Sumber Hukum Ketenagakerjaan

download Sumber Hukum Ketenagakerjaan

of 22

  • date post

    17-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    76
  • download

    13

Embed Size (px)

description

Sumber Huku tenaga kerja

Transcript of Sumber Hukum Ketenagakerjaan

nHUKUM KETENAGAKERJAAN

Makalah

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Manajemen Sumber Daya Manusia

Disusun oleh :Arif Hidayat (2011052093)Fitriah

(2010051485)PROGRAM STUDI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PAMULANG2013

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta pertolongan-Nya, sehingga penyusunan makalah berjudul Hukum Ketenagakerjaan sebagai salah bentuk tugas dalam mata kuliah manajemen Sumber Daya Manusia, dapat diselesaikan.

Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini, banyak pihak yang telah memberikan saran, bimbingan, bantuan dan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung sejak awal penulisan sampai makalah ini terselesaikan.

Tangerang, 22 Juni 2013

penulis

DAFTAR ISI

iKATA PENGANTAR

iiDAFTAR ISI

1BAB I PENDAHULUAN

11.1. Latar Belakang

3BAB II PEMBAHASAN

32.1. Sumber Hukum Ketenagakerjaan

32.1.1. Pengertian Sumber Hukum

82.2. Pendekatan Tenaga Kerja

82.3. Sumber Hukum Ketenagakerjaan Indonesia

102.3.1. Undang-undang No. 13 Tahun 2003

122.3.2. Undang - Undang No. 2 Tahun 2004

16BAB III PENUTUP

163.1. Kesimpulan

17DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar BelakangHukum Ketenagakerjaan pada umumnya dan hukum perburuhan pada khususnya, Menurut UU No. 13 Tahun 2003, pengertian ketenagakerjaan adalah lebih luas dibandingkan dengan perburuhan sebagaimana dalam KUHPerdata. Namun demikian pelaksanaan peraturan perundang undangan di bidang ketenagakerjaan masih mempergunakan beberapa undang-undang yang dikeluarkan sebelum dikeluarkan UU No. 13 Tahun 2003. Hukum Ketenagakerjaan yang mulanya disebut dengan hukum perburuhan, tidak saja menyangkut hubungan kerja antara pekerja dengan pengusaha, melainkan mengatur juga hubungan kerja seperti pra pekerja/sebelum bekerja dan purna kerja/setelah bekerja.

Dengan adanya istilah buruh yang merupakan istilah teknis saja yang kemudian berkembang menjadi istilah pekerja karena lebih sesuai dengan nilai dalam kaidah ketenagakerjaan yaitu falsafah bangsa Indonesia yaitu Pancasila, dimana nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila ingin diterapkan dalam tata nilai hukum nasional sebagai perubahan tata nilai hukum warisan Hindia Belanda yang masih berlaku dalam hukum positif Indonesia. Sebutan buruh akan masih memberikan suatu pengertian pada kelompok pekerja golongan bawah/pekerja kasar yang hanya bekerja dengan kekuatan fisik saja, sehingga orang-orang yang bekerja tidak dengan kekuatan fisik seperti bekerja di bidang administrasi merasa enggan disebut buruh. Secara yuridis hubungan antara pekerja dan pengusaha adalah sama, walaupun secara social-ekonomi kedudukan antara pekerja dan pengusaha adalah berbeda. Dan segala sesuatu mengenai hubungan kerja diserahkan kepada kedua belah pihak, oleh karena itu untuk memenuhi trasa keadilan perlu ada peraturan perundang-undangan untuk melindungi pekerja. Peraturan mana adalah mengatur tentang hak dan kewajiban diantara kedua belah pihak.

Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003, antara lain menyebutkan bahwa : Tiap-tiap tenaga kerja barhak atas pekerjaan dan penghasilan yang layak bagi kemanusiaan , oleh karena itu tidak boleh ada diskriminasi antara pekerja wanita dan pria. Adapun ruang lingkup tenaga kerja menurut UU No. 13 Tahun 2003 adalah pre employment, during employment, dan post employment. Selain itu tenaga kerja berhak atas pembinaan dan perlindungan dari pemerintah.

BAB II PEMBAHASAN2.1. Sumber Hukum Ketenagakerjaan2.1.1. Pengertian Sumber HukumPengertian sumber hukum, antara lain:a. Sebagai asas hukum

b. Menunjukkan hukum terdahulu yang menjadi dasar hukum sekarang

c. Sebagai sumber berlakunya peraturan hukum

d. Sumber kita dapat mengenal hukum

e. Sumber terjadinya hukum

Sumber hukum Ketenagakerjaan ialah:

a. Sumber Hukum ketenagakerjaan dalam artian materiil (tempat dari mana materi hukum itu diambil).

Yang dimaksud dengan sumber hukum materiil atau lazim disebut sumber isi hukum (karena sumber yang menentukan isi hukum) ialah kesadaran hukum masyarakat yakni kesadaran hukum yang ada dalam masyarakat mengenai sesuatu yang seyogyanya atau seharusnya (Sudikno Mertokusumo, 1988 :63), sumber hukum materiil merupakan faktor yang membantu pembentukan hukum.

Sumber Hukum Materiil Hukum Ketenagakerjaan ialah Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum dimana setiap pembentukan peraturan perundang-undangan bidang ketenagakerjaan harus merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai Pancasila.

b. Sumber Hukum Perburuhan dalam artian formil (tempat atau sumber dari mana suatu peraturan itu memperoleh kekuatan hukum).

