Spektrum Februari

download Spektrum Februari

of 29

  • date post

    26-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    229
  • download

    6

Embed Size (px)

description

 

Transcript of Spektrum Februari

  • Assalamu'alaikumWarahmatullahiWabarakatuh!!!

    Salam Pers Mahasiswa ! Puji Syukur kitahaturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yangtelah memberikan kami nikmat sampai akhirnyabisa menyelesaikan Spektrum Edisi BulanFebruari 2014 yang bertemakan DEFENSIVEMEDECINE .

    Beberapa rubrik sekaligus memahas tematersebut , di antaranya laporan utama .laporankhusus .Selain itu masih ada rubrik yangmembahas tentang informasi ISMKI wilayah ,profil, LPM , Introduce US dan rubrik lainnya.

    Kami sadar majalah ini banyak kesalahan ,mohon kritik dan saran yang membangun untukkebaikan majalah ini kedepan. Akhir katasemoga majalah ini bermanfaat bagi kita semua.

    SusunanPengurus

    DireturUtamaFathonahAgungWahyuDirekturUtamaTerpillih

    MariaMegildaBosri

    SekretarisIdaAyuKemalaWasitaManuaba

    BendaharaTriUmiMaslakhatud Diniyah

    Kadiv SpektrumShafrizalRazali

    StaffIdaAyuPutriWidyaLestari

    RezitaOktianaNurmaliaFitriaNingrum

    Muhammad Arif BudiPrakosoKenny CantikaAbadi

    PaulusPradatamaRagaComeUtamiNingsih

    EmirzaNurWicaksonoBomaBhaswara

    MaghfirahMahmuddinOngReayaSanyKadiv Internal

    GitaEkaAyuningtyas

    Kadiv eksternalRizkaKhairiza

    Kadiv DanusDitaSeptiani

    Kadiv Litbang

    Arief Kurniawan

    Daftar

    Isi

    DevensiveMedicine

    EdisiFebruari2014Spektrum

  • KETIKAPARAPENEGAKHUKUMDANMASYARAKATKITATIDAKPERCAYALAGIPADADOKTER

    APAKAHDOKTERPERLUMENERAPKANDEFENSIVEMEDICINE?

    Defensive medicine occurs when doctors order tests, procedures, or visits, or avoid high-risk patients or procedures,primarily (but not necessarily or solely) to reduce their exposure to malpractice liability.(Congressional Office of

    Technology Assessment, 1994).

    Profesi dokter merupakan

    profesi yang berhubungandengan nyawa manusia.

    Melalui tangannya, seorang dokterberusaha memperbaiki kualitas hiduppasien. Tak jarang pula seorang dokterdengan sabar mendengarkan keluh kesahpasien, dan tak jarang pula seorang dokterdengan sabar memberikan penjelasan,pengertian, dan edukasi kepada pasienserta berdoa, semoga keadaan pasienlebih baik dari sekarang.

    Tak lepas dari itu, dokterpun jugaseorang manusia biasa yang tak luput darikelalaian dan kealpaan. Seorang dokterjuga tidak bisa menjanjikan kesembuhankepada pasien. Seorang dokter juga tidakakan tau datangnya resiko medis yangmungkin akan terjadi nantinya dan tidakbisa dicegah, karena hal itu diluar kuasaseorang manusia

    Mungkin kita masih ingat di benakkita tentang pemberitaan mengenai kasuskriminalisasi dokter yang menimpa dr.Wida pada tahun 2012 lalu yangmeninggal akibat kejang karenasebelumnya sang dokter memberi cairanKCL12,5 mLkarena diare yang menimpa

    seorang anak, lalu kasus dr.Ayu dkk November2013 lalu yang ditahan karena meninggalnyapasien akibat emboli yang merupakan resikomedis yang tidak bisa dihindari, dan keduanyadivonis bersalah dengan hukuman 10 bulanpenjara oleh mahkamah agung yang kebetulanpula dipimpin oleh hakim agung ArtidjoAlkostar. Kedua contoh kriminalisasi tersebutmembuat para dokter akan dilematis ketikamenghadapi pasien terutama pasien gawatdarurat, karena dikhawatirkan tindakannyaakan membawa sang dokter masuk kedalamjeruji besi. Untuk menghindari dilema tersebuttersiar kabar bahwa kedepan, dokter diIndonesia akan menerapkanmedicine seperti di negaraAmerika Serikat, untuk melindungi doktersendiri dari dugaan Malpraktik. Nah mungkinteman-teman banyak yang bingung denganistilah .

