TEKNIK INTERPRETASI PEMANDU DI MUSEUM GEOLOGI …

of 117/117
TEKNIK INTERPRETASI PEMANDU DI MUSEUM GEOLOGI BANDUNG PROYEK AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan Program Diploma IV Program Studi Manajemen Pengaturan Perjalanan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung Disusun oleh : SHELLA MONICA 201520546 PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENGATURAN PERJALANAN SEKOLAH TINGGI PARIWISATA BANDUNG 2019
  • date post

    18-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    1
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of TEKNIK INTERPRETASI PEMANDU DI MUSEUM GEOLOGI …

GEOLOGI BANDUNG
PROYEK AKHIR
Program Diploma IV
Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung
SEKOLAH TINGGI PARIWISATA
NAMA : SHELLA MONICA
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Andar Danova L. Goeltom, S.Sos., M.Sc NIP.19710506 199803 1 001
Menyetujui,
-Napoleon Hill-
Papi dan Mami tercinta,
Saya persembahkan hasil karya ini sebagai tanda terima kasih yang tak terhingga.
Terima kasih untuk pengorbanan, motivasi, serta doa yang selalu kalian berikan.
Semoga karya ini dapat menjadi awal kebanggaan dari saya untuk kalian.
Shelley dan Ferdy,
Terima kasih atas waktu yang kalian luangkan untuk selalu mendengarkan keluh
kesah saya di kala penat dan selalu memberikan penghiburan yang kembali
melunturkan kepenatan saya.
Rekan – Rekan MPP 2015,
Terima kasih atas suka dan duka yang telah kita lewati bersama, serta seluruh
dukungan kalian yang sangat berarti untuk saya dalam melewati empat tahun
perkuliahan ini.
Dosen dan Staf MPP serta Dosen Pembimbing,
Terima kasih atas ilmu, bimbingan, dukungan dan segala macam pelajaran yang
telah diberikan. Jasa Bapak dan Ibu akan selalu bermanfaat bagi saya.
PERNYATAAN MAHASISWA
Nama : Shella Monica
NIM : 201520546
1. Tugas Akhir/Proyek Akhir/Skripsi yang berjudul:
“Teknik Interpretasi Pemandu di Museum Geologi Bandung”
ini adalah merupakan hasil karya dan hasil penelitian saya sendiri, bukan
merupakan hasil penjiplakan, pengutipan, penyusunan oleh orang atau pihak
lain atau cara-cara lain yang tidak sesuai dengan ketentuan akademik yang
berlaku di STP Bandung dan etika yang berlaku dalam masyarakat keilmuan
kecuali arahan dari Tim Pembimbing.
2. Dalam Tugas Akhir/Proyek Akhir/Skripsi ini tidak terdapat karya atau
pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang atau pihak lain kecuali
secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan
disebutkan sumber, nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
3. Surat Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya, apabila dalam naskah
Tugas Akhir/Proyek Akhir/Skripsi ini ditemukan adanya pelanggaran atas
apa yang saya nyatakan di atas, atau pelanggaran atas etika keilmuan, dan/atau
ada klaim terhadap keaslian naskah ini, maka saya bersedia menerima sanksi
akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena karya tulis ini
dan sanksi lainnya sesuai dengan norma yang berlaku di Sekolah Tinggi
Pariwisata Bandung ini serta peraturan-peraturan terkait lainnya.
4. Demikian Surat Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya untuk
dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Museum merupakan lembaga atau institusi yang memiliki peran dalam
mengoleksi, melestarikan, dan mempresentasikan objek-objek. Dalam hal ini, salah
satu aspek penting yang dibutuhkan dalam terealisasinya peran dari Museum itu
sendiri adalah pemandu untuk melakukan pemanduan atau interpretasi objek. Demi
tercapainya tujuan utama dari kegiatan interpretasi yaitu menyampaikan dengan
baik informasi / pesan / pengetahuan kepada pengunjung, adapun teknik khusus
yang dibutuhkan dalam kegiatan interpretasi tersebut, yakni getting organized
(terorganisir), develop structure and thematic (terstruktur dan bertema), personal
delivery skills (keterampilan menyampaikan pesan), use props (penggunaan alat
peraga), dan drama (peran dan alur cerita).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menilai kelima aspek dalam
teknik interpretasi tersebut yang dilakukan oleh pemandu di Museum Geologi
Bandung. Adapun hasil dari penelitian ini berguna untuk mempertahankan maupun
meningkatkan kemampuan interpretasi personal di Museum Geologi Bandung.
Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
dengan pendekatan kuantitatif. Yang menjadi objek di dalam penelitian ini adalah
pemandu / interpreter di Museum Geologi, sedangkan subjeknya adalah
pengunjung yang datang ke Museum Geologi yang menggunakan jasa pemanduan.
Jumlah sampel yang akan digunakan pada penelitian ini adalah sebanyak 345
pengunjung. Dalam menentukan jumlah sampel tersebut, peneliti menggunakan
tabel Isaac & Michael. Adapun pelaksanaan survei dan wawancara serta studi
kepustakaan sebagai teknik pengumpulan datanya, dengan menggunakan alat
pengumpulan data yaitu kuesioner dan pedoman wawancara.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan peneliti,
diketahui bahwa dari kelima teknik tersebut, sebagian besarnya dinilai sudah berada
di posisi baik menuju sangat baik. Namun terdapat beberapa indikator pada
beberapa dimensi yang dinilai kurang baik atau belum dilaksanakan, dimana skor
terendah terdapat pada dimensi use props (penggunaan alat peraga) dengan
perolehan nilai 1198. Adapun skor tertinggi terdapat pada dimensi getting
organized (terorganisir) dengan nilai 1494,75. Penelitian ini menghasilkan
rekomendasi bagi pemandu maupun Museum Geologi itu sendiri untuk
mempertahankan yang sudah baik, meningkatkan yang kurang baik, maupun
melengkapi teknik interpretasi yang belum dilaksanakan.
Kata kunci: Museum, Pemandu, Interpretasi, Teknik Interpretasi.
ABSTRACT
Museum is an institution that have roles in collecting, preserving, and
presenting objects. In this case, an important aspect of realising the roles of the
Museum is a guide to describe or interpretate objects. The main objective of the
guide is to convey information / messages / knowledge well to visitors. Specific
techniques needed in the interpretation process are getting organized, develop
structure and thematic, personal delivery skills, use props, and drama (roles and
storylines).
This study aims to find out and assess the five aspects of the interpretation
technique carried out by guides at the Bandung Geology Museum. The results of
this study are useful for maintaining and improving personal interpretation skills
at the Bandung Geology Museum.
The method used in this study is a descriptive method with a quantitative
approach. The object in this study is a guide / interpreter at the Geology Museum,
while the subject is visitors who come to the Geology Museum whom use the
scouting services. The number of samples to be used in this study were 345 visitors.
In determining the number of samples, researchers used the Isaac & Michael table.
The implementation of surveys and interviews as well as library studies as a
technique for collecting data, using data collection tools, namely questionnaires
and interview guidelines.
Based on the results of the research and discussion conducted by the
researcher, it is known that of the five techniques, most of them are considered to
be in a good to the very good position. However, there are several indicators in
several dimensions which are considered not good or have not been implemented.
The lowest score is in the dimension of use props, scored 1198. And the highest
score is in the dimension of getting organized, scored 1494.75. This research
resulted in recommendations for guides and the Geology Museum itself to maintain
the good, improve the poor, and complement the interpretation techniques that have
not been implemented.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat yang
telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan proyek akhir ini dengan
judul “Teknik Interpretasi Pemandu di Museum Geologi Bandung”.
Proyek akhir ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan dalam
menyelesaikan program Diploma IV, Program Studi Manajemen Pengaturan
Perjalanan di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.
Dalam proses penyusunan proyek akhir ini, penulis mendapatkan bantuan dari
banyak pihak, sehingga penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Faisal, MM.Par., CHE., selaku Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata NHI
Bandung.
2. Bapak Andar Danova L. Goeltom, S.Sos., M. Sc., selaku Kepala Bagian
Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan.
3. Ibu Endang Komesty Sinaga, MM.Par., CHE., selaku Ketua Jurusan
Perjalanan dan pembimbing I.
4. Bapak Wisnu Prahadianto, SE., M.Sc., selaku Ketua Program Studi
Manajemen Pengaturan Perjalanan.
6. Seluruh jajaran Dosen dan staf Program Studi Manajemen Pengaturan
Perjalanan.
7. Bapak Erwan Setiawan, S.Pd., selaku pengarah penelitian dari pihak Museum
Geologi Bandung.
8. Seluruh staf Museum Geologi Bandung yang sangat kooperatif dalam
membantu penulis mengumpulkan data untuk penyusunan proposal.
9. Keluarga yang selalu memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis.
10. Seluruh pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah
memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis selama penyusunan
proposal ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan di dalam proyek akhir ini, baik
dalam segi materi maupun penulisan. Penulis sangat menerima kritik dan saran
yang membangun untuk penyempurnaan proyek akhir ini, sehingga bermanfaat
bagi semua pihak.
Bandung, Juli 2019
B. Rumusan Masalah…..……………………………….……… 8
C. Tujuan Penelitian…………………………………………… 8
D. Manfaat Penelitian…………………………………….……. 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori…………………………………………...…… 10
B. Kerangka Pemikiran………………………………………... 24
BAB III METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian……………………………………… 25
B. Objek Penelitian.…………………………………………… 26
D. Metode Pengumpulan Data……………………………….... 29
E. Definisi Operasional Variabel……………………………… 32
F. Matriks Operasional Variabel………………………….…… 35
G. Analisis Data………………………………….…………….. 36
H. Jadwal Penelitian………………………………………….… 40
A. Hasil Penelitian…………………………….……………….. 41
A. Simpulan…………………………………………………… 80
B. Rekomendasi……………………………………………….. 82
DAFTAR PUSTAKA.....………………………………………………..….. 86
BANDUNG TAHUN 2016 – 21 JANUARI 2019…...….……..…… 2
2 DATA PEMANDU DI MUSEUM GEOLOGI BANDUNG…….…. 3
3 KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN DALAM
MENYEDIAKAN ATAU MENGGUNAKAN
INTERPRETASI PERSONAL…………………………………..… 19
GEOLOGI BANDUNG………………….…………........................ 27
ISAAC MICHAEL………………………….……………………… 28
7 MATRIKS OPERASIONAL VARIABEL………………………… 35
8 HASIL UJI VALIDITAS………….…………………………..…… 38
9 HASIL UJI RELIABILITAS………………………………………. 39
10 JADWAL PENELITIAN………………………………………..…. 40
DIMENSI GETTING ORGANIZED (TERORGANISIR)
PADA INTERPRETASI PEMANDU……………………………... 41
(TERSTRUKTUR DAN BERTEMA)
DIMENSI PERSONAL DELIVERY SKILLS
DIMENSI DRAMA (PERAN DAN ALUR CERITA)
PADA INTERPRETASI PEMANDU…………………………..…. 50
MINIMUM PADA GARIS KONTINUM………………….……… 51
17 HASIL PEMBOBOTAN FREKUENSI PENILAIAN
MENGENAI DIMENSI GETTING ORGANIZED
MENGENAI DIMENSI DEVELOP STRUCTURE
PADA INTERPRETASI PEMANDU…………………………..…. 59
(KETERAMPILAN MENYAMPAIKAN PESAN)
ALAT PERAGA) PADA INTERPRETASI PEMANDU……….... 74
21 HASIL PEMBOBOTAN FREKUENSI PENILAIAN
MENGENAI DIMENSI DRAMA (PERAN DAN
ALUR CERITA) PADA INTERPRETASI PEMANDU…….…… 77
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR HALAMAN
3 RENTANG PENILAIAN PENGUNJUNG
MENGENAI DIMENSI GETTING ORGANIZED
(TERSTRUKTUR DAN BERTEMA) PADA
DIMENSI PERSONAL DELIVERY SKILLS
DIMENSI DRAMA (PERAN DAN ALUR CERITA)
PADA INTERPRETASI PEMANDU…………………………….. 79
4 HASIL TURNITIN
5 BIODATA PENULIS
Museum merupakan tempat penyimpanan koleksi yang memiliki nilai
sejarah, artistik, dan nilai ilmiah dimana di dalamnya terdapat kenangan masa
lalu, maupun kebudayaan. Menurut The International Council of Museums dan
The Museum Association of UK, Museum merupakan lembaga atau institusi
permanen yang mengoleksi, mendokumentasikan, melestarikan, memamerkan
dan menafsirkan bukti material serta informasi mengenai manusia dan
lingkungannya yang terbuka untuk publik (Wulandari, 2014).
