Teori dan Gagasan Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zaid

download Teori dan Gagasan Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zaid

of 19

  • date post

    22-Jul-2015
  • Category

    Education

  • view

    440
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of Teori dan Gagasan Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zaid

Teori dan Gagasan Hermeneutika Nasr Hamid Abu ZaidMakalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat BahasaPengampu: Zamzam Afandi, Ph.D

Disusun Oleh:Indah KumalasariNIM: 1320411220

KONSENTRASI PENDIDIKAN BAHASA ARABPRODI PENDIDIKAN ISLAMPROGRAM PASCASARJANAUNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGAYOGYAKARTA2014A. PendahuluanDalam konteks Islam, hermeneutika sebagai sekumpulan metode, teori dan kefilsafatan yang terfokus pada problem pemahaman teks, sebenarnya telah muncul pada masa-masa awal ketika teks al-Quran dirasakan sulit dipahami dan problematik, yang dengan demikian harus dijelaskan, diterjemah, dan diinterpretasikan agar dapat dipahami. Problem hermeneutika menjadi semakin rumit setelah Nabi Muhammad SAW wafat karena tidak ada lagi otoritas tunggal untuk menjelaskan al-Quran, dan kaum muslimin telah berkenalan dengan berbagai bangsa, kebudayaan, dan peradaban lain.Dalam perjalanan sejarah, para ilmuan muslim menerapkan hermeneutika dalam pengertian yang sejalan dengan perkembangan disiplin ini pada masa mereka masing-masing untuk memahami sebuah teks suci yang mereka imani, al-Quran. Dalam perjalanan sejarah pula, perkembangan hermeneutika al-Quran tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ilmu-ilmu Islam (utamanya teori hukum Islam (Ul Al-fiqh), filsafat dan sufisme) dan ilmu-ilmu sosial dan humanitas. Oleh karena itu, hermeneutika al-Quran tidak hanya termasuk dalam apa yang disebut secara tradisional sebagai ilmu al-Quran dan Tafsir. Ia telah menjelma menjadi bidang multi dan interdisipliner. Hakikat interdisipliner dari disiplin ini nampak sangat jelas dalam hermeneutika al-Quran kontemporer, di mana penerapan ilmu-ilmu sosial dan humanitas tidak bisa diabaikan. Teori hermeneutika al-Quran Nasr Hamid Abu Zaid adalah salah satu contoh yang trend di masa ini. Berdasarkan latar belakang tersebut penulis akan menguraikan sedikit penjelasan tentang biografi Nasr Hamid Abu Zaid, teori, gagasan dan aplikasi penafsirannya.B. Biografi Nasr Hamid Abu ZaidNasr Hamid Abu Zaid adalah tokoh kontroversial akibat kritik keagamaan yang dilontarkannya di Mesir dan kepada kalangan muslim Sunni.[footnoteRef:2] Nasr Hamid di lahirkan di desa Qahafah dekat kota Thantha Mesir pada 10 Juli 1943 dan hidup dalam sebuah keluarga yang religious. Bapaknya adalah seorang aktivis Al-Ikhwn Al-Muslimn dan pernah dipenjara menyusul dieksekuensinya Sayyid Quthb. Sebagaimana anak-anak Mesir, dia mulai belajar dan menulis, serta kemudian menghafal al-Quran di kuttb ketika dia berusia empat tahun. Dan karena kecerdasannya, dia telah menghafal keseluruhan al-Quran pada usia delapan tahun, sehingga dia dipanggil Syaikh Nashr oleh anak-anak di desanya.[footnoteRef:3] [2: Kurdi, dkk, Hermeneutika Al-Quran dan Hadis , (Yogyakarta: Elsaq Press, 2010), hlm 116.] [3: Moch. Nur Ichwan, Meretas Kesarjanaan Kritis Al-Quran: Teori Hermeneutika Nasr Abu Zayd, (Jakarta: Teraju, 2003), cet. 1, hlm 15-16.]

