ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI DENGAN RAHMAT …

of 131 /131
PERATURAN KEPALA LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2020 TENTANG ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL TAHUN 2020-2024 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan komitmen dan menjaga keberlanjutan pelaksanaan reformasi birokrasi pada periode 2015-2019, diperlukan Road Map periode 2020-2024 sebagai penguatan dan perencanaan pelaksanaan reformasi birokrasi di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional tentang Road Map Reformasi Birokrasi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Tahun 2020-2024. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5435); 2. Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 – 2025;

Embed Size (px)

Transcript of ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI DENGAN RAHMAT …

REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2020-2024
REPUBLIK INDONESIA,
keberlanjutan pelaksanaan reformasi birokrasi pada periode
2015-2019, diperlukan Road Map periode 2020-2024
sebagai penguatan dan perencanaan pelaksanaan reformasi
birokrasi di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Kepala
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional tentang Road
Map Reformasi Birokrasi Lembaga Penerbangan dan
Antariksa Nasional Tahun 2020-2024.
Keantariksaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2013 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Nomor
5435);
Design Reformasi Birokrasi 2010 – 2025;
-2-
Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 91);
4. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi Nomor 13 Tahun 2011 tentang
Pedoman Pelaksanaan Quick Wins;
Reformasi Birokrasi Nomor 25 Tahun 2020 tentang Road
Map Reformasi Birokrasi 2020-2024 (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2020 Nomor 441);
6. Peraturan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa
Nasional Nomor 8 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1573)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional Nomor 8 Tahun 2017
tentang Perubahan atas Peraturan Kepala Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional Nomor 8 Tahun 2015
tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2017 Nomor 1723);
Nomor 8 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional Tahun 2020-2024
(Berita Negara Tahun 2020 Nomor 1070).
MEMUTUSKAN:
BIROKRASI LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA
NASIONAL TAHUN 2020-2024.
Road Map RB LAPAN 2020-2024 memuat tahapan program dan
kegiatan Reformasi Birokrasi selama 5 (lima) tahun.
Pasal 2
dalam Pasal 1 memuat:
c. analisis lingkungan strategis;
f. penutup.
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kepala Lembaga
ini.
seluruh unit kerja dalam melaksanakan program dan kegiatan
Reformasi Birokrasi pada unit kerja masing-masing.
Pasal 4
Peraturan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa
Nasional Nomor 19 Tahun 2015 tentang Road Map Reformasi
Birokrasi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Tahun
2014-2019 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
-4-
ditetapkan.
KEPALA LEMBAGA PENERBANGAN DAN
ANTARIKSA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,
TAHUN 2020-2024
BAB I
Reformasi Birokrasi merupakan sebuah kebutuhan dan harus dilakukan
dalam rangka memastikan tata kelola pemerintahan dilakukan dengan baik,
efektif dan efisien. Tata kelola pemerintahan yang baik adalah prasyarat utama
untuk mendukung pembangunan Nasional Indonesia. Kualitas tata kelola
pemerintahan akan berpengaruh terhadap kualitas pelaksanaan program dan
kegiatan pembangunan. Peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan melalui
pelaksanaan Reformasi Birokrasi juga dilaksanakan oleh Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional sebagai salah satu Lembaga Pemerintah Non
Kementerian (LPNK) di bidang Penerbangan dan Antariksa, berkomitmen untuk
terus melaksanakaan Reformasi Birokrasi yang dimulai sejak tahun 2010, dan
saat ini merupakan periode pembangunan jangka menengah (5 tahunan) ketiga
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional melaksanakan Reformasi
Birokrasi.
dan teknologi semakin meneguhkan LAPAN untuk terus berkomitmen dalam
melakukan transformasi organisasi melalui Reformasi Birokrasi.
Reformasi Birokrasi LAPAN dilaksanakan sesuai dengan Grand Design
Reformasi Birokrasi Nasional sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan
Presiden Nomor 81 Tahun 2010. Saat ini Reformasi Birokrasi telah masuk
- 2 -
kepada periode ketiga atau terakhir dari Grand Design Reformasi Birokrasi
Nasional. Pada tahap akhir ini, Reformasi Birokrasi diharapkan menghasilkan
karakter birokrasi yang berkelas dunia (world class bureaucracy) yang dicirikan
dengan beberapa hal, yaitu pelayanan publik yang semakin berkualitas dan tata
kelola yang semakin efektif dan efisien.
Dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi periode ketiga ini, Kementerian
PANRB telah mengeluarkan Peraturan Menteri PANRB Nomor 25 Tahun 2020
tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2020-2024, dengan sasaran RB pada
periode ketiga ini adalah: Birokrasi yang Bersih dan Akuntabel, Birokrasi yang
kapabel dan Pelayanan Publik yang Prima. Untuk mendukung pelaksanaan
Reformasi Birokrasi LAPAN yang selaras dan sinergi dengan Grand Design dan
Road Map Reformasi Birokrasi, maka perlu disusun dokumen perencanaan
pelaksanaan Reformasi Birokrasi LAPAN 2020-2024. Selain itu, dokumen
perencanaan ini juga sinergis dan selaras dengan Rencana Strategis LAPAN
Tahun 2020-2024 yang telah ditetapkan dalam Perla LAPAN Nomor 8 Tahun
2020 tentang Rencana Strategis LAPAN 2020-2024.
Dalam Renstra LAPAN 2020-2024, pelaksanaan Reformasi Birokrasi di
LAPAN tertuang dalam Perspektif BSC learning and growth yang merupakan aset
strategis yang harus dimiliki organisasi dalam melaksanakan proses bisnis dan
mewujudkan seluruh sasaran strategis pada perspektif proses internal.
Perspektif ini sebenarnya memiliki 3 (tiga) kelompok sasaran strategis, yaitu
modal manusia (human capital), modal informasi (information capital) serta
modal organisasi (organization capital), yang didukung dengan sumber daya
finansial dan sumber daya lainnya, dan ketiga kelompok sasaran strategis
tersebut sudah tertuang dalam 8 area perubahan Reformasi Birokrasi. Untuk
itu, sasaran terkait Reformasi Birokrasi sudah cukup mewakili seluruh
kelompok sasaran strategis pada perspektif ini. Sasaran strategis LAPAN pada
perspektif learning and growth dalam dokumen Renstra 2020-2024 adalah
“Terselenggaranya Reformasi Birokrasi LAPAN menuju birokrasi kelas
dunia”.
Untuk lebih memahami kerangka pikir penyusunan Road Map Reformasi
Birokrasi LAPAN 2020-2024 dapat dilihat pada gambar 1 di bawah. Selain
memperhatikan kerangka regulasi juga memperhatikan analisis atas evaluasi
pelaksanaan RB 2025-2019, analisis lingkungan dan isu-isu strategis saat ini
kemudian disusun tujuan, sasaran, strategi pelaksanaan terbaik dan
manajemen pelaksana yang ideal.
Reformasi Birokrasi LAPAN 2020-2024
Dalam Road Map Reformasi Birokrasi 2020-2024 ini, sesuai Peraturan
Menteri PAN dan RB Nomor 25 tahun 2020 tentang Road Map Reformasi
Birokrasi 2020-2024, mengedepankan asas fokus dan prioritas. Fokus berarti
bahwa upaya Reformasi Birokrasi berfokus pada akar masalah tata kelola
pemerintahan, sedangkan prioritas sendiri adalah, adanya pelaksanaan
kegiatan prioritas yang akan dilaksanakan oleh LAPAN sesuai dengan
karakteristik sumber daya dan tantangan yang dihadapi.
Fokus utama Reformasi Birokrasi LAPAN secara garis besar dilakukan
dengan mengoptimalkan pelaksanaan pada 8 (delapan) area perubahan
Reformasi Birokrasi LAPAN yang meliputi perbaikan akar masalah tata kelola
kelembagaan, meningkatkan produktivitas dan daya saing SDM aparatur
penerbangan dan antariksa, peningkatan maturitas sistem pemerintahan
berbasis elektronik LAPAN, serta peningkatan pelayanan publik yang semakin
berkualitas dan tata kelola kelembagaan yang semakin efektif dan efisien.
Prioritas Reformasi Birokrasi LAPAN tahun 2020-2024 adalah mewujudkan
ASN LAPAN yang unggul dan berdaya saing sehingga mampu mengoptimalkan
penyelenggaraan penerbangan dan antariksa nasional. Seperti yang telah
dijabarkan di atas, upaya tersebut lebih menekankan pada optimasi
pelaksanaan kegiatan birokrasi LAPAN berbasis teknologi informasi dengan
EVALUASI PELAKSANAAN
RB 2015-2019
(UPAYA) + (HASIL/DAMPAK)
BAB II
ANALISIS LINGKUNGAN
STRATEGIS RB
BAB IV
publik berbasis elektronik yang menjamin keamanan, kerahasiaan, ketersediaan
dan integritas data dan informasi. Sehingga, teknologi informasi mampu menjadi
penggerak dalam pelaksanaan area perubahan Reformasi Birokrasi LAPAN
menuju birokrasi yang profesional.
menjadi panduan dalam pelaksanaan RB di LAPAN periode 2020-2024 sehingga
target perubahan yang telah ditetapkan dapat diwujudkan.
1.2. Capaian Reformasi Birokrasi Lapan 2015-2019
Capaian Reformasi Birokrasi Lembaga Penerbangan dan Antariksa
Nasional periode 2015-2019 (RB LAPAN 2015-2019) merupakan gambaran
kinerja pelaksanaan RB LAPAN dan merupakan hasil evaluasi atas pelaksanaan
Reformasi Birokrasi pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional yang
berpedoman pada Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 14 Tahun 2014 tentang
Pedoman Evaluasi Reformasi Birokrasi Instansi Pemerintah.
