Snake Bite

Click here to load reader

download Snake Bite

of 34

  • date post

    11-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    223
  • download

    6

Embed Size (px)

description

snake bite

Transcript of Snake Bite

Komposisi bisa ular

Komposisi bisa ular

Bisa ular mengandung 20 macam senyawa, umumnya berupa protein termasuk enzim dan toksin polipeptida. Senyawa senyawa dalam bisa berikut ini memiliki efek klinis diantaranya adalah:

Enzim Prokoagulan (Viperidae) merangsang pembekuan darah akan tetapi darah menjadi tidak mampu menggumpal. Bisa seperti yang terdapat pada ular Bandotan Puspo mengandung beberapa senyawa prokoagulan yang berbeda, masing masing akan mengaktifkan proses pembentukan aliran koagulan yang berbeda. Proses ini akan menghasilkan pembentukan benang fibrin pada aliran darah. Hal ini kemudian akan direspon oleh sistem fibrinolitik. Lebih kurang dalam 30 menit setelah gigitan konsentrasi faktor koagulasi darah akan menurun drastis (consumption coagulopathy), sehingga darah tidak dapat menggumpal.

Haemorrhagin (zinc metalloproteinase) yang akan merusak lapisan endothelial pada pembuluh darah menyebabkan haemorrhage sistemik spontan.

Sitolitik atau toksin nekrotik terdiri atas toksin enzim polipeptida pencernaan hidrolase (enzim proteolitik dan phospholipase A) dan faktor faktor lain yang akan meningkatkan permeabilitas membran sehingga mengakibatkan pembengkakan lokal. Toksin ini juga akan merusak membran sel dan jaringan.

Haemolitik dan miolitik phospholipase A2 enzim ini akan merusak membran sel, endothelium, otot skeletal, saraf dan sel darah merah.

Neurotoksin pre-sinaptik (Elapidae dan beberapa Viperidae) berupa senyawa phospholipase A2 yang merusak ujung saraf yang melepaskan transmiter asetilkolin dengan berikatan dengan neurotrasmiter tersebut.

Neurotoksin post-sinaptik (Elapidae) - polipeptida ini bersaing dengan asetilkolin dalam perannya sebagai reseptor pada percabangan neuromuskular dan mengakibatkan efek kelumpuhan.

Gejala Patukan, Pertolongan Pertama dan Pengobatan

Secara umum ada dua jenis bisa ular yakni neurotoxin dan haemotoxin. Neurotoxin umum terdapat pada bisa ular anggota familia Elapidae, sedangkan haemotoxin terdapat pada bisa ular anggota familia Viperidae. Pada prinsipnya bisa ular memiliki mekanisme yang sama dalam mematikan mangsa atau musuhnya yakni menghancurkan dan menghentikan proses metabolisme sel. Metabolisme sel sendiri sangat bergantung terhadap suplai oksigen. Hakekatnya bisa ular menghentikan suplai O2,sehingga metabolisme sel menjadi kacau. Prinsip ini berlaku pada semua jenis bisa ular. Korban akibat patukan ular kobra (familia Elapidae) akan mati karena mengalami kelumpuhan pada saraf pernafasannya, sedangkan korban patukan ular truno bamban akan mati akbat kerusakan pada sel sel darah merahnya. Bisa neurotoxin akan merusak saraf saraf pada pusat pernafasan sehingga hewan/manusia yang terpatuk tidak dapat mengambil oksigen untuk metabolisme selnya. Dalam bisa ular neurotxin juga terdapat jenis bisa cardiotoxin, terutama pada jenis ular kobra. Jenis toksin ini akan menyerang jantung sehingga tidak dapat lagi menyebarkan oksigen (melalui darah) ke seluruh tubuh.

