Teori Seni dalam Tiga Tahap Kebudayaan

Click here to load reader

  • date post

    18-Dec-2014
  • Category

    Career

  • view

    8.126
  • download

    10

Embed Size (px)

description

 

Transcript of Teori Seni dalam Tiga Tahap Kebudayaan

  • 1. Tugas Paper I Matakuliah Antropologi Seni MAPPING TEORI SENI Dosen Pengampu : Prof. Dr. Y. Sumandiyo Hadi Disusun Oleh : Aditya NirwanaPROGRAM STUDI PENCIPTAAN & PENGKAJIAN SENI PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA 2012
  • 2. DAFTAR ISIDAFTAR ISI .................................................................................................. 2BAB I PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang........................................................................................... 31.2. Rumusan Masalah...................................................................................... 31.3. Tujuan........................................................................................................ 4BAB II PEMBAHASAN2.1. Tiga Tahap Kebudayaan............................................................................ 52.2. Seni Sebagai Bentuk Mimesis................................................................... 62.3. Seni Sebagai Bentuk Ekspresi................................................................... 92.4. Seni Dalam Konsep Fungsional................................................................ 13BAB III KESIMPULAN3.1. Kesimpulan ............................................................................................... 183.2. Saran.......................................................................................................... 18DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 19Aditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 2
  • 3. BAB I PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang Menurut ilmu antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistemgagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yangdijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 2009 : 144). Senimerupakan salah satu wujud kebudayaan yang bersifat artifact, yakni benda-benda hasil karya manusia disamping dua wujud kebudayaan yang lain yaituideas, dan activities. Cultural Studies selalu menjadi topik yang menarik, khususnya bidangseni yang dikaji dengan perspektif kebudayaan atau antropologi, dimanakebudayaan selalu berkembang, selalu bergeser, sesuai dengan sifatnya yangsuper-organik. Perubahan-perubahan tersebut, yang telah lalu dan yang sekarang,tahap yang telah lalu dan tahap yang sekarang, semuanya terekam dalam sebuahwujud karya seni. Rekam jejak pergeseran-pergeseran atau perubahan nilaibudaya dalam kurun waktu tertentu tersebut dapat dilihat dari perwujudan karyaseni dalam kurun waktu itu sendiri, bahkan untuk melihat sejauh mana tingkatperadaban sebuah bangsa, maka karya seni menjadi indikator peradaban tersebut.1.2. Rumusan Masalah Masalah yang diangkat dalam kajian ilmiah ini, ialah penulis mencobauntuk mengkaitkan antara tiga teori seni mengenai seni sebagai bentuk mimesis,seni sebagai bentuk ekspresi manusia, serta seni sebagai bentuk yang fungsionaldengan teori tiga tahap kebudayaan yang diajukan oleh van Peursen, yakni tahapmitis, tahap ontologis, dan tahap fungsional. Sejauh mana kebertautan antaraketiga teori seni tersebut dengan tiga tahap kebudayaan, signifikasi, sertaimplikasinya di dalam karya seni, serta bagaimana konstruksi argumen yangdisintetis untuk menemukan keberkaitan tersebut. Disamping itu, bagaimana sikapseniman terhadap karya seni berangkat dari teori-teori tersebut.Aditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 3
