Solusi Pencegahan korupsi : Formula Vaksin Anti Korupsi

of 30/30
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA TANGERANG SELATAN SOLUSI PENCEGAHAN TINDAK PIDANA KORUPSI : FORMULA VAKSIN ANTI KORUPSI MAKALAH Diajukan : Isnu Rahadi Wiratama

Embed Size (px)

Transcript of Solusi Pencegahan korupsi : Formula Vaksin Anti Korupsi

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIABADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGANSEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARATANGERANG SELATAN

SOLUSI PENCEGAHAN TINDAK PIDANA KORUPSI :FORMULA VAKSIN ANTI KORUPSI

MAKALAH

Diajukan :Isnu Rahadi WiratamaNPM : 144060006103Kelas 7A Reguler, No.Absen 20

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.........................................................................................................iDAFTAR ISI......................................................................................................................iiPENDAHULUAN..............................................................................................................1Latar Belakang...................................................................................................................1Upaya Pencegahan yang Sudah Dilakukan...................................................................2LANDASAN TEORI..........................................................................................................5Pencegahan Korupsi di Negara Lain............................................................................5Faktor Penyebab Korupsi.....................................................................................................8PEMBAHASAN..................................................................................................................10Analogi Pencegahan Korupsi......................................................................................10Identifikasi tantangan, hambatan, dan peluang terkait dengan upayapencegahan korupsi di Indonesia (Identifikasi vektor pembawa penyakit)........................10Analisa spesifikasi/desain (Formula vaksin anti korupsi)................................................11Kelebihan dan Kekurangan..........................................................................................15KESIMPULAN...........................................................................................................16

