SKENARIO 3 BLOK 4 QT

48
SKENARIO III BLOK IV Saat menjadi probandus praktikum dermatome, AMI dapat merasakan adanya stimulus rasa nyeri, rasa suhu, rasa raba pada seluruh tubuhnya. Berdasarkan hasil praktikum tersebut, ia berasumsi bahwa seluruh sensibilitasnya tidak ada gangguan. Benarkah asumsi AMI tersebut ? KLARIFIKASI ISTILAH 1. Probandus : Orang yang melakukan percobaan 2. Praktikum : bagian dari pengajaran agar siswa mendapat kesempatan untuk menguji dalam keadaan nyata apa yang sudah di dapat dalam teori 3. Dermatome : suatu area kulit yang difersyarafi oleh sebuah saraf spinal dan merupakan satu segmen medulla spinalis 4. Stimulus : setiap agen, tindakan/ pengaruh yang menghasilkan reaksi fungsional / tropic pada reseptor atau jaringan yang peka 5. Asumsi : anggapan / dugaan dari suatu pikiran 6. Nyeri : sensasi yang memperingatkann adanya potensi cedera dan kesiapan untuk menghindari / mengatasinya 7. Sensibilitas : kelemahan dalam merasakan

Transcript of SKENARIO 3 BLOK 4 QT

Page 1: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

SKENARIO III BLOK IV

Saat menjadi probandus praktikum dermatome, AMI dapat merasakan adanya

stimulus rasa nyeri, rasa suhu, rasa raba pada seluruh tubuhnya. Berdasarkan hasil

praktikum tersebut, ia berasumsi bahwa seluruh sensibilitasnya tidak ada gangguan.

Benarkah asumsi AMI tersebut ?

KLARIFIKASI ISTILAH

1. Probandus : Orang yang melakukan percobaan

2. Praktikum : bagian dari pengajaran agar siswa mendapat kesempatan untuk

menguji dalam keadaan nyata apa yang sudah di dapat dalam teori

3. Dermatome : suatu area kulit yang difersyarafi oleh sebuah saraf spinal dan

merupakan satu segmen medulla spinalis

4. Stimulus : setiap agen, tindakan/ pengaruh yang menghasilkan reaksi

fungsional / tropic pada reseptor atau jaringan yang peka

5. Asumsi : anggapan / dugaan dari suatu pikiran

6. Nyeri : sensasi yang memperingatkann adanya potensi cedera dan

kesiapan untuk menghindari / mengatasinya

7. Sensibilitas : kelemahan dalam merasakan

IDENTIFIKASI MASALAH

1. Saat menjadi probandus praktikum dermatome, Ami dapat merasakan adanya

stimulus :

rasa nyeri,

rasa suhu,

rasa raba, pada seluruh tubuhnya

2. Berdasarkan hasil praktikum tersebut, ia berasumsi bahwa seluruh sensibilitasnya

tidak ada gangguan.

Page 2: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

TABEL IDENTIFIKASI MASALAH

OBSERVED EXPECTED CONCERNED

1.Saat menjadi probandus

praktikum dermatome, AMI

dapat merasakan adanya

stimulus :

1. rasa nyeri,

2. rasa suhu,

3. rasa raba, pada

seluruh tubuhnya

SESUAI -

2. Berdasarkan hasil

praktikum tersebut, ia

berasumsi bahwa

seluruh sensibilitasnya

tidak ada gangguan.

SESUAI -

ANALISIS MASALAH

I. Bagaimana anatomi kulit ?

STRUKTUR

EPIDERMIS

Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) :

1. Stratum Korneum

2. Stratum Lusidum

Page 3: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

3. Stratum Granulosum

4. Stratum Spinosum

5. Stratum Basale (Stratum Germinativum)

DERMIS

Dermis terdiri dari dua lapisan :

Lapisan papiler;

Lapisan retikuler;

SUBKUTIS

PEMBULUH DARAH

a. arteri : A. intramuscularis, A. subfascialis, A. intraseptalis.

b. Vena : V. intramuscularis, V. subfascialis, V.intraseptalis.

Page 4: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

bagian-bagian dermatome

`

Page 5: SKENARIO 3 BLOK 4 QT
Page 6: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

Gambaran Penting yang Ditemukan pada Sindrom Radix Cervicalis dan Lumbosacralis

Cedera

Radix

Nyeri Dermatome Otot yang dipersarafi Kelemahan Gerakan Refleks yang

terganggu

C5 Sisi lateral bagian atas

lengan

Deltoideus dan biceps

brachii

Abduksi bahu, fleksi siku Biseps

C6 Sisi lateral bagian

bawah lengan

Extensor carpi radialis

longus dan brevis

Ekstensor pergelangan

tangan

Brachioradialis

C7 Jari tengah Triceps brachii dan

flexor carpi radialis

Ekstensi siku dan fleksi

pergelangan tangan

Trisep

Page 7: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

C8 Sisi medial lengan

bawah

Flexor digitorum

superficialis dan

profundus

Fleksi jari tangan Tidak ada

L1 Lipat paha Iliopsoas Fleksi panggul Kremaster

L2 Bagian anterior

tungkai atas

Iliopsoas, sartorius,

adductor coxae

Fleksi panggul, aduksi

panggul

Kremaster

L3 Sisi medial lutut Iliopsoas, sartorius,

quadriceps femoris,

adductor coxae

Fleksi panggul, ekstensi

lutut, aduksi panggul

Patella

L4 Sisi medial betis Tibialis anterior,

quadriceps femoris

Inversi kaki, ekstensi lutut Patella

L5 Sisi lateral tungkai

bawah dan dorsum

pedis

Extensor hallucis longus,

extensor digitorum

longus

Ekstensi jari-jari kaki,

dorsofleksi pergelangan

kaki

Tidak ada

S1 Pinggir lateral kaki Gastrocnemius, soleus Plantarfleksi pergelangan

kaki

Tendon

Achilles

( Ankle jerk )