Adapun pernyataan dari Pastorelli (2003) yang mengungkapkan mengenai
fungsi dari Museum itu sendiri bahwa pada dasarnya peran utama dari
keberadaan Museum adalah untuk mengoleksi, melestarikan dan
mempresentasikan objek-objek.
Salah satu Museum yang terdapat di Kota Bandung yaitu Museum Geologi,
berlokasi di Jl. Diponegoro No. 57, Cibeunying Kaler, Kota Bandung. Museum
yang memiliki visi sebagai sumber geologi Indonesia ini, pertama kali
diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929. Sebagai salah satu Museum yang cukup
dikenal oleh masyarakat luas, Museum ini memiliki jumlah kunjungan yang
cukup banyak setiap tahunnya.
kunjungan Museum Geologi Bandung dalam tiga tahun terakhir:
TABEL 1
NO. KATEGORI
JUMLAH PENGUNJUNG
JANUARI
2019
2 Umum 68.552 47.583 36.743 4.786 157.664
3 Asing 3.358 3.131 3.278 79 9.846
4 Tamu Khusus 3.896 6.733 4.717 78 15.424
TOTAL 641.535 493.940 500.713 32.479 1.668.667
Sumber: Museum Geologi Bandung (2019)
Dijelaskan secara rinci mengenai jumlah kunjungan Museum Geologi
Bandung seperti pada tabel 1 bahwa dalam tiga tahun terakhir, pengunjung
Museum Geologi di dominasi oleh pelajar / mahasiswa dengan jumlah
1.485.733 orang. Adapun total pengunjung secara keseluruhan dari tahun 2016
sampai dengan 21 Januari 2019 sebanyak 1.668.667 orang.
Jumlah kunjungan tersebut dapat dikatakan jumlah yang cukup banyak,
dimana rata-rata kunjungan mencapai 30.000 sampai dengan 40.000 orang per
bulannya. Adapun hasil wawancara dengan salah satu pemandu di Museum
Geologi pada saat pelaksanaan pra-survei bahwa para pemandu memiliki
permasalahan dalam penanganan grup pada saat jumlah kunjungan yang banyak
secara bersamaan, dimana para pengunjung tersebut hanya di handle oleh
sepuluh orang pemandu dengan pembagian tugas atau jadwal yang diatur
sedemikian rupa. Berikut data para pemandu di Museum Geologi Bandung:
TABEL 2
NO. NAMA USIA PENDIDIKAN MASA
KERJA
Komunikasi 12 tahun
2 Asri Ratnasari, S.S 33 tahun S1 Sastra Inggris 12 tahun
3 Danang P. Hadiputro, S.I.
Kom 35 tahun
Komunikasi 10 tahun
4 Eka Sulistiawati, S.A.P 38 tahun S1 Administrasi Publik 10 tahun
5 Erwan Setiawan, S.Pd. 35 tahun S1 Pendidikan Bahasa 8 tahun
6 Noer Isti Afrianti, S.S 32 tahun S1 Sastra Inggris 12 tahun
7 Resti Sari Irawati, S.A.B 33 tahun S1 Administrasi Bisnis 12 tahun
8 Rully Siti Rodiyah, A.Md. 33 tahun D3 Usaha Perjalanan
Wisata 12 tahun
9 Sarah Salviana, S.A.B 31 tahun S1 Administrasi Bisnis 10 tahun
10 Silvia Rizka Agustina,
Berdasarkan tabel 2, dapat dijelaskan bahwa keseluruhan pemandu di
Museum Geologi memiliki jenjang pendidikan minimal D III, serta seluruhnya
sudah bekerja di Museum Geologi lebih dari tujuh tahun. Adapun Museum
Geologi menyediakan layanan pemanduan dalam dua bahasa asing yaitu bahasa
Inggris dan bahasa Jerman. Dalam hal ini, Pemandu di Museum Geologi
memiliki tugas untuk mengajak pengunjung berkeliling Museum, serta
memberikan informasi / pesan / pengetahuan secara lengkap dan akurat sesuai
dengan faktanya, baik mengenai informasi umum seperti letak toilet serta
regulasi yang berlaku, maupun koleksi benda peraga secara keseluruhan yang
terdapat di Museum Geologi.
Museum Geologi, hal tersebut tidak jauh berbeda dengan definisi pemandu
wisata menurut International Association of Tour Manangers and the European
Federation of Tourist Guide Associations yaitu, pemandu wisata merupakan
seseorang yang memandu pengunjung dalam bentuk grup maupun individual,
baik dari luar negeri maupun berasal dari wilayah sekitar monumen, situs dan
Museum. Dalam hal ini, pemandu bertugas untuk melakukan interpretasi
dengan cara yang menginspirasi dan menghibur, menggunakan bahasa yang
sesuai dengan pengunjung. (Pastorelli, 2003)
Adapun penjelasan mengenai interpretasi menurut Sam H. Ham, bahwa
interpretasi bukan hanya sekadar pemberian informasi, akan tetapi sebagai
mekanisme untuk menghasilkan dan memberikan makna untuk mengikat orang
dengan tempat atau situs yang mereka kunjungi sehingga menciptakan perasaan
dan empati mengenai tempat atau situs tersebut, bahkan mengenai hal yang
terjadi pada masa lalu. (Ward & Wilkinson, 2006)
Sedangkan menurut National Association for Interpretation, interpretasi
merupakan proses komunikasi yang menjalin hubungan emosional dan
intelektual antara ketertarikan peserta dengan makna yang melekat pada situs
yang bersangkutan. (Ward & Wilkinson, 2006)
Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa interpretasi merupakan
sebuah proses komunikasi yang di dalamnya bukan hanya sebagai pemberian
informasi, namun juga mengandung makna yang dapat mempengaruhi peserta
secara emosional dan intelektual untuk menciptakan pikiran yang mendalam
mengenai suatu tempat atau situs yang bersangkutan.
Penjelasan lain yang melengkapi definisi dari interpretasi menurut Ward &
Wilkinson (2006), bentuk interpretasi dibagi menjadi dua tipe dasar, yaitu
interpretasi personal dan interpretasi non-personal. Interpretasi personal
melibatkan bentuk interaksi fisik antara interpreter / pemandu dengan
pengunjung, sedangkan interpretasi non-personal adalah sebuah komunikasi
dalam hal menyampaikan pesan tanpa interaksi fisik, misalnya seperti brosur,
papan petunjuk dan sebagainya.
personal, yakni:
Personal interpretation is delivered face to face. It is usually delivered by
staff, volunteers or concession operators. Staff in uniform are perceived
as a highly credible source of information, so personal interpretation can
be a powerful and effective medium to influence visitor perceptions and
behavior.
disampaikan secara langsung atau bertatap muka. Biasanya dilakukan oleh staf,
sukarelawan atau pemegang lisensi / izin. Staf yang berseragam dianggap
sebagai sumber informasi yang sangat credible. Oleh sebab itu, interpretasi
personal dapat menjadi media yang kuat dan efektif dalam mempengaruhi
persepsi dan perilaku pengunjung.
personal merupakan penyampaian informasi maupun pengetahuan yang
bermakna secara langsung atau tatap muka antara interpreter / pemandu dan
pengunjung, dengan harapan informasi / pesan / pengetahuan yang disampaikan,
dapat diterima dengan baik serta berpengaruh terhadap perubahan perilaku dan
persepsi pengunjung terhadap situs atau tempat yang dikunjungi.
Hal ini disebutkan pula dalam penelitian terkait mengenai Standard Kualitas
Pemandu Museum dalam Penyampaian Informasi Kepada Pengunjung di
Museum Borobudur oleh Setiawan & Prabawa (2017) dimana dalam upaya
untuk mengetahui lebih dalam mengenai standar interpretasi / pemanduan yang
dilakukan oleh Museum Borobudur dengan pemikiran bahwa dengan
menggunakan cara interpretasi / pemanduan yang baik, dapat membantu
menyampaikan informasi serta isu dan pesan yang dapat diterima dengan baik
oleh pengunjung, dalam hal ini bermaksud untuk mengajak pengunjung
melestarikan cagar budaya yang ada.
Adapun Logan (2005) menyebutkan bahwa terdapat lima aspek yang perlu
diperhatikan dalam teknik interpretasi personal, yaitu getting organized
(terorganisir / teratur), develop structure and thematic (terstruktur dan bertema),
personal delivery skills (keterampilan dalam menyampaikan sesuatu), use props
(menggunakan alat peraga), dan drama (peran dan alur cerita).
Lima teknik tersebut merupakan dimensi yang dipakai dalam penelitian ini,
serta indikator yang diturunkan dari lima teknik tersebut adalah sebagai berikut:
1. Getting organized: organizing an activity (mengorganisir kegiatan), dan
welcoming visitors (menyambut pengunjung).
2. Develop structure and thematic: introduce the topic using themes
(memperkenalkan topik dengan menggunakan tema), serta involve the
audience (melibatkan pengunjung).
3. Personal delivery skills: three communicating tools (tiga alat komunikasi),
managing large groups (mengatur grup besar), dan roving interpretation
(interpretasi kasual / santai).
5. Drama: drama dan storytelling (peran dan alur cerita).
Secara keseluruhan, teknik interpretasi personal dinilai sangatlah penting
diketahui dan dilakukan oleh seluruh pemberi jasa interpretasi personal atau
pemandu dalam upaya mencapai tujuan-tujuan penting dalam sebuah
interpretasi, seperti informasi / pesan / pengetahuan yang tersampaikan dengan
baik kepada pengunjung, memberikan pengalaman yang berkesan, hingga
menarik pengunjung untuk berkunjung kembali ke tempat atau situs tersebut.
Seperti ungkapan Logan (2005) mengenai keuntungan dalam menggunakan
interpretasi personal, secara umum dijelaskan bahwa dengan menggunakan
interpreter / pemandu yang tepat, yaitu terlatih dan berlisensi, suatu kunjungan
dapat memberikan pengalaman yang sangat berkesan bagi wisatawan.
Berdasarkan seluruh paparan yang telah dijelaskan, penelitian ini disusun
dengan tujuan mengetahui teknik interpretasi yang digunakan oleh para
pemandu di Museum Geologi Bandung dalam menyampaikan informasi / pesan
/ pengetahuan kepada pengunjung sebagai tugas dan tanggung jawabnya,
khususnya performance dan teknik interpretasi yang digunakan oleh pemandu
dalam menangani kunjungan wisatawan dengan jumlah banyak. Peneliti tertarik
dan bermaksud untuk mengkaji lebih dalam mengenai teknik interpretasi
tersebut dalam bentuk penelitian dengan judul “Teknik Interpretasi Pemandu di
Museum Geologi Bandung”.
