Seni kriya

of 16 /16
SENI KRIYA Nama-nama kelompok: Jessica Dewi Fortuna Marpaung Ganis Fadiyah Indira Gomu Sri Rahma Dewi I Made Dharma Citra Josua Situmorang

Transcript of Seni kriya

SENI KRIYANama-nama kelompok:Jessica Dewi Fortuna MarpaungGanis Fadiyah IndiraGomu Sri Rahma DewiI Made Dharma CitraJosua Situmorang

SENI KRIYA Merupakan jenis karya seni terapan yang meliputi: seni keramik, seni ukir, seni tekstil, ataupun kerajinan. Salah satu hasil karya seni terapan adalah batik.Batik dikenal pertama kali pada abad XVII yang motifnya di tuliskan pada daun lontar berbentuk binatang dan tumbuhan, yang lambat laun menjadi motif abstrak dan bentuknya menyerupai bentuk awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Di indonesia perkembangan batik berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Di masa kerajaan Mataram batik juga banyak dibuat dan digunakan, dan juga pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Awalnya batik hanya di gunakan dan dikerjakan terbatas di dalam kraton saja untuk pakaian raja dan keluarganya serta pengikutnya. Karena pengikut raja tinggal di luar kraton, maka kesenian batik dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan di tempat masing-masing. Yang lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik pun di gunakan menjadi pakaian rakyat yang digemari baik wanita maupun pria.

Batik pekalongan diperkirakan sudah ada sejak tahun 1800. Perkembangan yang signifikan diperkirakan setelah terjadi perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang disebut perang Diponegoro atau perang Jawa. Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan bangsa Cina, Belanda, Arab, India, Melayu, dan Jepang pada masa lampau telah mewarnai kasanah perbatikan di Pekalongan, baik motif maupun warnanya. Jenis batik hasil pengaruh dari berbagai negara kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Jeninis-jenisnya antara lain batik Jlamprang pengaruh dari India dan Arab, batik Encim dan Klengenan dipengaruhi oleh peranakan Cina, batik Pagi sore oleh Belanda, dan batik Hokokai tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang. Daerah perkembanganya di sekitar daerah Pantai, yaitu Pekalongan kota, daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.

Seni kriya adalah sebuah karya seni yang di buat dengan keterampilan tangan (hand skill) yang mencakup segala aspek dengan tetap memperhatikan fungsi dan nilai pada kriya tersebut sehingga seni kriya termasuk dalam kategori seni rupa terapan nusantara. Penciptaanya sendiri tidak cuma di dasarkan pada aspek fungsional (kebutuhan fisik) saja, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dalam ke indahan emosionalnya. Pada perkembangan yang terus kian maju, seni kriya pun mulai di identikan dengan seni kerajinan, baik itu lokal maupun luar daerah. Hal ini disebebkan karena pembuatan seni kriya tidak terlepas dari teknik pengerjaan tangan (hand made) dengan segala aspek dan fungsionalnya. Benda- benda tradisi seni kriya ini telah ada sejak jaman prasejarah terdahulu. Dari beberapa temuan itu diketahui bahwa, manusia mulai menetap pada jaman batu muda (Neolitikum). Dari situ mereka mulai membuat benda-benda fungsional untuk menunjang aktivitasnya dalam kehidupan sehari-hari.Salah satu contohnya adalah tembikar yang terbuat dari tanah lempung dan berfungsi sebaga wadah. Tembikar ini sangat unik karena memiliki hiasan berupa simbol atau lambang-lambang kehidupan spritual yang di percaya oleh masyarakat setempat.

Hal itu terus berjalan hingga pada perkembangan berikutnya, seni kriya pun mengalami perkembangan yang begitu pesat. Perubahan ini tidak hanya pada spek fungsi semata, tetapi merambah pada peningkatan kualitas bahan dan bentuk sesuai corak hiasannya masing-masing. Awalnya benda-benda tersebut memiliki bentuk yang rumit dan beraneka ragam variasi. Begitupun juga pada hiasan yang terus meningkat, semakin banyak, detail dan bervariasi.

