Soft Skill n Hard Skill

Click here to load reader

  • date post

    31-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    94
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of Soft Skill n Hard Skill

Sejauh ini yg uda bisa andre tulis di CV andre: Anggota Himpunan Mahasiswa Tambang ITB (HMT ITB). Anggota Divisi PSDA HMT ITB kepengurusan 2010/2011. Anggota (vokalis) Orkes Semi Dangdut (OSD) HMT ITB kepengurusan 2010/2011. LO tim UNSRI acara ISMC VII HMT ITB Pebruari 2010. Anggota div. acara Wisudaan April 2010 HMT ITB kepengurusan 2010/2011 Anggota div. danus Wisudaan Juli 2010 HMT ITB kepengurusan 2010/2011 Penanggung Jawab (PJ) training for trainer TFT div. PSDA HMT ITB kepengurusan 2010/2011 Komandan lapangan (DanLap) Keamanan Kaderisasi div. PSDA HMT ITB kepengurusan 2010/2011 Komandan lapangan (DanLap) Wisudaan HMT ITB Oktober 2010 kepengurusan 2010/2011 (danlap itu orang yg memimpin suatu acara n berorasi, salah satu niai plus besar di CV)

Nih, andre bilang kalo tambang itb ga perlu liat ip kalo kerja, yang penting aktif, dekat dengan senior : 1. Nih contoh alumni dari tambang itb sekaligus mereka juga alumni st thomas1

Bg Daniel ini satu angkatan muel 2005. Lulus dari tambang ITB 2009 oktober IPK tinggi soalnya 4taun lulus.

Ini bg iwan 2004, lulusnya malah sama ma bg Daniel 2009 oktober.. IPK 2,2 kalo ga salah.. (5taun) Aktif himpunan, n punya julukan macan kampus..

Sekarang mereka sama2 di Freeport tuh.. (andre lebih dekat ma bg iwan daripada bg Daniel karena ga pernah ke him si Daniel)

2. Banyak alumni datang ke bandung Cuma pengen maen ketemu juniornya ke kampus n pasti kalo kami dikampus sering jadi yg kenal deket ma mereka.

Kemaren abis manggung dangdutan ditraktir pizza hut billnya 500rb. ma pendahulu personel dangdutan angkatan 2005 yg lagi cuti datang ke bandung. Bg jerri ma bg danang. Karena ikatan alumni kami kuat.

Setiap ketemu alumni di warung nongkrong bareng ditraktir, trus ngobrol2 ga jelas aja yg penting jadi kenal. Banyak yg bilang gini : kalo mw kerja, udah hubungi aku aja..

Nama andre ma nama temen uda tersebar di milis alumni karena mereka maunya andre ma temen andre ini yg naek kepemimpinan untuk ngurus himpunan. Cuma andre ga mau.. (kalo ada tertera di CV ketua himpunan mhs tambang ITB punya freepass masuk Freeport, ini beneran!! Apalagi kalo Cuma perusahaan laen)

Bg yudi lesmana alumni 2006 (mantan tam-tam dangdut, mantan wakil ketua himpunan kepengurusan 2006 (ada di CVny)) waktu lulus n ngeply kerja, waktu wawancara malah Cuma disuruh nyanyi lagu2 dangdut himpunan kami karena HRD nya mantan alumni tambang ITB juga.

Ini bg doni, alumni taun 2000 lulusnya 2008 (8taun) Dy malah yg nge add andre di fb. (dy yg nyari andre di fb malah) karena uda kenalan n sering ngobrol bareng dy wkt dy maen ke kampus Sekarang kerja di afrika gajinya $18000 USD /bulan Sebelumnya kerja di THIES kontraktor jabatannya terakhirnya chief engineer (diatas superintendent)

3. Orang sukses alumni tambang ITB padahal IPnya hancur

Achmad Ardianto Human Resources Director Mr. Achmad Ardianto joined Antam in 1995. He graduated with a degree in Mining Engineering, Bandung Institute of Technology in 1995 and received a Master of Business Administration from the University of Twente in Netherlands. He had held various key positions at Antam (ANEKA TAMBANG) before being assigned as Deputy Senior Vice President of Operations of UBP Gold (2005 - 26 June 2008). He was 40 years old as of December 31, 2009.

