tatalaksana snake bite

Click here to load reader

download tatalaksana snake bite

of 23

  • date post

    06-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    253
  • download

    12

Embed Size (px)

description

emergency medicine

Transcript of tatalaksana snake bite

BAB IPENDAHULUAN

Ular adalah salah satu binatang reptilia yang tersebar luas di seluruh benua baik spesies yang berbisa ( berbahaya ) maupun spesies yang tidak berbisa ( tidak berbahaya ). Ular yang berbisa menghasilkan bisa untuk melemahkan musuh atau mangsanya serta sebagai alat untuk mempertahankan diri. Racun / bisa ular akan diinjeksikan pada tubuh mangsanya melalui gigitan bila merasa terancam, ketakutan atau merasa terusik atau jika ular ingin melumpuhkan mangsanya.1Bisa ular merupakan hasil sekresi kelenjar mulut khusus yang menyerupai kelenjar saliva pada hewan vertebrata, hal ini bisa dikatakan bisa ular merupakan modifikasi dari saliva ini. Setiap spesies ular menghasilkan komponen dan kandungan bahan toksik atau non toksik yang berbeda beda. Tetapi jika ular tersebut memiliki kekerabatan maka komponen penyusun bisanya akan mirip. Umumnya setiap jenis ular berbisa mengandung hemoragin, kardiotoksin, dan neurotoksin dengan kadar yang berbeda beda. 1Korban gigitan ular terutama adalah petani, pekerja perkebunan, nelayan, pawang ular, pemburu, dan penangkap ular. Kebanyakan gigitan ular terjadi ketika orang tidak mengenakan alas kaki atau hanya memakai sandal dan menginjak ular secara tidak sengaja. Gigitan ular juga dapat terjadi pada penghuni rumah, ketika ular memasuki rumah untuk mencari mangsa berupa ular lain, cicak, katak, atau tikus. 1,2Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Keracunan sering dihubungkan dengan pangan atau bahan kimia. Pada kenyataannya bukan hanya pangan atau bahan kimia saja yang dapat menyebabkan keracunan. Di sekeliling kita ada racun alam yang terdapat pada beberapa tumbuhan dan hewan. Salah satunya adalah gigitan ular berbisa yang sering terjadi di daerah tropis dan subtropis. Mengingat masih sering terjadi keracunan akibat gigitan ular maka untuk dapat menambah pengetahuan masyarakat kami menyampaikan informasi mengenai bahaya dan pertolongan terhadap gigitan ular berbisa. 1

