Sidoarjo bangkit melawan mei 2012

download Sidoarjo bangkit melawan mei 2012

of 46

  • date post

    29-Nov-2014
  • Category

    Documents

  • view

    924
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Penyelesaian kasus Lapindo yang jauh dari kata adil inilah yang melatarbelakangi penulis menulis buku ini. Saat buku ini ditulis, kasus Lapindo hampir memasuki usia ke-6 tahun. Sebuah waktu yang terlalu panjang bagi korban Lapindo untuk menderita dan diperlakukan tidak adil.#Buku ini ditulis dengan menggunakan prinsip-prinsip copyleft bukan copyright. Silahkan mengutip isi buku ini, menggandakan dan mendistribusikannya secara bebas, asal tetap menyebutkan sumbernya dan bukan untuk tujuan komersial.#

Transcript of Sidoarjo bangkit melawan mei 2012

  • 1. Sidoarjo Bangkit Melawan! Air mata itu belum kering.... Luka itu masih mengangga....... Penghinaan itu masih terasa... Dan penindasan itu masih terus dilanjutkan.... Lantas, Apakah kita memilih diam ..... atau bangkit melawan? (Enam Tahun Kasus Lapindo, 29 Mei 2006-29 Mei 2012) Oleh: Firdaus Cahyadi 1
  • 2. Sidoarjo Bangkit Melawan! Oleh: Firdaus Cahyadi Penerbit Daus Institute Buku ini ditulis dengan menggunakan prinsip-prinsip copyleft bukan copyright.Silahkan mengutip isi buku ini, menggandakan dan mendistribusikannya secara bebas, asal tetap menyebutkan sumbernya dan bukan untuk tujuan komersial. 2
  • 3. Ucapan Terimakasih: 1. Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga buku sederhana ini dapat diterbitkan. 2. Muhammad SAW, atas inspirasinya untuk selalu membela orang-orang miskin dan tertindas. 3. Almarhum Bapakku, Suryadi, atas kasih sayangnya dan pengorbanannya dalam membesarkan dan mendidik anaknya. 4. Almarhumah Ibuku, Maryati, atas ketulusan kasih sayang yang diberikannya. 5. Almarhumah nenekku, atas perjuangan dan pengorbanannya sehingga cucunya bisa menyelesaikan kuliah di Surabaya 6. Mbak Ani, Mbak Amri, Mbak Nurul, Mas Sofyan dan Mas Kholik atas dukungan dan pengorbanannya selama ini 7. Istriku, atas dukungan dan doanya 8. Anakku, atas keceriaan dan kecerdasannya 9. Kawan-kawan Walhi, Jatam, SatuDunia dan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Korban Lapindo, atas dukungannya. 3
  • 4. DAFTAR ISIKata Pengantar Penulis ..........................................................................5I. Sidoarjo oh Sidoarjo..............................................7II. Kisah Pilu Mbok Jumik............................................9III. Mbak Pur Terbakar Gas Metan........................................11IV. Bayi itu Bernama Aulia Nadira Putri............................................13V. Gajah Loe Lawan ..................................................................15VI. Antara Mbak Prita dan Mbok Jumik.. ................21VII. Kasus Lapindo=Kasus Politik?.........................................26VIII. PR Lama Anggota Komnas HAM Baru..........................................32IX. Lho Lapindo Ngebor Lagi?............................................................38X. Pembelajaran Singkat Kasus Lapindo...........................................43Bahan Bacaan ......................................................................................44 4
  • 5. Kata Pengantar Penulis 29 Mei 2006 adalah sebuah tanggal yang bersejarah bagiwarga Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Pada tanggal tersebut,semburan lumpur Lapindo menghancurkan kehidupan wargaPorong. Bukan hanya rumah dan tanah yang tenggelam dan hancur.Tapi juga harapan akan kehidupan yang lebih baik di masamendatang. Sejak muncul semburan lumpur misalnya, merekaharus rela menghirup udara beracun dan menggunakan air yangtercemar. Bukan hanya itu, anak-anak pun terpaksa harus putussekolah. Banyak orang tua yang kehilangan pekerjaan. Berbagaiperosalan sosial lainnya pun muncul. Namun, semua persoalan sosial dan lingkungan hidup yangmuncul akibat semburan lumpur itu tidak pernah diperhatikanpemerintah. Pemerintah hanya fokus pada persoalan jual belitanah. Seakan jika persoalan jual beli tanah selesai, selesai pulakasus lumpur Lapindo ini. Penyelesaian kasus Lapindo yang jauh dari kata adil inilahyang melatarbelakangi penulis menulis buku ini. Saat buku ini 5