LAPAN terus melakukan upaya perbaikan kondisi saat ini untuk
mewujudkan tujuan RB LAPAN periode 2015-2019 yakni mewujudkan tata
kelola pemerintahan yang berbasis kinerja dengan tatanan dinamis guna
menghadapi dinamika tantangan di bidang Penerbangan dan Antariksa. Upaya
yang telah dilakukan LAPAN demi kemajuan pelaksanaan Reformasi Birokrasi,
antara lain:
1. Jajaran pimpinan dan pegawai LAPAN telah memberikan perhatian yang
cukup besar atas pelaksanaan RB melalui pembentukan Tim Pelaksana,
Tim Pengarah dan penetapan Road Map RB Tahun 2015-2019;
2. Peta proses bisnis kegiatan utama sebagian besar telah ditetapkan dan
dijabarkan ke dalam prosedur operasional tetap (SOP) pada unit kerja;
3. Penataan manajemen sumber daya manusia telah dilakukan dengan baik
antara lain: proses penerimaan CPNS telah dilakukan secara transparan
dengan menggunakan sistem CAT, promosi jabatan terbuka untuk
pengisian jabatan pimpinan tinggi, dan implementasi kode etik dalam
bentuk sidang majelis kode etik;
4. Pimpinan dan para agen perubahan melakukan sosialisasi dan
internalisasi program dan kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan dalam
Road Map RB ke Unit-unit kerja dan memonitor pencapaian setiap
triwulan;
- 5 -
Perundang-undangan yang tidak harmonis/sinkron berikut status
hukumnya;
elektronis antara lain e-Arsip, e-Takah, e-Library, Simpeg (SKP Online),
Jabatan Fungsional Online, e-Proc (LPSE), JDIH, Portal PPID, e-Journal;
7. Perencanaan kebutuhan pegawai telah dilakukan berdasarkan analisis
jabatan dan analisis beban kerja sesuai ketentuan peraturan yang ada;
8. Telah melakukan identifikasi kebutuhan pengembangan pegawai dan
rencana pengembangan pegawai/HCDP dan AKD serta telah
menindaklanjuti dengan melaksanakan diklat pegawai sesuai rencana
pembangunan pegawai yang telah disusun;
9. Telah ada upaya untuk meningkatkan kualitas pengukuran kinerja
dengan menyusun rencana aksi kinerja dan memonitornya setiap triwulan
serta inisiatif untuk mengembangkan sistem pengukuran kinerja secara
elektronis;
ditandai dengan diterapkannya berbagai kebijakan pengawasan yang
meliputi kebijakan gratifikasi, sistem pengendalian internal pemerintah,
sistem pengaduan masyarakat, Whistle Blowing System dan penanganan
benturan kepentingan;
terhadap unit kerja yang ditetapkan sebagai percontohan menuju
WBK/WBBM;
korupsi di LAPAN, selain itu juga terdapat peningkatan kepuasan
stakeholder terhadap pelayanan yang diberikan oleh LAPAN pada tahun
2018;
mulai meningkat.
Kerangka pikir yang digunakan dalam penyusunan Road Map RB LAPAN
2020-2024 adalah bahwa Road Map RB LAPAN disusun sebagai implementasi
kebijakan RB Nasional yang telah dituangkan dalam Road Map RB Nasional
- 6 -
2024. Penyusunan Road Map RB LAPAN juga mempertimbangkan hasil evaluasi
pelaksanaan Road Map RB 2015-2019 dan analisis kondisi lingkungan strategis.
Selanjutnya tujuan dan sasaran strategis Road Map RB LAPAN ditetapkan
dengan mengacu pada Road Map RB Nasional, Rencana Strategis LAPAN, dan
penguatan pada area perubahan yang masih belum optimal pada periode Road
Map sebelumnya. Secara ringkas, kerangka pikir dalam penyusunan Road Map
RB LAPAN 2020-2024 disajikan pada Gambar 1.1.
Selanjutnya ruang lingkup Road Map RB LAPAN 2020-2024 disusun
dalam 6 (enam) Bab yang meliputi:
I. Pendahuluan;
III. Analisis lingkungan strategis Reformasi Birokrasi;
IV. Sasaran dan strategi Reformasi Birokrasi LAPAN 2020-2024;
V. Manajemen pelaksanaan Reformasi Birokrasi LAPAN 2020-2024;
VI. Penutup.
Gambar 1.1. Kerangka Pikir Penyusunan Road Map RB LAPAN 2020-2024
KEPALA LEMBAGA PENERBANGAN DAN
ANTARIKSA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,
TAHUN 2020-2024
BAB II
telah membawa perubahan yang cukup signifikan dalam hal tata kelola
pemerintahan yang baik. Beberapa aspek yang bersifat implementatif telah
dipotret ketercapaiannya sehingga dapat menjadi dasar dalam perencanaan
Road Map Reformasi Birokrasi periode 2020-2024. Aspek yang ditinjau
diantaranya kebijakan Reformasi Birokrasi, area perubahan sebagai komponen
pengungkit program Reformasi Birokrasi, implementasi program Reformasi
Birokrasi, serta ketercapaian sasaran melalui indikator hasil reformasi biorkrasi.
2.1. KEBIJAKAN REFORMASI BIROKRASI DI LAPAN
Dinamika pelaksanaan dan capaian program Reformasi Birokrasi periode
2015-2019 menjadi pertimbangan dalam perbaikan beberapa kebijakan
Reformasi Birokrasi di LAPAN. Berdasarkan Evaluasi Pelaksanaan Reformasi
Birokrasi yang telah dilakukan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PANRB) tahun 2019, hal yang
paling urgent untuk dilaksanakan LAPAN adalah penerapan Manajemen sumber
daya manusia yang berbasis merit guna meningkatkan profesionalisme SDM.
Kinerja individu harus selaras dengan kinerja organisasi sehingga capaian
kinerja individu dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
pengembangan kompetensi dan pembinaan karier pegawai. Dengan
meningkatnya profesionalisme SDM, diharapkan akan mendorong inovasi pada
setiap unit kerja dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas dan
tepat guna.
Dalam Road Map ini terdapat indikator yang telah disinkronkan dengan
RPJMN dan target capaian dari setiap sasaran Reformasi Birokrasi serta Renstra
- 2 -
masyarakat sebagai objek sekaligus subjek dari program Reformasi Birokrasi.
Hal ini berangkat dari paradigma governance yang menjadi salah satu kunci
sukses pelaksanaan Reformasi Birokrasi. Penggunaan paradigma governance
menuntut LAPAN untuk melibatkan aktor-aktor di luar pemerintah. dalam
penyusunan dan pelaksanaan program-program Reformasi Birokrasi. Dengan
demikian, pelibatan masyarakat secara lebih intens menjadi salah satu agenda
prioritas dalam setiap kebijakan Reformasi Birokrasi LAPAN.
2.2. AREA PERUBAHAN REFORMASI BIROKRASI
LAPAN telah menetapkan delapan area perubahan yang tertera dalam
Road Map Reformasi Birokrasi 2020-2024. Berdasarkan evaluasi yang
dilakukan, kedelapan area tersebut masih relevan untuk dijalankan. Namun
KementrianPANRB telah melakukan klasterisasi/regrouping area berdasarkan
sasaran yang ditargetkan. Harapannya, dalam Road Map baru ini tidak akan lagi
terjadi tumpang tindih proses dan output dari masing masing area. Dari delapan
area perubahan, maka LAPAN dimungkinkan untuk menentukan fokus prioritas
dari delapan area perubahan tersebut dan dilanjutkan dengan menyusun
program yang relevan disesuaikan dengan kondisi dan kapasitas organisasi
LAPAN.
tersebut dapat dievaluasi melalui umpan-balik hasil pelaksanaan Reformasi
Birokrasi itu sendiri. Dalam hal ini terdapat delapan area perubahaan dalam
Reformasi Birokrasi yang menjadi fokus pembangunan antara lain sebagai
berikut:
- 3 -
2019
sejak dikeluarkannya Grand Design Reformasi Birokrasi pada tahun 2010.
Namun usulan program Reformasi Birokrasi baru diusulkan oleh LAPAN pada
tanggal 28 Oktober 2012. Reformasi Birokrasi di LAPAN sudah berjalan sewindu,
namun secara umum Reformasi Birokrasi masih menghadapi banyak hambatan
dan tantangan, baik yang berasal dari internal maupun eksternal. Masih banyak
ASN LAPAN yang belum menyadari perlunya Reformasi Birokrasi dan masih
acuh dan belum menjalankan agenda Reformasi Birokrasi yang sudah disusun.
Hasil evaluasi pelaksanaan Reformasi Birokrasi pada tabel 2.1 menunjukkan
bahwa dari kedelapan area perubahan dan indikator yang ada di dalamnya,
penguatan akuntabilitas kinerja dan penguatan pengawasan diusulkan menjadi
target yang diprioritaskan, dengan alasan bahwa akuntabilitas kinerja dan
penguatan pengawasan menjadi pengungkit bagi pencapaian indikator yang
lain.