Istilah “seni kriya‟ ini berasal dari kata “krya‟ (bahasa Sanskrta) yang berarti “mengerjakan‟, dari akar kata tersebut selanjutnya berubah menjadi kata kriya, karya, kerja. Dalam pengertian artihusus yakni, mengerjakan sesuatu untuk mengubah suatu benda atau objek. Sedangkan pada pengertian lain, seluruh hasil tugas termasuk juga beragam keteknikannya dinamakan “seni kriya”. ( Timbul Haryono, 2002). Dalam bahasa Indonesia kata “kriya‟ adalah pekerjaan(kerajinan tangan). Sedangkan dalam bahasa Inggris dinamakan craft yg mengandung arti  kemampuan atau energi, pengertian lain sebuah ketrampilan bisa di artikan mengerjakan atau menciptakan sesuatu. Istilah itu termasuk ketrampilan yang sering dikaitkan pada profesi yang tampak dalam pengrajin craftsworker. Pada kenyataannya seni kriya tidak jarang dimaksudkan juga sebagai karya yg dihasilkan, sebab skill atau ketrampilan satu orang; sama seperti didapati bahwa seluruhkerja & ekspresi seni membutuhkan ketrampilan. Dalam persepsi kesenian yg berakar terhadap adat Jawa, dikenal sebutan kagunan. Di dalam Kamus Bausastra Jawa, kagunan yakni Kapinteran/Wudharing pambudi nganakake kaendahan-gegambaran/Yeyasan ingkang Adipeni, kidung ngukir-ukir.

Penjelasan itu menunjukan posisi & pentingnya ketrampilan dalam membuat(mengubah) benda sehari-hari, disamping wawasan & kepekaan (bakal keindahan). Oleh karenanya, suatu karya (seni) dalam proses penggarapannya tak berdasarkan terhadap kepekaan & ketrampilan yg baik (mumpuni), sehingga tidak ingin ada peluang bagi kita untuk menikmati karya tersebut yang merupakan karya seni ( I Made Bandem, 2002 ).  Umumnya seni kriya sering dimaksudkan sebagai karya yang menghasilkan skill atau keterampilan seseorang, sebagaimana di ketahui bahwa ekspresi dan kerja seni membutuhkan keterampilan. Persepsinya, semua orang mengartikan bahwa, kesenian berakar pada tradisi Jawa yang dikenal dengan sebutan “kagunan“. Sehingga, penjelasan ini menunjukan posisi dan pentingnya sebuah keterampilan dalam mengubah benda atau objek yang ada dalam kehidupan sehari-hari, di samping pengetahuan akan sebuah kepekaan indahnya karya seni. Selain pengertian di atas, ternyata ada juga fungsi seni kriya yang harus kamu pelajari. Namun, yang akan kita bahas di sini adalah mengenal secara detail, pembagian dari jenis-jenis seni kriya.

JENIS-JENIS SENI KRIYA Adalah sebuah keharusan untuk kamu yang mau mengenal lebih jauh tantang jenis sebuah karya dari  beragam macam bentuk dan gaya yang di keluarkan oleh seni kriya nusantara. Bahan-bahan karya itu langsung di ambil dari alam, semua di manfaatkan dengan baik. Dari semua seni kriya nusantara tersebut, banyak juga dari mereka para pengrajin yang tetap mempertahankan ragam hias tradisional sesuai dengan tuntutan pasar. Jenis-jenis bahan yang biasa di gunakan dari seni karya adalah sebagai berikut:

A. KRIYA KAYU Kriya kayu adalah suatu bidang seni kriya yang pekerjaannya membuat benda atau memiliki nilai fungsional maupun hiasan yang menggunakan bahan-bahan dasar kayu. Dalam kriya kayu ada istilah dasar yang biasa menjadi pekerjaan untuk tingkat pemula, sebuah permualaan yang harus di kuasai. Karena banyak sekali kerajinan yang terbuat dari kayu,diantaranya seperti wayang golek, furniture, topeng, patung, dan hiasan ukiran-ukiran kayu lainnya.

