SISTEM PENCERNAAN RUMINANSIA -...

Click here to load reader

  • date post

    06-Feb-2018
  • Category

    Documents

  • view

    251
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of SISTEM PENCERNAAN RUMINANSIA -...

  • 1

    TATAP MUKA VII

    SISTEM PENCERNAAN RUMINANSIA

    http://nov4d3wi.wordpress.com/2010/06/10/rumen-sapi/

    Proses Pencernaan Sapi

    Pakan adalah salah satu faktor yang berpengaruh pada produktifitas ternak dan kemampuan

    produksinya. Prosentasenya cukup besar, hampir 60% produktifitas ternak tergantung dari

    kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan, 30 % karena faktor genetik dan 10 % adalah

    faktor teknik pemeliharaan , kesehatan dan iklim.

    Sedangkan salah satu pengaruh faktor genetik adalah alat-alat pencernaanya. Pencernaan

    adalah rangkaian proses perubahan fisik dan kimia dari pakan, selama berada di dalam alat

    pencernaan. Proses pencernaan makanan pada ternak ruminansia relatif lebih kompleks,

    dibandingkan proses pencernaan pada jenis ternak lainnya.

    Proses pencernaan pakan pada ternak ruminansia terdiri dari

    1. Pencernaan Mekanis, dilakukan di dalam mulut.

    2. Pencernaan Fermentatif, dilakukan oleh mikroba daalam rumen.

    3. Pencernaan Hidrolisis, dilakukan oleh enzim-enzim pencernaan

    Proses pengolahan pakan dilakukan dengan cara memamah biak (ruminasi). Pakan berserat

    (hijauan) akan disimpan sementara di dalam rumen. Pada saat hewan beristirahat, pakan

    http://netfarm.blogsome.com/2007/10/02/sistem-pencernaan-ruminansia/http://nov4d3wi.wordpress.com/2010/06/10/rumen-sapi/

  • 2

    akan ditarik kembali ke mulut (proses regurgitasi),untuk dikunyah (proses remastikasi).

    Selanjutnya pakan akan ditelan (proses redeglutasi)., untuk dicerna oleh enzim-enzim mikroba

    rumen.

    Di dalam perut, pakan akan diolah di 4 kompartemen perut, yaitu :

    1. Retikulum (perut jala).

    2. Rumen (perut beludru).

    3. Omasum (perut buku,tersusun dari +/- 100 lipatan ).

    4. Abomasum (perut/lambung sejati,karena baik anatomis maupun fisiologisnya sama

    dengan lambung non-ruminansia).

    Alat pencernaan sapi ini , berkembang dalam 3 fase sesuai dengan umur sapi yaitu :

    Fase Non Ruminansi. Fase ini terjadi pada pedet yang baru lahir. Volume retikulo-rumen

    pada pedet yang baru lahir hanya sekitar 30% dari total kapasitas total perut dan rumennya

    masih belum berfungsi. Oleh sebab itu, pada fase ini Nutrisi didapat hanya dari susu yang

    berasal dari induknya. Proses pengolahanya pun langsung ke omasum (tanpa melewati

    rumen), melalui suatu saluran yang disebut esophagial groove. Saluran ini menghubungkan

    esophagus dan reticular omasal orifice.

    Fase Transisi. Fase ini terjadi pada pedet yang telah berusia 2 minggu. Pada usia ini pedet

    akan mulai belajar memakan pakan kasar (hijauan). Secara bertahap rumen juga berkembang,

    lebih cepat dari pada kompartemen perut yang lain. Pada fase ini pula mikroba mulai dan

    rumen mulai berfungsi sebagai tempat fermentasi karbohidrat.

    Fase Ruminansia. Fase ini terjadi pada pedet yang telah berumur 6 minggu. Alat pencernaan

    mulai berkembang menuju kesempurnaan, hingga komposisi rumen mencapai 81%, retikulum

    3%, omasum 7%, dan abomasum 9% dari volume total perut.

  • 3

    Proses Pencernaan di Mulut

    Setelah masuk kedalam mulut sapi, pakan akan diolah secara mekanis (dihancurkan) oleh gigi.

    Kemudian pakan akan bercampur dengan saliva (air liur), yang disekresikan oleh 3 pasang

    glandula saliva, yaitu glandula parotid yang terletak di depan telinga, glandula submandibularis

    (sumbaxillaris) yang terletak pada rahang bawah, dan glandula sublingualis yang terletak

    dibawah lidah.

    Kandungan Saliva terdiri dari air sebanyak 99% airdan 1% sisanya terdiri atas mucin, garam-

    garam anorganik, dan lisozim kompleks. Saliva pada sapi juga mengandung urea, fosfor (P),

    dan natrium (Na) yang dapat dimanfaatkan oleh mikroba rumen. Tetapi Saliva pada sapi tidak

    mengandung enzim -amilase yang dapat membantu proses pencernaan. Fungsi saliva adalah

    untuk :

    1. Membasahi pakan agar mudah ditelan

    2. Menjaga pH rumen agar tidak naik atau turun terlalu tajam, hal ini terjadi karena saliva

    memiliki sifat buffer (penyangga) dari bikarbinat yang terkandung didalamnya.

  • 4

    Pencernaan pada ternak dimulai dari mulut yang di dalamnya terdapat gigi geligi, yaitu :

    1. Gigi seri (Insisivus) memiliki bentuk untuk menjepit makanan berupa tetumbuhan seperli

    rumput.

    2. Geraham belakang (Molare) memiliki bentuk datar dan lobar.

    3. Rahang dapat bergerak menyamping untuk menggiling makanan.

    Pola sistem pencernaan pada hewan umumnya sama dengan manusia, yaitu terdiri atas mulut,

    faring, esofagus, lambung, dan usus. Namun demikian, struktur alat pencernaan kadang-

    kadang berbeda antara hewan yang satu dengan hewan yang lain.

    Sapi, misalnya, mempunyai susunan gigi sebagai berikut:

    3 3 0 0 0 0 0 0 Rahang atas

    M P C I I C P M Jenis gigi

    3 3 0 4 4 0 3 3 Rahang bawah

    I = insisivus = gigi seri

    C = kaninus = gigi taring

    P = premolar = geraham depan

    M = molar = geraham belakang

    Berdasarkan susunan gigi di atas, terlihat bahwa sapi (hewan memamah biak) tidak

    mempunyai gigi seri bagian atas dan gigi taring, tetapi memiliki gigi geraham lebih banyak

    dibandingkan dengan manusia sesuai dengan fungsinya untuk mengunyah makanan berserat,

    yaitu penyusun dinding sel tumbuhan yang terdiri atas 50% selulosa.

    Jika dibandingkan dengan kuda, faring pada sapi lebih pendek. Esofagus (kerongkongan) pada

    sapi sangat pendek dan lebar serta lebih mampu berdilatasi (mernbesar). Esofagus berdinding

    tipis dan panjangnya bervariasi diperkirakan sekitar 5 cm.

    Lambung sapi sangat besar, diperkirakan sekitar 3/4 dart isi rongga perut. Lambung

    mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan sementara yang akan dimamah

    kembali (kedua kah). Selain itu, pada lambung juga terjadi proses pembusukan dan peragian.

  • 5

    Lambung ruminansia terdiri atas 4 bagian, yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasum

    dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas

    rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasum 7-8%. Pembagian ini terlihat dari

    bentuk gentingan pada saat otot sfinkter berkontraksi.

    Makanan dari kerongkongan akan masuk rumen yang berfungsi sebagai gudang sementara

    bagi makanan yang tertelan. Di rumen terjadi pencernaan protein, polisakarida, dan fermentasi

    selulosa oleh enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri dan jenis protozoa tertentu. Dari

    rumen, makanan akan diteruskan ke retikulum dan di tempat ini makanan akan dibentuk

    menjadi gumpalan-gumpalan yang masih kasar (disebut bolus). Bolus akan dimuntahkan

    kembali ke mulut untuk dimamah kedua kali. Dari mulut makanan akan ditelan kembali untuk

    diteruskan ke ornasum. Pada omasum terdapat kelenjar yang memproduksi enzim yang akan

    bercampur dengan bolus. Akhirnya bolus akan diteruskan ke abomasum, yaitu perut yang

    sebenarnya dan di tempat ini masih terjadi proses pencernaan bolus secara kimiawi oleh

    enzim.

    Selulase yang dihasilkan oleh mikroba (bakteri dan protozoa) akan merombak selulosa menjadi

    asam lemak. Akan tetapi, bakteri tidak tahan hidup di abomasum karena pH yang sangat

    rendah, akibatnya bakteri ini akan mati, namun dapat dicernakan untuk menjadi sumber

    protein bagi hewan pemamah biak. Dengan demikian, hewan ini tidak memerlukan asam

    amino esensial seperti pada manusia.

    Hewan seperti kuda, kelinci, dan marmut tidak mempunyai struktur lambung seperti pada sapi

    untuk fermentasi seluIosa. Proses fermentasi atau pembusukan yang dilaksanakan oleh bakteri

    terjadi pada sekum yang banyak mengandung bakteri. Proses fermentasi pada sekum tidak

    seefektif fermentasi yang terjadi di lambung. Akibatnya kotoran kuda, kelinci, dan marmut

    lebih kasar karena proses pencernaan selulosa hanya terjadi satu kali, yakni pada sekum.

    Sedangkan pada sapi proses pencernaan terjadi dua kali, yakni pada lambung dan sekum yang

    kedua-duanya dilakukan oleh bakteri dan protozoa tertentu.

    Pada kelinci dan marmut, kotoran yang telah keluar tubuh seringkali dimakan kembali. Kotoran

    yang belum tercerna tadi masih mengandung banyak zat makanan, yang akan dicernakan lagi

    oleh kelinci.

  • 6

    Sekum pada pemakan tumbuh-tumbuhan lebih besar dibandingkan dengan sekum karnivora.

    Hal itu disebabkan karena makanan herbivora bervolume besar dan proses pencernaannya

    berat, sedangkan pada karnivora volume makanan kecil dan pencernaan berlangsung dengan

    cepat.

    Usus pada sapi sangat panjang, usus halusnya bisa mencapai 40 meter. Hal itu dipengaruhi

    oleh makanannya yang sebagian besar terdiri dari serat (selulosa).

    Enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri ini tidak hanya berfungsi untuk mencerna selulosa

    menjadi asam lemak, tetapi juga dapat menghasilkan bio gas yang berupa CH4 yang dapat

    digunakan sebagai sumber energi alternatif.

    Tidak tertutup kemungkinan bakteri yang ada di sekum akan keluar dari tubuh organisme

    bersama feses, sehingga di dalam feses (tinja) hewan yang mengandung bahan organik akan

    diuraikan dan dapat melepaskan gas CH4 (gas bio).

    Sumber: http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor Pendamping/Praweda/Biologi/0066%

    20Bio%202-5d.htm

    Sistem Pencernaan Ruminansia

    Pencernaan adalah rangkaian proses perubahan fisik dan kimia yang dialami bahan makanan

    selama berada di dalam alat pencernaan. Proses pencernaan makanan pada ternak ruminansia

    relatif lebih kompleks dibandingkan proses pencernaan pada jenis ternak lainnya.