- 4 -
No Komponen Penilaian Nilai
2 Penataan peratuan perundang-
3 Penataan dan penguatan
4 Penataan tata laksana 5,00 3,30 3.60 3,60 3,60 3,69
5 Penataan sistem manajemen SDM 15,00 12,48 13,07 13,26 13,26 13,27
6 Penguatan akuntabilitas 6,00 4,12 4.35 4,35 4,35 4,37
7 Penguatan pengawasan 12,00 4,87 6.01 7,92 7,96 8,03
8 Peningkatan kualitas pelayanan
Sub Total Komponen Pengungkit 60,00 38,41 40,46 44,10 44,14 44,43
B. Hasil
10,00 7,71
4 Nilai Akuntabilitas Kinerja 14,00 9,65 10,08 10,27 10,33
5 Survei Internal Integritas
6 Survei Eksternal Persepsi Korupsi 7,00 5,95 6,33 6,06 6,49
7 Opini BPK 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00
8 Survei Eksternal Pelayanan Publik 10,00 8,08 8,43 8,55 9,08
Sub Total Komponen Hasil 40,00 30,02 31,76 31,82 31,94 33,12
INDEKS RB 100,00 68,43 72,66 75,92 76,12 77,55
Berbagai upaya yang telah dilakukan dalam mengimplementasikan
berbagai program Reformasi Birokrasi di LAPAN dan terus dilakukan upaya
perbaikan hingga saat ini, hal ini dapat tergambar melalui hasil pelaksanaan
evaluasi Reformasi Birokrasi yang dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 8 Tahun 2019
tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 14 Tahun 2014 Tentang Pedoman
Evaluasi Reformasi Birokrasi Instansi Pemerintah. Dalam melakukan penilaian
perkembangan RB cakupan penilaian dilakukan pada upaya dan hasil.
Beberapa upaya yang dilakukan LAPAN antara lain:
- 5 -
Dalam melakukan internalisasi atas perubahan pola pikir, maka
diperlukan suatu peraturan untuk merubah paradigma lama. Dengan
ditetapkannya Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (UU Nomor 5
tahun 2014) dan Perka LAPAN Nomor 3 Tahun 2015 tentang
Sistem Nilai-nilai Organisasi LAPAN, diharapkan ASN LAPAN
mempunyai karakter dan budaya kerja semakin baik, berinegritas,
porofesional, netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dan bebas
korupsi, kolusi dan nepotisme, serta mampu menyelenggarakan
pelayanan publik yang berkualitas dan mampu menjalankan peran
sebagai unsur perekat dan persatuan bangsa.
Disamping adanya peraturan terkait nilai-nilai organisasi, juga
dibentuk Agen perubahan di setiap unit kerja, diharapkan Agen
perubahan tersebut dapat berfungsi sebagai role model yang akan
mendorong terjadinya perubahan pola pikir ASN di lingkungan unit
kerjanya, yang mana dampaknya akan terasa di seluruh ASN LAPAN.
Untuk lebih meningkatkan pemahaman seluruh ASN LAPAN akan
perlunya Reformasi Birokrasi di LAPAN, maka dibangun sarana
komunikasi Reformasi Birokrasi melalui buku saku, flyer, banner,
Website, dan sarana komunikasi lain.
2. Deregulasi Kebijakan
meminimalisir adanya aturan yang tumpang tindih di LAPAN, maka
telah dibuat Perka LAPAN no 2 Tahun 2013 Tentang Pembentukan
Peraturan dan Keputusan Kepala dan Perka LAPAN no 16 Tahun 2014
tentang Petunjuk Pelaksanaan Rencana Legislasi di Lingkungan LAPAN.
Disamping itu juga telah dilakukan deregulasi hasil evaluasi Peraturan
Perundang-undangan tahun sebelumnya secara berkala dan
meningkatkan partisipasi satuan kerja dalam penentuan kebijakan yang
dituangkan dalam peraturan melalui rapat berkala.
3. Penyederhanaan Organisasi
dilakukan agar organisasi LAPAN dapat sesuai dengan dinamika
kebutuhan nasioanl. Dengan adanya penataan organisasi, telah terbit
Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2015. tentang Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional yang diikuti dengan dibuatnya
- 6 -
Peraturan Kepala Nomor 8 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional sebagaimana telah
diubah dengan Perla No 8 Tahun 2017, Perka Nomor 15 Tahun 2015
tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengamatan Antariksa dan
Atmosfer, Perka Nomor 16 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Balai Kendali Satelit, Pengamatan Antariksa dan Atmosfer dan
Penginderaan Jauh Biak, Perka 17 Tahun 2015 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Balai Uji Teknologi dan Pengamatan Antariksa dan Atmosfer
Garut, Perka 18 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Stasiun
Bumi Penginderaan Jauh Parepare dan Perka Nomor 5 Tahun 2020
tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengelola Observatorium
Nasional, Perla No 5 Tahun 2020 tentang Organisasi Tata Kerja UPT
sebagaimana telah diubah dengan Perla No 9 Tahun 2017 dan Perla No
10 Tahun 2017 serta Perka No. 3 tentang Rincian Tugas dan Fungsi
Organisasi. Untuk mengatur tata hubungan kerja antara satuan Kerja,
maka dibuatlah Perka No Perka No 6 Tahun 2018 tentang Tata
Hubungan Kerja di Lingkungan LAPAN.
Dengan adanya kebijakan nasional terkait repositioning ASN ke
dalam jabatan fungsional, maka untuk menunjang peningkatan
kapasitas SDM LAPAN, telah dibuat naskah Akademik untuk pengajuan
usulan jabatan Fungsional LAPAN, diharapkan dengan persetujuan
Jabatan Fungsional LAPAN, maka kapasitas SDM LAPAN lebih
professional.
penyelenggaraan pemerintah sesuai dengan Perpres Nomor 95 Tahun
2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), LAPAN
telah menetapkan Peraturan Lembaga Penerbangan dan Antariksa
Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang
Penyelenggaraan SPBE di lingkungan LAPAN (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 240). Implementasi dari
Peraturan Lembaga tersebut telah dirumuskan dan ditetapkan
Peraturan Kepala LAPAN Nomor: 7 Tahun 2020 tentang Rencana Induk
SPBE LAPAN Tahun 2020-2024, Peraturan Kepala LAPAN Nomor 200
Tahun 2020 tentang Penyelenggara SPBE LAPAN dan Peraturan Kepala
LAPAN Nomor 199 Tahun 2020 tentang Tim Evaluator SPBE LAPAN yang
- 7 -
LAPAN. Hasil Penilaian SPBE LAPAN tahun 2018 dan 2019 sebagaimana
disajikan pada Tabel 2.2 di bawah ini.
Tabel 2.2. Hasil Penilaian SPBE LAPAN Tahun 2018-2019
No Indikator Satuan Hasil Penilaian SPBE LAPAN
2018 2019
Disamping itu dalam penerapan tata kelola di bidang keamanan
informasi di lingkungan LAPAN telah ditetapkan Perka LAPAN Nomor 3
Tahun 2018 tentang Kebijakan dan Standar Sistem Manajemen
Pengamanan Informasi di lingkungan LAPAN, penerapan ISO
27000:2013 terkait Sistem Manajemen Keamanan Informasi) dan ISO
20000:2018 terkait Sistem Manajemen Layanan Teknologi Informasi),
Pengembangan Infrastruktur TIK berbasis struktur Data Centre (DC
Jakarta) dan Disaster Recovery Center (DRC Bandung), serta
Implementasi jaringan intranet berbasis Single Sign ON (SSO) dan e-
office LAPAN serta Pembentukan Tim Penanggulangan dan Pemulihan
Insiden Siber (Computer Security Incident Response Team) di LAPAN yang
ditetapkan berdasarkan Keputusan Kepala LAPAN Nomor 320 Tahun
2020. Kemudian untuk efisiensi penyelenggaraan pemerintah, telah
disusun pula Bisnis Proses yang disesuaikan dengan restrukturisasi
kelembagaan LAPAN dan pengembangan sistem ketatalaksanaan
berbasis SPBE.
sarpras PPID untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. Selain itu
LAPAN juga mensertifikasikan PPID LAPAN sehingga memperoleh ISO
9001:2015 sejak tahun 2016 yang diberikan oleh Brithis Standar
Institute (BSI) dengan sudah 1 kali resertifikasi perpanjangan. Pada
penilaian Keterbukaan Badan Publik dalam penyampaian informasi,
LAPAN sudah masuk dalam kategori terinformatif yang merupakan
kategori tertinggi yang diberikan oleh Komisi Informasi Pusat (KIP) sejak
tahun 2018. Untuk mendorong keterbukaan infomasi di Satuan Kerja,
LAPAN juga mengadakan penilaian pemeringkatan PPID Pelaksana
- 8 -
setiap tahunnya dari 2018 sampai sekarang dan ini sangat membantu
melihat performa atau kinerja dari PPID Pelaksana dalam memberikan
layanan.
LAPAN telah Menyusun Kebijakan Kearsipan yang terdiri dari Perka
LAPAN No.15 tahun 2016 tentang Klasifikasi Arsip LAPAN, Perka No. 16
Tahun 2016 tentang Juklak Klasifikasi Keamanan dan Akses Arsip
Dinamis LAPAN, Perka LAPAN No. 2 tahun 2018 tentang jadwal Retensi
Arsip (JRA) LAPAN dan Perka No.7 Tahun 2019 tentang Pedoman Tata
Naskah Dinas (TND) LAPAN. Kebijakan Kearsipan yang sudah disusun
tersebut mengantarkan LAPAN mendapatkan beberapa penghargaan
dari ANRI, antara lain:
Arsip yang bernilai Guna Pertanggungjawaban Nasional bagi
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
b. Tahun 2016: Mendapat Juara Harapan II untuk Kearsipan Terbaik
nasional.
dalam pengawasan Arsip dengan Nilai 79.51 dan Penghargaan
Juara I dalam pemilihan Unit Kearsipan terbaik Nasional kategori
LPNK.
Memuaskan” pada kategori LPNK dengan nilai 93.4.
Dengan penghargaan2 yang telah diterima dari ANRI tersebut,
membuat LAPAN terus berupaya meningkatkan pengelolaan kearsipan,
diantaranya dengan Menyusun Road Map Kearsipan 2020-2024 dan
program Akreditasi Kearsipan.
LAPAN dituntut untuk melaksanakan merit system sehingga
tercipta ASN yang professional, berintegritas dan berdaya saing tinggi.
Perencanaan kebutuhan/formasi jabatan didasarkan atas kebutuhan
organisasi yang sesuai dengan peta jabatan dan analisis beban kerja
yang telah ditetapkan oleh Kepala dengan Keputusan Kepala LAPAN
Nomor 175 Tahun 2020 tentang Peta Jabatan di Lingkungan LAPAN.
