sejarah pada 1946-1949

download sejarah pada 1946-1949

of 34

  • date post

    15-Aug-2015
  • Category

    Internet

  • view

    67
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of sejarah pada 1946-1949

  1. 1. 1949-1956 A. Latar Belakang Masalah Setelah sekian lama berada di dalam belenggu penjajahan, maka pada tanggal 17 Agustus 1945 rakyat Indonesia menyatakan dirinya sebagai bangsa yang merdeka. Proklamasi Kemerdekaan tersebut pada hakekatnya merupakan perwujudan dari niat dan tekad bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Pada umumnya sebagian besar dari rakyat Indonesia dapat dengan cepat menanggapi arti dan maksud kemerdekaan itu. Kecepatan tanggapan rakyat terhadap kemerdekaan itu dapat dilihat dengan timbulnya gerakan-gerakan rakyat yang bergerak menyongsong Proklamasi Kemerdekaan. Datangnya kemerdekaan itu disambut oleh seluruh rakyat, baik yang berada di kota maupun di pelosok-pelosok. Rakyat dengan cepat dan serentak bergerak secara spontan untuk mengambil inisiatif untuk memberi arti dan isi kepada kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan itu. Setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan sudah barang tentu mereka mengalami tantangan-tantangan dan hambatan yang berasal dari luar maupun dalam negeri. Pergolakan terjadi di mana-mana, keadaan Bala Tentara Dai Nippon yang masih utuh dan lengkap sebagai tentara penduduk Jepang di Indonesia dalam Perang Dunia II melawan Sekutu acuh tak acuh atau malahan tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia.1 Untuk mengatasi hal tersebut jalan yang ditempuh rakyat Indonesia untuk mewujudkan kedaulatan negerinya adalah dengan kekerasan memaksa pihak Jepang menyerahkan pemerintahan atas Republik Indonesia yang dikuasainya. Di seluruh wilayah Indonesia rakyat bangkit untuk mengadakan perlucutan senjata atas tentara Jepang yang telah kalah dalam Perang Dunia II baik lewat kekerasan maupun dengan jalan perundingan. Maka yang ditempuh jalan kekerasan seperti yang terjadi di Kotabaru Yogyakarta pada tanggal 6-7 Oktober 1945.2 Dengan datangnya Sekutu pada akhir September 1945 di Indonesia disambut dengan sikap netral oleh pemerintah Indonesia mengingat tugasnya sebagai penjaga ketentraman bekas daerah jajahan bangsa Jepang, jadi tugas Sekutu di Indonesia bersifat kepolisian. Namun pada kenyataannya Sekutu telah melanggar kedaulatan Bangsa Indonesia dengan cara membebaskan dan mempersenjatai kembali tentara-tentara kolonial Belanda bahkan pasukan- pasukan Jepang yang seharusnya dilucuti justru dipakai untuk melawan kekuatan bersenjata rakyat Indonesia. Sikap dari Sekutu yang secara langsung telah membohongi bangsa Indonesia, membuat perasaan tidak suka di kalangan rakyat Indonesia. Di seluruh wilayah Indonesia kedatangan Sekutu mendapat perlawanan sangat keras, karena mereka merasa bahwa kedatangan Sekutu sebenarnya hanya ingin menegakkan kembali kekuasaan kolonial Belanda atas Indonesia. Hal inilah yang menyebabkan munculnya aksi-aksi untuk menegakkan kemerdekaan dan mempertahankan dari ancaman luar. Dalam perjuangan melawan musuh yang ingin menegakkan kembali penjajahan atas Indonesia, seluruh rakyat bangkit berjuang memanggul senjata. Hal tersebut merupakan perjuangan rakyat semesta, yaitu gerakan ketahanan dan pertahanan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali. Antara aparat Pemerintah Sipil dan Angkatan Bersenjata beserta