    Perut ternak ruminansia dibagi menjadi 4 bagian, yaitu retikulum (perut jala), rumen (perut

    beludru), omasum (perut bulu), dan abomasum (perut sejati). Dalam studi fisiologi ternak

    ruminasia, rumen dan retikulum sering dipandang sebagai organ tunggal dengan sebutan

    retikulo-rumen. Omasum disebut sebagai perut buku karena tersusun dari lipatan sebanyak

    sekitar 100 lembar. Fungsi omasum belum terungkap dengan jelas, tetapi pada organ tersebut

    terjadi penyerapan air, amonia, asam lemak terbang dan elektrolit. Pada organ ini dilaporkan

    juga menghasilkan amonia dan mungkin asam lemak terbang (Frances dan Siddon, 1993).

    Termasuk organ pencernaan bagian belakang lambung adalah sekum, kolon dan rektum. Pada

    pencernaan bagian belakang tersebut juga terjadi aktivitas fermentasi. Namun belum banyak

    informasi yang terungkap tentang peranan fermentasi pada organ tersebut, yang terletak

    setelah organ penyerapan utama. Proses pencernaan pada ternak ruminansia dapat terjadi

    http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor%20Pendamping/Praweda/Biologi/0066%25%2020Bio%202-5d.htmhttp://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor%20Pendamping/Praweda/Biologi/0066%25%2020Bio%202-5d.htm

  • 7

    secara mekanis di mulut, fermentatif oleh mikroba rumen dan secara hidrolis oleh enzim-enzim

    pencernaan.

    Pada sistem pencernaan ternak ruminasia terdapat suatu proses yangdisebut memamah biak

    (ruminasi). Pakan berserat (hijauan) yang dimakanditahan untuk sementara di dalam rumen.

    Pada saat hewan beristirahat, pakanyang telah berada dalam rumen dikembalikan ke mulut

    (proses regurgitasi),untuk dikunyah kembali (proses remastikasi), kemudian pakan ditelan

    kembali(proses redeglutasi). Selanjutnya pakan tersebut dicerna lagi oleh enzim-enzimmikroba

    rumen. Kontraksi retikulorumen yang terkoordinasi dalam rangkaianproses tersebut

    bermanfaat pula untuk pengadukan digesta inokulasi danpenyerapan nutrien. Selain itu

    kontraksi retikulorumen juga bermanfaat untukpergerakan digesta meninggalkan retikulorumen

    melalui retikulo-omasal orifice(Tilman et al. 1982).

    Di dalam rumen terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya.Mikroba rumen

    dapat dibagi dalam tiga grup utama yaitu bakteri, protozoa danfungi (Czerkawski, 1986).

    Kehadiran fungi di dalam rumen diakui sangatbermanfaat bagi pencernaan pakan serat, karena

    dia membentuk koloni padajaringan selulosa pakan. Rizoid fungi tumbuh jauh menembus

    dinding seltanaman sehingga pakan lebih terbuka untuk dicerna oleh enzim bakteri rumen.

    Bakteri rumen dapat diklasifikasikan berdasarkan substrat utama yangdigunakan, karena sulit

    mengklasifikasikan berdasarkan morfologinya.Kebalikannya protozoa diklasifikasikan

    berdasarkan morfologinya sebab mudahdilihat berdasarkan penyebaran silianya. Beberapa

    jenis bakteri yang dilaporkanoleh Hungate (1966) adalah : (a) bakteri pencerna selulosa

    (Bakteroidessuccinogenes, Ruminococcus flavafaciens, Ruminococcus albus,

    Butyrifibriofibrisolvens), (b) bakteri pencerna hemiselulosa (Butyrivibrio fibrisolvens,Bakteroides

    ruminocola, Ruminococcus sp), (c) bakteri pencerna pati(Bakteroides ammylophilus,

    Streptococcus bovis, Succinnimonas amylolytica, (d) bakteri pencerna gula (Triponema bryantii,

    Lactobasilus ruminus), (e) bakteri pencerna protein (Clostridium sporogenus, Bacillus

    licheniformis).

    Protozoa rumen diklasifikasikan menurut morfologinya yaitu: Holotrichs yang mempunyai silia

    hampir diseluruh tubuhnya dan mencerna karbohidrat yangfermentabel, sedangkan

    Oligotrichs yang mempunyai silia sekitar mulutumumnya merombak karbohidrat yang lebih

    sulit dicerna (Arora, 1989).

  • 8

    Rumen merupakan bagian sistem pencernaan pada ternak ruminansia. Pada rumen terjadi

    pencernaan secara fermentatif dan pencernaan secara hidrolitik. Pencernaan fermentatif

    memerlukan bantuan mikroba dalam mencerna pakan terutama pakan dengan kandungan

    selulosa dan hemiselulosa yang tinggi. Sedangkan pencernaan hidrolitik memerlukan bantuan

    enzim dari sistem pencernaan hewan itu sendiri dalam mencerna pakan.

    Lambung pada ternak ruminansia dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu :

    1. Retikulum

    Retikulum sering disebut sebagai perut jala atau hardware stomach. Retikulum

    berbatasan langsung dengan rumen, akan tetapi diantara keduanya tidak ada dinding

    penyekat. Pembatas diantara retikulum dan rumen yaitu hanya berupa lipatan,

    sehingga partikel pakan menjadi tercampur.

    2. Rumen

    Rumen pada sapi dewasa merupakan bagian yang mempunyai proporsi yang tinggi

    dibandingkan dengan proporsi bagian lainnya. Rumen terletak di rongga abdominal

    bagian kiri. Rumen sering disebut juga dengan perut beludru. Hal tersebut dikarenakan

    pada permukaan rumen terdapat papilla. Pada retikulum dan rumen terjadi pencernaan

    secara fermentatif, karena pada bagian tersebut terdapat mikroba dengan jumlah

    bermilyar-milyar.

    3. Omasum

    Omasum sering juga disebut dengan perut buku, karena permukaannya berbuku-buku.

    Derajat Keasaman (pH) omasum berkisar antara 5,2 sampai 6,5. Antara omasum dan

    abomasum terdapat lubang yang disebut omaso abomasal orifice. Fungsi omaso

    abomasal orifice adalah untuk mencegah digesta yang ada di abomasum kembali ke

    omasum.

    4. Abomasum

    Abomasum sering juga disebut dengan perut sejati. Derajat keasaman (pH) pada

    abomasum asam yaitu berkisar antara 2 sampai 4,1. Permukaan abomasums dilapisi

    oleh mukosa yang berfungsi untuk melindungi dinding sel agar tidak tercerna oleh

    enzim yang dihasilkan oleh abomasum (Priyono, 2009).

  • 9

    Rumen Sapi

    Perut ruminansia terdiri atas retikulum, rumen, omasum dan abomasum. Volume rumen pada

    ternak sapi dapat mencapai 100 liter atau lebih dan untuk domba berkisar 10 liter. Isi rumen

    yang merupakan limbah rumah potong hewan bila tidak ditangani dengan baik dapat

    mencemari lingkungan, sebaliknya isi rumen berpotensi sebagai feed additive. Menurut Gohl

    (1981) isi rumen dapat mencapai 8-10% dari berat sapi atau kerbau yang dipuasakan sebelum

    dipotong. Jovanovic dan Cuperlovic (1977) menyatakan mikrobia rumen dapat meningkatkan

    nilai gizi bahan makanan karena adanya enzim yang dihasilkan oleh mikroba sehingga akan

    meningkatkan daya cerna.

    Kualitas isi rumen dipengaruhi oleh jenis makanan, mikrobia rumen dan lamanya makanan

    dalam rumen. (Barnet dan Nair, 1961). Menurut Jovanovic dan Cuperlvic (1977) kualitas isi

    rumen tidak begitu bervariasi antara hewan yang dipotong dari berbagai tempat, sebab hewan

    dipuasakan terlebih dahulu sehingga adanya variasi dari ransum akan teratasi.

    Di dalam rumen, organisme akan memfermentasi karbohidrat yang spesifik dengan

    menggunakan enzim untuk mendegradasi substrat sebagai sumber energi. Church (1979)

    menyatakan bahwa cairan rumen mengandung enzim -amilase, galaktosidase, hemisellulase,

    sellulase dan xilanaseenzim yang aktif pada xilan dan arabinosa. Enzim proteolitik dan

    selulolitik juga terdeteksi pada level yang tinggi. Enzim protease terdistribusi berturut-turut

    sebesar 37,7 ; 22,1 dan 40,2% dan amilase 51,6; 18,2 dan 30,2% pada cairan rumen, partikel

    pakan dan keseluruhan rumen. Tingkat degradasi perlakuan penambahan enzim cairan rumen

  • 10

    dengan aktivitas enzim selulase 2,43 IU/g pada substrat onggok, gaplek, bungkil kelapa, jeram

    padi dan dedak berturut-turut sebesar 89,9; 85,89; 83,97 ; 72,79 dan 67,81% (Murni,2003).

    Sumber Pustaka :

    Priyono, 2009. Rumen Pada Ternak Ruminansia URL : http://priyonoscience.blogspot.com/2009/05/rumen-pada-ternak-ruminansia.html) (25/04/2010)

    Gohl, BO. 1981. Tropical Feed. Food and Agriculture Organization of The United Nation, Rome.

    Jovanovic, M. Cuperlvic M. 1977. Nutritive Value Of Rumen Content For Oogastric. Anim Feed Sci and Tech 2:351-360.

    Murni, S. 2003. Aktivitas Enzim Cairan Rumen Pada Bebrapa Bahan Pakan Dan Pengaruhna Terhadap Performans Broiler Yang Diberi Ransum Berbahan Baku Singkong. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

    Barnet A.F.G, and Matoba T. Nair, B.M. 1961. Reaction in Rumen. Edward Arnold. Pub. Ltd. London.

    KANDUNGAN ZAT RUMEN SAPI

    http://anang-pasi.blogspot.com/2010/07/kandungan-zat-rumen-sapi.html

    Isi rumen merupakan salah satu limbah rumah potong hewan yang belum dimanfaatkan secara

    optimal bahkan ada yang dibuang begitu saja sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan.

    Limbah ini sebenarnya sangat potensial bila dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak karena

    isi rumen disamping merupakan bahan pakan yang belum tercerna juga terdapat organisme

    rumen yang merupakan sumber vitamin B.

    Kandungan zat makanan yang terdapat pada isi rumen sapi meliputi: air (8,8%), protein kasar

    (9,63%), lemak (1,81%), serat kasar (24,60%), BETN (38,40%), Abu (16,76%), kalsium

    (1,22%) dan posfor (0,29%) dan pada domba meliputi: air (8,28%), protein kasar (14,41%),

    lemak (3,59%), serat kasar (24,38%), Abu (16,37%), kalsium (0,68%) dan posfor (1,08%)

    (Suhermiyati, 1984). Widodo (2002) menyatakan zat makanan yang terkandung dalam rumen

    meliputi protein sebesar 8,86%, lemak 2,60%, serat kasar 28,78%, fosfor 0,55%, abu 18,54%

    dan air 10,92%. Berdasarkan komposisi zat yang terkandung didalamnya maka isi rumen

    http://priyonoscience.blogspot.com/2009/05/rumen-pada-ternak-ruminansia.htmlhttp://anang-pasi.blogspot.com/2010/07/kandungan-zat-rumen-sapi.htmlhttp://anang-pasi.blogspot.com/2010/07/kandungan-zat-rumen-sapi.html

  • 11

    dalam batas tertentu tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bila dijadikan bahan

    pencampur ransum berbagai ternak.

