Siap Print Dekonstruksi

download Siap Print Dekonstruksi

If you can't read please download the document

  • date post

    27-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    239
  • download

    15

Embed Size (px)

Transcript of Siap Print Dekonstruksi

BAB I

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Berbicara tentang dunia arsitektur dari masa ke masa selalu ramai dan berkembang begitu cepat mengikuti kemajuan teknologi dan industri. Setiap saat selalu muncul satu hasil desain yang baru dan selalu ingin tampil berbeda dari arsitektur sebelumnya. Arsitektur yang selalu berbicara dan berada dalam bentuk dan ruang seringkali tidak dapat terlepas dari aturan-aturan atau khasanah-khasanah yang telah ada dalam alam ini.

Perkembangan dunia arsitektur sejak jaman primitif sampai saat ini tercatat beberapa perkembangan dari dunia arsitektur itu sendiri. Dimulai dari arsitektur primitif, arsitektur Yunani Romawi, arsitektur Klasik, arsitektur Neo Klasik, arsitektur Modern, arsitektur Post Modern dan sampai pada perkembangan yang terakhir yaitu arsitektur Dekonstruksi. Perkembangan arsitektur yang selalu berubah dari masa kemasa disebabkan oleh adanya kritik kritik dari para pakar arsitektur yang selalu dan senantiasa tidak pernah merasa puas dari sebuah karya arsitektur yang ada. Tidak ada satu karya dari anak manusia yang abadi dan sempurna, selalu ada kekurangan dan kelemahan-kelemahan.

Dalam perkembangan dunia arsitektur beberapa tahun belakangan ini muncul satu pergerakan arsitektur ( movement ) baru yang disebut juga dengan dekonstruksi atau arsitektur dekonstruksi. Pergerakan yang berasal dari kata deconstructivism ini diperkenalkan pertama kali oleh Joseph Giovannini, seorang kritikus arsitektur pada tahun 1978 di Harian The New York Times. Kemudian dikembangkan lagi oleh filsuf Jerman Nietzche dan filsuf Perancis Jaeques Derrida sebagai kritik sastra dalam metode membaca. Dan selanjutnya dikembangkan oleh arsitek Peter Eisenmen sebagai cikal bakal dari gagasan dan ide perancangan arsitektur.

Yang sangat menarik perhatian dari arsitektir dekonstruksi adalah bentuknya yang bagi kebanyakan orang dianggap aneh, dan memberikan kebebasan penuh kepada arsitek untuk mengembangkan ide dan kreatifitasnya tanpa terikat oleh norma- norma atau kaidah- kaidah arsitektur yang telah ada, sehingga melahirkan bentuk- bentuk arsitektur yang asimetris dengan tampilan yang abstrak. Ide dan kreatifitas perancang/arsitek sangat diutamakan dalam menghadirkan sebuah karya arsitektur dekonstruksi.

Perkembangan arsitektur dekonstruksi di dunia arsitektur hingga kini masih lamban dan sering mengalami kontradiksi, namun sudah banyak hasil desain yang telah diwujudkan dalam bentuk fisik. Bangunan yang pertama kali mengikuti gerakan ini adalah California Aerospace Museum di Los Angeles, Amerika Serikat yang dibangun pada tahun 1982 1984 oleh arsitek Amerika Frank Gehry dan telah banyak mendapatkan kajian dan forum-forum diskusi. Bangunan museum yang merupakan hasil rangcangan Frank Gehry tersebut, kemudian diikuti oleh karya-karya para arsitek Avant Garde lainnya seperti Bernard Tscumi, Zaha Hadid, Daniel Libeskind dan Coop Himmelblau. Mereka melakukan gerakan dengan mengadakan pameran karya-karyanya di Museum of Modern Art ( MOMA ) di Tate Galeri, London pada tahun 1988. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan keberadaan mereka itu, telah banyak mengundang perhatian dan disambut baik oleh arsitek negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa Barat, dan Jepang. Di Indonesia gerakan ini kebanyakan masih berupa academie exercise diatas kertas saja yang dilakukan didalam studi perancangan, namun yang sudah menerapkannya untuk bangunan-bangunan komersil maupun rumah tinggal. Banyak arsitek yang menilainya sebagai karya yang tidak serius yang penuh dengan lelucon, sehingga jarang yang bersedia menggunakan aliran ini.

Dekonstruksi saat ini sedang banyak dipertentangkan antara yang pro dan kontra, yang juga dialami oleh aliran pergerakan arsitektur sebelumnya, seperti purism, dadaism, expresionism, contructivism, neo plasticism, arsitektur modern dan sebagainya. Mereka yang tidak setuju menganggap aliran ini menggelikan, ironis, skeptis, play full dan tidak relefan. Bahkan ada yang mengancam sebagai pelanggaran terhadap hal-hal yang tabu atau the breaking of tabors, menghancurkan tatanan yang sudah mapan atau the dis-estabilisment of the estabilisment dan kecaman-kecaman lainnya. Aliran ini dicemooh karena tidak terpusat ( decentred ) tidak pada tempatnya ( dislocated ) serta mendapat julukan sebagai anti seperti anti gravitasi, anti klasik, anti memori, anti benda, anti aktivitas, dan lainnya. Dan masih banyak lagi lontaran-lontaran yang pada dasarnya menganggap aliran ini nihilism atau kosong melompong. Dekonstruksi juga dianggap tidak nampak ( invisible ) dan karya merupakan upaya mewujudkan ide-ide yang terwujud ( building anbuilding ideas ). Yang tersisa hanyalah empty man atau orang yang merasa kosong dalam kesadaran. Untuk yang mendukung aliran ini berpendapat, aliran ini dimaksudkan agar terjadi dialek oposisi ( dialectical opositions ) antara figur dan ground, antara ornamen dan struktur, antara bentuk dan fungsi, dan sebagainya. Dialek ini digambarkan sebagai berikut : kalau seseorang menertawakan sesuatu, maka dalam dirinya akan timbul kegairahan sehingga dia akan berusaha mencari jawabannya.