  • 6. ditulis, kasus Lapindo hampir memasuki usia ke-6 tahun. Sebuahwaktu yang terlalu panjang bagi korban Lapindo untuk menderitadan diperlakukan tidak adil. Penulis berharap, buku kecil ini dapat bermanfaat bagi kitasemua warga Indonesia. Paling tidak buku ini bisa digunakanuntuk melawan penyakit lupa bahwa pernah terjadi tragedikemanusiaan yang terjadi di Porong pada 29 Mei 2006 silam.Dengan tidak lupa, penulis berharap tragedi kemanusiaan lumpurLapindo itu tidak pernah terulang lagi di waktu yang akan datangdan di kawasan lainnya.Jakarta, 18 Mei 2012Firdaus Cahaydi 6
  • 7. I. Sidoarjo oh Sidoarjo... September 2008. Untuk pertama kalinya aku menginjakankaki ke Sidoarjo setelah terjadinya tragedi kemanusiaan semburanlumpur Lapindo, Mei 2006. Aroma busuk begitu menusukhidungku ketika melintas di jalan raya Porong, Sidoarjo. Pada saatitu aku dan kawan-kawan Yayasan SatuDunia hendakmengunjungi Posko Korban Lumpur Lapindo di Porong. Sidoarjo sungguh telah berubah, tidak seperti dulu sebelummuncul semburan lumpur Lapindo. Dulu setiap hari Sabtu-Minggu, sekitar tahun 1998-2001 aku sering mampir ke rumahkakak saudaraku di Sidoarjo. Tidak ada bau busuk. Waktu itumemang belum muncul semburan lumpur Lapindo. Sidoarjo di tahun 1998-2001, adalah kota yang hidup.Warganya ramah. Dan tentu saja makanannya enak. Kurang pasrasanya jika tidak mencicipi tempe penyet bila datang ke Sidoarjo.Di Porong, Sidoarjo, sebelum muncul semburan lumpur, tiapmalam terlihat kesibukan ibu-ibu yang sedang membimbinganaknya belajar. Selain itu hampir setiap malam terdengar suaraorang mengaji. 7
  • 8. Namun itu dulu. Kini, setelah muncul semburan lumpursemua seperti berubah. Kini, Porong seperti kota mati. Rumah-rumah nampak ditinggalkan penghuninya. Puing-puing rumahberserakan. Tak terbanyangkan sebelumnya. Nampak pula atap-atap rumah yang tenggelam oleh lumpuryang mulai mengering. Perih rasanya melihat pemandangan itusemua. Andai tragedi itu menimpa aku dan keluarga, bisa jadi akutidak setegar dan sesabar saudara-saudara yang kini menjadikorban lumpur. Bayangkan, sedikit demi sedikit uang yang merekakumpulkan untuk membeli rumah dan tanah, tiba-tiba harushilang dalam sekejap. Waktu pun berlalu. Kini ancaman terhadap kehidupan wargaPorong, Sidoarjo bukan hanya kehilangan rumah dan tanah.Dampak buruk semburan lumpur Lapindo kian meluas. Udara puntelah tercemar. Padahal kita sebagai manusia tidak bisa memilihudara yang kita hirup. 8
  • 9. II. Kisah Pilu Mbok Jumik Minggu, 30 November 2008, Mbok Jumik mengembuskannapas terakhir. Ia meninggal dengan tetap menyandang statussebagai korban lumpur. Sebelumnya, tepatnya pada Juni 2008, Mbok Jumik mulaimerasakan sakit luar biasa di perutnya. Pada saat itu keluargaMbok Jumik membawanya ke RSUD Sidoarjo. Sekitar dua mingguMbok Jumik dirawat di rumah sakit. Namun, karena tak mampumembiayai ongkos rumah sakit, keluarga Mbok Jumikmembawanya pulang ke pengungsian korban lumpur di Pasar BaruPorong. Hingga pada akhirnya Mbok Jumik meninggal dipengungsian. Dua tahun kemudian, di awal tahun 2010, mantan petinggiGroup Bakrie, Aburizal Bakrie mengatakan bahwa korban lumpurLapindo telah menjadi milyader. Ical, panggilan akrab AburizalBakrie mengatakan bahwa warga yang menjadi korban semburanlumpur Lapindo telah mendapat uang pengganti dan bantuandalam nilai di atas rata-rata. 9
  • 10. Judul berita di portal itu pun berbunyi, Ical: Korban LumpurLapindo Jadi Miliarder1.Menurut Ical, dari 12 ribu kepala keluargakorban semburan lumpur, sebanyak 11.920 di antaranya sudahselesai. Padahal jika korban lumpur Lapindo telah menjadi milyader,tentu Mbok Jumik tidak akan memilih dirawat di pengungsiandengan pengobatan tradisional. Keluarga Mbok Jumik tentu akanmemilih dirawat di rumah sakit, paling tidak RSUD Sidoarjo.1 http://www.detiknews.com/read/2011/01/25/183531/1554443/10/ical-korban-lumpur-lapindo-jadi-miliarder 10
  • 11. III. Mbak Pur Terbakar Gas Metan Naas benar nasib Mbak Pur, pang