PENDAHULUAN

1. Latar BelakangTindak pidana korupsi di negeri ini sudah begitu memprihatinkan. Setidaknya begitulah yang penulis dan beberapa rekan penulis rasakan beberapa tahun terakhir. Bahkan menurut Transparancy International Indonesia (TII), Indonesia merupakan negara paling korup nomor enam dari 133 negara yang disurvey. Tidak mengherankan, jika kemendagri telah mencatat sebanyak 318 kepala daerah dari total 524 kepala daerah di Indonesia tersangkut kasus korupsi. Para pejabat kepala daerah yang seharusnya menjadi panutan di dalam masyarakat yang dipimpinnya justru menjadi pelaku korupsi itu sendiri. Tercatat juga 1.221 nama pegawai pemerintah yang terlibat dalam kasus korupsi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 877-nya sudah menjadi terpidana. Sementara 185 orang lainnya sudah berstatus tersangka, sedangkan 112 orang lainnya sudah terdakwa, dan 44 nama tersisa masih dimintai keterangannya sebagai saksi. Rilis BPK menemukan indikasi pemborosan keuangan negara yang berpotensi korupsi sebesar 30 sampai 40 persen dari anggaran perjalanan dinas PNS sebesar Rp18 triliun per tahunnya (BPK:2012). Sepertinya korupsi telah merajalela di seluruh lapisan kehidupan masyarakat. Dari tataran terendah seperti pengurusan surat keterangan di kelurahan, hingga lobi-lobi proyek pemerintah tingkat elit di legislaitf dan eksekutif. Pendekatan represif yang dilakukan institusi penegak hukum sepertinya tidak efektif dalam menghindarkan bangsa ini dari penyakit korupsi. Pendekatan represif yang selama ini dilakukan hanya memberikan solusi jangka pendek. Hanya terbatas pada orang yang menjadi tersangka/narapidana kasus korupsi. Tindakan tersebut seolah berhenti setalah tersangka diberikan hukuman. Ternyata, penegakan hukum saja, tidak mampu mencegah orang lain untuk melakukan korupsi. Hal ini karena faktor fundamental yang menyebabkan korupsi belum hilang/masih ada sehingga kasus korupsi terus terulang karena orang lain akan terus melakukan korupsi walaupun penegakan hukum juga berjalan. Oleh karena itu, perlu solusi/terobosan baru dalam menangani faktor penyebab korupsi yang bersifat fundamental.2. Upaya pencegahan yang telah dilakukanMenurut KPK, dalam 6 strategi pencegahan dan pemberantasan korupsi, korupsi masih terjadi secara masif dan sistematis. Praktiknya bisa berlangsung dimanapun, di lembaga negara, lembaga privat, hingga di kehidupan sehari-hari. Melihat kondisi seperti itu, maka pencegahan menjadi layak didudukkan sebagai strategi perdananya. Melalui strategi pencegahan, diharapkan muncul langkah berkesinambungan yang berkontribusi bagi perbaikan ke depan. Strategi ini merupakan jawaban atas pendekatan yang lebih terfokus pada pendekatan represif. Paradigma dengan pendekatan represif yang berkembang karena diyakini dapat memberikan efek jera terhadap pelaku tindak pidana korupsi (tipikor). Sayangnya, pendekatan represif ini masih belum mampu mengurangi perilaku dan praktik koruptif secara sistematis-massif. Keberhasilan strategi pencegahan diukur berdasarkan peningkatan nilai Indeks Pencegahan Korupsi, yang hitungannya diperoleh dari dua sub indikator yaitu Control of Corruption Index dan peringkat kemudahan berusaha (ease of doing business) yang dikeluarkan oleh World Bank. Semakin tinggi angka indeks yang diperoleh, maka diyakini strategi pencegahan korupsi berjalan semakin baik (KPK:2012).langkah/upaya pencegahan yang sudah dilakukan pemerintah di Indonesia :a. Lembaga pengawas internalPembentukan lembaga pengawas internal telah dilakukan sejak lama. Di setiap kementrian/lembaga terdapat lembaga pengawas internal seperti itjend, kemudian unit pengawas yang berada langsung dibawah presiden, BPKP, juga sudah dibentuk. Kemudian di tingkat daerah ada inspektorat daerah yang mengawasi. Bahkan di unit setingkat eselon I pun seperti di Direktorat Jenderal Pajak telah ada direktorat Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya Aparat (KITSDA) yang memiliki tugas sebagai pengawas internal di dalam tubuh DJP. Begitu banyak lembaga pengawas internal yang dibentuk. Namun masih banyak kasus korupsi yang terjadi yang menyebabkan kerugian negara.b. Program Reformasi birokrasiBerikut beberapa upaya gebrakan yang telah dilakukan ketika pemerintah melakukan program reformasi birokrasi : Remunerasi pegawaiMenurut penelitian, remunerasi memiliki hubungan yang positif dengan kinerja pegawai. Artinya, kinerja pegawai semakin baik sejak diberikan remunerasi (Soegeng Boedianto:2012). Remunerasi pegawai pertama kali dilakukan oleh kementerian keuangan. Kemudian dilanjutkan oleh kementerian/lembaga lain. Bahkan pemprov DKI Jakarta memberikan remunerasi dengan jumlah yang fantastis yang setara dengan perusahaan-perusahaan swasta internasional. Hal ini dilakukan dengan keyakinan salah satunya adalah agar pegawai menjauhi tindakan yang koruptif ketika kebutuhannya relatif bisa terpenuhi. Harapannya adalah pada akhirnya pegawai pemerintah dapat bekerja dengan baik sehingga mampu memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Penyederhanaan proses administrasiPenyederhanaan proses administrasi banyak dilakukan di instansi-instansi pemerintah. Salah satunya adalah dengan konsep pelayanan satu pintu yang banyak dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah. Salah satu langkah yang sudah dilakukan di daerah adalah ditandai dengan pembentukan Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT). Kemudian Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di pemprov DKI Jakarta. Selain itu, pemerintah juga melakukan evaluasi atas kebijakan prosedur adminsitrasi secara berkesinambungan. Hal-hal yang dianggap belum memiliki prosedur yang jelas akan dibuatkan peraturan terkait prosedur yang mengaturnya, kemudian prosedur-prosedur yang sudah dijalankan juga terus dikaji ulang kembali dalam rangka penyempurnaan. Semua dilakukan selain untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mendapatkan layanan publik, juga untuk menutup peluang terjadinya korupsi seperti suap/penyalahgunaan wewenang. Lelang jabatanLangkah selanjutnya yang telah dilakukan pemerintah yaitu melakukan lelang jabatan. Hal ini dilakukan agar jabatan tersebut diisi oleh orang yang berintegritas serta memiliki kompetensi yang dibutuhkan. Yang terbaru adalah lelang jabatan Direktur Jenderal Pajak dan lelang jabatan untuk seluruh jabatan eselon I dan II di kementerian ESDM. Namun demikian, lelang jabatan ini masih belum populer dilakukan di seluruh kementrian/lembaga lainnya. Pemerintah daerah juga belum banyak melakukan lelang jabatan. Tercatat hanya pemprov DKI yang aktif melakukan lelang jabatan pada era gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Bahkan dilakukan dalam jumlah yang sangat fantastis yaitu mencapai angka ribuan jabatan yang dilelang hingga ke level eselon IV sekali pun.

