SENTUHAN INDUSTRI VARIATIF UNTUK MENGEMBALIKAN KEJAYAAN REMPAH INDONESIA

download SENTUHAN INDUSTRI VARIATIF UNTUK MENGEMBALIKAN KEJAYAAN REMPAH INDONESIA

of 27

  • date post

    29-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    620
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of SENTUHAN INDUSTRI VARIATIF UNTUK MENGEMBALIKAN KEJAYAAN REMPAH INDONESIA

SENTUHAN INDUSTRI VARIATIF UNTUK MENGEMBALIKAN KEJAYAAN REMPAH INDONESIA (Tugas Akhir Mata Kuliah Teknologi Minyak Atsiri, Rempah dan Fitofarmaka)

Oleh Muhammad Ariadi E1F107005

TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2009

SENTUHAN INDUSTRI VARIATIF UNTUK MENGEMBALIKAN KEJAYAAN REMPAH INDONESIA Rempah Indonesia. Indonesia terkenal dengan negara yang kaya akan hasil rempah-rempah sampai-sampai disebut dengan Spice Island Country, maka tidak heran jika negara tropis ini menjadi rebutan bangsa lain. Tanaman rempah tersebar di seluruh wilayah nusantara, yang mana terdapat 40 jenis dari 100 jenis tanaman rempah yang ada di dunia (Datin, 2007). Rempah-rempah merupakan barang dagangan paling berharga pada zaman prakolonial. Banyak rempahrempah dulunya digunakan dalam pengobatan. Rempah-rempah merupakan salah satu alasan mengapa penjelajah Portugis Vasco Da Gama mencapai India dan Maluku. Rempah-rempah ini pula yang menyebabkan Belanda kemudian menyusul ke Maluku (Hakim, 2008). Namun, ketika kemerdekaan sudah dinikmati selama 62 tahun, kejayaan rempah-rempah malah memudar. Pemerintah mengakui hingga saat ini daya saing rempah Indonesia masih sangat rendah dibanding negara-negara tetangga di kawasan ASEAN. Menteri Pertanian, Anton Apriyantono mengatakan, Indonesia belum mampu bersaing dengan negara lain seperti India, Malaysia, Thailand maupun Vietnam yang relatif lebih baru dalam mengenal rempah. Kini kita masih harus mengimpor beberapa jenis rempah untuk memenuhi konsumsi dan bahan baku industri dalam negeri. Permintaan produk rempah semakin meningkat baik untuk konsumsi dalam negeri maupun luar negeri dalam volume dan persyaratan mutu. Namun, produksi, produktivitas dan mutu rempah Indonesia justru belum mampu memenuhi tuntutan tersebut (Anonim1, 2007). Anton mengatakan, dari komoditas rempah seperti lada, pala, vanili dan kayu manis diperkirakan Indonesia memperoleh devisa sebanyak 300 juta dolar AS per tahun. Khusus untuk cengkeh, tambahnya, bahkan pada 2006 mampu menghasilkan cukai rokok sebesar Rp37,7 triliun (Anonim1, 2007). Pengembangan rempah nasional tidak secepat komoditas utama perkebunan lain seperti kelapa sawit, karet dan kakao, bahkan cenderung mendapat tekanan dan saingan dari negara produsen rempah lain. Posisi lada Indonesia saat ini, menurut dia, menduduki urutan ketiga setelah Vietnam dan

