SANGKAN PARAN PARANING DUMADI Dening Ki · PDF fileSANGKAN PARAN PARANING DUMADI Dening Ki...

of 63 /63
www.alangalangkumitir.wordpress.com AAK Culture Library 1 www.alangalangkumitir.wordpress.com Mas Maskumitir SANGKAN PARAN PARANING DUMADI Dening Ki Sondong Medali SANGKAN PARAN (01) Wacana ‘Paraning Dumadi’ yang dikirimkan ke saya dan kemudian saya teruskan kepada para sejawat semua kiranya perlu menjadi perhatian kita semua. Marilah kita sama-sama menelisik ‘kawruh murni’-nya leluhur kita tersebut dengan ketulusan demi bisa terwariskan kepada anak keturunan kita sendiri. Telah kita ketahui bersama, bahwa ‘ngelmu-ngelmu’ Jawa sangat jarang yang dipaparkan secara tertulis dengan gamblang. Kebanyakan dengan simbul-simbul yang benar-benar rumit untuk dipahami secara awam. Terlebih-lebih tentang ‘ngelmu- ngelmu’ yang sangat penting dan mendasar sebagaimana ‘Kawruh Sangkan Paran’. Kita tidak tahu mengapa hal itu terjadi. Bahkan pemahaman yang terwariskan kepada kita telah memposisikan ‘ngelmu-ngelmu’ tersebut sebagai ‘sinengker’ yang artinya tidak boleh dibicarakan secara umum. Perlu prasyarat-prasyarat tertentu yang harus ‘dilakoni’ oleh orang yang berkehendak mempelajari dan memahami. Maka akibatnya bagi awam terposisikan untuk ‘manut miturut’ mengikuti para ‘sesepuh’ yang diyakini telah mampu menguasai ‘ngelmu-ngelmu rungsit lungid’ tersebut. Sinengkernya ngelmu-ngelmu Jawa tersebut menjadikan kebanyakan orang Jawa awam merasa terjauhkan dari ‘Kawruh Ajaran Hidup’ warisan leluhurnya sendiri. Kemudian memilih untuk mengikuti ‘Ajaran Hidup’ dari luar yang disebarkan dengan intensif dan gampang. Bahkan untuk menjadi ‘tokoh’ ajaran hidup yang dari luar itupun tidak banyak prasyarat yang harus dipenuhi. Oleh karena itu menjadi wajar ketika ‘nuansa’ Jawa di saat ini terkesan sudah berubah menjadi “Barat’ dan ‘Timur Tengah’. Keinginan Ki Djoko Wiro dalam mewacanakan ‘Paraning Dumadi’ membuktikan bahwa sesungguhnya ada keinginan-keinginan di kalangan masyarakat Jawa terpelajar untuk bisa memahami ‘Kawruh Ajaran Hidup’ yang asli miliknya sendiri. Beliau yang telah ‘yuswa’ dan mengenyam asam garam kehidupan nampaknya ‘kurang sreg’ dengan diskripsi ajaran hidup (agama) yang dari luar. Namun menjadi gamang ketika mencoba mengikuti penekunan spiritual Jawa yang ada (Aliran

Embed Size (px)

Transcript of SANGKAN PARAN PARANING DUMADI Dening Ki · PDF fileSANGKAN PARAN PARANING DUMADI Dening Ki...

  • www.alangalangkumitir.wordpress.com AAK Culture Library 1

    www.alangalangkumitir.wordpress.com Mas Maskumitir

    SANGKAN PARAN PARANING DUMADI

    Dening Ki Sondong Medali

    SANGKAN PARAN (01)

    Wacana Paraning Dumadi yang dikirimkan ke saya dan kemudian saya teruskan

    kepada para sejawat semua kiranya perlu menjadi perhatian kita semua. Marilah

    kita sama-sama menelisik kawruh murni-nya leluhur kita tersebut dengan

    ketulusan demi bisa terwariskan kepada anak keturunan kita sendiri.

    Telah kita ketahui bersama, bahwa ngelmu-ngelmu Jawa sangat jarang yang

    dipaparkan secara tertulis dengan gamblang. Kebanyakan dengan simbul-simbul

    yang benar-benar rumit untuk dipahami secara awam. Terlebih-lebih tentang

    ngelmu- ngelmu yang sangat penting dan mendasar sebagaimana Kawruh

    Sangkan Paran.

    Kita tidak tahu mengapa hal itu terjadi. Bahkan pemahaman yang terwariskan

    kepada kita telah memposisikan ngelmu-ngelmu tersebut sebagai sinengker

    yang artinya tidak boleh dibicarakan secara umum. Perlu prasyarat-prasyarat

    tertentu yang harus dilakoni oleh orang yang berkehendak mempelajari dan

    memahami. Maka akibatnya bagi awam terposisikan untuk manut miturut

    mengikuti para sesepuh yang diyakini telah mampu menguasai ngelmu-ngelmu

    rungsit lungid tersebut.