B. Rumusan Masalah
dari penelitian ini adalah “Bagaimana teknik interpretasi pemandu di Museum
Geologi Bandung?”
rumusan masalah dalam penelitian ini, yakni:
1. Bagaimana aspek getting organized pada interpretasi pemandu di Museum
Geologi Bandung?
2. Bagaimana aspek develop structure and thematic pada interpretasi pemandu
di Museum Geologi Bandung?
3. Bagaimana aspek personal delivery skills pada interpretasi pemandu di
Museum Geologi Bandung?
4. Bagaimana aspek use props pada interpretasi pemandu di Museum Geologi
Bandung?
5. Bagaimana aspek drama pada interpretasi pemandu di Museum Geologi
Bandung?
C. Tujuan Penelitian
Secara umum, tujuan dari penelitian ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu
tujuan formal dan tujuan operasional.
1. Tujuan Formal
Secara formal, penelitian ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat
kelulusan dalam menyelesaikan program Diploma IV, Program Studi
Manajemen Pengaturan Perjalanan di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.
2. Tujuan Operasional
Tujuan operasional dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menilai
teknik interpretasi yang digunakan oleh pemandu di Museum Geologi
Bandung dalam menyampaikan informasi / pesan / pengetahuan kepada
pengunjung sebagai tugas dan tanggung jawabnya.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
perkembangan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan dalam bidang
perjalanan wisata, khususnya teknik interpretasi.
2. Manfaat Praktis
serta pemandu, dalam rangka mempertahankan maupun meningkatkan
kemampuan interpretasi personal di Museum Geologi Bandung.
10
Museum merupakan salah satu daya tarik wisata yang hampir seluruh
bagian di dalamnya menyediakan hal-hal yang berbau edukasi /
pendidikan. Menurut Moore (2005), keberadaan Museum sebagai daya
tarik wisata selalu bersaing dengan daya tarik lainnya dalam hal menarik
minat pengunjung, baik dengan atraksi warisan maupun rekreasi. Dalam
hal ini, Museum dirasa harus meningkatkan inisiatif dengan cara membuat
reaksi yang lebih proaktif dalam menghadapi tantangan persaingan yang
terjadi di zaman sekarang ini. Setiap Museum harus benar-benar
memahami tujuan dari keberadaannya, serta apa yang perlu dicapai dari
keberadaan Museum dan bagaimana mewujudkan tujuan tersebut.
Menurut Goode (1895) dalam Moore (2005), Museum dapat didirikan
dan dipertahankan dengan beberapa ketentuan sebagai berikut:
a. Organisasi yang stabil dan sarana pendukung yang memadai.
b. Sebuah rencana pasti, diciptakan dan dibangun berdasarkan peluang
serta kebutuhan komunitas atau masyarakat.
c. Bahan pendukung, menggunakan koleksi dan fasilitas yang baik.
d. Staff atau pekerja, dan kurator yang berkompeten.
e. Tempat / bangunan yang sesuai.
11
f. Peralatan dan aksesoris yang layak, bahan instalasi, dan mechanical
assistant.
adalah untuk mengoleksi, melestarikan dan mempresentasikan objek-
objek. Suatu edukasi berkembang dari sebuah keinginan untuk
menyediakan informasi bagi publik mengenai koleksi yang ditampilkan di
Museum.
(2007: 1) yang tidak terlalu berbeda mengenai peran utama dari
keberadaan sebuah Museum yakni, “the role of Museums is no longer
limited to the conservation of objects: they also have to share and
continuously reinterpret them”, yang berarti bahwa peran Museum tidak
lagi terbatas pada konservasi benda, melainkan juga harus
diinterpretasikan kembali.
dalam sebuah perjalanan wisata, maupun di sebuah daya tarik wisata.
Pemandu wisata yang terdapat di suatu daya tarik wisata atau dapat disebut
site guide merupakan salah satu media perantara yang bertugas dalam
memberikan informasi / pesan / pengetahun mengenai suatu tempat atau
situs tertentu kepada wisatawan atau pengunjung yang datang ke daya tarik
tersebut.
12
tugas untuk memberikan pelayanan kepada wisatawan dengan menemani,
membimbing, dan memberikan informasi kepada wisatawan dalam suatu
kegiatan wisata.
kesempatan, mereka spontan, humoris serta memiliki wawasan dan
pengetahuan, sehingga melalui ini pula mereka membuat sebuah tour
mengenai wawasan yang dimilikinya. Seorang pemandu memiliki
pengetahuan yang mendalam, namun pengetahuan yang diberikan
disesuaikan dengan audience mereka.
sebagai berikut:
b. Social facilitator (fasilitator sosial).
c. Cultural host (host budaya).
d. Motivator of appropriate conservation values (motivator dari nilai
konservasi yang tepat).
interpreter alam, maupun budaya).
13
pula atribut yang sebaiknya dimiliki oleh seorang pemandu wisata
menurut Pastorelli (2003), yakni:
permasalahan, dan interpretasi.
d. Penelitian, perencanaan, design, implementasi, dan evaluasi.
e. Penanganan kecelakaan dan darurat, yaitu first aid dan kemampuan
dalam menerapkan prosedur kesehatan dan keselamatan.
f. Navigasi.
Menurut Lovejoy & Welch (2009) interpretasi merupakan seni dan
ilmu yang menghubungkan pengunjung, seperti wisatawan, tamu, klien,
dengan situs atau tempat agar terlibat di dalamnya dan menjadi sebuah
pembelajaran, secara rinci interpretasi adalah sebagai berikut:
a. Proses komunikasi yang memiliki misi dalam melibatkan
pengunjung dan menciptakan hubungan yang memiliki makna
dengan situs atau tempat yang dikelola.
b. Layanan yang mempertimbangkan kebutuhan, keinginan, dan minat
pengunjung untuk meningkatkan pengalaman pengunjung mulai
dari sebelum, selama, dan setelah kunjungan.
14
tersebut.
sejarah yang melekat di suatu tempat. Hal tersebut memungkinkan
pengunjung untuk mendapatkan wawasan dan pemahaman mengenai
alasan konservasi dan melestarikan warisan yang ada.
Sedangkan menurut Nuriata (2011), interpretasi adalah komunikasi
interpersonal sebagai sebuah proses. Proses menyampaikan informasi dari
interpreter / pemandu kepada wisatawan. Informasi yang disampaikan
dapat berupa verbal, maupun non-verbal, melalui medium suara manusia
(human voice), melalui tulisan maupun yang lainnya.
Selain itu, pengertian lain dari interpretasi itu sendiri disampaikan
oleh Carter (2001), bahwa interpretasi adalah tentang membantu orang lain
menghargai sesuatu yang dianggap spesial. Interpretasi adalah mengenai
suatu tempat, dapat berupa bangunan, pedesaan, kebudayaan (perayaan
tradisional), kota, suatu benda maupun koleksi dari benda-benda, industri,
peristiwa atau kejadian bersejarah, serta sebuah aktifitas.
Logan (2005) menjelaskan mengenai tujuan interpreter / pemandu
melakukan interpretasi karena hal tersebut memenuhi tujuannya dalam
berbagi pengetahuan kepada orang lain, yakni:
a. Memperkaya pengalaman pengunjung, serta memberi informasi
kepada pengunjung mengenai bagaimana, apa alasannya dan
15
tertentu untuk generasi saat ini dan masa depan.
b. Meningkatkan kesadaran, pengertian, dan dukungan untuk
konservasi.
perubahan perilaku pengunjung sesuai dengan keharusan, misalnya
dengan meminimalisir dampak buruk dari suatu kegiatan.
d. Mempromosikan hubungan positif dengan masyarakat, selain itu
untuk memberikan pemahaman mengenai program dan
memfasilitasi keinginan sukarelawan untuk terlibat atau ikut serta.
Adapun Logan (2005) menyebutkan keuntungan pengunjung yang
berpartisipasi dalam kegiatan interpretasi, yakni:
a. Memberikan kepuasan akan rasa ingin tahu terhadap pengetahuan.
b. Menambah pengalaman yang lebih dalam dan berkesan mengenai
suatu tempat.
e. Meningkatkan kesadaran sensorik.
h. Memberikan kesempatan untuk bertemu dan berbincang dengan
para ahli.
minat yang sama dengannya.
perjalanan sekolah.
banyak bentuk. Interpretasi personal mengacu kepada program yang
disediakan dalam bentuk perbincangan, demonstrasi, pertunjukan boneka,
sejarah hidup, storytelling, wisata alam, dan wisata lainnya. Hal tersebut
dapat dilakukan di auditorium, arena terbuka, sepanjang jalan setapak, atau
mengikuti rute di dalam bangunan bersejarah. Sedangkan interpretasi non-
personal mencakup segala hal mulai dari siaran radio Traveler Inform on
Station (TIS) saat pengunjung memasuki park area, hingga signs dan
pameran, serta jalur self-guided dan komputer interaktif.
Hal tersebut didukung oleh pernyataan yang juga menyebutkan
demikian beserta dengan penjelasannya menurut Ward & Wilkinson
(2006: 4),
Interpretation is divided into two basic types: personal and non-
personal. Personal interpretation involves some type of physical
interaction between the interpreter (communicator of the message)
and the visitor (receiver of the message). Non-personal services are
nonlinear. The visitor controls the order of information received.
Personal interpretive services are linear, with the interpreter
controlling the order of information.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diartikan bahwa interpretasi dibagi
menjadi dua tipe dasar, yaitu personal dan non-personal. Interpretasi
personal melibatkan interaksi fisik antara interpreter / pemandu dengan
17
bagi wisatawan untuk mengontrol informasi yang ingin mereka dapatkan.
Sam H. Ham (1992) menjelaskan pula teknik atau model interpretasi
yang umum digunakan, baik untuk interpretasi personal, maupun
interpretasi non-personal disebut model EROT, yang merupakan
singkatan dari Enjoyable, Relevant, Organized, and Thematic (Wearing et
al, 2008). Di dalam bukunya dijabarkan pula secara rinci berkaitan dengan
enjoyable, suatu interpretasi harus menyenangkan sehingga orang
termotivasi dan tertarik untuk terlibat di dalam interpretasi tersebut.
Diikuti dengan relevant, dimana suatu interpretasi harus relevan atau
berkaitan antara cerita dengan konsep dan situsnya. Yang ketiga yaitu
organized, suatu interpretasi yang baik adalah yang beraturan atau
sistematis. dalam hal ini, sebuah interpretasi harus memiliki struktur yang
jelas untuk memandu pengunjung di dalam sebuah program. Dan yang
terakhir adalah bertema, serta memberikan pesan yang akan membuat
pengunjung selalu ingat, bahkan setelah berakhirnya kunjungan mereka.
Pada dasarnya, tujuan suatu interpretasi dalam menyampaikan
informasi / pesan / pengetahuan, dan memberikan kesan terbaik kepada
pengunjung dapat berhasil dengan adanya kualitas interpretasi yang baik.