Upaya yang dilakukan dalam rangka mendapatkan ASN LAPAN yang
- 9 -
Universitas, penyusunan Perla tentang Pedoman Rekruitmen Pegawai,
dan pelaksanaan sistem rekruitmen ASN secara kompetitif berbasis
kompetensi dengan menggunakan Computer Assisted Test (CAT).
Pelaksanaan sistem rekruitmen berpedoman pada prinsip-prinsip
pengadaan, yaitu kompetitif, adil, objektif, transparan, bersih dari
praktek KKN dan tidak di pungut biaya, sehingga pelaksanaan
rekrutmen semakin objektif, transparan dan akuntabel. Hasil seleksi
dapat diketahui secara langsung (real time) tanpa perlu menunggu lama
(hasil ujian akan langsung keluar setelah selesai mengikuti ujian).
Sejak pengadaan CPNS tahun 2017, LAPAN telah menggunakan
sistem CAT dalam pelaksanaan Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dan
Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) yang mana penyusunan materi tes
selalu diperbarui menyesuaikan dengan kompetensi teknis yang
dibutuhkan oleh masing-masing jabatan fungsional. Sehingga nantinya
akan di dapat ASN yang benar benar kompeten dan sesuai dengan
kebutuhan LAPAN. Kriteria penetapan dan kebutuhan ASN serta
pelaksanaan seleksi ASN diatur dalam Peraturan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, begitu juga
dengan penentuan kelulusan peserta seleksi yang berdasarkan nilai
ambang batas (passing grade) yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Bagi peserta
seleksi CPNS yang memenuhi nilai ambang batas kelulusan/passing
grade akan diambil kelipatan tiga besar berdasarkan alokasi
kebutuhan/formasi masing-masing jabatan untuk mengikuti Seleksi
Kompentensi Bidang (SKB). Tahap akhir penilaian akan dilakukan
integrasi nilai SKD dan SKB untuk menentukan peserta yang dinyatakan
lulus seleksi CPNS.
No Tahun Jumlah Pelamar
- 10 -
Dalam rangka perencanaan pengembangan pegawai di LAPAN, telah
diatur dalam Perka LAPAN No 5 tahun 2015 tentang Pola Karir PNS di
Lingkungan LAPAN dan adanya Pedoman Pengelolaan Kinerja Pegawai
yang digunakan sebagai dasar dalam pemberian reward dan
punishment. Walaupun LAPAN saat ini sedang membangun Talent Pool
ASN, namun penerapan system promosi ASN dilakukan secara terbuka,
transparan, kompetitif, dan berbasis kompetensi dan kinerja. Selain itu,
penataan sumber daya manusia aparatur juga diarahkan agar kinerja
setiap pegawai selaras dengan pencapaian kinerja organisasi. Untuk itu,
penerapan manajemen kinerja yang efektif melalui perencanaan kinerja
pegawai, bimbingan kinerja, penilaian kinerja, serta pemberian
penghargaan dan sanksi berdasarkan hasil penilaian kinerja pegawai
menjadi kata kunci didalamnya.
LAPAN terus mendorong penguatan Akuntabilitas Kinerja melalui
implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP).
Hal ini ditunjukkan dengan naiknya nilai Evaluasi Penilaian SAKIP yang
dilakukan oleh Kementerian PANRB dari B ke BB. Hal -hal yang masih
perlu dilakukan adalah menyempurnakan cascade kinerja dari level
organisasi sampai ke individu. Setiap level organisasi sampai individu
harus memiliki kontribusi kinerja secara berjenjang sesuai levelnya
dalam pencapaian sasaran strategis LAPAN. Mekanisme pemantauan
capaian kinerja dilakukan secara berjenjang dari kinerja individu sampai
ke tingkatan organisasi.
system aplikasi pemantauan kinerja mulai dari penetapan rencana aksi
kinerja, pemantauan dan evaluasi capaian kinerja. Aplikasi ini akan
dimanfaatkan oleh pimpinan pada berbagai tingkatan dalam
pelaksanaan supervisi, coaching, dan mentoring kepada pejabat
dibawahnya dalam mewujudfkan kinerja.
Komponen yang dinilai Bobot
a. Perencanaan Kinerja 30% 22,46 22,78 23,51 23,65 23,67
b. Pengukuran Kinerja 25% 14,53 16,21 17,67 17,92 18,09
c. Pelaporan Kinerja 15% 11,49 11,29 11,08 11,18 11,28
d. Evaluasi Kinerja 10% 7,18 7,18 7,22 7,00 7,12
e. Capaian Kinerja 20% 13,29 14,55 13,88 14,04 14,08
Nilai Hasil Evaluasi 100% 68,94 72,01 73,36 73,79 74,24
Tingkat Akuntabilitas Kinerja B BB BB BB BB
Implementasi SAKIP adalah menciptakan organisasi yang memiliki
kinerja tinggi dan pemanfaatan anggaran secara efektif dan efisien.
Berdasarkan perhitungan Efisiensi anggaran sesuai PMK No 214 tahun
2017, maka efisiensi yang dihasilkan dalam pencapaian sasaran
strategis dan indikator kinerja LAPAN adalah 20.78% dengan nilai
efisiensi 101.94%. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja yang dihasilkan
lebih besar dibandingkan dengan penggunaan anggaran.
7. Penguatan Pengawasan
tantangan banyaknya Unit Kerja yang tersebar di seluruh Indonesia. Ada
7 Unit kerja eselon 2 yang tersebar di Bandung, Bogor dan Rumpin, 7
Unit kerja di Jakarta dan 8 Unit kerja setingkat eselon 3 yang tersebar
di Agam, Garut, Sumedang, Pasuruan, Pontianak, Parepare, NTT dan
Biak. Dengan tersebarnya lokasi Unit kerja tersebut, diperlukan strategi
percepatan Reformasi Birokrasi yang masif dan memiliki dampak yang
langsung dapat dirasakan oleh masyarakat. Zona Integritas (ZI) adalah
strategi percepatan Reformasi Birokrasi melalui pembangunan unit kerja
pelayanan percontohan (role model) sebagai wilayah yang bebas dari
korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi yang bersih dan melayani (WBBM)
dalam rangka pelayanan publik yang prima.
- 12 -
Tahun 2015-2019
Fokus pembangunan ZI adalah pada unit kerja yang telah mampu
melakukan inovasi perubahan, membangun budaya anti korupsi, dan
memberikan pelayanan prima sehingga dampaknya dapat dirasaakan
langsung oleh masyarakat. Proses pembangunan ZI tersebut tergambar
dalam proses implementasi 6 (enam) area perubahan. Hasil
pembangunan tersebut akan tergambar pada dua survei eksternal yaitu
Survei persepsi anti korupsi dan Survei Persepsi Pelayanan Publik.
Gambar 2.3. Indeks Persepsi Anti Korupsi LAPAN Tahun 2015-2019
Pada tahun 2016, LAPAN mengusulkan Pembangunan Zona
Integritas untuk unit kerja Pusainsa dan PSTA, dan diikuti oleh
Pustekdata dan Pusfatja pada tahun 2018, dari 4 (empat) unit kerja yang
- 13 -
kerja sebagai unit kerja berpredikat WBK/ WBBM. Unit kerja yang
diusulkan adalah PSTA, Pustekdata dan Pusainsa untuk WBBM dan
Pusfatja, SBPJ Parepare, BPA Agam, BPAA Sumedang, Pustikpan dan
Pustekbang untuk WBK. Keberhasilan LAPAN dalam mendapatkan
predikat WBK untuk beberapa unit kerja dapat dapat dilihat naiknya
Indeks persepsi korupsi mulai dari 3.26 menjadi 3.83 selama 5 (lima)
tahun.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun
2009 tentang Pelayanan Publik mengamanatkan agar semua
penyelenggara pelayanan publik dapat menyediakan pelayanan yang
berkualitas bagi pengguna layanan atau yang disebut dengan pelayanan
prima. Pelayanan prima memberikan jaminan atas terpenuhinya
kepuasan dan kebutuhan masyarakat sebagai pengguna layanan.
Pelayanan prima tersebut harus dimiliki oleh semua instansi
pemerintah. LAPAN, sebagai salah satu institusi penyelenggara negara,
berkewajiban memberikan layanan publik kepada negara dan
masyarakat.
di LAPAN, ditandai dengan semakin baiknya persepsi masyarakat atas
penyelenggaraan pelayanan publik.
Tahun 2015-2019
Pengukuran
SKM
Nilai
SKM
sebesar
Hal ini dapat dilihat dari tabel hasil Survei Kepuasan Masyarakat
yang dilakukan secara internal maupun eksternal dari 79.30 di tahun
2015 menjadi 88.19 pada tahun 2019. Disamping nilai SKM yang
semakin meningkat, LAPAN juga meraih penghargaan pada Kompetisi
Anugerah Keterbukaan informasi Publik yang diselenggarakan oleh
Komisi Informasi Pusat (KIP). Adapun hasilnya adalah sbb:
Tabel 2.6. Rekap Pemeringkatan PPID LAPAN Tahun 2015-2019
Kegiatan 2015 2016 2017 2018 2019
Pemeringka
penghargaan tertinggi untuk keterbukaan Badan Publik. Terkait dengan
Inovasi Pelayanan Publik, sejak tahun 2014, LAPAN telah mengajukan
penilaian beberapa inovasi layanan publik kepada Kementerian PANRB,
diantaranya Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) untuk peningkatan
kesejahteraan nelayan. Tahun 2016 LAPAN juga mengikuti Kompetisi
Unit Kerja Pelaksana Pelayanan Publik, yang mana kompetisi ini
merupakan mekanisme dalam menilai Indeks Pelayanan Publik (IPP)
- 15 -
dan pada tahun 2019, Pustekdata mendapatkan nilai IPP 4.09 dalam
katagori A- serta masuk dalam 10 besar unit kerja pelayanan publik
terbaik dari Kementerian PANRB dimana pada tahun 2018 diawal keikut
sertaan LAPAN masih mendapatkan nilai 3,99, kita berharap agar dapat
menuju IPP pelayanan prima dengan bobot diatas 4,50.