India, sementara pala disaingi Grenada, bahkan untuk vanili menunjukkan kemunduran dengan penurunan harga sejak 2003 sedangkan cengkih ada kecenderungan Indonesia kembali mengimpor jika tidak dilakukan upaya pembenahan. Dari segi mutu, produk rempah Indonesia masih tetap sebagai produk primer sementara diversifikasi produk belum berkembang. Oleh karena itu, perkembangan rempah ke depan perlu mendapat perhatian serius (Anonim1, 2007). Departemen Pertanian (Deptan) siap mengembangkan lima komoditas rempah unggulan, yakni lada, cengkeh, pala, vanili, dan kayu manis hingga tahun 2025. Dalam laporan Ditjen Perkebunan bertajuk "Kebijakan Pengembangan Rempah Indonesia", disebutkan saat ini produktivitas rempah Indonesia sangat rendah yakni 40--60% dari potensi yang ada. Rendahnya produktivitas ini karena sebagian tanaman rusak atau tua dan tidak produktif serta belum menggunakan benih unggul dan permodalan petani yang kurang sehingga mereka tidak bisa melakukan pemeliharaan dengan baik (Lampung Post, 2007). Upaya pengembangan rempah tersebut terutama untuk meningkatkan produktivitas. Pengembangan rempah tersebut terdiri dari intensifikasi dan rehabilitasi (peremajaan) tanaman yang terbagi dalam dua periode yakni 20072010 dan 2011-2025. Selama periode 2007-2010, pengembangan lada direncanakan seluas 100 ribu hektare (ha), cengkeh 160 ribu ha, pala 20 ribu ha, vanili 12 ribu ha, dan kayu manis 24 ribu ha. Untuk mencapai target produksi tersebut, beberapa langkah yang akan dilakukan yakni pembangunan dan pengembangan sumber benih yang disesuaikan dengan keunggulan lokal, kemudian pengendalian hama, penyakit, dan penerapan praktek pertanian yang baik atau good agriculture practices (GAP) (Lampung Post, 2007). Prospek Industri Oleoresin. Indonesia telah lama dikenal sebagai negara penghasil rempah-rempah yang sangat berguna sebagai pemberi citarasa atau bumbu, di samping itu banyak juga digunakan sebagai jamu dan kosmetik serta dunia kesehatan. Sifat tersebut disebabkan kandungan zat aktif aromatis di dalamnya yang apabila diekstrak dengan pelarut tertentu atau dengan penyulingan, akan menghasilkan oleoresin. Oleoresin merupakan campuran antara resin dan minyak atsiri yang dapat diekstrak dari berbagai jenis rempah. Baik

rempah yang berasal dari buah, biji, daun, kulit maupun rimpang, antara lain jahe, lada, cabe, kapulaga, kunyit, pala, vanili dan kayu manis (Abubakar et al, 2007). Oleoresin juga dapat diperoleh dari hasil samping dan limbah pengolahan rempah-rempah, ataupun ampas sisa penyulingan minyak atsiri. Oleh karena itu pengolahan oleoresin sebaiknya merupakan usaha terpadu dengan pengolahan minyak atsiri. Di samping itu bila ekstraksi oleoresin dilakukan sesudah penyulingan minyak atsiri, maka kehilangan minyak atsiri pada waktu proses penguapan pelarut yang masih terkandung dalam oleoresin dapat ditekan (Abubakar et al, 2007). Indonesia merupakan salah satu negara produsen dan pengekspor rempahrempah utama di dunia. Oleh karena itu, bahan baku oleoresin, baik berupa rempah-rempah, hasil samping ataupun limbah pengolahan rempah-rempah, tersedia cukup melimpah dan kontinyu. Potensi ini memungkinkan dikembangkannya industri oleoresin di Indonesia, meskipun untuk usaha tersebut masih diperlukan studi lebih lanjut mengenai potensi bahan baku, baik jenis, kuantitas maupun kualitasnya, aspek teknik produksi dan alih teknologi, aspek manajerial dan tenaga kerja, aspek pemasaran serta kaitannya dengan perkembangan perekonomian setempat (Abubakar et al, 2007). Sampai saat ini penggunaan oleoresin sangat luas. Oleoresin dan minyak atsiri rempah-rempah banyak digunakan dalam industri makanan, minuman, farmasi, flavor, parfum, pewarna dan lain-lain. Oleoresin dalam industri pangan banyak digunakan sebagai pemberi cita rasa dalam produk-produk olahan daging, ikan dan hasil laut lainnya, roti, kue, puding, sirup, saus dan lain-lain. Penggunaan oleoresin yang makin meluas telah mengakibatkan diproduksinya oleoresin dalam berbagai bentuk olahan yang siap pakai (Abubakar et al, 2007). Produk-produk tersebut antara lain dispersed spices, fat-based spices dan encapsulated spices. Dispersed spices dibuat dengan mendispersikan oleoresin dalam suatu media pembawa tertentu. Dalam hal ini media pembawa yang sering digunakan yaitu bahan-bahan yang larut dalam air, seperti garam, tepung dan dekstrose. Dispersed spices banyak digunakan pada pembuatan minuman (soft drink) dan makanan-makanan yang kering, basah ataupun semi padat, misalnya kue-kue, biskuit, sosis dan makanan bayi. Pada fat-based spices oleoresin

