Sustainable Development_Gilang Yudha Palagan_240110110053

Click here to load reader

  • date post

    04-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    227
  • download

    5

Embed Size (px)

description

Lingkungan

Transcript of Sustainable Development_Gilang Yudha Palagan_240110110053

PAPER ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN

SUSTAINABLE DEVELOPMENT

Disusun Oleh:Gilang Yudha Palagan240110110053

DEPARTEMEN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIANFAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIANUNIVERSITAS PADJADJARANJATINANGOR2015

SUSTAINABLE DEVELOPMENT

Pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip "memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan" (menurut Brundtland Report dari PBB, 1987. Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris, sustainable development. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. (oman)Banyak laporan PBB, yang terakhir adalah laporan dari KTT Dunia 2005, yang menjabarkan pembangunan berkelanjutan terdiri dari tiga tiang utama (ekonomi, sosial, dan lingkungan) yang saling bergantung dan memperkuat.Untuk sebagian orang, pembangunan berkelanjutan berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi dan bagaimana mencari jalan untuk memajukan ekonomi dalam jangka panjang, tanpa menghabiskan modal alam. Namun untuk sebagian orang lain, konsep "pertumbuhan ekonomi" itu sendiri bermasalah, karena sumberdaya bumi itu sendiri terbatas.Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas daripada itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan. Dokumen-dokumen PBB, terutama dokumen hasil World Summit 2005 menyebut ketiga hal dimensi tersebut saling terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan.

Gambar 1. Sustainable Development(Sumber. Wikipedia.co.id)