S2 Bagian posterior paha Flexor digitorum longus,

flexor hallucis

Plantarfleksi pergelangan

kaki, fleksi jari kaki

Tidak ada

Cabang-Cabang Pleksus Brachialis dan Distribusinya

Cabang-Cabang Distribusi

Radix

N. dorsalis scapulae ( C5 ) M. rhomboideus minor, m. rhombodeus major, m.

levator scapulae

N. thoracalis longus ( C5, C6, C7 ) M. seratus anterior

Truncus superior

N. suprascapularis ( C5, C6 ) M. supraspinatus dan m. infraspinatus

Saraf ke m. subclavius ( C5, C6 ) M. subclavia

Page 8: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

Fasciculus Lateralis

N. Pectoralis lateralis ( C5, C6, C7 ) M. Pectoralis major

N. Musculocutaneus ( C5, C6, C7 ) M. Coracobracialis, M. Biceps Brachii, M.

Brachialis; mempersarafi kulit sepanjang tepi

lateral lengan bawah ketika menjadi N. Cutaneus

Antebrachii Lateralis

Fasciculus dorsalis

N. Subscapularis superior ( C5, C6 ) M. Subscapularis

N. Thoracodorsalis ( C6, C7, C8 ) M. Latissimus dorsi

N. Subscapularis inferior ( C5, C6 ) M. Subscapularis dan M. Teres major

N. Axillaris ( C5, C5 ) M. Deltoideus dan M. Teres minor ; N. Cutaneus

brachii lateralis superior mempersarafi setengah

kulit bagian bawah M. Deltoideus

N. Radialis ( C5, C6, C7, C8, T1 ) M. Triseps brachii, M. Anconeus, sebagian M.

Brachialis, M. Brachioradialis, M. Extensor carpi

radialis; melalui ramus profundus N. radialis

mampersarafi otot-otot extensor lengan bawah : M.

Supinator, M. Extensor carpi radialis brevis, M.

Extensor carpi ulnaris, M. Extensor digitorum, M.

Extensor digiti minimi, M. Extensor indicis, M.

Abductor pollicis longos, M. Extensor pollicis

longus, M. Extensor pollicis brevis; kulit, N,

Cutaneus brachii lateralis inferior, N. Cutaneus

brachii dorsalis, dan N. Cutaneus antebrachii

dorsalis; kulit di atas sisi lateral dorsum manus dan

permukaan dorsal 3,5 jari lateral; cabang-cabang

articular untuk sendi siku, pergelangan tangan dan

tangan.

Fasciculus medialis

N. Pectoralis medialis ( C8, T1 ) m. Pectoralis major dan minor

N. Cutaneus brachii madialis bergabung dengan N. Kulit sisi medial lengan atas

Page 9: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

Intercosto-brachialis dari N. Intercostalis II

( C8, T1, T2 )

N. Cutaneus antebrachii medialis ( C8, T1 ) Kulit sisi medial lengan bawah

N. Ulnaris M. Flexor carpi ulnaris dan setengah sisi medial M.

Flexor digitorum profundus, M. Flexor digiti

minimi, M, Opponens digiti minimi, M. Abductor

digiti minimi, M. Adductor pollicis, M.

Lumbricalis ketiga dan keempat, Mm. Interossei,

M. Palmaris brevis, kulit pada setengah sisi medial

dorsum manus dan telapak tangan, kulit permukaan

volar dan dorsal jari-jari 1,5 jari medial

Radix medialis n. medianus ( dengan radix lateralis )

membentuk n. medianus ( C5, C6, C7, C8, T1 )

M. Pronator teres, M. Flexor carpi radialis, M.

Palmarislongus, M. Flexor digitorum superficialis,

M. Abdukstor Policis Brevis, M. Flexor Policis

Brevis, M. Oponens pollicis, M. Lumbricalis

pertama dan kedua ( melalui ramus interosseus

anterior ), M. Flexor pollicis longus, M. Flexor

Digitorum Profundus (setengah bagian lateral), M.

Pronator quadratus ; ramus cutaneus palmaris

menuju setengah lateral telapak tangan dan ramus

digitales menuju permukaan lateral 3,5 jari-jari

cabang-cabang articular ke sendi siku, pergelangan

tangan dan carpal.

Cabang-Cabang Pleksus Lumbalis dan Sacralis serta Distribusinya

Cabang-Cabang Distribusi

N. femoralis ( L2, L3, L4 ) M. illiacus, m. pectineus, m. sartorius, m. quadriceps

femoris, kulit, n. cutaneus femoris medialis dan

intermedius, n. saphenus menuju sisi medial tungkai,

sisi medial kaki sampai ke ibu jari kaki, ramus

articulares untuk sendi coxae dan sendi lutut.

