Snake Bite Dino

Click here to load reader

  • date post

    12-Jul-2016
  • Category

    Documents

  • view

    35
  • download

    9

Embed Size (px)

description

koas bedah RSUD Kabupaten Karanganyar

Transcript of Snake Bite Dino

BAB 1

LAPORAN KASUS1. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. S Usia : 63 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : Mesen 6/1 Kalijirak Tasikmadu Pekerjaan : Petani Agama : Islam No. Rekam Medis : 360859 Tanggal MRS : 5 Februari 2016 Tanggal Pemeriksaan: 5 Februari 20162. ANAMNESIS Keluhan UtamaNyeri tangan sebelah kanan setelah digigit ular Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien digigit ular pada tangan kanan saat sedang menanam padi disawah. Menurut pasien, ular berukuran sekitar sebesar jempol tangan pasien (diameter sekitar 3 cm), dan menggigit sebanyak 2 kali kemudian ular berlari dan tidak tertangkap. Pasien tidak melihat bentuk kepala, gigi taring, dan bentuk mata ular. Setelah digigit ular pasien merasa nyeri pada tangan kanan dan bengkak. Selain itu pasien juga mengeluh tangan kanan nyeri kesemutan, serta bengkak disekitar luka gigitan sampai telapak tangan. Pusing (-), mual (-), muntah (-), pingsan (-), demam (-), dan kejang (-). Kemudian pasien langsung dibawa RSUD Kabupaten Karanganyar. Riwayat Penyakit Dahulu -Riwayat Hipertensi : disangkal -riwayat diabetes : disangkal

-riwayat asma : disangkal

-riwayat alergi : disangkal3. ANAMNESIS SISTEM

Sistem serebrospinal : Composmentis, vertigo (-), trauma kapitis (-), kejang (-)

Sistem kardiovaskular :Palpitasi (-)

Sistem pernafasan : Sesak (-), batuk (-), dahak (-), darah (-)

Sistem gastrointestinal : Mual (-), muntah (-), nyeri perut (+), BAB normal

Sistem Urogenital:Anuria (-)

Sistem integumentum : Terdapat 2 luka bekas gigitan ular di regio manus dextra Sistem musculoskeletal: Bengkak dan nyeri di region manus dextra4. PEMERIKSAAN FISIK

[S] Nyeri tangan kanan, bengkak [O] KU: Lemah Kesadaran: Composmentis

VS: TD: 120/80mmHg RR: 22 x/menit

Nadi: 80 x/menit Suhu : 36 oC Kepala/Leher: anemis/icteris/cyanosis/dispneu ( -/-/-/-

Thoraks: Cor :Inspeksi: ictus cordis tidak tampak

Palpasi: ictus cordis tidak teraba

Perkusi: redup pada ICS IV PSL dextra dan ICS V MCL sinistra

Auskultasi: S1 dan S2 tunggal Pulmo Inspeksi:simetris, tidak ada ketertinggalan gerak

Palpasi:fremitus raba N/N

Perkusi:sonor +/+

Auskultasi:suara nafas Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/- Abdomen: Abdomen: Inspeksi : flat Auskultasi : bising usus (+) N Perkusi : timpani Palpasi : supel, nyeri tekan (-) Ekstremitas : Superior: Akral hangat +/+. Edema -/-Inferior: Akral hangat +/+. Edema -/+

(Status Lokalis):

Regio manus dextra : 2 luka gigitan bekas taring, nyeri (+), oedema (+) PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium

(5 Februari 2016)No Parameter Jumlah Satuan Nilai Rujukan

1. Leukosit 5,70uL 5000-1000 /uL

2. Eritrosit 3,36uL 4,0-5,0 / uL

3. Hemoglobin 5,4gr/dl 12,00-16,00 g/dl

4. Hematokrit 19,6% 37-47%

5. MCV 58,3femtoliter 82-92 fl

6. MCH 16,1Pikograms 27-31 pg

7. MCHC 27,6g/dl 32-37 g/dl

8. Trombosit 226.000uL 150.000-300.000/uL

9. Limfosit 21,1% 25-40%

10. Monosit 4,5% 3-9%

(7 Februari 2016)

