Setrategi dewan perwakilan rakyat kabupaten aceh tengah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat...

download

of 29

Embed Size (px)

description

hidayat gayo

transcript

  • 1. SETRATEGI DEWAN PERWAKILAN RAKYAT KABUPATEN ACEH TENGAH1UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAMPEMBAHASAN PEMBENTUKAN QANUN(Studi kasus di DPRK Aceh Tengah)PeroposalDiSUNOleh:HIDAYAT100301044Program Studi: Imu Administrasi NegaraUNIVERSITAS GAJAH PUTIHFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK2014

2. 2KATA PENGANTARDengan mengucapkan syukur Alhamdulillah penulis persembahkankehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan karunianya penulis akhirnyadapat menyelesaikan Proposal ini, Shalawat dan salam kepangkuan NabiMuhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang telah mengubahperadaban dari alam kebodohan kealam yang berilmu pengetahuan, Adapunyang menjadi judul Proposal penulis adalah SETRATEGI DEWANPERWAKILAN RAKYAT KABUPATEN ACEH TENGAH UNTUKMENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBENTUKANQANUN.Dalam penulisan ini, Penulis telah banyak mendapatkan bimbingandan bantuan dari berbagai pihak baik langsung atau tidak, Maka padakesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnyakepada: Ibu dan (ayah), abang adik kaka beserta sanak pamili semuanya. Kepada teman teman semuanya ruang C7b yang telah banyakmemberikan saran dalam penulisan peroposal ini. Dan kepada para dosen-dosen yang telah memberikan banyak teori-teoritentang bagai mana menyelesaikan peroposal ini.Takengon, 25 April 2014PenulisHIDAYAT 3. 3BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar Belakang PermasalahanPentingya setrategi DPRK dalam meninkatkan Partisipasi masyarakatuntuk pembuatan qanun agar terwujutnya Akutabilatas demi mewujutkanpemeritahan yang good governance dalam lingkungan Kabupaten AcehTengah berkaitan dengan pokok pokok permasalahan yang di ajukan olehpenulis dalam penelitian di DPRK Aceh Tengah agar dapat memberikanketerangan lebih dan menambah wawasan pula bagi penulis sendiri, demipembangunan kabupaten aceh tengah.Partisipasi masyarakat dalam pembangunan ( Pasal 2 ayat (1) huruf hQanun Aceh Nomor 3 Tahun 2007 Tentang Tata Cara pembentukan qanun)merupakan salah satu syarat mutlak dalam era reformasi ini. Pengabaianterhadap faktor ini telah menyebabkan terjadinya (deviasi) penyimpangan dariperaturan yang cukup Penting terhadap tujuan pembangunan itu sendiri yaitukeseluruhan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Untuk itulahpelibatan dalam proses legislasi atau penyusunan produk hukum wajibterjadinya pelibatan masyarakat di dalamnya.Proses pelibatan partisipasi masyarakat dalam implementasi programLegislasi Daerah terbukti telah berhasil membawa perubahan mendasardalam peningkatan kesadaran hukum masyarakat. Pembangunan hukumlebih berorientasi pada masyarakat, yang tercermin melalui pengoptimalanketerlibatan masyarakat dalam rangkaian penyusunan Peraturan Daerah, diAceh di kenal dengan Qanun. Ini perlu diyakini oleh aparatur Pemerintah Baik 4. Provinsi maupun Kabupaten/Kota sebagai strategi yang tepat untukmenggalang memperjuangkan kesadaran masyarakat terhadap ketaatan4pelaksanaan ketentuan-ketentuan hukum.Qanun dibentuk berdasarkan asas pembentukan peraturan perundang-undanganyang meliputi kejelasan tujuan, kelembagaan atau organpembentuk yang tepat, kesesuaian antar jenis dan materi muatan,keterlaksanaan, kedayagunaan dan kehasilgunaan, kejelasan rumusan danketerbukaan.Dalam penjelasan Qanun Nomor 3 Tahun 2007 disebutkan bahwa untukmewujudkan pembangunan hukum dan tertib pemerintahan di Acehdiperlukan pembentukan peraturan perundang-undangan sejak perencanaansampai dengan pengundangan.Dalam Pasal 1 angka 14 Qanun No.3 Tahun 2007 disebutkan QanunKabupaten/ Kota adalah Peraturan Perundang-undangan sejenis peraturandaerah kabupaten/kota yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan dankehidupan masyarakat kabupaten/kota di Aceh.Qanun dibentuk berdasarkan asas pembentukan Paraturan Perundang-undanganyang meliputi kejelasan tujuan, kesesuaian antara jenis dan materimuatan, keterlaksanaan, kedayagunaan, kehasil gunaan, kejelasan rumusan,keterbukaan dan keterlibatan publik (Pasal 2 Ayat (1) Qanun Aceh No.3Tahun 2007). Pembentukan Qanun tersebut tidak boleh bertentangan dengansyariat Islam, kepentingan umum, qanun lainnya dan peraturan perundang-undanganyang lebih tinggi (Pasal 2 Ayat (2) Qanun Aceh No.3 Tahun 2007). 5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang PembentukanPeraturan Perundang-undangan merupakan landasan yuridis pembentukanperaturan perundang-undangan, baik di tingkat pusat maupun daerah.Undang-Undang ini memuat secara lengkap pengaturan baik menyangkutsistem, asas, jenis dan materi muatan, proses pembentukan yang dimulai dariperencanaan, persiapan, teknik penyusunan, perumusan, pembahasan,pengesahan, pengundangan, dan penyebarluasan. Tertib pembentukanperaturan perundang-undangan, baik di tingkat pusat maupun daerah, diatursesuai dengan proses pembentukan dari jenis dan hirarki serta materi muatan5peraturan perundang-undangan (Andi Mattalatta,2007:19).Dalam Pasal 12 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 menggariskanmateri muatan Qanun adalah seluruh materi muatan dalam rangka:a. penyelenggaraan otonomi dan tugas pembantuan;b. menampung kondisi khusus daerah; sertac. penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebihtinggi.Dari segi materi muatan, Qanun adalah peraturan yang paling banyakmenanggung beban. Sebagai peraturan terendah dalam hierarki peraturanperundang-undangan.Pasal 239 Ayat (3) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentangPemerintahan Aceh menyebutkan bahwa :a. Rancangan qanun dapat berasal dari DPRA, Gubernur dan DPRK,atau Bupati/Walikota. 