Ketika Al-Ikhwn Al-Muslimn menjadi sebuah gerakan yang kuat dan memiliki cabang hampir di setiap desa, dia ikut bergabung dengan gerakan ini pada 1954, pada usia sebelas tahun. Dalam usia yang masih belia seperti ini, sebenarnya dia belum diperkenankan mengikutinya. Tetapi, dia merajuk kepada ketua cabang di desanya untuk memasukkannya dalam gerakan yang dipimpin oleh Sayyid Quthb ini, dan diperkenankan untuk menyenangkan hatinya. Karena namanya tercantum di dalam daftar anggota itulah maka Abu Zaid pun pernah dijebloskan dipenjara selama satu hari dan dilepaskan karena dia masih dibawah umur. Pada saat itu, dia tertarik pada pemikiran Syayyid Quthb dalam bukunya Al-Islm wa Al-Adlah Al-Ijtimiyyyah (Islam dan Keadilan Sosial), khususnya penekanannya pada keadilan manusiawi dalam menafsirkan Islam. Pada masa remajanya, dia biasa mengumandangkan adzan di masjid dan tak jarang sebagai imam shalat,[footnoteRef:4] hal yang biasanya di Mesir dilakukan oleh orang dewasa.[footnoteRef:5] [4: Tampaknya sederhana. Tetapi, berbeda dengan di Indonesia, imam shalat di masjid-masjid Mesir dipersyaratkan untuk hafal al-Quran.] [5: Moch. Nur Ichwan, Meretas Kesarjanaan , hlm 16.]

Abu Zaid menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di Thantha. Setelah kematian ayahnya, saat berusia empat belas tahun, dia harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya. Setelah lulus dari Sekolah Teknik Thantha pada 1960, dia bekerja sebagai seorang teknisi elektronik pada Organisasi Komunikasi Nasional di Kairo sampai pada tahun 1972. Minatnya pada kritik sastra tampak dalam tulisan-tulisan awalnya ketika dia berusia 21 yang dipublikasikan pada 1964, di dalam jurnal Al-Adab, jurnal pemimpin Amn Al-Khl. Dua artikel pentingnya saat itu adalah Hawl Adab Al-Ummal wa Al-Fallahin (tentang Sastra Buruh dan Petani)[footnoteRef:6] dan Azmah Al-Aghniyyah Al-Mishriyyah (Krisis Lagu Mesir).[footnoteRef:7] Dia sangat tertarik kepada sosialisme dan revolusi ketika keduanya menjadi trend dominan di Mesir pada tahun 1960-an. Dan dia mulai mengkritik Al-Ikhwn Al-Muslimn, kendatipun dia tidak mengekspresikan kritiknya itu dalam tulisan-tulisan awalnya.[footnoteRef:8] [6: Al-Adab, no. 5, thn. 9, (Oktober 1964), h. 310-11; artikel ini pada awalnya tidak mencantumkan nama penulisnya, namun pada Al-Adab, no. 8, thn. 9 (Januari 1965), editor mengoreksi bahwa penulis artikel itu adalah Nasr Hamid Abu Zayd. Keterangan ini penulis ambil dari Moch. Nur Ichwan, Meretas, hlm. 16-17.] [7: Al-Adab, no. 7 (1964), h. 406-8 dalam Moch. Nur Ichwan, Meretas, hlm. 17.] [8: Moch. Nur Ichwan, Meretas Kesarjanaan , hlm 16-17.]

Pada 1968, Abu Zaid mulai studinya di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab di Universitas Kairo. Dia masuk siang hari dan siangnya dia tetap bekerja. Dia menyelesaikan studinya pada 1972 dengan predikat cum laude. Setelah itu, dia diangkat sebagai asisten dosen. Karena kebijakan pimpinan pada jurusannya mewajibkan para asisten dosen baru untuk mengambil studi Islam sebagai bidang utama dalam riset Master dan Doktor, dia merubah bidangnya dari murni linguistic dan kritik sastra menjadi studi Islam, khususnya studi al-Quran. Abu Zaid sebenarnya enggan untuk mengambil subjek ini, mengingat pengalaman Muhammad Ahmad Khalafallah yang mengalami problem serius karena dia menggunakan studi kritik sastra (literer) atas narasi-narasi al-Quran dalam disertasinya. Namun, akhirnya dia menerima keputusan itu. Sejak saat itulah dia melakukan studi tentang al-Quran dan problem interpretasi dan hermeneutika.[footnoteRef:9] [9: Ibid.,, hlm 17.]