Gejala gigitan ular berbisa dapat dibagi menjadi dua macam yakni, gejala ringan dan gejala berat. Gejala ringan adalah rasa pening, mual, muntah dan perasaan tidak enak. Pembengkakan 1 2 jam (neurotoxin) atau 30 menit 1 jam (haemotoxin) setelah gigitan pada bagian yang tergigit. Kelemanyuh (necrosis) terjadi umumnya pada gigitan ular berbisa neurotoxin. Gejala gejala ini diakibatkan reaksi tubuh terhadap antigen bisa ular.

Gejala berat pada tiap jenis bisa berbeda beda. Gejala berat akibat gigitan ular Familia Elapidae (kobra, welang, weling, dsb) berupa rasa kantuk yang hebat tanpa menguap, demam, menurunnya kesadaran, nafas terengah engah, sulit menggerakkan anggota badan, sulit menelan, bicara kurang jelas, anak mata membesar, dan kelopak mata menutup. Luka gigitan tidak begitu sakit, tapi sangat cepat membunuh. Gejala berat akibat gigitan ular anggota Familia Viperidae (Truno bamban, Bandotan puspo, Ular Edor dsb) berupa membesarnya luka patukan karena luka dalam akibat kerja senyawa bisa, perasaan demam, rasa haus yang hebat, pendarahan pada gusi dan pembuluh darah di daerah bekas luka patukan. Ludah dari paru paru (sputum) mengandung darah. Timbul bercak-bercak darah di seluruh tubuh, dapat disertai batuk darah, kencing darah, dsb. Luka gigitan terasa nyeri dan bengkak. Pembekuan darah terhambat, banyak berkeringat dan detak jantung melemah.

Gambar 16. Gejala - gejala akibat gigitan ular berbisa.

Prinsip Pertolongan Pertama pada korban gigitan ular adalah, meringankan sakit, menenangkan pasien dan berusaha agar bisa ular tidak terlalu cepat menyebar ke seluruh tubuh sebelum dibawa ke rumah sakit. Pada beberapa tahun yang lalu penggunaan torniket dianjurkan. Seiring berkembangannya ilmu pengetahuan kini dikembangkan metode penanganan yang lebih baik yakni metode pembalut dengan penyangga. Idealnya digunakan pembalut dari kain tebal, akan tetapi jika tidak ada dapat juga digunakan sobekan pakaian atau baju yang disobek menyerupai pembalut. Metode ini dikembangkan setelah dipahami bahwa bisa menyebar melalui pembuluh limfa dari korban. Diharapkan dengan membalut bagian yang tergigit maka produksi getah bening dapat berkurang sehingga menghambat penyebaran bisa sebelum korban mendapat ditangani secara lebih baik di rumah sakit.

Gambar 17. Bekas gigitan ular. Sebelah kiri adalah bekas gigitan ular berbisa pada umumnya. Gambar sebelah kanan adalah bekas gigitan ular tidak berbisa.

Adapun langkah langkah penanganannya adalah sebagai berikut:

a) Jika terpatuk, langsung gunakan pembalut atau bahan lain yang serupa dan bebatkan dengan kencang. Bebatkan seluas mungkin daerah yang dipatuk. Usahakan menggunakan penyangga atau kain penggantung. Kurangi aktifitas atau gerakan korban untuk mencegah penyebaran bisa. Selalu posisikan daerah yang terpatuk lebih rendah dari jantung.

b) Jangan pernah memperlebar luka bekas gigitan karena dapat menyebabkan infeksi dan trauma pada korban. Juga jangan pernah menghisap darah dari bekas luka patukan. Selain beresiko jika ada luka pada mulut penolong, juga tidak terlalu efektif dalam mengurangi jumlah bisa yang masuk.

c) Penting untuk meyakinkan korban bahwa kemungkinan selamatnya tinggi karena telah banyak antivenom (baik monovalent maupun polivalent) di rumah sakit rumah sakit.

d) Jangan pernah izinkan pasien untuk meminum alkohol.