Beberapa kendala dalam melaksanakan agenda atau kegiatan
Reformasi Birokrasi adalah masalah anggaran dan organisasi. Dalam
mekanisme penganggaran, untuk kegiatan Reformasi Birokrasi tidak
bisa dialokasikan ke dalam pos anggaran khusus. Sehingga dalam
pelaksanaannya penganggaran disupport dari anggaran kegiatan di
masing-masing unit kerja. Dengan belum adanya Dana Alokasi Khusus
(DAK) dalam pelaksanaan kebijakan Reformasi Birokrasi, sehingga
secara keuangan Reformasi Birokrasi dilaksanakan sebagai pelengkap
dengan pendanaan seadanya.
tim pelaksana Reformasi Birokrasi masih belum jelas, ditambah dengan
kapasitas sumber daya manusia masih lemah sehingga tidak mampu
menyusun dan melaksanakan program-program Reformasi Birokrasi.
Secara spesifik, masih tinggi jumlah aparatur sipil negara yang belum
memahami definisi, maksud, dan pentingnya Reformasi Birokrasi.
Bentuk tim pelaksana Reformasi Birokrasi di LAPAN adalah tim adhoc.
Tim ini merupakan gabungan pegawai dari berbagai unit yang diberikan
agenda pekerjaan tambahan untuk pelaksanaan program Reformasi
Birokrasi dengan Tim inti dari Biro-Biro dan Pusat di lingkungan
Sestama. Tantangan besar bagi tim yang bersifat adhoc yaitu
keterbatasan kapasitas tim untuk menjalankan dua fungsi sekaligus,
yaitu sebagai fungsi yang melekat di unit induk dan fungsi sebagai
pelaksana program Reformasi Birokrasi. Akibatnya tim adhoc hanya
bekerja ketika terdapat kegiatan evaluasi yang dilakukan oleh
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Tantangan lainnya yaitu potensi perubahan komposisi tim yang
cukup tinggi. Perubahan tim berdampak terhadap kebutuhan waktu
bagi pegawai baru untuk memahami dan beradaptasi terhadap
perkembangan pelaksanaan Reformasi Birokrasi. Berhubung tidak
semua pegawai memahami Reformasi Birokrasi dengan baik, adaptasi
- 16 -
kelemahan tersebut, tim Reformasi Birokrasi yang bersifat adhoc
memiliki kelebihan yaitu cakupan keterlibatan pegawai yang lebih luas
memiliki potensi kepemilikan program Reformasi Birokrasi yang juga
lebih tinggi. Untuk menyiasati kelemahan tim adhoc Reformasi Birokrasi
di LAPAN, maka Kepala Biro, Inspektur dan Kepala Pusat di lingkungan
Sestama juga berfungsi sebagai Tim reformasi Birokrasi dan sebagai
Kepala Pokja di delapan area perubahan yang disesuaikan dengan unit
kerjanya, sehingga kegiatan yang ada di Biro, Pusat dibawah Sestama
dan Inspektorat disinkronkan dengan program Pokja di delapan area
perubahan.
Hasil pelaksanaan Reformasi Birokrasi di LAPAN yang dimulai sejak tahun
2010 menjukkan perubahan yang cukup signifikan terkait perubahan budaya
kerja dan profesionalisme ASN LAPAN. Kebijakan Reformasi Birokrasi di tahun
2015-2019 ditujukan untuk mencapai tiga (3) sasaran utama yaitu;
(1) Birokrasi yang bersih dan akuntabel,
(2) Birokrasi yang efisien dan efektif, dan
(3) Birokrasi yang memiliki pelayanan publik berkualitas.
Keberhasilan pencapaian tiga (3) sasaran tersebut diukur dengan
beberapa indikator yang tertuang dalam Road Map Reformasi Birokrasi 2015-
2019.
Tabel 2.7. Pencapaian Ukuran Keberhasilan Road Map Reformasi Birokrasi LAPAN
Tahun 2015-2019
2019
Realisasi
2019
Reformasi
3
(Integrated)
3
(Integrated)
3
Tingkat
Kematangan
Implementasi
SPIP
- 17 -
2019
Realisasi
2019
Birokrasi yang efektif
Birokrasi
2
3
Indeks
Kepuasan
Masyarakat
1-4
skala
Likert
Tabel 2.7 diatas memperlihatkan berbagai capaian atas target dari ukuran
keberhasilan yang telah ditetapkan pada Road Map Birokrasi LAPAN 2015-2019.
Untuk sasaran 1 Birokrasi yang bersih dan akuntabel, pada indikator 1 yaitu
opini atas Laporan Keuangan BPK, sejak tahun 2016 sampai 2019, opini atas
laporan Keuangan LAPAN mendapat opini WTP (Wajar Tanpa Persyaratan) hal
ini menunjukkan pengelolaan keuangan LAPAN sudah dilaksanakan secara
transparan dan akuntabel. Untuk indikator 2, Tingkat kapabilitas APIP,
mendapat nilai pada level 3, yang menandakan bahwa pembinaan APIP LAPAN
menunjukkan keberhasilan, walau masih belum optimal. Hal ini dikarenakan
jumlah SDM yang masih belum sesuai dengan beban kerjanya, sehingga perlu
peningkatan kompetensi APIP agar nilai kapabilitas APIP mendekati level 4.
Apabila kapabilitas APIP meningkat, maka indikator 3 terkait Tingkat
kematangan Implementasi SPIP akan terdorong naik mendekati level 4. Dengan
membaiknya implementasi SPIP di seluruh Unit Kerja LAPAN, akan menambah
tingkat kematangan SPIP di LAPAN.
- 18 -
Untuk indkiator 4 terkait Nilai SAKIP, capaian LAPAN masih dibawah
target yang ditetapkan, walau nilainya sudah naik dari B menjadi BB. Hal ini
disebabkan belum terlihatnya cascading dari Kinerja Individu yang menunjang
pada Kinerja organisasi. Untuk bisa menaikkan nilai SAKIP, perlu didorong
pembangunan system terintegrasi antara e-kinerja dan simpeg. Dengan sistem
yang dibangun ini akan memudahkan pimpinan dalam memberikan reward dan
punishment.
Untuk sasaran 2, Birokrasi yang efektif dan efisien, pada indikator 1 yaitu
Indeks Reformasi Birokrasi, walaupun Indeks RB sudah naik dari 57.22 menjadi
77.55, namun masih dibawah target yang ditentukan yaitu 91.33. Untuk
mencapai target di Road Map RB 2020-2024, maka perlu dorongan yang kuat
agar nilai Pokja Pengawasan dan Pokja akuntabiltas naik. Untuk indikator 2
yaitu Indeks Profesionalitas ASN, hasil yang diperoleh berdasarkan penilaian
mandiri adalah 64,78 (Rendah) pengukuran ini berdasarkan data yang ada di
Simpeg. Kendala yang ada adalah sulitnya memperoleh/ mengumpulkan Data
Pengembangan Kompetensi seluruh pegawai, khususnya Data Diklat Teknis
(Diklat 20 JP) dan data pegawai yang mengikuti kegiatan
Seminar/workshop/sejenisnya). Disamping itu data penilaian Kinerja Individu
(nilai SKP + Nilai Perilaku) juga sulit mengumpulkannya. Sampai bulan
Desember ini masih terdapat sekitar 104 pegawai yang belum ada data kinerja
individunya. Untuk indikator 3 yaitu Indeks SPBE, saat ini LAPAN mendapatkan
nilai 2,65
Untuk sasaran 3 yaitu Birokrasi yang memiliki pelayanan publik
berkualitas, ada 3 indikator yang terdapat pada sasaran ini, dimana masing-
masing indikator saling ada kaitannya. Nilai SKM LAPAN di tahun 2019 sebesar
88.19, Indeks Pelayanan Publik atas penilaian dari Kementerian PANRB yang
diperoleh oleh Pustekdata sebesar 4.09 dan LAPAN mendapat penghargaan
Keterbukaan Badan Publik yang Terinformatif yang diberikan oleh Komisis
Informasi Pusat (KIP) dalam memberikan informasi. Dari ketiga nilai pada 3
indikator tersebut menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan oleh LAPAN
sudah sesuai dengan harapan masyarakat. Walaupun nilai pelayanan publik
LAPAN sudah bagus, tapi layanan publik tetap harus ditingkatkan dan terus
menerus melakukan inovasi pelayanan publik agar lebih bermanfaat untuk
masyarakat.
Dari tabel 2.7 di atas terlihat bahwa pelaksanaan Reformasi Birokrasi
tengah menuju ke arah yang lebih baik yang dibuktikan dengan peningkatan
- 19 -
berbagai capaian dari kondisi baseline di tahun 2014, meskipun masih banyak
beberapa ukuran keberhasilan yang belum mencapai target, namun dampak
maupun hasil Reformasi Birokrasi tidak boleh berhenti pada ukuran-ukuran
bagi LAPAN sendiri, akan tetapi haruslah juga mencerminkan perubahan
maupun perbaikan kualitas terhadap kehidupan bernegara, bahkan perubahan
maupun perbaikaan kualitas hidup di masyarakat. Reformasi Birokrasi dapat
dijadikan sebagai faktor pendorong perbaikan ekonomi melalui penciptaan iklim
investasi yang baik dan penghapusan pungli, peningkatan kualitas kehidupan
dan kebahagiaan masyarakat melalui pelayanan publik, dan peningkatan daya
saing bangsa dengan menciptakan ASN yang kompeten.
