Sitem Saraf Dan Depresi

download Sitem Saraf Dan Depresi

of 30

  • date post

    15-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    71
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Sitem Saraf Dan Depresi

2003 Digitized by USU digital library 1 PERBEDAAN DEPRESI PADA PASIEN DISPEPSIA FUNGSIONAL DAN DISPEPSIA ORGANIK CITRA JULITA TARIGAN Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Kejadian dispepsia cukup sering ditemui dokter dalam menjalankan profesinya sehari-hari (1,2,3). Kejadian dispepsia juga bervariasi dari berbagai tulisan, hal ini disebabkan karena ketidaksamaan terminologi dari berbagai sentra (2). Dispepsia merupakan kumpulan gejala berupa keluhan nyeri, perasaan tidak enak perut bagian atas yang menetap atau episodik disertai dengan keluhan seperti rasa penuh saat makan, cepat kenyang, kembung, sendawa, anoreksia, mual, muntah, nyeri belakang sternum (heart burn), regurgitasi (1,4). Berdasarkan ada tidaknya penyebab dan kelompok gejala maka dispepsia dibagi atas dispepsia organik dan dispepsia fungsional. Dikatakan dispepsia organik apabila penyebab dispepsia sudah jelas, misalnya adanya ulkus peptikum, karsinoma lambung, kholelithiasis, yang bisa ditemukan secara mudah. Dan dikatakan dispepsia fungsional apabila penyebabnya tidak diketahui atau tidak didapati kelainan pada pemeriksaan gastroenterologi konvensional, atau tidak ditemukan adanya kerusakan organik dan penyakit-penyakit sistemik (1,2,4). Heyse (1994) memperkirakan di United Kingdom, dispepsia yang ditemui dokter umum sampai 25 % sementara oleh gastroenterohepatologist sampai 70 %. Kejadian dispepsia fungsional 6 10 kali kejadian tukak peptik dan ini merupakan beban bagi gastroenterohepatologist (2). Penelitian yang dilakukan Mudjadid dan Manan mendapatkan 40 % kasus dispepsia disertai dengan gangguan kejiwaan dalam bentuk anxietas, depresi atau kombinasi keduanya (4). Dispepsia mungkin merupakan gejala awal dari penyakit gawat, misalnya tukak peptik, kholelitiasis atau karsinoma lambung, tetapi sering juga pada penderita tidak ditemukan kerusakan organ (5). Akibat gangguan pikiran, kelelahan karena terlalu banyak bekerja dan problem keuangan juga bisa menimbulkan keluhan dispepsia (5). Sudah sejak beberapa ratus tahun sebelum masehi, para ahli Socrates dan Hypocrates, yang menyebutkannya melancholi dan mengakui bahwa faktor psikis berperan penting pada kejadian dan perjalanan penyakit seseorang (6,10,11) . Walaupun kemudian mengalami perkembangan (sesuai alam fikiran pada zamannya), namun akhirnya para ahli yakin bahwa patologi suatu penyakit tidak hanya terletak pada sel atau jaringan saja, tetapi terletak pada organisme yang hidup dan kehidupan, tidak ditentukan oleh faktor biologis semata, tetapi erat sekali hubungannya dengan faktor-faktor lingkungan yaitu lingkungan bio-sosio-kultural dan agama (6). Faktor faktor biologis (somatis), psikis dan lingkungan masing-masing mempunyai interrelasi dan interaksi yang dinamis dan terus menerus, yang dalam keadaan normal atau sehat keduanya dalam keadaan seimbang. Jika ada gangguan dalam satu segi, maka akan mempengaruhi pada segi atau lingkungan yang lainnya dan sebaliknya (6) . Jadi jelaslah bahwa setiap penyakit memiliki aspek somatis, 2003 Digitized by USU digital library 2 psikis dan lingkungan bio-sosio-kulturil dan bahkan agama. Dengan demikian konsep monokausal dari suatu penyakit sudah tidak dianut lagi (6) . Pengetahuan tentang hubungan antara jiwa dan badan terus berkembang sampai akhir abad ke dua puluh ini, baik melalui pendekatan psikoanalisa maupun bukti-bukti yang didapat dengan hasil penelitian modern (6). Inilah sebabnya keadaan depresi walaupun hal tersebut merupakan gangguan