    Sinengkernya ngelmu-ngelmu Jawa tersebut menjadikan kebanyakan orang Jawa

    awam merasa terjauhkan dari Kawruh Ajaran Hidup warisan leluhurnya sendiri.

    Kemudian memilih untuk mengikuti Ajaran Hidup dari luar yang disebarkan

    dengan intensif dan gampang. Bahkan untuk menjadi tokoh ajaran hidup yang

    dari luar itupun tidak banyak prasyarat yang harus dipenuhi. Oleh karena itu

    menjadi wajar ketika nuansa Jawa di saat ini terkesan sudah berubah menjadi

    Barat dan Timur Tengah.

    Keinginan Ki Djoko Wiro dalam mewacanakan Paraning Dumadi membuktikan

    bahwa sesungguhnya ada keinginan-keinginan di kalangan masyarakat Jawa

    terpelajar untuk bisa memahami Kawruh Ajaran Hidup yang asli miliknya sendiri.

    Beliau yang telah yuswa dan mengenyam asam garam kehidupan nampaknya

    kurang sreg dengan diskripsi ajaran hidup (agama) yang dari luar. Namun menjadi

    gamang ketika mencoba mengikuti penekunan spiritual Jawa yang ada (Aliran

  • www.alangalangkumitir.wordpress.com AAK Culture Library 2

    www.alangalangkumitir.wordpress.com Mas Maskumitir

    Kepercayaan). Kiranya banyak kadang lajer Jawa yang seperti Ki Djoko Wiro

    tersebut.

    Ketika saya kepingin urun rembuk untuk mengkaji berbagai ngelmu Jawa, maka

    kendala yang terjadi ada pada bahasa. Pada kenyataannya memang sangat sulit

    menyam-paikan paparan kawruh kejawen dengan bahasa Indonesia. Padahal

    bahasa Jawa untuk ngelmu-ngelmu tersebut sudah banyak yang kurang paham

    lagi. Serat-serat kapujanggan misalnya, bahasanya sudah jarang dipergunakan

    awam pada masa sekarang ini. Lagian disusun dalam bentuk tembang-tembang.

    Maka jarang orang paham isinya meskipun ketika berkesenian nembang macapat

    begitu fasih melakukan.

    Namun demikian, kita hendaknya tidak gampang menyerah. Karena kita, wong

    Jawa, masih memiliki bahasa Jawa Ngoko yang secara alamiah terlestarikan dan

    masih banyak awam yang memahami. Kebetulan saja bahwa teks ngelmu-

    ngelmu Jawa banyak yang dipaparkan dengan bahasa Jawa Ngoko itu.

    Menanggapi keinginan Ki Doko Wiro dan mungkin para sejawat lain yang senada,

    maka saya ingin menyampaikan suatu kajian tentang Kawruh Sangkan Paran

    semampu saya kepada para sejawat. Sumangga . Meski yang tertera di banyak

    literatur Jawa masih banyak berbau dongeng, namun bisa menuntun saya

    memahami dasar falsafah Jawa tentang: teologi, mitologi dan kosmologi

    Kejawen. Landasan atau aras dasar utama spiritualisme Kejawen adalah

    Panunggalan, atau Manunggal yang artinya menerangkan bahwa sistim dari

    semua yang ada merupakan suatu kesatuan yang mutlak kosmis-magis tak

    terpisahkan.

    Struktur sistim-nya seperti kesatuan sel yang terdiri inti dan plasma, disebut

    dalam istilah Jawa Gusti dan Kawula. Kalimatnya : Manunggaling Kawula

    Gusti. Untaian kata wewarah Jawa lainnya: kembang lan cangkoke, sesotya lan

    embanan, sedulur papat kalima pancer (dalam konteks rohani manusia), Hyang

    Manik lan Hyang Maya; Manikmaya atau Dzat Sejatining Urip (rohani jagad

    semesta) yang dalam istilah Jawa diberi sebutan: Pangeran atau Gusti.

    Kawruh Kjawn mengajarkan bahwa tergelarnya jagad raya adalah diciptakan

    oleh Sang Hyang Wenang (sebutan lainnya: Sang Hyang Wisesa, Sang Hyang

    Tunggal), nama sebutan untuk Sesembahan Asli Jawa. Penciptaannya dengan

    meremas (membanting) antiga (benih, wiji, bebakalan) hingga tercipta tiga hal :

    a. Langit dan bumi (alam semesta).

    b. Teja dan cahya, teja merupakan cahaya yang tidak bisa diindera sedangkan

    cahya merupakan cahaya yang bisa diindera.

  • www.alangalangkumitir.wordpress.com AAK Culture Library 3

    www.alangalangkumitir.wordpress.com Mas Maskumitir

    c. Manikmaya, yaitu Dzat Urip atau Sejatining Urip (Kesejatian Hidup, Suksma,

    Roh).

