RTRWP Sumut 2003-2018

Click here to load reader

download RTRWP Sumut 2003-2018

of 134

  • date post

    04-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    27
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of RTRWP Sumut 2003-2018

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Upaya peningkatan hasil-hasil pembangunan daerah harus terus menerus dilakukan melalui perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan yang lebih terpadu dan terarah, agar seluruh sumberdaya yang terbatas dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Salah satu hal pokok yang dibutuhkan untuk mencapai hal tersebut adalah melalui keterpaduan dan keserasian pembangunan di segala bidang dalam matra ruang yang tertata secara baik.

Untuk memberikan arahan pemanfaatan ruang dalam pembangunan wilayah Daerah Propinsi Sumatera Utara, telah ditetapkan Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara nomor 4 tahun 1993 tentang Rencana Struktur Tata Ruang Propinsi (RSTRP) Daerah Tingkat I Sumatera Utara.

Selama kurun waktu sepuluh tahun sejak disusunnya RSTRP Daerah Tingkat I Sumatera Utara, telah berlangsung perkembangan pembangunan yang digerakkan oleh instansi sektoral, Pemerintah Daerah, investor swasta, dan masyarakat. Sebagian dari pembangunan tersebut dilangsungkan berdasarkan paket deregulasi dan debirokratisasi yang merupakan upaya terobosan terhadap tatanan yang sudah ditetapkan sebelumnya untuk mempercepat tercapainya pertumbuhan dan pemerataan pembangunan serta persiapan menghadapi era globalisasi.

Beberapa perubahan kebijaksanaan dan implementasi pembangunan tersebut antara lain adalah pengembangan Kawasan Perkotaan Medan-Binjai-Deli Serdang (MEBIDANG), rencana pengembangan Bandar Udara Kuala Namu, dan rencana pengembangan Kawasan Industri serta rencana pengembangan Kawasan Pantai Barat Sumatera Utara. Perubahan lain adalah diformulasikannya kebijaksanaan pembangunan daerah yang berbasis pada wilayah perdesaan dan sektor pertanian melalui pendekatan ekonomi kerakyatan dalam rangka memperkuat basis perekonomian wilayah dan pengentasan kemiskinan.

Persoalan lingkungan hidup juga merupakan agenda penting bagi Propinsi Sumatera Utara yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan wilayah. Kerusakan dan okupansi hutan oleh permukiman dan kegiatan budidaya menimbulkan permasalahan terhadap penurunan fungsi lindung, antara lain terancamnya daerah bawahan oleh gangguan tata air sehingga menurunkan debit sumberdaya air, meningkatnya erosi dan sedimentasi, serta timbulnya bahaya banjir. Pada tahun 1997 telah dilakukan pemaduserasian TGHK dengan RSTRP Sumatera Utara, namun hal tersebut masih perlu ditindaklanjuti dengan perencanaan lebih rinci serta implementasinya. Hasil paduserasi tersebut perlu dituangkan ke dalam peta rencana pemanfaatan ruang, sehingga dapat secara efektif dijadikan dasar kebijaksanaan pembangunan daerah yang memiliki kekuatan hukum.

Secara eksternal, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dan penyempurnaan Rencana Umum Tata Ruang Pulau Sumatera (RUTRPS) pada tahun 1997/1998 juga memberikan pengaruh terhadap rencana pemanfaatan ruang Propinsi Sumatera Utara, dimana ditetapkan kawasan andalan, kawasan tertentu dan beberapa Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) di Propinsi ini.

Selain itu pada tahun 1998 dilakukan pemekaran daerah kabupaten/kota yaitu berdasarkan UU nomor 12 Tahun 1998 dibentuknya Kabupaten Toba Samosir sebagai pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Utara, dan Kabupaten Mandailing Natal dari Kabupaten Tapanuli Selatan; berdasarkan Undang-undang nomor 4 Tahun 2001 dibentuknya Kota Padangsidimpuan sebagai pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Selatan; serta UU nomor 9 tahun 2003 dibentuknya Kabupaten Humbang Hasundutan sebagai pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Pakpak Bharat sebagai pemekaran dari Kabupaten Dairi dan Nias Selatan sebagai pemekaran dari Kabupaten Nias. Diundangkannya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah serta UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah memberikan implikasi terhadap fungsi dan lingkup RTRWP dalam pembangunan Propinsi Sumatera Utara, terutama dalam penyusunan tata ruang yang memerlukan kesepakatan dengan kabupaten/kota.

RTRWP Sumatera Utara 2003-2018 dimaksudkan untuk mengakomodasikan seluruh kecenderungan perubahan dan perkembangan yang berlangsung selama ini serta kebutuhan pembangunan bagi Daerah Propinsi Sumatera Utara pada masa 15 tahun yang akan datang.

1.2Kondisi Fisik

1.2.1Letak Geografis

Secara geografis Propinsi Sumatera Utara terletak di bagian Utara Pulau Sumatera pada 10 - 40 Lintang Utara dan 980 - 1000 Bujur Timur yang merupakan bagian dari wilayah pada posisi silang di kawasan palung Barat Pasifik. Posisinya memanjang dari arah Barat Laut ke arah Tenggara. Secara administrasi Propinsi Sumatera Utara terdiri dari 16 (enam belas) kabupaten, yaitu Nias, Nias Selatan, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, Labuhan Batu, Asahan, Simalungun, Dairi, Pak-pak Bharat, Karo, Deli Serdang, dan Langkat, serta 7 (tujuh) kota, yaitu Sibolga, Padangsidimpuan, Tanjungbalai, Pematangsiantar, Tebing Tinggi, Medan, dan Binjai.