Kualitas interpretasi yang baik perlu direalisasikan baik di dalam
interpretasi personal, maupun interpretasi non-personal. Hal ini didukung
pula oleh pernyataan dari Wearing et al (2006) yang mengatakan bahwa
kualitas suatu interpretasi dapat meningkatkan kepuasan wisatawan, dan
18
suatu tourist operations. (Wearing et al, 2008)
5. Interpretasi Personal
komunikasi secara langsung atau tatap muka antara pemberi informasi /
pesan / pengetahuan atau biasa disebut dengan interpreter / pemandu,
dengan penerima informasi yang biasanya berlaku sebagai pengunjung
maupun wisatawan. Berikut pernyataan menurut Logan (2005: 49),
Personal interpretation is delivered face to face. It is usually
delivered by staff, volunteers or concession operators. Staff in
uniform are perceived as a highly credible source of information, so
personal interpretation can be a powerful and effective medium to
influence visitor perceptions and behavior.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diartikan bahwa interpretasi
personal disampaikan secara langsung atau bertatap muka. Biasanya
dilakukan oleh staf, sukarelawan atau pemegang lisensi / izin. Staf yang
berseragam dianggap sebagai sumber informasi yang sangat credible.
Oleh sebab itu, interpretasi personal dapat menjadi media yang kuat dan
efektif dalam mempengaruhi persepsi dan perilaku pengunjung.
Adapun pengertian dari interpretasi personal berdasarkan pendapat
dari Ward & Wilkinson (2006), interpretasi personal melibatkan kontak
secara langsung antara interpreter / pemandu dengan pengunjung. Secara
umum, interpretasi personal memungkinkan interpreter / pemandu untuk
mengontrol dan mengatur urutan informasi yang akan disajikan. Dengan
menyediakan layanan interpretasi personal, sebuah perusahaan / lembaga
19
yang akan diterima oleh pengunjung. Selain itu pula memiliki kesempatan
untuk berinteraksi dengan pengunjung dan menjawab pertanyaan atau
menjernihkan kesalahpahaman. Pada umumnya, pengunjung menyukai
ketersediaan atau keberadaan seseorang. Pada zaman kemajuan teknologi
seperti sekarang ini, pengalaman akan personal services dirasa sangat
bermanfaat dan memuaskan. Kontak langsung dengan pengunjung pun
memberikan kontribusi bagi manajemen yang akan lebih memahami
masalah dan kekhawatiran yang dimiliki oleh pengunjung.
Berikut keuntungan dan kerugian dalam menyediakan atau
menggunakan interpretasi personal:
ATAU MENGGUNAKAN INTERPRETASI PERSONAL
dengan kebutuhan audience.
beberapa pengunjung, Pelatihan
dapat hilang karena program
pergantian staf dan sukarelawan.
ini, pengunjung dapat mengetahui
kesalahpahaman suatu informasi.
Keterampilan yang baik, pada
berkembang.
pengunjung.
20
ATAU MENGGUNAKAN INTERPRETASI PERSONAL
tersebut.
memungkinkan mengurangi
memberikan interpretasi secara
mereka melakukan tracking, hiking,
maupun pekerjaan lainnya. Pemegang
lisensi dapat memberikan interpretasi
Seasonal / time limited:
Membutuhkan audience dan
cuacanya cocok.
pada saat peak seasons. Waktunya
dapat berubah-ubah.
Berkunjung dengan menggunakan
inaccessible menjadi accessible dan
tepat untuk melibatkan masyarakat
atau pelatihan khusus dengan tujuan interpreter / pemandu dapat berbicara
di dalam grup baik indoor maupun outdoor tanpa berteriak, membuat
21
pertanyaan, serta mengakomodasi seluruh pengunjung, maupun bagi
orang dengan disabilitas, dan wisatawan yang berbahasa asing. (Carter,
2001)
interpretasi personal pun dibutuhkan bagi kelangsungan dan kelancaran
interpretasi personal yang baik, efektif, dan efisien. Logan (2005)
menyebutkan terdapat lima aspek di dalam teknik interpretasi personal
yaitu, getting organized (terorganisir / teratur), develop structure and
thematic (mengembangkan struktur dan menggunakan tema), personal
delivery skills (keterampilan khusus dalam menyampaikan sesuatu), use
props (menggunakan alat peraga), dan drama (peran dan alur cerita).
Berdasarkan lima aspek teknik interpretasi personal di atas, dimana
hal tersebut merupakan dimensi penelitian, adapun indikator dari setiap
dimensi tersebut yang juga diambil berdasarkan beberapa pernyataan dari
Ward & Wilkinson (2012), yakni:
Dimana dalam dimensi ini, interpreter / pemandu membuat
persiapan untuk melakukan interpretasi personal kepada
pengunjung seperti mengenal dan memahami dengan baik mengenai
tempat atau situs yang akan dijadikan bahan interpretasi, baik
informasi umum maupun informasi yang lebih spesifik dan rinci.
Kemudian diperlukan pula praktek atau latihan bagi interpreter /
22
diperlukan selama pelaksanaan kegiatan interpretasi. Dalam hal ini,
selain dibutuhkan persiapan untuk kegiatan interpretasi personal,
pada saat kegiatan pun harus dipastikan bahwa interpreter /
pemandu menyambut pengunjung dengan baik untuk menciptakan
kesan pertama yang menyenangkan.
b. Develop structure and thematic: introduce the topic using themes,
then involve the audience.
informasi / pesan / pengetahuan dalam bentuk interpretasi personal
yang terstruktur dan sistematis atau berurutan, serta menggunakan
tema dan melibatkan pengunjung dengan tujuan kemudahan
mengingat dan mendapat perhatian lebih dari pengunjung. Hal ini
didukung pula oleh pernyataan dari Ward & Wilkinson (2012: 191),
“People forget facts, but they remember a good theme and the
supporting subthemes.”
groups, and roving interpretation.
utama yang perlu diperhatikan dalam keterampilan tersebut adalah
keterampilan komunikasi yaitu, penampilan dan bahasa tubuh,
bahasa komunikasi, serta kualitas suara dan kemampuan presentasi
yang baik. Adapun kemampuan untuk menangani grup dalam
23
pemandu diharapkan dapat menyesuaikan pembicaraan ke topik
yang lebih santai dan tidak selalu terpaku dengan bahan interpretasi
yang formal untuk meminimalisir kejenuhan pengunjung.
d. Use props: use props.
Dalam hal penggunaan alat peraga, terdapat beberapa aspek atau
komponen yang dapat dilakukan dan digunakan, yaitu aspek visual
dapat berupa dua atau tiga dimensi, ilustrasi, objek / barang,
referensi, audio, serta aspek yang menggunakan indera penciuman,
perasa, dan peraba. Penggunaan alat peraga ini diharapkan dapat
membantu meningkatkan ketertarikan, memudahkan pemahaman,
dan mengurangi kejenuhan pengunjung.
Dalam dimensi ini, interpretasi tidak hanya selalu memberikan
informasi dan fakta, namun diperlukan pula teknik drama di
dalamnya. Drama yang dimaksud adalah selain dapat dilakukan
dengan membuat suatu peran dan kostum sebagai bentuk
keterlibatan di dalam suatu cerita yang sedang diinterpretasikan,
adapun dengan memberikan jalan atau alur cerita yang bertema,
serta terstruktur dimana memiliki bagian pembuka, pertengahan
serta akhir, dan membuat kesimpulan / konklusi dari jalan cerita
tersebut mengenai tempat atau situs yang dijadikan sumber atau
bahan interpretasi.
Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
dengan pendekatan kuantitatif. Menurut Irawan (2002), “penelitian deskriptif
bertujuan mendeskripsikan atau menjelaskan sesuatu hal seperti apa adanya,
sehingga memberi gambaran yang jelas tentang situasi – situasi di lapangan
apa adanya” (Widodo, 2017: 67). Sedangkan pendekatan kuantitatif memiliki
tujuan untuk melihat hubungan antar variabel. Dalam hal ini, penggunaan
pendekatan penelitian bertujuan untuk membantu peneliti dalam mengevaluasi
sejauh mana data yang dihasilkan melalui metode tertentu valid dan
merefleksikan realitas yang ada. (Poerwandari, 2001)
Adapun pendekatan kuantitatif digunakan pada penelitian ini karena dapat
memberikan penjelasan yang lebih tepat terhadap fakta yang terjadi, serta
kuantitatif bekerja dengan menggunakan sampel tertentu untuk memecahkan
persoalan, sehingga dapat dikatakan lebih efisien.
“Dalam pendekatan kuantitatif peneliti melakukan suatu rangkaian
penelitian yang berawal dari sejumlah teori, dan kemudian dideduksikan
menjadi suatu hipotesa dan asumsi-asumsi suatu kerangka pemikiran yang
terjabarkan dalam sebuah model analisis, yang terdiri dari variabel – variabel
yang akan mengarah kepada operasionalisasi konsep” (Widodo, 2017: 68).
Adapun pendekatan kuantitatif sering disebut sebagai paradigma positivistik.
(Denzin & Lincols, 2003)
Objek yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik interpretasi
pemandu di Museum Geologi Bandung. Dalam hal ini, teknik atau cara-cara
dalam melakukan kegiatan interpretasi oleh pemandu merupakan bahan yang
akan diteliti. Menurut Arikunto (2005: 29), “objek penelitian adalah variabel
penelitian yaitu sesuatu yang merupakan inti dari problematika penelitian”.
Adapun “Subjek penelitian adalah benda, hal, atau orang tempat data untuk
variabel penelitian.” (Arikunto, 2005: 116). Dalam penelitian ini, subjek yang
digunakan adalah pengunjung yang datang ke Museum Geologi Bandung yang
menggunakan jasa pemanduan. Adapun pengunjung digunakan sebagai subjek
karena pengunjung merupakan orang – orang yang dapat melihat fakta yang
terjadi dan menilai teknik interpretasi pemandu / interpreter sebagai objek
penelitian.
Berikut merupakan rekapitulasi profil pengunjung dari hasil penyebaran
kuesioner yang dilakukan oleh peneliti pada Bulan April 2019, dimana profil
pengunjung ini merupakan responden dalam penelitian ini:
27
2 Rentang Usia Remaja < 17 tahun dengan
persentase 69%
90%
6 Jenis
C. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling
1. Populasi
yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
ditarik kesimpulannya”. Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan
adalah pengunjung atau wisatawan yang datang ke Museum Geologi pada
Bulan April 2019.
Menurut Sekaran (2003), “sampel merupakan subkelompok atau
sebagian dari populasi” (Widodo, 2017: 69). Dalam hal ini, teknik
pengambilan sampel yang digunakan oleh peneliti adalah pengambilan
sampel insidental (incidental sampling), dimana menurut Widodo (2017)
incidental sampling adalah penentuan sampel yang didasarkan pada faktor
kebetulan yang dijumpai oleh peneliti pada saat penelitian berlangsung.
