skripsi ikm

download skripsi ikm

of 65

  • date post

    04-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    21
  • download

    5

Embed Size (px)

description

tugas koas ikm untuk skripsi dan tugas akhir, universitas

Transcript of skripsi ikm

BAB IPENDAHULUAN

1.1. Latar BelakangPengobatan sendiri dengan antibiotika yang semakin luas telah menjadi masalah yang penting di seluruh dunia. Salah satunya adalah terjadinya peningkatan resistensi kuman terhadap antibiotika(1). Hal ini mengakibatkan pengobatan menjadi tidak efektif, peningkatan morbiditas maupun mortalitas pasien dan meningkatnya biaya kesehatan pasien. Dampak tersebut harus ditanggulangi secara efektif sehingga perlu diperhatikan prinsip penggunaan antibiotika harus sesuai indikasi penyakit, dosis, cara pemberian dengan interval waktu, lama pemberian, keefektifan, mutu, keamanan, dan harga.(2)Antibiotik adalah zat kimiawi dihasilkan mikroorganisme yang mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lain(3). Konsumsi antibiotik yang tidak tuntas dapat menyebabkan resistensi kuman. Resistensi adalah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroorganisme oleh antibiotik(4). Kebanyakan masyarakat tidak mengetahui hal ini sehingga terkadang menghentikan konsumsi antibiotik saat gejala penyakit sudah hilang padahal belum sesuai durasi yang dianjurkan, atau mengonsumsi antibiotik dengan tidak teratur dan terputus-putus.Penggunaan antibiotik dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengetahuan dokter dan pasien tentang antibiotik, status ekonomi, masyarakat dan kondisi karakteristik pelayanan system kesehatan, regulasi lingkungan di suatu Negara. Antibiotik yang digunakan secara bebas tanpa resep dokter, sering menyebabkan kesalahan dalam penggunaannya, antara lain sering tidak teratur makan obat dan tidak menyelesaikan pengobatan, karena sudah merasa sembuh atau tidak mampu membiayai pengobatan sampai selesai. Kondisi ini menyebabkan tidak tuntasnya proses eradikasi bakteri, yang menyebabkan terjadinya proses mutasi kuman, sehingga menjadi resisten terhadap antibiotik tersebut. Jika pasien terinfeksi kembali oleh bakteri yang sama atau jika bakteri tersebut menginfeksi individu yang lain, maka pengobatannya menjadi sulit. Untuk mengatasi hal ini diperlukan antibiotik golongan lain, yang biasanya lebih mahal(1).Di Indonesia, kesalahan penggunaan antibiotik didukung oleh banyaknya penjualan obat antibiotik yang termasuk golongan obat keras secara bebas. Masyarakat masih dapat memperoleh obat keras secara bebas tanpa resep dokter meskipun telah dilarang oleh undang-undang yang berlaku, yaitu Undang-undang Obat Keras St. No. 419 tgl. 22 Desember 1949. Pada pasal 1 undang-undang tersebut juga disebutkan yang dimaksud dengan obat keras adalah termasuk obat-obatan yang mempunyai khasiat mendesinfeksikan tubuh manusia seperti antibiotik(5).Tingkat pengetahuan masyarakat dalam penggunaan antibiotik telah diteliti di berbagai daerah. Penelitian yang dilakukan oleh Lim dan Teh (2012) di Putrajaya, Malaysia, menyebutkan bahwa 83% responden tidak mengetahui bahwa antibiotik tidak bekerja untuk melawan infeksi virus dan 82% responden tidak mengetahui bahwa antibiotik tidak dapat mengobati batuk dan flu, sementara 82.5% responden terlihat sangat berhati-hati dengan penggunaan antibiotik yang dapat menyebabkan alergi(6). Penelitian tersebut juga menyatakan bahwa sekitar setengah dari mereka (52,1%) tidak mengetahui bahwa antibiotik dapat menimbulkan banyak efek samping(6). Beberapa pernyataan dari responden diantaranya adalah tidak masalah menghentikan pemakaian antibiotik ketika gejala telah membaik dan mengkonsumsi sedikit antibiotik dari yang diresepkan dokter akan lebih sehat daripada mengkonsumsi seluruh antibiotik yang diresepkan(6). Penelitian yang dilakukan oleh Widayati dkk tahun 2012 di Yogyakarta, menyatakan bahwa dari 559 responden, sejumlah 283 responden mampu menyebutkan nama antibiotik dengan benar, sementara 276 responden mengaku tidak mengenal antibiotik(7). Hasil penelitian tersebut juga menyatakan 85% responden berhati-hati dengan penggunaan antibiotik yang dapat menyebabkan resistensi. Responden mampu menjawab dengan benar bahwa antibiotik dapat mengobati infeksi bakteri sebanyak 76%, sedangkan 70% menyebutkan orang-orang dapat memiliki reaksi alergi terhadap penggunaan antibiotik, dan antibiotik tidak harus segera digunakan ketika seseorang mengalami demam sebanyak 50%(7). Untuk tingkat pengetahuan responden mengenai antibiotik dinyatakan bahwa sebanyak 70% responden tidak memiliki pengetahuan yang cukup tepat mengenai kegunaan antibiotik pada infeksi virus. Sehingga, median dari skor keseluruhan pengetahuan adalah 3 dari range 0-5. Sementara 31% responden berada pada level yang rendah dari skor pengetahuan, 35% berada pada tingkat moderate dari skor pengetahuan, dan 34% responden memiliki pengetahuan yang adekuat(7).Menurut pengalaman penulis, banyak kerabat dekat maupun tetangga dari penulis yang cenderung tidak rasional dalam menggunakan obat antibiotik. Pernyataan-pernyataan yang sering penulis dengar dari kerabat atau tetangga penulis mengenai penggunaan obat antibiotik antara lain mereka berhenti menggunakan antibiotik setelah tidak merasa sakit lagi atau mereka membeli obat antibiotik sendiri tanpa peresepan dari dokter karena malas untuk pergi ke dokter.Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat mengenai penggunaan antibiotik di kalangan masyarakat baik masyarakat menengah ke atas, maupun pada masyarakat dengan kehidupan sosial ekonomi menengah ke bawah.