N. obturatorius ( L2, L3, L4 ) M. pectineus, M. adductor longus, M. adductor

Page 10: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

brevis, M. adductor magnus ( bagian adductor ), M.

gracilis, kulit, sisi medial paha, ramus articulares

untuk sendi coxae dan sendi lutut.

N. ischiadicus ( L4, L5, S1, S2, S3 )

N. peroneus communis M. biceps femoris ( caput brevis ), kulit, n. cutaneus

surae lateralis, ramus communicans surae lateralis,

sisi lateral kaki, dan jari kelingking

N. peroneus superficialis M. peroneus longus dan brevis, kulit, betis, dan

dorsum pedis.

N. peroneus profundus M. tibialis anterior, M. extensor hallucis longus, M.

extensor digitorum longus, M. peroneus tertius, M.

extensor digitorum brevis, kulit, celah antara jari

pertama dan kedua, ramus articulares untuk sendi

tibio fibularis, tumut, kaki.

N. tibialis M. semitendinosus, M. biceps femoris ( caput longus

), M. membranosus, M. adductor magnus ( bagian

hamstring ), M. gastrocnemius, M. soleus, M.

plantaris, M. popliteus, M. tibialis posterior, M.

fleksor digitorum longus, M. flexor hallucis longus,

kulit, sisi medial tumit, ramus articulares untuk

articulatio coxae, sendi lutut, sendi tumit.

N. plantaris medialis M. abductor hallucis, M. digitorum brevis, M. flexor

hallucis brevis, mm. lumbricales, kulit, sisi medial

telapak kaki, cabang articular sendi-sendi kaki.

N. plantaris lateralis M. flexor acesoriuss, M. abductor digiti minimi, M.

flexor digiti minimi brevis, M. lumbricalis ( II, III,

IV )m. adductor hallucias, semua mm. interossei;

kulit dan sisi lateral telapak kaki.

Page 11: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

II. Bagaimana histology pada kulit?

HISTOLOGI KULIT

EPIDERMIS

- epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk terdiri atas 5 lapisan

1. stratum basale / stratum germinatium

2. stratum spinosum

3. stratum granulosum

4. stratum lusidum

5. stratum korneum

6. stratum disjungtum

- sel epidermis :

keratinosit

melanosit

sel langerhans

sel merker

DERMIS (KORIUM)

- Lapisan tebal jar.ikat atas(epidermis) & jar.ikat bawah(hipodermis)

- Lapisan tebal bervariasi

Struktur dermis terdiri dari 2:

1. stratum papilaris

- tipis dan longgar

- seluler

- mengandung lengkung kapilar

2. stratum retikular

- padat dari pada lapisan papiler

-terdiri dari serat-serat kolagen

III. Bagaimana fisiologi kulit?

Fisiologi kulit berdasarkan fungsinya:

Page 12: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

Fungsi sebagai proteksi

Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis,misalnya

tekanan,gesekan,tarikan;gangguan kimiawi misalnya zat-zat kimia yang bersifat

iritan ex: lisol,karbol,asam dan alkali kuat lainnya.

Fungsi sebgai absorpsi

Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air,larutan dan benda padat,tetapi cairan

yang mudah menguap lebih mudah diserap .begitupun larutan lemak.

Fungsi eksresi

Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna lagi atau sisa

metabolisme dalam tubuh berupa Nacl,urea,asam urat,dan ammonia

Fungsi persepsi

Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis

Fungsi pengaturan suhu tubuh

Kulit melakukan peranan ini dengan cara mengeluarkan keringat dan

mengerutkan(otot berkontraksi) pembuluh darah kulit

Fungsi pembentukan pigmen

Sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak di lapisan basal dan sel ini berasl dari

rigi saraf

Fungsi pembentukan vit,D

Dimungkinkan dengan mengubah 7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan

sinar matahari.

Page 13: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

IV. Bagaimana rangsangan reseptor pada?

Reseptor Nyeri dan Rangsangannya

Reseptor nyeri merupakan ujung saraf bebas. Reseptor ini tersebar luas pada

permukaaan superfisial kulit dan juga dijaringan dalam tertentu, misalnya

periosteum,dinding arteri, permukaan sendi, dan falk serta tentoriumtempurung kepala.

Sebagian besar jaringan dalam lainnya hanya sedikit sekali dipersyarafi oleh ujung

syaraf rasa nyeri; namun, setiap kerusakan jaringan yang luas dapat bergabung sehingga

pada kebanyakan daerah tersebut akan timbul tipe rasa nyeri pegal yang lambat dan

kronik.

Tiga jenis stimulus yang merangsang reseptor rasa nyeri-mekanis,suhu,kimiawi.

Rasa nyeri dapat dirasakan melalui berbagai jenis ransangan. Semua ini di kelompokan

sebagai ransang nyeri mekanis, suhu dan kimiawi. Pada umunnya, nyeri cepat diperoleh

melalui ransangan jenis mekanis atau suhu, sedangkan nyeri lambat dapat diperoleh

melalui ketiga jenis tersebut. Beberapa zat kimia yang meransang jenis nyeri kimiawi

adalah bradikinin, serotonin, histamin, ion kalium,asam, asetikolin dan enzim

proteolitik.