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jenis-jenis Ular BerbisaDi seluruh dunia dikenal lebih dari 2000 spesies ular, namun jenis yang berbisa hanya sekitar 250 spesies. Berdasarkan morfologi taringnya,ular dapat diklasifikasikan kedalam 4 famili utama yaitu : 1,2,3 Famili Elapidae misalnya ular weling, ular welang, ular sendok, ular anang, ular cabai Famili crotalidae/Viperidae misalnya ular tanah, ular hijau, dan ular bendotan puspo Famili Hydrophidae misalnya ular laut Famili Colubridae misalnya ular pohonUlar berbisa kuat yang terdapat di Indonesia biasanya masuk dalam famili Elapidae, Hydropiidae, atau Viperidae. Elapidae memiliki taring pendek dan tegak permanen. Beberapa contoh anggota famili ini adalah ular cabai (Maticora intestinalis), ular weling (Bungarus candidus), ular sendok (Naja sumatrana), dan ular king kobra (Ophiophagus hannah). 1,2,3Viperidae memiliki taring panjang yang secara normal dapat dilipat ke bagian rahang atas, tetapi dapat ditegakkan bila sedang menyerang mangsanya. Ada dua subfamili pada Viperidae, yaitu Viperinae dan Crotalinae. Crotalinae memiliki organ untuk mendeteksi mangsa berdarah panas (pit organ), yang terletak di antara lubang hidung dan mata. Beberapa contoh Viperidae adalah ular bandotan (Vipera russelli), ular tanah (Calloselasma rhodostoma), dan ular bangkai laut (Trimeresurus albolabris). 1,2,3Tidak ada cara sederhana untuk mengidentifikasi ular berbisa. Beberapa spesies ular tidak berbisa dapat tampak menyerupai ular berbisa. Namun, beberapa ular berbisa dapat dikenali melalui ukuran, bentuk, warna, kebiasaan dan suara yang dikeluarkan saat merasa terancam. Beberapa ciri ular berbisa adalah bentuk kepala segitiga, ukuran gigi taring kecil, dan pada luka bekas gigitan terdapat bekas taring. 1,3Ciri-ciri ular tidak berbisa:1. Bentuk kepala segiempat panjang2. Gigi taring kecil3. Bekas gigitan: luka halus berbentuk lengkunganCiri-ciri ular berbisa:1. Bentuk kepala segitiga2. Dua gigi taring besar di rahang atas3. Bekas gigitan: dua luka gigitan utama akibat gigi taringBerdasarkan sifatnya pada tubuh mangsa, bisa ular dapat dibedakan menjadi bisa hemotoksik, yaitu bisa yang mempengaruhi jantung dan sistem pembuluh darah; bisa neurotoksik, yaitu bisa yang mempengaruhi sistem saraf dan otak; dan bisa sitotoksik, yaitu bisa yang hanya bekerja pada lokasi gigitan. Tidak semua ular berbisa pada waktu menggigit menginjeksikan bisa pada korbannya. Orang yang digigit ular, meskipun tidak ada bisa yang diinjeksikan ke tubuhnya dapat menjadi panik, nafas menjadi cepat, tangan dan kaki menjadi kaku, dan kepala menjadi pening. Gejala dan tanda-tanda gigitan ular akan bervariasi sesuai spesies ular yang menggigit dan banyaknya bisa yang diinjeksikan pada korban. Gejala dan tanda-tanda tersebut antara lain adalah tanda gigitan taring (fang marks), nyeri lokal, pendarahan lokal, memar, pembengkakan kelenjar getah bening, radang, melepuh, infeksi lokal, dan nekrosis jaringan (terutama akibat gigitan ular dari famili Viperidae). 1,2,3Susunan kimia dari bisa ular sangat kompleks sekitar 90 % tersusun atas protein yang sebagian besar adalah enzim serta mengandung polipeptida, Enzim utama bisa ular antara lain proteolitik , hialurinidase, asam amino oksidase, kolinesterase, fosfolipase A, ribonuklease, deoksiribonuklease, fosfomonoeterase, fosfodiesterase, nukleotidase, ATPase dan DPNase. 1Protein penyusun bisa ular jika di suntikkan dan masuk ke aliran darah akan mempengaruhi sistem kardiovaskuler, sirkulasi, respirasi, syaraf. Untuk mengatasi gigitan ular berbisa maka digunakan antibisa ular yang di suntikkan langsung ke pembuluh vena. Antibisa ular adalah serum atau antibodi yang diproduksi untuk menetralisir efek sari infeksi bisa ular tersebut. Serum ini diperoleh dengan cara menginjeksikan bisa ular yang telah dilemahkan ke dalam tubuh kuda. Ada 2 jenis Racun ular, yaitu1,2,31. Neurotoksin : Dapat melumpuhkan sistim saraf pusat, melumpuhkan jantung dan sarah pernafasan. Racun jenis ini dimiliki oleh ular Kobra, ular Mamba, ular Laut, Krait, Ular Karang.2. Hemotoksin: Dapat menyerang sistim sirkulasi darah dan sistim otot dan dapat menyebabkan kerusakan jaringan, gangrene, kelumpuhan permanen kemapuan bergerak otot. Racun jenis ini dihasilkan oleh keluarga ular Viperidae misalnya Rattle Snake, Coppe head, dan Cotton mouth.Sampai saat ini dikenal sekitar 20 jenis enzim yang beracun. Umumnya ular berbisa memiliki 6 sampai 12 jenis enzim dalam bisanya. Masing masing berfungsi khusus, misalnya untuk mencerna mangsa, sedangkan enzim yang lain untuk melumpuhkan mangsa.Beberapa jenis enzim yang dimiliki ular berbisa: 1 Cholinesterase : Neurotoksin dan dapat melumpuhkan mangsa Amino Acid Oxidase : Berfungsi mencerna mangsa dan memicu peran enzim lainnya. Hyaluronidase : Berfungsi untuk mempermudah penyerapan enzim lain kejaringan korban. Proteinase: Berfungsi untuk mencerna, mengahancurkan jaringan tubuh korban. Adenosin Triphospatase : Diduga neurotoksin yang bekerja sentral dan menyebabkan korban mengalami syok dan melumpuhkan mangsa. Phospodiesterase : Bekerja dengan cara mengganggu fungsi jantung dan menurunkan tekanan darah dengan cepat.2.2 Gambaran KlinisDiagnosis gigitan ular berbisa tergantung pada keadaan bekas gigitan atau luka yang terjadi dan meberikan gejela lokal dan sitemik sebagai berikut : 1,2,31. Gejala lokal: edema, nyeri tekan pada luka gigitan, ekimosis (kulit kegelapan karena darah yang terperangkap di jaringan bawah kulit).2. Gejala sistemik: hipotensi, otot melemah, berkeringat, menggigil, mual, hipersalivasi (ludah bertambah banyak), muntah, nyeri kepala, pandangan kabur3. Gejala khusus gigitan ular berbisa : Hematotoksik : perdarahan di tempat gigitan, paru, jantung, ginjal, peritonium, otak, gusi, hematemesis, dan melena, perdarahan kulit(petekie, ekimosis), hemoptoe, hematuria, koagulasi intravaskular diseminata (KID) Neurotoksik : hipertonik, fasikulasi, paresis, paralisis pernafasan, ptosis, oftalmoplegi, paralisis otot laring, refleks abnormal, kejang dan koma Kardiotoksik: hipotensi, henti jantung Sindrom kompartemen : edema tungkai dengan tanda tanda 5P (pain, pallor, pulselessnes, paralisis, parestesia)Menurut Schwartz (Depkes,2001), gigitan ular dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 3DerajatVenerasiLukaNyeriEdema/EritemaSistemik