  • 4. 1.3. Tujuan Tujuan dari dibuatnya kajian ilmiah ini ialah mengetahui sejauh manahubungan antara tiga teori seni mengenai seni sebagai bentuk mimesis, senisebagai bentuk ekspresi manusia, serta seni sebagai bentuk yang fungsionaldengan teori tiga tahap kebudayaan. Disamping itu juga mengetahui bagaimanapola pikir atau sikap seorang seniman dalam mencipta karya pada tahap-tahaptersebut.Aditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 4
  • 5. BAB II PEMBAHASAN2.1. Tiga Tahap Kebudayaan Tiga tahap kebudayaan diusulkan oleh van Peursen dalam bukunya yangberjudul Strategi Kebudayaan. Pendekatan skematis tersebut dijabarkan dalamsebuah bagan yang memperlihatkan tiga tahap perkembangan kebudayaan untukmembeberkan suatu gambaran sederhana mengenai perkembangan kebudayaanmanusia. Tiga tahap kebudayaan menurut van Peursen (1988 : 18) antara lain : 1. Tahap pemikiran mitis Yang dimaksud dengan tahap mitis ialah sikap manusia yang merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan, seperti dipentaskan dalam mitologi-mitologi bangsa-bangsa primitif. 2. Tahap pemikiran ontologis Yang dimaksud dengan tahap kedua atau ontologis ialah sikap manusia yang tidak hidup lagi dalam kepungan kekuasaan mistis, melainkan yang secara bebas ingin meneliti segala hal. Manusia mengambil jarak kepada sesuatu yang dahulu dirasakan sebagai kepungan. 3. Tahap pemikiran fungsional Tahap ketiga atau fungsional ialah sikap dan alam pikiran yang makin nampak pada manusia moderen, yang mana tidak lagi terpesona oleh lingkungannya (sikap mitis), dan tidak lagi dengan kepala dingin mengambil jarak dengan obyek penyelidikannya (sikap ontologis), namun manusia ingin mengadakan relasi-relasi baru, suatu kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya. Namun begitu, dalam ketiga pemikiran di atas, tidak dapat dikatakanbahwa suatu tahap pemikiran lebih maju dari tahap pemikiran lainnya, atausebaliknya, suatu tahap pemikiran lebih terbelakang daripada tahap pemikiranyang lain, sebab ketiganya memiliki peranan masing-masing. Pada tahap mitismisalnya, sekalipun bentuk kebudayaan dan cara pemanfaatan benda-benda sangatAditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 5
  • 6. berbeda dengan dunia modern, namun dalam sebuah mitos kita dapatmenyaksikan bagaimana manusia menyusun strategi, dan mengatur hubunganantara kekuatan alam dan manusia, sehingga dapat dipahami bahwa dalam duniamitis menampakkan suatu sifat manusiawi yang umum. Begitu juga dengankebudayaan timur dan kebudayaan barat, konsep mengenai timur-barat merupakansebuah konsep kontras kebudayaan. Konsep ini mediskuskan mengenai kontrasantara kebudayaan timur yang mempunyai pandangan yang mementingkankehidupan kerohanian, mistik, pikiran pre-logis, keramah-tamahan, dan kehidupansosial, sebaliknya kepribadian barat mempunyai pandangan hidup yangmementingkan kehidupan material, pikiran logis, hubungan berdasarkan asasguna, dan individualism. Namun mengenai konsep kontras kebudayaan timur-barat tersebut tidaklah mutlak benar. Bedasarkan hal tersebut, penulis berargumen bahwa ada sebuahketerkaitan yang erat antara tiga tahap kebudayaan tersebut dengan seni sebagaibentuk mimetis, seni sebagai bentuk ekspresi, dan seni sebagai bentuk fungsional.Hubungan keterkaitan tersebut tetap dilandasi dengan prinsip tidak ada dari salahsatu hal tersebut lebih maju dari yang lain atau sebaliknya, satu hal lebihterbelakang dari yang lain. Seperti yang dapat kita saksikan pada era kotemporersekalipun, konsep mimetik juga memiliki perannya, misalnya pada karya pop-artAndi Warhol, dimana pengaruh