Sifat nonadaptasi reseptor rasa nyeri. Berbeda dengan kebanyakan reseptor

sensorik tubuh lainnya, reseptor rasa nyeri sedikit sekali beradaptasi dan kadang tidak

beradaptasi sama sekali. Ternyata, pada beberapa kondisi, eksitasi serabut rasa nyeri

menjadi semakin bertambah secara progresif, terutama pada rasa nyeri berlangsung

terus menerus. Keadaan ini akan meningkatkan sensitivitas reseptor rasa nyeri dan

disebut hiperalgesia.

Kecepatan kerusakan jaringan seagaistimulus rasa nyeri

Pada umumnya nyeri akan terasa bilaseseorang menerima panas dengan suhu di

atas 45°C. jaringan akan seluruhnya rusak jika suhu menetap di atas nilaiini. Oleh

karena itu, jelaslahsekarang bahwa rasa nyeri yang disebabkan oleh panas sangat erat

hubungannya dengan kecepatan kerusakan dari jaringan yang terjadi dan tidak

berhubungan dengan kerusakan total yang telah terjadi.

Intensitas rasa nyeri juga berhubungan erat dengan kecepatan kerusakan jaringan

yang disebabkan oleh pengaruh lain selain panas,seperti infeksi bakteri, iskemia

jaringan, kontusio jaringan dan sebaginya.

Page 14: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

Makna khusus dari stimulus kimiawi penyebab nyeri selama kerusakan jaringan.

Satu zat kimia yang terlihat mengakibatkan rasa nyeri lebih hebat daripada yang lain

adalah bradikinin. Banyak peneliti menduga bahwa, bradikinin mungkin merupakan zat

yang bertanggunggung jawab terhadap penyebab rasa nyeri yang diikuti kerusakan

jaringan. Juga, intensitas nyeri dirasakan berkorelasi dengan peningkatan konsentrasi

ion kalium setempat atau peningkatan enzim proteolitik yang dapat secara langsung

menyerang ujung-ujung saraf dan menimbulkan rasa nyeri dengan cara meembuat

membrane saraf tersebut lebih permeable terhadap ion-ion.

Iskemia jaringan sebagai penyebab rasa nyeri. Bila aliran darh yang menuju

jaringan terhambat, dalamwaktu beberapa menit saja jaringan sering menjadi terasa

nyeri sekali. Bila metabolisme makin cepat, rasa nyeri yang timbul akan semakin cepat

pula. Salah satu penyebab rasa nyeri pada keadaan iskemia adalah terkumpulnya

sejumlah besar asam laktat dalam jaringan( metabolism tanpa oksigen ). Mungkin juga

ada bahan-bahan kimia lainnya seperti bradikinin dan enzim proteolitik yang terbentuk

dalam jaringan akibat kerusakan sel dan bila bahan-bahan ini selain asam laktat akan

merangsang ujung serabut saraf nyeri.

Spasme otot sebagai penyebab rasa nyeri. Rasa nyeri ini mungkin sebagian

disebabkan secara langsung oleh spasme otot karena terangsangnya reseptor nyeri yang

bersifat mekanosensitif, namun mungkin juga rasa nyeri ini secara tidak langsung

disebabkan oleh pengaruh spasme otot yang menekan pembuluh darah dan

menyebabkan iskemia. Spasme otot ini juga meningkatkan kecepatan metabolism dalam

jaringan otot sehingga relative memperberat keadaan iskemia,keadaan ini merupakan

kondisi yang ideal untuk pelepasan bahan kimiawi pemicu timbulnya rasa nyeri.

Reseptor suhu dan perangsangannya

Reseptor dingin dan reseptor dingin terletak tepet di bawah kulit,yakni pada titik-

titik yang berbeda dan terpisah-pisah. Pada sebagian daerah tubuh jumlah titikdingin

kira-kira 3 sampai 10 kali titik hangat dan pada berbagai daerah tubuh jumlah reseptor

bervariasi, 15 sampai 25 titik dingin per sentimeter persegi pada bibir, 3 sampai5 titik

Page 15: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

dingin pada jari-jari, dan kurang dari satu titik dingin per sentimeter persegi pada daerah

permukaan badan yang luas.

Ujung saraf tipe Aδ yang bermielin,khusus dan kecil bercabang beberapa kali,

ujungnya menembus kepermukaan dasar sel-sel epidermis basal. Sinyal dari reseptor-

reseptor ini akan di jalarkan melalui serabut saraf tipe Aδ yang berkecapatan lebih dari

20 meter per detik. Sebagian sensasi dingin juga di jalarkan melalui serabut sara tipe C,

yang diduga merupakan ujung serabut saraf bebas yang munginjuga berfungsi sebagai

reseptor dingin.

Mekanisme perangsangan reseptor suhu

Ada anggapan bahwa reseptor hangat dan dingin di rangsang oleh perubahan

kecepatan metabolismenya dan dari kenyataan terlihat bahwa untuk setiap perubahan

suhu 10°C akan memengaruhi kecepatan reaksi kimia intrasel seanyak dua kali lipat.

Dengan kata lain,deteksi suhu mungkin bukan hasil dari fisik panas atau dingin pada

ujung-ujung saraf secara langsung tetapi dari perangsangan kimia pada ujung serabut

saraf yang telah dimodifikasi oleh suhu.