Skema pembangunan berkelanjutan:pada titik temu tiga pilar tersebut, Deklarasi Universal Keberagaman Budaya (UNESCO, 2001) lebih jauh menggali konsep pembangunan berkelanjutan dengan menyebutkan bahwa "...keragaman budaya penting bagi manusia sebagaimana pentingnya keragaman hayati bagi alam". Dengan demikian "pembangunan tidak hanya dipahami sebagai pembangunan ekonomi, namun juga sebagai alat untuk mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual". dalam pandangan ini, keragaman budaya merupakan kebijakan keempat dari lingkup kebijakan pembangunan berkelanjutan.Pembangunan Hijau pada umumnya dibedakan dari pembangunan bekelanjutan, dimana pembangunan Hijau lebih mengutamakan keberlanjutan lingkungan di atas pertimbangan ekonomi dan budaya. Pendukung Pembangunan Berkelanjutan berargumen bahwa konsep ini menyediakan konteks bagi keberlanjutan menyeluruh dimana pemikiran mutakhir dari Pembangunan Hijau sulit diwujudkan. Sebagai contoh, pembangunan pabrik dengan teknologi pengolahan limbah mutakhir yang membutuhkan biaya perawatan tinggi sulit untuk dapat berkelanjutan di wilayah dengan sumber daya keuangan yang terbatas.Pada awalnya, perkembangan mengenai pembangunan berkelanjutan ini dimulai dengan diterbitkannya buku Rachel Carson, dengan judul Silent Spring, yang diterbitkan pada tahun 1962. Dalam bukunya tersebut, ia menyatakan bahwa konsep pembangunan berkelanjutan yaitu proses pembangunan atau perkembangan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa membahayakan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya dalam memanfaatkan sumber daya alam untuk kehidupan. Sejak itu, banyak tonggak yang telah menandai perjalanan pembangunan berkelanjutan.Pada tahun 1972, pembangunan berkelanjutan ini dimasukkan ke dalam agenda PBB. Ada beberapa kejadian penting yang dapat menjadi catatan penting pada tahun ini, antara lain yaitu penyelenggaraan UN Conference on the Human Environment (UNCHE) di Stockholm, Swedia, yang kemudian mendorong pembentukan beberapa badan perlindungan lingkungan tingkat nasional dan the UN Environment Programme (UNEP), dimana hari pembukaan konferensi inilah yang dijadikan tanggal yang selalu diperingati sebagai Hari Lingkungan Internasional (World Environmental Day) setiap tanggal 5 Juni. Sejak konferensi Stockholm, terbentuk dua aliran besar pembangunan dalam paradigma pembangunan di dunia, yaitu kaum developmentalist versus kaum environmentalist yang sangat berpengaruh selama beberapa dasawarsa. Perdebatan yang meluas antara kedua aliran pandangan ini tanpa disadari juga semakin meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan kesadaran umat manusia akan pentingnya lingkungan hidup di seluruh dunia.Pada tahun 1975, ada dua kejadian penting yang terjadi, yaitu The Convention on International Trade in Endangered Species of Flora and Fauna (CITES) atau Konvensi mengenai Perdagangan Spesies Langka dari Tanaman dan Hewan mulai diberlakukan atau mengikat dan setahun kemudian, pada tahun 1976, diselenggarakan the UN Conference on Human Settlements yang merupakan pertemuan tingkat dunia yang pertama yang menghubungkan lingkungan dan pemukiman manusia.Pada tahun 1979, Convention on Long-Range Transboundary Air Pollution atau Konvensi mengenai Polusi Udara Jarak Jauh Lintas Batas Negara diadopsi. Setahun kemudian, pada tahun 1980, ada beberapa kejadian penting yang tercatat yaitu peluncuran World Conservation Strategy atau Strategi Konservasi Dunia oleh the International Union for Conservation of Nature (IUCN), dimana dalam laporannya pada bagian menuju ke arah pembangunan berkelanjutan mengidentifikasi sebab utama dari perusakan habitat, yaitu kemiskinan, tekanan populasi, ketidaksetaraan sosial, dan rezim perdagangan termasuk menyerukan dibentuknya suatu strategi pembangunan internasional yang baru untuk memperbaiki ketidaksetaraan, dan publikasi laporan Independent Commission on International Development Issues atau Komisi Independen mengenai Isu-Isu Pembangunan Internasional yang berjudul North-South: A Programme for Survival (Brandt Report), yang menyerukan dibentuknya hubungan ekonomi yang baru antara Utara dan Selatan.Pada tahun 1986, penyelenggaraan UN Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) atau Konvensi PBB tentang Hukum Laut diadopsi, dimana konvensi tersebut mengeluarkan materi-materi pengaturan yang terkait dengan standar lingkungan dan penerapan aturan-aturan yang terkait dengan pencemaran laut, dan diberlakukannya The UN World Charter for Nature atau Piagam PBB mengenai Alam mengadopsi prinsip bahwa setiap bentuk kehidupan adalah unik dan seharusnya dihargai tanpa memandang kegunaannya bagi umat manusia. Piagam tersebut menyerukan pemahaman mengenai ketergantungan kita atas sumber daya alam dan keharusan kita untuk mengontrol kegiatan eksploitasinya.Pada bulan Desember 1983, Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam Sidang Umumnya membentuk satu komisi yang disebut World Commission on Environment and Development, disangkat WCED. WCED dibentuk sesuai resolusi Sidang Umum No.38/161 dan dipimpin oleh Perdana Menteri Gro Harlem Brundtland dari Norwegia dan Masour Khalid dari Sudan. Dari Indonesia, yang menjadi anggota adalah Prof. Dr. Emil Salim. Salah satu tugas WCED adalah menyusun suatu strategi jangka panjang untuk pengembangan lingkungan menuju pembangunan berkelanjutan di tahun 2000 dan sesudahnya. Setahun kemudian, pada tahun 1984, diselenggarakannya International Conference on Environment and Economics atau Konferensi Internasional mengenai Lingkungan dan Ekonomi oleh OECD yang menyimpulkan bahwa lingkungan dan ekonomi harus saling memperkuat. Kesimpulan dari konferensi tersebut membantu dalam pembentukan laporan Our Common Future.Pada tahun 1985, dalam pertemuan the World Meteorological Society atau masyarakat meteorologi dunia di Austria pertama kali disebutkan mengenai isu Climate Change atau perubahan iklim, dimana the UNEP dan the International Council of Scientific Unions dalam laporannya menyatakan bahwa terjadi penumpukan karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya di atmosfer. Hal tersebut ditengarai sebagai penyebab pemanasan global. Pada tahun ini juga ditemukan bahwa ada lubang ozon di Antartika, berdasarkan penelitian dari ahli Inggris dan Amerika Serikat.Pada tahun 1987, ada beberapa kejadian penting yang harus dicatat yaitu diterbitkan laporan dari the World Commission on Environment and Development (WCED) yang dikenal dengan nama Brundtland Report yang diberi judul Our Common Future atau Masa Depan Kita Bersama, dimana dalam laporan tersebut menggabungkan isu-isu sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan dengan solusi global, termasuk juga mempopulerkan istilah sustainable development atau pembangunan berkelanjutan, dibuatnya pedoman oleh OECD Development Advisory Committee atau Komite Penasehat Pembangunan OECD untuk lingkungan dan pembangunan dalam kerangka bantuan kebijakan bilateral, dan diadopsinya Montreal Protocol on Substances that Deplete the Ozone Layer atau Protokol Montreal mengenai bahan-bahan yang dapat merusak lapisan ozon.Pada tahun 1988, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau panel antarpemerintah mengenai perubahan iklim dibentuk dengan tujuan untuk mengevaluasi penelitian yang paling terbaru di lapangan terkait dengan ilmu pengetahuan, teknis, dan sosio-ekonomi. Pada tahun 1990, kejadian penting yang tercatat yaitu penyelenggaraan UN Summit for Children atau KTT PBB mengenai anak-anak, pengakuan yang penting mengenai akibat dari lingkungan bagi generasi yang akan datang.Pada tahun 1992, diselenggarakan UN Conference on Environment and Development (UNCED) atau Konferensi PBB mengenai Lingkungan dan Pembangunan yaitu konferensi khusus tentang lingkungan dan pembangunan yang dikenal sebagai Earth Summit atau KTT Bumi Pertama di Rio de Jeneiro, Brazil. Dari sini, terbentuklah United Nations Commission on Sustainable Development (UNCSD). Setelah itu, pelbagai konferensi dan forum-forum tingkat dunia secara periodik terus diselenggarakan untuk membahas berbagai masalah dalam pelaksanaan prinsip pembangunan berkelanjutan di berbagai negara. Dalam konferensi, kesepakatan yang dicapai terkait dengan rencana aksi Agenda 21 dan pada konvensi keanekaragaman hayati (the Biological Diversity), konvensi kerangka kerja perubahan iklim (the Framework Convention on Climate Change) dan prinsip-prinsip kehutanan yang tidak mengikat.Pada tahun 1993, diselenggarakan Pertemuan pertama dari the UN Commission on Sustainable Development, yang diadakan untuk memastikan tindak lanjut dari UNCED, meningkatkan kerja sama internasional dan merasionalisasi kapasitas pembuatan keputusan antarpemerintah. Setahun kemudian, di tahun 1994, beberapa kejadian penting yang tercatat yaitu pendirian Global Environment Facility yang bertujuan merestrukturisasi miliaran dolar bantuan untuk memberikan lebih banyak kekuatan membuat keputusan kepada negara-negara berkembang dan pembentukan Earth Charter Initiative yang baru telah diluncurkan melalui proses konsultasi yang paling terbuka dan partisipatif yang pernah dilakukan yang terkait dengan dokumen internasional.Pada tahun 1995, beberapa kejadian penting yang terjadi yaitu pembentukan World Trade Organization (WTO), dengan pengakuan secara formal terhadap hubungan antara perdagangan, lingkungan, dan pembangunan, penyelenggaraan World Summit for Social Development di Kopenhagen, dimana hal ini adalah pertama kalinya komunitas internasional mengekspresikan komitmen yang jelas terkait dengan pemberantasan kemiskinan dan penyelenggaraan Fourth World Conference on Women di Beijing, dimana dalam negosiasinya diakui bahwa status wanita telah meningkat, akan tetapi rintangan tetap ada terkait dengan realisasi hak-hak wanita sebagai hak asasi manusia. Setahun kemudian, pada tahun 1996, ISO 14001 secara formal diadopsi sebagai standar internasional yang dilakukan secara sukarela untuk sistem manajemen lingkungan perusahaan. Pada tahun 1999, dilaksanakannya peluncuran Index Berkelanjutan Dow Jones, yang merupakan alat yang pertama yang dijadikan pedoman bagi investor yang sedang mencari perusahaan yang menguntungkan yang tetap mengikuti prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.Pada tahun 2000, UN Millennium Development Goals atau Tujuan Pembangunan Milenium PBB yang dihasilkan dari pertemuan terbesar pemimpin dunia yang sepakat untuk menetapkan tujuan yang terikat dengan waktu dan tujuan yang terukur untuk memerangi kemiskinan, kelaparan, penyakit, buta huruf, degradasi lingkungan, dan diskriminasi terhadap wanita, yang akan dicapai pada tahun 2015 dan dalam tahun yang sama juga mengadopsi Earth Charter yang diluncurkan pada tanggal 29 Juni 2000, di Den Haag, Belanda, didukung oleh lebih dari 14.000 individu dan organisasi yang mewakili jutaan orang di seluruh dunia, namun telah gagal untuk mencapai kesepakatan yang diinginkan atau adopsi oleh the 2002 World Summit on Sustainable Development atau the UN General Assembly, dengan Earth Charter Initiative sebagai organisasi yang mempromosikan misi dari Earth Charter tersebut.Pada tahun 2001, Konferensi Tingkat Menteri WTO yang Keempat, yang diadakan di Doha, Qatar, mengakui perhatian atas lingkungan dan pembangunan dalan deklarasi finalnya. Dan kemudian masih pada tahun yang sama, United Nations Department for Economic and Social Affairs (UNDESA), bekerja sama dengan Pemerintah Ghana, Inggris, Denmark, dan UNDP, mengadakan International Forum on National Sustainable Development Strategies (NSDSs) pada 7-9 November 2001 di Accra, Ghana. Forum ini diselenggarakan sebagai persiapan dari World Summit on Sustainable Development (WSSD) yang diadakan di Johannesburg, Afrika Selatan, pada 26 Agustus hingga 6 September 2002 yang dikenal sebagai Earth Summit 2002.Kemudian di tahun 2002, tepatnya pada tanggal 26 Agustus - 4 September, diadakan World Summit on Sustainable Development (WSSD) dengan tema Economy, Environment, and Society yang diselenggarakan di Johannesburg, Afrika Selatan. WSSD atau KTT Dunia mengenai Pembangunan Berkelanjutan tersebut, menandai 10 tahun UNCED. 737 LSM baru dan lebih dari 8.046 perwakilan dari kelompok utama (bisnis, petani, masyarakat adat, pemerintah daerah, LSM, komunitas ilmu pengetahuan dan teknologi, serikat buruh, dan wanita) menghadiri KTT Dunia tentang Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg. Kelompok-kelompok ini mengorganisir diri mereka ke dalam sekitar 40 kaukus berbasis geografis dan isu. Dalam suasana frustasi karena kurangnya kemajuan dari pemerintah, KTT mempromosikan kemitraan sebagai pendekatan yang tidak dinegosiasikan terhadap keberlanjutan.Pada tahun 2005, beberapa kejadian penting yang dicatat yaitu mulai diberlakukannya Kyoto Protocol yang secara hukum mengikat pihak negara maju dengan tujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menetapkan Mekanisme Pembangunan Bersih bagi negara-negara berkembang. Setahun berikutnya, pada tahun 2006, ada beberapa laporan yang terkait sustainable development, yaitu Laporan Stern membuat kasus ekonomi yang meyakinkan bahwa biaya yang dikeluarkan apabila tidak menanggapi perubahan iklim akan menjadi 20 kali lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengatasi isu perubahan iklim tersebut dan laporan NASA bahwa lapisan ozon telah pulih karena peran dalam mengurangi konsentrasi dari CFCs, dihapuskan berdasarkan Protokol Montreal.Pada tahun 2008, Ide mengenai Green Economy atau Ekonomi Hijau mulai masuk kedalam arus utama. Pemerintahan nasional menginvestasikan sebagian dari stimulus ekonomi mereka ke dalam aksi-aksi lingkungan, dan ekonomi rendah karbon dan pertumbuhan hijau menjadi tujuan baru dari perekonomian masa depan. Masih pada tahun yang sama, pada 10-12 November 2008, atas kerja sama OECD dan International Transport Forum (ITF) diadakan pula Global Forum on Sustainable Development dengan tema Transport and Environment in Globalizing World di Guadalajara, Mexico.Setahun kemudian, pada tahun 2009, Negosiasi iklim Kopenhagen, dimana target dan aksi domestik dari emiter besar seperti misalnya Amerika Serikat dan China memegang peranan utama, akan tetapi proses internasional terus terlihat sebagai bagian yang penting dalam mengukur apakah aksi-aksi tersebut sesuai dengan pengurangan global yang diinginkan oleh ilmu pengetahuan. Hasil dari negosiasi Kopenhagen tidak jelas: prosesnya mungkin sulit tetapi kesepakatan Kopenhagen itu sendiri merupakan terobosan dalam pengertian melibatkan negara-negara berkembang.

