SASTRA DAN TRANSFORMASI BUDAYA Tesis dalam bidang .SASTRA DAN TRANSFORMASI BUDAYA (Analisis...

download SASTRA DAN TRANSFORMASI BUDAYA Tesis dalam bidang .SASTRA DAN TRANSFORMASI BUDAYA (Analisis Hermeneutika

If you can't read please download the document

  • date post

    11-Aug-2019
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of SASTRA DAN TRANSFORMASI BUDAYA Tesis dalam bidang .SASTRA DAN TRANSFORMASI BUDAYA (Analisis...

  • SASTRA DAN TRANSFORMASI BUDAYA

    (Analisis Hermeneutika Gadamer terhadap Novel Ikthtila>s

    Karya Ha>ni Naqshabandi)

    Tesis

    Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar magister

    dalam bidang Bahasa dan Sastra Arab

    Oleh

    Muhammad Yusuf

    NIM; 132.00.1.06.01.0032

    Sekolah Pascasarjana

    UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    1438 H/2017

  • ii

  • iii

    PENGANTAR

    Alhamdulillah, segala pujia bagi Allah Tuhan sekalian

    alam, dengan segala karunia dan nur-Nya, tesis ini dapat penulis

    selesaikan. Shalawat dan Salam yang lahir dari kerinduan yang tak

    terpadamkan, semoga senantiasa tercurah pada Nabi Muhammad

    saw, para Sahabatnya dan juga pada Orang Tua penulis sendiri.

    Untuk sekelas tesis, tesis ini mungkin termasuk salah satu

    dari beberapa tesis yang penelitiannya agak lama, dua tahun.

    Lama waktu yang digunakan untuk penelitian ini dipengaruhi dua

    hal pokok, yakni metodologi penelitian dan teori analisis yang

    digunakan. Hingga menjadi tesis seperti sekarang, penulis telah

    melakukan empat kali pembuatan proposal yang selalu berganti,

    mulai dari analisis Marxisme, analisis Semiotika, Sosiologi Sastra

    dan analisis wacana.

    Sebagai sarjana yang lahir dari perguruan tinggi (terutama

    Perguruan Tinggi Islam) di luar Pulau Jawa, mengikuti

    perkembangan UIN Jakarta tidaklah mudah. Ketika beberapa

    Perguruan Tinggi mulai belajar membuka diri terhadap pendapat

    (opini) baru dan perbedaan pendapat, misalnya, UIN Jakarta telah

    berpikir soal perguruan tinggi kelas dunia. Begitu jauhnya, jarak

    perkembangan perguruan tinggi UIN Jakarta dengan perguruan

    tinggi lainnya. Demikian pula halnya dengan gagasan, cara

    berpikir dan perkembangan ilmu kontemporer.

    Kondisi itulah yang membuat penulis canggung dan

    rendah diri. Ketika mahasiswa S1 UIN Jakarta di mana-mana (di

    sekitar kampus) telah sibuk mendiskusikan pikiran dan gagasan

    Schleiemarcher, Jean Baudrilard, Michael Foucault, Paul Sartre,

    Charles Sanders Peirce, Levis Straus, Roland Barthes, dan masih

    banyak lagi, istilah dan nama-nama itu justru terdengar aneh dan

    asing bagi saya. Karena selama pendidikan sarjana, nama paling

    ‘aneh’ yang pernah saya dengar di jurusan sastra Arab hanyalah

    Ferdinan Desausre dan istilah yang paling sering adalah soal rafa’, nasab dan huruf jar.

    Kebingungan saya bertambah, ketika memasuki kelas

    Bahasa dan Filsafat, semakin banyak hal aneh yang saya dengar,

    seperti pembedaan ikon, indeks dengan simbol. Pada akhirnya

    saya memutuskan untuk menghabiskan waktu di perpustakaan dan

    mengenal nama dan istilah aneh itu. Juga mengikuti setiap

    perkuliahan tanpa dibatasi kewajiban mengambil mata kuliah

  • iv

    wajib dan pilihan. Hingga semester lima, saya baru sadar ternyata

    ada dua belas mata kuliah yang sudah tidak bisa masuk KHS.

    Saya sendiri tidak pernah menyesal telah menghabiskan

    waktu dua setengah tahun dalam kelas dan pustaka. Pertimbangan

    saya adalah saya lebih baik telat menyelesaikan studi dari pada

    tidak membawa apa-apa setelah wisuda. Kesempatan membaca

    dan kuliah hanya datang sekali. Karena saya tidak percaya pada

    saran ‚yang penting selesai dulu, ilmu dicari setelah wisuda‛. Beberapa teman saya punya pengalaman tentang ini. Ketika

    sarjana dia dianjurkan cepat selesai dan mengejar target wisuda.

    Saat menempuh pendidikan S2, dia juga mendapat saran yang

    sama, yaitu ‚yang penting selesai dulu, ilmu dicari setelah wisuda. Ketika tengah menjadi pengajar, ia mengeluhkan banyak hal dan

    menyesali, meski sebagian besar dari mereka, menikmati

    profesinya.

    Kembali ke tesis. Setelah melalui proses panjang dan

    mengenal satu persatu pemikir modern, pilihan jatuh pada teori

    hermeneutik, tepatnya hermeneutika Gadamer. Sehingga

    pemikiran hermeneutiknya dijadikan sebagai pisau analisis teks

    sastra novel yang saya teliti. Gadamer banyak dipengaruhi oleh

    gurunya Hiedegger dalam perkembangan intelektualnya hingga ia

    menjadi seorang filsuf besar abad 21, melalui karya besarnya

    Wahrheit und Methode atau Ttruth and Methode. Pemilihan hermeneutika sebagai teori analisis, karena hermeneutika secara

    khusus bicara tentang interpretasi teks, termasuk teks sastra.