V. Bagaimana mekanisme sehingga bisa merasakan adanya

stimulus?

jaras nyeri dan suhu

impuls nyeri di transmisikan ke arah medulla spinalis( serabut-serabut penghantar

cepat delta A dan serabut lambat tipe C ). Akson-akson yang masuk ke dalam medulla

spinalis dari ganglion radix posterior langsung menuju columna grisea posterior dan

terbagi menjadi cabang ascendns dan desecndens. Cabang tersebut berjalan ke medulla

spinalis dan membentuk tractus posterolaterallissauer. Selanjutnya akson-akson neuron

tingkat kedua menyilang secara oblik menuju sisi kontra lateral di substansia grisea

anterior dan commissural alba dalam satu segmen medulla spinalis, naik di dalam

columna alba kontralateral sebagai teractus spinothalamicus lateralis.

Tractus spinothalamicus lateralis terletak di medial tractus spinocerebellaris

anterior. Ketika tractus spinotalamicus lateralis naik melalui medulla spinalis, terjadi

penambahan serabut-serabut baru di aspek anteromedial tractus ini sehingga di dalam

Page 16: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

segmen cervicalis atas medulla spinalis serabut-serabut sacralis terletak di lateral dan

segmen cervicalis di medial. Serabut-serabut yang membawa sensasi nyeri terletak

sedikit anterior dari serabut-serabut yang membawa sensasi suhu.

Ketika tractus spinothalamicus lateralis naik melalui medulla oblongata. Tractus

ini terletak dekat permukaan lateral dan diantara nucleus olivarius inferior dan nucleus

tractus spinalis nervus trigeminus. Tractus spinothalamicus lateralis, tractus

spinothalamicus anterior, tractus spinotetialis, membentuk lemnicus spinalis. Lemnicus

spinalis terus berjalan ke atas melalui bagian posterior pons. Di dalam mesencephalon,

lemnicus terletak dalam tegmentun di lateral lemnicus medialis. Banyak serabut tractus

spinothalamicus lateralis berakhir dan bersinaps dengan neuron tingkat ketiga di dalam

nucleus ventroposterolateralis thalami. Akson-akson neuron tingkat ketiga di dalam

nucleus ventroposterolateral thalami berjalan melalui crus posterius capsula interna dan

corona radiate untuk mencapai area somesthesia di gyrus paracentralis posteriorortex

cerebri.

Page 17: SKENARIO 3 BLOK 4 QT
Page 18: SKENARIO 3 BLOK 4 QT
Page 19: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

• Reseptor – kortek sensorik à 3 tingkatan neuron

Memiliki pola dasar :

1. Sistem sensorik menyilang

2. Neuron tk pertama berada di ganglion akar dorsal

3. Badan sel neuron tk 2 di kornu posterior M.S / inti homolog M.O

4. Neuron tk 3 di talamus merelay impuls ke korteks

jaras raba dan tekanan ringan( kasar )

akson-akson memasuki medulla spinalis melalui ganglion radix posterior dan

menuju ujung columna grisea posterior, kemudian terbagi dua menjadi cabang asendens

dan descendns. Cabang-cabang ini berjalan sejauh satu atau dua segmen medulla

spinalis dan memberikan kontribusi pada tractus posterolateral lissauer. Serabut neuron

tingkat pertama ini di duga berakhir dengan bersinaps pada sel-sel di dalam kelompok

substantia gelatinosa columna grisea posterior.

Akson-akson neuron tingkat kedua menyilang sangat oblik ke sisi kontralateral di

substantia grisea anterior dan comisura alba dalam beberapa segmen medulla spinalis,

dan naik di dalam columna alba anterolatral sisi kontralateral sebagai tractus

spinothalamicus anterior. Saat tractus spinothalamius anterior naik melalui medulla

spinalis terjadi penambahan serabut-serabut baru pada sisi aspek medial tractus ini

sehingga pada segmen cervicalis atas medulla spinalis serabut sacralis terletak paling

lateral dan segmen cervical paling medilal. Ketika tractus spinothalamicus anterior naik

melalui medulla oblongata tractus ini di ikuti oleh tractus spinothalamicus lateralis dan

tractus spinotectialis yang secara bersama-sama membentuk lemniscus spinalis.

Lemnisus spinalis terus naik ke bagian posterior pons,serta tegmentum medulla

spinalis dan serabut-serabut tratus spinothalamicus anterior berakhir dan membentuk

sinaps dengan neuron ttingkat ketiga di nucleus ventroposterolateral thalami. Rasa raba

dan tekan diyakini dapat di apresiasikan di sini. Selanjutnya, akson-akson neuron

tingkat ketiga pada nucleus ventroposterolateral thalami berjalan melalui crus posterior

capsula interna dan corona radiate untuk menapai area somestesia di gyrus postcentralis

Medula Spinalis Sistem sensorik menyilang

Page 20: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

cortex cerebri. Setengah bagian kontralateral tubuh diwakili secara terbalik, yaitu

dengan tangan dan mulut terletak pada bagian inferior, seperti yang telah diuraikan

sebelumnya. Kesadaran mengenai apresiasi sensasi raba dan tekan bergantung pada

aktivitas ortex cerebri. Sensasi hanya dapat ditentukan lokasinya secara kasar dan

intensitasnya hanya dapat sedikit dibedakan.

