Roadmap Karet

download Roadmap Karet

of 31

  • date post

    25-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.199
  • download

    18

Embed Size (px)

Transcript of Roadmap Karet

INDUSTRI PENGOLAHAN KARET DAN BARANG KARET

ROADMAP

DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO DAN KIMIA DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN JAKARTA, 2009

I.

PENDAHULUAN1.1. Ruang Lingkup Industri Karet dan Barang Karet Karet dan barang-barang karet dapat diklasifikasikan menurut The Harmonized Commodity Descreption and Coding System (HS) dan kelompok barang lapangan industri (KBLI) yang dapat diperlihatkan pada tabel dibawah ini.Tabel 1. Kelompok Karet dan Barang-barang Karet No 1. No. HS 40011-13 4002 4003-4009 KBLI Uraian Barang Karet alam Karet Sintetis Barang dari karet untuk industri : - Benang karet - Tabung, pipa, selang Belt conveyor Belt Transmission Ban (Roda 4, Roda 2, Sepeda) Sarung tangan Lain-lain

1.

25192

2. 3. 4. 5. 6.

4010 4010 4011-13 4015 4016-17

25192 25192 25111-25112 25199 25191

1.2. Pengelompokan Industri Karet dan barang Karet Industri karet dan barang karet dikelompokkan menjadi tiga kelompok industri yaitu kelompok industri hulu, kelompok industri antara dan kelompok industi hilir 1.2.1. Kelompok Industri Hulu : Industri Hulu karet dan barang Karet : Bokar ( Bahan Olahan karet) Kayu Karet 1.2.2. Kelompok Industri antara ( setengah jadi ) : Crumb rubber ( karet remah) Sheet/RSS Latek Pekat Thin pole crepe Brown crepe 1.2.3. Kelompok Industri Hilir Adapun kelompok Industri hilir karet adalah industri yang merupakan produk akhir yang siap digunakan oleh industri pemakai. Yang temasuk produk hilir yaitu : 1

Ban dan produk terkait serta ban dalam Barang jadi karet untuk keperluan industri Barang karet untuk kemiliteran Alas kaki dan komponennya Barang jadi karet untuk penggunaan umum Alat kesehatan dan laboratorium. 1.3. Kecenderungan Global Industri Karet dan barang Karet 1.3.1. Kecenderungan yang telah terjadi Indonesia merupakan salah satu negara produsen karet alam No. 2 terbesar didunia setelah Thailand pertumbuhan Nilai Ekpor komoditas karet dan barang karet dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 menunjukkan cenderung meningkat dengan rata-rata pertahun karet sebesar 37 % dan barang karet sebesar 19,4 % Pada tahun 2006, karet mampu menghasilkan devisa hingga US$ 4,33 milyar tahun 2007 meningkat menjadi US$ 4,87 Milyar, begitupun pada tahun 2008 ekspor meningkat menjadi US$ 6,06 milyar. Pada tabel berikut diperlihatkan Kontribusi karet Alam dan Barang Karet Terhadap Total Ekspor Nasional.Tabel 2. Konstribusi Karet Alam dan Barang Karet Terhadap Total Ekspor Nasional (US $ Juta)Persentase Ekspor Karet Alam Thd Ekspor Non Migas 3,89 3,88 5,43 5,40 5,62 3,41 1,33 Persentase Ekspor Produk Karet Thd Ekspor Non Migas 1,3 1,4 1,4 1,4 1,4

Tahun

Total Nilai Ekspor

Ekspor Non Migas

Ekspor Karet

Total Ekspor Produk Karet

2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Pertumb.