Dalam menentukan jumlah sampel, penelitian ini menggunakan tabel
Isaac & Michael, dan menentukan jumlah populasi dengan perkiraan dari
kunjungan per bulannya di Tahun 2018, dengan perhitungan sebagai
berikut:
500.713 orang
TABEL 5
N S
pada tabel 1, diperkirakan terdapat 41.726 pengunjung, dan di bulatkan
menjadi 40.000 pengunjung dalam satu bulan. Dengan tingkat error
margin 5%, berdasarkan tabel 4, maka jumlah sampel yang akan
digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 345 pengunjung. Adapun
berdasarkan hasil dari penyebaran kuesioner yang dilakukan pada Bulan
April 2019, peneliti mendapatkan responden sebanyak 352 orang, dimana
29
data dari hasil kuesioner tersebut seluruhnya akan dipakai di dalam
penelitian ini.
pengumpulan data yang umum digunakan dalam penelitian, yaitu studi
lapangan dan studi pustaka. (Widodo, 2017)
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teknik
pengumpulan data, yakni:
maupun kecil dengan melakukan seleksi dan mengkaji sampel yang
dipilih dari populasi untuk menemukan indensi, distribusi, dan
interelasi relatif dari variabel–variabel sosiologis dan psikologis
(Widodo, 2017).
menggunakan kuesioner dalam bentuk hard copy serta
membagikannya kepada pengunjung yang menggunakan jasa
interpretasi personal untuk menilai performance dan teknik
interpretasi yang digunakan oleh pemandu / interpreter di Museum
Geologi Bandung. Teknik pengumpulan data dengan kuesioner
digunakan karena responden adalah salah satu orang yang
30
persepsi sendiri. (Widodo, 2017)
informasi atau data (Widodo, 2017). Menurut Yin (2012),
wawancara dapat dilakukan dengan cara open-ended, dalam hal ini
peneliti bertanya kepada responden kunci mengenai fakta suatu
peristiwa dan opini mereka mengenai peristiwa tersebut. Kemudian
dengan cara terfokus, dimana responden diwawancarai dalam waktu
yang relatif singkat, serta dengan cara terstruktur yang menggunakan
pertanyaan yang telah disiapkan. (Widodo, 2017)
Peneliti akan melakukan wawancara kepada pemandu /
interpreter itu sendiri mengenai perencanaan dan persiapan yang
dilakukan sebelum melaksanakan kegiatan interpretasi bagi
pengunjung atau wisatawan.
c. Studi Kepustakaan
dan mengutip teori serta konsep dari sejumlah literatur baik berupa
buku, jurnal, majalah, surat kabar maupun karya tulis lainnya yang
relevan dengan topik, fokus, atau variabel penelitian. (Widodo,
2017)
mengumpulkan, dan mempelajari data yang teoritis, serta
menjadikan referensi yang sesuai dengan kepentingan demi
31
berkaitan, dapat dijadikan dasar / acuan dalam memperoleh dan
mengolah data, hingga tahap pengambilan kesimpulan.
2. Alat Pengumpulan Data
dibuat berdasarkan indikator–indikator dari variabel penelitian yang
diberikan kepada responden. (Widodo, 2017)
Dalam hal ini, isi dari kuesioner yang akan dibagikan kepada
pengunjung adalah pernyataan dengan kalimat yang mudah
dimengerti oleh orang awam, dengan maksud dan tujuan untuk
mendapat hasil berupa fakta dari penggunaan teknik interpretasi yang
digunakan oleh pemandu / interpreter yang bertugas.
Kuesioner yang dibagikan kepada pengunjung, akan dibuat dalam
bentuk yaitu hard copy, dimana isi dari kuesioner tersebut berupa
pernyataan dengan pilihan jawaban tertutup menggunakan skala
Likert 1-5.
TABEL 6
Setuju / Sangat Penting
3 Cukup Puas / Cukup Baik / Cukup
Setuju / Cukup Penting
/ Tidak Penting
Sangat Tidak Setuju / Sangat Tidak
Penting
pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan masalah yang
diteliti. (Cahyono, 1996)
sebagai salah satu alat pengumpul data dalam mencari informasi / data
dari pemandu / interpreter mengenai beberapa indikator dari teknik
interpretasi yang digunakan dan dilakukan dalam kegiatan interpretasi
personal.
kegiatan peneliti dalam mengukur suatu variabel. D imana spesifikasi tersebut
menunjuk pada dimensi – dimensi dan indikator – indikator dari variabel
penelitian yang diperoleh melalui studi pustaka sebagai parameter untuk
mengukur variabel. (Widodo, 2017)
Dalam penelitian ini, terdapat variabel dan beberapa dimensi yang terkait
adalah sebagai berikut:
fokus dari interpretasi secara umum, dimana interpretasi personal ini
merupakan interpretasi yang dilakukan oleh pemandu / interpreter di
Museum Geologi Bandung. Teknik interpretasi personal yang akan diteliti
dari pemandu / interpreter dalam penelitian ini menggunakan 5 dimensi,
33
skills, use props, serta drama.
Penilaian dari dimensi tersebut akan diambil dari wisatawan atau
pengunjung yang menggunakan jasa interpreter, melalui kuesioner berisi
pertanyaan terkait yang akan dibagikan.
2. Getting Organized
pemandu / interpreter dalam melakukan kegiatan interpretasi personal,
serta teknik atau tahap awal yang dilakukan dalam sebuah kegiatan
pemanduan atau interpretasi, seperti menyambut pengunjung, perkenalan
diri, serta pendekatan diri dengan pengunjung yang akan dibawa dan
dilayani selama tour di Museum Geologi Bandung.
3. Develop Structure and Thematic
Dalam hal ini, penelitian difokuskan kepada teknik kegiatan
interpretasi bagi pengunjung atau wisatawan, seperti alur interpretasi yang
digunakan, serta penggunaan tema dan keterlibatan pengunjung dalam
kegiatan interpretasi yang dilaksanakan.
4. Personal Delivery Skills
berlangsung. Hal ini mencakup penggunaan bahasa, kualitas suara, bahasa
tubuh, hingga keterampilan untuk melakukan pembicaraan bahkan diluar
materi interpretasi sebagai bentuk kegiatan interpretasi yang santai dan
tidak kaku.
setiap pemandu / interpreter dalam merealisasikan tujuannya memberikan
informasi / pesan / pengetahuan yang diharapkan dapat diingat oleh setiap
pendengarnya, yakni dengan menggunakan alat peraga. Hal tersebut dapat
dilakukan dalam beberapa bentuk aspek, yaitu aspek visual, ilustrasi, objek
/ barang, referensi, audio, serta alat peraga yang melibatkan indera
penciuman, perasa, dan peraba.
35
KUESIONER
Personal
interpretation
Drama Drama &
36
Statistik Deskriptif, dimana teknik analisis ini digunakan untuk
menggambarkan kondisi variabel penelitian yang disajikan dalam bentuk
skor minimum, skor maksimum, jangkauan, mean, median, modus,
standar deviasi dan variannya, serta dilengkapi dengan tabel distribusi
frekuensi berikut histogramnya. (Widodo, 2017)
2. Alat Analisis Data
pengolahan data adalah dengan menggunakan software SPSS Statistics 23.
3. Metode Pengumpulan Data
butir-butir dalam suatu daftar pertanyaan dalam mendefinisikan suatu
variabel (Sujarweni, 2015). Apabila instrumen yang digunakan dalam
penelitian tersebut dapat mengukur hasilnya, maka instrumen tersebut
dinyatakan valid.
Moment merupakan rumus yang dapat digunakan untuk menguji
validitas suatu instrumen, adalah sebagai berikut:
37
√[ ∑ 2 − (∑ )2][ ∑ 2 − (∑ )2]
Keterangan:
X = Skor total X
Y = Skor total Y
Kriteria uji validitas butir pertanyaan pada kuesioner untuk setiap
variabel adalah jika r hitung > r tabel, maka dinyatakan valid.
Sedangkan, jika r hitung < r tabel, maka butir pertanyaan tersebut
dinyatakan tidak valid.
digunakan untuk uji validitas pada penelitian ini sebanyak 30 orang.
Sehingga dengan taraf signifikan 5%, diperoleh r tabel sebesar 0,361.
Apabila nilai r hitung lebih besar dari 0.361, maka pernyataan tersebut
dinyatakan valid. Berikut tabel hasil uji validitas:
38
Berdasarkan tabel 8, diketahui bahwa hasil uji validitas dari 24
butir pernyataan pada kuesioner, seluruhnya dinyatakan valid karena
seluruh r hitung lebih besar dari pada r tabel dengan nilai 0,361.
39
responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan kontruk-
kontruk pertanyaan yang merupakan dimensi suatu variabel dan
disusun dalam suatu bentuk kuesioner (Sujarweni, 2015).
Dalam penelitian ini, rumus yang digunakan untuk menguji
reliabilitas adalah Cronbach’s Alpha seperti di bawah ini:
11 = [
− 1 ] − [
∑ 2
1 2 ]
1 2 = Varian total
minimal 0,60. Berdasarkan hal tersebut, jika nilai Alpha suatu
instrumen ≥ 0,60 maka dinyatakan reliabel. Sedangkan jika nilai
Alpha suatu instrumen < 0,60 maka dinyatakan tidak reliabel.
(Sugiyono 2014: 257)
Cronbach's
Berdasarkan tabel 9, diketahui bahwa hasil uji reliabilitas dari
kuesioner dinyatakan reliabel, karena r hitung lebih besar dari pada r
tabel, dimana nilai r hitung adalah 0,738 dan r tabel adalah 0,60.
H. Jadwal Penelitian
1 Pengajuan TOR Usulan Penelitian
2 Penyusunan Usulan Penelitian
3 Seminar Usulan Penelitian
4 Penelitian / Observasi Lapangan
5 Penyusunan Proyek Akhir
6 Sidang Proyek Akhir
(Terorganisir)
GETTING ORGANIZED (TERORGANISIR)
PADA INTERPRETASI PEMANDU
Berdasarkan tabel 11, yaitu hasil data penilaian dari 352 responden
mengenai dimensi getting organized (terorganisir) pada interpretasi
pemandu di Museum Geologi, diketahui bahwa nilai rata-rata skor
terendah adalah 4,22 yang terdapat pada indikator welcoming visitors
(menyambut pengunjung), dalam hal perkenalan diri pemandu dengan
NO. ASPEK
MEAN 1 2 3 4 5
f fxb % f fxb % f fxb % f fxb % f fxb %
GETTING ORGANIZED (TERORGANISIR)
tepat waktu
0 0 0 2 4 1 14 42 4 219 876 62 117 585 33 4,28
2
Pemandu
memberikan
baik
0 0 0 7 14 2 14 42 4 215 860 61 116 580 33 4,25
3
Pemandu
mengucapkan
dengan baik
0 0 0 12 24 3 13 39 4 208 832 59 119 595 34 4,23
4
Pemandu
memperkenalkan
dan jelas
2 2 1 7 14 2 14 42 4 217 868 62 112 560 32 4,22
42
baik dan jelas. Adapun nilai rata-rata skor tertinggi adalah 4,28 pada
indikator organizing an activity (mengorganisir kegiatan), dalam hal
penyambutan pengunjung dengan tepat waktu.
Pada indikator pertama yaitu organizing an activity (mengorganisir
kegiatan) dalam hal menyambut pengunjung tepat waktu memiliki nilai
rata-rata tertinggi yaitu 4,28, dimana 62% responden menilai setuju, dan
hanya 1% responden yang menilai tidak setuju. Adapun pada indikator
kedua yaitu welcoming visitors (menyambut pengujung) dalam aspek
pemandu menyambut pengunjung dengan baik memiliki nilai rata-rata
4,25, dimana 61% menilai setuju, dan 2% menilai tidak setuju. Selain itu,
pada aspek pengucapan salam pada awal pemanduan dengan baik
memiliki nilai rata-rata 4,23, dimana 59% mengatakan setuju, dan 3%
mengatakan tidak setuju. Serta pada aspek terakhir dalam indikator ini
yaitu perkenalan diri pemandu dengan baik dan jelas memiliki nilai rata-
rata 4,22 yang merupakan nilai terendah dalam indikator ini, dimana 62%
responden mengatakan setuju, dan 1% responden mengatakan sangat tidak
setuju.