VI. Apa saja jenis-jenis sensibilitas ?

Jenis-jenis sensibilitas

1. Superfisial ( eksteroseptif )

Rasa raba

Rasa nyeri

Rasa suhu

2. Dalam ( propioseptif )

Rasa gerak

Rasa sikap

Rasa getar

Rasa tekan dalam

Rasa nyeri dalam otot

3. Viseral ( introseptif )

Gangguan sensibilitas

Siringomielia

Keadaan ini disebabkan oleh gangguan pekembangan dalam pembentukan canalis

centralis, paling sering mengenai batang otak dan daerah cervikal medulla spinalis.gejala

dan tanda seabagai berikut :

1. Hilangnya sensasi nyeri dan suhu pada dermatom kedua sisi tubuh yang

berhubungan dengan segmen medulla spinalis yang terkena. Pasien sering

mengeluhkan cidera terbbakar pada jari yang tidak sengaja.

2. Deskriminasi traktil, sensasi getar dan sensasi propioseptif normal.

Page 21: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

Jenis-jenis stimulus

1. Mekanoreseptor

Tipe ini memberikan respon impuls saraf terhadap perubahan mekanik

Seperti raba, tekanan ( termasuk tekanan darah ), getaran dan regangan.

2. Thermoreseptor

Tipe ini memberikan respon terhadap perubahan suhu ; beberapa reseptor

memberikan respon terhadap dingin dan sebagian terhadap panas

3. Nosiseptor

Tipe ini memberikan respon terhadap stimulus yang menyebabkan kerusakan

pada jaringan

Seperti terbakar, dinginnya ektrem, tekanan yang berlebihan ataupun inflamasi.

4. Kemoreseptor

Tipe ini memberikan respon terhadap perubahan kimiawi yang berhubungan

dengan rasa kecap dan penghidu serta kosentrasi oksigen dan karbon dioksida di

dalam darah

5. Photoreseptor

seperti retina mata yang merespon terhadap energi cahaya.

VII. Dimana pusat sensibilitas?

Saraf ini umumnya diketahui bahwa impuls nyeri cepat langsung naik menuju

nucleus ventrolateralis thalami kemudian di teruskan ke kortex cerebri. Sebagian besar

serabut nyeri-lambat di tractus spinothalamicus lateralis berakhir pada formation

reticularis yang akan mengaktifkan seluruh system saraf. Daerah ini merupakan area

otak yang lebih rendah yang menimbulkan kesadaran pada individu mengenai nyeri

tipe kronis, nausea dan nyeri yang sangat hebat. Hasil penelitian membuktikan bahwa

gyrus postcentralis, gyrus cinguli dan gyrus insula di yakini merupakan tempat yang

Page 22: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

berfungsi untuk menerima dan menginterpretasikan informasi nosiseptor.Gyrus

postentralis berfungsi menginterpretasikan nyeri yang berhubungn dengan pengalaman

masa lalu, gyrus cinguli berperan menginterpretasikan aspek emosional nyeri,

sadangkan gyrus insula berfungsi menginterpretasikan rangsangan nyeri dari organ-

organ dalam tubuh dan menimbulkan respon otonom. Penerimaan informasi nyeri oleh

susunan saraf pusat pertama kali diatur oleh susunan saraf pusat di atur oleh cornu

grisea posterior medulla spinalis dan di tempat lain ditingkat yang lebih tinggi.

VIII. Bagaimana cara memeriksa sensibilitas ?

Sistem sensibilitas

o Eksteroseptif : terdiri atas rasa nyeri, rasa suhu dan rasa raba.

Rasa nyeri bisa dibangkitkan dengan berbagai cara, misalnya dengan menusuk

menggunakan jarum, memukul dengan benda tumpul, merangsang dengan api atau hawa

yang sangat dingin dan juga dengan berbagai larutan kimia.

Rasa suhu diperiksa dengan menggunakan tabung reaksi yang diisi dengan air es

untuk rasa dingin, dan untuk rasa panas dengan air panas. Penderita disuruh mengatakan

dingin atau panas bila dirangsang dengan tabung reaksi yang berisi air dingin atau air

panas. Untuk memeriksa rasa dingin dapat digunakan air yang bersuhu sekitar 10-20 °C,

dan untuk yang panas bersuhu 40-50 °C. Suhu yang kurang dari 5 °C dan yang lebih

tinggi dari 50 °C dapat menimbulkan rasa-nyeri.

Rasa raba dapat dirangsang dengan menggunakan sepotong kapas, kertas atau

kain dan ujungnya diusahakan sekecil mungkin. Hindarkan adanya tekanan atau

pembangkitan rasa nyeri. Periksa seluruh tubuh dan bandingkan bagian-bagian yang

simetris.

Page 23: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

o Proprioseptif : rasa raba dalam (rasa gerak, rasa posisi/sikap, rasa getar

dan rasa tekanan)

Rasa gerak : pegang ujung jari jempol kaki pasien dengan jari telunjuk dan jempol

jari tangan pemeriksa dan gerakkan keatas kebawah maupun kesamping kanan dan kiri,

kemudian pasien diminta untuk menjawab posisi ibu jari jempol nya berada diatas atau

dibawah atau disamping kanan/kiri.