(dy uda pernah datang sebagai pembicara waktu kami bikin acara ulang tahun himpunan, Dy datang ga dibayar tp karena dy itu alumni kami.. dy ngomong sendiri IPK nya kelaut tapi senjatanya CV ketua himpunan mahasiswa tambang ITB)

Posted by zikri on April 22, 2010 in Campus | Subscribe Soft skills itu apa sih?? Bedanya soft skills dan hard skills apa? Lalu bagaimana cara mengasah soft skills?

Dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki kemahiran hard skill saja tetapi juga piawai dalam aspek soft skill-nya. Dunia pendidikanpun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill (Direktorat Pendidikan ITB, 2005). Apa yang membuat seseorang sukses? IP nyaris 4,00? Tampang keren? Calon Mertua Kaya? Keberuntungan? Hasil penelitian menunjukkan bahwa IP hanya menduduki peringkat 17 dari 20 kualitas lulusan perguruan tinggi yang diharapkan dunia kerja.

Soft skill adalah kemampuan seseorang untuk bisa beradaptasi dan berkomunikasi dengan baik pada lingkungan dimana dia berada. Ini penting, karena banyak para lulusan penguruan tinggi ketika diminta berbicara, menyampaikan ide atau gagasan serta mempresentasikan karyanya, tidak siap (Pramudi, 2008). Soft skill adalah kemampuan tak terlihat yang diperlukan untuk sukses (Ditdik ITB, 2005). Soft skill sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (emotional quotient). Soft skill sendiri diartikan sebagai kemampuan diluar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intrapersonal dan interpersonal. Intra-personal skill: ketrampilan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri untuk pengembangan kerja secara optimal. Inter-personal skill: ketrampilan seseorang dalam hubungan dengan orang lain untuk pengembangan kerja secara optimal (UBB, 2008). Soft skill adalah sebuah istilah dalam sosiologi tentang EQ (Emotional Quotient) seseorang, yang dapat dikategorikan /klusterkan menjadi kehidupan sosial, komunikasi, bertutur bahasa, kebiasan, keramahan, optimasi. Soft skills berbeda dengan hard skills yang menekankan kepada IQ, artinya penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. (Karmilasari, 2008). Contoh perbedaan soft skills dan hard skills bisa dilihat di gambar di bawah ini:

Wakil Rektor ITB menyatakan bahwa pendidikan yang diberikan di ruang kuliah pada umumnya lebih difokuskan kepada kemampuan analitis (hard skills). Sedangkan pendidikan yang lebih bersifat kemampuan interaksi sosial (soft skills) dan pendidikan kepribadian harus dilakukan pada waktu dan kesempatan tersendiri. Menurut Dede (2008), kampus itu memang tempat untuk menimba dua kemampuan yaitu soft skill dan hard skill, atau bisa dikatakan sebagai proses memanusiakan manusia dan memanusiakan homo sapiens yang memiliki faham homo homini lupus. Saya sering mengistilahkan bahwa kampus adalah KOTAK PEMANUSIA. Jadi kalo udah lulus kuliah itu harus jadi MANUSIA. dalam pengertian bahwa manusia yang di maksud adalah manusia yang homo homini socius, manusia yang memiliki budaya dan beretika (Dede, 2008). Ringkasnya seperti uraian di bawah ini: HARDSKILL (Kemampuan TEKNIS) kemampuan yang kita miliki atau dipelajari baik di kelas maupun di laboratorium, mereka yang belajar dengan rajin, giat, dan tekun akan memperoleh kemampuan teknis yang baik, dicerminkan salah satunya dengan nilai atau IP (indeks prestasi) yang tinggi. Sifatnya visible karena ada benda yang dapat membuktikannya seperti ijazah,srtifikat, dsb. SOFTSKILL (Kemampuan NON-TEKNIS) kemampuan seseorang untuk bisa bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik pada lingkungan dimana dia berada. Sifatnya invisible. Atribut dari softskill ini seperti, sikap baik seperti integritas, inisiatif, motivasi, etika, kerja sama dalam tim, kepemimpinan, kemauan belajar, komitmen, mendengarkan, tangguh, fleksibel, komunikasi lisan, jujur, berargumen logis, kemampuan beradaptasi, pemecahan masalah dan lainnya. (Wartawarga, 2009) Menurut orang-orang sukses sih persentasenya 80% Soft skill dan 20% Hard skill Akan tetapi realisasi yang terjadi pada sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia ini adalah 10% Soft skill dan 90% Hard skill. wah-wahjauh sekali perbedaannya ya.. Perguruan tinggi memandang lulusan yang mempunyai kompetensi tinggi adalah mereka yang lulus dengan nilai tinggi. Sedangkan, dunia kerja menganggap bahwa lulusan yang high competence adalah mereka yang mempunyai kemampuan teknis dan sikap yang baik. Nah ini dia,kalau menurut saya..antara hard skill dan soft skill, yamemang tidak bisa dipisahkan untuk menuju kesuksesan karir seseorang. 60% Hard skill dan 40% Soft skill. (menurut pendapat saya