Sejarah Perencanaan Pembangunan Indonesia 1. Orde LamaPada era Orde Lama, masa pemerintahan presiden Soekarno antara tahun 1959-1967, pembangunan dicanangkan oleh MPR Sementara (MPRS) yang menetapkan sedikitnya tiga ketetapan yang menjadi dasar perencanaan nasional: TAP MPRS No.I/MPRS/1960 tentang Manifesto Politik republik Indonesia sebagai Garis-Garis Besar Haluan Negara TAP MPRS No.II/MPRS/1960 tentang Garis-Garis Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana 1961-1969, Ketetapan MPRS No.IV/MPRS/1963 tentang Pedoman-Pedoman Pelaksanaan Garis-Garis Besar Haluan Negara dan Haluan Pembangunan.Dengan dasar perencanaan tersebut membuka peluang dalam melakukan pembangunan Indonesia yang diawali dengan babak baru dalam mencipatakan iklim Indonesia yang lebih kondusip, damai, dan sejahtera. Proses mengrehablitasi dan merekontruksi yang di amanatkan oleh MPRS ini diutamakan dalam melakukan perubahan perekonomian untuk mendorong pembangunan nasional yang telah didera oleh kemiskinan dan kerugian pasca penjajahan Belanda.Pada tahun 1947 Perencanaan pembangunan di Indonesia diawali dengan lahirnya Panitia Pemikir Siasat Ekonomi. Perencanaan pembangunan 1947 ini masih mengutamakan bidang ekonomi mengingat urgensi yang ada pada waktu itu (meskipun di dalamnya tidak mengabaikan sama sekali masalah-masalah nonekonomi khususnya masalah sosial-ekonomi, masalah perburuhan, aset Hindia Belanda, prasarana dan lain lain yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial). Tanpa perencanaan semacam itu maka cita-cita utama untuk merubah ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional tidak akan dengan sendirinya dapat terwujud. Apalagi jika tidak diperkuat oleh Undang-Undang yang baku pada masa itu.Sekitar tahun 1960 sampai 1965 proses sistem perencanaan pembangunan mulai tersndat-sendat dengan kondisi politik yang masih sangat labil telah menyebabkan tidak cukupnya perhatian diberikan pada upaya pembangunan untuk memperbaiki kesejahtraan rakyat.Pada masa ini perekonomian Indonesia berada pada titik yang paling suram. Persediaan beras menipis sementara pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk mengimpor beras serta memenuhi kebutuhan pokok lainnya. Harga barang membubung tinggi, yang tercermin dari laju inflasi yang samapai 650 persen ditahun 1966. keadaan plitik tidak menentu dan terus menerus bergejolak sehingga proses pembangunan Indonesia kembali terabaikan sampai akhirnya muncul gerakan pemberontak G-30-S/PKI, dan berakir dengan tumbangnya kekuasaan presiden Soekarno.