LANDASAN TEORI

1. Pencegahan korupsi di negara laina. Pencegahan korupsi di SingapuraSingapura menduduki peringkat 7 dari 175 negara menurut indek persepsi korupsi yang dikeluarkan oleh transparancy international. Terdapat 4 hal utama dalam Strategi Singapura untuk pencegahan dan penindakan korupsi yaitu, Effective Anti-Corruption Agency; Effective Acts (or Laws); Effective Adjudication; dan Efficient Administration. Dan seluruh pilar tersebut dilandasi dan didukung oleh strong political will against corruption dari pemerintah (Tito, dkk: 2014). Langkah konkret dari strategi tersebut antara lain : Remunerasi pegawai Penyederhanaan proses administrasTerdapat fakta menarik lainnya di Singapura, negara kecil sangat memperhatikan pengembangan SDM nya. Singapura menduduki peringkat 26 dari 187 negara dalam hal pengembangan SDM. Oleh sebab itu, kesadaran masyarakat di Singapura juga sudah tinggi. Hal ini nampak dari ketertiban yang tercipta di dalam kehidupan sehari-harinya (selain karena unsur pemaksaan/tangan besi dengan menerapkan denda yang tinggi).b. Pencegahan korupsi di JepangSalah satu yang dapat kita pelajari dari upaya pencegahan korupsi di jepang, yaitu budaya malu. Melalui peribahasanya Iki hajikaku yori, shinu ga mashi yang artinya, "lebih baik mati daripada hidup menanggung malu". Rasa malu begitu melekat dalam diri orang jepang selama ratusan tahun. Dimulai sejak era para samurai, hingga kini, semangat samurai terus dibawa dan diterapkan dalam karakter pribadi orang jepang. Walaupun pada kenyataannya jepang tidak 100% bebas dari korupsi, namun rasa malu yang melekat pada diri orang jepang relatif cukup mampu membuat diri meraka terhindar dari perbuatan koruptif. Begitu tinggi rasa malu tersebut, sehingga di jepang banyak kasus bunuh diri/mengundurkan diri bagi pejabat yang dituduh terlibat (belum tentu terbukti) dalam kasus korupsi. Jangankan terkait korupsi, dianggap tidak mampu menjalankan tugas dengan baik saja, pejabat di Jepang rata-rata akan memilih untuk mengundurkan diri.Selain itu, sistem pendidikannya yang merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Selain pendidikan akademik, sekolah-sekolah di Jepang sangat memperhatikan pendidikan karakter. Pendidikan karakter ini diajarkan dalam pelajaran seikatsuka atau pendidikan kehidupan sehari-hari. Tidak hanya sebatas teori, tetapi juga dipraktekkan. Pendidikan karakter tersebut cukup sederhana seperti tata cara menyeberang jalan, adab di dalam kereta, dan lainnya.c. Pencegahan korupsi di TiongkokMendengar Tiongkok dan korupsi maka yang terlintas di pikiran kita adalah hukuman mati. Tiongkok sangat terkenal dengan eksekusi mati terhadap para koruptornya. Pemberian hukuman mati benar-benar diterapkan mulai dari level bawah hingga level elite pemerintah. Komitmen dari pemimpinnya juga sangat tinggi, hal ini nampak dalam pidato PM Zhu Rongji yang mengatakan Beri aku 100 peti mati, 99 akan aku kirim ke koruptor, dan sisanya 1 untukku bila aku melakukan korupsi. Kesungguhan Tiongkok memberantas korupsi mendapatkan respon yang positif. Investasi mengalami peningkatan pesat dan ekonomi Tiongkok tumbuh sangat tinggi bahkan mencapai hingga 2 digit. Namun demikian ada beberapa fakta terkait dengan pemberantasan dan pencegahan korupsi di Tiongkok : Walaupun sudah diterapkan hukuman mati, Indeks persepsi korupsi di tiongkok terus mengalami penurunan dari peringkat 