ya..mungkin saja berbeda dengan anda). Tapi, alangkah baiknya jika kedua elemen ini seimbang dan proporsional (Wartawarga, 2009).

Lulusan Perguruan Tinggi Butuh "Soft Skill"PARA pengguna tenaga kerja kerap mengeluhkan lulusan perguruan tinggi (PT) yang berkualitas setengah hati. Bagaimana tidak kecewa, kalau lulusan yang dicetak ternyata kurang tangguh, tidak jujur, cepat bosan, tidak bisa bekerja teamwork, sampai minim kemampuan berkomunikasi lisan dan menulis laporan dengan baik. Mengapa itu bisa terjadi? Tahun 2001, pihak rektorat ITB pernah menggelar pertemuan dengan berbagai stakeholders penyedia kerja dan pengguna lulusan ITB. Pihak rektorat ITB saat itu menyampaikan imbauan agar perusahaan tidak memotong pelamar kerja semata-mata berdasarkan indeks prestasi (kriteria IP > 2,75). Pertemuan dengan sedikitnya 10 mitra industri itu kemudian membuahkan masukan balik terhadap ITB. Salah satu respons datang dari perusahaan Schlumberger, yang menyatakan bahwa lulusan ITB kurang tekun meniti karier, sehingga rata-rata memiliki progress career yang kurang baik. Dari 75% intake 20-an tahun lalu, hanya 38% yang mencapai posisi manajer ke atas. Meski punya karakteristik positif, yaitu tingkat intelegensia relatif tinggi, namun boleh dibilang masih kurang dalam sisi kerja keras dan dedikasi. Dalam dunia kerja, komentar tentang kualitas para sarjana semacam, "pintar sih, tapi kok tidak bisa bekerja sama dengan orang lain" atau "jago bikin perancangan, tapi sayangnya tidak bisa meyakinkan ide hebat itu pada orang lain", atau "baru teken kontrak 1 tahun tapi sudah mundur, kurang tahan banting, nih,, bukannya tidak jarang telontar. Tentunya hal itu bisa menjadi bahan evaluasi, bukan hanya bagi kampus tertentu, tetapi juga seluruh kampus di tanah air tanpa terkecuali. Ada kecenderungan apa yang diberikan di bangku kuliah tidak sepenuhnya serasi dengan kebutuhan di lapangan kerja. Sebagian besar menu yang disajikan, boleh dibilang berupa keterampilan keras (hard skill). Padahal, bukti-bukti menunjukkan penentu kesuksesan justru kebanyakan adalah keahlian yang tergolong lunak (soft skill). Simak saja survei dari National Association of College and Employee (NACE), USA (2002), kepada 457 pemimpin, tentang 20 kualitas penting seorang juara. Hasilnya berturut-turut adalah kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, bijaksana, indeks prestasi (IP >= 3,00), kreatif, humoris, dan kemampuan berwirausaha. IP yang kerap dinilai sebagai bukti kehebatan mahasiswa, dalam indikator orang sukses tersebut ternyata menempati posisi hampir buncit, yaitu nomor 17. Nomor-nomor yang menempati peringkat atas, malah kerap disangka syarat basa-basi dalam iklan lowongan kerja. Padahal, kualitas seperti itu benar-benar serius dibutuhkan.

