Salah paham thd ht

download Salah paham thd ht

of 46

  • date post

    05-Jul-2015
  • Category

    Spiritual

  • view

    1.269
  • download

    2

Embed Size (px)

description

Salah paham bisa jadi muncul karena kurangnya info, atau mungkin juga karena salah mengambil sumber info... Slide ini berupa penjelasan mengenai isu2 yang beredar seputar Hizbut Tahrir.

Transcript of Salah paham thd ht

  • 1. Hizb mengartikan Iman berbeda dengan pengertian para ulama pada umumnya. Iman menurut Hizb: Pembenaran yang bersifat pasti yang sesuai dengan fakta berdasarkan suatu bukti Iman menurut ulama pada umumnya: Pembenaran dengan hati, pernyataan dengan lisan, dan perbuatan dengan anggota tubuh.

2. Pengertian Iman oleh Hizb adalah pengertian Iman sesungguhnya secara bahasa dan realita, sedangkan pengertian Iman oleh Ulama pada umumnya adalah Iman yang kaitannya dengan perbuatan seorang hamba. Ungkapan al-qaul bi-l-lisaan dan al-amal bi-l-jawaarih semata-mata menandakan kesempurnaan Iman, bukan iman itu sendiri. Hal ini karena keimanan yang benar akan meniscayakan amal. 3. Contoh dalil bahwa iman adalah murni amalan batin: : [/260] : ..[/88] [/22] () [] 4. Contoh dalil iman dengan konsekwensinya berupa amalan zhahir: [] [ ] [] 5. : . -. Imam Al-Bukhoriy: keyakinan adalah ilmu yang menancap di hati setelah pengkajian dan pembuktian, maka ia meniscayakan kuatnya pembenaran sampai pada taraf menafikan keraguan dan meniscayakan ketentraman, ketenangan, dan kelegaan hati dengan keimanan tersebut. Ibnu Masud menganggap keyakinan adalah keimanan itu sendiri. Demikian pula dikatakan oleh Imam Asy- Syabiy [Ibn Rojab, Fathu-l-Baariy, jilid I hal. 13] 6. . "Ahli Sunnah dari kalangan ahli hadits, para fuqaha, dan ahli kalam, telah sepakat bahwa seseorang mukmin yang dihukumi sebagai ahli kiblat (muslim) dan tidak kekal di dalam neraka, hanyalah siapa-siapa yang meyakini dienu-l-Islaam di dalamnya hatinya secara pasti tanpa keraguan sedikitpun, dan ia mengucapkan dua kalimat syahadat. [An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid I hal. 149] 7. . Ketahuilah, bahwa madzhab ulama yang benar adalah bahwa seorang ahlul kiblat tidak dihukumi kafir hanya dikarenakan suatu dosa tertentu, dan tidak pula dihukumi kafir para pengikut hawa nasfsu dan bidah. [An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid I hal. 150] 8. Hizbut Tahrir menolak penggunaan Hadits Ahad dalam masalah Akidah, maka karenanya Hizb dianggap mengingkari Siksa Kubur dan pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, Kemunculan Imam Mahdi dan Dajjal, Turunnya Nabi Isa as, Syafaat Rasulullah saw, dll., karena semuanya itu landasannya adalah hadits-hadits Ahad. Karena itulah Hizbut Tahrir sama dengan Mutazilah 9. Hizbut Tahrir tidak menggunakan Hadits Ahad sebagai landasan akidah, karena ia bersifat zhanniy (dugaan) tidak qathiy (pasti). Sementara memunculkan kayakinan tidak bisa kecuali hanya dengan dalil yang bersifat qathiy, yaitu Al-Quran dan Hadits Mutawatir. Adapun terhadap Hadits Ahad yang shahih, jika terkait syariat wajib diamalkan, dan jika terkait keyakinan cukup dibenarkan. Hal ini tidak sebagaimana Mutazilah yang menolak hadits Ahad secara mutlak. 