konsepsi mimesis nampak pada hampir sebagianbesar karya ilustrasi maupun desain grafis yang ia ciptakan.2.2. Seni Sebagai Bentuk Mimesis Pada tahap pemikiran mitis, manusia terkepung oleh kekuatan-kekuatangaib sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan,yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan, sepertidipentaskan dalam mitologi-mitologi bangsa-bangsa primitif. Begitu juga dengankesenian, kesenian sebagai artifact, yakni wujud dari kebudayan disamping ideadan activities juga dipengaruhi oleh hal-hal yang berbau mitos. Hal ini nampaksekali dalam berbagai macam bentuk kesenian, misalkan di Timur Tegah, terdapatsuku Nomad yang pada saat mereka memasang tenda-tenda pada sebuah oase,Aditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 6
  • 7. lalu memperagakan sebuah peristiwa dari zaman purbakala ketika para dewaberkelahi dengan raksasa yang merebut ruang hidup mereka. Suku itumemperagakan peristiwa tersebut dalam bentuk tarian-tarian meniru sang dewaseperti apa yang ada di dalam pikiran mereka dalam sebuah gerakan-gerakan. Di kepulauan Mentawai, terdapat Turuk Laggai yang merupakan tarianbudaya yang menyimbolkan binatang yang ada di lingkungan mereka tempati.Dalam turuk langgai, liukan tubuh dan rentakan kaki penari mengikuti iramagendang (gajeumak) seperti menirukan tingkah hewan seperti elang, ayam bahkanmonyet. Menurut salah seorang tokoh masyarakat di Mentawai mereka melakukantarian itu karena semua aktivitas keseharian mereka selalu berkaitan dengan alam.Semua tarian itu memiliki makna dan arti menyatu dengan lingkungan yangmereka tempati dan memiliki kearifan dalam menjaga lingkungannya. TurukLanggai merupakan tarian mimesis dari hawan seperti elang dan monyet, danbersifat mitis jika dihubungkan dengan mitologi-mitologi. Gambar 2.1. Turuk Linggai sebagai bentuk seni mimetik Sumber : Rus Akbar Okezone.com Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa manusia suka meniru gerakan-gerakan objek yang berasal dari luar dirinya karena memang manusia mempunyaiinsting untuk meniru (Soedarsono, 1992 : 98). Hal ini akan terlihat jelas padabudaya suku-suku primitif, ada sebuah suku yang melakukan tarian menyerupaigerak binatang ketika akan pergi berburu, gerak-gerak tersebut menyerupaiAditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 7
  • 8. binatang yang akan diburu. Ada pula tarian untuk meminta hujan, gerakan-gerakannya menyerupai binatang yang dijumpai pada saat hujan, katak misalnya.Tari-tarian yang merupakan peniruan (mimesis) dari gerak-gerak alam danbinatang tersebut mengandung harapan serta tujuan terterntu, yakni suatukekuatan yang dapat mempengaruhi kekuatan alam atau kekuatan binatang yangakan diburunya itu dengan sungguh-sungguh yang merupakan fungsi dari mitos,yaitu untuk mendapatkan jaminan bagi masa kini, dalam hal ini menjamin untukmendapatkan binatang buruan. Menyatunya masyarakat Mentawai dengan alam diwujudkan dalam TurukLanggai yang menirukan, atau mimesis dari alam dan hewan-hewan disekitarnya,merupakan ciri khusus dari alam pikiran mitis. Manusia tidak sama denganlambang atau binatang itu, tetapi lewat simbol itu dia ambil bagian, berpartisipasidengan daya-daya kekuatan disekitarnya, dan itulah yang diterangkan oleh mitos-mitos (Peursen, 1988 : 39). Partisipasi tersebut dapat digambarkan dengan carayang sederhana (gambar 2.2), terdapat subyek yaitu manusia (S) yang dilingkarioleh dunia (O), dimana manusia (S) masih terbuka dengan daya-daya kekuatanalam, namun dia dikepung oleh daya-daya tersebut (O). O S Gambar 2.2. Ilustrasi manusia ditengah daya-daya kekuatan alam (Sumber : Peursen, 1988 : 38) Berdasarkan