Sakd modul 4

download Sakd modul 4

of 52

  • date post

    21-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    400
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of Sakd modul 4

  • 1. Sistem Akuntansi Keuangan Daerah BUKU 4 PROSEDUR AKUNTANSIPokja IVEvaluasi Pembiayaan & Informasi Keuangan Daerah Tim Evaluasi dan Percepatan Pelaksanaan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah

2. BUKU 4 PROSEDUR AKUNTANSIKATA PENGANTAR Penerapan otonomi daerah seutuhnya membawa konsekuensi logis berupapelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan berdasarkanmanajemen keuangan yang sehat. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor105 Tahun 2001, pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk menetapkansistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah dalam bentuk PeraturanDaerah. Sistem tersebut sangat diperlukan dalam memenuhi kewajjibanpemerintah daerah dalam membuat laporan pertanggungjawaban keuangandaerah yang bersangkutan.Dalam buku-2 Pos-Pos Neraca dan Buku-3 Pos-Pos Perhitungan Anggarantelah disebutkan bahwa pemahaman mengenai pedoman akuntansi pos-postersebut mencakup pengertian dari masing-masing pos neraca, prosespencatatan dan dokumen terkait, saldo normal (debet atau kredit), jurnal standaryang berkaitan dengan pos tersebut, pengukuran nilai, dan pengungkapan yangdiperlukan untuk kejelasan dari pos tersebut. Sebagai kelengkapan sistem yangterintegrasi diperlukan penggambaran bagan arus dokumen sumber (flowchart),yang akan membantu pemahaman penerapan sistem yang bersangkutan.Bagan arus dokumen sumber yang dimaksud meliputi penggambaranprosedur pencatatan beberapa transaksi yang berkaitan dengan pos-postertentu. Dengan adanya bagan arus tersebut maka diharapkan pelaksanamanajemen keuangan di daerah akan lebih mengerti mengenai penerapansistem secara visual. Bagan arus ini juga akan bermanfaat sebagai bimbinganpada tahap awal penerapan sistem dimana pada umumnya penerapan sistemkomputerasi masih berjalan secara paralel dengan penerapan secara manual. Buku-4 Prosedur Akuntansi ini diharapkan akan membantu penerapansistem akuntansi keuangan daerah sehingga untuk waktu yang tidak terlalulama, pemerintah daerah telah mampu menghasilkan LaporanPertanggungjawaban Keuangan. Penerapan Sistem Akuntansi KeuanganDaerah menuntut adanya pemahaman utuh dari pelaksana manajemenkeuangan daerah dan adanya penyempurnaan secara terus-menerus dariinstansi yang berkewenangan sehingga pencapaian akuntabilitas kinerja instansipemerintah daerah sebagai bagian dari kepemerintahan yang baik (goodgovernance) dapat menjadi kenyataan.Jakarta, 9 Januari 2002Tim PenyusunTim Pokja Evaluasi Pembiayaan Dan Informasi Keuangan Daerah:iDepkeu (DJPKPD, BAKUN, BINTEK), BPKP, dan Depdagri (KMK 355/KMK.07/2001). 3. BUKU 4 PROSEDUR AKUNTANSI DAFTAR ISI halamanKATA PENGANTAR .................................................................................................... iDAFTAR ISI ................................................................................................................. iiSiklus Keuangan Daerah ............................................................................................. 1Siklus Keuangan Daerah (Terinci) ............................................................................... 3Kerangka Umum Sistem Informasi Keuangan Daerah ................................................ 