  2. 2. laskar-laskar bersenjata bahu-membahu dalam totalitas ketahanan dan pertahanan. Jumlah persenjataan yang sangat terbatas bukan merupakan hambatan untuk melakukan perlawanan. Bangsa Indonesia telah memadukan kekuatan yang ada dengan mengikutsertakan seluruh rakyat baik moral maupun material.3 Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya, yang terkenal dengan sebutan kota perjuangan dan kota revolusi, tidak luput pula dari keadaan di atas. Rakyat bersiap, menyesuaikan diri dengan suasana baru, alam kemerdekaan. Dan ketika kemerdekaan yang baru terwujud mendapat tantangan dari pihak Belanda, sehingga timbul konflik dengan pemerintah Belanda.4 Berdasarkan Proklamasi itu rakyat Indonesia menolak segala bentuk penjajahan yang berasal dari luar. Sebaliknya Pemerintah Belanda menganggap Indonesia sebagai daerah jajahannya. Pemerintah Belanda menyadari bahwa untuk mendirikan pemerintah seperti zaman Belanda itu tidak mungkin bisa dilaksanakan. Hal ini disebabkan karena di mana- mana mendapat perlawanan dari rakyat Indonesia. Menghadapi kenyataan itu Pemerintah Belanda menggunakan strategi memecah belah wilayah Indonesia menjadi negara-negara bagian , sehingga pengaruh itu akan semakin berkurang kalau mungkin negara itu dilenyapkan. Pemerintah Belanda beranggapan bahwa Republik Indonesia yang beribukota di Yogyakarta sejak 4 Januari 1946 ini, merupakan benteng perjuangan dan pertahanan bagi kemerdekaan Bangsa Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia adalah jantung semangat kesatuan dan nasionalisme Indonesia. Berdasarkan pendapat itu maka Pemerintah Belanda tidak mungkin bisa melaksanakan rencananya untuk menguasai wilayah Indonesia kembali, selama pemerintah Indonesia masih tetap berdiri.5 Taktik dan strategi yang dipergunakan Belanda dalam usaha melenyapkan RI dengan cara memecah belah wilayah Indonesia dengan pembentukan negara-negara bagian, melalui perundingan dan tindakan militer. Pembentukan negara-negara bagian dipelopori oleh Letnan Gubernur Van Mook berhasil mendirikan Negara Indonesia Timur pada tahun 1946. Aksi itu diteruskan dengan membentuk negara Sumatra yang meliputi daerah pendudukan kaya pada tahun 1947. Perbuatan yang dilakukan Belanda tanpa berembug dengan RI atau KTN, merupakan tindakan sepihak tanpa menghargai perundingan yang di rintis. Usaha lain yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda adalah mengadakan perundingan dengan pihak RI. Salah satu perundingan yang dapat dicapai pada tanggal 15 November 1946 yang dikenal dengan persetujuan Linggarjati. Pada pokoknya bahwa pemerintah Belanda mengakui kenyataan kekuasaan de factoPemerintah RI atas Jawa, Madura dan Sumatra.6 Berdasarkan persetujuan Linggarjati dapat dikatakan bahwa Republik Indonesia mengakui Belanda berkuasa atas wilayah Indonesia bagian Timur. Sebaliknya Belanda mengakui bahwa pemerintah RI berkuasa atas wilayah Indonesia bagian barat. Secara singkat hasil persetujuan Linggarjati Belanda berhasil menyempitkan wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Selain mengadakan perundingan dan pembentukan negara-negara bagian untuk melenyapkan RI, namun juga mempergunakan kekerasan senjata (tindakan militer). Aksi kekerasan senjata dilakukan pada tanggal 21 Juli 1947 dengan menyerang daerah-daerah RI