2.Orde BaruPeristiwa yang lazim disebut Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) menandai pergantian orde dari Orde Lama ke Orde Baru. Pada tanggal 1 Maret 1966 Presiden Soekarno dituntut untuk menandatangani sebuah surat yang memerintahkan pada Jenderal Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang perlu untuk keselamatan negara dan melindungi Soekarno sebagai Presiden. Surat yang kemudian dikenal dengan sebutan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) itu diartikan sebagai media pemberian wewenang kepada Soeharto secara penuh.Pada masa Orde Baru pula pemerintahan menekankan stabilitas nasional dalam program politiknya dan untuk mencapai stabilitas nasional terlebih dahulu diawali dengan apa yang disebut dengan konsensus nasional.Pada era Orde Baru ini, pemerintahan Soeharto menegaskan bahwa kerdaulatan dalam politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam bidang sosial budaya. Tekad ini tidak akan bisa terwujud tanpa melakukan upaya-upaya restrukturisasi di bidang politik (menegakkan kedaulatan rakyat, menghapus feodalisme, menjaga keutuhan teritorial Indonesia serta melaksanakan politik bebas aktif), restrukturisasi di bidang ekonomi (menghilangkan ketimpangan ekonomi peninggalan sistem ekonomi kolonial, menghindarkan neokapitalisme dan neokolonialisme dalam wujudnya yang canggih, menegakkan sistem ekonomi berdikari tanpa mengingkari interdependensi global) dan restrukturisasi sosial budaya (nation and character building, berdasar Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila serta menghapuskan budaya inlander).Pada masa ini juga proses pembangunan nasional terus digarap untuk dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dan menciptakan lapangan kerja. Pendapatan perkapita juga meningkata dibandingkan dengan masa orde lama.Kesemuanya ini dicapai dalam blueprint nasional atau rencana pembangunan nasional. Itulah sebabnya di jaman orde lama kita memiliki rencana-rencana pembangunan lima tahun (Depernas) dan kemudian memiliki pula Pembangunan Nasional Semesta Berencana Delapan-Tahun (Bappenas). Di jaman orde baru kita mempunyai Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I, Repelita II, Repelita III, Repelita IV, Repelita V,dan Repelita VII (Bappenas).Penyebab utama runtuhnya kekuasaan Orde Baru adalah adanya krisis moneter tahun 1997. Sejak tahun 1997 kondisi ekonomi Indonesia terus memburuk seiring dengan krisis keuangan yang melanda Asia. Keadaan terus memburuk. KKN semakin merajalela, sementara kemiskinan rakyat terus meningkat. Terjadinya ketimpangan sosial yang sangat mencolok menyebabkan munculnya kerusuhan sosial. Muncul demonstrasi yang digerakkan oleh mahasiswa. Tuntutan utama kaum demonstran adalah perbaikan ekonomi dan reformasi total. Demonstrasi besar-besaran dilakukan di Jakarta pada tanggal 12 Mei 1998. Pada saat itu terjadi peristiwa Trisakti, yaitu me-ninggalnya empat mahasiswa Universitas Trisakti. Keempat mahasiswa yang gugur tersebut kemudian diberi gelar sebagai Pahlawan Reformasi.Menanggapi aksi reformasi tersebut, Presiden Soeharto berjanji akan mereshuffle Kabinet Pembangunan VII menjadi Kabinet Reformasi. Selain itu juga akan membentuk Komite Reformasi yang bertugas menyelesaikan UU Pemilu, UU Kepartaian, UU Susduk MPR, DPR, dan DPRD, UU Antimonopoli, dan UU Antikorupsi. Dalam perkembangannya, Komite Reformasi belum bisa terbentuk karena 14 menteri menolak untuk diikutsertakan dalam Kabinet Reformasi. Adanya penolakan tersebut menyebabkan Presiden Soeharto mundur dari jabatannya