6Kerangka Umum Sistem Akuntansi Keuangan Daerah ............................................... 8Bagan Arus Prosedur Penyusunan Anggaran ............................................................. 10Bagan Arus Prosedur Akuntansi Anggaran (APBD) .................................................... 13Bagan Arus Prosedur Akuntansi Alokasi Anggaran..................................................... 15Bagan Arus Prosedur Akuntansi Pendapatan.............................................................. 17Bagan Arus Prosedur Akuntansi Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK).......... 19Bagan Arus Prosedur Akuntansi Belanja Operasional Beban Tetap ........................... 22Bagan Arus Prosedur Akuntansi Pertanggungjawaban ............................................... 24Bagan Arus Prosedur Akuntansi Belanja Modal Beban Tetap..................................... 26Bagan Arus Prosedur Akuntansi Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)......... 28Bagan Arus Prosedur Akuntansi Penyertaan Modal Pemerintah/Invest Permanen .... 31Bagan Arus Prosedur Akuntansi Pencatatan Aset Tetap ............................................ 34Bagan Arus Prosedur Akuntansi Penghapusan Aset Tetap ........................................ 36Bagan Arus Prosedur Akuntansi Pembentukan Dana Cadangan................................ 38Bagan Arus Prosedur Akuntansi Pencairan Dana Cadangan...................................... 40Bagan Arus Prosedur Akuntansi Penerimaan Pembiayaan DariPenjualan Aset Daerah ................................................................................................ 42Bagan Arus Prosedur Pelaporan DAU & DAK Ke Menteri Keuangan ......................... 44Bagan Arus Prosedur Pelaporan APBD ke DPRD....................................................... 46Tim Pokja Evaluasi Pembiayaan Dan Informasi Keuangan Daerah:iiDepkeu (DJPKPD, BAKUN, BINTEK), BPKP, dan Depdagri (KMK 355/KMK.07/2001). 4. SIKLUS KEUANGAN DAERAH(Anggaran) Penyusunan AnggaranPelaporanPenelaahan Otorisasi(Perhitungan Kredit AnggaranRealisasi Anggaran) Penerimaan PendapatanPembukuan danPerhitungan Pelaksanaan Belanja Operasional dan Belanja Modal 5. BUKU 4 PROSEDUR AKUNTANSI SIKLUS KEUANGAN DAERAH (ANGGARAN)1. Siklus keuangan daerah dimulai dengan penyusunan anggaran. Penyusunan Anggaran dimulai dengan menganalisis Laporan Pertanggungjawaban tahun lalu yang menghasilkan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD). RAPBD akan dibahas dengan DPRD dan menjadi Perda APBD.2. Untuk merealisasi pelaksanaan APBD, maka dibuat Otorisasi Kredit Anggaran (OKA), Lembaran Kerja (LK) dan Petunjuk Operasional (PO) Penyusunan OKA ini dilakukan oleh Unit Anggaran dengan Saruan kerja berdasarkan usulan OKA, LK dan PO yang disampaikan oleh Satuan Kerja. OKA, LK, dan PO selanjutnya disahkan oleh Kepala Unit Anggaran.3. Satuan Kerja melakukan pemungutan pendapatan dan melakukan penyetoran dana ke kas daerah dengan STS dan melakukan realisasi pengeluaran dengan SPM . STS dan SPM tersebut akan menjadi dokumen sumber pembukuan pendapatan dan belanja.4. Unit Pembukuan akan menerima dokumen sumber pendapatan dan pengeluaran (APBD, OKA, STS, SPM) dan membukukannya secara periodik. Pada akhir tahun, Unit Pembukuan membuat Laporan Pertanggungjawaban berupa Laporan Perhitungan APBD, Neraca dan Laporan Arus Kas yang selanjutnya diserahkan ke Unit Perhitungan Anggaran untuk dianalisis.5. Unit Perhitumgam Anggaran