e) Segera bawa ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. Informasikan kepada dokter mengenai penyakit yang diderita pasien seperti asma dan alergi pada obat obatan tertentu, atau pemberian antivenom sebelumnya. Ini penting agar dokter dapat memperkirakan kemungkinan adanya reaksi dari pemberian antivenom selanjutnya.

f) Kenali jenis ular yang mematuk. Apabila anda ragu dan agar lebih amannya maka bunuhlah ular yang mematuk agar hasil identifikasi lebih positif. Hal ini penting untuk menentukan pemberian antivenom yang monovalent, sehingga efeknya lebih tepat dan cepat. Jika tidak pun tidak apa apa, sebab ada antivenom polyvalent yang dapat menetralisir bisa dari berbagai jenis ular.

Gambar 18. Pemasangan balutan berpenyangga pada korban gigitan ular harus dilakukan dengan balutan yang lembut. Tetap posisikan bagian tubuh yang tergigit lebih rendah dari jantung.

Gambar 19. Penggunaan alat penyedot bisa pada bekas gigitan ular efektif digunakan dalam jangka waktu 5 menit setelah gigitan.

Kuantitas bisa dalam gigitan ular

Sangat bervariasi, tergantung jenis dan ukuran dari tiap individu ular, mekanisme efisiensi pada gigitan, apakah satu atau dua taring bisa yang menusuk kulit dan apakah terjadi serangan yang berulang. Ular mampu mengontrol apakah bisa akan dikeluarkan atau tidak pada patukannya. Jumlah gigitan tidak berkorelasi positif dengan dengan banyaknya bisa ular yang dikeluarkan sehingga dapat mengakibatkan efek klinis. Dari observasi, sekitar 50% dari gigitan ular edor dan ular Bandotan Puspo, 30% dari gigitan ular kobra dan 5-10% gigitan ular viper sisik gergaji tidak mengakibatkan efek klinis atau tanda tanda keracunan bisa ular. Ular tidak akan sembarangan menggunakan cadangan bisa mereka. Umumnya mereka menjadi kurang berbahaya setelah memangsa mangsanya. Meskipun ular berukuran besar umumnya akan mengeluarkan bisa dengan kuantitas lebi besar dari ular yang lebih kecil dari spesies yang sama, bisa ular muda seperti jenis viper dapat mengandung komponen bisa berbahaya (terutama yang mempengaruhi haemostasis) dalam jumlah yang lebih besar.

Gigitan oleh ular kecil tidak boleh diabaikan. Tangani secara serius seperti penanganan pada gigitan ular dewasa.

Seberapa umumkah kasus gigitan ular?

Sulit untuk menjawab pertanyaan diatas karena banyak sekali kasus gigitan ular yang tidak tercatat. Salah satu alasannya adalah masyarakat lebih memilih untuk mendapatkan pengobatan secara tradisonal dibanding perawatan di rumah sakit.

Penting sekali untuk melakukan pencatatan terpadu terhadap kasus gigitan ular yang terjadi di daerah anda agar dapat melakukan tindakan tindakan pencegahan yang tepat.

Di Bangladesh survei pada 1988-9 terhadap 10% penduduk menunjukkan sedikitnya terjadi 764 kasus gigitan ular dengan 168 kasus fatal dalam satu tahun. Gigitan Kobra merupakan kasus tertinggi dengan 34% dari total kasus gigigtan dan 40% diantaranya mengakibatkan kematian. Di India tiap tahunnya diperkirakan terdapat 200.000 kasus dan 15-20.000 diantaranya mengakibatkan kematian. Perkiraan lain menyatakan bahwa dari 980 juta populasi penduduk India, 35.000 50.000 orang meninggal akibat gigitan ular tiap tahunnya. Tingginya kasus gigitan ular ternyata tidak diimbangi oleh data statistik nasional yang memadai. Kasus tercatat diantaranya adalah kasus tahun 1981, dimana ribuan orang mati di wilayah Maharashtra. Di distrik Burdwan, West Bengal 29.489 orang tergigit dalam satu tahun dengan 1.301 k