didispersikan pada lemak atau minyak (vegetable oil). Fat-based spices ini sering digunakan pada makanan yang berlemak, seperti salad dressing, saus dan makanan kaleng. Dispersed spices dan fat-based spices tidak dapat disimpan lama karena flavornya mudah menguap. Pada encapsulated spices, oleoresin dalam bentuk bubuk (spray dried) dikapsulkan untuk mengurangi kehilangan flavor, sehingga dapat disimpan lebih lama (Abubakar et al, 2007). Penggunaan oleoresin siap pakai mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan penggunaan rempah-rempah secara tradisional, terutama untuk penggunaannya dalam skala industri. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain: (1) bahan dapat distandardisasi dengan tepat, terutama flavor dan warnanya, sehingga kualitas produk akhir dapat terkontrol, (2) bahan lebih homogen dan lebih mudah ditangani, (3) bahan bebas enzim lipase, bakteri, kotoran atau bahan asing, dan (4) bahan mudah didispersikan secara merata ke dalam bahan pangan. Saat ini banyak industri makanan dan minuman menggunakan rempah-rempah bukan dalam bentuk asal melainkan dalam bentuk oleoresin (Abubakar et al, 2007). Melimpahnya ketersediaan rempah-rempah di Indonesia, maka industri oleoresin mempunyai prospek yang sangat menjanjikan, baik untuk tujuan ekspor maupun untuk industri dalam negeri. Pada penggunaan rempah-rempah sebagai bahan penyedap makanan dan minuman dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu penggunaan dalam bentuk bahan asal, ekstrak atau oleoresin (Abubakar et al, 2007). Penggunaan diaplikasikan digunakan pada pada oleoresin makanan pembuatan sendiri dan sangat bahan luas, juga aditif selain banyak pada minuman,

kosmetik,

pembuatan parfume/fragrance dan obat-obatan. Selain itu, oleoresin banyak juga digunakan dalam dunia kesehatan atau dunia kedokteran antara lain sebagai antimikroba, untuk arthritis, shingles, psoriasis, diabetic neuropathy, mengobati migran, antimual dan antimuntah, antiradang, pereda nyeri dan memperlancar aliran darah, efek balsamic, digestive dan

stimulating, dispell anger, frustration dan tension, calming dan camforting (Abubakar et al, 2007). Penggunaan oleoresin ditinjau dari segi teknis dan efisiensi penggunaan penggunaan bahan rempah baku lebih unggul tradisional, dibanding dengan bila secara khususnya

diterapkan dalam skala industri. Keuntungan komparatif yang dapat diperoleh adalah biaya produksi yang lebih rendah dengan adanya pengurangan biaya angkut bahan baku. Adanya keuntungan dari segi biaya produksi, di samping keuntungankeuntungan lain dari segi teknis menyebabkan penggunaan oleoresin sebagai bahan industri makanan dan minuman, kosmetik serta kesehatan, merupakan salah satu alternatif yang pantas untuk dikembangkan (Abubakar et al, 2007). Meskipun dalam pembuatan oleoresin diperlukan teknologi dan tingkat keahlian yang tinggi, tetapi dengan semakin meningkatnya tuntutan efisiensi maka penggunaan oleoresin dapat ditingkatkan peranannya, terutama untuk memenuhi kebut