menganalisis Laporan Pertanggungjawaban dan melengkapi Laporan Pertanggungjawaban tersebut dengan Nota Perhitungan Anggaran. selanjutnya Laporan Pertanggungjawaban (Laporan Perhitungan Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas dan Nota Perhitungan Anggaran) disampaikan ke pada Kepala Daerah.6. Kepala Daerah menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban ke DPRD sebagaipertanggungjawaban pelaksanaan anggaranLaporan PertanggungjawabanTim Pokja Evaluasi Pembiayaan Dan Informasi Keuangan Daerah: 2Depkeu (DJPKPD, BAKUN, BINTEK), BPKP, dan Depdagri (KMK 355/KMK.07/2001). 6. SIKLUS KEUANGAN DAERAH (TERINCI)UNIT ANGGARAN DAN UNITUNIT PERHITUNGAN UNIT PEMBUKUAN KAS DAERAH UNIT PERBENDAHARAAN SATKERPANITIA ANGGARANDPRD PENDAPATAN DAERAHLaporan Perhitungan Anggaran, Neraca, PenyusunanUsulan OKARancanganRancangan APBDAliran Kas, NotaAnggaran APBDPerhitungan Rancangan APBDPenelaahan PembahasanRAPBD Lap. Perhitungan RAPBD dgn PerhitunganAnggaran, Neraca, Panitia AnggaranAnggaran APBDAliran KasAPBD Pembuatan OKA- APBDOKA OKA OKABuku Besar/ RekeningAPBD OKA APBDPelaksanaan OKAanggaran Pembuku an STS STS STS SPPSPP SPPPenerimaan danTerbitkanPembayaran KasSPMAPBD OKABuku Kas Umum STSDaerah STS SPM SPM 7. BUKU 4 PROSEDUR AKUNTANSI SIKLUS KEUANGAN DAERAH (TERINCI)1. Unit Anggaran bersama dengan Unit Bina Pendapatan Daerah, melakukan penyusunan anggaran dengan melihat masukan baik berupa data keuangan tahun sebelumnya (Laporan Perhitungan Anggaran, Neraca, Aliran Kas, dan Nota Perhitungan) maupun berupa usulan Otorisasi Kredit Anggaran (OKA) dari masing-masing Satuan Kerja.2. Penyusunan anggaran oleh Unit Keuangan menghasilkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD), yang selanjutnya akan diserahkan ke Panitia Anggaran yang terdiri dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Unit Pengawasan Daerah, Unit-unit Keuangan, Unit Pembinaan Pendapatan Daerah, Unit Bina Program, Satuan Kerja yang bersangkutan, dan Satuan Kerja terkait untuk ditelaah.3. RAPBD yang telah ditelaah oleh Panitia anggaran selanjutnya dibahas oleh Panitia Anggaran dengan DPRD. DPRD lebih lanjut menyetujui RAPBD menjadi APBD dan menyerahkannya ke Unit Anggaran dan Unit Pendapatan Daerah.4. Sesudah Pemerintah Daerah mensahkan APBD menjadi Perda APBD, Unit Anggaran akan membuat OKA sesudah melakukan pembahasan dengan Satuan Kerja yang terkait. OKA-OKA tersebut diserahkan oleh Unit Anggaran ke Satuan Kerja yang terkait. Disamping itu Unit Anggaran juga menyerahkan APBD dan OKA ke Kas Daerah, Unit perbendaharaan dan Unit Pembukuan.5. Berdasarkan OKA yang diterima, Satuan Kerja mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) untuk realisasi belanja dan Surat Tanda Setoran (STS) untuk penyetoran pendapatan ke Unit Perbendaharaan.6. Unit Perbendaharaan menerima SPP dan melakukan penelitian SPP tersebut dengan OKA, Lembar Kerja maupun Petunjuk Operasional yang ada di Unit Perbendaharaan dan selanjutnya menerbitkan Surat Pemerintah Membayar, Unit perbendaharaan juga mensahkan STS yang diserahkan oleh Satuan Kerja dengan mencap STS tersebut. SPM tersebut diserahkan oleh Unit Perbendaharaan ke Kas daerah dan Unit Pembukuan.7. Sebagai konsekuensi dari pelaksanaan belanja operasional, belanja modal, dan penerimaan pendapatan daerah, Kas Daerah melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan penerimaan, pendapatan, pengeluaran, dan belanja berdasarkan SPM dan STS yang telah di