Sejarah xii ipa ( modul unit 1) pjg

download Sejarah xii  ipa ( modul unit 1) pjg

of 166

  • date post

    25-May-2015
  • Category

    Education

  • view

    7.660
  • download

    32

Embed Size (px)

Transcript of Sejarah xii ipa ( modul unit 1) pjg

  • 1. MODUL UNIT 1KELAS XII IPAKTSP SMA NEGERI 1 PURBALINGGA SMA NEGERI 1 PURBALINGGA . Jl. MT Haryono Telp. ( 0281 ) 891019 Fax : ( 0281 ) 892336 Website : www.sma1purbalingga.sch.id Email : ganesha@sma1purbalingga.sch.idPERKEMBANGAN MASYARAKAT INDONESIA PADA MASA ORDE BARUTujuan PembelajaranMotivasi BelajarSetelah mempelajari bab ini diharapkan siswa dapat menjelaskan perkembangan masyarakat Indonesia pada masa Orde Baru.Pelajari bab ini secara cermat dan penuh antusias, agar Anda dapat mengambil materi esensial dan mengambil hikmah dariperkembangan masyarakat Indonesia pada masa Orde Baru. Hal tersebut sangat bermanfaat untuk ikut memberikan bakti kitayang berupa ide atau gagasan, tenaga, dan dukungan dalam pembangunan nasional di segala bidang.Peta Konsep Kebijakan pemerintah Orde Baru Revolusi Hijau Industrialisasi Ampera Presidium Supersemar Pepera SwasembadaPerkembangan masyarakat Indonesia pada masa Orde Baru Proses menguatnya peran negara dan pada masa Orde BaruRevolusi hijau dan industrialisasi Ciri-ciri pokok kebijakan pemerintahOrde Baru MeliputiUsaha melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen menjadi tujuan utama pembentukanpemerintahan Orde Baru. Namun, kehati-hatian pemerintah Orde Baru terhadap bahaya komunis menyebabkan peran negarasangat besar dan mendominasi kehidupan masyarakat.1