  3. 3. baik di Jawa maupun Sumatra dengan memakai kekuasaannya.7 Aksi yang dilancarkan Belanda itu dikenal dengan Agresi Militer Belanda I.8 Persetujuan Linggarjati menimbulkan blokade kuat terhadap RI, sehingga kerjasama dengan luar negeri untuk memperoleh persenjataan dan lalu lintas perekonomian menjadi macet. Pemerintah Belanda hanya mau mengakui RI sebagai sebuah negara bagian, atas dasar persamaan derajat dengan negara-negara lainnya, yang kemudian akan melahirkan negara Indonesia Serikat merdeka, menuntut RI harus memutuskan hubungan dengan luar negeri dan menghapuskan dinas diplomatiknya serta TNI harus dibubarkan. Secara singkat Belanda menuntut RI menanggalkan hak kedaulatannya yang dicapai sejak Proklamasi Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.9 Pemerintah RI tidak berniat untuk memenuhi tuntutan-tuntutan dari pemerintah Belanda. RI tetap mempertahankan pendiriannya, bahwa kedudukannya selama masa peralihan tidak dapat disamakan dengan negara-negara bagian yang lainnya dan hak-hak kedaulatan de facto RI harus diakui oleh Belanda. Disamping itu pemerintah RI menentang keras tuntutan Belanda melakukan pemutusan hubungan luar negeri serta penghapusan dinas diplomatiknya.Tuntutan Belanda untuk membubarkan TNI tidak mungkin dilaksanakan oleh pemerintah RI. Hal-hal itu menyebabkan kegagalankegagalan dalam usaha pemerintah Belanda dan RI untuk mencari cara persetujuan Belanda, tidak ada pilihan lain selain dengan tindakan militer (kekerasan senjata). Pada tanggal 19 Desember 1948 pasukan Belanda menyerbu secara besar-besaran ke wilayah RI. Kota Yogyakarta yang berperan sebagai Ibukota RI, dalam waktu singkat jatuh ke tangan tentara Belanda. Presiden dan Wakil Presiden, Sutan Syahrir beserta sejumlah menteri berhasil ditawan Belanda. Keadaan ini cukup membesarkan harapan pemerintah Belanda untuk melenyapkan RI beserta angkatan perangnya. Tetapi yang diperhitungkan Belanda itu tidak seluruhnya benar, karena secara politis dan strategis tindakan kekerasan Belanda itu justru merugikan bagi dirinya sendiri. Tindakan tentara Belanda itu mengakibatkan meluapnya semangat rakyat dan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Oleh karena yang terjadi bukan perdamaian, melainkan persengketaan antara pemerintah Belanda dengan pemerintah RI serta rakyat Indonesia menjadi semakin memuncak. Uraian di atas menunjukkan bahwa pemerintah Belanda berusaha untuk tetap menguasai wilayah RI. Sebaliknya pemerintah RI walapun di dalam menghadapi Belanda selalu mengalami kerugian, namun RI tetap berusaha mempertahankan kemerdekaan, kedaulatannya melalui perjuangan diplomatik dan militer. B. Permasalahan Agar masalah yang dibahas dalam makalah ini menjadi lebih jelas, maka perlu dikemukakan terlebih dahulu rumusan masalah sebagai berikut :
  4. 4. 1. Bagaimana gambaran umum Daerah Istimewa Yogyakarta di awal masa kemerdekaan tahun 1945-1949? 2. Mengapa Yogyakarta dijadikan sebagai Ibukota Republik Indonesia? 3. Bagaimana dampak Yogyakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia bagi kelangsungan dan kedaulatan Negara Indonesia serta bagi rakyat Yogyakarta? C. Tujuan Penulisan Sesuai dengan permasalahan di atas maka tujuan penulisan makalah ini adalah: a. Untuk memperoleh gambaran Yogyakarta di awal masa kemerdekaan tahun 1945- 1949. Untuk memperoleh gambaran sejauh mana Yogyakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia. Untuk mengetahui dampak Yogyakarta sebagai Ibukota RI bagi kelangsungan dan kedaulatan Indonesia serta bagi rakyat Yogyakarta. D. Manfaat Penulisan Hasil dari penulisan