Status Pasien Kabin koas

download Status Pasien Kabin koas

of 25

  • date post

    21-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    23
  • download

    11

Embed Size (px)

description

koskap

Transcript of Status Pasien Kabin koas

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa, akhirnya kami dapat menyelesaikan penulisan laporan keluarga binaan kami yang berada di lingkungan Puskesmas Nanggalo. Kegiatan Keluarga Binaan ini merupakan salah satu syarat dalam mengikuti kepanitraan klinik Rotasi II di Puskesmas Nanggalo.

Kami mengucapkan terimakasih kepada dr. Sri Handayani MP, Sp.M selaku preseptor dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan dr. Hj. Liza Andriani M.Kes dan dr. Vitri selaku preseptor dari Puskesmas Nanggalo dan semua staf Puskesmas Nanggalo yang telah memberikan arahan dan petunjuk dalam pelaksanaan Keluarga Binaan, serta semua pihak yang telah membantu dalam penulisan laporan ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan laporan Keluarga Binaan ini, untuk itu kritik dan saran dari pembaca kami harapkan. Semoga laporan keluarga binaan ini dapat bermanfaat bagi semua.

Padang, Februari 2014

Penulis

BAB IPENDAHULUANTinea adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya lapisan teratas pada kulit pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur dermatofita (jamur yang menyerang kulit). Kelainan ini dapat bersifat akut atau pun menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup. Dimana secara epidemiologi pria lebih sering terkena daripada wanita.1Tinea kruris lebih sering dijumpai pada daerah beriklim tropis/subtropis, dimana Indonesia merupakan Negara tropis yang beriklim panas dengan kelembapan yang tinggi yang mempermudah timbulnya infeksi tinea kruris sehingga infeksi jamur ini banyak ditemukan.2,3Jamur dermatofita yang sering ditemukan pada kasus tinea kruris adalah, E.Floccosum, T. Rubrum, dan T. Mentagrophytes. Pemeriksaan KOH merupakan pemeriksaan tunggal yang paling penting untuk mendiagnosis infeksi dermatofit secara langsung dibawah mikroskop dimana terlihat hifa di antara material keratin.5Tatalaksana yang penting untuk penyakit ini adalah dengan menghilangkan faktor predisposisi, misalnya mengusahakan daerah lesi selalu kering dan memakai baju yang menyerap keringat.6BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Tinea adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya lapisan teratas pada kulit pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur dermatofita (jamur yang menyerang kulit).Tinea kruris merupakan infeksi jamur dermatofit didaerah inguinal, bokong, perut bagian bawah, perineum dan perianal. Kelainan ini dapat bersifat akut ataupun menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup.1,32.2 Epidemiologi

Tinea kruris lebih sering dijumpai pada daerah beriklim tropis/subtropis, dimana Indonesia merupakan Negara tropis yang beriklim panas dengan kelembapan yang tinggi yang mempermudah timbulnya infeksi tinea kruris sehingga infeksi jamur ini banyak ditemukan.6,7

Tinea kruris lebih banyak dijumpai pada laki-laki dibanding wanita. Biasanya mengenai penderita usia 18-60 tahun, tetapi paling banyak dijumpai pada usia antara 18-25 tahun serta antara 40-50 tahun. Tinea kruris mempunyai angka kekambuhan yang cukup tinggi yaitu 20-25%.82.3 Etiologi

Jamur dermatofita yang sering ditemukan pada kasus tinea kruris adalah, E.Floccosum, T. Rubrum, dan T. Mentagrophytes.Pria lebih sering terkena dari pada wanita. Maserasi dan oklusi kulit lipat paha menyebabkan peningkatan suhu dan kelembaban kulit yang akan memudahkan infeksi. Tinea kruris biasanya timbul akibat penjalaran infeksi dari bagian tubuh lain. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan individu yang terinfeksi atau tidak langsung melalui benda yang mengandung jamur, misalnya handuk, lantai kamar mandi, tempat tidur hotel dan lain-lain.4,92.4 Patofisiologi

Dermatofitosis bukanlah patogen endogen.Transmisi dermatofit kemanusia dapat melalui 3 sumber masing-masing memberikan gambaran tipikal. Karena dermatofit tidak memiliki virulensi secara khusus dan khas hanya menginvasi bagian luar stratum korneum dari kulit.2,10,11Tipe dermatofita berdasarkan transmisi

KategoriTransmisiTampilan klinis

Antropofilik

Zoofilik

GeofilikManusia ke manusia

Hewan ke manusia

Tanah ke manusia atau hewanRingan, tanpa inflamasi, kronik

Inflamasi hebat (mungkin pustula dan vesikel), akut.

