa yang pernah dirawat dalam rumah sakit jiwa ( Kusmanto, 1988 ). Psikosis manik depresif disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengan dua gejala utama penyakit ini, yaitu manik dan depresi. Aspek manik terjadi akibat dari usaha untuk melupakan kesedihan dan kekecewaan hidup dalam bentuk aktivitas aktivitas yang sangat berlebihan. Sedangkan aspek depresinya terjadi karena adanya penyesalan yang berlebihan ( Kuntjojo, 2008 ). Dalam tahap manik (manik atau manik berarti waham, gila, berang hati, mata gelap), pasien begitu sangat gembira sehingga ia berbicara sangat cepat dalam kata kata yang tak karuan. Kegiatan fisiknya mungkin sama sekali tidak terkendali sehingga ia merusak semua perabot dalam rumah, menyerang orang lain yang ada di sekitarnya atau merusak dirinya sendiri. Pada tahap depresif, ia mungkin tidak responsif, tidak mau menjawab pertanyaan pertanyaan, atau menunggu lama sebelum menjawab. Ia mungkin menangis dalam waktu yang lama atau bahkan mungkin ia ingin mati ( Yustinus semiun, 2010 ). Dulu dianggap siklus siklus manik depresif selalu merupakan ciri khas psikosis manik depresif, meskipun diterima bahwa mungkin sekali rentang waktunya dalam beberapa kejadian sampai berlangsung beberapa tahun antara tahap manik dan tahap depresif. Tetapi, dalam tahun tahun belakangan ini dengan jelas diperhatikan bahwa orang mungkin mengalami satu atau lebih serangan manik, dan satu atau lebih serangan depresi tanpa pernah mengalami perubahan perubahan manik depresif. Dengan kata lain, beberapa orang mengalami hanya serangkaian kegembiraan (serangan serangan manik), orang orang lain mengalami serangkaian depresi, sedangkan orang orang yang lain lagi mengalami siklus manik depresif klasik. Clifford Beers dalam bukunya, A mind that found itself, menggambarkan dengan sangat efektif emosi emosi,

3

proses proses pikiran, dan tingkah lakunya yang umum baik dalam tahap manik maupun dalam tahap depresif ( Yustinus semiun, 2010 ). Dalam usaha mengadakan klasifikasi, Kraeplin (pada tahun 1899) mengelompokkan keadaan gempar dan meledak ledak (excited), gembira, depresif. Gangguan ini tetap merupakan psikosis fungsional utama sesudah skizofrenia. Kraeplin mengetahui sindrom dari psikosis manik depresif ini begitu kompleks, terutama kecendrungan pasien terhadap suasana hati yang berubah ubah karena diamati bahwa pasien sembuh secara spontan dari keadaan meledak ledak dan gempar serta gembira, tetapi kemudian jatuh kembali ke dalam suasana depresif dan melankolik ( Yustinus semiun, 2010 ). Tujuh puluh persen dari semua penderitanya adalah wanita. Psikosis manikdespresif ini merupakan kekalutan mental yang serius berbentuk gangguan emosional yang ekstrim, yaitu terus menerus bergerak antara gembira ria tertawa-tawa (elation) sampai dengan rasa depresif sedih putus asa penderitanya selalu dihinggapi ketegangan ketegangan afektif dan agresi yang terhambat hambat. Impuls impulsnya kuat, tetapi pendek pendek, dan tidak biasa dikontrol atau dikendalikan, misalnya pikiran kacau dan ingatanya jadi semakin mundur. Pasien menjadi sangat egosentris, dan tingkah lakunya jadi kekanak kanakan. Ia merasa selalu gelisah, dan tidak pernah merasa puas. Berdasarkan hal hal yang diuraikan di atas berupa latar belakang dari psikosis manik depresif yang cukup banyak menyebar dari kalangan masyarakat, maka penulis tertarik untuk membahasnya dalam suatu Karya Tulis Ilmiah berjudul : Psikosis Manik Depresif Gejala, Diagnosa Dan Terapi Awal.

4

1.2 Rumusan Masalah Adapun yang menjadi rumusan masalah di dalam Karya Tulis Ilmiah ini akan di bahas dan di bicarakan tentang : 1. Apakah definisi psikosis ? 2. Bagaimanakah gejala klinis dari psikosis manik depresif ? 3. Bagaimanakah diagnosa dari psikosis manik depresif ? 4. Bagaimanakah terapi awal dari psikosis manik depresif ?