00++/- 12-25 cm / 12 jam+Neurotoksik, mual, pusing, syok

III+++++> 25 cm / 12 jam++Petekie, syok, echimosis,

IV+++++++> ektrimitas +++Gagal jantung akut, koma, perdarahan.

Gambaran klinis gigitan beberapa jenis ular berbisa : 1,3Gigitan Elapidae(misal: ular kobra, ular weling, ular welang, ular sendok, ular anang, ular cabai, coral snakes, mambas, kraits)1. Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang berdenyut, kaku pada kelopak mata, bengkak di sekitar mulut.2. Gambaran sakit yang berat, melepuh, dan kulit yang rusak.3. Setelah digigit ulara. 15 menit: muncul gejala sistemik setelah digigit ularb. 10 jam: paralisis urat-urat di wajah, bibir, lidah, tenggorokan, sehingga sukar bicara, susah menelan, otot lemas, kelopak mata menurun, sakit kepala, kulit dingin, muntah, pandangan kabur, mati rasa di sekitar mulut. Selanjutnya dapat terjadi paralisis otot leher dan anggota badan, peralisis otot pernafasan hingga lambat dan sukar bernafas, tekanan darah menurun, denyut nadi lambat, dan tidak sadarkan diri. Nyeri abdomen sering kali terjadi dan berlangsung hebat. Pada keracunan berat dalam waktu satu jam dapat timbul gejala-gejala neurotoksik. Kematian dapat terjadi dalam 24 jam.Gigitan Viperidae / Crotalidae(ular: ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo):1. Gejala lokal timbul dalam 15 menit, atau setelah beberapa jam berupa bengkak di dekat gigitan yang menyebar ke seluruh anggota badan.2. Gejala sistemik muncul setelah 5 menit atau setelah beberapa jam berupa muntah, diare, kolik, perdarahan pada b