Dekonstruksi juga disebut post structuralism, suatu kelanjutan dari teori structuralism, yang memberikan arti dan penjelasan pada benda dalam struktur oposisi (structured oposition). Aliran ini terletak pada posisi struktur metafisik barat ( western methaphysics ), yang mencakup perbedaan antara bentuk dan isi , alam dan budaya, gagasan dan persepsi, habitat dan kejadian, pikiran dan badan, teori dan praktek, pria dan wanita, bicara dan tulisan, dan sebagainya. Kedua pasangan ini akan selalu menguasai alam kehidupan manusia masalah yang timbul kemudian adalah bagaimana, keduanya diutarakan dan didudukan pada posisi dan porsi yang sebenarnya.

Didalam dunia seni arsitektur, aliran dekonstruksi tidak hanya merusak atau mengaburkan nilai nilai non material tradisional saja, termasuk teori, budaya, dan filsafat tetapi juga nilai materialnya, seperti sistem politik, ekonomi, pendidikan, teknologi, dan sebagainya. Gerakan arsitektur dekonstruksi berpendapat bahwa tidak ada faktor utama maupun pendukung dalam sebuah desain arsitektur, semua mempunyai posisi yang sama dan diperlakukan sama. Dekonstruksi tidak setuju dengan faktor faktor penentu yang membatasi dalam mendesain, seperti : economic determinants, culture determinants, politic determinants dan sebagainya, yang ditekankan adalah bagaimana memberikan pertanyaan dan tantangan tentang fisafat, hakekat, atau tentang arsitektur itu sendiri, dekonstrusi bukan hanya berarti sekedar memindahkan arti struktur dari kata de dan construction atau menghilangkan dan mengaburkan bentuk struktur saja, juga tidak hanya menghancurkan fisik budaya, dan teori yang sudah mapan saja melainkan berusaha untuk memberikan arti padanya. Masa lalu tidak semata mata dilupakan saja, namun upaya untuk mengingat kembali tentang teori teori arsitektur (secara sadar). Sehingga apapun yang ada pada aliran ini harus selalu dapat terbaca dan dapat dikomunikasikan dengan baik.

Olah batang dan lempeng dalam rancangan arsitektur dekonstruksi yang menjadi tema dalam pembahasan ini dapat terlihat dan terealisasi dari objek- objek kajian yang dipilih yaitu objek arsitektur dekonstruksi,

Kiprah para arsitek dekonstruksi sudah banyak mewarnai kota kota di Amerika Serikat, Eropa Barat, dan Jepang. Di Indonesia perkembangan arsitektur dekonstrusi sudah mulai diterapkan pada bangunan komersil seperti contohnya : Kompleks Citra Niaga di Samarinda, dan terakhir dapat kita lihat pada bangunan Flobamora Mall di Kupang semoga dalam perkembangan kedepan arsitektur dekonstruksi dapat diterima dan dikembangkan dengan baik dan sesederhana mungkin.

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, dimana teknik olah geometri arsitektur dekonstruksi batang dan lempeng dalam rancangannya tidak dapat dimengerti dan diterima apabila melihat tampilannya semata yang sarat dengan permainan bentuk dan struktur ,sehingga menimbulkan banyaknya tanggapan bahwa arsitektur dekonstruksi tidak relefan, sembrawut dan tidak pada tempatnya.

Olah batang dan lempeng dalam arsitektur dekonstruksi sangat berbeda dari olah batang dan lempeng pada arsitektur modern, dimana olahan batang maupun lempeng dihadirkan ingin menegaskan bahwa tidak ada yang utama dan pendukung, juga ingin membuat sesuatu yang tidak lazim menjadi lasim, yang tidak biasa menjadi biasa, yang dianggap tabu menjadi wajar dan bahwa semua mempunyai kedudukan yang sama, sehingga perlu diperlakukan sama.

Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan masalah yang timbul yang dipertentangkan terhadap arsitektur dekonstruksi (khususnya batang dan lempeng) adalah :

Teknik olah geometri batang dan lempeng arsitektur dekonstruksi dianggap menggelikan, ironis, skiptis, playfull dan tidak relefan.

Kurang adanya pengetahuan tentang bagaimana teknik olah batang dan lempeng pada arsitektur dekonstruksi.

1.3 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan identifikasi masalah diatas maka dapat disimpulkan satu rumusan masalah sebagai berikut :

Bagaimana strategi dan teknik olah geometri batang dan lempeng (bidang dan garis) dalam rancangan arsitektur khususnya arsitektur dekonstruksi ?

1.4 TUJUAN DAN SASARAN STUDI

1.4.1 Tujuan studi

Tujuan yang ingin dicapai adalah :

Untuk dapat mengetahui dan memahami penerapan prinsip prinsip, falsafah, strategi dan teknik olah geometri lempeng dan batang dari arsitektur dekonstruksi secara benar dan sesuai.

1.4.2 Sasaran studi

Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah :

1. dapat menerapkan prinsip dan falsafah dekonstruksi serta strategi dan teknik olah geometri batang dan lempeng (bidang dan garis) kedalam sebuah karya / desain arsitektur secara te