scan & cover by kelapalima ebook by kalibening ... scan & cover by kelapalima ebook by...

download scan & cover by kelapalima ebook by kalibening ... scan & cover by kelapalima ebook by kalibening ¢â‚¬“Betul-betul

of 94

  • date post

    30-Jan-2020
  • Category

    Documents

  • view

    3
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of scan & cover by kelapalima ebook by kalibening ... scan & cover by kelapalima ebook by...

  • scan & cover by kelapalima ebook by kalibening

  • scan & cover by kelapalima ebook by kalibening

    1 Wiro Sableng menghentikan jalannya di tikungan itu. Matanya memandang ke muka

    memperhatikan beberapa buah gerobak besar ditumpangi oleh perempuan-perempuan dan anak-

    anak. Gerobak-gerobak itu juga penuh dengan muatan berbagai macam perabotan rumah tangga.

    Belasan orang laki-laki kelihatan berjalan kaki dan membawa buntalan barang-barang. Jelaslah

    bahwa semua mereka itu tengah melakukan pindah besar-besaran.

    “Saudara, hendak pergi ke manakah rombonganmu ini?” bertanya Wiro sewaktu seorang

    anggota rombongan melangkah ke jurusannya.

    Orang itu memandang sebentar kepadanya dengan pandangan curiga. Demikian juga

    anggota rombongan yang lain.

    “Kami terpaksa meninggalkan kampung, pindah ke tempat lain yang jauh dari daerah ini....”

    “Kenapa pindah?”

    Seorang laki-laki tua yang mengemudikan gerobak, menghentikan gerobak itu dan

    menjawab pertanyaan Wiro Sableng.

    “Kampung kami dilanda malapetaka!”

    “Malapetaka apakah?”

    “Kepala kampung dan lima orang pembantunya serta istrinya digantung. Beberapa orang

    gadis diculik! Beberapa penduduk dibunuh....”

    “Siapa yang melakukannya?” tanya Wiro Sableng.

    “Siapa lagi kalau bukan kaki tangannya Dewi Siluman,” menyahuti laki-laki pengemudi

    kereta.

    Mulut Pendekar 212 tertutup rapat-rapat. Rahangnya bertonjolan lagi-lagi dia dihadapkan

    pada kejahatan yang dilakukan oleh orang-orangnya Dewi Siluman.

    “Kalau kami tidak meninggalkan kampung, kami semua akan dibunuh!”

    Anggota rombongan yang pertama tadi bertanya. “Kau sendiri mau kemanakah, Saudara...?”

    “Maksudku ke arah sana. Ke kampung kalian...?”

    “Sebaiknya batalkan saja niatmu,” menasehati orang itu. “Orang-orangnya Dewi Siluman

    pasti akan datang lagi ke kampung kami. Jika kau ditemui mereka di sana, tiada harapan bagimu

    untuk hidup lebih lama!”

    “Terima kasih atas nasihatmu, Saudara!” jawab Wiro. “Tapi aku tetap musti menuju

    kesana....”

    “Kau mencari mati, orang muda!” kata pengemudi gerobak. Dilecutnya punggung lembu

    yang menarik gerobak itu kemudian diberinya aba-aba. Rombongan itu pun bergerak kembali.

  • scan & cover by kelapalima ebook by kalibening

    Wiro Sableng mengikuti rombongan itu dengan pandangannya sampai akhirnya mereka

    lenyap di kejauhan. Hatinya kasihan sekali melihat orang-orang itu, terutama laki-laki tua dan

    perempuan-perempuan tua serta anak-anak. Kemudian dibalikkannya badannya dan dengan cepat

    berlalu dari situ.

    Kira-kira dua kali sepeminum teh, Wiro Sableng menemui sebuah kampung yang berada

    dalam keadaan porak poranda. Pastilah ini kampung rombongan yang ditemuinya di tengah jalan

    tadi.

