SELADA (1)

Click here to load reader

  • date post

    24-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    337
  • download

    18

Embed Size (px)

description

selada

Transcript of SELADA (1)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Selada (Lactuca sativa L.) pada dasarnya termasuk ke dalam famili Compositae. Asal tanaman ini diperkirakan dari dataran Mediterania Timur. Selada merupakan tanaman semusim. Selada mempunyai ciri diantaranya bentuk bunganya mengumpul dalam tandan membentuk sebuah rangkaian. Selada biasanya disajikan sebagai sayuran penyegar. Adapun kandungan vitamin yang terdapat di dalam daun selada diantaranya: vitamin A, Vitamin B, dan vitamin C yang sangat berguna untuk kesehatan tubuh.

Persyaratan penting agar tanaman selada dapat tumbuh dengan baik adalah tanah yang dipakai harus mengandung pasir atau lumpur (subur), pada suhu udara 15o 20o C, dengan derajat keasaman tanah (pH) 5 6,5. Benih selada akan berkecambah dalam kurun waktu empat hari, bahkan untuk benih yang viabel dapat berkecambah dalam waktu satu hari, pada suhu 15oC 25oC. Waktu penanaman selada yang paling baik adalah pada akhir musim hujan (Maret/April). (Grubben dan Sukprakarn, 1994). Selada merupakan tanaman semusim polimorf (memiliki banyak bentuk), khususnya dalam hal bentuk daunnya. Tanaman ini cepat mengghasilkan akar tunggang dalam yang diikuti dengan penebalan dan perkembangan ekstensif akar lateral yang kebanyakan horizontal. Daun selada sering berjumlah banyak dan biasanya berposisi duduk (sessile), tersusun berbentuk spiral dalam susunan padat. Bentuk daun yang berbeda-beda sangat beragam warna, raut, tekstur dan sembir daunnya. Daun tak berambut, mulus, berkeriput (savoy) atau kisut berlipat. Sembir daunnya membundar rata atau terbagi secara halus, warnanya beragam, mulai dari hijau muda hingga hijau tua, kultivar tertentu berwarna merah atau ungu. Daun bagian dalam pada kultivar yang tidak membentuk kepala cenderung berwarna lebih cerah, sedangkan pada kultivar yang membentuk kepala berwarna pucat (Rubatzky dan Yamaguchi, 1999).

Menurut Nonnecke (1989), pada dasarnya terdapat kurang lebih enam perbedaan morfologi dari tipe-tipe selada, yaitu: crisp-head, butterhead, cos, selada daun/selada potong, selada batang dan selada latin. Hal senada juga dinyatakan oleh Rubatzky dan Yamaguchi (1999) tentang tipe-tipe selada yang meliputi beberapa kelompok varietas botanis.

Teknik Penanaman

Selada dikembangbiakan dengan bijinya. Dalam 1 ha lahan diperlukan 600 800 biji selada. Menurut teori, satu ha diperlukan 300 g biji dengan daya kecambah 75%. Secara fisik biji-biji selada berukuran kecil, lonjong, pipih (gepeng), dan berbulu tajam. Tanah yang akan dipakai untuk menanam selada, terlebih dahulu harus dicangkul sedalam 20 30 cm kemudian diberi pupuk kandang sebanyak 10 ton per ha. Selain itu, lahan dibuat bedengan dengan lebar 1 meter dan memanjang dari arah timur ke barat.

Setelah bedengan terbentuk, lalu buat alur-alur menggunakan garu. Arah pembuatan alur lurus ke arah timur dengan jarak antar alur 25 cm. Pembuatan alur tersebut tidak terlalu dalam karena akar-akar selada mengumpul di lapisan tahan atas. Biji-biji selada dapat ditanam langsung di kebun tanpa disemaikan terlebih dahulu. Apabila biji disemai, dijaga kelembaban tempat persemaiannya sehingga selada tumbuh cepat dan baik. Setelah berumur sebulan (kira-kira berdaun 4 helai), bibit dapat dipindahkan ke kebun dengan jarak tanam 20 cm x 25 cm atau 25 cm x 25 cm.

Biji selada yang ditanam langsung, ditaburkan merata sepanjang alur kemudian ditutup tanah tipis-tipis. Biji selada akan tumbuh 5 hari kemudian. Setelah berumur kira-kira 1 bulan (kira-kira berdaun 3 5 helai), tanaman mulai diperjarang. Penjarangan dilakukan terhadap bibit kerdil hingga jarak antar tanam menjadi 20 25 cm. Setelah berumur 2 minggu dari tanam, tanaman diberi pupuk urea sebanyak 100 kg tiap ha atau 1 g tiap tanam. Pupuk diletakan diantara barisan tanaman.

Pemanenan

Menurut Simpson dan Straus (2010) panen adalah mengumpulkan bagian tanaman yang ditujukan untuk kepentingan komersial. Masing-masing tanaman memiliki kriteria tersendiri dalam hal panen. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan panen adalah keadaan tanaman yang berupa tingkat kematangan dan juga waktu panen.

Tanaman selada merupakan sayuran yang dikonsumsi karena kelembutan, kerenyahan dan karakteristiknya yang berair (Denisen, 1979), oleh sebab itu pemanenan selada harus dilakukan pada waktu yang tepat, tidak terlalu awal karena akan menghasilkan hasil yang rendah, dan apabila dipanen terlambat dapat mengakibatkan kualitas hasil panen menurun. Namun demikian, penentuan waktu panen untuk tanaman selada sangat bergantung pada kultivarnya. Masing masing varietas memiliki waktu panen dan tingkat kemasakan yang berbeda, sehingga pemanenan selada kadang-kadang sangat subyektif (Rubatzky dan Yamaguchi, 1999).