emosi, akan tetapi terdapat pula gangguan somatik (7) . Pasien-pasien ini sering datang menghubungi dokter-dokter non psychiatrist dengan keluhan somatiknya, yang paling sering mempengaruhi saraf pusat, saluran pencernaan, kardiovaskuler, atau sistem muskuloskeletal (8) . Wright mengatakan bahwa lebih dari 40 % pasien depresi, pada awalnya muncul dengan ke luhan somatik dari pada simtom psikologi dan selalu tidak bertingkah laku seperti pasien depresi (9). Pasien-pasien depresi yang tidak diketahui ini, dikatakan kurang mengeluhkan keadaan depresinya, tetapi dengan keluhan penyakit-penyakit fisik akan memperberat depresinya (9). Whilist mengatakan mereka menutupi depresinya dengan banyaknya keluhan-keluhan somatiknya (9). Yang harus kita pikirkan pada pasien-pasien dengan keluhan tersebut adalah : a. Masalah mungkin murni psikis yang diekspresikannya. a. Mungkin ada sedikit kelainan organik yang bertumpang tindih dengan faktor psikis. a. Beberapa pasien yang jelas ada kelainan organik, mungkin memiliki sedikit masalah psikis (15). Diagnosis depresi dibuat dengan menegakkan tidak dijumpainya gangguan organik yang menjelaskan keluhan fisik dan didapatinya tanda-tanda vegetatif yang selalu dijumpai pada pasien depresi (8). B. IDENTIFIKASI MASALAH Pada praktek kedokteran umum sering ditemukan kasus depresi dengan berbagai manisfestasi (3). Tidak jarang mereka datang denga n berbagai keluhan fisik (somatis), seperti sakit kepala, nafsu makan hilang, letih, lesu, tidak bersemangat, konstipasi, nausea, jantung berdebar-debar, kurang konsentrasi, sukar tidur dan sebagainya (10,12,14). Bila diadakan pemeriksaan lebih lanjut, biasanya keluhan tersebut jarang sekali disertai penemuan kelainan organik (3,12). Pada penelitian yang dilakukan oleh Johnsen R, dan kawan-kawan terhadap pasien dispepsia non ulkus dan ulkus peptik melaporkan bahwa ulkus peptik dan dispepsia non ulkus sangat berbeda hubungannya dengan psikologi, sosial, kebiasaan hidup dan diet. Ulkus peptik berhubungan dengan usia, riwayat keluarga menderita ulkus dan merokok (16,18). Kebalikannya pada dispepsia non ulkus menunjukkan hubungan dengan faktor psikologi dan kondisi-kondisi sosial. Perbedaan diantara dispepsia ulkus dan dispepsia non ulkus, mungkin pada etiologi, oleh karena itu secara klinis yang bermakna, disebutkan pengobatan pada pasien dispepsia nonulkus berbeda dari pengobatan dispepsia dengan ulkus yang tradisional (16). Demikian juga Haug TT, dan kawan-kawannya yang membandingkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan dan stress pada pasien dispepsia fungsional dan pasien ulkus yang diteliti dimana sebelumnya pasien-pasien tersebut mengalamiperistiwa-peristiwa ketegangan (stress) dalam kehidupan selama 6 bulan sebelumnya. Ditemukan pasien-pasien dengan dispepsia fungsional mempunyai tingkat yang lebih tinggi keadaan kecemasannya, psikopathologi, depresi dan keluhan somatik yang berbeda-beda ( lebih somatisas i) daripada pasien dispepsia dengan ulkus (16,17,18). Dan mereka juga merasa kurang puas terhadap pelayanan 2003 Digitized by USU digital library 3 kesehatan, dan gangguan ini sangat mempengaruhinya secara negatif terhadap kualitas hidup dan pada pengukuran kesehatannya secara global adalah buruk (19). Dari uraian diatas dapat dilakukan identifikasi masalah sebagai berikut : 1. Apakah dispepsia fungsional dan dispepsia ulkus dalam perjalanan penyakit maupun terjadinya mempunyai perbedaan depresi ? 2. Berapa besar keparahan depresi yang terjadi ? C. TUJUAN PENELITIAN 1. Untuk mengetahui jumlah pasien yang depresi, baik pada penderita dispepsia fungsional maupun dispepsia organik. 2. Untuk mengetahui perbedaan depresi pada penderita dispepsia fungsional dan