Rasa sikap : Tempatkan salah satu lengan/tungkai pasien pada suatu posisi

tertentu, kemudian suruh pasien untuk menghalangi pada lengan dan tungkai. Perintahkan

untuk menyentuh dengan ujung ujung telunjuk kanan, ujung jari kelingking kiri dsb.

Rasa getar : Garpu tala digetarkan dulu/diketuk pada meja atau benda keras lalu

letakkan diatas ujung ibu jari kaki pasien dan mintalah pasien menjawab untuk

merasakan ada getaran atau tidak dari garputala tersebut.

 

o Diskriminatif : daya untuk mengenal bentuk/ukuran; daya untuk mengenal

/mengetahui berat sesuatu benda dsb.

Rasa gramestesia : untuk mengenal angka, aksara, bentuk yang digoreskan diatas kulit

pasien, misalnya ditelapak tangan pasien.

Rasa barognosia : untuk mengenal berat suatu benda.

Rasa topognosia : untuk mengenal tempat pada tubuhnya yang disentuh pasien.

Page 24: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

KERANGKA KONSEP

histologi

fisiologi

Sensibilitas

AnatomiMerasakan

stimulus(kulit)

Jenis-jenis

( AMI menjadi Probandus praktikum Dermatome)

Cara pemeriksaaan

Page 25: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

Learning Issues

What I know What I don’t knowWhat I have to

prove

How will I

learn

Dermatom kulit

Anatomi kulit

Histology kulit

Jenis-jenis

sensibilitas

Jenis-jenis

stimulus

Cara

pemeriksaan

stimulus

Gangguan sensibilitas Mekanisme

sehingga

merasakan

adanya

stimulus

Text book

Kuliah

Pakar

Internet

Website

pusat Jenis

Superfisial (eksteroseptif)

Dalam (profioseptif)

Visceral (introseptif)

Rasa raba

Rasa nyeri

Rasa suhu

Rasa gerak Rasa sikap Rasa getar Rasa tekanan

dalam Rasa nyeri

dalam otot

Page 26: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

Mekanisme rasa

nyeri,raba, dan

suhu

HIPOTESIS

Asumsi Ami belum benar, karena ami belum melakukan keseluruhan pemeriksaan

sensibilitas.

SINTESIS

ANATOMI KULIT

Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, merupakan

organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh,

pada orang dewasa sekitar 2,7 – 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 – 1,9 meter persegi.

Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak, umur dan

jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium minus dan kulit

bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak

kaki, punggung, bahu dan bokong. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang

berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari

ectoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau

korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat.

EPIDERMIS

Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari epitel

berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan merkel. Tebal

epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak tangan

Page 27: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi

regenerasi setiap 4-6 minggu.

Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) :

1. Stratum Korneum. Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti.

2. Stratum Lusidum Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit tebal

telapak kaki dan telapak tangan. Tidak tampak pada kulit tipis.

3. Stratum GranulosumDitandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang intinya

ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan

granula keratohialin yang mengandung protein kaya akan histidin. Terdapat sel

Langerhans.

4. Stratum Spinosum. Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril,

dianggap filamen-filamen tersebut memegang peranan penting untuk

mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi. Epidermis pada

tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan mempunyai stratum spinosum

dengan lebih banyak tonofibril. Stratum basale dan stratum spinosum disebut

sebagai lapisan Malfigi. Terdapat sel Langerhans.

5. Stratum Basale (Stratum Germinativum). Terdapat aktifitas mitosis yang hebat

dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan.

Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan, hal ini

tergantung letak, usia dan faktor lain. Merupakan satu lapis sel yang mengandung

melanosit.

Fungsi Epidermis : Proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin,

pembelahan dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel

Langerhans).

DERMIS

Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap sebagai “True

Skin”. Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya

Page 28: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

dengan jaringan subkutis. Tebalnya bervariasi, yang paling tebal pada telapak kaki sekitar

3 mm.

Dermis terdiri dari dua lapisan :

Lapisan papiler; tipis mengandung jaringan ikat jarang.

Lapisan retikuler; tebal terdiri dari jaringan ikat padat.

Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang dengan

bertambahnya usia. Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal, kandungan

elastin kulit manusia meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai dewasa. Pada usia

lanjut kolagen saling bersilangan dalam jumlah besar dan serabut elastin berkurang

menyebabkan kulit terjadi kehilangan kelemasannya dan tampak mempunyai banyak

keriput.

Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah. Dermis juga mengandung beberapa

derivat epidermis yaitu folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Kualitas

kulit tergantung banyak tidaknya derivat epidermis di dalam dermis.

Fungsi Dermis : struktur penunjang, mechanical strength, suplai nutrisi, menahan

shearing forces dan respon inflamasi

SUBKUTIS

Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak.

Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan

jaringan di bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut daerah di tubuh dan

keadaan nutrisi individu. Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi.

Fungsi Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar, isolasi panas, cadangan kalori,

kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber.

PEMBULUH DARAH

c. arteri : A. intramuscularis, A. subfascialis, A. intraseptalis.

Page 29: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

d. Vena : V. intramuscularis, V. subfascialis, V.intraseptalis.

HISTOLOGI KULIT

Epidermis

Epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk terdiri 5 lapisan :

1. Stratum basale

Terdiri atas satu lapis sel di atas lamina basalis dan melekat pada dermis di

bawahnya. sel-selnya kuboid atau kolumnar rendah. Intinya besar. Pada mikrofag

elektron, terdapat kompleks golgi kecil, sedikit mitokondria dan profil retikulum

endoplasma dalam matriks sitoplasma yang kaya ribosom.