Propinsi Sumatera Utara berbatasan di :

Sebelah Utara, berbatasan dengan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam,

Sebelah Timur, berbatasan dengan Selat Malaka,

Sebelah Selatan, berbatasan dengan Propinsi Riau dan Propinsi Sumatera Barat,

Sebelah Barat, berbatasan dengan Samudera Indonesia

Propinsi Sumatera Utara memiliki luas sekitar 71.680 km2 atau 3,73% dari luas Indonesia yang meliputi kawasan darat di pantai Timur, dataran tinggi yang melintang di bagian Tengah, dan kawasan pantai Barat. Di samping kawasan darat, Propinsi Sumatera Utara juga mencakup kawasan perairan laut yang berbatasan sejauh 12 mil laut dari garis pantai.

Gambar 1.1 memperlihatkan peta administrasi kabupaten/kota di Propinsi Sumatera Utara Letak geografis Sumatera Utara sangat strategis dan merupakan modal dasar bagi pengembangan kegiatan yang bersifat regional dan internasional karena berada pada jalur perdagangan internasional Selat Malaka yang dekat dengan Singapura dan Malaysia sebagai negara yang pertumbuhan ekonominya lebih pesat.

Gambar 1.1

Peta Administrasi Propinsi Sumatera Utara

1.2.2Kondisi Topografi

Secara topografis wilayah pantai Timur Sumatera Utara relatif datar, bagian Tengah bergelombang dan berbukit yang merupakan bagian dari pegunungan Bukit Barisan, dan bagian Barat merupakan dataran bergelombang. Wilayah pantai Barat potensial untuk pengembangan sektor perikanan laut, perkebunan dan hortikultura; wilayah pantai Timur potensial untuk pengembangan pertanian tanaman pangan dan perkebunan; serta wilayah dataran tinggi potensial untuk pengembangan tanaman hortikultura. Gambar 1.2 memperlihatkan karakteristik fisik Propinsi Sumatera Utara.1.2.3Iklim

Suhu udara di wilayah Sumatera Utara berkisar antara 18-32 0C, yang bervariasi sesuai dengan ketinggian tempat. Musim penghujan berlangsung antara bulan September hingga Februari dan musim kemarau berlangsung antara bulan Maret hingga Agustus.

Curah hujan tahunan rata-rata tercatat sebesar 2.100 mm. Pada wilayah kering, curah hujan tahunan rata-rata kurang dari 1.500 mm yang tercatat di beberapa bagian wilayah Simalungun, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara, sedang curah hujan tinggi berkisar antara 2.000 sampai 4.500 mm berlangsung sepanjang tahun di daerah Asahan, Dairi, Deli Serdang, Karo, Labuhan Batu, Langkat, Nias, Tapanuli Tengah, dan sebagian besar Tapanuli Selatan.

1.2.4Kondisi Geologi

Propinsi Sumatera Utara didominasi oleh formasi Bahorok, formasi tuffa Toba, bentangan alluvial, serta formasi Klue dan Kuantan. Formasi Bahorok didominasi oleh batuan breksi dan konglomeratan yang pada tahap awal akan membentuk tanah litosol.

Gambar 1.2

Karakteristik Fisik Propinsi Sumatera Utara

Setelah mengalami perkembangan lebih lanjut, maka terbentuk tanah podsolik. Pada bahan konglomeratan yang kandungan luasannya di atas 60% akan terbentuk tanah regosol yang umumnya bersifat masam dan bertekstur sedang sampai kasar. Formasi tuffa Toba didominasi oleh abu vulkan. Pada awalnya tanah ini berkembang dari podsolik coklat, podsolik coklat kelabu kekuningan dan regosol, dan di beberapa wilayah akan membentuk tanah andosol coklat. Tanah ini umumnya bersifat agak masam sampai masam dan bertekstur bervariasi mulai dari halus sampai kasar. Formasi bentangan alluvial umumnya terbentuk di sepanjang pantai Timur Sumatera Utara. Dari bentangan alluvial akan terbentuk tanah-tanah alluvial, regosol, dan organosol. Tekstur tanah alluvial tergantung dari bahan asalnya, pada umumnya sedang sampai kasar, sedangkan tanah regosol bertekstur kasar. Tanah organosol teksturnya tergantung tingkat kematangan gambut dan umumnya bersifat masam. Formasi Klue dan Kelantan umumnya didominasi oleh batu sasak, turbidite, batu pasir, batu gamping, dan lain-lain. Dari bahan ini umumnya terbentuk tanah litosol, podsolik, dan regosol dengan tekstur kasar dan bersifat kimia masam dan miskin unsur hara. Formasi Nias umumnya dibentuk dari batuan kapur yang akan berkembang menjadi tanah-tanah renzina yang mempunyai tekstur kasar dan sifat kimia agak basis.

Sumatera Utara didominasi oleh tanah litosol, podsolik, dan regosol, yaitu seluas 1.601.601 ha atau sekitar 22,34 % dari luas total Sumatera Utara yang tersebar di Kabupaten Asahan, Dairi, Pakpak Bharat, Deli Serdang, Karo, Labuhan Batu, Langkat, Nias, Nias Selatan dan Tapanuli Selatan. Tanah ini sesuai untuk dikembangkan bagi komoditi perkebunan seperti karet, kelapa sawit, dan tanaman keras lainnya. Jenis tanah lainnya yang banyak dijumpai adalah podsolik merah kuning (16,35%), hidromorfik kelabu, glei humus, dan regosol (11,54 %). Jenis tanah podsolik merah kuning terdapat di Kabupaten Labuhan Batu, Langkat, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah. Tanah hidromorfik kelabu terdapat di Kabupat