    Di dalam rumen ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba) terdapat populasi

    mikroba yang cukup banyak jumlahnya. Cairan rumen mengandung bakteri dan protozoa.

    Konsentrasi bakteri sekitar 10 pangkat 9 setiap cc isi rumen, sedangkan protozoa bervariasi

    sekitar 10 pangkat 5 - 10 pangkat 6 setiap cc isi rumen (Tillman, 1991). Beberapa jenis

    bakteri/mikroba yang terdapat dalam isi rumen adalah (a) bakteri/mikroba lipolitik, (b)

    bakteri/mikroba pembentuk asam, (c) bakteri/mikroba amilolitik, (d) bakteri/mikroba selulolitik,

    (e) bakteri/mikroba proteolitik Sutrisno dkk, 1994)

    Jumlah mikroba di dalam isi rumen sapi bervariasi meliputi: mikroba proteolitik 2,5 x 10

    pangkat 9 sel/gram isi rumen, mikroba selulolitik 8,1 x 10 pangkat 4 sel/gram isi rumen,

    amilolitik 4,9 x 10 pangkat 9 sel/gram isi, mikroba pembentuk asam 5,6 x 10 pangkat 9

    sel/gram isi, mikroba lipolitik 2,1 x 10 pangkat 10 sel/gram isi dan fungi lipolitik 1,7 x 10

    pangkat 3 sel/gram isi (Sutrisno dkk, 1994). Mikroorganisme tersebut mencerna pati, gula,

    lemak, protein dan nitrogen bukan proein untuk membentuk mikrobial dan vitamin B.

    Berdasarkan hasil penelitian Sanjaya (1995), penggunaan isi rumen sapi sampai 12% mampu

    meningkatkan pertambahan bobot badan dan konsumsi pakan ayam pedaging dan mampu

    menekan konversi pakan ayam pedaging.

    Daftar acuan:

    Sanjaya, L. 1995. Pengaruh Isi Rumen Sapi Terhadap PBB, Konsumsi, Konversi Terhadap Ayam Pedaging. Skripsi Fakultas Peternakan Universitas Muhammadiyah, Malang.

    Suhermiyati, S. 1984. Pengujian Cobaan Bahan Limbah RPH dan Ragi Makanan Ternak serta Kombinasinya dalam Ransum Ayam Pedaging. Thesis Fakulta Peternakan IPB, Bogor.

    Sutrisno,C.L et al. 1994. Proceeding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Peternakan Pengolahan dan Komunikasi Hasil-Hasil Penelitian Ternak. Ciawi.

    Tillman,Allen D dkk. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Yogyakarta, Gajah Mada University Press.

    Widodo, W. 2002. Nutrisi dan Pakan Unggas Kontekstual. Fakultas Peternakan-Perikanan Universitas Muhammadiyah, Malang.

  • 12

    Proses Pencernaan di Retikulum

    http://ternak-ruminansia.blogspot.com/2010/09/proses-pencernaan-di-retikulum.html

    Setelah pakan sapi diolah di rumen, makan prosesnya akan diteruskan ke retikulum. Retikulum

    berbatasan langsung dengan rumen, akan tetapi diantara keduanya tidak ada dinding

    penyekat. Pembatas diantara retikulum dan rumen yaitu hanya berupa lipatan, sehingga

    partikel pakan akan tercampur.

    Retikulum sendiri berasal dari kata reticular yang berarti anyaman benang atau jala, oleh sebab

    itu reticulum disebut juga sebagai perut jala atau hardware stomach. Pada dinding retikulum

    terdapat papillae yang membentuk alur/garis-garis yang saling berhubungan sehingga

    berbentuk seperti sarang lebah. Secara fisik, tidak terdapat batas yang jelas antara retikulum

    dengan rumen sehingga kedua kompartemen tersebut sering disebut satu bagian, yaitu

    retikulo rumen atau rumino-retikulum.

    Di bagian reticulum, makanan akan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan yang masih kasar

    (disebut bolus). Bolus ini nantinya dapat ditarik lagi ke mulut untuk dimamah yang kedua

    kalinya.

    http://ternak-ruminansia.blogspot.com/2010/09/proses-pencernaan-di-retikulum.htmlhttp://ternak-ruminansia.blogspot.com/2010/09/proses-pencernaan-di-retikulum.html

  • 13

    Proses Pencernaan di Omasum

    http://duniasapi.com/id/edufarming/1136-proses-pencernaan-di-omasum.html

    Fungsi omasum pada proses pencernaan pakan

    memang belum terungkap dengan jelas, tetapi pada organ tersebut terjadi penyerapan air,

    amonia, asam lemak terbang dan elektrolit. Pada organ ini dilaporkan juga menghasilkan

    amonia dan mungkin asam lemak terbang(Frances dan Siddon, 1993).

    Omasum disebut sebagai perut buku karena permukaan dinding omasum berlipat-lipat dan

    kasar, jumlah lipatan ini sekitar 100 lembar. Selain itu, pada Omasum juga terdapat 5 lamina

    (daun) yang mempunyai duri (spike). Semakin mendekati abomasum, ukuran duri semakin

    kecil. Fungsi lamina adalah menyaring partikel digesta yang akan masuk ke abomasum.

    Partikel digesta yang masih terlalu besar akan dikembalikan ke retikulum. Selanjutnya, partikel

    digesta tersebut akan mengalami regurgitasi (dikeluarkan kembali ke mulut) dan remastikasi

    (dikunyah lagi).

    Pada omasum juga terdapat kelenjar yang memproduksi enzim yang akan bercampur dengan

    bolus. Bolus ini nantinya akan diteruskan ke abomasum.

    Pencernaan ternak non ruminansia

    Ternak Babi

    Sistem pencernaan babi terdiri dari mulut, esofagus, lambung, duodenum, ileum, sekum,

    rektum dan anus. Babi mengambil makanan pakan, mengunyah, dan menyampurkannya

    dengan air liur (saliva) sebelum menelan. Saliva berfungsi sebagai pelumas. Perbedaannya

    pada babi saliva mengandung enzim yang mulai memecahkan bahan pakan menjadi unsur-

    http://duniasapi.com/id/edufarming/1136-proses-pencernaan-di-omasum.html

  • 14

    unsur penyusunnya. Babi tidak terjadi proses memamah biak sebab seluruh bahan pakan telah

    dikunyah halus sebelum ditelan.

    Pakan yang ditelan bergerak menuju esofagus kemudian masuk ke dalam lambung. Lambung

    pada babi juga berfungsi sebagai alat penampung bahan yang sudah tercerna. Volume

    lambung seekor babi hanyalah sekitar 8 liter.

    Usus halus terdiri dari duedenum, jejunum, dan illeum adalah tempat terjadinya penyerapan

    atau absorpsi yang utama dari zat-zat pakan hasil pencernaan. Bahan-bahan pakan yang tidak

    tercerna dan tidak diserap bergerak dari usus halus menuju ke caecum dan ke usus besar. Di

    bagian usus besar komponen air diserap kembai dan sisa yang tertinggal dari proses

    pencernaan dikeluarkan melalui anus.

    Tabel 1. Perbandingan kapasitas beberapa bagian saluran pencernaan dari berbagai jenis ternak (liter)

    Bagian saluran pencernaan Jenis Ternak

    Kuda Sapi Babi

    Rumen , reticulum, omasum - 200 -

    Lambung 17.6 15.4 7.7

    Usus kecil 66 68.4 9.9

    Sekum 82.5 9.9 1.1

    Kolon dan rectum 15.4 28.6 8.8

    Jumlah 181.5 342.1 27.5

    pH lambung babi segera setelah mati yaitu 4.2 5.2 yang lebih stabil. Caecum merupakan

    suatu kantung buntu. Colon terdiri dari bagian-bagian yang naik , mendatar dan turun. Bagian

    yang turun berakhir direktum dan anus. Caecum mempunyai bantuk besar yang panjangnya

    kurang lebih 1,25 m dan kapasitas volumenya kurangn lebih 20-30 liter (60% dari jumlah

    volume seluruh alat-alat pencernaan). Caecum dan colon mempunyai fungsi seperti rumen

    pada ruminan yaitu tempat fermentasi serat kasar dan karbohidrat oleh mikroorganisme. Kolon

    besar mempunyai panjang kurang lebih 3-3,7 m, diemeter rata-ratanya 225 cm dan kapasitas

  • 15

    volumenya kurang lebih dua kali caecum. Kolon kecil panjangnya sekitar 3,5 meter dan

    mempunyai diameter 7,5-10 cm. Colon merupakan tempat penyerapan air yang utama.

    SISTEM PENCERNAAN KUDA

    Kuda merupakan ternak Non ruminansia. Hal ini disebabkan oleh sistem pencernaan enzimatik

    terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan pencernaan fermentatif. Kuda memiliki

    kemampuan untuk memanfaatkan hijauan dalam jumlah yang cukup dengan proses

    fermentatif di bagian caecum. Saluran pencernaan kuda memiliki ciri khusus yaitu ukuran

    kapasitas saluran pencernaan bagian belakang lebih besar di bandingkan bagian belakang. Alat

    pencernaan adalah organ-organ yang langsung berhubungan dengan penerimaan, pencernaan

    bahan pakan dan pengeluaran sisa pencernaan atau metabolisme. Berikut penjelasan secara

    umum maupun khusus dari alat dan fungsi pencernaan kuda :

    1. Rongga Mulut (mouth)

    Mulut merupakan bagian pertama dari sistem pencernaan yang mempunyai 3 fungsi yaitu

    mengambil pakan, pengunyahan secara mekanik dan pembasahan pakan dengan saliva. Di

    dalam rongga mulut terdapat organ pelengkap yaitu lidah, gigi, dan saliva. Lidah

    merupakan alat pencernaan mekanik. Kuda dapat menyeleksi pakan yang dimakan

    dikarenakan adanya bungkul-bungkul pengecap pada lidah dan terbanyak terdapat di

    daerah dorsum lidah dibandingkan bagian lain dengan cara merasakan pakan yang

    dimakan. Gigi adalah organ pelengkap yang secara mekanik relative kuat untuk memulai

    proses pencernaan. Gigi juga digunakan untuk menentukan umur umur dengan melihat :

    penyembulan (erupsi), pergantian sementara, bentuk dan dan derajat keausan gigi. Saliva

    kuda mengandung elektrolit utama yaitu Na+, K+, Ca2+, Cl-, HCO2-, HPO4- serta tidak

    atau sedikit sekali mengandung amylase. Saliva dihasilkan oleh 3 pasang kelenjar yaitu

    kelenjar parotis, kelenjar mandibularis, kelenjar sublingualis. Saliva berfungsi sebagai

    pelicin dalam mengunyah dan menelan pakan dengan adanya mucin, mengatur temperatur

    rongga mulut, pelindung mukosa mulut dan detoksikasi.