1.2. Rumusan masalah Penggunaan antibiotik secara bebas tanpa resep dokter mengakibatkan penggunaan yang tidak tepat indikasi, tidak tepat dosis, tidak tepat cara dan waktu pemberiannya oleh pengguna. Hal ini menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya resistensi kuman terhadap antibiotik. Oleh karena itu ingin diketahui tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap penggunaan antibiotik yang diperoleh secara bebas di kelurahan Tanjung Merdeka.

1.3. Tujuan Penelitian1.3.1. Tujuan UmumUntuk mengetahui tingkat pengetahuan sikap dan perilaku masyarakat Kelurahan Tanjung Merdeka terhadap penggunaan antibiotik.

1.3.2. Tujuan Khususa. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang penggunaan antibiotik berdasarkan tingkat pendidikanb. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang penggunaan antibiotik berdasarkan jenis kelaminc. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang penggunaan antibiotik berdasarkan umur.d. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang penggunaan antibiotik berdasarkan status ekonomi

1.4. Manfaat Penelitian1. Bagi MasyarakatSebagai informasi kepada masyarakat mengapa penting untuk melakukan pembatasan penggunaan antibiotik.2. Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini dapat menambah studi kepustakaan dan diharapkan dapat menjadi bahan referensi untuk penelitian selanjutnya. 3. Bagi Peneliti Sebagai sarana pembelajaran sehingga menambah pengetahuan dan wawasan dalam melakukan penelitian dalam bidang kesehatan.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tingkat Pengetahuan2.1.1.DefinisiMenurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui; kepandaian, atau segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal. Adapun tingkat pengetahuan tersebut:a. Tahu (Know)Tahu diartikan sebagai suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima, oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.b. Memahami (Comprehension)Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham tentang objek atau materi harus dapat menjelaskan dan menyebutkan.c. Aplikasi (Application)Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau pengguna hukum-hukum, rumus, metode prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.d. Analisis (Analysis)Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.e. Sintesis (Synthesis)Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.f. Evaluasi (Evaluation)Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan kriteria-kriteria yang ada(8).

2.1.2.Faktor-Faktor Yang MempengaruhiFaktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan:a. Usia Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja(9).b. Pendidikan Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap orang lain menuju ke arah suatu citacita tertentu, jadi dapat dikatakan bahwa pendidikan itu menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupannya untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pula menerima pengetahuan yang dimilikinya(9).c. Pekerjaan Pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan dan kehidupan keluargannya(9).d. Sosial Ekonomi Tingkat sosial ekonomi terlalu rendah sehingga tidak begitu memperhatikan pesan-pesan yang disampaikan karena lebih memikirkan kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih mendesak(10).

Sumber pengetahuan manusia me