71.584,6 85.660,0 100.798,6 114.100,9 136.761,7 14,14

55.939,3 66.428,4 79.589,1 92.012,3 107.803,4 15,01

2.180,0 2.589,0 4.327,0 4.870,0 6.058,2 36,96

774.950 951.175 1.134,4 1.299,6 1.506,0 19,36

Sumber : BPS, data diolah

2

1.3.2. Kecenderungan yang akan terjadi Sebagai dampak melemahnya perekonomian dunia didunia ditriwulan terakhir 2008, ekspor karet dan barang karet

cenderung menurun karena menurunnya permintaan terhadap produk ekspor Indonesia . Pada tahun 2008 konsumsi karet alam dunia turun sebesar 3,37% dan diperkirakan pada tahun 2009 akan turun sebesar 6,43%. Ekspor ban pada tahun 2008 mencapai 33,6 juta ton dan diperkirakan pada tahun 2009 ekspor ban hanya mencapai 25,2 juta unit atau turun 15 % dari tahun 2008. 1.3.3. Analisis terhadap kecenderungan yang telah dan akan terjadi, kondisi ini menggambarkan persaingan pasar ekspor industri karet dan barang karet semakin ketat. Melihat kepada kecenderungan tersebut maka dalam

pengembangan industri barang karet Nasional

untuk mengisi

pangsa pasar dunia tentunya dengan harus mengupayakan : Pengembangan kepasar baru khususnya ke China dan India Meningkatkan penyerapan pasar dalam negeri Pendekatan harga dan pasokan melalui ITRC (Internaional Tripartite Rubber Coorporation) Mempercepat peremajaan perkebunan karet rakyat Menghimbau petani Indonesia untuk melakukan pengurangan produksi 30% guna menyeimbangkan supply dengan demand. Peningkatan Penggunaan Karet alam dalam negerui Pemetaan sub-sektor industri barang karet yang perlu didorong pertumbuhannya dan pemberian insentif investasi. 1.4. Permasalahan yang dihadapi Industri Karet dan Barang Karet 1.4.1. Karet Alam (On Farm) Masih rendahnya produktivitas tanaman, dan baru sekitar 40% yang menggunakan klon unggul. Belum terpenuhinya persediaan bibit unggul.

3

Masih

rendahnya

kualitas

bokar

yang

menyebabkan

rendahnya kualitas crumb rubber Besarnya kapasitas terpasang pabrik crumb rubber jauh melebihi ketersediaan bahan olah karet (600.000 ton > kemampuan produksi bokar) Masih rendahnya kualitas SDM petani dalam budi daya, panen, pasca panen dan pengolahan primer. Masih lemahnya kelembagaan petani dan kemitraan usaha serta akses permodalan Rendahnya posisi tawar petani dalam perolehan harga (sekitar 60% FOB). Masih lemahnya dukungan prasarana dan sarana (akses ke kebun dan pelabuhan). 1.4.2. Produk Karet (Off Farm) Kurangnya informasi distribusi dan kebutuhan karet alam sebagai bahan baku industri produk karet. Masih adanya diskriminasi pembebasan PPN 10% (hanya untuk lateks dan tidak bagi produk primer karet alam lainnya). Masih kurangnya dukungan R & D yang difokuskan pada pengembangan produk karet Sulitnya pasokan gas untuk industri sarung tangan yang menyebabkan utilisasi kapasitas industri sarung tangan hanya mencapai 40%. Masih dikenakannya BMAD Carbon Black sebesar 10-17% (SK Menkeu No. 397/KMK.01/2004). Ketatnya persaingan di dalam negeri (dengan produk impor) dan di negara tujuan ekspor Masih tingginya impor sebagian barang-barang karet yang merupakan peluang pengembangan

4

II.

FAKTOR DAYA SAING2.1. Permintaan dan Penawaran 2.1.1. Dunia/Regional dan Domestik 1). Bahan Baku a. Karet Alam Produksi karet alam dunia tahun 2006 sebesar 9,64 juta ton, tahun 2007 meningkatkan 0,93 % menjadi 9,73 juta ton (Asia 9,4 juta ton, Afrika 4,5 juta ton, Amerika Latin 2,16 juta ton) & tahun 2008 turun menjadi 9,41 juta ton. Konsumsi Karet alam dunia tahun 2006 sebesar 9,23 juta ton, tahun 2007 meningkat 5,3 % menjadi 9,88 juta ton dan tahun 2008 turun menjadi 9,80 juta ton. b. Karet Syntetis Produksi karet syntetis dunia tahun 2006 sebesar 12,65 juta ton, tahun 2007 meningkat 7,4 % menjadi 13,58 juta ton yang dikonsumsi oleh Asia 5,99 juta ton, Uni Eropa 2,78 juta ton, Amerika Utara 2,79 juta ton, Eropa lainnya 1,29 juta , Amerika latin 0,66 juta ton, Afrika 0,07 juta ton) dan tahun 2008 turun menjadi 13,44 juta ton Konsumsi Karet Syntetis dunia tahun 2006 sebesar 12,34 juta ton, meningkat 6,5 % menjadi 13,15 juta ton yang dikonsumsi oleh Asia/Oceania 6,37 juta ton, Uni Eropa 2,62 juta ton, Amerika Utara 2,13 juta ton, Eropa lainnya 0,94 juta, Amerika Latin 0,85 juta ton, Afrika 0,09 juta ton) dan tahun 2008 turun menjadi 13,14 juta ton