72 di tahun 2008 hingga peringkat 100 di tahun 2014 dan masuk kategori buruk. DI china terdapat UU khusus yang mengatur korupsi, lembaga peradilan khusus yang menangani korupsi, lembaga pengawas, dan lembaga yang memiliki tugas semacam PPATK di Indonesia.Pendapatan perkapita di tiongkok pada tahun 2013 adalah 3.567 US$ dan berada di peringkat 50 (World Bank).d. Pencegahan korupsi di FinlandiaGambaran umum terkait finlandia adalah sebagai berikut (Danang Indra,dkk:2015) : Sebagai negara sejahtera (Welfare-State), Finlandia dapat disebut sebagai negeri aneh. Karena perdagangan berlangsung dalam ritme lamban. Warga Finlandia terbiasa tidak banyak kebutuhan. Terbiasa dalam semangat hidup sederhana. Punya satu mobil dan dua sepeda, dianggap sudah cukup. Warga Helsinski terbiasa dalam kultur hidup tidak berlebihan. Sebagian di antara penduduk Finlandia dikenal religius.Pendapatan perkapita Finlandia pada tahun 2013 adalah sebesar 39.200 (World Bank). Finlandia menduduki peringkat 3 setelah Denmark dan New Zealand dalam indeks persepsi korupsi. Artinya, kasus korupsi yang terjadi di Finlandia sangat jarang terjadi. Hal ini sangat menarik, mengingat finlandia tidak memliliki peraturan khusus mengenai korupsi dan tidak ada lembaga khusus yang menangani khasus korupsi seperti KPK di Indonesia. Ancaman hukuman pidana terkait dengan penyuapan juga relatif ringan, berkisar antara 2 bulan hingga 4 tahun dan tidak ada hukuman mati. Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya korupsi di Finlandia antara lain (Danang Indra, dkk:2015) : Good Governance dan Good Administratif Penegakan Hukum yang Transparan dan Efektif Integritas Pejabat Publik dan Pegawai Pemerintah Budaya Anti Korupsi dan Kualitas Pendidikan yang Baik Rendahnya Disparitas Penghasilan dan Gaji yang Layak Kesejajaran Gender Dalam Parlemen dan PemerintahanHal yang menarik dari Finlandia adalah mengenai pendidikan karakter yang diterapkan. Para siswa dididik tidak untuk berkompetisi dengan orang lain, tetapi berkompetisi untuk meningkatkan potensi yang ada dalam diri masing-masing sesuai keahlian dan minatnya. Hanya orang-orang terbaik di bidangnya yang bisa menjadi tenaga pendidik di Finlandia. Finlandia juga memberikan penghasilan kepada para pegawai negerinya dalam jumlah yang relatif besar.2. Faktor Penyebab KorupsiMenurut Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., seseorang melakukan korupsi adalah karena ketergodaannya akan dunia materi atau kekayaan yang tidak mampu ditahannya. Sedangkan menurut mantan Jaksa Agung RI Abdul Rahman Saleh, ada empat faktor dominan penyebab maraknya korupsi di Indonesia, yaitu faktor : Penegakan hukum yang masih lemah, Mental aparatur, Kesadaran masyarakat yang masih rendah, Serta political will dari pemimpin yang belum ada.Kemudian menurut Erry R. Hardjapamekas, salah satu pimpinan KPK, menyebutkan tingginya kasus korupsi di negeri ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya : Kurang keteladanan dan kepemimpinan elite bangsa Rendahnya gaji Pegawai Negeri Sipil Lemahnya komitmen dan konsistensi penegakan hukum dan peraturan perundangan Rendahnya integritas dan profesionalisme Mekanisme pengawasan internal di semua lembaga perbankan, keuangan, dan birokrasi belum mapan Kondisi lingkungan kerja, tugas jabatan, dan lingkungan masyarakat Lemahnya keimanan, kejujuran, rasa malu, moral dan etika.PEMBAHASAN