Pengembangan di kampus Menurut Patrick S. O'Brien dalam bukunya Making College Count, soft skill dapat dikategorikan ke dalam 7 area yang disebut Winning Characteristics, yaitu, communication skills, organizational skills, leadership, logic, effort, group skills, dan ethics. Kemampuan nonteknis yang tidak terlihat wujudnya (intangible) namun sangat diperlukan itu, disebut soft skill. Ketidakseimbangan pendidikan di ruang kuliah yang lebih bertumpu pada hard skill,

tentu saja perlu segera diatasi, antara lain dengan memberikan bobot lebih kepada pengembangan soft skill. Implementasi soft skill tersebut dapat dilakukan baik melalui kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler. Lalu bagaimana pengembangannya di kampus-kampus? Di Universitas Indonesia, salah satunya di magister manajemen pemasaran, terdapat mata kuliah soft skills wajib (nonkredit) yang diberikan dalam bentuk workshop, yaitu Presentation and Writing Skills dan Book Review. Di Universitas Bina Nusantara, barubaru ini juga mulai memasukkan mata kuliah bernama character building untuk semester I-IV. Kampus yang juga tengah memfokuskan pengembangan soft skill melalui kurikulum adalah Universitas Widyatama. Ada 20 kualitas penting seorang juara berdasarkan survei NACE, dipakai sebagai acuan atribut soft skill. Tiap program studi per fakultas bisa memilih 5-6 atribut yang paling dirasa penting dan sesuai kebutuhan, untuk embedded pada beberapa mata kuliah inti. Penerapan atribut soft skill di ruang kelas, misalnya, lebih banyak lagi tugas presentasi, diskusi kelompok, sampai role play. Dengan tujuan, semakin mengasah kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama. Hal ini penting sebagai aplikasi pendidikan yang bukan sekadar bagaimana dosen mengajar dengan baik (teacher centre learning), tapi bagaimana mahasiswa bisa belajar dengan baik (student centre learning). "Pusatnya memang tidak lagi pada dosen, tapi mahasiswa diperankan lebih jauh," ucap Nina Nurani, staf pengajar sekaligus koordinator pengembangan soft skill di Universitas Widyatama, ketika ditemui Kampus di sela-sela diskusi "Relevansi Soft Skill dan Dunia Kerja" di Universitas Widyatama, Sabtu (26/5) lalu. Di STT Telkom, pengembangan soft skill juga diarahkan pada kegiatan nonakademik. Untuk mendorong mahasiswa aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, mulai semester tahun 2007/2008 mendatang akan diberlakukan penilaian berbentuk Transkrip Aktivitas Kemahasiswaan (TAK). TAK ini merupakan syarat ikut wisuda dan akan diberikan mendampingi transkrip akademik saat mahasiswa lulus. "Sampai seorang mahasiswa lulus, dia harus mengumpulkan skor tertentu dengan aktif berkegiatan, misalnya, aktif di himpunan, menulis artikel di media massa, peserta lomba, dsb. Sebenarnya fokusnya bukan angka, tapi dengan dia aktif ada sisi soft skill yang terasah. Selama ini pengembangan nonakademik sudah ada, namun karena bukan sistem, jadi berjalan alakadarnya," kata Wiyono, Director Student and Career Development STT Telkom, sembari menambahkan bahwa TAK bisa jadi nilai plus mahasiswa mencari kerja dan beasiswa. Menurut Wiyono, pentingnya soft skill dalam mencetak lulusan sebenarnya sudah disadari sejak lama oleh kalangan pendidik. Namun, selama ini hanya "dititipkan" ke kurikulum dan belum mendapat perhatian khusus. Selain itu, memang ada keterbatasan waktu dalam bobot SKS. "Kesalahan penerjemahan kurikulum, menyebabkan proses kuliah hanya knowledge delivery, bukannya kompetensi. Arah pendidikan kita selama ini memang lebih banyak mendidik orang jadi ilmuwan. Padahal soft skill juga dibutuhkan dunia industri kita," ungkap Wiyono. Menurut Ichsan S. Putra, Direktur Direktorat Pendidikan ITB, yang juga penulis buku Sukses dengan Soft Skills, Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Sejak Kuliah, apa yang dipelajari selama perkuliahan, paling hanya terpakai beberapa persen, kecuali menjadi pengajar atau peneliti. Teori mungkin tidak akan tersentuh lagi. Tapi penerapan teorilah yang dibutuhkan. Namun demikian, bukan berarti kuliah tidak penting. Menurutnya, kuliah amat berguna untuk investasi masa depan. Salah satu yang dilatih dalam perkuliahan adalah belajar untuk belajar. Belajar untuk melakukan proses, agar logika dan keterampilan kita terasah.