2. A. Pemerintahan Orde Baru1. Pengertian Orde BaruOrde Baru adalah suatu tatanan seluruh perikehidupan rakyat, bangsa dan negara yang diletakkan kembali kepadapelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Dengan kata lain, Orde Baru adalah suatu orde yangmempunyai sikap dan tekad untuk mengabdi pada kepentingan rakyat dan nasional dengan dilandasi oleh semangat dan jiwaPancasila serta UUD 1945. Lahirnya Orde Baru diawali dengan dikeluarkannya Surat Perintah 11Maret 1966. Dengan demikian Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) sebagai tonggak lahirnya Orde Baru.Pidato Presiden Soekarno (JASMERAH)Pada peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1966, presiden mengucapkan pidato di depan rakyat dari halamanIstana Merdeka yang dikenal dengan nama Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, disingkat Jasmerah. Pidatoyang kemudian menjadi pidato 17 Agustus Presiden Soekarno yang terakhir tersebut mendapat reaksi dari berbagaikalangan dan menjadi bahan pertentangan politik, yang di beberapa tempat menyebabkan timbulnya bentrokan-bentrokan fisik.2. Lahirnya Surat Perintah 11 Maret 1966Pada tanggal 11 Maret 1966 di Istana Negara diadakan Sidang Kabinet Dwikora yang telah disempurnakan yang dipimpinlangsung oleh Presiden Soekarno dengan tujuan untuk mencari jalan keluar terbaik agar dapat menyelesaikan krisis yangmemuncak secara bijak. Ketika sidang tengah berlangsung, ajudan presiden melaporkan bahwa di sekitar istana terdapatpasukan yang tidak dikenal. Untuk menghindari segala sesuatu yang tidak diinginkan, maka Presiden Soekarno menyerahkanpimpinan sidang kepadaPerkembangan Masyarakat Indonesia pada Masa Orde Baru 3 Waperdam II (Wakil Perdana Menteri II)Dr J. Laimena. Dengan helikopter, Presiden Soekarno didampingi Waperdam I, Dr Subandrio, dan Waperdam II Chaerul Salehmenuju Istana Bogor. Seusai sidang kabinet, Dr J. Laimena pun menyusul ke Bogor. (Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka )Tiga Perwira Tinggi Perumusan SupersemarTiga orang perwira tinggi yaitu Mayor Jenderal Basuki Rakhmat, Brigadir Jenderal M. Yusuf, dan Brigadir Jenderal AmirMachmud menghadap Letnan Jenderal Soeharto selaku Menteri Panglima Angkatan Darat dan Panglima Komando OperasiPemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk minta izin akan menghadap presiden. Pada hari itu juga, tigaorang perwira tinggi sepakat untuk menghadap Presiden Soekarno di Istana Bogor dengan tujuan untuk meyakinkan kepadaPresiden Soekarno bahwa ABRI khususnya AD tetap siap siaga mengatasi keadaan. Di Istana Bogor Presiden Soekarnodidampingi Dr Subandrio, Dr J. Laimena, dan Chaerul Saleh serta ketiga perwira tinggi tersebut melaporkan situasi di ibukotaJakarta. Mereka juga memohon agar Presiden Soekarno mengambil tindakan untuk mengatasi keadaan. Kemudian presidenmengeluarkan surat perintah yang ditujukan kepada Letnan Jenderal Soeharto selaku Menteri Panglima Angkatan Darat untukmengambil tindakan menjamin keamanan, ketenangan, dan kestabilan jalannya pemerintahan demi keutuhan bangsa dannegara Republik Indonesia. Adapun yang merumuskan surat perintah tersebut adalah ketiga perwira tinggi, yaitu MayorJenderal Basuki Rakhmat, Brigadir Jenderal M. Yusuf, dan Brigadir Jenderal Amir Machmud bersama Brigadir Jenderal Subur,Komandan Pasukan Pengawal Presiden Cakrabirawa. Surat itulah yang kemudian dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret1966 atau Supersemar.3. Tindak Lanjut SupersemarSebagai tindak lanjut keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966, Letnan Jenderal Soeharto sebagai pengemban Supersemarsegera mengambil tindakan untuk menata kembali kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sesuai denganPancasila dan UUD 1945, yaitu sebagai berikut.a. Tanggal 12 Maret 1966, dikeluarkanlah surat keputusan yang berisi pembubaran dan larangan PKI beserta ormas-ormasnyayang bernaung dan berlindung atau senada dengannya, beraktivitas dan hidup di seluruh wilayah Indonesia. Keputusantersebut diperkuat dengan Keputusan Presiden/Pangti ABRI/Mandataris MPRS No.1/3/1966 tangal 12 Maret 1966.Keputusan pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya mendapat sambutan dan dukungan dari seluruh rakyat karenamerupakan salah satu realisasi dari Tritura.b. Tanggal 18 Maret 1966 pengemban Supersemar mengamankan 15 orang menteri yang dinilai tersangkut dalam G 30 S/PKIdan diragukan etika