1. Analogi pencegahan korupsiJika korupsi diibaratkan sebagai suatu penyakit, kemudian negara/bangsa adalah suatu tubuh manusia, maka, apabila manusia (negara/bangsa) itu ingin agar tetap sehat (tidak terjangkit suatu penyakit-korupsi), maka hal-hal yang harus dilakukan antara lain, adalah menerapkan pola hidup sehat seperti rajin berlolahraga, makan makanan bergizi, dan menghindari hal-hal yang dapat membuat tubuhnya terpapar suatu penyakit. Hal ini berlaku juga terkait dengan upaya pencegahan korupsi di suatu negara. Agar suatu bangsa/negara dapat terhindar dari penyakit korupsi, maka bangsa/negara tersebut harus menerapkan pola hidup yang anti korupsi.2. Identifikasi tantangan, hambatan, dan peluang terkait dengan upaya pencegahan korupsi di Indonesia (Identifikasi virus pembawa penyakit)Jika korupsi tadi kita analogikan sebagai suatu penyakit, maka untuk bisa menghindarinya kita harus mampu mengidentifikasi virus pembawa penyakit korupsi tersebut. Virus pembawa korupsi adalah faktor penyebab korupsi, yang apabila digambarkan, akan menjadi seperti gambar berikut :Mental AparatRusaknya MoralPengahasilan Rendah

Political WillKesadaran MasyarakatKorupsi

Pengawasan lemah

Penegakan hukumKeteladanan

Faktor Lingkungan

Virus penyebab tersebut sekaligus merupakan hambatan dan tantangan yang harus dihadapi dalam upaya pemberantasan dan pencegahan korupsi itu sendiri.Sedangkan peluang yang dapat dimanfaatkan dalam pencegahan korupsi adalah fakta bahwa masyarakat Indonesia sudah sangat membenci korupsi. Hal ini terlihat dari komentar-komentar yang timbul masyarakat mengenai kasus korupsi yang terjadi selama ini. Selain itu banyak generasi muda yang memiliki potensi menjadi pemimpin di masa depan. Generasi muda ini lah peluang terbesar yang dimiliki bangsa Indonesia terhadap upaya pencegahan dan pemberantasan di Indonesia.3. Analisa spesifikasi/desain (Formula vaksin anti korupsi)Sebagaimana dikemukakan didepan, sebenarnya sudah ada langkah konkret yang sudah dilakukan di Indonesia, namun relatif tidak efektif. Hal ini karena langkah-langkah yang dilakukan belum menyentuh faktor fundamental penyebab korupsi. Jika kita perhatikan, pemberian remunerasi hanya menyelesaikan masalah korupsi yang disebabkan rendahnya gaji pegawai, tetapi tidak berfungsi jika penyebab korupsi adalah karena faktor moral dan mental. Begitu juga dengan pendekatan represif yang hanya berhenti pada orang yang ditangkap. Tidak ada pembelajaran pada pelaku lain yang belum tertangkap.Dari hasil ulasan mengenai pencegahan korupsi di 4 negara (Singapura, Jepang, Tiongkok, dan Finlandia) serta analisa mengenai 30 besar negara dengan Indeks Persepsi Korupsi paling bagus dapat disimpulkan bahwa negara yang memiliki indeks pembangunan manusia (Human Development Indeks/HDI) dan pendapatan perkapita yang tinggi (GDI Perkapita), cenderung memiliki peringkat Indeks Persepsi Korupsi yang baik juga. Atas dasar tersebut, maka penulis berpandapat bahwa pendidikan karakter dan pembangunan ekonomi harus diutamakan dalam upaya pencegahan korupsi. Dengan logika, bahwa manusia yang tercukupi sebagian besar kebutuhan hidupnya serta memiliki karakter yang baik, akan lebih imun terhadap penyakit korupsi. Penulis tidak mengusulkan penerapan hukuman mati, bukan karena pro koruptor, tetapi karena instrumen hukuman mati, berdasarkan pengalaman penegakan hukum di Singapura, dapat disalahgunkakan untuk kepentingan politik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan kondisi penegakan hukum masih seperti sekarang yang punya kecenderungan masih tebang pilih. Hukuman maksimal seumur hidup masih lebih ideal diterapkan. Tabel Perbandingan Peringkat IPK, GDI Perkapita, dan Peringkat HDI Tahun 2013