Menurut Ichsan, untuk mendiseminasikan soft skill pada para mahasiswa, faktor yang sangat berpengaruh adalah dimulai dari dosen. Maka, Ichsan yang juga turut merumuskan pengembangan soft skill di ITB, mendukung pelaksanaan pelatihan bagi para dosen supaya mengerti lebih jauh tentang soft skill. "Dosen harus bisa jadi living example. Dari mulai datang tepat waktu, mengoreksi tugas, dsb. Bukan apa-apa, kemampuan presentasi dan menulis mahasiswa masih banyak yang belum bagus. Dosen juga harus bisa melatih mahasiswa supaya asertif, supaya berani membicarakan ide. Fenomena mahasiswa menyontek juga jangan dianggap biasa, ini masuk faktor kejujuran dan etika dalam soft skill. Lihat di Indonesia, korupsi begitu menjamur, karena orang sudah terbiasa tidak jujur sejak masa sekolah," ungkapnya panjang lebar. Terlepas dari apa kawan Kampus ingin bekerja pada orang lain atau membuka usaha sendiri, yang jelas soft skill sangat diperlukan. Bukan hanya untuk lingkup dunia kerja, namun juga dalam tiap sendi kehidupan. "Mahasiswa sebaiknya aktif berkegiatan apa pun yang positif. Jangan jadikan tak punya waktu sebagai alasan. Kuncinya, pandai mengatur skala prioritas dan time management. Jangan hanya lulus dengan gelar," katanya. *** http://fe.elcom.umy.ac.id/file.php/68/moddata/Lulusan_PT_Butuh_Soft_Skills_Dewi_Irm a.do

pungs Blog

Desember 5, 2008Lulusan Ber-IPK Tinggi Cenderung Egois Dalam Kerja Filed under: Soft skill ipungblog @ 12:01 pm

Soft skill is very important Lulusan PT Butuh Soft Skill PARA pengguna tenaga kerja kerap mengeluhkan lulusan perguruan tinggi (PT) yang berkualitas setengah hati. Bagaimana tidak kecewa, kalau lulusan yang dicetak ternyata kurang tangguh, tidak jujur, cepat bosan, tidak bisa bekerja teamwork, sampai minim kemampuan berkomunikasi lisan dan menulis laporan dengan baik. Mengapa itu bisa terjadi? Tahun 2001, pihak rektorat ITB pernah menggelar pertemuan dengan berbagai stakeholders penyedia kerja dan pengguna lulusan ITB. Pihak rektorat ITB saat itu menyampaikan imbauan agar perusahaan tidak memotong pelamar kerja semata-mata berdasarkan indeks prestasi (kriteria IP > 2,75). Pertemuan dengan sedikitnya 10 mitra industri itu kemudian membuahkan masukan balik terhadap ITB. Salah satu respons datang dari perusahaan Schlumberger, yang menyatakan bahwa lulusan ITB kurang tekun meniti karier, sehingga rata-rata memiliki progress career yang kurang baik. Dari 75% intake 20-an tahun lalu, hanya 38% yang mencapai posisi manajer ke atas. Meski punya karakteristik positif, yaitu tingkat intelegensia relatif tinggi, namun boleh dibilang masih kurang dalam sisi kerja keras dan dedikasi. Dalam dunia kerja, komentar tentang kualitas para sarjana semacam, pintar sih, tapi kok tidak bisa bekerja sama dengan orang lain atau jago bikin perancangan, tapi sayangnya tidak bisa meyakinkan ide hebat itu pada orang lain, atau baru teken kontrak 1 tahun tapi sudah mundur, kurang tahan banting, nih,, bukannya tidak jarang telontar. Tentunya hal itu bisa menjadi bahan evaluasi, bukan hanya bagi kampus tertentu, tetapi juga seluruh kampus di tanah air tanpa terkecuali. Ada kecenderungan apa yang diberikan di bangku kuliah tidak sepenuhnya serasi dengan kebutuhan di lapangan kerja. Sebagian besar menu yang disajikan, boleh dibilang berupa keterampilan keras (hard skill). Padahal, buktibukti menunjukkan penentu kesuksesan justru kebanyakan adalah keahlian yang tergolong lunak (soft skill). Simak saja survei dari National Association of College and Employee (NACE), USA (2002), kepada 457 pemimpin, tentang 20 kualitas penting seorang juara. Hasilnya berturut-turut adalah kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, bijaksana, indeks prestasi (IP >= 3,00), kreatif, humoris, dan kemampuan berwirausaha. IP yang kerap dinilai sebagai bukti kehebatan mahasiswa, dalam indikator orang sukses tersebut ternyata menempati posisi hampir buncit, yaitu nomor 17. Nomornomor yang menempati peringkat atas, malah kerap disangka syarat basa-basi dalam iklan lowongan kerja. Padahal, kualitas seperti itu benar-benar serius dibutuhkan. Pengembangan di kampus Menurut Patrick S. OBrien dalam bukunya Making College Count, soft skill dapat dikategorikan ke dalam 7 area yang disebut Winning Characteristics, yaitu, communication skills, organizational skills, leadership, logic, effort, group skills, dan ethics. Kemampuan nonteknis yang tidak terlihat wujudnya (intangible) namun sangat diperlukan itu, disebut soft skill. Ketidakseimbangan pendidikan di ruang