ilustrasi di atas, maka penulis berargumen bahwa bentuk-bentuk seni yang bersifat mimesis, merupakan sebuah wujud partisipasi manusiadengan daya-daya kekuatan disekitarnya dengan jalan meniru gerak-gerak ataubentuk-bentuk yang ada di alam, baik itu tumbuhan, hewan, maupun gejala alam.Dengan tidak membeku pada kesenian-kesenian primitif, begitu juga dalam senirupa, istilah seni rupa mimesis yang berarti seni rupa peniruan alam, mulaidiperkenalkan pada masa Yunani klasik (Salam, 2000 : 01). Perupa Yunani padaAditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 8
  • 9. masa itu menciptakan seni patung, lukis dengan menirukan bentuk-bentuk alam.Bahkan menurut Socrates, sebuah karya seni rupa mimesis dengan dengan obyekmanusia seyogyanya tidak terpaku pada unsur ragawi dari orang yangditampilkan, namun jiwa atau perasaan dari orang tersebut haruslah turutdinyatakan oleh ekspresi mata. Dari pendapat Socrates tersebut, dapat dipahamimengenai unsur roh, atau apa-nya dari sebuah karya seni tersebut yangmerupakan substansi dari pemikiran mitis.2.3. Seni Sebagai Bentuk Ekspresi Ekspresi, dalam bahasa Inggris adalah expression yang dapat di artikansebagai "action of manifesting a feeling", atau tindakan mewujudkan perasaan.Expression sendiri berasal dari bahasa latin yaitu expressionem, kata benda daritindakan exprimere, yaitu "suatu tindakan atau penciptaan yang mengungkapkanperasaan" (http://dictionary.reference.com, diakses pada tanggal 13 Oktober2012). Pada karya seni, konsep seni ekspresivisme menganggap karya senisebagai rekaman emosi kreatornya. Karya seni merupakan sarana komunikasidengan manusia lain (Bangun, 2000 : 57). Memang demikian halnya, bahwa padaaliran ekspresionisme memandang bahwa karya seni sudah seharusnya menjadiungkapan isi batin dan perasaan sang seniman, tidak hanya sebagai tiruan alam(mimesis). Seniman Heri Dono mengutarakan (dalam Marianto, 2011 : 14) bahwaseni merupakan suatu ekspresi individual dan kolektif dari kehidupan nyata yangmemiliki muatan aspirasi intelektual dan tanda-tanda yang bisa dikenali atausimbolik. Pada tahap kedua dari bagian tiga tahap kebudayaan, yakni tahappemikiran ontologis, dimana sikap manusia yang tidak hidup lagi dalam kepungankekuasaan mistis, melainkan yang secara bebas ingin meneliti segala hal. Manusiamengambil jarak kepada sesuatu yang dahulu dirasakan sebagai kepungan.Manusia mulai meyusun suatu ajaran atau teori mengenai dasar hakikat segalasesuatu (ontologi) dan mengenai segala sesuatu menurut perinciannya (ilmu-ilmu). Ontologi mulai berkembang dalam kebudayaan-kebudayaan kuno yangsangat dipengaruhi oleh filsafat dan ilmu pengetahuan. Manusia mengambil jarakAditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 9
  • 10. terhadap sesuatu yang dirasakan mengepungnya, dan kemudian mengamatinya.Manusia mengambil jarak, mengamati, dan mengkotak-kotakkan, merupakansebuah ciri dari sikap ontologis. Tuntutan ini terutama diajukan terhadap dayapikir manusia, yang harus menempatkan diri berhadapan dengan dan lepas darisegala peristiwa, agar dapat melihat secara keseluruhan, dan mempetakannya.Alam pikiran ontologis hidup dalam ketegangan distansi (jarak) itu. (Peursen,1988 : 59). Sifat dasar dalam pikiran ontologis tersebut dapat dijelaskan dalamsebuah diagram (gambar 2.3), manusia (S) sudah lepas dari segala peristiwa didunia (O), manusia mengambil jarak dengan dunia, dan kemudian mengamatinya. O S Gambar 2.3. Ilustrasi manusia lepas dari daya-daya kekuatan alam Sumber : Peursen (1988 : 63) Sikap ontologis ini terlihat dalam diri seorang seniman ekspresionis-konstriktivis Wassily Kandinsky (1866-1944), pada