3. ReformasiSetelah terjadi berbagai goncangan ditanah air dan berbagai tekanan rakyat kepada presiden Soeharto, akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden RI dan menyerahkan jabatannya kepada wakil presiden B.J. Habibie. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Orde Baru dan dimulainya Orde Reformasi.Untuk memperbaiki perekonomian yang terpuruk, terutama dalam sektor perbankan, pemerintah membentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Selanjutnya pemerintah mengeluarkan UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat, serta UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.Selain itu pada masa ini juga memberi kebebasan dalam menyampaikan pendapat, partisipasi masyarakat mulai terangkat kembali. Hal ini terlihat dari munculnya partai-partai politik dari berbagai golongan dan ideologi. Masyarakat bisa menyampaikan kritik secara terbuka kepada pemerintah. Di samping kebebasan dalam menyatakan pendapat, kebebasan juga diberikan kepada pers. Reformasi dalam pers dilakukan dengan cara menyederhanakan permohonan Surat Izin Usaha Penerbitan (SIUP).Dengan hadirnya reformasi pembangunan dapat di kontrol langsung oleh rakyat, dan kebijakan pembangunanpun didasari demokrasi yang bebunyi dari, oleh dan untuk rakyat, sehingga dengan dasar ini partisipasi rakyat tidak terkekang seperti pada masa orde baru,kehidupan perekonomian Indonesia dapat didorong oleh siap saja.Selain pemabangunan nasional pada masa ini juga ditekankan kepada hak daerah dan masyarakatnya dalam menentukan daerahnya masing-masing, sehingga pembangunan daerah sangat diutamakan sebagaimana dicantumkan dalam Undang-Undang no 32/2004,Undang-Undang 33/2004, Undang-Undang 18/2001 Untuk pemerintahan Aceh, Undang-Undang 21/2001 Untuk Papua. Keempat undang-undang ini mencerminkan keseriusan pusat dalam melimpahkan wewenangnya kepada pemerintah dan rakyat di daerah agar daerah dapat menentukan pembangunan yang sesuai ratyatnya inginkan.