kuliah yang lebih bertumpu pada hard skill, tentu saja perlu segera diatasi, antara lain dengan memberikan bobot lebih kepada pengembangan soft skill. Implementasi soft skill tersebut dapat dilakukan baik melalui kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler. Lalu bagaimana pengembangannya di kampus-kampus? Di Universitas Indonesia, salah satunya di magister manajemen pemasaran, terdapat mata kuliah soft skills wajib (nonkredit) yang diberikan dalam bentuk workshop, yaitu Presentation and Writing Skills dan Book Review. Di Universitas Bina Nusantara, baru-baru ini juga mulai memasukkan mata kuliah bernama character building untuk semester I-IV. Kampus yang juga tengah memfokuskan pengembangan soft skill melalui kurikulum adalah Universitas Widyatama. Ada 20 kualitas penting seorang juara berdasarkan survei NACE, dipakai sebagai acuan atribut soft skill. Tiap program studi per fakultas bisa memilih 5-6 atribut yang paling dirasa penting dan sesuai kebutuhan, untuk embedded pada beberapa mata kuliah inti. Penerapan atribut soft skill di ruang kelas, misalnya, lebih banyak lagi tugas presentasi, diskusi kelompok, sampai role play. Dengan tujuan, semakin mengasah kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama. Hal ini penting sebagai aplikasi pendidikan yang bukan sekadar bagaimana dosen mengajar dengan baik (teacher centre learning), tapi bagaimana mahasiswa bisa belajar dengan baik (student centre learning). Pusatnya memang tidak lagi pada dosen, tapi mahasiswa diperankan lebih jauh, ucap Nina Nurani, staf pengajar sekaligus koordinator pengembangan soft skill di Universitas Widyatama, ketika ditemui Kampus di sela-sela diskusi Relevansi Soft Skill dan Dunia Kerja di Universitas Widyatama, Sabtu (26/5) lalu. Di STT Telkom, pengembangan soft skill juga diarahkan pada kegiatan nonakademik. Untuk mendorong mahasiswa aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, mulai semester tahun 2007/2008 mendatang akan diberlakukan penilaian berbentuk Transkrip Aktivitas Kemahasiswaan (TAK). TAK ini merupakan syarat ikut wisuda dan akan diberikan mendampingi transkrip akademik saat mahasiswa lulus. Sampai seorang mahasiswa lulus, dia harus mengumpulkan skor tertentu dengan aktif berkegiatan, misalnya, aktif di himpunan, menulis artikel di media massa, peserta lomba, dsb. Sebenarnya fokusnya bukan angka, tapi dengan dia aktif ada sisi soft skill yang terasah. Selama ini pengembangan nonakademik sudah ada, namun karena bukan sistem, jadi berjalan alakadarnya, kata Wiyono, Director Student and Career Development STT Telkom, sembari menambahkan bahwa TAK bisa jadi nilai plus mahasiswa mencari kerja dan beasiswa. Menurut Wiyono, pentingnya soft skill dalam mencetak lulusan sebenarnya sudah disadari sejak lama oleh kalangan pendidik. Namun, selama ini hanya dititipkan ke kurikulum dan belum mendapat perhatian khusus. Selain itu, memang ada keterbatasan waktu dalam bobot SKS. Kesalahan penerjemahan kurikulum, menyebabkan proses kuliah hanya knowledge delivery, bukannya kompetensi. Arah pendidikan kita selama ini memang lebih banyak mendidik orang jadi ilmuwan. Padahal soft skill juga dibutuhkan dunia industri kita, ungkap Wiyono. Menurut Ichsan S. Putra, Direktur Direktorat Pendidikan ITB, yang juga penulis buku Sukses dengan Soft Skills, Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Sejak Kuliah, apa yang dipelajari selama perkuliahan, paling hanya terpakai beberapa persen, kecuali menjadi pengajar atau peneliti. Teori mungkin tidak akan tersentuh lagi. Tapi penerapan teorilah yang dibutuhkan. Namun demikian, bukan berarti kuliah tidak penting. Menurutnya, kuliah amat berguna untuk investasi masa depan. Salah satu yang dilatih dalam perkuliahan adalah belajar untuk belajar. Belajar untuk melakukan proses, agar logika dan keterampilan kita terasah. Menurut Ichsan, untuk mendiseminasikan soft skill pada para mahasiswa, faktor yang sangat berpengaruh adalah dimulai dari dosen. Maka, Ichsan yang juga turut merumuskan pengembangan soft skill di ITB, mendukung pelaksanaan pelatihan bagi para dosen supaya mengerti lebih jauh tentang soft skill. Dosen harus bisa jadi living example. Dari mulai datang tepat waktu, mengoreksi tugas, dsb. Bukan apa-

