skenario 1 bioetika

download skenario 1 bioetika

of 23

  • date post

    13-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.931
  • download

    3

Embed Size (px)

description

LAPORAN DISKUSI TUTORIALBLOK II BIOETIKA DAN HUMANIORASKENARIO 1TINJAUAN ASPEK ETIK KEDOKTERAN, HUKUM, AGAMA, DAN DISIPLIN DALAM MENGHADAPI KASUS ABORTUSOlehKelompok 12:Fiqih Faruz Romadhon (G0009084)David Kurniawan S. (G0009050)Ichsanul Amy Himawan (G0009104)Ahmad Afiyyudin (G0009008)Ariesta Permatasari (G0009028)Dhiandra Dwi (G0009058) Hanifah Astrid (G0009100)Fika Khulma S. (G0009082)Qonita S. Janani (G0009176)Muvida (G0009144)Gia Noor Pratami (G0009092) Tutor: Fitriyah, Dra.PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTERFAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS SEBELAS MARET2009BAB I

Transcript of skenario 1 bioetika

LAPORAN DISKUSI TUTORIAL BLOK II BIOETIKA DAN HUMANIORA SKENARIO 1

TINJAUAN ASPEK ETIK KEDOKTERAN, HUKUM, AGAMA, DAN DISIPLIN DALAM MENGHADAPI KASUS ABORTUS

Oleh Kelompok 12: Fiqih Faruz Romadhon (G0009084) David Kurniawan S. Ahmad Afiyyudin Ariesta Permatasari Dhiandra Dwi (G0009050) (G0009008) (G0009028) (G0009058) Ichsanul Amy Himawan (G0009104) Hanifah Astrid Fika Khulma S. Qonita S. Janani Muvida (G0009100) (G0009082) (G0009176) (G0009144)

Gia Noor Pratami (G0009092)

Tutor: Fitriyah, Dra.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2009

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Aborsi merupakan pengeluaran hasil konsepsi secara prematur dari uterus sebelum fetus dimungkinkan untuk hidup, yaitu fetus dengan berat kurang dari 500 gram dan usia kurang dari 20 minggu (Dorland, 2006: 5-6). Aborsi merupakan salah satu topik yang selalu hangat diperbincangkan di berbagai kalangan masyarakat. Masih banyak tanggapan yang berbedabeda tentang aborsi. Para ahli agama, ahli kesehatan, ahli hukum, dan ahli sosio-ekonomi memberikan pernyataan masing-masing, ada yang mendukung, abstain, dan menolak. Profesi dokter sering dihadapkan dengan masalah aborsi. Pengetahuan dan ketrampilan menerapkan aspek etika, hukum, dan disiplin kedokteran dalam perilaku seorang dokter menunjukkan kemampuan profesionalnya. Dokter tidak hanya harus mampu dalam hal disiplin ilmu kedokteran saja, tetapi juga harus mampu dengan tepat mempertimbangkan aspek etika dan hukum di dalam menghadapi setiap kasus, termasuk ketika menghadapi kasus aborsi. Dalam skenario kali ini, kasus yang dihadapi adalah seorang anak perempuan berumur 13 tahun yang duduk di kelas 1 SMP hamil hampir 1 bulan karena diperkosa. Korban mengalami depresi dan orangtua menginginkan kehamilan digugurkan. Setelah berkonsultasi ke dokter, dokter menyanggupi untuk melaksanakan praktik aborsi setelah mempertimbangkan aspek profesionalisme. Namun, orangtua masih bingung karena menurut mereka, agama dan hukum melarang aborsi. Oleh karena itu, dalam laporan ini akan dibahas bagaimana aborsi ditinjau dari sudut pandang kode etik kedokteran, sumpah dokter, segi disiplin, hukum dan agama. Pemahaman tentang kasus aborsi sangat penting bagi mahasiswa calon dokter agar dalam menghadapi profesinya sebagai

2

dokter nanti dapat bertindak secara profesional dalam menghadapi kasuskasus sulit. B. Rumusan Masalah 1) Apa saja macam-macam aborsi? 2) Bagaimana aborsi dilihat dari sudut pandang sumpah dokter, kode etik kedokteran, segi disiplin, agama dan hukum? 3) Bagaimanakah pengambilan keputusan yang tepat dalam menghadapi kasus aborsi? C. Tujuan 1) Mengetahui macam-macam aborsi. 2) Mengetahui aborsi dilihat dari aspek kedokteran, segi disiplin, agama, dan hukum. 3) Mengetahui keputusan yang harus diambil dalam menghadapi kasus aborsi. D. Manfaat 1) Mampu menerapkan perilaku profesional dalam praktek kedokteran serta mendukung kebijakan kesehatan khususnya dalam tindakan abortus. 2) Mampu mengenal alternatif dalam menghadapi pilihan etik yang sulit. 3) Mampu menunjukkan sikap yang sesuai dengan kode etik kedokteran. 4) Mampu memahami dan menerima tanggung jawab hukum, kode etik, dan disiplin. sumpah dokter, kode etik

3

BAB II STUDI PUSTAKA

A.