    2. Pharynx dan Esofagus

    Pharynx adalah penyambung rongga mulut dan esophagus. Esophgagus mempunyai panjang

    kira-kira 50-60 inchi. Pada pharynx dan esofagus tidak terjadi pencernaan yang berarti.

  • 16

    3. Lambung

    Lambung kuda relatif lebih kecil dibandingkan ternak lain terutama ternak ternak

    ruminansia. Kapasitas lambung kuda antara 8-15 liter atau hanya 9% dari total kapasitas

    saluran pencernaan. Proses pencernaan yang terjadi di daerah lambung tidak semurna

    dikarenakan aktivitas mikroorganisme sangat terbatas dimana populasi bakteri relati

    rendah, waktu tinggal pakan di lambung hanya sebentar sekitar 30menit, dan hasil proses

    fermentatif adalah asam laaktat bukan VFA.

    4. Pankreas

    Kuda memiliki perbedaan yang spesifik dari segi cairan pankreas dengan ternak lain yaitu

    konsentrasi enzim dan kadar HCO3 rendah. Bagian pankreas kuda terdiri dari endokrin dan

    eksokrin.

    5. Usus Kecil

    Usus kecil merupakan tempat utamauntuk mencerna karbohidrat, protein dan lemak serta

    tempat absorbsi vitamin dan mineral. Kapasitas usus kecil adalah 30%.dari seluruh

    kapasitas saluran pencernaan kuda. Usus kecil terdiri dari tiga bagian yaitu: duodenum,

    jejenum, dan ileum. Proses pencernaan di usus kecil kecil adalah proses pencernaan

    enzimatik. Beberapa enzitersebut adalah peptidase, dipeptidase, amylase, dan lipase.

    6. Usus Besar

    Usus besar terdiri dari caecum, colon, rektum. Caecum dan colon memiliki kapasitas 60%

    dari keseluruhan saluran pencernaan yang mempunyai fungsi 1) tempat fermentasi dengan

    hasil berupa VFA, 2) Sintesa Asam Amino, Vit B & K, 3) Tempat utama mencerna neutral

    detergen fiber (NDF), 4) asam laktat dari lambung dengan adanya Veilonella gazagones

    akan dirubah menjadi VFA.

    Produksi dan proses pencernaan fermentatif di usus besar tidak semuanya dapat

    dimanfaatkan karena posisi yang dibelakang setelah usus halus kecil, sehigga hanya sekitar

    25% hasil fermentatif di usus besar yang dapat diserap kembali ke usus kecil atau

    dimanfaatkan oleh tubuh. Sedangkan rektum merupakan tempat utama penyerapan air

    kembali. Proses pencernaan dari mulut sampai terbuang sebagai feses dari 95 % pakan

    yang dikonsumsi membutuhkan waktu 65-75 jam.

  • 17

    http://haydarz.wordpress.com/category/sistem-pencernaan-kuda/

    Organ Pencernaan Kelinci

    Kelinci memiliki sistem pencernaan yang amat rumit, dan mereka tidak dapat mencerna semua

    makanan dengan cara yang sama. Sebagai contoh, mereka dapat mencerna fruktosa (zat gula

    pada buah-buahan) dengan sangat baik, namun kemampuan untuk mencerna gula jenis lain

    sangat rendah, karenanya permen dan kue-kue manis dapat membuat kelinci menjadi sangat

    sakit. Hal ini disebabkan karena gula dan zat-zat makanan yang tidak dapat dicerna oleh usus

    halus kelinci akan menumpuk di cecum, dan memancing bertambahnya bakteri produsen racun

    yang menyebabkan banyak penyakit pada kelinci.

    Kelinci sangat payah dalam hal mencerna selulosa (Fraga 1990) hal ini merupakan paradoks

    bagi hewan pemakan tumbuhan. Daya cerna yang lemah terhadap serat dan kecepatan

    pencernaan kelinci untuk menyingkirkan semua partikel yang sulit dicerna menyebabkan kelinci

    membutuhkan jumlah makanan yang besar (Sakaguchi 1992).

    Proses pencernaan dimulai di mulut, dimana makanan akan diremukkan oleh gigi. Ketika

    seekor kelinci makan, ia akan mengunyah kira-kira 300 kali dan mencampurkannya dengan

    liurnya. Ketika makanan sudah terasa halus, kelinci akan menelan makanan melewati

    kerongkongan dan makanan akan berpindah ke lambung, disana kontraksi otot akan meremas

    dan memutar makanan, memisahkan partikel-partikel dan mencampurkan mereka dengan

    cairan lambung.

    http://haydarz.wordpress.com/category/sistem-pencernaan-kuda/http://kelinci-kelinci.blogspot.com/2007/12/organ-pencernaan-kelinci.html

  • 18

    Namun fungsi utama lambung sendiri sebagai organ penyimpanan dan sterilisasi sebelum

    makanan dipindah ke usus halus. Bagian penting dari pencernaan baru akan dimulai di usus

    halus, dimana asam lambung dineutralisir dan enzim-enzim dari hati dan pankreas dicampur

    dengan makanan. Enzim ini penting untuk mencerna dan menyerap karbohidrat, protein,

    lemak dan vitamin. Kemudian 90% fruktosa, protein, dan sari-sari makanan lain akan diserap,

    namun selulosa dan serat lain yang tidak dapat dicerna dengan baik (termasuk kulit pohon

    yang sering digerogoti kelinci maupun serat yang ada di pellet mereka) akan disingkirkan.

    Mungkin anda berpikir, partikel yang besar akan tersangkut dalam organ pencernaan

    sedangkan yang kecil akan keluar dengan mudah? Tidak. Justru sebaliknya. Partikel-partikel

    tidak tercerna yang kecil-kecil serta jenis makanan lain yang terdeteksi sebagai tidak dapat

    dicerna, akan dikirim ke cecum untuk difermentasi, namun partikel besar akan dengan cepat

    dibuang ke usus besar dan dikeluarkan oleh tubuh dalam bentuk kotoran yang bundar-bundar.

    Dalam cecum, bakteri akan mencerna selulosa, hampir semua jenis gula, sari-sari makanan

    dan protein berlebih yang tidak tercerna di usus halus. Setiap 3 sampai 8 jam cecum akan

    berkontraksi dan memaksa material yang ada di dalamnya untuk kembali ke usus besar,

    dimana sisa-sisa tersebut akan dilapisi oleh lendir, dan berpindah ke anus. Sisa-sisa ini akan

    menjadi kotoran yang berbentuk seperti anggur hitam kecil-kecil yang disebut cecothropes

    atau cecal pills. Untungnya, proses ini lebih sering terjadi dimalam hari. Kelinci biasanya akan

    memakan cecothropesnya kembali langsung dari anus untuk mencerna kembali sari-sari

    makanan yang tidak tercerna tadi dan menerima nutrisi yang lebih banyak. Meski terlihat

    sangat menjijikan, proses ini sangat penting bagi pencernaan kelinci dan menjaga agar

    kelincimu tetap sehat!

  • 19

    Sedangkan partikel-partikel besar dari serat yang tidak tercerna yang dibuang ke usus besar

    akan membentuk kotoran keras berbentuk bundar (fecal pills). Cecal pills berbentuk anggur

    dan sedikit basah karena terbentuk dari sisa-sisa makanan dan partikel serat kecil (gbr. kiri).

    Fecal pills berbentuk bulat dan keras karena terbentuk dari serat kasar dan dibuang secara

    melingkar (gbr. kanan). Maka, ketika fecal pills ini terlihat lembek (apalagi berair) hal itu dapat

    berarti terdapat kondisi tidak normal dalam pencernaan kelinci

    http://kelinci-kelinci.blogspot.com/

    Sistem Digesti

    Kelinci termasuk pseudoruminant yaitu herbivora yang tidak dapat mencerna serat kasar

    dengan baik. Kelinci memfermentasikan pakan di coecum yang kurang lebih 50% dari seluruh

    kapasitas saluran pencernaannya (Sarwono, 2001).

    Menurut Blakely dan Bade (1991), sistem pencernaan kelinci merupakan sistem pencernaan

    yang sederhana dengan coecum dan usus yang besar. Hal ini memungkinkan kelinci dapat

    memanfaatkan bahan-bahan hijauan, rumput dan sejenisnya. Bahan-bahan itu dicerna oleh

    bakteri di saluran cerna bagian bawah seperti yang terjadi pada saluran cerna kuda. Kelinci

    mempunyai sifat coprophagy yaitu memakan feses yang sudah dikeluarkan. Feses ini berwarna

    hijau muda dan lembek. Hal ini terjadi karena konstruksi saluran pencernaannnya sehingga

    memungkinkan kelinci untuk memanfaatkan secara penuh pencernaan bakteri di saluran

    bagian bawah atau yaitu mengkonversi protein asal hijauan menjadi protein bakteri yang

    berkualitas tinggi, mensintesis vitamin B dan memecah selulose/serat menjadi energi yang

    berguna.

    http://kelinci-kelinci.blogspot.com/

  • 20

    Urutan sistem digesti kelinci adalah sebagai berikut :

    Mulut. Di dalam mulut terjadi pencernaan secara mekanik yaitu dengan jalan mastikasi

    bertujuan untuk memecah pakan agar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan

    mencampurnya dengan saliva yang mengandung enzim amilase yang mengubah pati menjadi

    maltosa agar mudah ditelan (Kamal, 1982).

    Oesophagus. Merupakan lanjutan dari pharing dan masuk ke dalam cavum abdominale dan

    bermuara pada bagian ventriculus (Anonimous, 1990).

    Ventriculus. Lambung kelinci disebut juga ventrikulus yang terdiri dari tiga bagian yaitu

    bagian awal (kardia), bagian tengah (fundus) dan bagian akhir (pilorus). Ventrikulus berfungsi

    sebagai tempat penyimpanan pakan dan tempat terjadinya proses pencernaan dimana dinding

    lambung mensekresikan getah lambung yang terdiri dari air, garam anorganik, mucus, HCl,

    pepsinogen dan faktor intrinsik yang penting untuk efisiensi absorbsi vitamin B12. Keasaman

    getah lambung bervariasi sesuai dengan macam makanannya. Pada umumnya sekitar 0,1N

    atau ber-pH lebih kurang dari 2 (Kamal, 1982).

    Usus halus. Terdiri dari duodenum, jejenum dan illeum. Kelenjar branner menghasilkan getah

    duodenum dan disekresikan ke dalam duodenum melalui vili-vili dan getah ini bersifat basa.

    Getah pankreas yang dihasilkan disekresikan ke dalam duodenum melalui ductus pancreaticus.

    Jejenum merupakan kelanjutan dari duodenum dan illeum di sebelah caudal ventriculus dan

    berfungsi sebagai tempat absorbsi makanan (Kamal, 1982).