    Beberapa buah rumah hancur. Dua di antaranya musnah dimakan api. Empat orang laki-laki

    terkapar di hadapan sebuah rumah bagus sedang di langkan rumah Pendekar 212 menyaksikan

    enam orang tergantung berayun-ayun tiada nyawa lagi. Yang pertama adalah kepala kampung,

    kemudian isterinya. Selebihnya adalah pembantu-pembantu kepala kampung. Di beberapa langkan

    rumah lainnya, Wiro menemukan pula beberapa orang yang mengalami nasib sama seperti kepala

    kampung, digantung sampai mati.

    Pendekar 212 menyandarkan punggungnya ke sebatang pohon dan membatin. Kesalahan

    apakah yang telah dibuat penduduk kampung ini sebelumnya sampai mereka dibunuh sedemikian

    kejamnya? Anak-anak dan perempuan-perempuan tanpa perikemanusiaan sama sekali?!

    Wiro ingat pada ucapan anggota rombongan tadi. Orang-orangnya Dewi Siluman pasti akan

    kembali ke kampung itu. Wiro memutuskan untuk menunggu. Jika manusia-manusia jahat itu

    muncul, dia akan buat perhitungan dengan mereka dan sekaligus mencari keterangan di mana letak

    Bukit Tunggul. Manusia macam Dewi Siluman tidak layak dibiarkan hidup lebih lama. Maka Wiro

    pun melompat ke sebuah cabang pohon yang tinggi, duduk di situ dan memulai penungguannya.

    Sampai matahari condong ke barat tak seorang pun yang muncul. Dengan hati kesal murid

    Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede itu turun dari atas pohon dan mengelilingi kampung.

    Bukan main geramnya. Wiro sewaktu di salah satu dinding rumah penduduk ditemuinya barisan-

    barisan tulisan seperti yang dilihatnya sebelumnya di kampung yang terdahulu.

    Delapan penjuru angin adaiah daerah kami

    Siapa menantang mesti diterjang

    Dunia persilatan boleh geger

    Tokoh-tokoh persilatan boleh turun tangan

    Kalau mau mempercepat kematian.

    Dan juga di bawah barian-bansan kalimat itu tertera lukisan tengkorak kecil. Geram sekali

    Wiro Sableng pergunakan kaki kirinya untuk menendang dinding rumah itu. Dinding rumah hancur

    berantakan. Ditinggalkannya tempat itu. Hatinya bimbang dan meragu apakah orang-orangnya

    Dewi Siluman benar-benar akan kembali ke kampung itu. Tiba-tiba Wiro tersirap kaget. Di

    belakang rumah sebelah kirinya terdengar suara seseorang bicara.

  • scan & cover by kelapalima ebook by kalibening

    “Heran, kenapa Dewi Siluman berbuat kekejaman yang tiada artinya ini?”

    Sebagai jawaban terdengar suara helaan napas yang disusul dengan ucapan. “Manusia punya

    seribu macam cara untuk cari nama di dunia persilatan!”

    Ternyata ada dua orang di samping rumah sana. Yang mengherankan Wiro ialah mengapa

    dia sama sekali tidak mendengar sedikit pun kedatangan kedua manusia itu? Penuh rasa ingin tahu

    Wiro menyelinap ke bagian rumah yang lain dan melompat ke sebatang pohon berdaun rindang.

    Dari sini jelas sekali dia dapat memandang ke halaman samping rumah tadi. Dua sosok tubuh

    manusia dilihatnya berdiri di sana. Dan untuk kedua kalinya Pendekar 212 dibuat terkejut. Salah

    seorang dari dua manusia itu bukan lain dari nenek-nenek sakti yang pernah baku hantam sekitar

    dua bulan yang lewat dengan dia di Kotaraja. Nenek-nenek sakti yang dikenal dengan gelar Si

    Telinga Arit Sakti.