    sendiri mulaidikenal pertama kali di negara AmerikaSerikat, istilah ini selalu muncul hampirberbarengan dengan istilah .Ibarat kata, kedua istilah ini timbul

    defensivePaman Sam

    defensive medicine

    Defensive medicine

    malpraktek

    01EdisiFebruari2014

    Spektrum

    LaporanUtama

  • berbarengan; dinegara yang rentan terjadi

    malpraktek dan dokternya dihukum, disana akan

    muncul pula Di Amerika

    Serikat sebelum mereka menegakan suatu

    diagnosis pasti , maka banyak sekali

    pemeriksaan yang dilakukan sang dokter, mulai

    dari anamnesis ke pemeriksaan fisik, setelah itu

    pasien harus melakukan pemeriksaan darah,

    terkadang harus dilakukan pemeriksaan

    radiologi juga, ini, itu sampai jelas penyakitnya

    apa, itulah gambaran kasar mengenai

    ada dua bentuk utama,

    yaitu perilaku jaminaan dan perilaku

    menghindar. Perilaku Jaminan atau yang dikenal

    dengan

    sendiri dengan melakukan layanan maupun

    pemeriksaan yang tidak perlu untuk mengurangi

    hasil buruk, mencegah pasien dari pengajuan

    klaim malpraktek, ataupun memberikan bukti

    yang terdokumentasi bahwa praktisi sesuai

    dengan SOP, sehingga apabila nanti sang dokter

    digugat secara hukum maka hal ini dapat

    dicegah sedini mungkin. Lalu yang kedua yaitu

    perilaku menghindar atau

    yaitu terjadi ketika sang dokter

    menolak untuk berpartisipasi dalam prosedur

    berisiko tinggi atau keadaan. Artinya dalam hal

    ini sang dokter melimpahkan tindakan pasien

    kepada dokter lain.

    Dari pernyataan tersebut maka kita dapat

    tarik kesimpulan bahwa defensive medicine itu

    sendiri adalah kondisi di mana sang dokter hanya

    akan melakukan tindakan medis jika sang dokter

    sudah merasa benar-benar aman dan yakin

    bahwa tindakannya tidak menyebabkan dia

    terjerat oleh hukum. Yang jadi suatu pertanyaan

    disini, apakah hal ini akan

    defensive medicine.

    defensive

    medicine.

    Defensive medicine

    Active Defensive Medicine (ADM)

    Passive Defensive

    Medicine (PDM)

    melanggar sumpah dokter? Memang dilematis,

    disisi lain dokter ingin sekali menangani pasien

    tersebut sesegera mungkin tanpa berbelit, namun

    disisi lain dokter juga tidak ingin masuk penjara

    karena suatu hal yang mungkin diluar kuasanya

    dan hal itu harus terpaksa dilakukan walaupun

    sebenarnya bertentangan dengan nurani sang

    dokter.

    Ada dua kerugian besar dalam penerapan

    , pertama kemungkinan pasien

    darurat tidak tertolong secara cepat. Kedua, biaya

    pengeluaran untuk layanan kesehatan akan

    membengkak. Dari kedua kerugian besar tersebut

    tentunya nanti akan terdapat kerugian-kerugian

    bermakna lainnya, semisalnya terbuangnya waktu

    petugas kesehatan untuk menganalisa banyak data

    yang sebenarnya pada praktek klinik bisa

    dikesampingkan; dengan layanan tenaga

    kesehatan yang terbatas di negeri ini, maka akan

    berimbas semakin banyaknya pasien yang

    menumpuk dan tidak tertangani dengan baik.