apa, kemampuan presentasi dan menulis mahasiswa masih banyak yang belum bagus. Dosen juga harus bisa melatih mahasiswa supaya asertif, supaya berani membicarakan ide. Fenomena mahasiswa menyontek juga jangan dianggap biasa, ini masuk faktor kejujuran dan etika dalam soft skill. Lihat di Indonesia, korupsi begitu menjamur, karena orang sudah terbiasa tidak jujur sejak masa sekolah, ungkapnya panjang lebar. Terlepas dari apa kawan Kampus ingin bekerja pada orang lain atau membuka usaha sendiri, yang jelas soft skill sangat diperlukan. Bukan hanya untuk lingkup dunia kerja, namun juga dalam tiap sendi kehidupan. Mahasiswa sebaiknya aktif berkegiatan apa pun yang positif. Jangan jadikan tak punya waktu sebagai alasan. Kuncinya, pandai mengatur skala prioritas dan time management. Jangan hanya lulus dengan gelar, katanya. *** dewi irma [email protected]

ITB Menuju Academic ExcellentOPINI | 24 November 2009 | 16:10 426 7 Nihil

Catatan : Tulisan ini saya buat sekitar tahun 2005, saya masih kuliah tingkat III di ITB. Waktu itu saya berulang-tahun yang ke-20 dan ingin menulis sesuatu. Jadilah tulisan ini yang berdasarkan apa yang saya rasakan waktu atas kondisi kampus pasca kepergian Pak KK menjadi menteri (Pak KK, salam damai!). Bukan untuk memojokkan atau membuka aib, tapi tulisan ini saya tujukan kepada dunia pendidikan pada umumnya. Mohon dikritisi. Salam, ________________________________________ Menuju academic excellent yang ingin ditempuh ITB dalam masa sekarang, banyak hal yang harus dikritisi terkait dengan berbagai kebijakan yang diambil ITB dalam mengatur mahasiswanya. Dalam kehidupan akademik ITB sehari-hari, sangat terasa bahwa ITB berperan tak ubahnya sebagai mesin yang melihat mahasiswa adalah sebagai sumber daya (resource), dan oleh karena itu harus diproses. Dengan inputnya mahasiswa baru, diproses untuk menghasilkan output yang diinginkan. Output yang dihasilkan ini harus sesuai dengan tujuan dengan parameter-parameter yang telah ditetapkan. Organisasi sebagai mesin melaksanakan tujuan yang telah ditetapkan oleh perancangnya, sedangkan organisasi sebagai mahluk hidup atau komunitas menetapkan dan mimiliki tujuan sendiri. Agar supaya efektif sebuah mesin harus dikendalikan oleh operatornya, dimana pihak yang berada di atas adalah orang yang merasa paling berkuasa atas organisasi. Sedangkan organisasi sebagai mahluk hidup atau komunitas dipengaruhi melaui proses interaksi yang mungkin saja mengubah orang yang mempengaruhi atau dipengaruhi, sehingga di dalamnya tidak ada orang yang merasa dirinyalah yang lebih berkuasa atas organisasi atau pihak lain di dalam organisasi. Memandang organisasi sebagai mesin berarti melihat bahwa identitas organisasi dibuat oleh penciptanya, sedangkan memandang organisasi sebagai mahluk hidup berarti bahwa organisasi punya identitasnya sendiri. Dalam cara pandang organisasi sebagai mesin, aspirasi anggota, tata nilai, cita-cita, dan pekerjaan bermakna, merupakan isu yang tidak relevan. Sedangkan dalam cara pandang organisasi sebagai mahluk hidup atau komunitas, aspirasi anggota, cita-cita, tata nilai, dan pekerjaan bermakna, adalah isu besar1. Oleh karena itu cara pandang terhadap ITB harus diubah menjadi sebuah organisasi komunitas yang didalamnya manusia-manusia mengembangkan dirinya dengan cara diperlakukan sebagai manusia yang utuh, dihormati seluruh dimensi kemanusiannya, termasuk didalamnya citacitanya, nilai-nilainya, hati-nuraninya, kepercayaan dirinya, dan semangat belajarnya. Mahasiswa harus diperlakukan sebagai subjek dari sistem ITB, bukan hanya sebagai objek penderita seperti yang selama ini terjadi.