Sumber : World Bank, UNDP, Transparancy International

Selanjutnya mengenai usulan desain formula vaksin anti korupsi yang penulis formulasikan agar bangsa Indonesia Imun terhadap penyakit korupsi adalah sebagai berikut :

Formula vaksin anti korupsiPendidikan karakter(Fundamental Instrument)

Very High Human Development CountryKejujuran

Keikhlasan

Kesederhaan

Kepedulian

Etika Dan Moral

Masyarakat sejahteraSederhanaAnti KorupsiPembangunan Ekonomi(Enhancing Instrument)

Kemakmuran

Kesejahteraan

Kebutuhan dasar

a. Penegakan hukum (Supporting instrument)Penegakan hukum tetap diperlukan sebagai bagian dari pencegahan korupsi namun bukanlah instrumen utama. Agar penegakan hukum menjadi kuat, maka perlu adanya komitmen kuat dari pemimpin. Langkah utama yang perlu dilakukan dalam penegakan hukum adalah revitalisasi dan reformasi besar-besaran lembaga penegak hukum. Hal ini pernah dilakukan pada kepolisian di Hong Kong dan Georgia dan berhasil dengan baik. seperti pepatah Jangan menyapu dengan sapu yang sudah kotor.b. Pendidikan Karakter (Fundamental Instrument)Pendidikan merupakan sesuatu yang dapat diterima semua suku/bangsa. Hal ini dikarenakan pendidikan bersifat universal dan dibutuhkan. Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya). Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus DIBANGUN dan DIKEMBANGKAN secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu PROSES yang TIDAK INSTAN. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari (Timothy Wibowo:2014).Pendidikan ini dapat diterapkan mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan tempat tinggal, kantor dan sekolah. Jenis kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain : Lomba lingkungan warga dengan tema anti korupsi Kurikulum berbasis pendidikan karakter Penilaian kinerja organisasi/pegawai pemerintah berbasis karakter Program pemberian hadiah bagi warga teladan yang taat hukumc. Pembangunan Ekonomi (Enhancing Instrument)Strategi yang penulis sarankan adalah membangun keunggulan ekonomi komparatif yang dibagi dalam perspektif jangka menengah dan panjang. Dalam jangka panjang, industri yang menopang perekonomian Indonesia adalah industri berbasis teknologi seperti yang dimiliki Jepang dan Jerman. Indonesia harus mampu menjadi negara pemilik teknologi. Hal ini penting dilakukan karena Indonesia memasuki pasar bebas ASEAN. Di dalam pasar bebas ini Indonesia tidak boleh hanya penjadi konsumen, tetapi Indonesia harus mampu memanfaatkan peluang yang ada dari pasar bebas ini. Dengan harapan mampu memberikan kontribusi ekonomi yang baik bagi Indonesia, sehingga bisa menjadi Wellfare-state.langkah konkret yang perlu dilakukan dalam membangun keunggulan komparatif dengan cara : Membangun swasembada sandang, papan, pangan sebagai pondasi. Sebelum melakukan hal-hal lain, dasar kebutuhan dari manusia harus dipenuhi. Mendukung pengembangan sektor UMKM. Sektor ini relatif lebih tahan terhadap exposure gejolak ekonomi global. Selain itu, sektor UMKM juga merepresentasikan mayoritas kekuatan ekonomi masyarakat Indonesia. Industrialiasi sektor-sektor unggulan. Agar bisa berskala besar dan menjadi ekspor unggulan yang mendunia. Menarik investasi dan mengembangkan industri yang berbasis teknologi . Kita ingin agar suatu saat ketika mendengar Indonesia, maka akan seperti Jepang yang terkenal dengan teknologinya. Mengalokasikan belanja pemerintah pada proyek-proyek infrastruktur4. Kelebihan dan kekuranganMenurut penulis, kelebihan dari desain yang diajukan : Mampu menyentuh dan menyelesaikan faktor fundamental penyebab korupsi Konsep pendidikan dan pembangunan ekonomi merupkan hal yang universal yang akan diterima oleh seluruh suku bangsa di Indonesia yang sangat majemuk Merupakan gerakan perubahan yang tidak represif, cenderung pendekatan yang soft sehingga tidak menimbulkan gejolak perlawanan dari koruptorKekurangan dari desain yang diajukan : Membutuhkan waktu yang lama. Perubahan dapat dirasakan ketika generasi muda yang telah melewati pendidikan karakter mulai menjadi pemimpin Membutuhkan inisiator yang memiliki power dan komitmen kuat