10. . dan yang merupakan pendapat mayoritas kaum muslim dari kalangan sahabat, tabiien dan siapa-siapa setelah mereka dari kalangan ulama hadits, ulama fiqh, dan ulama ushul, bahwa khabar ahad yang terpercaya (sahih) merupakan hujjah di antara hujjah- hujjah syara, wajib diamalkan, dan berfaedah Zhann (dugaan) tidak berfaedah ilm (yakin). [An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid I hal. 131] 11. ... Sebagian ulama hadits berpendapat bahwa hadits ahad di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim berfaeah ilm (yakin), tidak hadits ahad selainnya. Dan kami telah menjelaskan pendapat ini dan bantahannya di banyak fashal. Semua pendapat-pendapat ini selain pendapat jumhur adalah batil (salah) 12. ... .. Adapun orang yang berpendapat bahwa hadits ahad meniscayakan ilm maka dia telah berpaling dari kenyataan. Bagaimana bisa hadits ahad menghasilkan ilm sementara kemungkinan adanya penyimpangan, kealpaan, pemalsuan dan yang lainnya ada padanya. Wallahu alam. [An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, jilid I hal. 132] 13. Membedakan antara At-Tashdiiq (Pembenaran Saja/Bersifat Tidak Pasti) dan At-Tashdiiqu-l-Jaazim (Pembenaran yang Bersifat Pasti) Misalnya anda membeli gula dari sebuah toko sebanyak 3 kg dan penjual menimbang gula tersebut di hadapan mata kepala anda. Jika di perjalanan pulang anda ditanya berapa berat gula yang anda bawa? Tentunya anda akan langsung menjawab 3 kg! Tapi jika ditanya lebih lanjut: beranikah anda bersumpah bahwa gula tersebut benar-benar 3 kg, tidak lebih dan tidak kurang walau hanya 1 mg pun? Tentu anda tidak akan berani, karena timbangan penjual gula tadi berpeluang salah, bisa jadi karena takarannya dikurangi, rusak, penjual yang lalai, atau yang lainnya. Pembenaran anda terhadap 3 kg di sini baru pembenaran saja yang tidak bersifat pasti. Kecuali jika kemudian anda membuktikan berat gula tersebut dengan timbangan- timbangan lainnya hingga jumlah timbangan yang memustahilkan terjadi kesalahan bahwa berat gula tersebut benar-benar 3 kg persis, tidak kuarang dan tidak lebih. Maka pembenaran anda atas 3 kg yang terakhir inilah pembenaran yang bersifat pasti dan anda akan berani bersumpah atasnya! 14. Hizb dianggap telah mengkafirkan umat islam serta para pemimpin mereka, lantaran Hizb menyebut negeri-negeri kaum muslim yang ada saat ini dengan sebutan Daaru-l-Kufr (negara kufur), karena tidak menerapkan sistem islam, yakni Khilafah Islamiyyah. Serta menyebut kematian kaum muslimin saat ini dengan mati dalam keadaan jahiliyah, di mana kondisi jahiliyyah identik dengan kekufuran dan kemusyrikan. 15. Dalam pandangan Hizb, negeri-negeri kaum muslim saat ini adalah daaru-l-kufr (negara kufur) karena tidak berhukum dengan hukum Allah swt. Hal ini sesuai dengan pandangan jumhur ulama, bahwa negara yang tidak memberlakukan hukum Islam bukanlah daaru-l- islaam (negara islam), melainkan daaru-l-kufr. 16. .. . Jumhur ulama berkata: daaru-l-islaam adalah negara yang dihuni oleh kaum muslim dan berlaku di dalamnya hukum-hukum Islam. Setiap yang tidak berlaku di dalamnya hukum-hukum Islam, bukanlah daaru-l-islaam meski ia berdekatan dengannya. Dan ini negeri Thaif, sangat dekat dengan Mekah, tapi tidak secara otomatis menjadi daaru-l-islaam dengan peristiwa Fathu Makkah. (Ibn Qoyyim Al- Jauziyyah, Ahkaamu Ahli-dz-Dzimmah, 2/728) 17. Akan tetapi, penyebutan terhadap suatu negeri dengan sebutan daaru-l-kufr, tidak berarti menganggap semua penghuninya kafir. Istilah daaru-l-kufr hanya menandakan bahwa negeri tersebut tidak berhukum dengan hukum-hukum Islam. Demikian sebaliknya, sebutan daaru-l-islaam tidak berarti menganggap semua penghuninya muslim, karena daaru-l-islam pada faktanya juga dihuni oleh non-muslim, baik berstatus sebagai kafir dzimmiy maupun kafir musta-min. Adapun penguasa yang tidak menerapkan hukum islam, Hizb memandang: jika perbuatannya disertai keyakinan maka dia kafir, jika tidak disertai keyakinan maka dia brdosa (zhaalim/faasiq). 