43
(Terstruktur dan Bertema)
DEVELOP STRUCTURE AND THEMATIC (TERSTRUKTUR DAN
BERTEMA) PADA INTERPRETASI PEMANDU
MEAN 1 2 3 4 5
f fxb % f fxb % f fxb % f fxb % f fxb %
DEVELOP STRUCTURE AND THEMATIC (TERSTRUKTUR DAN BERTEMA)
1
Topik
pemanduan
menarik
20 20 6 32 64 9 20 60 6 158 632 45 122 610 35 3,94
2
dan akhir)
0 0 0 13 26 4 21 63 6 184 736 52 134 670 38 4,25
3
Pemandu
mengajak
berkeliling
Museum
beraturan
1 1 0 4 8 1 7 21 2 187 748 53 153 765 43 4,38
4
Pemandu
memberikan
perumpamaan
mengerti
selama
pemanduan
0 0 0 16 32 5 16 48 5 184 736 52 136 680 39 4,25
5
Pemandu
memberikan
dengan cara
yang menarik
3 3 1 8 16 2 15 45 4 194 776 55 132 660 38 4,26
Sumber: Hasil Olahan Peneliti (2019)
44
Berdasarkan tabel 12, yaitu hasil data penilaian dari 352 responden
mengenai teknik interpretasi pemandu yang terstruktur dan bertema,
diketahui bahwa nilai rata-rata terendah adalah 3,94 pada indikator
introduce the topic using themes (memperkenalkan topik menggunakan
tema) dalam hal pemandu memberikan topik pemanduan yang menarik.
Adapun nilai rata-rata tertinggi yaitu 4,38 pada aspek alur berkeliling atau
pemanduan yang beraturan.
Pada indikator ketiga dalam penelitian ini, yaitu introduce the topic
using themes (memperkenalkan topik menggunakan tema) pada aspek
pertama dalam hal pemandu memberikan topik pemanduan yang menarik
merupakan aspek dengan nilai rata-rata terendah yaitu 3,94, dimana
sebanyak 45% responden menjawab setuju, sedangkan 6% menjawab
sangat tidak setuju. Adapun aspek kedua yaitu informasi yang diberikan
pemandu terstruktur dengan baik memiliki nilai rata-rata 4,25, dimana
52% responden menjawab setuju dan 4% menjawab tidak setuju. Pada
aspek ketiga yaitu alur bekeliling atau pemanduan yang beraturan
memiliki nilai rata-rata 4,38 yang juga merupakan nilai rata-rata tertinggi,
dimana 53% responden menjawab setuju dan 0% dengan jumlah
responden satu prang menjawab sangat tidak setuju.
Pada indikator keempat dalam penelitian ini yaitu involve the
audience (melibatkan pengunjung) pada aspek keempat yaitu pemandu
memberikan perumpamaan yang mudah dimengerti memiliki nilai rata-
rata 4,25, dimana 52% responden menjawab setuju, sedangkan 5%
responden menjawab tidak setuju. Adapun aspek kelima yaitu pemandu
45
memberikan pesan ajakan dengan cara yang menarik memiliki nilai rata-
rata 4,26, dimana 55% responden menjawab setuju, dan 1% menjawab
sangat tidak setuju.
(Keterampilan Menyampaikan Pesan)
PERSONAL DELIVERY SKILLS (KETERAMPILAN
(n = 352)
NO. ASPEK
MEAN 1 2 3 4 5
f fxb % f fxb % f fxb % f fxb % f fxb %
PERSONAL DELIVERY SKILLS (KETERAMPILAN MENYAMPAIKAN PESAN)
1
Pemandu
berpenampilan
rambut, dll)
2 2 1 0 0 0 16 48 5 183 732 52 151 755 43 4,37
2
dengan jelas
2 2 1 7 14 2 11 33 3 217 868 62 115 575 33 4,24
3
Pemandu
senyum
4 4 1 10 20 3 22 66 6 199 796 57 117 585 33 4,18
4
Pemandu
jalan cerita
0 0 0 14 28 4 21 63 6 201 804 57 116 580 33 4,19
5
Pemandu
bata)
6 6 2 2 4 1 17 51 5 198 792 56 129 645 37 4,26
6
Pemandu
menggunakan
mudah
dimengerti
2 2 1 4 8 1 14 42 4 171 684 49 161 805 46 4,38
46
PERSONAL DELIVERY SKILLS (KETERAMPILAN
(n = 352)
Berdasarkan tabel 13, yaitu hasil data penilaian dari 352 responden
mengenai keterampilan pemandu dalam menyampaikan pesan, diketahui
bahwa nilai rata-rata skor terendah adalah 3,64 terdapat pada aspek
pemandu merupakan orang yang humoris, sedangkan nilai rata-rata skor
NO. ASPEK
MEAN 1 2 3 4 5
f fxb % f fxb % f fxb % f fxb % f fxb %
PERSONAL DELIVERY SKILLS (KETERAMPILAN MENYAMPAIKAN PESAN)
7
Pemandu
atau
memberikan
lelucon)
14 14 4 53 106 15 42 126 12 178 712 51 65 325 18 3,64
8
Museum
0 0 0 12 24 3 12 36 3 163 652 46 165 825 47 4,37
9
Pemandu
mengatur,
jumlah orang di
dalam satu grup
0 0 0 13 26 4 10 30 3 170 680 48 159 795 45 4,35
10
Pemandu
memastikan
tidak terpisah
0 0 0 11 22 3 11 33 3 180 720 51 150 750 43 4,33
11
Pemandu
melakukan
pemanduan
formal)
1 1 0 11 22 3 18 54 5 183 732 52 139 695 39 4,27
47
sederhana dan mudah dimengerti.
mengatakan setuju dan 1% mengatakan sangat tidak setuju. Pada aspek
kedua, suara pemandu lantang dan terdengar jelas memiliki rata-rata 4,24,
dimana 62% responden menjawab setuju dan 1% menjawab sangat tidak
setuju. Pada aspek ketiga, pemandu terlihat ramah dan murah senyum
memiliki rata-rata 4,18, dimana 57% mejawab setuju dan 1% menjawab
sangat tidak setuju. Pada aspek keempat, pemandu menggunakan gesture
untuk mendukung jalan cerita memiliki skor 4,19, dimana 57% menjawab
setuju dan 4% menjawab tidak setuju. Pada aspek kelima yaitu pemandu
berbicara dengan lancer dan tidak terbata-bata memiliki nilai rata-rata
4,26, dimana 56% menjawab setuju dan 2% menjawab sangat tidak setuju.
Pada aspek keenam, pemandu menggunakan bahasa sederhana dan mudah
dimengerti memiliki skor 4,38, dimana 49% mengatakan setuju dan 1%
menjawab sangat tidak setuju. Adapun aspek terakhir dalam indikator ini
yaitu pemandu merupakan orang yang humoris memiliki nilai rata-rata
terendah yaitu 3,64 dimana 51% menjawab setuju dan 4% menjawab
sangat tidak setuju.
Pada indikator keenam dalam penelitian ini yaitu managing large
groups (mengatur grup besar) dalam aspek kedelapan yaitu pemandu
selalu berdiri dan berjalan di paling depan memiliki skor 4,37 dimana 47%
48
sangat setuju dan 3% tidak setuju. Pada aspek kesembilan, pemandu
mengatur, membagi dan membatasi jumlah orang di dalam grup memiliki
skor nilai 4,35 dimana 48% mengatakan setuju dan 4% mengatakan tidak
setuju. Adapun aspek kesepuluh yaitu pemandu memastikan pengunjung
di dalam grup tidak terpisah memiliki skor nilai 4,33 dimana 51% setuju
dan 3% tidak setuju.
(interpretasi kasual/santai), dimana pasa aspek kesebelas yaitu pemanduan
yang santai dan tidak kaku / formal memiliki nilai rata-rata 4,27 dimana
52% responden setuju dan 0% dengan jumlah responden 1 orang
menjawab sangat tidak setuju.
Peraga)
PADA INTERPRETASI PEMANDU
MEAN 1 2 3 4 5
f fxb % f fxb % f fxb % f fxb % f fxb %
USE PROPS (PENGGUNAAN ALAT PERAGA)
1
Pemandu
menunjukkan
pajangan
(koleksi
sedang
dijelaskan
4 4 1 9 18 3 13 39 4 170 680 48 156 780 44 4,32
2
Pemandu
menggunakan
alat bantu
yang sesuai
dengan jalan
cerita / topik
98 98 28 110 220 31 49 147 14 65 260 18 30 150 9 2,49
Sumber: Hasil Olahan Peneliti (2019)
Berdasarkan tabel 14, yaitu hasil data penilaian dari 352 responden
mengenai penggunaan alat peraga oleh pemandu dimana nilai rata-rata
skor tertinggi adalaha 4,32 terdapat pada aspek pemandu menunjukan
pajangan / koleksi sebagai contoh dari cerita yang sedang
diinterpretasikan, dimana 48% responden menjawab setuju dan 1%
menjawab sangat tidak setuju. Adapun nilai rata-rata terendah yaitu 2,49
pada aspek penggunaan alat bantu / alat peraga, dimana 31% responden
menjawab tidak setuju dan 28% menjawab sangat tidak setuju.
50
5. Penilaian Pengunjung Mengenai Dimensi Drama (Peran dan alur cerita)
TABEL 15
PADA INTERPRETASI PEMANDU
Berdasarkan tabel 15, yaitu hasil data penilaian dari 352 responden
mengenai teknik interpretasi berbentuk peran dan alur cerita, diketahui
bahwa nilai rata-rata tertinggi terdapat pada aspek informasi terstruktur
dengan baik dengan skor 4,25, dimana 52% responden menjawab setuju,
dan 4% menjawab tidak setuju. Sedangkan nilai rata-rata terendah adalah
2,44 terdapat pada aspek pemandu membuat drama / peran dalam
memberikan informasi, dimana 38% responden mengatakan tidak setuju,
NO. ASPEK
MEAN 1 2 3 4 5
f fxb % f fxb % f fxb % f fxb % f fxb %
DRAMA (PERAN DAN ALUR CERITA)
1
Informasi
yang
diberikan
oleh
pemandu
terstruktur
dan akhir)
0 0 0 13 26 4 21 63 6 184 736 52 134 670 38 4,25
2
Pemandu
membuat
drama /
memberikan
informasi
88 88 25 134 268 38 47 141 13 53 212 15 30 150 9 2,44
3
Pemandu
memberikan
konklusi /
kesimpulan
pemanduan
7 7 2 18 36 5 32 96 9 146 584 41 149 745 42 4,17
51
memberikan konklusi / kesimpulan dengan skor 4,17 dimana 42%
mengatakan sangat setuju dan 2% mengatakan sangat tidak setuju.
B. Pembahasan
peneliti akan membahas hasil dari penelitian dan melakukan analisa mengenai
teknik interpretasi pemandu di Museum Geologi Bandung. Adapun penilaian
dan pengukuran dari setiap dimensi atau identifikasi masalah dalam penelitian
ini.