KESIMPULAN

Jika di awal penulis menganalogikan korupsi sebagai suatu penyakit dan negara/bangsa adalah tubuh manusia, maka pendidikan karakter dan pembagunan ekonomi adalah salah satu jenis vaksin agar tubuh kebal terhadap suatu penyakit. Seperti halnya proses vaksinasi yang dilakukan untuk membentuk kekebalan (antibodi) yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan, pendidikan karakter ini juga akan memakan waktu yang relatif lama. Dengan dukungan seluruh rakyat Indonesia maka penulis yakin bahwa vaksin tersebut dapat bekerja dengan baik. Solusi ini diharapkan juga menjawab tantangan jangka panjang dan menyelesaikan faktor fundamental penyebab korupsi. Sehingga bangsa ini pada akhirnya bisa terhindar dan terbebas dari penyakit korupsi karena terdiri dari manusia-manusia yang sudah imun yang sejahtera, sederhana dan berkarakter anti korupsi.

DAFTAR REFERENSI

1. Danang Indra, dkk. 2015. Korupsi di Finlandia : Korupsi dan upaya pencegahan. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Tangerang Selatan.2. Chabibah, dkk. 2015. Pemberantasan Korupsi di China. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Tangerang Selatan.3. Tito, dkk. 2014. pemberantasan Korupsi di Singapura. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Tangerang Selatan.4. Isnu, dkk. 2014. Pemberantasan Korupsi di Jepang. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Tangerang Selatan.5. http://data.worldbank.org/indicator/NY.GNP.PCAP.KD?order=wbapi_data_value_2013+wbapi_data_value+wbapi_data_value-last&sort=desc. Diakses pada 12 Februari 2015 Pukul 21:15 WIB6. http://acch.kpk.go.id/6-strategi-pencegahan-dan-pemberantasan-korupsi. Diakses pada 08 Februari pukul 17:07 WIB7. http://www.pendidikankarakter.com/peran-pendidikan-karakter-dalam-melengkapi-kepribadian/ Diakses pada 09 Februari pukul 07:12 WIB8. http://hdr.undp.org/en/data Diakses pada 09 Februari Pukul 07:12 WIB9. http://www.transparency.org/cpi2013Diakses pada 09 Februari Pukul 07:12 WIB10. http://data.worldbank.org/Diakses pada 09 Februari Pukul 07:12 WIB