Tahap Implementasi: pra-1987, UU 4/1982 dan periode 1987 1993, PP No. 29/1986.AMDAL mulai diterapkan di Indonesia secara formal pada tahun 1982 melalui penerapan Undang Undang nomor 4/1982 namun belum dilaksanakan secara luas karena belum adanya pedoman pelaksanaan yang lebih rinci walaupun pada periode ini sudah ada yang melakukan studi AMDAL sebagai pemenuhan persyaratan bantuan luar negeri dan permintaan lembaga donor. Pada periode ini implementasi AMDAL masih terbatas karena masih kurangnya pemahaman AMDAL oleh para stakeholder. Barulah pada tahun 1986 ketika Peraturan Pemerintah nomor 29/1986 tentang AMDAL mulai diberlakukan, AMDAL secara sistematis mulai dilaksanakan dan bahkan cenderung sangat ekstensif karena banyak sekali kegiatan yang diwajibkan menyusun AMDAL dan melakukan evaluasi lingkungan melalui Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan, SEMDAL. Dapat dilihat bahwa pengenalam AMDAL di Indonesia pada tahun 1980an merupakan suatu hasil perkembangan kepedulian lingkungan secara internasional sebagai imbas dari Konferensi Stockholm. Hal ini didorong pula oleh bantuan program dari Pemerintah Kanada dalam penyusunan perangkat peraturan AMDAL sejak tahun 1983 (BAPEDAL & EMDI, 1994: 29). Berbagai panduan disusun untuk melaksanakan AMDAL termasuk panduan teknis dari berbagai instansi sektoral. Namun demikian koordinasi antar lembaga pelaksana AMDAL belum demikian terjalin dengan baik pada periode ini. Demikian pula Sekretariat dan Komisi AMDAL sebagai badan yang melakukan proses administrasi dan mengkaji secara teknis belum terlalu berkembang.