6. b. Apabila dalam satu masa sidang, DPRA atau Gubernur dan DPRKatau bupati/walikota menyampaikan rancangan qanun mengenaimateri yang sama, maka yang dibahas adalah rancangan qanunyang disampaikan oleh DPRA/DPRK, sedangkan rancangan qanunyang disampaikan Gubernur dan Bupati/Walikota digunakan sebagai6bahan untuk dipersandingkan.c. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkanrancangan qanun yang berasal dari Gubernur dan Bupati/Walikotadiatur dengan qanun.Untuk melaksanakan ketentuan tersebut maka dikeluarkan Qanun AcehNomor 3 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan Qanun, inimerupakan acuan yang harus diikuti oleh Pemerintah Aceh, Kabupaten/Kotadalam melahirkan qanun, rancangan qanun atas usulan legislatif ataueksekutif yang diusulkan dari SKPD, harus melibatkan masyarakat.Pasal 238 Undang-Undang Pemerintah Aceh menyebutkan bahwa :a. Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tulisandalam rangka penyiapan dan pembahasan rancangan qanun.b. Setiap tahapan penyiapan dan pembahasan qanun harus terjaminadanya ruang partisipasi publik.Selain itu penyusunan qanun yang berkualitas dalam Pasal 2 Ayat (1)Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2007 disebutkan bahwa qanun dibentukberdasarkan asas pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Asaspembentukan peraturan perundangan-undangan tersebut meliputidiantaranya adalah keterbukaan dan keterlibatan publik. Keterlibatan publik 7. dalam proses pembentukan qanun tersebut lebih lanjut dijelaskan dalam7Pasal 23 Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2007 sebagai berikut:a. Setiap tahapan penyiapan dan pembahasan qanun harus terjaminadanya ruang partisipasi publikb. Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tulisandalam rangka penyiapan dan pembahasan rancangan qanun.c. Masyarakat dalam memberi masukan harus menyebutkan identitassecara lengkap.d. Masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memuat pokok-pokokmateri yang diusulkan.e. Masukan dari masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2)diagendakan dalam rapat penyiapan atau pembahasan rancanganqanun.Keterlibatan partisipasi masyarakat dalam pembentukan qanun inisesuai dengan yang disebutkan oleh Friedrich Karl von Savigny yangmenyatakan bahwa hukum itu tidak dibuat melainkan tumbuh danberkembang bersama-sama dengan masyarakat. Hukum bukan merupakankonsep dalam masyarakat karena hukum tumbuh secara alamiah dalampergaulan masyarakat yang mana hukum selalu berubah seiring perubahansocial (Walter Friedmann,1994:54) Sehingga hukum yang baik adalah hukumyang hidup dalam masyarakat (living law), dengan kata lain adalahpembentukan hukum tersebut haruslah dimulai dari bawah (buttom up) yaitusesuai dengan aspirasi dari masyarakat melalui ruang partisipasi publik. 8. 81.2. Rumusan MasalahBerdasarkan urayan di atas, maka dapat di identifikasikan masalahnyasebagai berikut:1. Apakah keterlibatan masyarakat dalam pembentukan rancanganqanun sudah sesuai dengan ketentuan Perundang-undangan yangberlaku?2. Kendala apa saja yang dihadapi oleh Dewan Perwakilan RakyatKabupaten Aceh Tengah terhadap partisipasi masyarakat dalamproses pembentukan Qanun1.3. Tujuan PenelitianAdapun Tujuan penulisan Peroposal ini adalah :1. Untuk mengetahui tentang pelibatan masyarakat terhadapPembentukan Qanun2. Untuk memahami kendala apa saja dalam pelibatan masyarakatterhadap Pembentukan Qanun1.4. Manfaat PenelitianHasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan kegunaan,baik secara teoritis maupun secara praktis:1. Secara teoritisHasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan dan bahan informasi, gunamengetahui lebih lanjut tentang bagaimana SETRATEGI DEWANPERWAKILAN RAKYAT KABUPATEN ACEH TENGAH UNTUKMENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBAHASANPEMBENTUKAN QANU 9. 92. Secara praktisHasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan atau dasar pengambilankeputusan/kebijakan bagi pemerintahan DPRK dalam menentukan implementasikebijakan yang diambil guna mendukung dalam Meningkatkan PartisipasiMasyarakat.1. memberikan landasan yang lebih baik untuk pembuatan kebijakanpublik,2. memastikan adanya implementasi yang lebih efektif karena wargamengetahui dan terlibat dalam pembuatan kebijakan publik3. meningkatkan kepercayaan warga kepada eksekutif dan legislatif4. efisiensi sumber daya, sebab dengan keterlibatan masyarakatdalam pembuatan kebijakan publik dan mengetahui kebijakanpublik, maka sumber daya yang digunakan dalam sosialisasikebijakan publik dapat dihemat.1.4. Metodelogi PenulisanUntuk memperoleh hasil yang tepat, kiranya metodelogi penu