18. Allah swt telah memerintahkan penguasa untuk berhukum dengan apa yang Allah swt turunkan atas Rasulullah saw, dan menjadikan siapa-siapa yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah swt sebagai kafir jika menyakininya, dan meyakini tidak adanya kemaslahatan pada apa yang diturunkan atas Rasul-Nya, serta menjadikannya bermaksiat jika berhukum dengannya (selain hukum Allah swt) tanpa meyakininya. [Syaikh Taqyuddin An-Nabhaaniy, Muqaddimatu-d-Dustuur, hlm 6] 19. . Berkata Ikrimah ra: siapa-siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah swt karena keingkaran terhadapnya maka dia benar-benar telah kafir, dan siapa-siapa masih mengakuinya tapi tidak mau berhukum dengannya maka dia zhalim lagi fasiq. Ini juga perkataan (pendapat) Ibn Abbas ra. [Tafsiir Al-Khaazin, 2/289] 20. Yang dimaksud dengan kematian jahiliyah [dengan mim dibaca kasroh] adalah keadaan kematiannya seperti kematian masyarakat jahiliyyah di atas kesesatan dan tidak memiliki seorang pemimpin yang ditaati, karena mereka belum mengenal hal tersebut. Bukan dimaksudkan mati dalam keadaan kafir, melainkan mati dalam keadaan bermaksiat. [Ibn Hajar, Fathu-l-baariy, 13/7] 21. Aspek argumentatif dari hadits ini adalah bahwa Rasulullah saw mewajibkan atas setiap muslim untuk mengadakan di lehernya baiat untuk seorang khalifah, dan tidak mewajibkan agar setiap muslim membaiat khalifah. [Taqyuddiin An-Nabhaaniy, Muqaddimatu-d-Dustuur, 100] 22. Hizb dianggap menafikan Qadar, sehingga tidak ada bedanya dengan mutazilah Hizb menyalahkan pemahaman Ahlus Sunnah dalam bab Qadha dan Qadar dan menyamakannya dengan Jabriyyah 23. Firoq Konsep al-iraadah & khalqu-l-afaal Konsep tawalludu-l-afaal Qadariyah Manusia punya kebebasan berkehendak dan menciptakan perbuatannya sendiri Manusia yang menciptakan tawalludu-l-afaal Jabariyah Manusia terikat dengan kehendak Allah swt dan perbuatannya ciptaan Allah Allah yang menciptakan tawalludu-l-afaal Ahlu Sunnah (Asyariyyah) Manusia memiliki kasb ikhtiyari tapi terikat dengan kehendak Allah dan perbuatannya ciptaan Allah Allah yang menciptakan tawalludu-l-afaal Hizb Perbuatan yang bersifat pilihan terjadi atas kehendak manusia dengan wasilah khashiyyat benda dan hukum kausalitas ciptaan Allah Tawalludu-l-afaal timbul dari khashiyat benda yang dikenai perbuatan manusia 24. Hizb mengimani Qadar yang berarti ketetapan Allah terhadap benda-benda dan ilmu- Nya yang tertulis di Lauhi-l-Mahfuuzh: () (Hadits Nabi): Jika dituturkan (tentang) Qadar maka diamlah yakni jika disebut ilmu Allah dan ketetapannya atas benda-benda maka jangan larut dalam membicarakannya, karena ketetapan atas benda-benda oleh Allah yaitu bahwa Dia telah menulisnya di Lauhu-l-Mahfuuzh, ini berarti Dia mengetahuinya. Dan kemahatahuan Allah terhadapnya adalah diantara sifat-sifat Allah yang wajib diimani. [Taqyuddin, Asy-Syakhshiyyatu-l-Islaamiyyah, 1/78] Tidak sebagaimana disangkakan bahwa Hizb sama dengan Mutazilah, karena mutazilah mengingkari Qadar secara mutlak. 25. yang beranggapan bahwa Al-Asyariyyah termasuk Jabariyyah dalam bab ini, bukan hanya Syaikh Taqyuddin. Berikut berkata Imam Al-Aiji: .... . Kelompok ke-Enam, Al-Jabriyyah Al-Jabr (paksaan) adalah menisbatkan perbuatan hamba kepada Allah swt.