Tahap Pengembangan: antara 1993 2000, PP No. 51/1993.Tahap ini memberi penekanan pada penyederhanaan proses AMDAL sejalan dengan deregulasi birokrasi pemerintahan. Muatan deregulasi mencakup penghilangan proses SEMDAL dan pengenalan berbagai pendekatan dalam proses AMDAL (proyek tunggal, terpadu, kawasan, dan regional). Dengan hilangnya proses SEMDAL, beban kerja instansi yang melaksanakan AMDAL menjadi lebih proporsional, demikian pula jumlah kegiatan wajib AMDAL menjadi lebih sedikit dan lebih tepat sasaran. Menurut laporan Bapedal (2000) terdapat sekitar 7.000 dokumen yang diproses hingga awal tahun 2000 atau 4.507 dokumen yang dinilai pada kurun waktu 1993 hingga 1997. Pada masa ini pula institusi Bapedal mulai beroperasi dengan baik dan memiliki otoritas untuk pentaatan AMDAL dan pengawasan kualitas dari dokumen yang dihasilkan. Hal yang cukup menarik pada periode ini adalah diperkenalkannya berbagai pendekatan studi AMDAL yang semula hanya dikenal melalui pendekatan proyek (seperti di negara asalnya). Pada periode ini paling tidak terdapat empat pendekatan dalam studi AMDAL yaitu AMDAL proyek, regional, kawasan, dan terpadu. Dengan pendekatan ini diharapkan proses AMDAL menjadi lebih efektif dan berbagai isu seperti dampak kumulatif atau dampak yang lebih strategis dapat diantisipasi.

Tahap Perbaikan (Refi nement): pasca-2000, UU 23/1997 dan PP No. 27/1999.Tahap ini memberikan penekanan pada prosedur pelibatan masyarakat, sentralisasi kewenangan dari sektoral kepada Bapedal dan redesentralisasi pelaksanaan AMDAL kepada pemerintah daerah (propinsi) serta adanya pendekatan AMDAL lintas batas. Periode ini ditandai dengan pembubaran Komisi Penilai AMDAL di departemen sektoral dan pemusatan pelaksanaan AMDAL oleh Bapedal. Bapedal mendistribusikan kewenangan AMDAL ini ke tingkat propinsi. Dari sisi positif dapat dikatakan bahwa penilaian AMDAL diharapkan menjadi lebih obyektif dan tidak bias dengan kepentingan pembangunan oleh instansi sektoral. Di samping itu, desentralisasi kewenangan AMDAL ke tingkat propinsi menunjukkan berjalannya prinsip akuntabilitas daerah dalam pembangunan berkelanjutan. Dari sisi negatif dapat dikatakan bahwa perubahan ini menghilangkan sumber daya manusia AMDAL di departemen sektoral dan menurunkan perhatian lingkungan oleh instansi teknis pelaksana pembangunan fisik. Dari sisi kemajuan sistem AMDAL, selain pendekatan lintas batas, periode ini juga mengenalkan mekanisme pelibatan masyarakat yang lebih intensif di dalam proses AMDAL. Demikian pula proses AMDAL menjadi lebih sederhana dan kegiatan wajib AMDAL menjadi lebih sedikit dan proporsional hanya untuk rencana kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting. Namun demikian, pada masa ini terdapat kemunduran yang sangat berarti karena perubahan kondisi politik di tanah air. Institusi Bapedal yang menjadi ujung tombak pelaksanaan AMDAL dibubarkan pada tahun 2002 dan fungsi tugasnya digabungkan ke dalam KLH. 14 Di sisi lain, kebijakan otonomi daerah telah memberikan kewenangan pemerintahan seluas-luasnya kepada tingka kabupaten dan kota. Hal ini termasuk kewenangan untuk proses AMDAL. Dikatakan kemunduran karena pelaksanaan AMDAL oleh pemerintah kabupaten dan kota tidak dipersiapkan secara matang secara peraturan atau pun secara teknis. Sebagai bukti, hingga saat ini Peraturan Pemerintah nomor 27/1999 hanya memberikan kewenangan proses AMDAL hingga tingkat propinsi.