    Coecum. Berbentuk seperti kantung berwarna hijau tua keabu-abuan. Dalam coecum

    makanan disimpan dalam waktu sementara. Pencernaan selulosa dilakuakan oleh bakteri yang

    menghasilkan asam asetat, propionat dan butirat (Aminudin, 1986).

    Intestinum crassum. Colon berjalan ke arah caudal diagonal menyilang coecum. Di sini

    terdapat ascenden dan colon transverasum, colon descenden dan colon sigmoideum yang

    belum jelas (Aminudin, 1986).

    Rectum. Rectum merupakan kelanjutan dari colon dan membentuk feses. Rektum berakhir

    sebagai anus (Aminudin, 1986).

  • 21

    Anus. Feses yang keluar lewat anus mengandung air. Feses merupakan sisa makanan yang

    tidak tercerna. Cairan dari tractus digestivus, sel-sel epitel usus, mikroorganisme, garam

    organik, stearol dan hasil dekomposisi dari bakteri keluar melalui anus (Kamal, 1982).

    MAKANAN KELINCI

    1. Rumput

    Rumput adalah bagian yang paling penting dari makanan kelinci. Anda juga bisa

    memberikan Timothy Hay (rumput kering jenis Timothy, banyak dijual di pet shop

    terkemuka). Namun, jika tidak ada Timothy hay, rumput yang biasa tumbuh di pekarangan

    rumah pun bisa diberikan untuk kelinci, selama tidak mengandung obat-obatan atau

    pestisida.

    Rumput sangat penting untuk memenuhi kebutuhan serat kelinci, sehingga mencegah

    terjadinya penyumbatan di saluran cerna. Rumput juga sehat untuk pertumbuhan gigi

    kelinci karena harus dikunyah. Gigi kelinci tumbuh terus menerus, dan mengunyah akan

    menjaga gigi tetap tajam sehingga pertumbuhan gigi tidak terlalu cepat. Pertumbuhan gigi

    kelinci yang terlalu cepat akan membuat kelinci merasa tidak nyaman saat makan, bahkan

    bisa menimbulkan luka dan infeksi di rongga mulut. Selain itu, rumput juga dapat membuat

    kelinci merasa kenyang sehingga dia tidak menggigit-gigit barang-barang yang ada di

    dekatnya, misalnya kabel computer, kaki meja, dll. Berikan rumput sebanyak mungkin

    (tidak terbatas), tetapi sesuaikan agar rumput habis dalam waktu 1-2 hari. Taruh rumput di

    kotak pasir dan ganti setiap 1-2 hari sekali. Kelinci suka buang air sambil

    mengunyah. Kelinci dapat diberikan rumput segera setelah disapih induknya.

    2. Sayur-sayuran

    Sayur-sayuran menyediakan lebih banyak nutrisi dan air untuk kelinci anda. Tetapi, ingatlah

    bahwa beberapa jenis sayuran dapat membuat tinja kelinci lebih lunak, bahkan mebuat

    kelinci diare. Karena itu, cobalah memberikan jenis sayuran baru sedikit saja, dan

    tambahkan porsinya jika tidak terjadi apapun pada kelinci anda. Selain itu, pastikan untuk

    mencuci sayur-sayuran tersebut sebelum diberikan pada kelinci dan sisakan sedikit air

    (jangan dikeringkan) untuk kelinci anda. Berikan kelinci anda bermacam-macam jenis

    sayuran (2-3 macam setiap hari). Kelinci memiliki jumlah ujung saraf perasa yang jauh

  • 22

    lebih banyak dari manusia dan seperti manusia, kelinci juga menikmati

    makanannya. Selada dapat diberikan, tetapi hanya varietas yang berdaun hijau tua yang

    mengandung cukup nutrisi. Hindari selada bonggol dan salad dressing!

    Di bawah ini adalah jenis-jenis sayuran yang dapat diberikan pada kelinci anda , dan

    kandungan kalsiumnya per cangkir sayuran (makin rendah kadar kalsiumnya, makin baik)

    Daun bit (46 mg)

    Brokoli (42 mg)

    Wortel dan daunnya (30 mg)

    Daun lobak (105 mg)

    Selada air (40 mg)

    Daun dandelion (103 mg)

    Daun kubis (94 mg)

    Selada romaine (20 mg)

    Selada bokor (38 mg)

    Daun mustard (58 mg)

    Peterseli & seledri (78 mg)

    Daun paprika (6 mg)

    Radijs dan daunnya (28 mg)

    Daun ketumbar

    Daun chicory (180 mg)

    Daun kacang-kacangan (kedelai, kacang merah, kacang tanah, kacang panjang)

    Daun jagung dan daun pembungkus jagung

    Daun ubi jalar dan umbinya

    Daun petai

    Kangkung (sedikit saja)

    Daun dan tangkai apel

    Tomat (sedikit saja)

    Kelinci juga suka rempah-rempah seperti daun mint, kemangi, rosemary, daun adas, dll dalam

    jumlah kecil.

    Yang tidak boleh diberikan untuk kelinci:

    Kacang-kacangan -- semua jenis kacang-kacangan tidak boleh diberikan untuk kelinci.

    Selain itu, acang-kacangan yang telah dikeringkan bisa menyumbat saluran

    pencernaan

    Bit

    Kol (bisa membuat kembung)

  • 23

    Daun /biji/tanaman kopi dan teh

    Jagung (2x seminggu masih diperbolehkan, tetapi jangan tiap hari karena bisa

    menyebabkan diare). Jagung kering juga dapat menyumbat saluran cerna.

    Kacang hijau

    Bawang (bawang merah, bawang Bombay, bawang putih)

    Kacang tanah, kenari, macadamia, dll

    Kacang polong (kacang polong kering dapat menyumbat saluran cerna)

    Rebung

    Bayam (mengandung kadar kalsium oksalat yang tinggi)

    Sayuran yang dicampur dalam bungkusan (banyak yang mengandung bayam)

    Sawi (segala jenis sawi: sawi hijau, sawi putih, dll)

    Kentang

    Terong

    Daun tomat

    3. Buah-buahan

    Buah-buahan adalah cemilan yang paling baik untuk kelinci, dan di bawah ini adalah daftar

    buah-buahan yang aman dikonsumsi oleh kelinci. Hindari cemilan manusia seperti sereal,

    kacang-kacangan, roti (roti panggang tanpa mentega/toast sangat baik untuk kelinci),

    cokelat dan biji-bijian seperti crackers, pasta atau "rabbit treat" yang mengandung kadar

    biji-bijian, jagung dan gula yang tinggi yang banyak dijual di pet shop.

    Buah-buahan yang berserat tinggi sangat baik, dan sebaiknya diberikan dalam potongan-

    potongan kecil sebagai cemilan. Tingginya kadar gula dapat mengganggu keseimbangan

    mikroorganisme di caecum, jadi cobalah berikan buah-buahan yang disebut dibawah ini

    dalam jumlah yang terbatas:

    Apel (jangan berikan bijinya-bijinya beracun)

    Pear

    Kesemek (peach)

    Papaya

    Stroberi

    Raspberi

    Pisang

    Anggur (singkirkan bijinya)

    Nanas

    Coba berikan tangkai apel sebagai bahan kunyahan kelinci... kelinci suka mengunyah

    dan tangkai apel aman. Banyak kayu beracun untuk kelinci, jadi berhati-hatilah!

  • 24

    4. PELET KELINCI

    Pellet adalah butiran-butiran penuh nutrisi untuk memberi makan dengan mudah dan

    mempercepat pertumbuhan. Pellet sebenarnya dibuat untuk kelinci yang diproduksi secara

    komersil (diambil daging, bulu, atau untuk laboratorium), dan bukan untuk kelinci

    peliharaan. Mengapa pellet tidak dianjurkan? Pellet mengandung kalori yang tinggi ---

    kelinci anda dapat menjadi gemuk. Kelinci akan lebih suka memakan pellet (karena lebih

    mudah dikunyah dan rasanya enak) daripada rumput, yang dapat memperlambat proses

    pencernaan dan menimbulkan penyakit saluran cerna. Pellet tidak memberikan kunyahan

    yang cukup, dan tidak baik untuk pertumbuhan gigi kelinci. Kelinci hanya memerlukan

    beberapa kali kunyahan untuk menghancurkan pellet. Konsistensi pellet yang kering tidak

    menyediakan cukup cairan yang sangat penting untuk kesehatan ginjal kelinci. Saat ini,

    telah diproduksi pellet yang bermutu baik; pellet yang terbuat dari rumput Timothy jauh

    lebih baik daripada pellet yang terbuat dari rumput Alfalfa, karena rumput alfalfa memiliki

    kalori yang tinggi. Pellet tidak boleh menjadi makanan utama bagi kelinci peliharaan. Pellet

    tidak boleh diberikan terus-menerus! Pellet dapat diberikan untuk kelinci yang sedang

    dalam masa penyembuhan yang harus menambah berat badannya. Pellet yang terbuat dari

    rumput alfalfa boleh diberikan pada masa ini. Pellet tidak boleh diberikan bersamaan

    dengan cemilan, kecuali jika anda sedang membujuk kelinci anda untuk makan; tetapi coba

    berikan juga sayur-sayuran dan rumput.

    5. AIR

    Kelinci membutuhkan banyak air bersih agar tetap sehat. Ada mitos yang beredar bahwa

    kelinci tidak membutuhkan air, tapi mitos ini salah besar. Kelinci rumahan memerlukan

    air. Mangkuk berdasar tebal atau botol minum kelinci (dapat dibeli di pet shop dan

    swalayan besar) dapat digunakan untuk tempat minum kelinci. Pilihlah mangkuk yang tidak

    mudah dijatuhkan oleh kelinci. Ganti air setiap 1-2 kali sehari. Kelinci yang memakan

    sayuran segar yang telah dibilas terlebih dahulu akan minum lebih sedikit, tetapi jangan

    pernah menyingkirkan air dari kelinci anda. Air bersih harus tersedia setiap saat. Air seni

    kelinci dapat berubah warna, tergantung pada makanan yang dimakannya dan pigmen

  • 25

    pada tanaman tersebut. Warna kuning sampai kemerahan dapat ditemukan pada air seni.

    Air seni yang berwarna putih dapat disebabkan karena kelebihan kalsium.

    6. CEMILAN KELINCI

    Cemilan kelinci dapat berupa buah - buahan (segar maupun kering), umbi - umbian

    (wortel, ubi jalar, radijs) dan cemilan buatan pabrik yang tdapat dibeli di petshop. Untuk

    mengetahui lebih jelas tentang cemilan kelinci, silakan klik "cemilan" di navigation bar.

    http://indorabitfans.tripod.com

    Non-Ruminant Digestion

    People, pigs and poultry have developed a non-ruminant system of digesting food. They each

    have a single stomach compartment (unlike the 4 chambered stomach of ruminants). The non-

    ruminants can be further subdivided into those who have similar digestive tracts to humans

    (i.e. the pig) or more specialized digestive tracts (i.e. poultry).