tahun 1910 ia menulis teoridalam sebuah buku yang berjudul Uber das Geistige in Der Kunst yangmenjadi pegangan bagi kelompok atau para penganutnya. Beberapa diantara teoriyang merupakan visi Kandinsky tersebut kurang lebih : Suatu hasil seni terdiri dari dua unsur, yaitu unsur dalam dan unsur luar. Unsur dalam ialah emosi dalam jiwa seorang seniman; dan emosi tersebut mempunyai kemampuan untuk membangunkan emosi serupa dalam diri penonton. Unsur dalam, yaitu emosi, harus ada dalam sesuatu hasil seni. Apabila tidak maka hasil seni itu tidak lain hanyalah sebuah kebohongan saja. Unsur dalam inilah yang justru menentukan bentuk dari hasil seni tersebut. Aditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 10
  • 11. Akhirnya Kandinsky meunutup bukunya dengan suatu kesimpulan, bahwaada tiga sumber inspirasi bagi lahirnya sebuah lukisan, yaitu; (1) impresi, ialahkesan langsung dari alam yang ada di luar diri seorang seniman; (2) improvisasi,ialah ekspresi yang spontan dan tidak disadari dari sesuatu yang ada di dalamyang spiritual sifatnya; dan (3) komposisi, ialah ekspresi dari perasaan di dalamyang terbentuknya dengan lambat-lambat dan secara sadar, sekalipun tetapmenggunakan perasaan dan tidak rasional . Dapat dilihat bahwa Kandinsky membagi menjadi dua, yakni unsur dalamdan unsur luar. Unsur dalam ialah emosi dalam jiwa seorang seniman, dan unsurluar ialah impresi, yaitu kesan langsung dari alam yang ada di luar diri seorangseniman. Impresi tersebut dapat dipahami sebagai daya-daya kekuatan alam, yangterdiri dari aspek material dan non-material. Penulis berpendapat bahwaKandinsky membuat sebuah jarak antara emosi dalam jiwa seorang senimandengan impresi, sehingga terdapat tegangan di antara keduanya sehinggamenghasilkan ekspresi yang tidak lain merupakan sebuah sikap ontologis. Ekspresionisme adalah lawan dari Impresionisme yang hanya berusahauntuk melukiskan kesan optis dari sesuatu dan melihat dunia sebagai sebuahtempat yang indah penuh warna. Worringer (dalam Soedarso, 2000 : 99)mengatakan bahwa pada karya-karya ekspresionisme umumnya terdapat tendensike arah individuasi dan fragmentasi : pribadi-pribadi tidak ditumbuhkan nilai-nilaisosialnya melainkan justru dikembangkan kesadarannya akan isolasi danketerpisahannya. Dalam persoalan individuasi ini ialah adanya kesadaran dariseorang seniman untuk mengisolasi diri dan menemukan inspirasi, dalam hal ini,seniman, walaupun secara fisik berkumpul dengan orang lain, berada di dalamdunia dan peristiwa, namun secara psikologis ia terpisah. Paul Klee seorang tokohseni modern menemukan teorinya mengenai seni, dalam tulisannya ia mengatakanbahwa seni tidak menggambarkan yang tampak, melainkan membuat yang tidaktampak menjadi tampak. Penulis mencoba mengilustrasikan, seseorang yang berada di sebuahruangan dalam rumah tidak akan bisa melihat wujud rumah secara keseluruhandan utuh, karena dia berada di tengah-tengah obyek, lain halnya jika sesorangAditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 11
  • 12. tersebut keluar dari rumah, membuat jarak tertentu dari rumah itu, danmengisolasi diri dari obyek, maka akan terlihat wujud rumah secara utuh,sehingga akan ketahuan bagian-bagian mana yang rusak dan perlu diperbaiki,tembok rumah yang sudah mulai kusam sehingga perlu segara dicat ulang, pagaryang sudah mulai roboh perlu segera diperbaiki, atau kalau perlu diganti denganyang baru, timbul apa yang disebut oleh Plato yaitu idea-idea. Itulah mengapapada seni lukis ekspresionisme sebagian besar menggambarkan masalah-masalahumum, masalah-masalah sosial dan politis, keadaan masyarakat yang tidak sehat,dan sebagainya, sebab