Sitem pernafasan

download Sitem pernafasan

of 30

  • date post

    25-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    4.344
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Sitem pernafasan

  • 1. MAKALAHPERKEMBANGAN SENI RUPA BARAT Kelompok :- Novalia Rachmah- Raissa D. Agustine- Bella Lerian- Nesha Kristina- Agung agustian- Muhamad iqbal sp- Willy ahmad- Alam riski- Galih indra- Arga- HapidzSMA NEGERI 3 KOTA SUKABUMI

2. Kelainan/Penyakit pada PernapasanSistem pernapasan dapat mengalami berbagai gangguan, baik karena kelainan sistempernapasan atau akibat infeksi kuman. Beberapa jenis gangguan antara lain : 1. Asma/sesak napas, penyempitan saluran napas akibat otot polos pembentukdinding saluran terus berkontraksi, disebabkan alergi atau kekurangan hormonadrenalin. 2. Asfiksi, gangguan pengangkutan dan penggunaan oksigen oleh jaringan akibattenggelam, pneumonia, keracunan CO. 3. Asidosis, akibat peningkatan kadar asam karbonat dan asam bikarbonat dalamdarah 4. Wajah adenoid (wajah bodoh), penyempitan saluran napas karena pembengkakankelenjar limfa (polip), pembengkakan di tekak (amandel). 5. Pneumonia, radang paru-paru akibat infeksi bakteri Diplococcus pneumonia. 6. Difteri, penyumbatan faring/laring oleh lendir akibat infeksi bakteriCorynebacterium diphteriae 7. Emfisema, menggelembungnya paru-paru akibat perluasan alveolus berlebihan. 8. Tuberculosis (TBC), penyakit paru-paru akibat infeksi bakteri Mycobacteriumtuberculosa. 9. Peradangan pada sistem pernapasan : bronchitis, radang bronkhus. laringitis, radang laring faringitis, radang faring pleuritis, radang selaput paru-paru renitis, radang rongga hidung sinusitis, radang pada bagian atas rongga hidung 3. Penyakit TBCPenyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, ataukaya) dan dimana saja. Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan seperempat jutakasus baru TBC dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan olehTBC. Bahkan, Indonesia adalah negara ketiga terbesar dengan masalah TBC di dunia.Survei prevalensi TBC yang dilakukan di enam propinsi pada tahun 1983-1993menunjukkan bahwa prevalensi TBC di Indonesia berkisar antara 0,2 0,65%.Sedangkan menurut laporan Penanggulangan TBC Global yang dikeluarkan oleh WHOpada tahun 2004, angka insidensi TBC pada tahun 2002 mencapai 555.000 kasus (256kasus/100.000 penduduk), dan 46% diantaranya diperkirakan merupakan kasus baru.Penyebab Penyakit TBCPenyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakteriumtuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal jugasebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh RobertKoch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebutdiberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagaiKoch Pulmonum (KP).Bakteri Mikobakterium tuberkulosaCara Penularan Penyakit TBCPenyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteriMikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan padaanak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bilasering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak(terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebarmelalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapatmenginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluranpencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuhyang paling sering terkena yaitu paru-paru. 4. Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segeraakan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melaluiserangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melaluipembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukandinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akanmenjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihatsebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormantsepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yangkurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambahbanyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruanginilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telahmemproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkelberlebih dan positif terinfeksi TBC.Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkandengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belumoptimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah pendudukyang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disampingitu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktoryang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.Gejala Penyakit TBC 5. Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbulsesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutamapada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.Gejala sistemik/umum Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul. Penurunan nafsu makan dan berat badan. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah). Perasaan tidak enak (malaise), lemah.Gejala khusus Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak. Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada. Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah. Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahuiadanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak denganpenderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3bulan 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTApositif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.Penegakan DiagnosisApabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang perludilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah: o Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya. o Pemeriksaan fisik. o Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak). o Pemeriksaan patologi anatomi (PA). o Rontgen dada (thorax photo). o Uji tuberkulin. 6. PENGOBATAN TBCPengobatan TBC Kriteria I (Tidak pernah terinfeksi, ada riwayat kontak, tidak menderitaTBC) dan II (Terinfeksi TBC/test tuberkulin (+), tetapi tidak menderita TBC (gejala TBCtidak ada, radiologi tidak mendukung dan bakteriologi negatif) memerlukan pencegahandengan pemberian INH 510 mg/kgbb/hari. 1. Pencegahan (profilaksis) primerAnak yang kontak erat dengan penderita TBC BTA (+).INH minimal 3 bulan walaupun uji tuberkulin (-).Terapi profilaksis dihentikan bila hasil uji tuberkulin ulang menjadi (-) atausumber penularan TB aktif sudah tidak ada. 2. Pencegahan (profilaksis) sekunderAnak dengan infeksi TBC yaitu uji tuberkulin (+) tetapi tidak ada gejala sakitTBC.Profilaksis diberikan selama 6-9 bulan.Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu : oObat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid.Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapatditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini. oObat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin,Kapreomisin dan Kanamisin.Dosis obat antituberkulosis (OAT) Obat Dosis harianDosis 2x/minggu Dosis 3x/minggu (mg/kgbb/hari) (mg/kgbb/hari)(mg/kgbb/hari)INH 5-15 (maks 300 mg)15-40 (maks. 900 mg) 15-40 (maks. 900 mg)Rifampisin10-20 (maks. 600 mg) 10-20 (maks. 600 mg) 15-20 (maks. 600 mg)Pirazinamid 15-40 (maks. 2 g) 50-70 (maks. 4 g)15-30 (maks. 3 g)Etambutol 15-25 (maks. 2,5 g) 50 (maks. 2,5 g) 15-25 (maks. 2,5 g)Streptomisin15-40 (maks. 1 g) 25-40 (maks. 1,5 g)25-40 (maks. 1,5 g)Sejak 1995, program Pemberantasan Penyakit TBC di Indonesia mengalami perubahanmanajemen operasional, disesuaikan dengan strategi global yanng direkomendasikan olehWHO. Langkah ini dilakukan untuk menindaklanjuti Indonesia WHO joint Evaluationdan National Tuberkulosis Program in Indonesia pada April 1994. Dalam program ini,prioritas ditujukan pada peningkatan mutu pelayanan dan penggunaan obat yang rasionaluntuk memutuskan rantai penularan serta mencegah meluasnya resistensi kuman TBC di 7. masyarakat. Program ini dilakukan dengan cara mengawasi pasien dalam menelan obatsetiap hari,terutama pada fase awal pengobatan.Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) pertama kali diperkenalkanpada tahun 1996 dan telah diimplementasikan secara meluas dalam sistem pelayanankesehatan masyarakat. Sampai dengan tahun 2001, 98% dari populasi penduduk dapatmengakses pelayanan DOTS di puskesmas. Strategi ini diartikan sebagai "pengawasanlangsung menelan obat jangka pendek oleh pengawas pengobatan" setiap hari.Indonesia adalah negara high burden, dan sedang memperluas strategi DOTS dengancepat, karenanya baseline drug susceptibility data (DST) akan menjadi alat pemantau danindikator program yang amat penting. Berdasarkan data dari beberapa wilayah,identifikasi dan pengobatan TBC melalui Rumah Sakit mencapa