    Di negara maju, hal ini banyak dilakukan

    karena semakin banyak pasien yang menuntut

    terkait kurang tepatnya diagnosis, tetapi tidak

    sebaliknya. Oleh karena itu, beberapa dokter

    berpendapat, lebih aman apabila pasien diperiksa

    berbagai macam - just in case - karena toh tidak ada

    ruginya jika ternyata hasil pemeriksaan tidak

    menunjukkan apa-apa. Yang penting dokter sudah

    melakukan prosedur sesuai teorinya.

    Bagaimana dengan di Indonesia sendiri?

    Isu

    defensive medicine

    jumlah tuntutan terhadap dokter di Indonesia

    telah meningkat dalam dekade terakhir dan

    telah memiliki dampak besar pada perilaku

    dokter dan praktek medis.

    02EdisiFebruari2014

    Spektrum

  • akan diberlakukan memangberkembang akhir-akhir ini setelah kasuskriminalisasi oleh dr. Ayu dkk. Selain itu,fenomena masyarakat yang sering berobat akibatketidakpercayaan masyarakat terhadap dokterIndonesia yang notabene sering salah diagnosisjuga akan menjadi alasan penerapan

    di Indonesia nantinya.

    Hal itu pertama kali dilontarkan oleh KetuaPerkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia(POGI) Cabang Jakarta dokter Frizar Irmansyahpasca aksi solidaritas mendukung dr. Ayu dkk,beliau mengatakan bahwasanya dokter akanmelakukan apabilapeninjauan kembalinya ditolak. Kalau sampaiPK ditolak kemungkinan dokter akan melakukandefensive medicine, ujar Frizar saat konferensipers di Rumah Makan Natrabu, Jakarta, Rabu(27/11) yang dikutip dari detik.com. Fenomenaini juga sangat merugikan pasien apabila sangdokter menangani pasien emergency dan tidaksegera dilakukan hanya karena pemeriksaan yangtidak perlu. Selain itu biaya yang harusdikeluarkan pasien juga akan akibatbanyak pemeriksaan yang dilakukan, terutamasaat ini dimana BPJS Kesehatan telah diterapkan.

    Di Indonesia nampaknya fenomena inisudah mulai diterapkan. Disebuah blog yangditulis oleh seorang dokter obstetri danginekologi yang bertugas disalah satu RSUD diJakarta, sang dokter tersebut menceritakan bahwadia kedatangan pasien eklampsi, dengan tekanandarah sang ibu 190/120 mmHg dan Detak JantungJanin (DJJ) 80 kali per menit dan harus dilakukanoperasi CITO saat itu juga.

    defensive medicine

    defensivemedicine

    defensive medicine

    membengkak

    Namun karena untuk menghindariresiko emboli dan gugatan hukum, sangdokter tersebut harus menunggu keluargayang saat itu dalam perjalanan hanya untukmeminta persetujuan tindakan operasi CITOdan melakukan pemeriksaan yang sebenarnyatidak perlu seperti EKG. Dokter tersebutmelakukan itu semata-mata supaya apa yangdilakukan sang dokter tidak menyebabkanmasuk penjara apabila nantinya terjadi halyang diluar kuasanya.

    Itulah sebuah fenomenamedicine yang sudah mulai ada di Indonesiadan akhirnya terpaksa harus diterapkan olehdokter Indonesia meskipun sebenarnyabertentangan dengan hati nurani seorangdokter, namun apa daya walaupun didalamUndang-Undang Kesehatan tertulis bahwadalam keadaan gawat seorang dokter bolehmelakukan tindakan tanpa persetujuankeluarga, tapi tampaknya kejadian yangmenimpa dr. Wida maupun dr. Ayu dkkmemang menuntut kita perlu menerapkan

    tersebut. Sebenarnyapraktek tersebut tidaksalah, namun kurang tepat diterapkan kepad