    Like people a pig has a mouth with teeth, which it uses to grind food up and mix with saliva

    before swallowing. The mixture of saliva and feed passes down the esophagus into the

    stomach. The mixture at this point has begun to breakdown or be digested by the enzymes in

    the saliva. Once in the stomach there is stimulation for the secretion of gastric juices from the

    stomach's lining. The ph in the stomach is low due to the presence of acids. Therefore

    although some additional breakdown of the food occurs the passing of the partially digested

    food into the small intestine is important for complete digestion.

    The small intestine maintains a more alkaline environment, which is useful in digestion. The

    digestive enzymes some of which were excreted in the stomach and others in the small

    intestines can now work. Bile is also added to help the digest of fats by the gall bladder in this

    part of the digestive tract. The goal of the relatively long small intestines (compared to other

    parts of the digestive tract) is to break large feed particles into the tiniest components, which

    can then be absorbed thru the intestinal wall (villi).

    After passing thru the small intestines the food reaches the large intestines where water is

    absorbed. The remaining products are waste and are excreted via the rectum.

    http://indorabbitfans.tripod.com/id3.html

  • 26

    Poultry have a slightly modified version of the digestive tract described above. The first

    important change is in the mouth. Poultry have a beak but do not use teeth. They mix the food

    with saliva but virtually no mastication (breaking of food particles into smaller pieces) occurs in

    the mouth.

    Once a bird swallows its food it passes down the esophagus a short distance to a large pouch.

    This pouch called a crop is a kind of storage area in the bird's digestive tract. It is here that

    saliva begins to work at breaking down the food. The food is next moved downward to the

    proventiculus. It is still like the crop a portion of the esophagus, but it is also sometimes

    referred to as the glandular stomach. This name comes from its role in introducing hydrochloric

    acid and digestive enzymes to the food.

    The Digestive Tract of the Pig

    J.P. Rowan, K.L. Durrance, G.E. Combs and L.Z. Fisher2

    http://edis.ifas.ufl.edu/an012

    The pig has a digestive system which is classified as monogastric or nonruminant. Humans

    also have this type of digestive system. They have one stomach (mono=one,

    gastric=stomach). The monogastric differs from that of a polygastric or ruminant digestive

    system found in cattle and sheep. These animals have one stomach broken into four

    compartments. Due to the differences in the digestive systems, cattle can utilize different types

    of feeds than pigs. Cattle and sheep can live on hay and pasture, while pigs must eat grains

    that can be digested more easily.

    Digestion is the break-down of food occurring along the digestive tract. The digestive tract may

    be thought of as a long tube through which food passes. As food passes through the digestive

    tract, it is broken down into smaller and smaller units. These small units of food are absorbed

    as nutrients or pass out of the body as urine and feces.

    The digestive tract of the pig has five main parts: the mouth, esophagus, stomach, and small

    and large intestines ( Figure 1). The following discussion explains how each part digests

    nutrients.

    http://edis.ifas.ufl.edu/an012#FOOTNOTE_2http://edis.ifas.ufl.edu/an012

  • 27

    Figure 1.

    The mouth is where food enters the digestive tract and where mechanical breakdown of food

    begins ( Figure 2). The teeth chew and grind food into smaller pieces. Saliva , produced in the

    mouth, acts to soften and moisten the small food particles. Saliva also contains an enzyme

    which starts the digestion of starch. The tongue helps by pushing the food toward the

    esophagus .

    Figure 2.

    The esophagus is a tube which carries the food from the mouth to the stomach. A series of

    muscle contractions push the food toward the stomach. Swallowing is the first of these

    contractions. At the end of the esophagus is the cardiac valve, which prevents food from

    passing from the stomach back into the esophagus.

    The stomach is the next part of the digestive tract (Figure 3). It is a reaction chamber where

    chemicals are added to the food. Certain cells along the stomach wall secrete hydrochloric acid

    and enzymes. These chemicals help break down food into small particles of carbohydrates ,

    protein , and fats . Some particles are absorbed from the stomach into the bloodstream.

    Other particles which the stomach cannot absorb pass on to the small intestine through the

    pyloric valve .

    Figure 3.

    http://edis.ifas.ufl.edu/LyraEDISServlet?command=getImageDetail&image_soid=IMAGE%20AN:AN012F1&document_soid=AN012&document_version=1http://edis.ifas.ufl.edu/LyraEDISServlet?command=getImageDetail&image_soid=IMAGE%20AN:AN012F1&document_soid=AN012&document_version=1http://edis.ifas.ufl.edu/LyraEDISServlet?command=getImageDetail&image_soid=IMAGE%20AN:AN012F2&document_soid=AN012&document_version=1http://edis.ifas.ufl.edu/LyraEDISServlet?command=getImageDetail&image_soid=IMAGE%20AN:AN012F2&document_soid=AN012&document_version=1http://edis.ifas.ufl.edu/LyraEDISServlet?command=getImageDetail&image_soid=IMAGE%20AN:AN012F3&document_soid=AN012&document_version=1http://edis.ifas.ufl.edu/LyraEDISServlet?command=getImageDetail&image_soid=IMAGE%20AN:AN012F3&document_soid=AN012&document_version=1

  • 28

    The small intestine is a complex tube which lies in a spiral, allowing it to fit in a small space

    (Figure 4). Its wall has many tiny finger-like projections known as villi , which increase the

    absorptive area of the intestine. The cells along the small intestine's wall produce enzymes that

    aid digestion and absorb digested foods.

    Figure 4.

    At the first section of the small intestine (called the duodenum ) secretions from the liver and

    pancreas are added. Secretions from the liver are stored in the gall bladder and pass into the

    intestine through the bile duct. These bile secretions aid in the digestion of fats.

    Digestive juices from the pancreas pass through the pancreatic duct into the small intestine.

    These secretions contain enzymes that are vital to the digestion of fats, carbohydrates, and

    proteins.

    Most food nutrients are absorbed in the second and third parts of the small intestine, called the

    jejunum and the ileum . Undigested nutrients and secretions pass on to the large intestine

    through the ileocecal valve.

    A "blind gut" or cecum is located at the beginning of the large intestine (Figure 5). In most

    animals, the cecum has little function. However, in animals such as the horse and rabbit, the

    cecum is very important in the digestion of fibrous feeds.

    Figure 5.

    The last major part of the digestive tract, the large intestine, is shorter, but larger in diameter

    than the small intestine. Its main function is the absorption of water. The large intestine is a

    http://edis.ifas.ufl.edu/LyraEDISServlet?command=getImageDetail&image_soid=IMAGE%20AN:AN012F4&document_soid=AN012&document_version=1http://edis.ifas.ufl.edu/LyraEDISServlet?command=getImageDetail&image_soid=IMAGE%20AN:AN012F4&document_soid=AN012&document_version=1http://edis.ifas.ufl.edu/LyraEDISServlet?command=getImageDetail&image_soid=IMAGE%20AN:AN012F5&document_soid=AN012&document_version=1http://edis.ifas.ufl.edu/LyraEDISServlet?command=getImageDetail&image_soid=IMAGE%20AN:AN012F5&document_soid=AN012&document_version=1

  • 29

    reservoir for waste materials that make up the feces. Some digestion takes place in the large

    intestine. Mucous is added to the remaining food in the large intestine, which acts as a

    lubricant to make passage easier. Muscle contractions push food through the intestines. The

    terminal portion of the large intestine is called the rectum .

    The anus is an opening through which undigested food passes out of the body. Food that

    enters the mouth and is not digested or absorbed as it passes down the digestive tract is

    excreted through the anus as feces.

    This was a general discussion of the digestive tract of the pig. The tract acts to digest and

    absorb nutrients necessary for maintenance of cells and growth. Efficient absorption of

    nutrients depends on each segment of the digestive system functioning to its maximum

    capacity.

    Figure 6 gives a summary of the digestive system of the pig. You may wish to test your

    knowledge by identifying the parts in Figure 7.

    Figure 6.

    Figure 7.

    References are listed at the end of this publication. You can get additional information by

    referring to a farm animal anatomy book.

    References

    1. Advanced Livestock Science Manual, University of Illinois at Urbana, Champaign

    Cooperative Extension Service.

    2. Swine Technology, Farm Science Services, Extension Bulletin 536, January, 1975

    (Rev'd), Cooperative Extension Service, Michigan State University.

    http://edis.ifas.ufl.edu/LyraEDISServlet?command=getImageDetail&image_soid=IMAGE%20AN:AN012F6&document_soid=AN012&document_version=1http://edis.ifas.ufl.edu/LyraEDISServlet?command=getImageDetail&image_soid=IMAGE%20AN:AN012F6&document_soid=AN012&document_version=1http://edis.ifas.ufl.edu/LyraEDISServlet?command=getImageDetail&image_soid=IMAGE%20AN:AN012F7&document_soid=AN012&document_version=1http://edis.ifas.ufl.edu/LyraEDISServlet?command=getImageDetail&image_soid=IMAGE%20AN:AN012F7&document_soid=AN012&document_version=1

  • 30

    Glossary

    1. Anus - the last part of the digestive tract through which undigested food passes out of

    the body

    2. Bile - a secretion of the liver which aids in the digestion of fats

    3. Bile Duct - a duct which carries bile from the gall bladder to the small intestine

    4. Cardiac Valve - a valve which prevents food from passing from the stomach back up

    into the esophagus

    5. Carbohydrates - the main nutrients which supply energy to the body (starch and

    cellulose)

    6. Cecum - a "blind gut" located between the ileum and the large intestine

    7. Duodenum - the first section of the small intestine

    8. Enzymes - substances that speed up chemical reactions within the body

    9. Esophagus - a tube which carries food from the mouth to the stomach

    10. Fats - energy nutrients which supply 2.25 times as much energy as carbohydrates.

    11. Gall Bladder - a sac-like structure which serves as a storage compartment for bile

    12. Ileocecal Valve - the valve separating the ileum and the cecum

    13. Ileum - the terminal portion of the small intestine

    14. Jejunum - the intermediate or middle portion of the small intestine

    15. Liver - a gland in the body which performs a number of functions including the

    secretion of bile

    16. Monogastric - having only one stomach (non-ruminant)

    17. Pancreas - a gland which secretes digestive juices necessary for the digestion of fats,

    carbohydrates, and proteins.

    18. Pancreatic Duct - a duct which carries secretions of the pancreas to the small

    intestine

    19. Polygastric - having more than one stomach (ruminants)

    20. Pyloric Valve - the valve separating the stomach and the small intestine

    21. Proteins - the nutrients which supply the building materials from which body tissue

    and many body regulators are made

    22. Rectum - the terminal portion of the large intestine

    23. Saliva - an enzyme secreted from the mouth which begins carbohydrate digestion

  • 31

    24. Villi - tiny finger-like projections located along the wall of the small intestine which aid

    in food absorption

    Footnotes

    1. This document is AS23, one of a series of the Animal Science Department, Florida

    Cooperative Extension Service, Institute of Food and Agricultural Sciences, University of

    Florida. Original publication date March 1997. Reviewed June 2003. Visit the EDIS Web Site

    at http://edis.ifas.ufl.edu.

    2. J.P. Rowan is an Extension Agent - Agriculture, 4-H, Suwannee County; K.L. Durrance is

    Professor, Animal Science Department; G.E. Combs is Professor, Animal Science

    Department, and L.Z. Fisher is Visiting Extension Agent, 4-H Department, Cooperative

    Extension Service, Institute of Food and Agricultural Sciences, University of Florida,

    Gainesville, 32611. Reviewed by Joel Brendemuhl and Robert O. Myer, December, 1996.