Pengertian Aborsi Definisi dari aborsi adalah adanya perdarahan dari dalam rahim

perempuan hamil di mana karena sesuatu sebab, maka kehamilan tersebut gugur & keluar dari dalam rahim bersama dengan darah, atau berakhirnya suatu kehamilan sebelum anak berusia 22 minggu atau belum dapat hidup di dunia luar. Biasanya disertai dengan rasa sakit di perut bawah seperti diremas-remas & perih. (Billy N. ,2008) Aborsi bisa juga diartikan dengan berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu ) sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk hidup di luar kandungan, dimana beratnya masih dibawah 500 gram atau sebelum usia kehamilan 20 minggu. (BKKBN) B. Macam-macam Aborsi Aborsi dibagi menjadi aborsi spontan dan aborsi buatan. Aborsi spontan adalah aborsi yang terjadi secara alamiah tanpa adanya upaya-upaya dari luar untuk mengakhiri kehamilan misalnya akibat keadaan kondisi fisik yang turun, ketidakseimbangan hormon didalam tubuh, kecelakaan, maupun sebab lainnya. Terminologi yang paling sering digunakan untuk abortus spontan adalah keguguran. Aborsi buatan adalah aborsi yang terjadi akibat adanya upaya-upaya tertentu untuk mengakhiri proses kehamilan. Aborsi buatan dibagi lagi menjadi aborsi provokatus terapetikus (buatan legal) & aborsi provokatus kriminalis (buatan ilegal). Aborsi provokatus terapetikus adalah pengguguran kandungan yang dilakukan menurut syarat-syarat medis & cara yang dibenarkan oleh peraturan perundangan, biasanya karena alasan medis untuk menyelamatkan nyawa/mengobati ibu. Aborsi provokatus kriminalis adalah pengguguran 4

kandungan yang

tujuannya selain untuk menyelamatkan/mengobati ibu,

dilakukan oleh tenaga medis/non-medis yang tidak kompeten, serta tidak memenuhi syarat & cara-cara yang dibenarkan oleh peraturan perundangan. Biasanya di dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan. (Billy N., 2008) C. Aborsi dari Aspek Hukum di Indonesia Dalam hukum di Indonesia, ketentuan yang mengatur masalah aborsi terdapat dalam KUHP dan Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Ketentuan di dalam KUHP yang mengatur masalah tindak pindana aborsi terdapat di dalam Pasal 299, 346, 347, 348, dan 349. Pasal 299 KUHP : Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang perempuan atau menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah. Pasal 346 KUHP : Seorang perempuan yang dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. Pasal 347 KUHP : (1)Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang perempuan tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama duabelas tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya perempuan tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama limabelas tahun. Pasal 348 KUHP :(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang perempuan dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya perempuan tersebut, diancam dengan pidana penjara tujuh tahun.

5

Pasal 349 KUHP : Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun membantu melakukan salah satu kejahatan dalam pasal 347 & 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah untuk dengan sepertiga & dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan. Pada UU no.23 tahun1992 pasal 15 : (1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu.(2) Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan : a. Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tertentu, b. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian & kewenangan untuk itu & dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli, c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya, d. Pada sarana kesehatan tertentu (hukumkes, 2008). D. Aborsi dari Aspek Agama 1. Menurut Fatwa MUI Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 4 Tahun 2005, tentang Aborsi menetapkan ketentuan hukum Aborsi sebagai berikut : 1. Aborsi haram hukumnya sejak terjadinya implantasi blastosis pada dinding rahim ibu (nidasi). 2. Aborsi dibolehkan karena adanya uzur, baik yang bersifat darurat ataupun hajat. Darurat adalah suatu keadaan di mana seseorang apabila tidak melakukan sesuatu yang diharamkan maka ia akan mati atau hampir mati. Sedangkan Hajat adalah suatu keadaan di mana seseorang apabila tidak melakukan sesuatu yang diharamkan maka ia akan mengalami kesulitan besar. a. Keadaan darurat yang berkaitan dengan kehamilan yang membolehkan aborsi adalah:

6

i. Perempuan hamil menderita sakit fisik berat seperti kanker stadium lanjut, TBC dengan caverna dan penyakit-penyakit fisik berat lainnya yang harus ditetapkan oleh Tim Dokter. ii. Dalam keadaan di mana kehamilan mengancam nyawa si ibu. b. Keadaan hajat yang berkaitan dengan kehamilan yang dapat membolehkan aborsi adalah: i. Janin yang dikandung dideteksi menderita cacat genetik yang kalau lahir kelak sulit disembuhkan. ii. Kehamilan akibat perkosaan yang ditetapkan oleh Tim yang berwenang yang di dalamnya terdapat antara lain keluarga korban, dokter, dan ulama. c. Kebolehan aborsi sebagaimana dimaksud huruf b harus dilakukan sebelum janin berusia 40 hari. 3. Aborsi haram hukumnya dilakukan pada kehamilan yang terjadi akibat zina. Dalam hukum Islam terdapat perbedaan pendapat tentang aborsi sebelum ditiupkannya ruh. Dalam madzhab hanafi, misalnya ibn Abidin membolehkan aborsi dengan alasan pembenar sampai habisnya bulan keempat, demikian juga di kalangan madzhab Syafii, Muhammad Ramli membolehkan dengan alas an belum adanya makhluk yang bernyawa. Sedang pendapat yang melarang walaupun sebelum ditiupkannya ruh di antaranya Imam Al Ghazali dan Imam Malik. (Ahmad Syafiuddin, 2002) 2. Menurut Alkitab Alkitab tidak pernah secara khusus berbicara mengenai soal aborsi. Namun demikian, ada banyak ajaran Alkitab yang membuat jelas apa pandangan Allah mengenai aborsi. Yeremia 1:5 memberitahu kita bahwa Allah mengenal kita sebelum Dia membentuk kita dalam kandungan. Mazmur 139:13-16 berbicara mengenai peran aktif Allah dalam menciptakan dan membentuk kita dalam rahim. Keluaran 21:22-25 m