2.5. TANTANGAN/HAMBATAN
sejak dikeluarkannya Grand Design Reformasi Birokrasi pada tahun 2010.
Sudah hampir satu dekade berjalan, secara umum Reformasi Birokrasi masih
menghadapi banyak hambatan dan tantangan, baik yang berasal dari internal
maupun eksternal pemerintah.
1. Intervensi Politik
politik. Hal yang menjadi tantangan terbesar dari lingkungan politik
adalah intervensi politik dari para pejabat political appointee ke dalam
birokrasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan Reformasi
Birokrasi sangat dipengarui oleh komitmen pemimpin dalam
menjalankan program Reformasi Birokrasi. Agenda-agenda Reformasi
Birokrasi terhambat karena pemimpin instansi tidak memiliki komitmen
untuk mendukung Reformasi Birokrasi karena birokrasi diposisikan
untuk mengamankan kepentingan politik sehingga birokrasi menjadi
tidak netral. Dampak negatif intervensi politik ke dalam birokrasi dan
ketidaknetralan ASN dalam penyelenggaraan negara dapat meningkat
dalam hal korupsi kebijakan, misalokasi anggaran yang tidak sesuai
dengan tujuan peruntukan awalnya, hingga pelayanan diskriminatif.
Situasi ini dapat berkembang menjadi semakin negatif ketika tidak ada
nilai-nilai antikorupsi dan etika publik yang terinternalisasi ke dalam
ASN, penerapan sistem integritas nasional yang lemah, serta kemapanan
sistem dan maturitas aparat pengawas internal pemerintah (SPIP & APIP)
yang masih rendah.
Birokrasi, bahkan sebagian bersikap resisten dan tidak memahami
esensi Reformasi Birokrasi. Hal tersebut diperburuk dengan mentalitas
silo yang menjadi penghadang upaya sinergitas agenda-agenda
Reformasi Birokrasi dan membentuk persepsi bahwa Reformasi
Birokrasi hanyalah menjadi suatu tugas dari instansi atau sebagian
orang yang ditugaskan, atau hanya menjadi sesuatu yang bersifat
administratif.
Birokrasi yang tertutup menyebabkan lemahnya kontrol dan partisipasi
masyarakat terhadap birokrasi. Hal ini dikarenakan tidak ada interaksi
antara birokrasi dengan lingkungan eksternal, termasuk masyarakat
sebagai penerima layanan publik. Akibatnya birokrasi menjadi tidak
responsif terhadap berbagai kebutuhan masyarakat. Untuk menjadi
birokrasi yang berkelas dunia, birokrasi harus mampu berkolaborasi
dengan berbagai aktor dan sektor dalam berbagai proses pengambilan
kebijakan dan pelayanan publik.
dari komitmen Pimpinan LAPAN. Pimpinan memimpin langsung
pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan menjamin netralitas birokrasi.
Pimpinan telah berhasil memaksimalkan kinerja organisasi melalui
penyusunan program yang fokus dan terarah dengan dukungan
keuangan yang memadai. Program Prioritas Nasional merupakan
kegiatan utama di LAPAN yang didukung oleh unit kerja teknis.
Kompleksitas program yang lebih besar tersebut menuntut kolaborasi,
integrasi dan koordinasi yang lebih intens diantara unit kerja, instansi
lain dan pihak swasta. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk
merubah budaya dan mindset aparatur sipil negara agar lebih inovatif
dan kolaboratif. Hasilnya, program yang dibuat lebih menyasar pada
kebutuhan masyarakat dengan dampak yang lebih terasa dan terjadinya
perubahan budaya organisasi dan mindset ASN. Memahami
Kompleksitas dan Kesenjangan Kompetensi untuk Melaksanakan
Reformasi Birokrasi dibutuhkan kebijakan dan program Reformasi
Birokrasi yang dibuat sesuai dengan konteks dan kondisi di LAPAN.
- 21 -
pada kondisi yang frustasi dan stagnan karena target yang ditetapkan
terlalu tinggi dibandingkan kemampuan organisasi dan personil
merespon perubahan. Namun perlu diperhatikan bahwa target
keberhasilan Reformasi Birokrasi tidak juga boleh terlalu rendah agar
perubahan yang diharapkan dapat dirasakan.
Reformasi Birokrasi yang dilaksanakan di LAPAN pada periode 2015-2019
telah membawa perubahan yang cukup signifikan dalam hal tata kelola
pemerintahan yang baik. Beberapa aspek yang bersifat implementatif telah
dipotret ketercapaiannya sehingga dapat menjadi dasar dalam perencanaan
Road Map Reformasi Birokrasi periode 2020-2024. Aspek yang ditinjau
diantaranya kebijakan Reformasi Birokrasi, area perubahan sebagai komponen
pengungkit program Reformasi Birokrasi, implementasi program Reformasi
Birokrasi, serta ketercapaian sasaran melalui indikator hasil reformasi biorkrasi.
ANAK LAMPIRAN II
TAHUN 2020-2024
BAB III
Faktor lingkungan yang dimaksud dalam Road Map Reformasi Birokrasi ini
adalah context (konteks) di mana birokrasi beroperasi. Sedangkan isu strategis
merupakan content (konten) yang berpengaruh signifikan dalam proses
Reformasi Birokrasi (Lampiran Peraturan Menteri PANRB No. 25 tahun 2020).
3.1. LINGKUNGAN REFORMASI BIROKRASI
Lingkungan Reformasi Birokrasi dalam Road Map ini adalah beberapa hal
yang dapat mempengaruhi jalannya program Reformasi Birokrasi, diantaranya
politik dan kooptasi birokrasi; penegakan dan kepastian hukum; administrasi
dan kelembagaan; budaya birokrasi; serta globalisasi dan transformasi digital.
1. Politisasi dan Kooptasi Birokrasi
Dalam sejarahnya, keterkaitan antara politik dan birokrasi tidak bisa
dipisahkan. Pemikiran dan kemunculan reformasi administrasi juga
bermula dari keinginan untuk melakukan pemisahan antara politik dan
administrasi dalam tata kelola pemerintahan. Oleh karena itu, netralitas
birokrasi haruslah menjadi langkah awal untuk menciptakan aparatur
yang profesional dan kompeten. Adanya politisasi dan kooptasi politik
terhadap birokrasi, membuat birokrasi menjadi tidak profesional, tidak
netral, berkinerja rendah dan rentan terhadap korupsi, kolusi dan
nepotisme ketika tidak diiringi sistem integritas nasional yang belum
terbangun, pengawasan intern pemerintah yang masih inkapabel dan
immature, serta etika publik yang belum terpelihara (Lampiran Peraturan
Menteri PANRB No. 25 tahun 2020).
Dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa perdebatan tentang
hubungan antara politik dan birokrasi telah dimulai sejak tahun 1887.
- 2 -
satu kesatuan atau harus terpisah, serta bagaimana politik dan birokrasi
seharusnya berhubungan (Ratna, 2012).
netralitas birokrasi merupakan sesuatu yang dipertanyakan. Namun
pacsa reformasi, terutama dengan adanya perogram nasional Reformasi
Birokrasi, maka netralitas birokrasi merupakan suatu keniscayaan.
Kondisi seperti ini semakin dibutuhkan untuk lima tahun ke depan
dimana sasaran Reformasi Birokrasi adalah terwujudnya birokrasi
berkelas dunia (world class bureaucracy) yang dicirikan dengan pelayanan
publik yang semakin berkualitas dan tata kelola yang semakin efektif dan
efisien. Hal ini sejalan dengan salah satu sasaran strategis yang ingin
diwujudkan oleh LAPAN yaitu terselenggaranya Reformasi Birokrasi
LAPAN menuju birokrasi kelas dunia (Renstra LAPAN 2020-2024).
2. Penegakan dan Kepastian Hukum
Pendekatan koersif yaitu melalui penegakan hukum, sangat
diperlukan dalam Reformasi Birokrasi. Lemahnya penegakan hukum
mengakibatkan tidak berjalannya sistem reward dan punishment.
Pemerintah perlu mendorong pemberian penghargaan bagi stakeholder’s
yang mampu melakukan Reformasi Birokrasi. Demikian juga sebaliknya,
perlu ada sanksi yang tegas bagi pihakpihak yang tidak melaksanakan
atau bahkan tidak merespon proses Reformasi Birokrasi. Pemberian
penghargaan dan sanksi tersebut perlu dituangkan dalam regulasi dan
kebijakan yang jelas dan tegas (Lampiran Peraturan Menteri PANRB No.
25 tahun 2020).
Menurut Semedi (2013), karakteristik hukum sebagai kaedah selalu
dinyatakan berlaku umum untuk siapa saja dan di mana saja dalam
wilayah negara, tanpa membeda-bedakan atau non-diskriminatif.
Meskipun ada pengecualian dinyatakan secara eksplisit dan berdasarkan
alasan tertentu yang dapat diterima dan dibenarkan. Jadi pada dasarnya
hukum itu tidak berlaku secara diskriminatif, kecuali oknum aparat atau
organisasi penegak hukum dalam kenyataan sosial telah memberlakukan
hukum itu secara diskriminatif. Akhirnya penegakan hukum tidak
mencerminkan adanya kepastian hukum dan rasa keadilan dalam
masyarakat.
- 3 -
dan kepastian hukum dikaitkan dengan sistem reward dan punishment
yang harus dilaksanakan secara non-diskriminatif. Selama ini LAPAN
telah berupaya menerapkan sistem reward dan punishment dengan baik
sebagaimana telah dituangkan dalam Peraturan Kepala LAPAN No. 10
Tahun 2016 tentang Pemberian Penghargaan Pegawai Negeri Sipil di
Lingkungan LAPAN dan Peraturan LAPAN No. 1 Tahun 2019 tentang
Pemberian Penghargaan dan Sanksi Bagi Pelakasana Pelayanan Publik di
Lingkungan LAPAN dan Masyarakat.