Sudah cukup keluhan dari dunia industri bahwa banyak mahasiswa ITB mempunyai kekurangan dalam soft skill dan karakter mereka. Hal ini terjadi karena selama di ITB, mereka diperlakukan layaknya sebagai input sebuah mesin dimana didalamnya harus mengikuti semua mekanisme produksi untuk keluar sebagai output. Masalah terjadi karena selama masa kuliah, para mahasiswa sudah terlalu sibuk untuk mengerjakan tugas, membuat laporan praktikum, dan mengejar materi ujian, sehingga waktu untuk mengembangkan diri di bidang lain menjadi sangat terbatas, ditambah lagi kenyataan bahwa ITB sangat kurang memperhatikan masalah soft skill dan karakter mahasiswanya. Untuk mencapai academic excellent, parameter keberhasilan sebuah sistem pendidikan tidak hanya berupa Indeks Prestasi (IP), tapi lebih jauh lagi, parameter harus diubah ke bentuk yang lebih luas. Dalam bidang akademik, mahasiswa bukan hanya mengerti tentang mata kuliah, tapi lebih jauh lagi bagaimana ITB bisa membangun militansi akademik [meminjam istilah Ir. Hermawan K Dipoyono MSEE PhD, Ketua Program Studi Teknik Fisika 2 ], yang secara kasar dapat digambarkan sebagai seseorang yang tanpa pamrih akan melakukan apapun untuk memperjuangkan pengembangan ilmu pengetahuan yang sedang digelutinya. Diluar akademik, mahasiswa ITB juga harus mempunyai karakter, community awareness, dan soft skills yang bagus seperti komunikasi, managerial, dan leadership. Kita harus bisa memandang pengembangan akademik, community awareness, karakter , dan soft skill sebagai sebuah satu kesatuan, jika salah satu kurang maka akan cacat. Pendidikan yang baik tentang akademik, community awareness, karakter, dan soft skill hanya bisa dilakukan pada institusi pendidikan yang berbentuk sebagai organisasi komunitas, bukan organisasi mesin, karena hanya organisasi komunitas yang bisa memperlakukan manusia sebagai manusia seutuhnya sehingga proses belajar adalah proses menemukan jati dirinya, misi, dan visi hidupnya, dan proses belajar dilakukan secara bersama-sama, baik oleh dosen atau mahasiswa. Academic excellent adalah suatu kemampuan untuk memaksimalkan potensi akademik (berupa ilmu pengetahuan) yang dimiliki untuk digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat, hal ini hanya bisa tercapai dengan kemampuan akademik, community awareness, karakter, dan soft skill yang kuat. Dengan demikian kita bisa berharap banyak, di masa mendatang, mantan-mantan mahasiswa ITB bukan hanya menjadi generasi-generasi pengisi lowongan kerja, tetapi akan menjadi pelopor pembaharuan dan perbaikan bagi bangsa ini. 1 Raka, Gede. Menggaris-Bawahi Peran Idealisme, Karakter Dan Komunitas Dalam Transformasi Institusi. Yang disampaikan sebagai Pidato Ilmiah pada Sidang Terbuka Peringatan Dies Natalis ke 44 Institut Teknologi Bandung tanggal 2 Maret 2003 di ITB. 2 Dari berbagai pertemuan dengan beliau saat persiapan LPIK 2006.