B. SENI KRIYA TEKSTIL

C. KRIYA KERAMIK Bahan-bahan dasar pembuatan keramik adalah tanah liat. Benda yang di bentuk pun beragam namun, tetap menyesuaikan pada setiap bentuk yang akan di olah, antara lain melalui teknik lempeng, pilin, pijit dan biasa yang kita tahu itu adalah teknik cetak. Bila keramik telah terbentuk, mulai dari proses pengeringan dan dibakar dengan suhu tertentu, biasanya langsung diberi hiasan. Karena keramik, diproduksi sebagai penghias dalam setiap benda yang ada atau benda siap pakai dengan ragam macam bentuk misalnya, pot bunga, vas bunga, guci dan lain sebagainya.  Ada beberapa daerah penghasil keramik yang tersebar luas di Nusantara, yaitu kota Malang, Yogyakarta, Purwokerto dan Cirebon.

D. KRIYA LOGAM Kriya logam adalah seni kriya yang khusus mengolah logam menjadi macam benda kerajinan. Cara mengolanyapun tidak begitu sulit (rumit), hanya mengecor logam hingga menjadi panas lalu di cetak melalui cetakan. Contoh umum yang biasa kita ketahui tentang karya logam adalah perak, besi, perunggu, emas, almunium, tembaga, dan kuningan. Begitupun pada produk yang dihasilkan, misalnya perhiasan perak, emas senta tajam, patung dari perunggu, peralatan rumah tangga dan biasanya untuk alat musik gamelan. Bahkan sudah banyak kriya logam yang dibuat dengan berbagai macam veriasi. Yang perlu kita ketahui, ada dua teknik cara membuat karya dari seni kriya logam, Yaitu teknik bivalve dan teknik a cire perdue. Teknik bivalve atau setangkap, yaitu sebuah cara dengan menggunakan cetakan yang di tangkupkan pada cetakan logam, sehingga setelah dingin, cetakan tersebut bisa di buka dan menghasilkan cetakan sesuai yang kita inginkan.

Sedangkan teknik a cire perdue atau cetakan lilin, adalah dengan cara membuat bentuk benda dari lilin sesuai dengan yang kita kehendaki. Jika sudah membuat modelnya, cetakan model lilin tersebut langsung ditutup dengan menggunakan tanah, kemudian dibuatkan lubang dari atas dan di bawahnya. Setelah itu cetakan dibakar, sehingga lilin yang terbungkus dengan tanah hingga mencair, dan akan keluar melalui lubang bagian bawah. Selanjutnya melalui lubang bagian atas dimasukkan pada cairan perunggu. Jika sudah dingin, cetakan tersebut bisa langsung dipecah sehingga keluarlah benda yang diinginkan.

E. KRIYA KULITKriya kulit adalah jenis karya seni yang bahan bakunya dari kulit. Kulit yang digunakan pun bervariasi, mulai dari kulit sapi, kerbau, kambing, ular dan buaya. Namun sebelum dipakai, terlebih dahulu kulit harus mengalami proses pengolahan yang panjang. Mulai dari pemisahan dari daging beserta kulitnya, pembersihannya, pencucian pada cairan tertentu, pewarnaan dengan warna yang diinginkan, perendaman dengan zat kimia tertentu (penyamakan), pengeringan, penghalusan dan perentangan supaya tidak mengkerut. Setelah melalui beberapa tahapan itu, kulisa bisa di langsung dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang ditentukan. Hasil kriya kulit nantinya bisa berupa sepatu, tas, pakaian (jaket), wayang kulit, dompet, tempat HP, ikat pinggang, alat musik rebana dan beberapa jenis olahan benda lainnya. Daerah penghasil kriya kulit santreo yang paling di kenal antara lain Garut, Yogyakarta, dan Bali.

F. KRIYA BATU Ternyata batu pun memiliki karya seni yang memiliki nila tinggi. Dari teksturnya yang keras dan cenderung kaku untuk dibentuk, ternyata dapat diolah menjadi sebuah seni karya yang indah. Salah satu kerajinannya berasal dari daerah Sukaraja, Sukabumi. Di daerah ini dapat di jumpai berbagai material batu yang sudah di olah menjadi hiasan dekorasi rumah. Ada banyak macam bentuk kerajinan dari batu-batu tersebut, diantaranya batu fosil, jesper, akik dan batu-batu permata lainnya yang dibentuk menjadi hiasan dengan motif flora dan fauna.