Tahap Revitalisasi AMDAL: setelah 2004-2007. Para praktisi AMDAL menyadari masih banyaknya kekurangan di dalam sistem pengelolaan lingkungan, termasuk di dalam sistem AMDAL. Untuk itu terdapat keinginan untuk meningkatkan beberapa hal seperti adanya wacana akan perlunya undang-undang AMDAL tersendiri (seperti NEPA) yang memberikan klausal sanksi hukum yang jelas terhadap pelanggar proses AMDAL, reformasi mekanisme AMDAL, pengaturan wewenang proses AMDAL sejalan dengan revisi UU Pemerintahan Daerah dan perlunya perangkat pengelolaan lingkungan lainnya pendukung AMDAL (Kajian Lingkungan Strategis KLS, Kajian Risiko Lingkungan KRL atau Environmental Risk Assessment ERA, Sistem Manajemen Lingkungan SML atau Environmental Management System EMS, Audit Lingkungan) di dalam perangkat pencegahan. Hal ini bermuara pada perubahan UU Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU 23/1997) yang hingga saat ini masih dibahas. Tendensi yang ada saat ini adalah bahwa kewenangan AMDAL tetap didistribusikan hingga tingkat pemerintah kabupaten dan kota. Sementara itu, perdebatan untuk pemberian sanksi hukum masih terus bergulir untuk dicantumkan dalam Rancangan Undang Undang Lingkungan Hidup yang baru. Rancangan Peraturan Pemerintah tentang AMDAL pun sedang dikaji dan disusun. Beberapa ide seperti penyederhanaan proses AMDAL (lebih cepat) dan perubahan mekanisme AMDAL masih terus dikaji untuk perubahan ke arah yang lebih baik.

Pengaruh Pembangunan Berkelanjutan Bagi AMDALPembangunan yang terus meningkat di segala bidang, khususnya pembangunan di bidang industri, semakin meningkatkan pula jumlah limbah yang dihasilkan termasuk yang berbahaya dan beracun yang dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Untuk mencegah timbulnya pencemaran lingkungan dan bahaya terhadap kesehatan manusia serta makhluk hidup lainnya, limbah bahan berbahaya dan beracun harus dikelola secara khusus agar dapat dihilangkan atau dikurangi sifat bahayanya.Pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas telah mendorong Pemerintah untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1994 tanggal 30 April 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3551) yang kemudian direvisi dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 24, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3595). Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 ini kembali diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 31) dan terakhir diperbaharui kembali melalui Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 1999 tentang.Dasar hukum dari dikeluarkannya Peraturan Pemerintah ini antara lain adalah Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 18, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) sebagaimana kemudian diperbaharui dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699, mulai berlaku sejak diundangkan tanggal 19 September 1997) serta Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274).Lingkungan hidup didefenisikan oleh Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Sedangkan yang dimaksud dengan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup.Inti masalah lingkungan hidup adalah hubungan timbal balik antara makhluk hidup (organisme) dengan lingkungannya yang bersifat organik maupun anorganik yang juga merupakan inti permasalahan bidang kajian ekologi.Pasal 3 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana telah diubah oleh Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menyatakan bahwa pengelolaan lingkungan hidup diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan, dan asas manfaat dan bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.Kata-kata pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup sebagaimana tercantum dalam tujuan tersebut di atas merupakan kata kunci (key words) dalam rangka melaksanakan pembangunan dewasa ini maupun di masa yang akan datang. (Koesnadi Hardjasoemantri, 1990: 127).Istilah pembangunan berkelanjutan yang berwawasan Lingkungan merupakan suatu terjemahan bebas dari istilah sustainable development yang menggambarkan adanya saling ketergantungan antara pelestarian dan pembangunan. Istilah ini untuk pertama kalinya mulai diperkenalkan oleh The World Conservation Strategy (Strategi Konservasi Dunia) yang diterbitkan pada tahun 1980 yang menekankan bahwa kemanusiaan, yang merupakan bagian dalam alam, tidak mempunyai masa depan kecuali bila alam dan sumber daya alam dilestarikan. Dokumen ini menegaskan bahwa pelestarian tidak dapat dicapai tanpa dibarengi pembangunan untuk memerangi kemiskinan dan kesengsaraan ratusan juta umat manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Sustainable Development. Wikipedia.co.id (diakses pada 7 Maret 2015 pukul 21.00 WIB)

Asshiddiqie, Jimly. Green Constitution: Nuansa Hijau Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta: Rajawali Pers, 2010.

Bahan Ajar Pelatihan Penilaian AMDAL (Pusdiklat Kementerian Negara Lingkungan.Hidup) 2009

Noor, Azamul Fadhly. 2007. Pembangunan dan Masalah Lingkungan Hidup. https://azamul.wordpress.com/2007/06/07/pembangunan-dan-masalah-lingkungan-hidup/ (diakses pada 7 Maret 2015 pukul 21.00 WIB)