Inflamasi sedang

Lingkungan kulit yang sesuai merupakan faktor penting dalam perkembangan klinis dermatofitosis. Infeksi alami disebabkan oleh deposisi langsung spora atau hifa pada permukaan kulit yang mudah dimasuki dan umumnya tinggal di stratum korneum, dengan bantuan panas, kelembaban dan kondisi lain yang mendukung seperti trauma, keringat yang berlebih dan maserasi juga berpengaruh.5-7Pemakaian bahan yang tidak berpori akan meningkatkan temperatur dan keringat sehingga mengganggu fungsi barier stratum korneum. Infeksi dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan individu atau hewan yang terinfeksi, benda-benda seperti pakaian, alat-alat dan lain-lain.Infeksi dimulai dengan terjadinya kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya dalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini memproduksi enzim keratolitik yang mengadakan difusi ke dalam jaringan epidermis dan merusak keratinosit.5-7Setelah masa perkembangannya (inkubasi) sekitar 1-3 minggu respon jaringan terhadap infeksi semakin jelas dan meninggi yang disebut ringworm, yang menginvasi bagian perifer kulit. Respon terhadap infeksi, dimana bagian aktif akan meningkatkan proses proliferasi sel epidermis dan menghasilkan skuama. Kondisi ini akan menciptakan bagian tepi aktif untuk berkembang dan bagian pusat akan bersih. Eliminasi dermatofit dilakukan oleh sistem pertahanan tubuh (imunitas) seluler.Pada masa inkubasi, dermatofit tumbuh dalam stratum korneum, kadang-kadang disertai tanda klinis yang minimal. Pada carier, dermatofit pada kulit yang normal dapat diketahui dengan pemeriksaan KOH atau kultur.82.5 Gejala

Pruritus merupakan gejala yang umum, bisa terdapat nyeri jika daerah yang terinfeksi terkena maserasi atau terjadi infeksi skunder.Pada tinea kruris yang klasik memberi wujud kelainan kulit yang bilateral, namun tidak selalu simetris.Lesi berbatas tegas, tepi meninggi yang dapat berupa papulovesikel eritematosa, atau kadang terlihat pustule.Bagian tengah menyembuh berupa daerah coklat kehitaman berskuama. Garukan kronis dapat menimbulkan gambaran likenifikasi.10Dua organisme utama penyebab tinea krusis bisa memberikan gambaran klinis yang berbeda, pada infeksi oleh E floccosum terdapat gambaran lesi jarang melewati region genitokrural dan pada paha atas bagian dalam, sedangkan oleh T. rubrum sering bersatu dan menyebar meliputi daerah yang lebih luas yaitu daerah pubis.5-72.6 Pemeriksaan Penunjang

Dalam patogenesisnya, jamur patogen akan menyebabkan kelainan pada kulit sehingga atas dasar kelainan kulit inilah kita dapat membangun diagnosis. Akan tetapi kadang temuan efloresensi tidak khas atau tidak jelas, sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang. Sehingga diagnosis menjadi lebih tepat.1-4Pemeriksaan mikroskopik langsung terhadap bahan pemeriksaan merupakan pemeriksaan yang cukup cepat, berguna dan efektif untuk mendiagnosis infeksi jamur.Pemeriksaan KOH merupakan pemeriksaan tunggal yang paling penting untuk mendiagnosis infeksi dermatofit secara langsung dibawah mikroskop dimana terlihat hifa diantara material keratin.11-12Pada tinea kruris, bahan untuk pemeriksaan jamur sebaiknya diambil dengan mengerok tepi lesi yang meninggi atau aktif.Khusus untuk lesi yang berbentuk lenting-lenting, seluruh atapnya harus diambil untuk bahan pemeriksaan. Pemeriksaan mikroskopik (dengan menggunakan mikroskop) secara langsung menunjukkan artrospora (hifa yang bercabang) yang khas pada infeksi dermatofita.132.7 Diagnosis

Diagnosis ditetapkan berdasarkan gambaran klinis dan lokalisasinya atau pemeriksaan sediaan langsung kerokan lesi dengan larutan KOH 20%, untuk melihat elemen jamur dermatofit. Biakan jamur diperlukan untuk identifikasi spesies jamur penyebab yang lebih akurat.3,6,8Diagnosis pasti digunakan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop untuk mengidentifikasi adanya hifa dan spora untuk mengetahui infeksi dermatofit. Infeksi dapat dikonfirmasi atau beberapa dari keadaan ini diidentifikasi dari hasil positif kerokan oleh kultur jamur.102.8 Diagnosis Banding

Tinea kruris dapat didiagnosis banding dengan kandidiasis inguinalis, eritrasma, psoriasis, dan dermatitis seboroik.Pada kandidiasis inguinalis terdapat lesi berwarna merah terang, papul dan pustule satelit pada pinggirnya dan skrotum sering terkena. Eritrasma terdapat lesi berupa macula eritema dan skuama halus,asimetris. Pada pemeriksaan lampu wood menunjukkan efloresensi merah bata, sedang pada pemeriksan KOH negative tidak ditemukan elemen jamur spora atau hifa. Psoriasis terdapat lesi berupa plakat eritema dengan skuama tebal berlapis-lapis dan berwarna seperti mika.3,6,8Pada pemeriksan KOH tidak ditemukan elemen jamur, spora atau hifa. Dermatitis seboroik terdapat lesi berupa eritema dengan skuama kekuningan berminyak, tidak berbatas tegas, dapat terlihat pada tempat-tempat predileksinya, misalnya di kulit kepala, lipatan-lipatan kulit serta pemeriksaan KOH negative.72.9 Penatalaksanaan

Menghilangkan faktor predisposisi penting, misalnya mengusahakan daerah lesi selalu kering dan memakai baju yang menyerap keringat.11-12a. Terapi topikal

Terapi direkomendasikan untuk infeksi lokal karena dermatofit biasanya hidup pada jaringan. Berbagai macam preparat imidazol dan alilamin tersedia dalam berbagai formulasi dan semuanya memberikan keberhasilan terapi (70-100%). Terapi topikal digunakan 1-2 kali sehari selama 2 minggu tergantung agen yang digunakan.Topikal azol dan allilamin menunjukkan angka perbaikan perbaikan klinik yang tinggi.

Berikut obat y