    Richard E Palmer merangkum enam defenisi

    hermeneutika, yakni pertama, hermeneutika sebagai sebagai teori Eksegesis (tafsir) Bibel, kedua, hermeneutika sebagai metodologi filologis, ketiga, hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistik, keempat, hermeneutika sebagai dasar metodologi ilmu sosial-humaniora, kelima, hermeneutika sebagai fenomenologi Dasein dan pemahaman eksistensial, keenam, hermeneutika sebagai sistem interpretasi; menemukan makna vs ikonoklasme.

    Gadamer sendiri berpendapat bahwa hermeneutika

    sebagai kesepahaman dan pertemuan ada (being) melalui bahasa. Hermeneutika di tangan Gadamer berkembang menjadi kerja

    ontologis. Ia juga berpendapat bahwa pemahaman merupakan

    fenomena primer. Ketika membaca sebuah teks, pengarang dan

    pembaca bergerak di dalam wilayah kesepahaman yang berbeda,

    yang ia sebut sebagai horizon. Karena horizon interpretasi

    pembaca dipengaruhi oleh prasangka yang terbangun melalui

  • v

    tradisi tempat ia berada. Tradisi itu sendiri merupakan horizon

    yang luas, dan di dalam horizon tradisi itu horizon pembaca

    berada. Jadi memahami bukanlah representasi masa lalu di masa

    sekarang, melainkan upaya peleburan horizon masing-masing, baik

    horizon teks, horizon pengarang maupun horizon pembaca. Untuk

    memahami makna teks, pembaca atau penafsir tidak bergerak

    meninggalkan horizonnya dan masuk ke horizon pengarang, tetapi

    horizon pembaca menjadi lebih luas, karena horizon bersifat

    terbuka dan dinamis. Sehingga ketika memahami sebuah teks,

    pembaca belajar melihat lebih dekat, dalam keseluruhan yang

    lebih luas.

    Sedangkan ketika terdapat perbedaan horizon pembaca

    dengan teks yang dilakukan adalah mengeksplisitkan kegetangan

    horizon itu. Dengan demikian, kerja interpretasi dalam pandangan

    Gadamer, adalah memproyeksikan sebuah horizon yang historis

    yang berbeda dengan masa kini. Dengan kata lain, kerja seorang

    penafsir atau pembaca adalah menyesuaikan makna sebuah teks

    untuk masa kini tanpa meninggalkan horizon masing-masing

    (pengarang, teks dan pembaca) itu sendiri.

    Ketika cara kerja hermeneutika Gadamer ini diterapkan

    pada novel Ikhtila>s karya Ha>ni Naqshabandi, kita menjadi tahu bahwa gerakan revolusi kebudayaan tengah terjadi di Arab Saudi.

    Gerakan ini antara lain ditandai dengan munculnya kesadaran

    akan kebebasan masyarakat terhadap pemahaman keagamaan dan

    tradisi. Praktek keagamaan dituntut sebagai sesuatu yang sesuai

    dengan keadilan dan rasionalitas. Hal ini dimulai dengan

    kesadaran perlunya redefenisi terhadap manusia itu sendiri,

    khususnya perempuan.

    Menurut Ha>ni Naqshabandi, dalam masyarakat Arab

    Saudi, perempuan dipahami dan didefenisikan sebagai makhluk

    yang kurang nalar, tidak rasional dan kurang agamanya. Defenisi

    ini ditopang oleh pendapat keagamaan, yang berujung pada

    perbedaan perlakuan bahkan diskriminatif terhadap perempuan

    dalam kehidupan sosial, agama, pendidikan maupun politik secara

    mutlak. Pada akhirnya kehidupan perempuan menjadi objek

    kehidupan sosial laki-laki dengan segala perangkatnya. Hal ini

    mengingat bahwa agama sendiri merupakan sumber hukum utama

    negara yang wajib dijalankan oleh pemerintah dan masyarakat.

    Untuk memperkuat defenisi tentang perempuan ini,

    masyarakat bersama-sama dengan negara membentuk simbol-

    simbol khusus. Simbol itu antara lain cadar sebagai simbol

  • vi

    kesalehan, keperawanan sebagai simbol kehormatan dan

    perempuan sendiri sebagai simbol kelemahan. Meski sebagian

    simbol-simbol itu diamini oleh dan dapat ditemukan dalam

    agama, tetapi tujuan mempertahankan simbol itu sangatlah politis

    dan sudah diluar batas kewajaran baik dilihat dari segi

    kemanusiaan pun dari sisi agama. Batas ini membawa masyarakat

    pada kesimpulan bahwa perempuan tidak berhak untuk

    memutuskan sendiri apa yang benar menurut mereka. Nalar dan

    akal sehat perempuan menjadi dipertanyakan ketika ia berbicara

    tentang agama, tradisi dan politik. Pembahasan ini akan nampak

    jelas pada bagian bab empat sebagai bab analisis.

    Sampai pada kesimpulan ini teoretis ini, bukanlah

    pekerjaan mudah. Oleh sebab itu, saya ingin sampaikan

    terimakasih tak terhingga pada Orang Tua tercinta, Nasrul Malin

    Sutan (Bapak) dan Khadijah (Emak) yang dengan bimbingan,

    dorongan dan doanya, penulis menjalani hidup dan mengarungi

    dunia yang intelektual. Terimakasih juga penulis sampai pada Uda

    Undrakia yang berkorban dan memberi dorongan banyak hal,

    untuk selalu sekolah. Terimakasih Uda Etrizal dan Uni Desi Citra

    Dewi, yang menyeberangkan dan banyak membantu penulis ke