    Animal Structure & Function

    The digestive system

    The digestive system is one of the body's major organ systems. All animals - with the

    exception of some endoparasites such as tapeworms - have a digestive system. In this section

    we're going to look at digestion in ruminants, and compare their guts with those of other, non-

    ruminant, mammals.

    What is the rumen?

    The rumen underpins much of our agricultural industry. Without this stomach chamber, cows

    and other ruminants would be much less efficient at turning grass into milk, meat and wool. A

    cow's rumen has a capacity of up to 95 litres and contains billions of bacteria and other

    microbes. These microbes produce the enzymes that digest cellulose into sugars and fatty

    acids for their hosts to use. A less desirable by-product is the potent greenhouse gas,

    methane: a single cow can produce up to 280 litres of methane a day.

  • 32

    The rumen is one of four stomach compartments found in ruminants. Ruminants are animals

    such as cattle, sheep, goats and deer. (In comparison, animals such as pigs, dogs and horses

    have only a single stomach compartment and are called nonruminants, or

    monogastric animals.) The rumen allows grazing animals to digest cellulose, a very common

    carbohydrate in plants.

    Cow's digestive tract, viewed from left side. Image from Nickel et al. 1973

    Three of the four ruminant stomach compartments make up the forestomach. These three

    compartments the rumen, reticulum, and omasum are an extension of the lower

    oesophagus. The rumen, the first of the forestomach chambers, stores and processes plant

    material. It can be a very large structure indeed: in large ruminants, the rumen may store up

    to 95 litres of undigested food (Brooker et al. 2008). The rumen holds plant material until it

    has been broken down, releasing volatile fatty acids, and fermentation of protein and

    carbohydrates has begun.

    Relative size of ruminant stomach chambers. Image from Nickel et al. 1973

  • 33

    Why is the rumen so big? Because most plants, especially grasses, have a high cellulose

    content. A cellulose molecule is a polymer, made up of a long chain of subunits called simple

    sugars, or monosaccharides. Vertebrate animals lack the enzyme, called cellulase, needed to

    break down cellulose and release these sugars. Instead, they use symbiotic anaerobic

    bacteria that do possess the enzyme cellulase. Huge numbers of these bacteria are present in

    the rumen and the reticulum: with each gram of rumen fluid contains 10 - 50 billion bacteria.

    The ruminant digestive system is a very efficient adaptation for extracting as much energy as

    possible from a high cellulose diet. Because food is held in a ruminants gut for a relatively long

    time, symbiotic bacteria are able to grow and release nutrient sources that are not otherwise

    available to vertebrates.

    How does ruminant digestion work?

    Ruminant digestion begins when a cow swallows a mouthful of plants. The food is partially

    chewed and mixed into a bolus with saliva, before being swallowed and passing down the

    oesophagus into the rumen. When ruminants are grazing they tend to swallow their food

    quickly, with only minimal mastication. When the animal is resting after grazing, it regurgitates

    this partially chewed food, rechews it, and then swallows it again (This process is know as

    chewing the cud, or rumination.) Depending on the amount of fibre in their food, cattle may

    spend between 3 6 hours per day chewing their cud (Lofgreen et al 1957).

    The ruminant digestive system

  • 34

    The ruminant digestive tract (University of Minnesota, 1996)

    The Oesophagus

    The oesophagus is a muscular tube that connects the mouth with the forestomach. Food

    passes down the oesophagus by contraction of the muscles in the walls that push the food

    along in a series of waves called peristalsis. The ruminant oesophagus is also capable of

    reversed peristalsis or antiperistalsis. This allows food to be easily regurgitated from the rumen

    and chewed.

    The reticulorumen

    The reticulorumen is composed of the rumen and the reticulum. The reticulorumen is partially

    separated from the rumen by the reticular fold, which allows mixing between the two

    compartments. The contents of the reticulorumen are mixed by contractions of the

    reticulorumen wall. The mixing recirculates undigested material preventing the rumen

    becoming clogged and distributing symbiotic bacteria throughout the ingested material. The

    reticulorumen becomes colonized by symbiotic bacteria in the first week after birth. The

    bacteria help to break down the food and release nutrients by a fermentation process.

    The omasum

    When food has been broken down enough, it passes from the reticulorumen through the

    reticulo-omasal orifice to the omasum. The omasum wall is highly folded, giving a large surface

    area which allows for the efficient absorption of water and salts released from the partially

    digested food. The omasum also acts as a type of pump, moving the food from the

    reticulorumen to the true stomach, the abomasum, where acid digestion takes place.

  • 35

    Section through cow's stomach, viewed from the front. Note the highly folded wall of the

    omasum. Image from Nickel et al. 1973.

    The abomasum

    Unlike a ruminant's three forestomachs, the abomasum is a 'secretory stomach'. This means

    that cells in the abomasum wall produce enzymes and hydrochloric acid which hydrolyse

    proteins in the food and also in the microbes mixed in with the food. Hydrolysis breaks the

    proteins into smaller sub-units (e.g. dipeptides and amino acids), ready for further digestion

    and absorption in the small intestine.

    Because ruminants eat such large amounts of plant material, there is an almost continuous

    flow of food through the abomasum. In comparison, activity in the stomach of monogastric

    animals generally has a circadian rhythm associated with food intake (Djikstra, 2005).

    Cow's stomach viewed from the right-hand side. Image from Nickel et al. 1973

    The small intestine

    The small intestine is an elongated tube running from the abomasum to the large intestine. In

    ruminants, the small intestine is about 20 times longer than the length of the animal - so a cow

    two metres in length would have a small intestine 40 metres long!

    A large proportion of the digestion and absorption of nutrients and water occurs in the small

    intestine. Enzymes in the small intestine break nutrient molecules down into their building

    blocks. Carbohydrates are broken down to simple sugars (monosaccharides), fats into fatty

    acids and monoglycerides, nucleic acids into nucleotides and proteins into amino acids. Some

  • 36

    of these enzymes are on the surfaces of intestinal cells, while others are secreted into the small

    intestine, primarily from the liver and pancreas.

    The small intestine has three regions: the duodenum, the jejunum and the ileum. Partially

    digested food passes from the duodenum along the small intestine by way of peristaltic muscle

    contractions that start at the part where the abomasum is joined to the duodenum.

    Duodenum

    The liver and pancreas both secrete materials through ducts into the duodenum. The common

    bile duct carries bile salts, a greenish fluid that is manufactured in the liver, stored in the gall

    bladder (the ruminant gall bladder does very little to concentrate the bile), and released into

    the duodenum to digest fats. The main pancreatic duct carries digestive secretions, which are

    rich in enzymes and bicarbonate. The bicarbonate neutralises acid from the stomach, which

    would otherwise inactivate many of the duodenum's digestive enzymes.

    Jejunum

    The lining of the jejunum is specialised for the absorption of carbohydrates and proteins. Its

    inner surface is covered in finger-like projections called villi, which increase the surface

    area available to absorb nutrients from the gut contents. The villi in the jejunum are much

    longer than in the duodenum or ileum. The epithelial cells which line these villi possess even

    larger numbers of microvilli, known collectively as the brush border. The combination of villi

    and microvilli increases the surface area of the small intestine, increasing the chance of a food

    particle encountering a digestive enzyme and being absorbed across the epithelium and into

    the blood stream.

    Nutrients can cross the intestine wall by either passive or active transport. In passive transport

    molecules diffuse into the intestinal cells down a concentration gradient (i.e. they move from a

    region where they are in high concentration to an area of low concentration.) The sugar xylose

    enters the blood by passive transport. Active transport requires energy. Amino acides, small

    peptides, vitamins, and most glucose are moved across the intestine lining by active transport.

    Once nutrients have moved through the epithelial cells, they are taken up by either capillaries

    or lacteals and then transported around the body.

  • 37

    Ileum

    The ileum's main function is absorption of vitamin B12, bile salts and whatever nutrients that

    were not absorbed by the jejunum. At the point where the ileum joins the large intestine there

    is a valve, called the ileocaecal valve, which prevents materials flowing back into the small

    intestine.

    The caecum

    The caecum is a pouch connected to the large intestine and the ileum. It is separated from the

    ileum by the ileocaecal valve, and is considered to be the beginning of the large intestine. In

    herbivores the caecum is greatly enlarged and serves as a storage organ that permits bacteria

    and other microbes time to further digest cellulose. Partially digested food enters the caecum

    through the ileoacecal valve, which is normally closed. The valve occasionally opens to allow

    food material in. As there is only one opening to the caecum, digesta must move in and out to

    the caecum through the same opening.

    The large intestine

    In addition to the caecum the large intestine is made up of the ascending colon, transverse

    colon, sigmoid colon, rectum, and anus. Much of the large intestine comprises the colon, which

    is shorter in length but larger in diameter than the small intestine. The colon is involved in the

    active transport of sodium, and absorption of water by osmosis, from the digested material

    that it contains. It also provides an environment for bacteria to grow and reproduce. These

    symbiotic bacteria produce important vitamins such as vitamin K, thiamine, and riboflavin,

    required by the animal for proper growth and health. Finally, the large intestine eliminates

    wastes. Undigested and unabsorbed food, as well as other body wastes, leave the intestine in

    the form of faeces, via the rectum & anus.

    Mycotoxins and rumen function

    It's important for the rumen to function effectively as this results in maximal digestion and

    absorption of nutrients from the animal's feed, and this in turn maximises production of milk,

    meat and wool.

    Grass is often infected with a range of fungi (called endophytes because they live within the

    plant's tissues). Some of these fungi produce a range of toxic chemicals, or mycotoxins, which

  • 38

    can affect the animals that eat the infected grass. Some of these chemicals protect plants from

    insect attack and have little effect on ruminants, while others have marked effects on

    ruminants and other herbivores. A research group based at the University of Waikato has

    studied the impact of mycotoxins on rumen function.

    The team looked specifically at the mycotoxins that result in muscle tremors - such toxins are

    called 'tremorgens'. Tremorgens result in the condition called 'ryegrass staggers', because the

    increased excitability of skeletal muscle causes animals to stagger when they move. These

    toxins can both excite and inhibit smooth muscle contractions. Because the wall of the rumen

    contains smooth muscle tissue, tremorgens have the potential to upset normal rumen function.

    The rumen and the reticulum normally undergo regular rhythmic contractions, which constantly

    mix and stir the contents of both stomach chambers. These contractions are controlled by the

    release of a neurotransmitter chemical called acetylcholine. The research team (McLeay et al.

    1999) studied the impact of several different tremorgens on acetylcholine release, & thus on

    contraction of the muscles in the reticulum and rumen.

    Effect of ergovaline on reticulum contractions.

    They found that at least some of the mycotoxins they tested disrupted muscle contractions in

    the rumen and reticulum. This disruption was sometimes severe and lasted up to 12 hours.