seniman ekspresionis benar-benar membuat sebuah jarakdengan realitas, dengan peristiwa, dan daya-daya kekuatan alam yangmengepungnya. Gambar 2.4. Lukisan Emil Nolde (1867-1956) Spectators at the Cabaret Sumber : Nolde Stiftung-Seebll (dalam http://www.thearttribune.com, diakses pada tanggal 13 Oktober 2012) Berdasarkan hal-hal tersebut maka penulis berargumen bahwa bentuk-bentuk seni yang bersifat ekspresif merupakan sebuah wujud dari pengambilanjarak terhadap sesuatu yang dirasakan mengepungnya, untuk kemudian diamati,dikotak-kotakkan, tuntutan ini terutama diajukan terhadap daya pikir manusia,Aditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 12
  • 13. yang harus menempatkan diri berhadapan dengan dan lepas dari segala peristiwa,agar dapat melihat secara keseluruhan, dan mempetakannya, yang merupakan cirikhas dari sikap ontologis. Pemikiran ontologis menerangkan sesuatu ataumenuturkan sesuatu yang sukar diungkapkan dengan cara lain. Seperti Plato yangdalam bukunya masih sering menggunakan mitos-mitos yang penuh bobot dalamrangka suatu teori, yaitu rangka ontologis yang meliputi ajaran tentang idea-idea(Peursen, 1988 : 65). Gambar 2.5. Lukisan Max Beckmann (1918-19), The Night Sumber : Max Beckmanns The Night to 21st Century (dalam http://www.actingoutpolitics.com, diakses pada tanggal 13 Oktober 2012)2.4. Seni dalam konsep Fungsional Seperti yang sudah disampaikan pada awal bab, tahap ketiga dalamkebudayaan yaitu tahapan fungsional ialah sikap dan alam pikiran yang makinnampak pada manusia modern, yang mana tidak lagi terpesona olehlingkungannya (sikap mitis), dan tidak lagi dengan kepala dingin mengambil jarakdengan obyek penyelidikannya (sikap ontologis), namun manusia inginmengadakan relasi-relasi baru, suatu kebertautan yang baru terhadap segalasesuatu dalam lingkungannya.Aditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 13
  • 14. Malinowski dengan teori fungsionalisme-nya dalam bukunya yangberjudul A Scientific Theory of Culture and Other Essays (1944) menyatakanbahwa (dalam Koentjaraningrat, 1987 : 171) segala aktivitas kebudayaan itusebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhannaluri makhluk manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya.Misalnya pada kesenian, sebagai salah satu unsur kebudayaan, terjadi mula-mulakarena manusia ingin memuaskan kebutuhan nalurinya akan keindahan. Dapatdipahami bahwa seni memiliki fungsi sebagai alat pemuas kebutuhan nalurimanusia akan keindahan, namun fungsi tersebut masih bersifat mendasar. Adapunfungsi-fungsi yang bersifat lanjutan, seperti yang diungkapkan bahwa senimemiliki fungsi sosial, karena hakikat seni adalah untuk dikomunikasikan, berartiuntuk ditonton, didengar, atau diresapkan (Hadi, 2006 : 291), sehingga dapatdipahami seni dalam fungsi sosial-nya seni sebagai penguat rasa kesetiakawanansosial atau kebersamaan. Sebagai contoh misalnya lukisan Affandi tentangPengemis Tidur yang menggugah kesadaran sosial (BP. ISI,1991 ; dalam Hadi,2006 : 292). Gambar 2.6. Lukisan Affandi (1907 1990), Pengemis Tidur Sumber : http://pelukisnusantara.wordpress.com, diakses pada tanggal 14 Oktober 2012Aditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 14