2). Industri Barang-barang Karet Total produksi ban dunia tahun 2005 sebesar 1320 juta unit tahun 2006 mencapai 1353 juta unit. Produksi EU 405 juta USA 199 juta unit, unit, Jepang 176 unit, China 165 juta unit Indonesia 53,2 juta unit, lain-lain 216 juta unit. 5

Total ekspor ban China 30% dari produksi yaitu sebesar lebih kurang 90 juta unit. 22% dari total ekspor china diekspor ke EU yaitu sekitar 20 juta unit. China merupakan pasar potensial yang terus berkembang pada tahun 2007 konsumsi karet alam terbesar adalah China, diikuti USA, Jepang dan India masing-masing sebesar 26,2 %, 10,5%, 9,1% dan 8,7 % dan dari

kebutuhan dunia, begitu juga untuk karet sintetis China 24,4 %, USA 15,06 %, Brasil 3,3 %, Rusia 4,9 % korea 2,8%, Taiwan 2,6 %, India 2,0%.

Produksi Jepang tahun 2005 sebesar 187,37 juta unit dengan penggunaan Original equipment 51,831 juta unit, replacement 75,251 juta unit serta ekspor 74,765 juta unit, sedangkan impor 29,108 juta unit. Produksi dunia sarung tangan karet mencapai 110 milyar pcs/tahun, share Indonesia 10 % yaitu 10 milyar pcs, Malysia 60 milyar pcs, Thailand 30 milyar pcs. Basis dari Natural Rubber Latex gloves di ASEAN sedangkan synthetic gloves berbasis di China ( china memproduksi 90% dari produksi synthetic glove dunia.

Domestik 1). Bahan Baku Produksi karet alam pada tahun 2007 sebesar 2,76 juta ton dimana 2,44 juta ton atau 88,4 % dari produksi karet alam tersebut diekspor dengan nilai US$ 4,36 milyar, hanya 13,3% atau 355.717 ton digunakan untuk kebutuhan industri dalam negeri. Produksi karet synthetis tahun 2006 sebesar 46.000, impor sebesar 123.802 ton, ekspor 11.636 ton serta konsumsi dalam negeri sebesar 158.166 ton.

6

Tabel. 3. Penawaran dan Permintaan Karet Alam (000 ton)

Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Produksi 1.792 2.066 2.271 2.637 2.755 2.751

Konsumsi DN 156 196 217 355 391 414

Sebanyak 55 % dari pemasaran Dalam Negeri diserap oleh industri ban, sedangkan sisanya digunakan oleh industri

vulkanisir, alas kaki, industri barang jadi dari lateks ( sarung tangan, kondom, benang karet). 2). Industri Barang-barang KaretTabel 4. Perkembangan Ekspor Barang-barang Karet Potensial2004 No. Uraian Berat (Ton) 1 2 3 4 5 Benang Karet Tabung, pipa, selang dan karet lainnya Belt conveyor Belt transmission Ban Roda 4, Roda 2, sepeda, pesawat terbang, ban bekas 6 Barang dari karet lainnya (komponen otomotif, packing, ring, segel, dll) 7 Sarung tangan Vulkanisir Jumlah 41,526 59 370,695 95,736 150 53,850 79 138,125 105 935,480 52,379 49 415,590 152,199 317 1,125,504 50,425 176 415,258 163,611 1,017 52,932 251 211,691 810 46,552 76,855 33,975 108,495 26,375 118,539 26,503 124,586 17,8