Di bawah ini merupakan tabel jumlah skor ideal tertinggi (maksimum) dan
skor terendah (minimum) yang akan digunakan dalam membuat garis untuk
posisi data secara kontinum, yaitu sebagai berikut:
TABEL 16
PADA GARIS KONTINUM
Adapun hasil dari tabel 16 tersebut diukur dengan menggunakan skala
Likert dengan range (R) atau jarak sebagai berikut:
R = Nilai Maksimum − Nilai Minimum
Kelas Interval
52
jarak tersebut:
1760 − 352
Sedangkan untuk perhitungan atau bentuk dari skala rentang tersebut adalah
sebagai berikut:
GAMBAR 2
53
Hasil pembobotan frekuensi jawaban kuesioner dari responden
terhadap aspek di dalam dimensi getting organized (terorganisir), adalah
sebagai berikut:
TABEL 17
DIMENSI GETTING ORGANIZED (TERORGANISIR)
Berdasarkan tabel 17, pada aspek pertama yaitu pemandu
menyambut pengunjung tepat waktu, adapun indikator ini pula memiliki
nilai tertinggi. Dalam hal ini, hampir seluruh kunjungan grup
menggunakan sistem reservasi, sehingga waktu kunjungan sudah diatur
sedemikian rupa oleh pihak Museum Geologi. Hal tersebut sangat
membantu para pemandu untuk mengatur waktu pemanduan dan ketepatan
waktu penyambutannya. Adapun aturan lain yang mengaharuskan untuk
selalu ada pemandu yang stand-by di sisi kanan pintu masuk Museum agar
TERORGANISIR PEMBOBOTAN
FREKUENSI SUB-
1 Pemandu menyambut
2 Pemandu memberikan sambutan
3
4 Pemandu memperkenalkan diri
dengan baik dan jelas 2 14 42 868 560 1486
TOTAL 5979
54
setiap pengunjung atau rombongan yang datang dan telah siap melakukan
Museum tour tersebut dapat dengan segera disambut dan dilayani.
Pada umumnya, para rombongan yang datang akan ditertibkan
terlebih dahulu oleh kepala rombongan tersebut tepat di depan pintu
Museum. Setelah rombongan tersebut sudah lengkap dan tertib, salah satu
pemandu mengambil alih rombongan dan segera melakukan penyambutan
pada saat itu juga. Setelah rombongan diberikan sambutan oleh salah satu
pemandu tersebut, pemandu membagi rombongan menjadi beberapa grup
kecil, setelah itu para petugas alur kunjungan pun mengarahkan grup kecil
ke ruangan-ruangan di Museum, dimana setiap ruangan Museum sudah
ditugaskan dua orang di dalamnya untuk melakukan interpretasi. Di dalam
grup kecil pun masing-masing pemandu melakukan penyambutan ulang
dan singkat kepada setiap grup yang sedang mereka layani, hanya dengan
pengucapan salam, perkenalan nama, dan di saat tertentu pemandu dapat
bertanya hal-hal untuk mencairkan suasana terlebih dahulu.
Ketepatan waktu penyambutan merupakan salah satu aspek penting
dalam kegiatan pemanduan, selain untuk memberikan kesan pertama yang
baik, juga agar tidak terjadi keterlambatan kegiatan Museum tour yang
dapat mengakibatkan grup lain harus mengantri maupun bentrok atau
terjadi alur yang bertabrakan pada saat Museum tour.
Museum Geologi itu sendiri memiliki sepuluh orang pemandu,
dimana setiap harinya pemandu tersebut diwajibkan untuk masuk bekerja
terkecuali di Hari Jumat yang merupakan hari libur Museum Geologi.
Adapun pada Hari Sabtu dan Minggu, kesepuluh pemandu tersebut dibagi
55
menjadi dua grup, dimana pada masing-masing hari tersebut hanya lima
orang pemandu yang datang bekerja karena jumlah rombongan yang
datang pada Hari Sabtu dan Minggu lebih sedikit dibandingkan hari lain.
Pada saat tertentu, sepuluh orang pemandu dapat dikatakan jumlah
yang sudah cukup ideal untuk menangani sejumlah rombongan di Museum
Geologi. Namun pada waktu tertentu saat jumlah rombongan meningkat
banyak, sepuluh orang pemandu dikatakan masih kurang banyak dimana
terdapat beberapa rombongan yang harus mengantri terlebih dahulu untuk
menunggu para pemandu menyelesaikan interpretasi mereka dengan
rombongan sebelumnya, sehingga mengakibatkan keterlambatan
penyambutan pengunjung.
baik serta aspek ketiga yaitu pemandu mengucapkan salam pada awal
pemanduan dengan baik, kedua aspek tersebut saling berhubungan.
Dimana keduanya mendapat penilaian yang baik dari pengunjung, salah
satunya dikarenakan seluruh pemandu Museum Geologi bukan hanya
diberikan pelatihan mengenai materi Geologi saja, namun juga diberikan
pelatihan pemanduan dimana dalam memberikan sambutan dan
pengucapan salam yang baik pun sudah termasuk di dalam pelatihan
tersebut. Dalam pemberian layanan jasa khususnya kegiatan pemanduan,
pengucapan salam merupakan hal yang wajib dilakukan oleh setiap
pemandu maupun pemberi layanan jasa lainnya.
Di Museum Geologi itu sendiri, hal pertama yang dilakukan oleh
pemandu setelah menertibkan rombongan adalah pengucapan salam dan
56
umumnya akan mempengaruhi kualitas penyambutan maupun pemberian
salam yang baik, dimana pada saat tersebut beberapa pemandu Museum
Geologi melakukannya dengan terburu-buru dan tidak terlalu
memperhatikan kualitas dari kedua aspek tersebut. Tidak jauh berbeda
dengan aspek pertama, penyambutan yang baik dan pemberian salam juga
berpengaruh terhadap kesan pertama pengunjung terhadap pemandu
maupun Museum itu sendiri.
memberikan perhatian / memperhatikan pemandu dengan sangat baik.
Pada penyambutan ini, pemandu dapat bertanya mengenai hal-hal yang
informal untuk mencairkan suasana dan mengakrabkan diri dengan
pengunjung. Dengan cara tersebut pula, pemandu akan lebih mudah dalam
memberikan materi interpretasi yang dapat tersampaikan dan diterima
dengan baik oleh para pengunjung. Pada umumnya, penyambutan dan
pemberian salam yang baik lebih berpengaruh terhadap respond
pengunjung pada penyambutan yang diberikan oleh pemandu di grup-grup
kecil. Hal ini akan terasa lebih intim dibandingkan dengan penyambutan
awal yang dilakukan bagi keseluruhan rombongan.
Pada keseluruhan rombongan, biasanya salah satu pemandu hanya
memberikan sambutan dengan mengucapkan salam dan selamat datang
untuk mempersingkat waktu, selain itu pada saat tersebut pula pemandu
akan membagi rombongan menjadi grup-grup kecil. Pada grup-grup kecil,
di setiap ruangan, pemandu akan memberikan penyambutan yang lebih
57
menanyakan daerah asal, kegiatan apa saja yang akan dilakukan selama
tour di Bandung dan sebagainya. Namun pada umumnya, seluruh hal
tersebut dapat berubah-ubah dan bervariasi tergantung dengan kondisi dan
keadaannya.
nilai terendah yaitu mengenai pemandu memperkenalkan diri dengan jelas
dan baik. Tidak jauh berbeda dengan aspek lainnya, pada saat kunjungan
Museum yang sangat banyak secara bersamaan, umumnya pemandu tidak
memiliki banyak waktu maupun ruang untuk melakukan perkenalan diri
dengan kondisi yang baik dan mendukung, sehingga pada saat tersebut
pemandu hanya memperkenalkan diri dengan singkat dan terlihat terburu-
buru.
pemberian salam. Dalam hal perkenalan, pemandu biasanya hanya
memperkenalkan nama dan tugasnya dalam mengajak pengunjung
berkeliling Museum serta memberikan materi interpretasi / informasi.
Selanjutnya, pemandu hanya akan membuka pembicaraan informal atau
intermezzo. Hal ini umumnya akan lebih diperhatikan pengunjung pada
saat para pemandu memperkenalkan diri di grup kecil.
Adapun untuk melengkapi jawaban dari indikator organizing an
activity (mengorganisir kegiatan) pada dimensi getting organized
(terorganisir) berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pemandu di
58
pemahaman Museum Geologi secara keseluruhan, baik informasi umum,
maupun koleksi yang terdapat di Museum Geologi Bandung, pemandu
mengatakan bahwa Badan Geologi mengadakan dua macam pelatihan bagi
para pemandu yang baru bergabung, yaitu pelatihan mengenai Geologi itu
sendiri, dan pelatihan kepemanduan dari HPI maupun dinas terkait
lainnya. Selain itu, jika ada hal baru yang perlu disampaikan, Geologi
hanya melakukan sosialisasi bagi pemandu dan staf lainnya untuk
dipelajari masing-masing. Adapun aspek kedua mengenai hal apa saja
yang dipersiapkan sebelum melakukan pemanduan atau interpretasi,
pemandu mengatakan bahwa yang perlu dipersiapkan sebelum pemanduan
adalah pengeras suara dan alur kunjungan atau guide map.
GAMBAR 3
Berdasarkan gambar 3, diketahui bahwa pada dimensi getting
organized (terorganisir), hasil penilaian yang diperoleh terdapat pada garis
sangat setuju, dimana nilai tersebut berada di antara rentang 1478,4 dengan
1760, yaitu 1494,75.
Bertema)
terhadap aspek di dalam dimensi develop structure and thematic
(terstruktur dan bertema), adalah sebagai berikut:
TABEL 18
(TERSTRUKTUR DAN BERTEMA)
PADA INTERPRETASI PEMANDU
1 Topik pemanduan yang diberikan
oleh pemandu menarik 20 64 60 632 610 1386
2
3
yang beraturan
4
5
cara yang menarik
TOTAL 6034
Sumber: Hasil Olahan Peneliti (2019)
Berdasarkan tabel 18, pada aspek pertama yang merupakan aspek
dengan nilai terendah yaitu mengenai topik pemanduan yang diberikan
menarik, dimana terdapat beberapa pengunjung yang menilai bahwa topik
pemanduan tidak menarik, namun sebagian besar pengunjung mengatakan
60
pengunjung memasuki setiap ruangan Museum. Topik yang diberikan pun
berbeda di setiap ruangannya sesuai dengan koleksi maupun materi
interpretasi yang diberikan. Adapun di ruangan yang berisi koleksi batuan
dan mineral pemandu memberikan topik Geologi Indonesia. Untuk kedua
ruangan di lantai dua terdapat ruangan dengan topik Sumber Daya Geologi
serta Manfaat dan Bencana Geologi. Sedangkan pada ruangan lainnya
diberikan topik Sejarah Kehidupan. Bagi sebagian pengunjung, topik-
topik tersebut dianggap kurang menarik dan terlalu biasa.
Suatu topik yang menarik dapat membuat pengunjung berpikir lebih
kritis akan informasi yang diberikan oleh pemandu. Hal tersebut dapat
menciptakan sebuah diskusi menyenangkan dan lebih santai antara
pemandu dengan pengunjung. Dalam hal ini, topik yang menarik sangat
efektif untuk menarik perhatian dan fokus pengunjung dalam menerima
informasi yang diberikan oleh pemandu.
Adapun aspek kedua yaitu informasi yang diberikan pemandu
terstruktur dengan baik dimana sebagian besar responden mengatakan
setuju dengan hal tersebut. Dalam hal ini, pemandu melakukan interpretasi
dengan memberikan jalan cerita yang memiliki awal yang merupakan
pembukaan dari kegiatan pemanduan / interpretasi. Pada pembukaan awal,
saat memasuki satu ruangan, pemandu akan memberikan topik yang sesuai
dengan koleksi pada ruangan tersebut serta penjelasan singkat mengenai
topik dan isi dari keseluruhan ruangan tersebut.
61
lebih dalam mengenai setiap benda atau koleksi yang berada
dihadapannya. Badan cerita dapat berupa sejarah, bagaimana Museum
menemukan benda tersebut, maupun kegunaannya. Pada pertengahan
interpretasi ini pula umumnya pemandu melakukan interaksi yang lebih
akrab untuk mencairkan suasana seperti penyisipan jokes, maupun
pertanyaan seputar materi yang melibatkan pengunjung untuk menjawab.