1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. Agar kita mengetahui lebih jelas tentang psikosis, kususnya psikosis fungsional yaitu manik depresi. 2. Agar kita dapat menjelaskan tentang gejala klinis psikosis manik deprsif. 3. Agar kita dapat menjelaskan cara mendiagnosa psikosis manik depresif. 4. Agar kita dapat menjelaskan menterapi awal psikosis manik depresif.

5

BAB II TINJAUAN PUTAKA

2.1 Psikosis 2.1.1 Definisi W.F. Maramis (2000 : 180), menyatakan bahwa psikosis adalah suatu gangguan jiwa dengan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality). Kelainan seperti ini dapat diketahui berdasarkan gangguan-gangguan pada perasaan, pikiran, kemauan, dan motorik. sedemikian berat sehingga perilaku penderita tidak sesuai lagi dengan kenyataan. Perilaku penderita psikosis tidak dapat dimengerti oleh orang normal, sehingga orang awam menyebut penderita sebagai orang gila ( Kuntjojo, 2008 ). Berbicara mengenai psikosis, Zakiah Daradjat (1993 : 56), menyatakan sebagai berikut. Seorang yang diserang penyakit jiwa (psychosie), kepribadiannya terganggu, dan selanjutnya menyebabkan kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar, dan tidak sanggup memahami problemnya. Seringkali orang sakit jiwa tidak merasa bahwa dirinya sakit, sebaliknya ia menganggap dirinya normal saja, bahkan lebih baik, lebih unggul, dan lebih penting dari orang lain ( Kuntjojo, 2008 ). Psikosis : Gangguan mental yang ditandai dengan kerusakan menyeluruh dalam uji realitas seperti yang ditandai dengan delusi, halusinasi, bicara inkoheren yang jelas, atau perilaku yang tidak teratur atau mengacau, biasanya tanpa ada kewaspadaan di bagian pasien terhadap inkomprehensibilitas dalam tingkah lakunya, disebut psikotik disorder dalam DSM-IV. Dua istilah ini juga digunakan untuk pengertian yang lebih umum untuk menunjukkan setiap gangguan jiwa, fungsi mentalnya secara sufisien merusak, seperti pada interferensi luas dengan kapasitas pasien mengatasi tuntutan kehidupan biasa ( Dorland ).

6

Psikosis secara sederhana dapat didefinisikan sebagai berikut : suatu gangguan jiwa dengan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality). Hal ini diketahui dengan terdapatnya gangguan pada hidup perasaan (afek dan emosi), proses berpikir, psikomotorik dan kemauan, sedemikian rupa sehingga semua ini tidak sesuai dengan kenyataan lagi. Penderita tidak dapat dimengerti lagi oleh orang normal, karena itu seorang awam pun dapat mengatakan bahwa orang itu gila bila psikosis itu sudah jelas. Penderita sendiri juga tidak memahami penyakitnya, ia tidak merasa ia sakit ( Maramis, 2004 ). Gejala Psikotiknya termasuk disorganisasi alam pikir, inkoherensi, longgarnya asosiasi, halusinasi, waham, dan prilaku katatonik. Gejala afektif mungkin lebih sering dijumpai daripada gejala skizofrenik yang klasik ( Roberd, 1998 ). Keadaan ini juga dapat digambarkan dengan cara yang lain yaitu sebagai berikut : psikosis ialah suatu gangguan jiwa yang serius, yang timbul karena penyebab organik ataupun emosional (fungsional) dan menunjukkan gangguan kemampuan berpikir, bereaksi secara emosional, mengingat, berkomunikasi, menafsirkan kenyataan dan bertindak sesuai dengan kenyataan itu, sedemikian rupa sehingga kemampuan untuk memenuhi tuntutan sehari hari sangat terganggu. Psikosis ditandai oleh prilaku yang regresif, hidup perasaan yang tidak sesuai, berkurangnya pengawasan terhadap impuls impuls serta waham dan halusinasi. Istilah psikosis dapat dipakai untuk keadaan seperti yang disebutkan di atas dengan variasi yang luas mengenai berat dan lamanya ( Maramis, 2004 ). Sebagai contoh psikosis akibat obat, Keadaan ini seringkali ditemukan dengan kelas obat obatan resmi dan gelap, terutama perangsang yaitu fensiklidin dan kokain ( Barry, 2002 ). Menninger telah menyebutkan lima sindroma klasik yang menyertai sebagian besar pola psikotik, yaitu : 1. Perasaan sedih, bersalah dan tidak mampu yang mendalam

7

2. Keadaan terangsang yang tidak menentu dan tidak terorganisasi, disertai pembicaraan dan motorik yang berlebihan 3. Regresi ke otisme (autism) manerisme pembicaraa