    Gerangan apakah yang membuat manusia ini berada pula di Pulau Madura? Dan siapakah

    manusia yang berdiri di sampingnya saat itu? Manusia ini juga seorang perempuan tua renta,

    bermuka keriput. Salah satu matanya hanya merupakan rongga hitam yang mengerikan. Kepalanya

    tidak sedikit pun ditumbuhi rambut. Dia mengenakan jubah putih yang pada bagian dadanya

    tergambar dua buah arit saling bersilangan! Melihat kepada umur serta ciri-ciri manusia ini Wiro

    menduga mungkin sekali dia adalah guru Si Telinga Arit Sakti. Sekurang-kurangnya kakak

    seperguruannya. Dan apakah kemunculan mereka berdua di Pulau Madura ada sangkut pautnya

    dengan pertempuran di Kotaraja dulu itu? Sangkut paut urusan dendam yang hendak dibalaskan?

    Atau mungkin untuk satu urusan lainnya?

    Wiro terus memperhatikan dari atas pohon berdaun lebat itu. Dilihatnya Si Telinga Arit

    Sakti memandang berkeliling.

    “Tak ada tanda-tandanya bangsat yang kita kejar itu berada di sini....” Perempuan tua

    berjubah putih buka suara.

    Si Telinga Arit Sakti memandang lagi berkeliling lalu menyahuti. “Tapi rombongan yang

    kita papasi di tengah jalan itu mengatakan bahwa dia memang menuju ke sini. Mungkin dia sudah

    berlalu ke tempat lain. Kita harus mengejarnya dengan cepat.”

    “Kau hanya bikin aku repot saja Telinga Arit Sakti. Kalau tidak gara-garamu tentu sekarang

    ramuan obat yang kukerjakan itu sudah selesai!”

    Telinga Arit Sakti perlihatkan wajah yang tidak senang. “Kalau pemuda sialan itu tidak

    keliwat sakti mandraguna, pastilah aku tak akan mengemis minta tolong padamu. Guru!”

    Nyatalah kini bagi Wiro Sableng bahwa perempuan tua berjubah putih itu adalah guru Si

    Telinga Arit Sakti! Dan nyata pula bahwa kemunculan mereka di Pulau Madura saat itu adalah

    dalam mencari dirinya sendiri. Rupanya kekalahan di Kotaraja tempo hari sangat menggeramkan

  • scan & cover by kelapalima ebook by kalibening

    hati Si Telinga Arit Sakti hingga manusia itu mengadu kepada gurunya. Guru dan murid kemudian

    sama-sama mencarinya!

    “Dalam berpikir-pikir apakah dia saat itu segera turun atau tetap saja diam di atas pohon

    maka Wiro mendengar perempuan berjubah putih berkata. “Kita teruskan pengejaran ke timur!

    Kurasa orang yang kita cari masih belum berapa jauh!”

    Telinga Arit Sakti mengangguk. Maka keduanya pun berkelebat hendak meninggalkan

    tempat itu. Tapi pada detik yang sama dari jurusan barat satu bayangan hitam laksana anak panah

    lepas dari busurnya datang memapas ke arah mereka. Pendatang baru ini berseru nyaring. Suaranya

    menggetarkan delapan penjuru angin.

    “Dua perempuan tua! Harap tetap di tempat kalian!”

    Guru dan murid hentikan tindakan mereka dan berpaling ke arah barat. “Bedebah! Siapa

    yang berani main perintah seenak cecongornya huh?!” dengus guru Si Telinga Arit Sakti dengan

    penuh kegusaran.

    Dalam sekejap itu pula Si pendatang baru sudah sampai di hadapan mereka. Melihat siapa

    adanya manusia ini maka sirnalah kemarahan guru Si Telinga Arit Sakti. Malah dia menjura hormat

    dan lontarkan senyum.

    “Ah, kiranya Sepuluh Jari Kematian! Tiada sangka akan bertemu di Pulau Madura ini!”

    Manusia yang baru datang