dispepsia organik 3. Untuk mengetahui efek pengobatan konvensional dengan antasida dan antagonis reseptor H2 pada penderita dispepsia fungsional dan dispepsia organik. D. MANFAAT PENELITIAN Adapun manfaat yang diperoleh bila penelitian memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan, untuk masyarakat dapat memberikan pemahaman bahwa pasien-pasien penderita dispepsia fungsional maupun dispepsia organik, mempunyai hubungan dengan depresi. Namun pada dispepsia fungsional lebih dari pada pasien dispepsia organik. Sehingga penatalaksanaan pasien dispepsia fungsional selain pemberian terapi konvensional diperlukan memperhatikan faktor psikologi dan kondisi-kondisi sosial interrelasi dan interaksi terhadap lingkungan. Penanganan secara multi dimensi dan dengan memperhatikan multifaktorial tersebut melibatkan kerjasama unsur pelaksana kesehatan terutama sub bagian gastroenterohepatologi dan bagian psikiatri, yang memungkinkan berperannya liaison psikiatri di rumah-rumah sakit. Agar penanganan pasien-pasien terutama dispepsia fungsional dilakukan secara menyeluruh baik fisik dan psikologi. E. KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS Dispepsia merupakan perasaan tidak enak diperut bagian atas yang bersifat persisten atau berulang, dapat berhubungan atau tanpa berhubungan dengan makanan dan bersifat kronik bila berlangsung lebih dari tiga bulan (1-3). Kejadian dispepsia cukup sering dijumpai dokter dalam menjalankan profesinya sehari-hari (1-3). Dispepsia mungkin merupakan gejala dari penyakit gawat, misalnya tukak peptik, kholelitiasis atau karsinoma lambung, juga sering pada penderia tidak ditemukan kerusakan organ (5). Akibat dari gangguan pikiran, kelelahan karena terlalu banyak bekerja dan problem keuangan juga bisa menimbulkan keluhan dispepsia (5). Dahulu banyak pengertian dispepsia yang sangat bervariasi, tetapi dewasa ini ada dua macam pengertian dispepsia yang sudah diterima secara luas adalah : (13,21). A. Dispepsia organik, yang disebabkan kelainan organik yang jelas misalnya ulkus peptikum, karsinoma lambung, serta gastritis, pankreatitis, beberapa penyakit metabolik misalnya diabetes mellitus, dan beberapa macam obat obatan. B. Dispepsia non organik (dispepsia fungsional) ialah dispepsia yang tidak jelas penyebabnya. 2003 Digitized by USU digital library 4 Kejadian dispepsia fungsional 6-10 x kejadian tukak peptik, yang merupakan beban bagi gastroenterohepatologist (2). Penelitian yang dilakukan Mudjadid dan Manan mendapatkan 40 % kasus dispepsia disertai dengan gangguan kejiwaan seperti anxietas, depresi atau kombinasi (6). Seperti diketahui manusia bereaksi antara badan, jiwa dan lingkungan. Dengan sendiri setiap gangguan, tekanan pada jiwa seseorang mendapat reaksi juga dari badan dan lingkungan oran