  • 15. Dengan demikian, dapat dimaknai bahwa kata fungsi selalumenunjukkan kepada pengaruh terhadap sesuatu yang lain, fungsional tidakberdiri sendiri, namun dalam sebuah hubungan tertentu untuk memperoleh artidan maknanya, manyangkut hubungan, pertautan, dan relasi. Sikap dasar dalampemikiran fungsional itu ; orang mencari hubungan-hubungan antara semuabidang itu, arti sebuah kata atau sebuah perbuatan maupun barang dipandangmenurut peran atau fungsi yang dimainkan dalam keseluruhan itu yang salingbertautan (Peursen, 1988 : 86). Gambaran dari sikap fungsional ini, dapatdiilustrasikan secara sederhana (gambar 2.7) dimana manusia sebagai subyek (S)masih berhadapan dengan dunia (O), tetapi bukan lagi sebagai sesuatu yang bulattertutup, namun subyek terbuka bagi obyek dan sebaliknya. S O Gambar 2.7. Ilustrasi sikap fungsional Sumber : diolah dari Peursen (1988 : 87) Akhirnya, tidak ada lagi sesuatu yang mempunyai arti, bila dipandanglepas dari dunia sekitarnya. Dalam sikap fungsional, sikap tegang menjadi cirikhas. Manusia mempertaruhkan diri, mengarahkan diri kepada sesuatu atauseseorang lain dengan segala gairah hidup dan emosi-emosinya, yang disebutdengan ekstensial. Sikap ekstensial merupakan ciri khas dari sikap fungsional. Pada tahap pemikiran ini, tidak hanya memperlihatkan benda-bendaberdasarkan asas fungsi dan manfaatnya, dimana bentuknya disesuaikan dengantujuan dari benda tersebut, namun harus artistik-fungsional juga. Misalnya, sebuahjembatan penyeberangan hendaknya tidak memenuhi syarat-syarat teknis sajaserta fungsinya dalam perhubungan, namun juga secara estetik berpadu harmonisdengan lingkungan sekitar. Sebuah karya seni dapat menunjukkan fungsiAditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 15
  • 16. jembatan penyeberangan dalam karya tersebut, bagaimana fungsinya dalamkehidupan manusia. Gambar 2.8. The Magdeburg Water Bridge, seni fungsional Sumber : http://scienceblogs.com, diakses pada tanggal 14 Oktober 2012 Gambar di atas (gambar 2.8) mungkin dapat mengilustrasikan mengenairupa sebuah seni dalam konsep fungsional, sedikit banyak terkesan modern danhi-tech, namun memang begitulah adanya. Yang perlu digarisbwahi tidak semuaseni dalam bentuk fungsional tampil dengan wujud modern dan hi-tech sepertipada faham operasionalisme yang meng-ekstrem-kan fungsi-fungsi dalam wujudsebuah benda dengan relasinya terhadap manusia, aspek-aspek teknis begituditonjolkan sehingga mengalahkan bentuk berdasarkan tujuannya.Operasionalisme terlihat begitu berlebihan atau sok modern/teknis. Pada masa evolusi kriya, benda-benda dibuat berdasarkan tujuannya.Kriya atau craft adalah suatu produk yang dibuat dengan menggunakan alat-alatsederhana yang mengutamakan keterampilan tangan melalui proses kerja bersifathome industry (Sarwono & Lubis, 2007 : 05). Barang yang dihasilkan digunakanuntuk memenuhi kebutuhan sehari-hari manusia, untuk memasak, alat dapur, danbarang-barang kebutuhan rumah tangga lainnya. Pada seni kriya, sebuah bendadibuat berdasarkan tujuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia namunAditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 16
  • 17. dengan bahan-bahan yang mudah di dapat dari alam atau lingkungan sekitar,dengan kata lain, artistik-fungsional. Gambar 2.9 Operasionalis, sok teknis. Sumber : http://piccsy.com, diakses pada tanggal 14 Oktober 2012 Pada tahap pemikiran fungsional ini, dimana seni menjelma menjadibentuk yang fungsional, penulis berpendapat dalam perkembangannya, senisetelah berintegrasi dengan disiplin-disiplin ilmu lain akan menjadi seni terapanlalu menjadi disiplin ilmu tersendiri yang disebut dengan desain. Di dalam desain,dimana terdapat upaya-upaya melakukan perubahan pada barang-barang ciptaanmanusia berdasarkan tujuannya, secara estetik-fungsional. Berawal dari masaevolusi kriya, design by drawing (metode desain dengan menggambar), hinggasampai pada masa kini new design method dengan pendekatan multi disiplin. Halini yang disebut oleh Imam Bukhori Zainudin bahwa desain merupakan sebuahupaya untuk mencari inovasi dengan menciptakan suatu produk baru yangmemenuhi kriteria (atau kondisi yang diinginkan), bersifat humaniora, dalam halini bentuk menjadi tujuan.Catatan :1. Wassily Kandinsky, Concerning The Spiritual in Art, George Witten Born, New York, 1947, pp.23-24 (dalam Soedarso, 2000 : 103).2. Ibid, p.77 (dalam Soedarso, 2000 :104)Aditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 17