No Parameter Jumlah Satuan Nilai Rujukan

1. Leukosit 10,92uL 5000-1000 /uL

2. Eritrosit 4,05uL 4,0-5,0 / uL

3. Hemoglobin 7,7gr/dl 12,00-16,00 g/dl

4. Hematokrit 26,0% 37-47%

5. MCV 64,2femtoliter 82-92 fl

6. MCH 19,0Pikograms 27-31 pg

7. MCHC 29,6g/dl 32-37 g/dl

8. Trombosit 234.000uL 150.000-300.000/uL

9. Limfosit 7,6% 25-40%

10. Monosit 1,0% 3-9%

(8 Februari 2016)

No Parameter Jumlah Satuan Nilai Rujukan

1. Leukosit 14,43uL 5000-1000 /uL

2. Eritrosit 4,38uL 4,0-5,0 / uL

3. Hemoglobin 8,9gr/dl 12,00-16,00 g/dl

4. Hematokrit 29,2% 37-47%

5. MCV 66,6femtoliter 82-92 fl

6. MCH 20,3Pikograms 27-31 pg

7. MCHC 30,5g/dl 32-37 g/dl

8. Trombosit 110.000uL 150.000-300.000/uL

9. Limfosit 8,0% 25-40%

10. Monosit 2,3% 3-9%

Dari hasil pembacaan gambaran darah tepi dapat diambil kesimpulan bahwa pasien mengalami anemia hipokromik mikrositik, supek et causa defisisiensi Fe DD proses kronis bersamaan dengan proses infeksi.RESUME

Pasien laki-laki 38 tahun, terdapat 2 luka gigitan ular di regio manus dextra, nyeri (+), oedem (+). Ular berukuran sekitar sebesar jempol tangan pasien (diameter sekitar 3 cm), menggigit 2 kali.

Sistem gastrointestinal : Nyeri Perut (-) Sistem Urogenital: Anuri (-) Sistem integumentum: Terdapat 2 luka bekas gigitan ular di regio cruris sinistra 1/3 distal Sistem musculoskeletal: Bengkak dan nyeri di region manus dextra (Status Lokalis): Regio manus dextra: 2 luka gigitan bekas taring, nyeri (+), oedema (+) 6. DIAGNOSIS KERJA

Snake Bite Regio manus dextra

7. PLANNING (PENATALAKSANAAN) Planning Terapi-Infus NacL 20 tpm (drip biosave 2 vial)-Transfusi PRC 1 Kolf-Ceftriaxone 2x1AP

-Asam folat 1x1

-solfasferon 1x1 malam

-vitamin c 3x1

-vitamin b komplek 2x1 Planning Monitoring

Evaluasi TTV (sistem kardiovaskuler) Evaluasi tanda perdarahan dan penyebaran venom secara sistemik Evaluasi komplikasi (neurotoksik, dan lain-lain) Planning Edukasi

Menjelaskan pada pasien mengenai penyakitnya Menjelaskan pada pasien mengenai pentingnya menghindari faktor-faktor pencetus Menjelaskan pada pasien mengenai pentingnya berobat dan kontrolBAB 2TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Gigitan ular adalah cedera yang disebabkan oleh gigitan dari ular baik ular berbisa ataupun tidak berbisa dan sering mengakibatkan luka tusukan yang ditimbulkan oleh hewan taring dan kadang-kadang menyebabkan envenomation. Ular merupakan jenis hewan melata yang banyak terdapat di Indonesia. Spesies ular dapat dibedakan atas ular berbisa dan ular tidak berbisa. Ular berbisa memiliki sepasang taring pada bagian rahang atas. Pada taring tersebut terdapat saluran bisa untuk menginjeksikan bisa ke dalam tubuh mangsanya secara subkutan atau intramuskular (PPDP, 2007).

Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. Bisa tersebut merupakan ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh kelenjar khusus. Kelenjar yang mengeluarkan bisa merupakan suatu modifikasi kelenjar ludah parotid yang terletak di setiap bagian bawah sisi kepala di belakang mata. Bisa ular tidak hanya terdiri atas satu substansi tunggal. Tetapi merupakan campuran kompleks, terutama protein, yang memiliki aktivitas enzimatik (SIKERNAS, 2005).

Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian (SIKERNAS, 2005).B. EPIDEMIOLOGI

WHO memperkirakan terdapat 40.000-50.000 kematian akibat gigitan ular setiap tahun, sekitar 25.000-30.000 berasal dari Asia. 30% kasus gigitan ular di Asia terjadi di India dan Pakistan (WHO, 2010). Berdasarkan laporan penelitian nasional 50% pasien berusia 18-28 tahun, dengan rata-rata 29,5% per tahun. Gigitan ular yang berada di ekstremitas bagian atas terutama di tangan 95%. Nasional studi melaporkan kejadian musiman 90% dari bulan april hingga oktober.

Pada populasi anak, gigitan ular paling sering terjadi pada anak usia sekolah dan remaja di sekeliling rumah pada sore hari di bulan musim panas. Faktor asal inang bergantung pekerjaan korban dan gaya hidup atau kawasan tempat tinggalnya di daerah terbelakang yang berpengaruh jelek. Kesakitan dan kematian gigitan ular bergantung pada macam spesies, keadaan dapat mematikan (fatal) dan dosis kematian dari jumlah racun yang masuk tubuh (Prihatini, 2007).C. KLASIFIKASI

Gigitan ular berbahaya jika ularnya tergolong jenis berbisa. Di seluruh dunia terkenal lebih dari 2000 spesies ular, namun jenis yang berbisa hanya sekitar 250 spesies. Berdasarkan morfologi gigi taringnya, ular dapat diklasifikasikan ke dalam 4 famili utama yaitu: Famili Elapidae. Memiliki taring pendek dan tegak permanen, misalnya ular weling, ular welang, ular sendok, ular anang dan ular cabai. Famili Crotalidae / Viperidae. Mampu mendeteksi mangsa yang berdarah panas. misalnya ular tanah, ular hijau, dan ular bandotan puspo.

Gambar 2.1 organ pendeteksi panas pada Crotalidae diantara lubang hidung dan mata (SIKERNAS, 2005)

Famili Hydrophidae, misalnya ular laut. Famili Colubridae. Kebanyakan ulaar berbisa masuk dalam famili ini, misalnya ular pohon dan ular tikus.(SIKERNAS, 2005).

A

B

C

D

Gambar 2.2 Ular A. Famili Elapidae, B. Famili Viperidae, C. Famili Hydrophidae, misalnya ular laut, D. Ular tidak berbisa (Python) (WHO, 2010)

Gambar 2.3 Ular Berdasarkan Bentuk Gigi (WHO, 2010)

Jenis ular berbisa berdasarkan dampak yang ditimbulkannya pada mangsa, yang banyak dijumpai di Indonesia adalah jenis ular:

a. Hematotoksik.

Mempengaruhi jantung dan pembuluh darah. Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah, yaitu bisa ular yang menyerang dan merusak (menghancurkan) sel-sel darah merah dengan jalan menghancurkan stroma lecethine (dinding sel darah merah), sehingga sel darah menjadi hancur dan larut (hemolysin) dan keluar menembus pembuluh-pembuluh darah, mengakibatkan timbulnya perdarahan pada selaput tipis (lender) pada mulut, hidung, tenggorokan, dan lain-lain. Seperti Trimeresurus albolais (ular hijau), Ankistrodon rhodostoma (ular tanah), aktivitas hemoragik pada bisa ular Viperidae menyebabkan perdarahan spontan dan kerusakan endotel (rac