3. Administrasi dan Kelembagaan
prinsip dasar, yaitu aspek struktur, proses, kepegawaian dan hubungan
antara pemerintah dan masyarakat. Struktur yang mendukung
pencapaian kinerja dan berorientasi mempermudah proses pelayanan
publik sehingga tidak terlalu gemuk dan membuat potensi birokrasi tidak
dapat berkembang. Proses pelayanan yang tidak berbasis prinsip efisiensi,
efektivitas dan keadilan juga membuat birokrasi senantiasa mendapatkan
stigma yang negatif. Selain itu rendahnya kapabilitas, kompetensi, dan
kemampuan juga membuat lemahnya profesionalisme dari aparatur
negara (Lampiran Peraturan Menteri PANRB No. 25 tahun 2020).
Guna memastikan pelaksanaan Reformasi Birokrasi dapat berjalan
dengan baik yang berujung pada semakin berkualitasnya pelayanan
publik LAPAN terus berusaha melakukan penyesuaian struktur organisasi
sehingga memenuhi prinsip-prinsip: 1) Right Sizing (Tepat Ukuran); 2)
Ramping; 3) Kaya Fungsi; dan 4) Less Govern. Sementara guna
memperoleh sumber daya manusia yang kapabel dan kompeten, LAPAN
memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pegawai untuk
memperoleh pelatihan baik teknis maupun adminstratif. Pelatihan yang
dimaksud merupakan salah satu bentuk pengembangan kompetensi
aparatur sipil negara. Untuk mengetahui penerapan hasil pelatihan dalam
pekerjaan, dan untuk mengetahui dampak pelatihan terhadap kinerja
ASN dan kinerja organisasi, telah dikeluarkan Peraturan Kepala LAPAN
Nomor 13 Tahun 2019 Tentang Pedoman Evaluasi Pelatihan Aparatur Sipil
Negara LAPAN.
diaplikasikan dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan yang dilakukan
oleh segenap sumber daya yang terdapat dalam birokrasi. Dalam proses
panjang pelembagaan birokrasi, budaya dan nilai dianggap sebagai
penyusun aspek konvensi informal yang diafirmasi dalam bentuk variasi
tata kelola penyelenggaraan pemerintahan. Budaya birokrasi yang negatif
dapat menjadi penghambat untuk mewujudkan birokrasi yang
professional, bahkan nilai-nilai anti-korupsi yang belum terinternalisasi
menjadikan upaya mewujudkan birokrasi yang bersih dan akuntabel
kehilangan modalitas mendasarnya (Lampiran Peraturan Menteri PANRB
No. 25 tahun 2020).
kedepan (2020-2024) LAPAN telah menetapkan dan menyepakati sistem
nilai. Sistem nilai menjadi perekat antar komponen strategis organisasi,
yaitu antara arah pengembangan (Visi, Misi, Tujuan, Sasaran Strategis)
dengan SDM ASN serta proses bisnis, SOP dan teknologi. Sistem nilai yang
ditetapkan LAPAN adalah Berorientasi pada pengguna layanan,
Akuntabel, Inovatif, Integritas dan Kolaboratif atau disingkat dengan
BAIIK (Renstra LAPAN 2020-2024).
mewujudkan birokrasi yang bersih dan akuntabel yang merupakan
modalitas bagi terselenggaranya Reformasi Birokrasi LAPAN menuju
birokrasi kelas dunia. Adapun makna dari sistem nilai tersebut adalah
sebagai berikut:
pengguna layanan diatas segalanya. Beorientasi kepada pengguna
layanan bermakna bahwa pengguna layanan adalah “raja”, sehingga
kebutuhannya terkait produk serta data dan informasi penerbangan
dan antariksa nasional harus terpenuhi sesuai standar kualitas yang
diharapkan.
- 5 -
− Akuntabel
ASN LAPAN harus mampu mengelola sumber daya dan kegiatan secara
bertanggung jawab sesuai ketentuan peraturan perundangundangan
yang berlaku.
menekankan ASN LAPAN untuk tidak terjebak dalam zona nyaman dan
keluar dari rutinitas dalam bekerja, sehingga produktifitas akan
meningkat.
− Integritas
dilakukan. Dalam konteks bekerja, integritas juga menuntut ASN
untuk menjunjung kode etik dalam bekerja, tidak KKN serta
mengedepankan kejujuran.
membangun kerjasama, baik internal maupun eksternal. Dalam
pelaksanaannya, setiap ASN LAPAN harus mampu bekerja dengan
lebih mengedepankan kerja tim (team work) daripada kerja individu.
5. Globalisasi dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi rujukan bersama
bagi pemerintahan di seluruh dunia untuk menciptakan kondisi dunia
yang lebih baik dengan terwujudnya 17 tujuan berkelanjutan pada tahun
2030. Pengetahuan dasar yang memadai terhadap SDGs diharapkan
dapat membantu para ASN dalam memposisikan perannya di kancah
global maupun regional. Selain itu, pada tataran global terdapat sejumlah
isu yang menarik perhatian negara-negara di seluruh dunia, antara lain
berkaitan dengan pemanfaatan “Big Data”, pelayanan terintegrasi
(integrated service), pelayanan yang lebih mengakomodir keunikan
individu masyarakat, dan pemanfaatan artificial intelligence di ranah
publik. Dalam era globalisasi, aparatur juga perlu mengembangkan
kompetensi yang selaras dengan tuntutan zaman, sekaligus tetap
- 6 -
Menteri PANRB No. 25 tahun 2020).
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development
Goals (SDGs) adalah 17 tujuan dengan 169 sasaran yang terukur dan
jangka waktu yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia
pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi. Tujuan ini
dicanangkan bersama oleh negara-negara lintas pemerintahan melalui
resolusi PBB yang diterbitkan pada 21 Oktober 2015 sebagai ambisi
pembangunan bersama hingga tahun 2030. Sebagaimana dijelaskan
sebelumnya Tujuan ini merupakan kelanjutan atau pengganti
dari Tujuan Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals
(MDGs) yang ditandatangani oleh para pemimpin dari 189 negara sebagai
Deklarasi Milenium di markas besar PBB pada tahun 2000 dan berakhir
pada tahun 2015. Saat ini berbagai negara yang dimotori oleh PBB tengah
mengupayakan memanfaatkan teknologi antariksa untuk mendukung
pencapaian SDGs, termasuk juga dengan LAPAN.
Terkait dengan pemanfaatan ”Big Data” dan pelayanan terintegrasi
(integrated services), LAPAN telah menerapkannya terutama dibidang
penginderaan jauh. Untuk lima tahun ke depan, pemanfaatan Big Data”
dan pelayanan terintegrasi akan lebih ditingkatkan lagi.
Sementara itu, terkait dengan pemanfaatan artificial intelligence atau
kecerdasan buatan merupakan peluang sekaligus tantangan bagi LAPAN
untuk dapat mendukung tercapainya sasaran penyelenggaraan
keantariksaan sebagaimana diamanatkan oleh Perpres No.45 tahun 2017
tentang Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan yang untuk lima
tahun ke depan (2020-2024) sudah tertuang dalam Renstra LAPAN 2020-
2024.
Perkembangan “Revolusi Industri Tahap 4” (dikenal juga sebagai
Revolusi Industri 4.0) menciptakan dinamika dan sejumlah tantangan
baru yang unik bagi pemerintahan di seluruh dunia, tidak terkecuali di
Indonesia. Seiring dengan perkembangan teknologi, maka cara kerja
pemerintah dan pola hubungan/interaksi pemerintah dengan masyarakat
juga mengalami perubahan mendasar. Pemanfaatan teknologi mobile
internet, komputasi awan, kecerdasan buatan, maha data, dan Internet of
Things (IoT) akan mendorong kementerian/ lembaga/pemerintah daerah
- 7 -
cerdas yang fleksibel dan tanpa batas bagi masyarakat. Pemerintah harus
memberikan ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk menyampaikan
aspirasi dan mengkritisi area sektor publik yang selama ini terbatas
menjadi ranah ekslusif pemerintah. Pada saat yang bersamaan,
pemerintah juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan
zaman dan melakukan transformasi digital untuk bertahan di era Revolusi
Industri 4.0 (Lampiran Peraturan Menteri PANRB No. 25 tahun 2020).
Di satu sisi, Revolusi Industri 4.0 melalui pemanfaatan teknologi
mobile internet, komputasi awan, kecerdasan buatan, maha data, dan
Internet of Things (IoT) merupakan peluang bagi pemerintah (LAPAN)
untuk secara terus-menerus meningkatkan meningkatkan efisiensi dan
efektivitas litbangjirap dan penyelenggaraan keantariksaan, serta semakin
berkualitasnya pelayanan LAPAN kepada publik.
Tetapi di sisi lain, pemerintah dapat semakin tidak berdaya
menghadapi megacorporations, masyarakat, baik secara individu,
corporation, atau komunitas yang berkepentingan, akan menggunakan
tren teknologi ini untuk mencari otonomi yang lebih besar. Oleh sebab itu,
jika pemerintah terlalu lambat untuk mengadopsi teknologi baru di era
industri 4.0, maka akan gagal dalam meningkatkan layanan yang
diperlukan untuk menjaga stabilitas layanan publik, dan menurunnya
reputasi pemerintah. Pada akhirnya kemampuan sistem pemerintahan
dan otoritas publik untuk beradaptasi akan menentukan kelangsungan
hidup pemerintah (Yogaswara, 2019).
Isu strategis Reformasi Birokrasi adalah beberapa hal terkini yang segera
direspon oleh pemerintah dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yan
baik, diantaranya penyederhanaan struktur dan kelembagaan birokrasi,
program pemindahan ibu kota negara, dam pemanfaatan teknologi (Lampiran
Peraturan Menteri PANRB No. 25 tahun 2020).