Sumber hukum formil merupakan tempat atau sumber dimana suatu peraturan memperoleh kekuatan hukum. (Sudikno Mertokusumo, 1988 :63), Sumber formil hukum perburuhan yaitu:

1. Perundang-undanganUndang-undang merupakan peraturan yang dibuat oleh Pemerintah dengan persetujuan DPR. Berdasarkan ketentuan Pasal II Aturan Peralihan UUD 45 maka beberapa peraturan yang lama yang masih berlaku karena dalam kenyataannya belum banyak peraturan yang dibuat setelah kemerdekaan (Imam Soepomo, 1972:21-22), yaitu:a) Wet

b) Algemeen Maatregal van Bestuur

c) Ordonantie-ordonantie

d) Regeeringsverordening

e) Regeeringsbesluit

f) Hoofd van afdeling van arbeid.

Setelah Indonesia merdeka (Abdul Rahman Budiyono, 1995:14), ada hal yang perlu dicatat bahwa politik hukum kodifikasi sudah ditinggalkan diganti dengan politik hukum yang mengacu pada unifikasi hukum.2. Peraturan lainnya

a) Peraturan Pemerintah. Merupakan aturan yang dibuat untuk melaksanakan UU

b) Keputusan Presiden. Adalah keputusan yang bersifat khusus (einmalig) untuk melaksanakan peraturan yang ada di atasnya.

c) Peraturan atau keputusan instansi lainnya

3. KebiasaanPaham yang mengatakan bahwa satu-satunya sumber hukum hanyalah undang-undang sudah banyak ditinggalkan sebab dalam kenyataannya tidak mungkin mengatur kehidupan bermasyarakat yang begitu komplek dalam suatu undang-undang. Disamping itu undang-undang yang bersifat statis itu mengikuti perubahan kehidupan masyarakat yang begitu cepat.

Kebiasaan merupakan kebiasaan manusia yang dilakukan berulang-ulang dalam hal yang sama dan diterima oleh masyarakat, sehingga bilamana ada tindakan yang dirasakan berlawanan dengan kebiasaan tersebut dianggap sebagai pelanggaran perasaan hukum.

Masih banyak dan berkembangnya hukum kebiasaan dalam bidang ketenagakerjaan (Abdul Rahman Budiyono, 1995:15), disebabkan antara lain:

a) Perkembangan masalah-masalah perburuhan jauh lebih cepat dari perindang-undangan yang ada

b) Banyak peraturan yang dibuat jaman HB yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan ketenagakerjaan sedudah Indonesia merdeka.4. PutusanPutusan disini ialah putusan yang dikeluarkan oleh sebuah panitia yang menangani sengketa-sengketa perburuhan, yaitu:

a) Putusan P4P (Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat)

b) Putusan P4D (Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah)

Panitia penyelesaian perburuhan sebagai suatu compulsory arbitration (arbitrase wajib) mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan hukum ketenagakerjaan karena peraturan yang ada kurang lengkap atau tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang. Panitia ini tidak jarang melakukan interpretation (penafsiran) hukum, atau bahkan melakukan rechtvinding (menemukan) hukum.

Mengingat bahwa Undang-undang Nomor 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1964 tentang Pemutusan Hubungan Kerja di Perusahaan Swasta sudah tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam rangka untuk memperoleh keadilan dan kepastian hukum maka dikeluarkanlah undang-undang republik indonesia nomor 2 tahun 2004 tentang penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang menggantikan peraturan sebelumnya.Sebelum terbentuk Pengadilan Hubungan Industrial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah dan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat tetap melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam UU No. 2 Tahun 2004 dimungkinkan penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui jalur yuridis (litigasi) maupun jalur non yuridis (non litigasi) seperti perundingan bipartite, arbitrase, konsiliasi serta mediasi,

5. Perjanjian

Perjanjian merupakan peristiwa di mana pihak yang satu berjanji kepada pihak yang lainnya untuk melaksanakan sesuatu hal, akibatnya pihak-pihak yang bersangkutan terikat oleh isi perjanjian yang mereka adakan. Kaitannya dengan masalah perburuhan, perjanjian yang merupakan sumber hukum perburuhan ialah perjanjian perburuhan dan perjanjian kerja (Imam Soepomo, 1972:24), karena kadang-kadang perjanjian perburuhan mempunyai kekuatan hukum seperti undang-undang.6. Traktat

Ialah perjanjian yang diadakan oleh dua negara atau lebih. Lazimnya perjanjian internasional memuat peraturan-peraturan hukum yang mengikat secara umum. Sesuai dengan asas pacta sunt servanda maka masing-masing negara sebagai rechtpersoon (publik) terikat oleh perjanjian yang dibuatnya (Soetikno, 1977: 24), hingga saat ini Indonesia belum pernah mengadakan perjanjian dengan negara lain yang berkaitan dengan perburuhan.Meskipun demikian dalam hukum internasional ada suatu pranata seperti traktat ( Soetikno, 1977: 10), yaitu convention, pada hakikatnya convention ini merupakan rencana perjanjian internasional di bidang perburuhan yang ditetapkan oleh Konperensi Internasional ILO (International Labour Organisation). Meskipun Indonesia sebagai anggota I