Adapun akhir cerita atau penutupan dari materi interpretasi
mengenai satu ruangan tersebut, dimana di dalamnya berisikan
kesimpulan yang menyeluruh mengenai ruangan yang telah
diinterpretasikan, maupun menyisipkan pesan ajakan untuk melakukan
sesuatu yang baik dan bermanfaat atau tidak merugikan. Pada bagian
penutupan ini pula biasanya pemandu melakukan sesi tanya jawab apabila
terdapat informasi yang kurang jelas atau dipahami.
Pada aspek ketiga yang merupakan aspek dengan nilai tertinggi yaitu
pemandu mengajak berkeliling Museum dengan alur / arah jalan yang
beraturan. Dalam hal ini, alur / arah jalan pemanduan sudah ditentukan
dari Museum Geologi dimana alur tersebut pun tercantum pada guide map
yang dibagikan kepada pengunjung, namun dalam kondisi tertentu alur
tersebut dapat berubah sewaktu-waktu apabila terdapat kunjungan yang
cukup banyak sehingga diatur sedemikian rupa agar setiap rombongan
yang sedang berkeliling tidak bentrok atau bertabrakan alur. Adapun
petugas alur kunjungan yang akan mengarahkan pengunjung untuk
62
berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Petugas alur kunjungan
ini pun selalu berkoordinasi dengan para pemandu yang bertugas di setiap
ruangan pada saat petugas alur akan memindahkan satu grup ke ruangan
tersebut. Dalam keadaan kunjungan yang ramai, untuk mengulur waktu
saat sedang mengantri memasuki suatu ruangan, pemandu memerlukan
keahlian untuk berinteraksi atau berbincang santai / informal dengan para
pengunjung maupun grup yang sedang dilayani.
Pada Museum Geologi itu sendiri, alur kunjungan yang umum
digunakan atau yang terdapat di guide map adalah saat memasuki pintu
utama Museum, ruangan pertama terdapat di sebelah kiri yaitu ruangan
Geologi Indonesia. Selanjutnya naik ke lantai atas, ruangan kedua terdapat
di sebelah kiri dari arah tangga yaitu Manfaat dan Bencana Geologi.
Ruangan ketiga pun masih terdapat di lantai atas berada di sebelah kanan
tangga yaitu ruangan Sumber Daya Geologi. Serta yang terakhir ruangan
keempat berada di lantai bawah di sebelah kiri tangga yaitu ruangan
Sejarah Kehidupan. Setelah itu pengunjung dapat keluar dari Museum
melalui pintu keluar yang terdapat di ujung dalam ruangan Sejarah
Kehidupan. Penggunaan alur yang beraturan juga merupakan hal penting
dalam kegiatan interpretasi agar tidak ada ruangan yang terlewat. Namun
hal tersebut dapat berubah pada kondisi setiap rombongan, dimana alur
tersebut pun diatur oleh petugas alur kunjungan.
Adapun aspek keempat mengenai pemandu memberikan
perumpamaan yang mudah dimengerti selama pemanduan, aspek ini pun
dinilai sudah baik. Terlihat pula pada tabel 12 dimana sebagian besar
63
pemandu tentunya memberikan perumpamaan yang sesuai dan cocok
dengan profil / karakter pengunjung yang sedang dilayani, sehingga
perumpamaan tersebut maupun materi interpretasinya dapat dengan
mudah dimengerti oleh pengunjung. Salah satu perumpamaan yang biasa
digunakan oleh pemandu yaitu memberikan ilustrasi gajah yang lebih
banyak dikenal oleh anak-anak sebagai contoh rupa dari Mamut.
Salah satu keahlian yang perlu dimiliki oleh seorang pemandu
adalah dengan cepat memahami dan peka terhadap karakter pengunjung
yang sedang dilayani, sehingga pemandu dapat memilah kata-kata hingga
materi interpretasi yang sesuai dengan pengunjung, serta yang perlu
maupun tidak perlu disampaikan. Selain itu pemandu pun perlu banyak
mengetahui informasi terbaru agar dapat memberikan perumpamaan yang
juga menyesuaikan dengan zamannya yang saat ini sedang dikenal di
kalangan masyarakat.
mengajak melakukan suatu hal demi kebaikan dengan cara yang menarik,
hal ini mendapat penilaian yang sudah baik dari responden dimana pada
spot tertentu di Museum Geologi, pemandu memberikan cerita sekaligus
pesan ajakan yang disisipkan di dalam materi interpretasi, misalnya pada
spot bencana alam, pemandu mengajarkan dan mempraktikkan cara
melindungi diri pada keadaan / bencana tertentu. Adapun pada spot
bencana longsor umumnya pemandu mengajak pengunjung untuk
menjaga lingkungan sekitar, dan sebagainya untuk menghindari bencana
64
tidak mengeksploitasi penggunaan sumber daya yang ada. Selain hanya di
spot tertentu, pesan ajakan pun pada umumnya dilakukan para pemandu di
akhir kegiatan interpretasi sebagai kesimpulan. Hal tersebut dikarenakan
kesimpulan di akhir merupakan bagian yang paling diingat oleh
pengunjung.
(TERSTRUKTUR DAN BERTEMA)
PADA INTERPRETASI PEMANDU
Berdasarkan gambar 4, diketahui bahwa pada dimensi develop
structure and thematic (terstruktur dan bertema), hasil penilaian yang
diperoleh terdapat pada garis setuju, dimana nilai tersebut berada di antara
rentang 1196,8 dengan 1478,4, yaitu 1206,8.
1206,8
65
Pesan)
terhadap aspek di dalam dimensi personal delivery skills (keterampilan
menyampaikan pesan), adalah sebagai berikut:
TABEL 19
(KETERAMPILAN MENYAMPAIKAN PESAN)
PADA INTERPRETASI PEMANDU
Berdasarkan tabel 19, pada aspek pertama yaitu pemandu
berpenampilan dengan baik, sebagian besar responden setuju dengan
pernyataan tersebut, dimana para pemandu memang diwajibkan untuk
KETERAMPILAN MENYAMPAIKAN PESAN PEMBOBOTAN
1 Pemandu berpenampilan dengan baik (pakaian,
rambut, dll) 2 0 48 732 755 1537
2 Suara pemandu lantang dan terdengar dengan
jelas 2 14 33 868 575 1492
3 Pemandu terlihat ramah dan murah senyum 4 20 66 796 585 1471
4 Pemandu bercerita dengan gesture / gerakan
khusus untuk mendukung dan memperjelas jalan
cerita 0 28 63 804 580 1475
5 Pemandu berbicara dan menjelaskan dengan
lancar (tidak terbata-bata) 6 4 51 792 645 1498
6 Pemandu menggunakan bahasa yang sederhana
dan mudah dimengerti 2 8 42 684 805 1541
7 Pemandu memiliki selera humor yang baik
(orang yang humoris / suka bercanda atau
memberikan lelucon) 14 106 126 712 325 1283
8 Pemandu selalu berdiri dan berjalan di paling
depan grup selama berkeliling di Museum 0 24 36 652 825 1537
9 Pemandu mengatur, membagi dan membatasi
jumlah orang di dalam satu grup 0 26 30 680 795 1531
10 Pemandu memastikan seluruh orang di dalam
grup agar tidak terpisah 0 22 33 720 750 1525
11 Pemandu melakukan pemanduan dengan santai
(tidak kaku dan tidak terlalu formal) 1 22 54 732 695 1504
TOTAL 14857
66
berpenampilan rapi, baik dari pakaian yang digunakan maupun rambut dan
sebagainya. Pada hari tertentu, pemandu pun mengenakan seragam yang
disediakan oleh Museum Geologi, serta diwajibkan untuk selalu memakai
tanda pengenal atau name tag. Adapun jadwal seragam pemandu Museum
Geologi yakni, pada Hari Senin pemandu mengenakan jas seragam dari
Museum, Hari Selasa mengenakan seragam ESDM, pada Hari Rabu
pemandu mengenakan kemeja, pada Hari Kamis mengenakan seragam
batik dari Museum, untuk Hari Sabtu dan Minggu pemandu mengenakan
kaus yang juga merupakan seragam dari Museum. Dalam hal ini, standar
kerapian pemandu adalah dengan selalu mengenakan pakaian sesuai
dengan jadwal, serta sepatu tertutup dapat berupa sepatu kets maupun
pantofel yang berwarna gelap dan menyesuaikan dengan pakaian. Dalam
hal ini, kerapian pakaian pun diperhatikan, dimana pakaian yang
dikenakan oleh pemandu tidak kusut, dan sepatu yang dipakai haruslah
bersih dan layak.
Dalam hal kerapian rambut pemandu di Museum Geologi pun perlu
diperhatikan, dimana rambut pria tidak boleh panjang dan harus selalu
tertata rapi. Begitu juga dengan wanita baik dengan rambut panjang
maupun pendek dan berhijab harus selalu tertata rapi. Seorang pemandu
dituntut untuk selalu berpenampilan baik karena pemandu merupakan
salah seorang cerminan dan gambaran dari lembaga atau institusi tempat
mereka bekerja.
67
sehingga suara yang dikeluarkan pemandu menyesuaikan dengan besar
atau kecilnya grup yang sedang dilayani. Dalam hal ini, pemandu
menggunakan pengeras suara pada grup yang cukup besar, namun pada
grup kecil, pemandu tidak memerlukan pengeras suara.
Baik dengan pengeras suara ataupun tidak, pemandu di Geologi pun
diberikan pelatihan mengenai cara berbicara dan melakukan interpretasi
yang baik, dimana dalam menjelaskan, pemandu berbicara dengan intonasi
atau nada bicara yang sesuai dan bervariasi, serta suara pemandu terdengar
antusias / bersemangat untuk menciptakan suasana dan mood baik
pengunjung. Kelantangan dan kejelasan suara pemandu merupakan aspek
penting dalam melakukan interpretasi untuk memenuhi tujuan tercapainya
informasi yang diberikan kepada seluruh pengunjung tanpa terkecuali.
Adapun aspek ketiga mengenai pemandu terlihat ramah dan murah
senyum, dimana sebagian besar responden mengatakan setuju dengan hal
tersebut. Namun terdapat pula beberapa pengunjung yang mengatakan
bahwa pemandu kurang ramah dalam melayani kunjungan siswa-siswi
dari sekolah. Dalam hal ini, pada umumnya pemandu akan memberikan
pelayanan terbaik yang dapat dilakukan, salah satunya adalah melayani
dengan ramah. Namun pada kondisi tertentu menyebabkan pemandu
terlihat kurang ramah, seperti pada saat kunjungan yang sangat banyak,
terutama kunjungan study tour dari sekolah-sekolah, dimana pada
umumnya siswa-siswi sekolah merupakan salah satu contoh pengunjung
yang cukup sulit untuk diatur dan ditangani.
68
dalam memberikan pelayanan jasa, karena dengan pemandu selalu ramah
dan memberikan senyuman, pengunjung akan lebih relax serta merasa
diterima dan disambut dengan baik
Pada aspek keempat mengenai pemandu bercerita dengan gesture /
gerakan khusus untuk mendukung dan memperjelas jalan cerita, hal ini
pun disetujui oleh sebagian besar responden, dimana pemandu memang
membuat gesture pada saat melakukan interpretasi. Dalam hal ini, pada
saat pemandu berinterpretasi dengan membuat gesture, pemandu selalu
mengahadap pengunjung. Selain itu, pemandu tidak membuat gesture
yang berlebihan dan terus-menerus. Pada saat berbicara, pemandu tidak
diperbolehkan memasukkan tangan ke saku, melainkan menggunakan
kedua tangannya saat tidak