Pada 1975, Abu Zaid mendapatkan beasiswa Ford Foundation untuk melakukan studi selama dua tahun di American University di Kairo. Dua tahun kemudian dia meraih gelar MA dengan predikat cum laude dari Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Kairo dengan tesis yang berjudul Al-Ittijh Al-Aql fi Al-Tafsr: Dirsah fi Qadhiyyat Al-Majz fi Al-Quran inda Al-Mutazillah (Rasionalisme dalam Tafsir: Sebuah Studi tentang Problem Metafor menurut Mutazillah), dan dipublikasikan pada 1982. Setelah itu, dia diangkat menjadi dosen.[footnoteRef:10] [10: Ibid.,, hlm 17-18.]

Selama periode 1976-1978, Abu Zaid mengajar bahasa Arab untuk orang-orang Asing di Centre for Diplomats dan Kementrian Pendidikan di samping tetap mengajar di Universitas Kairo. Pada 1978 dia menjadi fellow pada Centre for Middle East Studies di Universitas Pensylvania, Philadelphia, Amerika Serikat, di mana dia mempelajari ilmu-ilmu sosial dan humanitas, khususnya teori-teori tentang cerita rakyat (folklore). Pada periode inilah, Abu Zaid menjadi akrab dengan hermeneutika Barat. Dia menulis sebuah artikel Al-Hirminiyq wa mudhilat Tafsr Al-Na (Hermeneutika dan Problem Penafsiran Teks), yang menurut pengakuannya merupakan artikel pertama tentang hermeneutika yang ditulis dalam bahasa Arab.[footnoteRef:11] [11: Ibid.,, hlm 18.]

Pada 1981, Abu Zaid meraih gelar PhD-nya dalam bidang studi Islam dan Bahasa Arab dari jurusan yang sama dengan predikat cum laude. Dia menulis disertasi berjudul Falsafah Al-Tawl: Dirsah f Tawl Al-Quran inda Muhy Al Dn ibnu Arab (Filsafat Takwil: Studi Hermeneutika Al-Quran Muhy Al-Din ibnu Arabi) yang dipublikasikan pada 1983. Abu Zaid dipromosikan sebagai asisten professor pada 1982, tahun di mana dia mendapatkan penghargaan Abd Al-Azz Al-Ahwn untuk Humanitas karena konsernya pada humanitas dan budaya Arab.Selama 1985-1989, dia menjadi seorang professor tamu pada Osaka University of Foreign Studies, Jepang. Pada 1987, ketika dia masih berada di Jepang, dia dipromosikan sebagai Associate Profesor. Periode Jepang tampaknya merupakan fase sangat produktif baginya. Dalam pepriode inilah, Abu Zaid menyelesaikan bukunya Mafhm Al-Na: Dirsah f Al-Ulm Al-Qurn (Konsep Teks: Studi tentang Ilmu-ilmu Al-Quran) dan menulis artikel-artikel lainnya, yang sebagiannya nanti dipublikasikan dalam Naqd Al-Khithb Al-Dn (Kritik atas Wacana Keagamaan). Sebagian besar artikel yang dimuat dalam buku terakhir ini dipublikkasikan pada akhir 1980-an dan awal 1990-an.[footnoteRef:12] [12: Ibid.,, hlm 20.]

Pada tahun 1992, dia menikah dengan Dr. Ibtuhal Yunis pada saat usianya menginjak 49 tahun. Di tahun yang sama pula, ia mengajukan karya-karyanya untuk dipromosikan mendapat gelar professor penuh di Fakultas Sastra Universitas Kairo. Diantaranya sejumlah karyanya yang diajukan adalah Naqd al-Kitb al-Dn yang diterbitkan pertama kalinya pada tahun 1992 dan langsung membuat namanya melejit di dunia Islam. Namun di tahun ini dimulailah kasus Abu Zayd di persidangan yang berakhir dengan vonis murtad atas dirinya dan dituntut menceraikan istrinya pada tahun 1995. Karena karyanya dinilai tidak bermutu, dan promosinya ditolak bahkan dinyatakan menyimpang dan merusak. Prof. Abdul Shabur Shahin, salah satu penguji ketika ia mengajukan promosi profesornya, dalam khutbahnya di masjid Amr bin A menyatakan bahwa Abu Zayd telah murtad, yang kemudian di-amin-kan oleh para khatib lainnya di masjid-masjid pada hari jumat berikutnya, Mes