    Menurut Kawruh Kjawn, maka seluruh semesta seisinya adalah ciptaan

    Sanghyang Wisesa di alam suwung, artinya mencipta di dalam haribaan-Nya

    sendiri. Di dalam haribaan-Nya sendiri mengandung maksud bahwa Tuhan murb

    wass (melingkupi, memuat, serta menguasai dan mengatur) seluruh semesta

    dan seluruh isinya.

    Di dalam kesemestaan tersebut ada materi (bumi dan langit), ada sinar dan medan

    kosmis (cahya dan teja), dan ada Dzat Urip (Manik-my, Sjatining Urip,

    Kesejatian Hidup) sebagai derivate (emanasi, pancaran, tajali) Dzat Tuhan.

    Pandangan Kjawn menyatakan bahwa: Dzat Tuhan tan kn kinyngp",

    tidak bisa dihampiri oleh akal, rasa, dan daya spiritual (batin) manusia. Yang

    mampu dihampiri akal, rasa dan daya spiritual (kebatinan) adalah Derivate Awal

    Dzat Tuhan yang di banyak penekunan kejawen disebut Suksma Kawekas. Saya

    sendiri lebih nyaman menggunakan sebutan Dzat Sejatining Urip, yang kemudian

    disebut: Pangran, Gusti, atau Ingsun.

    Kawruh Sangkan Paran merupakan ngelmu Jawa yang mengajarkan asal mula

    keseluruhan yang ada dan kemana tujuan akhirnya. Ada dalam artian Maha

    Kesatuan Tunggal Semesta adalah langgeng abadi. Maka dengan demikian

    sangkan paran lebih ditujukan kepada ada untuk titah urip dan lebih khusus lagi

    manusia. Titah urip merupakan persenyawaan dari tiga unsur : bumi lan langit,

    cahya lan teja, serta dzat urip. Ketiga unsur tersebut bersifat langgeng pada

    azali-nya, maka yang tidak langgeng adalah kahanan pernyawaannya. Sangkan

    berarti proses mensenyawa, sementara paran merupakan kahanan setelah

    mengurai kembalinya pernyawaan tersebut. Berikut saya kutipkan Wedaran Sang

    Wiku Djawa Boedi Moerni (1934) :

    Note :

    Sang Wiku adalah sesepuh Kejawen yang menjadi guru utama banyak tokoh-

    tokoh Jawa di jamannya. Tersirat dalam tulisan para siswanya, bahwa saat itu

    Sang Wiku sudah sepuh sekali, diatas seratus taun. Sang Wiku menyatakan diri

    sebagai orang pelosok (pegunungan) yang jauh dari kota. Cedhak watu adoh

    ratu.

    SANGKAN PARAN (02)

    Sangkan Paran iku lakone Urip utawa Jiwa kang lagi tumurun saka kana tumeka

    ing kene, kang ing maune sira padha durung wikan (mangerti). Maune iku, karepe

  • www.alangalangkumitir.wordpress.com AAK Culture Library 4

    www.alangalangkumitir.wordpress.com Mas Maskumitir

    wiwitan utawa kana, dadi sangkane kang mau saka kana, parane mrene. Kosok

    baline, saka kene parane mrana. Iku yen mungguh tumraping wong lumaku, sing

    mesthi sangkane saka mburi parane menyang ngarep. Sawise tumeka ing paran

    (kene iki), yen arep marani sangkane, kudu lumaku ambalik. Ananging patrap kang

    mangkono iku rekasa, marga dunung lan dalane wis ora kelingan; rak iya ta? Coba

    caritaa sapa kang wus tau weruh, wong tuwa bisa bali dadi bocah maneh, banjur

    dadi bayi bali lumebu ing guwa garba, nuli bisa bali dadi jiwa? Iku aran mokal.

    Ing mengko sarehning patrap ambalik iku ora bakal bisa kalakon, becike nganggo

    patrap lumaku ambanjur bae. Geneya teka mangkono? Iya awit mirid saka

    piwulang bab kaanan titahing Suksma, adhapur piwulang kang sajati ngenani

    jagad saisine kabeh, bawana iku wujude bunder. Dadi yen lumaku ambanjur, kang

    mesthi iya bisa tumeka ing panggonan maune. Awit araning enggon iku mung loro,

    kana karo kene. Kosok baline: kene karo kana. Dadi yen saka kana, parane mrene,

    lan manawa saka kene parane mrana. Waton lakune mau ora slewengan, utawa

    mompar mampir ndadak utang sangu barang, utawa maneh ndadak jajan ana ing

    warung, adus ing kedhung, mesthine rak iya bakal tekan ing kana ta?

    Mulane padha den ngati-ati lan prayitna sarta kang eling, manawa kene iki akeh

    begalane lan akeh sambekalane, apa maneh dhasar gedhe cobane. Iku kang dadi

    pangridhu lan pamurunging sedya, kang marakake ora bisa sembada. Mangka

    kene iki wawayangane kana, lan kana iku iya wawayangane kene. Papadhane sira

    andeleng warnanira ana sajroning pangilon, yen kene tutul, kana iya tutul; kene

    lorek, kana iya lorek; kene