Hama dan Penyakit

Dalam pembudidayaan tanaman selada, selalu terkendala Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berupa hama dan penyakit. Salah satu hama yang sering menyerang selada adalah ulat grayak (Spodoptera litura F.). Ulat grayak memakan daun tanaman hingga daun berlobang-lobang kemudian robek-robek atau terpotong-potong (Cahyono, 2006). Ulat grayak (Spodoptera litura F.) termasuk dalam ordo lepidoptera, merupakan hama yang menyebabkan kerusakan yang serius pada tanaman budidaya di daerah tropis dan sub tropis. (Haryanti dkk., 2006).

Selain ulat grayak, terdapat hama lain pada tanaman selada, yaitu ulat tanah dan kutu daun. Ulat tanah tubuhnya berwarna hitam atau hitam keabu - abuan, aktif pada malam hari dan bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Pada siang hari, ulat tanah bersembunyi di bawah tanah atau sisa-sisa tanaman. Gejalanya adalah menyerang tanaman dengan cara memotong pangkal batang atau titik tumbuh, sehingga patah atan terkulai. Serangan ulat tanah umumnya terjadi pada musim kering (kemarau) dan merusak tanaman yang masih muda (berumur 1-30 hari setelah tanam).

Kutu daun, tubuhnya kecil berwarna hitam atau hitam kekuning-kuningan. Gejalanya adalah menyerang daun-daun tanaman dengan cara mengisap cairan sel-selnya. Serangan kutu daun menyebabkan pertumbuhan tanaman kerdil, daun-daunnya keriput, layu dan akhirnya mati. Kutu daun berperan ganda, yakni sebagai hama dan vektor virus. Tanaman inangnya lebih dari 400 jenis, karena kutu daun bersifat polifag.Penyakit yang sering ditemui di lahan selada ialah busuk batang. Gejalanya ditandai oleh batang yang melunak dan berlendir. Penyebabnya ialah cendawan Rhizoctonia solani. Bila menyerang tanaman di persemaian, sering mengakibatkan busuk akar. Saat kondisi lahan lembap serangan penyakit bisa menghebat, Untuk pencegahannya, kebersihan lahan harus dijaga dan kelembapan lahan dikurangi. Dapat pula dilakukan penyemprotan fungisida Maneb atau Dithane M 45.

Untuk mengendalikan hama hama serta penyakit tersebut, petani umumnya menggunakan insektisida atau fungisida kimia yang intensif (dengan frekuensi dan dosis tinggi). Hal ini mengakibatkan timbulnya dampak negatif seperti gejala resistensi, resurjensi hama, terbunuhnya musuh alami, meningkatnya residu pada hasil, mencemari lingkungan dan gangguan kesehatan bagi pengguna.

Sejarah lahan:

Pada lahan ciparanje yang saat ini digunakan untuk tanaman selada, tiga musim sebelumnya, ditanam kacang panjang, timun, dan tomat. Pada pada saat penanaman kacang panjang, petani menggunakan kotoran ayam sebagai pupuk dasar, sedangkan pupuk susulannya berupa urea, SP-36, dan KCL. Pestisida yang digunakan adalah curacron. Lahan pertanaman selada ini disekelilingnya terdapat tanaman kubis, kembang kol, dan padi. Dan juga terdapat berbagai macam gulma yang tumbuh.

Berikut merupakan data pengolahan lahan tanaman selada air:

Varietas

: Primora

Umur tanaman

: 3 MST

Umur panen

: 40 hari

Jarak tanam

: 30cm x 30cm

Pupuk dasar

: kompos (50g/tanaman)

Pupuk susulan

:

Jenis PupukDosisBanyaknya PemberianWaktu Pemberian

Urea2,5g/tanaman2 kali1 MST dan 2 MST

SP-362g/tanaman1 kali1 MST

KCL2g/tanaman1 kali1 MST

Pengendalian

:

Nama PestisidaJenis PestisidaDosisWaktu pemberian

CuracronInsektisida1,5mg/L1 MST

DithaneFungisida2g/L1 MST

Konsep PHPT

Defenisi PHT menurut Untung, K (1993) adalah:

Teknologi pengolaan ekosistim yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian dan kesejahteraan petani, mempertahankan populasi hama / OPT dalam keadaan keseimbangan dengan musuh alaminya sehingga tidak merugikan, serta mengurangi atau membatasi penggunaan pestisida. Strategi PHT adalah memadukan secara kompatibel, semua teknik atau metode pengendalian hama yang didasarkan pada azas ekologi dan ekonomi.

Prinsip PHT :

Konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), pada prinsipnya lebih ditekankan pada upaya memadukan semua teknik pengendalian hama yang cocok serta mendorong berfungsinya proses pengendalian alami yang mampu mempertahankan populasi hama pada taraf yang tidak merugikan tanaman, dengan tujuan menurunkan status hama, menjamin keuntungan pendapatan petani, melestarikan kualitas lingkungan dan menyelesaikan masalah hama secara berkelanjutan. Hama tidak dimusnahkan tetapi diusahakan agar selalu dibawah suatu tingkat populasi yang akan menimbulkan kerugian ekonomi. Ambang Ekonomi (AE) adalah tingkat populasi terendah yang akan menyebabkan kerugian ekonomi, sebagai landasan untuk melakukan tindakan pengendalian.

Metode-metode pengendalian menurut PHT:

1. Metode Agronomis, meliputi :

2. Metode mekanis meliputi :

3. Metode fisis meliputi :

4. Metode biologis meliputi :

5. Metode khemis (kimia) meliputi

6. Metode genetis

7. Undang-undang

1.2 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengidentifikasi hama yang terdapat pada tanaman selada (Lactuca sativa L.) dan mengetahui cara pengendal