  • 18. BAB III KESIMPULAN3.1. Kesimpulan Berdasarkan tujuan penulisan ilmiah dan konstruksi argumen pada babsebelumnya, maka penulis memiliki beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Bentuk-bentuk seni yang bersifat mimesis, merupakan sebuah wujud partisipasi manusia dengan daya-daya kekuatan disekitarnya dengan jalan meniru gerak-gerak atau bentuk-bentuk yang ada di alam, baik itu tumbuhan, hewan, maupun gejala alam, yang merupakan ciri dari sikap mitis. 2. Bentuk-bentuk seni yang bersifat ekspresif merupakan sebuah wujud dari pengambilan jarak terhadap sesuatu yang dirasakan mengepungnya, untuk kemudian diamati, dikotak-kotakkan, tuntutan ini terutama diajukan terhadap daya pikir manusia, yang harus menempatkan diri berhadapan dengan dan lepas dari segala peristiwa, agar dapat melihat secara keseluruhan, dan mempetakannya, yang merupakan ciri khas dari sikap ontologis. 3. Dalam perkembangannya, seni setelah berintegrasi dengan disiplin- disiplin ilmu lain akan menjadi seni terapan lalu menjadi disiplin ilmu tersendiri yang disebut dengan desain. Di dalam desain, dimana terdapat upaya-upaya melakukan perubahan pada barang-barang ciptaan manusia berdasarkan tujuannya, secara estetik-fungsional.3.2. Saran Keterbatasan pengetahuan penulis, maupun keterbatasan kajian pustaka,dirasa menyebabkan argumen penulis tidak begitu kuat, maka diperlukanpenelitian, atau kajian-kajian ilmiah lebih lanjut guna menyempurnakan,melengkapi, atau menyanggah argumen penulis, guna memberikan dinamika padakehidupan akademis. Sebuah ilmu pengetahuan dapat dikatakan hidup apabilaterdapat aktivitas-aktivitas penelitian, atau kajian dalam disiplin lmu tersebut.Aditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 18
  • 19. DAFTAR PUSTAKABangun, Sem C. 2000. Kritik Seni Rupa. Bandung : Penerbit ITBHadi, Y. Sumandiyo. 2006. Seni dalam Ritual Agama. Yogyakarta : Penerbit Buku PustakaKoentjananingrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Cetakan IX. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta______________. 2010. Sejarah Teori Antropologi I. Cetakan X. Jakarta : Penerbit Universitas IndonesiaMarianto, Dwi M. 2011. Menempa Quanta Mengurai Seni. Yogyakarta. Badan Penerbit ISI YogyakartaPeursen, van. 1988. Strategi Kebudayaan. Edisi Kedua. Yogyakarta : Penerbit KanisiusSalam, Sofyan. 2000. Seni Rupa Mimesis dan Modern/Kontemporer di Sulawesi- Selatan : Sebuah Pengantar tentang Perjalanan dan Persoalannya. Dewan Kesenian Sulawesi SelatanSarwono, Jonathan & Hary Lubis. 2007. Metode Riset untuk Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta. Penerbit AndiSp., Soedarso. 2000. Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern. Jakarta : Studio Delapan Puluhhttp://okezone.com, diakses pada tanggal 13 Oktober 2012http://www.thearttribune.com, diakses pada tanggal 13 Oktober 2012http://dictionary.reference.com, diakses pada tanggal 13 Oktober 2012http://www.actingoutpolitics.com, diakses pada tanggal 13 Oktober 2012http://pelukisnusantara.wordpress.com, diakses pada tanggal 14 Oktober 2012http://scienceblogs.com, diakses pada tanggal 14 Oktober 2012http://piccsy.com, diakses pada tanggal 14 Oktober 2012Aditya Nirwana (122 0701 412), Tugas Antropologi Seni - Mapping Teori Seni 19