    They concluded that "severe disruption of digestion may occur in animals grazing endophyte-

    infected pasture" (McLeay et al. 1999), affecting both milk/meat production and the animals'

    health. The endophytic fungi also produce another set of compounts - the ergots (similar to

  • 39

    adrenalin) that increase body temperature, induce heat stress, and cause marked effects on

    contractions of the rumen and reticulum (as shown in the above image). This mycotoxin may

    cause scours (diarrhoea) in affected animals.

    Ruminant ecophysiology

    Ruminant animals range in size from 10-600 kg i.e. they are in the mid size-range of vertebrate

    animals. Why are there no ruminants with mass

  • 40

    Digestive tract anatomy of hindgut fermenters

    The stomach and small intestine of hindgut fermenters are similar in form and function to other

    non-ruminant herbivores. Food passes down the oesophagus and into the stomach (which does

    much the same job as the ruminant abomasums). However, monogastric species do not

    regurgitate their cud so all mastication occurs when food is taken into the mouth. Acid and

    enzymatic digestion begins in the stomach, and then partially digested food moves from the

    stomach into the small intestine where further breakdown and absorption of nutrients occurs.

    Like the ruminant system, the small intestine empties its contents into the caecum through the

    ileocecal orifice.

    However, unlike other monogastric herbivores, the caecum and large intestine of hindgut

    fermenters is very large and anatomically complex. The caecum and colon in much the same

    way as the reticulorumen of ruminant animals; slowing down the throughput of food and

    allowing time for the fermentation of cellulose and other plant material by symbiotic bacteria.

    Food leaves the caecum through an opening called the cecocolic orifice and moves into the

    ascending colon. Here regular muscle contractions in the colon wall efficiently mix the digested

    food and allow absorption of water, salts and the nutrients produced through fermentation.

    Food moves only slowly through the colon in horses it takes 2-3 days to pass the length of

    the colon. The lower colon absorbs water and concentrates waste material before this is

    egested as faeces through the rectum.

    Scientists believe that hind-gut fermentation is comparatively less efficient than rumination

    when it comes to extracting nutrients from cellulose-rich plant material. This has driven the

    evolution of a number of behavioural and physical adaptations in monogastric animals that

    maximise the energy they extract from their high-fibre diets.

    Adaptations to high fibre diets

    Horses

    Horses lose a lot of the proteins produced by microbes living in their colons. This is because

    there is no opportunity for the animal to absorb many of the amino acids that the microbes

    generate. To compensate for this, horses consume comparatively more food than ruminant

  • 41

    animals (Duncan et al. 1990). This is helped by the fact food travels faster through a horse's

    digestive system than it does through a cow's gut..

    Rabbits & Hares

    Rabbits and hares (lagomorphs) are all small animals and have a high metabolic rate. This

    means that they need to obtain energy from their food quickly, eating little and often. Rather

    than retaining food in the gut for long periods of time, lagomorphs have evolved another

    process to allow them to extract more nutrients from their food. Plant material is digested in

    the caecum by symbiotic bacteria. This produces volatile fatty acids, which are absorbed

    through the lining of the caecum and provide approximately 30% of the animal's energy needs.

    The caecum contents then pass through the large intestine and are egested as caecal pellets -

    which are promptly eaten by the animal as they leave the anus! (This process is called

    caecotrophy, and usually happens while the animal is in its burrow.) The pellets pass through

    the digestive system a second time, allowing more nutrients to be extracted, and the

    remaining undigested material leaves the body as normal faecal pellets.

    Rodents and omnivores

    Many rodents are either partly or wholly herbivorous. Their generally small size means that

    they have high metabolic energy requirements but little physical capacity for retentive

    digestion of vegetative matter. Therefore, ingestion of plant material is generally restricted to

    high energy sections of the plant such as fruit, nectar and pollen or seeds; or to sections that

    are more easily digestible such as growing tips, seedlings and flowers. This selectivity is also

    practiced by omnivorous animals such as bears, pigs, possums and humans.

    Human digestive system

    An adult human's digestive tract is approximately 6.5 meters long and consists of the pharynx,

    oesophagus, stomach, small intestine and large intestine. Digestion in humans is similar to that

    of other monogastric animals. However, unlike most herbivorous animals, humans have a

    relatively small caecum with a vermiform appendix. The appendix is a blind-ended tube

    connected to the caecum near the point where the small intestine joins the large intestine. The

    appendix appears to be a vestigial structure, reduced in size and function when compared to

    the same structure in other animals. One explanation for this is that the human appendix was

    http://sci.waikato.ac.nz/farm/glossary.html#o

  • 42

    once much larger and served a similar function to the caecum of hind gut fermenters. Over

    time, the diets of early humans changed to include more meat and less high-fibre plant

    material. This meant that there was no selective advantage in having a large appendix (and in

    fact there would be an energy cost in maintaining it), and individuals with a smaller appendix

    became more common over time . Modern humans would have difficulty extracting enough

    nutrients if they were restricted to a diet similar to that of ruminant animals. While we are

    encouraged to eat a diet high in vegetables and fruit, that diet is generally restricted to easy-

    to-digest material that is relatively low in cellulose: fruit, flowers and new stems and leaves. In

    other words, our diet is restricted by our inability to extract sufficient nutrients from high-

    cellulose plant material.

    References

    Brooker R.J., Widmaier E.P., Graham L.E. & Stiling P.D. 2008: Biology. McGraw-Hill. New York.

    Nickel, R., Schummer, A., & Seiferle, E. (1973) The Viscera of the Domestic Mammals. Verlag

    Paul Parey, Berlin.

    Dijkstra J. 2005: Quantitative Aspects of Ruminant Digestion and Metabolism (2nd Edition).

    CABI Publishing. Wallingford.

    Duncan P., Foose T.J., Gordon I.J., Gakahu C.G. & Lloyd M. 1990: Comparative nutrient

    extraction from forages by grazing bovids and equids: a test of the nutritional model of

    equid/bovid competition and coexistence. Oecologia 84: 411-418.

    Lofgreen G.P., Meyer J.H. & Hull J.L. 1957: Behavior patterns of sheep and cattle being fed

    pasture or soilage. Journal of Animal Science 16: 773-780.

    L.M. McLeay, B.L. Smith & S.C. Munday-Finch (1999) Tremorgenic mycotoxins paxilline,

    penitrem and lolitrem B, the non-tremorgenic 31-epilolitrem B and electromyographic

    activity of the reticulum and rumen of sheep. Research in Veterinary Science 66: 119-

    127.

  • 43

    RUMINANT DIGESTION

    D P Visser Department of Agriculture: Livestock Improvement Schemes

    INTRODUCTION

    Ruminant species occupy an important niche in modern agriculture because of their unique

    ability to digest certain foodstuffs, especially roughages, efficiently. In future, the direct

    demands for grain by human beings will make efficient utilization of roughages increasingly

    important. A basic understanding of ruminant digestion is essential for good management and

    sound nutrition of beef cattle.

    THE RUMINANT DIGESTIVE SYSTEM

    The fact that the ruminant can convert roughages, unsuitable for man, into useful products is

    normally taken for granted. What enables them to achieve this? The ruminant has three

    preliminary compartments in its digestive tract before the true stomach, or abomasum. These

    are the reticulum, rumen, and omasum. The rumen, and reticulum are not completely

    separated, but have different functions.

    Reticulum

    The reticulum is a flask-shaped compartment with a "honeycomb" appearance. It moves

    ingested food (ingesta) into the rumen and the omasum. The reticulum also causes the

    regurgitation of ingesta during rumination, and acts as a collection compartment for foreign

    objects.

    Rumen

    The rumen is a large fermentation chamber (in adult cattle its volume is about 125 litres)

    which has a very high population of micro-organisms, mainly bacteria, but also protozoa.

    It is because the bacteria secrete the enzymes necessary for cellulose degradation that

    ruminants are able to utilize roughage. The rumen has a textured surface, lined with

    projections (up to 1 cm long), termed rumen papillae. The rumen, along with the omasum,

  • 44

    absorb the by-products of bacterial fermentation. These by-products are volatile fatty acids

    (VFAs).

    Omasum

    The omasum, or "manyplies", contains numerous laminae (tissue leaves) that help grind

    ingesta. These folds assist in the removal of fluid from the ingesta on their way to the

    abomasum.

    Abomasum

    This compartment corresponds to the stomach of the non-ruminant, and is termed the true

    stomach. It secretes the gastric juices which aid in digestion. The pH of the abomasum is

    normally in the range of 2,0 to 2,5. This low pH facilitates initial protein breakdown, and kills

    the bacteria which have spilled over from the rumen.

    Ruminants differ from monogastric animals in the following important ways :

    They have no upper canine teeth, or incisors, and have long, thick and rough tongues.

    They ruminate. Chewing the cud helps reduce feed particle size, and mixes saliva into

    the feed.

    The ruminant digestive system includes a fermentation chamber, called the rumen. The

    rumen contains micro-organisms which serve some important functions: they make it

    possible for ruminants to digest fibre (especially those in roughages) and they

    synthesize nutrients (such as B complex vitamins), and also essential amino acids which

    become available to the animal when the micro-organisms die, and are digested.

    The ruminant represents a classic example of symbiotic association between

    mammal and micro-organism.

    STOMACH OF THE NEWBORN CALF

    Calves, at birth, are not functional ruminants. At birth, the rumen is very small, and the fourth

    stomach (or abomasum) is by far the largest of the compartments. Digestion in the young calf

    is more like that of a simple-stomached animal than that of a ruminant, and it takes

    approximately three to four months before the calves can be considered actual ruminants.

  • 45

    RUMINANT DIGESTION

    Digestion of carbohydrates

    Plant tissues contain about 75 per cent carbohydrates of one kind or another, and provide the

    primary source of energy for both the ruminal organisms, and the host animal.

    In ruminants the major part of all carbohydrates, including the complex carbohydrates such as

    cellulose and hemi-cellulose, is digested by bacterial action in the rumen.

    During microbial digestion an appreciable amount of methane gas is produced. Approximately

    6 to 7% of the food energy of the ruminant is lost as methane.

    The main end-products of carbohydrate digestion are volatile fatty acids. Of these, acetic acid

    forms the major proportion, followed in declining order by propionic, butyric, and valeric acids.

    The VFAs are absorbed into the bloodstream through the rumen wall, and constitute 66 to

    75% of the energy derived from the feed. Carbohydrates, such as sugars and starches, that

    escape ruminal digestion are digested in the abomasum, and the end-products are absorbed

    through the small intestine.

    Digestion of protein

    Dietary protein, like dietary carbohydrates, is fermented by rumen microbes. The majority of

    true protein, and non-protein nitrogen (NPN), entering the rumen is broken down to ammonia,

    which bacteria require for synthesizing their own body protein. Ammonia is most efficiently

    incorporated into bacterial protein when the diet is rich in soluble carbohydrates, particularly

    starch. Ammonia, in excess of that used by the micro-organisms, is absorbed through the

    rumen wall into the blood, carried to the liver, and converted to urea, the greater part is

    excreted in the urine. Some urea is returned to the rumen via the saliva, and also directly

    through the rumen wall.

    The undegraded true protein fraction, plus the microbial protein, passes from the rumen to the

    abomasum