SISTEM EKONOMI KREATIF NASIONAL - Penilaian Mandiri PMK3I.pdf · periklanan, seni pertunjukan, seni

download SISTEM EKONOMI KREATIF NASIONAL - Penilaian Mandiri PMK3I.pdf · periklanan, seni pertunjukan, seni

of 128

  • date post

    05-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    230
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of SISTEM EKONOMI KREATIF NASIONAL - Penilaian Mandiri PMK3I.pdf · periklanan, seni pertunjukan, seni

SISTEM EKONOMI KREATIF

NASIONAL

2016PANDUAN PENILAIAN MANDIRI KABUPATEN/KOTA KREATIF

SISTEM EKONOMI KREATIF NASIONALPANDUAN PENILAIAN MANDIRI KABUPATEN/KOTA KREATIF

2016Copyright 2016, Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif

Penulis:Tim Penulis Bekraf

Desain Grafis: Brezz Production

Hak cipta dilindungi oleh undang-undangDilarang mengutip atau memperbanyak sebagian

atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis

viii + 120 hlm.; 17,5 cm x 25,5 cm

Isi di luar tanggung jawab Percetakan

iii

PENILAIAN MANDIRI KABUPATEN/KOTA KREATIF INDONESIA 2016

DAFTAR ISIKATA PENGANTAR | v

BAB I PENDAHULUAN | 1

BAB II KONSEPSI PENILAIAN MANDIRI EKONOMI KREATIF | 9

BAB III PEMANFAATAN HASIL PENILAIAN MANDIRI EKONOMI KREATIF | 41

BAB IV METODOLOGI PENILAIAN MANDIRI | 53

BAB V PANDUAN PAPARAN PENILAIAN MANDIRI

KABUPATEN/KOTA KREATIF | 75

LAMPIRAN | 85

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia melalui

Deputi Infrastruktur, membangun Sistem

Ekonomi Kreatif Indonesia untuk memetakan potensi

dan tantangan yang dihadapi dalam pengembangan

ekonomi kreatif di daerah. Hasil pemetaan ini akan

menjadi acuan utama agar arah pembangunan ekonomi kreatif dapat terjaga untuk mencapai target yang telah ditetapkan dalam kerangka

keberlanjutan ekonomi, lingkungan dan sosial.

v

KATA PENGANTAR

Di masa kini, seiring dengan pesatnya pertumbuhan penduduk dunia serta makin terbatasnya sumber daya alam (SDA)

yang menopang kebutuhan manusia,

perekonomian global menghadapi tan

tangan yang semakin berat pula. An

caman terhadap kapasitas dan kualitas SDA terus meningkat di

seluruh dunia. Pola dan perilaku produksi dalam industri turut

berperan dalam mendorong hal tersebut.

Indonesia pun tidak dapat menghindar dari kondisi tersebut. Laju

perekonomian nasional yang terhambat dalam dekade terakhir

ini berimplikasi pada banyak aspek. Oleh karena itu para pelaku

ekonomi di Indonesia perlu meningkatkan daya saingnya agar

mampu bertahan dalam persaingan yang semakin ketat.

vi

S I S T E M E K O N O M I K R E A T I F

Pada saat yang sama, teknologi informasi dan komunikasi

telah berkembang pesat dalam beberapa dasarwarsa terakhir.

Perkembangan ini menjadi salah satu faktor yang mendorong

terjadinya intensifikasi informasi dan kreatifitas yang populer

dengan sebutan ekonomi kreatif. Kegiatan ekonomi kreatif ini

merupakan upaya pembangunan ekonomi secara berkelanjutan

melalui kreativitas dengan iklim perekonomian yang berdaya saing

dan memiliki cadangan sumber daya yang terbarukan.

Di dalam negeri, ekonomi kreatif telah menyumbang sekitar

7-8 persen dari nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia

dalam beberapa tahun terakhir. Tiga tahun ke depan, kontribusi

ekonomi kreatif bagi perekonomian nasional ini diharapkan dapat

ditingkatkan menjadi 12 persen. Tentunya, perlu kerja keras dan

sinergi yang baik dari seluruh pelaku ekonomi kreatif di pusat dan

daerah untuk mewujudkan target tersebut.

Presiden RI Joko Widodo telah menyatakan bahwa ekonomi

kreatif nantinya akan menjadi pilar perekonomian Indonesia

di masa yang akan datang. Presiden juga menggarisbawahi

bahwa kita perlu melakukan lompatan dari perekonomian yang

sebelumnya mengandalkan sumber daya alam, mengandalkan

pertanian, mengandalkan industri, mengandalkan teknologi

informasi, menjadi perekonomian yang digerakkan oleh industri

vii

PENILAIAN MANDIRI KABUPATEN/KOTA KREATIF INDONESIA 2016

kreatif. Untuk itu saat ini kita perlu mengambil risiko inovasi dan

adopsi cepat. Kita perlu meloncat ke dalam petualangan untuk

menciptakan kesuksesan masa depan kita, dengan berbasis

ekonomi kreatif. Potensi kreatif itu harus didorong agar dapat

menjadi daya ungkit utama bagi perekonomian dan peningkatan

kesejahteraan masyarakat.