2. Stratum spinosum

Terdiri dari sel poligonal teratur

Punya jembatan antar sel seperti duri ( spina )

3. Stratum granulosum

Terdiri dari 3-5 lapis sel gepeng

Sitoplasmanya banyak granula ( granula keratohialin )

4. Stratum lusidum

Terdapat lapisan tipis yaitu zona eosinofilik antara stratum granuloum dan stratum

korneum. Terdiri dari 4-6 lapis sel gepeng, padat tidak berinti. Mempunyai zat

eleidin.

5. Stratum korneum

Terdiri dari lapisan sel gepeng, selnya tidak berinti, elektin berubah menjadi

keratin, massanya sangat eosinopilik dari lamel berombak, sel-sel tidak jelas

6. Stratum disjunctum

Paling superfisial, pelepasan sel tanduk disebut disjunctum

Dermis ( korium )

Lapisan tebal jaringan ikat.

Page 30: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

Atas : epidermis

Bawah : hipodermis

Lapisan tebal bervariasi, misalnya kelopak mata 0.5 mm, perut 1-2 mm

Terdiri dari folikel rambut, glandula sudorifera, glandula sebacea, otot polos, otot

lurik ( wajah )

Struktur dermis terdiri dari :

1. Stratum papilaris

Lebih tipis, longgar dan lebih seluler, mengandung lebih banyak lengkung

kapiler

2. Stratum retikularis

Lebih padat dari pada lapisan papiler, terdiri serat-serat kolagen yang disebut

garis langer. Otot polos pada dermis ( M. Arektor pili )

Jaras nyeri

Stimulus nyeri Resptor (kulit) Ujung saraf bebas Impuls nyeri Medula

Spinalis Serabut penghantar-cepat δtipe A Ganglion radix posterior Ujung

columna Gricea Posterior Tractus posterolateral Lissauer Menyilang secara

Oblik menuju sisikontralateral substantia gricea anterior dan Comissura Alba(dalam

satu segmen med.Spinalis) (Tractus Spinotalamicus lateralis) naik di dalam columna

alba kontralateral Terletak di medial Tractus Spinocerebellaris anterior naik

melalui medulla oblongata tractus spinothalamicus lateralis,tractus spinothalamicus

anterior dan spinotetalis membentuk lemniscus spinalis melalui bagian posterior

pons serabut spinothalamicus lateralis brakhir dan bersinaps dengan nuron tingkat

ketiga di dalam nucleus ventroposterolateralis thalami( terjadi apresiasi sensasi nyeri

dan suhu ) crus posterior capsula interna dan corona radiate untuk mncapai area

somesthesia di gyrus paracentralis posterior cortexcerebri.

Jaras Suhu

Stimulus nyeri Resptor (kulit) Ujung saraf bebas Impuls nyeri Medula

Spinalis Serabut penghantar-cepat δtipe A Ganglion radix posterior Ujung

olumna GriceaPosterior Tactus posterolateral Lissauer Menyilang secara Oblik

Page 31: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

menuju sisikontralatral substantia gricea anterior dan Comissura Alba(dalam satu

segmen med.Spinalis) (Tractus Spinotalamicus lateralis) naik di dalam columna alba

kontralateral Terletak di medial Tractus Spinocerebellaris anterior naik melalui

medulla oblongata tractus spinothalamicus lateralis,tractus spinothalamicus anterior

dan spinotetalis membentuk lemniscus spinalis melalui bagian posterior pons

serabut spinothalamicus lateralis brakhir dan bersinaps dengan nuron tingkat ketiga di

dalam nucleus ventroposterolateralis thalami( terjadi apresiasi sensasi nyeri dan suhu )

crus posterior capsula interna dan corona radiate untuk mncapai area somesthesia di

gyrus paracentralis posterior cortexcerebri

JARAS RABA

Stimulus nyeri Resptor (kulit) Ujung saraf bebas Impuls nyeri Medula

Spinalis Seraut penghantar-cepat δtipe A Ganglion radix posterior Ujung

Columna Gricea Posterior Tactus posterolateral Lissauer Menyilang sangat Oblik

menuju sisi kontralateral Substantia gricea anterior dan comissura alba

Tractus spinothalamicus anterior naik dalam columna alba anterolateral sisi

kontralateral Medulla Oblongata diikuti Tractus Spinothalamicus Lateralis dan

Tractus Spinotectalis membentuk Lemniscus Spinalis naik ke bagian posterior pons

serabut Spinothalmicus anterior Nucleus ventroposterolateral Thalami crus

Posteriorapsula Interna dan Corona Radiata Gyrus Postcentralis cortex

cerebri( apresiasi raba dan tekan)

Page 32: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

Tulang belakang

Page 33: SKENARIO 3 BLOK 4 QT

DAFTAR PUSTAKA

Snell,Richard S.2006.Neuroanatomi Klinis untuk Mahasiswa

Kedokteran.Jakarta:EGC

Guyton,Arthur.C2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta:EGC

Bloom W,Fowchet.2002.Buku Ajar Histologi.Jakarta:EGC

Page 34: SKENARIO 3 BLOK 4 QT