baiknya yang dituangkan dalam Keputusan Presiden No. 5 Tanggal 18 Maret 1966.c. Tanggal 27 Maret pengemban Supersemar membentuk Kabinet Dwikora yang disempurnakan untuk menjalankan pemerintahan. Tokoh-tokoh yang duduk di dalam kabinet ini adalah mereka yang jelas tidak terlibat dalam G 30 S/PKI.d. Membersihkan lembaga legislatif dimulai dari tokoh-tokoh pimpinan MPRS dan DPRGR yang diduga terlibat G 30 S/PKI. Sebagai tindak lanjut kemudian dibentuk pimpinan DPRGR dan MPRS yang baru. Pimpinan DPRGR baru memberhentikan 62 orang anggota DPRGR yang mewakili PKI dan ormas-ormasnya.e. Memisahkan jabatan pimpinan DPRGR dengan jabatan eksekutif sehingga pimpinan DPRGR tidak lagi diberi kedudukan sebagai menteri. MPRS dibersihkan dari unsur-unsur G 30 S/PKI. Seperti halnya dengan DPRGR, keanggotaan PKI dalam2 3. MPRS dinyatakan gugur. Sesuai dengan UUD 1945, MPRS mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada lembagakepresidenan.Pengamanan Menteri-Menteri Kabinet DwikoraMayjen. Soeharto selaku pengemban Supersemar mengambil tindakan dengan pengamanan terhadap sejumlah MenteriKabinet Dwikora yang disempurnakan dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam G 30 S/PKI, yaitu sebagai berikut:1. Dr. Subandrio : Wakil PM I, Menteri Departemen Luar Negeri, Menteri Luar Negeri/Hubungan Ekonomi Luar Negeri.2. Dr. Chaerul Saleh : Wakil PM III, Ketua MPRS.3. Ir. Setiadi Reksoprodjo : Menteri Urusan Listrik dan Ketenagaan.4. Sumardjan : Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan.5. Oei Tju Tat,S.H.: Menteri Negara diperbantukan kepada presidium kabinet. 6. Ir. Surachman : Menteri Pengairan dan Pembangunan Desa.7. Jusuf Muda Dalam : Menteri Urusan Bank Sentral, Gubernur Bank Negara Indonesia.8. Armunanto : Menteri Pertambangan.9. Sutomo Martopradoto : Menteri Perburuhan.10. A. Astrawinata, S.H : Menteri Kehakiman.11. Mayjen. Achmadi : Menteri Penerangan di bawah presidium kabinet.12. Drs. Moh. Achadi : Menteri Transmigrasi dan Koperasi.13. Letkol. Imam Sjafei : Menteri Khusus Urusan Pengamanan.14. J.K Tumakaka : Menteri/Sekretaris Jenderal Front Nasional.15. Mayjen. Dr. Soemarno : Menteri/Gubernur Jakarta Raya.Tanggal 20 Juni sampai 5 Juli 1966 diadakan Sidang Umum IV MPRS dengan hasil sebagai berikut.a. Ketetapan MPRS No. IX/MPRS/1966 tentang Pengesahan dan Pengukuhan Supersemar.b. Ketetapan MPRS No. X/MPRS/1966 mengatur Kedudukan Lembaga- Lembaga Negara TingkatPusat dan Daerah.c. Ketetapan MPRS No. XII/MPRS/1966 tentang Kebijaksanaan Politik Luar Negeri RI Bebas Aktif.d. Ketetapan MPRS No. XIII/MPRS/1966 tentang Pembentukan Kabinet Ampera.e. Ketetapan MPRS No. XIX/MPRS/1966 tentang Peninjauan Kembali Tap. MPRS yangBertentangan dengan UUD 1945.f. Ketetapan MPRS No. XX/MPRS /1966 tentang Sumber Tertib Hukum RI dan Tata Urutan Perundang-undangan di Indonesia.g. Ketetapan MPRS No. XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran PKI dan Pernyataan PKI danOrmas-Ormasnya sebagai Organisasi Terlarang di Indonesia.Dengan berakhirnya Sidang Umum IV MPRS, berarti landasan awal Orde Baru berhasil ditegakkan. Demikian pula dua dari tigatuntutan rakyat (Tritura) telah dipenuhi, yaitu pembubaran PKI dan pembersihan kabinet dari unsurunsur PKI. Sementara itu,tuntutan ketiga, yaitu penurunan harga yang berarti perbaikan bidang ekonomi belum diwujudkan. Hal itu terjadi karena syaratmewujudkannya perlu dilakukan dengan pembangunan secara terus-menerus dan membutuhkan waktu yang cukup lama.Pelaksanaan pembangunan agar lancar dan mencapai hasil maksimal memerlukan stabilitas nasional. Pelurusan lembagalegislatif dan eksekutif pasca-Supersemar. Pelurusan lembaga legislatif dan eksekutif oleh pengemban Supersemar meliputi hal-hal berikut ini:a. Pimpinan DPRGR tidak diberi kedudukan sebagai menteri, sebab DPRGR adalah lembaga legislatif, sedangkan menteri adalah jabatan dalam lembaga eksekutif.b. Kedudukan presiden dikembalikan sesuai dengan UUD 1945 yakni di bawah MPRS bukan sebaliknya. Pembubaran PKI serta pernyataan PKI dan ormas-ormasnya sebagai organisasi terlarang di Indonesia ditetapkan oleh MPRS dengan Ketetapan MPRS No. XXV/MPRS/1966.B. Ciri-Ciri Pokok Kebijakan Pemerintahan Orde BaruSebagai langkah awal untuk menciptakan stabilitas nasional, Sidang Umum IV MPRS telah memutuskan untuk menugaskanLetjen. Soeharto selaku pengemban Surat Perintah 11 Maret 1966 atau Supersemar yang sudah ditingkatkan menjadiKetetapan MPRS