Peluang yang dimiliki oleh sektor ekonomi kreatif masih sangat

terbuka. Bangsa ini memiliki potensi besar untuk melakukan

transformasi di sektor tersebut. Inovasi dan kreativitas bisa

menawarkan pekerjaan baru, yang berarti mengurangi pengang-

guran, meningkatkan peluang ekspor, yang kemudian berujung

pada meningkatnya kontribusi bagi perekonomian nasional.

Oleh karena itu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia

melalui Deputi Infrastruktur, membangun Sistem Ekonomi

Kreatif Indonesia untuk memetakan potensi dan tantangan yang

dihadapi dalam pengembangan ekonomi kreatif di daerah. Hasil

pemetaan ini akan menjadi acuan utama agar arah pembangunan

ekonomi kreatif dapat terjaga untuk mencapai target yang telah

ditetapkan dalam kerangka keberlanjutan ekonomi, lingkungan

dan sosial.

Saat ini, pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia difokus kan

pada 16 subsektor, yang mencakup aplikasi dan game, arsitektur,

viii

S I S T E M E K O N O M I K R E A T I F

desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion,

film-animasi-video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan,

periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio.

Dalam Sistem Ekonomi Kreatif ini, Bekraf akan menggandeng

pemerintah daerah, baik provinsi, kabupaten dan kota, komunitas,

akademisi, serta pelaku bisnis, untuk bersamasama berperan

aktif dalam mengembangkan kegiatan ekonomi kreatif di daerah

masing-masing. Melalui pengembangan simpul dan jejaring

ekonomi kreatif, setiap daerah diharapkan dapat mengoptimalkan

potensinya.

Sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam kegiatan eko nomi

kreatif di Indonesia merupakan kunci keberhasilan upaya ini.

Oleh karena itu, mari kita bersamasama memanfaatkan Sistem

Ekonomi Kreatif Indonesia untuk melakukan lompatan besar

guna mewujudkan apa yang kita cita-citakan bersama.

Jakarta, Juli 2016

Triawan Munaf

Kepala Badan Ekonomi Kreatif

1

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

I ndustrialisasi telah mendorong terciptanya pola kerja, pola produksi dan pola distribusi yang tidak hanya lebih murah tetapi juga efisien. Perkembangan di bidang teknologi informatika juga semakin memudahkan koneksi antar manusia sehingga menjadikannya lebih produktif. Globalisasi di bidang media dan hiburan telah mengubah karakter, gaya hidup dan perilaku masyarakat menjadi lebih kritis. Fenomena tersebut kemudian berimbas pada kompetisi yang semakin ketat.

Kerasnya persaingan akibat globalisasi di berbagai bidang memaksa setiap negara untuk mencari cara agar bisa memproduksi barang dan jasa yang semurah dan seefisien mungkin. Dalam menekan tenaga kerja murah, faktanya tidak mudah bagi negara-negara di dunia menyaingi Republik Rakyat Tiongkok dengan jumlah penduduknya yang begitu besar. Sementara itu supremasi di bidang industri tidak bisa lagi diandalkan. Oleh karenanya kreativitas sumber daya manusia harus lebih diprioritaskan.

Era ekonomi baru telah dimulai tahun 1990an, di mana terjadi intensifikasi informasi dan kreatifitas yang populer dengan sebutan ekonomi kreatif yang digerakkan oleh sektor industri yang disebut dengan industri kreatif. Ekonomi Kreatif merupakan upaya pembangunan ekonomi secara berkelanjutan melalui kreativitas dengan iklim perekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumber daya yang terbarukan (Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2008).

Adapun sumber daya manusia

yang dimaksud meliputi

aktor-aktor pelaku ekonomi

kreatif yang meliputi lembaga

pemerintah, akademisi,

komunitas, dan pelaku

bisnis yang kemudian

disebut dengan quadruple-helix.

3

PENILAIAN MANDIRI KABUPATEN/KOTA KREATIF INDONESIA 2016

Dari berbagai keanekaragaman potensi ekonomi kreatif di Indonesia, pemerintah membagi ekonomi kreatif dalam 16 subsektor, yaitu kuliner; arsitektur; desain produk; desain interior; desain komunikasi visual; film, animasi dan video; musik; fesyen; seni pertunjukan; games dan aplikasi; kriya; radio dan televisi; seni rupa; periklanan; fotografi; serta penerbitan.

Ekonomi kreatif di Indonesia memiliki peran yang patut diperhitungkan dalam perekonomian nasional.

Selama periode

2010-2014 rata-rata

sumbangannya

mencapai 7,1% terhadap PDB

Indonesia.

Meski kontribusinya masih lebih rendah dibandingkan dengan sektor pertanian, industri pengelolahan, perdagangan dan restoran, ataupun sektor jasa, sumbangan dari ekonomi kreatif telah melebihi sektor pertambangan dan penggalian, keuangan, serta pengangkutan.

Nilai tambah dari sektor ekonomi kreatif meningkat setiap tahunnya. Menurut Ba-dan Pusat Statistik,

nilai tambah yang

dihasilkan

dari sektor ini tak

kurang dari

Rp 716,7triliun pada

tahun 2014.

Angka pertumbuhannya pun

mencapai 5,81%

dan mengungguli pertumbuhan sektor listrik, gas, dan air bersih; pertambangan dan penggalian; pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan; jasa-jasa; dan industri pengolohan.

4

S I S T E M E K O N O M I K R E A T I F

Tahun 2014,

tak kurang dari 12 juta orang tenaga kerja terserap dalam usaha

industri kreatif.

Peran ekonomi kreatif patut s