1. Penyederhanaan Struktur dan Kelembagaan Birokrasi
Penataan dan penguatan organisasi dilakukan untuk mendapatkan
profil kelembagaan pemerintah yang tepat fungsi, tepat proses dan tepat
ukuran. Organisasi pemerintah saat ini dihadapkan pada tantangan yang
tidak mudah dalam pencapaian birokrasi kelas dunia. Untuk mencapai
- 8 -
menjadi salah satu area perubahan dari reformasi birokrasi yang harus
dilaksanakan. Penyederhanaan struktur dan kelembagaan birokrasi
merupakan Langkah awal dalam transformasi kelembagaan pemerintah
yang selanjutnya diikuti dengan penetapan tatalaksana dan koordinasi
lintas bidang menuju terwujudnya Smart Institution.
Penyederhanaan birokrasi merupakan tindak lanjut pidato Presiden
pada sidang paripurna MPR RI pada tanggal 20 Oktober 2019.
Penyederhanaan birokrasi tersebut dilakukan dengan menyederhanakan
struktur birokrasi menjadi dua level dan mengalihkan jabatan struktur
dibawah dua level tersebut menjadi jabatan fungsional. Penyederhanaan
birokrasi tersebut sudah dimulai dengan ditetapkannya Peraturan
Presiden Nomor 68 Tahun 2019 tentang Organisasi Kementerian Negara,
yang salah satunya mengamanatkan agar struktur organisasi
kementerian mengutamakan kelompok jabatan fungsional (Lampiran
Peraturan Menteri PANRB No. 25 tahun 2020).
Menindak lanjuti kebijakan penyederhanaan birokrasi tersebut, sejak
bulan April tahun 2020 LAPAN telah menghapuskan jabatan eselon 3
(administrator) dan eselon 4 (pegawas) dan melakukan penyetaraan ke
dalam jabatan fungsional. Sebanyak 101 pejabat fungsional sebagai
pengalihan dari pejabat eselon 3 dan 4 telah selesai dilakukan. Dengan
demikian sejak bulan April 2020 struktur birokrasi LAPAN yang utama
akan lebih disederhanakan menjadi dua level sesuai dengan arahan
Presiden.
Dalam rangka menciptakan pemerataan pembangunan dan
pengelolaan pemerintahan yang lebih baik Presiden telah mengumumkan
pemindahan Ibu Kota Negara dari DKI Jakarta ke sebagaian wilayah
Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara,
Provinsi Kalimantan Timur. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu
disiapkan rencana yang terintegrasi antara pemindahan Ibu Kota Negara
dengan Road Map Reformasi Birokrasi 2020-2024, meliputi transformasi
kelembagaan, sumber daya manusia aparatur, sistem dan prosedur kerja
ASN, akuntabilitas dan pengawasan atas kinerja ASN serta pelayanan
publik. Sebagai langkah awal perlu disusun undang-undang dan
peraturan perundang-undangan lainnya sebagai dasar persiapan,
- 9 -
Peraturan Menteri PANRB No. 25 tahun 2020).
Terkait dengan rencana pemindahan Ibu Kota Negara, perlu disikapi
dengan seksama mengingat keberadaan fasilitas libagngjirap LAPAN yang
tersebar di berbagai wilayah mulai dari Sumatera hingga Papua. Dengan
demikian yang paling mungkin untuk dipindahkan ke lokasi Ibu Kota
Negara yang baru adalah Kantor Pusat LAPAN. Untuk perlu disiapkan
masterplan rencana pemindahan Kantor Pusat LAPAN yang terintegrasi
dengan Road Map RB LAPAN 2020-2024.
3. Transformasi Digital
tugas dan fungsi pemerintahan dengan pemanfaatan teknologi,
khususnya teknologi digital. Tantangan global menuntut para eksekutif
untuk cakap dan respon dalam menjalankan proses-proses pelayanan
pemerintahan berbasis digital atau elektronik. Isu ini menjadi penting
untuk direspon dalam merumuskan langkah strategis untuk mewujudkan
pemerintahan kelas dunia di tahun 2025. Dalam hal ini, Kementerian/
lembaga/ pemerintah daerah harus melakukan transformasi digital
melalui pelaksanaan tata kelola SPBE yang terpadu dalam rangka
mendukung transformasi proses bisnis pemerintahan untuk mewujudkan
layanan mandiri, layanan bergerak dan layanan cerdas yang fleksibel dan
tanpa batas (Lampiran Peraturan Menteri PANRB No. 25 tahun 2020).
Sebagaimana dinyatakan oleh Sekretaris Kementerian
PANRBbahwa Presiden Joko Widodo selalu menekankan agar tranformasi
digital dapat segera terwujud dalam proses bisnis pemerintahan. Strategi
percepatan transformasi digital telah dituangkan dalam Perpres No.
95/2018 tentang Sistem Pemerintah Berbasis Elektronik (SPBE). Selain
perubahan pada sistem pemerintahan, transformasi digital dalam sektor
publik juga membutuhkan kesiapan SDM aparatur atau ASN. Karena
bukan saja sebagai penggerak SPBE, tapi pelaksanaan SPBE ini
membutuhkan kemampuan dan kompetensi tertentu dalam merumuskan
dan melaksanakan kebijakan SPBE untuk mendukung implementasi
SPBE. Kemampuan dan kompetensi awal dari ASN dapat dimulai dengan
peningkatan literasi digital. Dimulai dengan literasi digital, maka ASN
akan mampu untuk menggunakan informasi dan teknologi komunikasi
- 10 -
relevan dengan penerapan SBPE.
SPBE. Berikutnya, ada juga pedoman lainnya yang menyusul diterbitkan
yaitu Pedoman Manajemen Data dan Pedoman Manajemen Layanan,
Audit, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Menghadapi revolusi industri 4.0, perubahan tatalaksana di LAPAN
diarahkan untuk penguatan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik
(SPBE) dalam semua aspek layanan teknis maupun layanan dukungan
manajemen, serta penguatan proses bisnis untuk menciptakan efisiensi
dan efektivitas khususnya dalam fungsi LAPAN sebagai penyelenggara
keantariksaan (Renstra LAPAN 2020-2024).
Presiden menetapkan 5 (lima) arahan utama sebagai strategi dalam
pelaksanaan misi Nawacita dan pencapaian sasaran Visi Indonesia 2045.
Kelima arahan tersebut mencakup Pembangunan Sumber Daya Manusia,
Pembangunan Infrastruktur, Penyederhanaan Regulasi, Penyederhanaan
Birokrasi, dan Transformasi Ekonomi.
setiap program/kegiatan dilakukan dalam rangka mengakselerasi
pencapaian kelima sasaran tersebut. Dalam hal pembangunan SDM,
Reformasi Birokrasi perlu mendorong setiap ASN agar memiliki
keterampilan dan kompetensi spesifik yang dapat membantu birokrasi
menghadapi era digital dan industri 4.0. Dalam hal pembangunan
infrastruktur, Reformasi Birokrasi berperan untuk memastikan
penggunaan anggaran dilakukan secara efektif, efisien, dan bebas dari
segala penyimpangan. Salah satu perwujudannya adalah dengan
meningkatkan pengawasan pada proyek-proyek srategis nasional. Dalam
hal penyederhanaan regulasi, Reformasi Birokrasi mengupayakan
terbentuknya regulasi yang ideal di mana kuantitas regulasi perlu
disederhanakan, namun tetap membawa dampak yang lebih baik, salah
satunya adalah dengan mempercepat penyusunan Omnibus Law. Selain
itu penyederhanaan regulasi perlu dilakukan seluruh kementerian/
lembaga/pemerintah daerah dalam rangka menciptakan kemudahan
berusaha dan pembangunan ekonomi, serta meningkatkan efektivitas
- 11 -
instansi. Dalam hal penyederhanaan birokrasi, Reformasi Birokrasi perlu
dilakukan dengan memangkas berbagai prosedur dan jenjang yang
panjang dan berbelit. Salah satunya dengan melakukan penyederhanaan
struktur organisasi menjadi lebih ramping dan efisien. Penyederhanaan
birokrasi ini dilakukan untuk menciptakan kemudahan berusaha serta
menekan berbagai biaya yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi. Dalam
hal transformasi ekonomi, Reformasi Birokrasi perlu mengarahkan
kementerian/lembaga/pemerintah daerah untuk memastikan setiap
program dan kegiatannya dirancang untuk sebesar-besarnya
kesejahteraan rakyat dan memangkas berbagai biaya birokrasi yang
menyebabkan efisiensi dan pemborosan (Lampiran Peraturan Menteri
PANRB No. 25 tahun 2020).
Terkait dengan hal-hal tersebut di atas, LAPAN telah melakukan
langkah-langkah seperti penyederhanaan birokrasi dan penyederhanaan
regulasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
5. Dibentuknya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Dengan dibentuknya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) maka
LAPAN yang dibentuk berdasarkan Perpres No. 49 Tahun 2015 tentang
LAPAN, akan diintegrasikan menjadi tugas dan fungsi BRIN. Dengan
integrasi tersebut maka LAPAN akan menjadi organisasi yang
melaksanakan fungsi teknis operasional yang melaksanakan fungsi teknis
operasional litbangjirap, serta invensi dan inovasi di lingkungan BRIN
sebagai organisasi pelaksana teknis litbangjirap, serta invensi dan inovasi
yang selanjutnya disebut Organisasi Pelaksana Litbangjirap (OPL).
Disamping itu, pada saat berlakunya Perpres BRIN maka: a. program,
kegiatan, dan anggaran; b. SDM; c. sarpras litbangjirap, serta invensi dan
inovasi; dan d. barang milik/kekayaan negara, arsip, dan dokumen, yang
semula dikelola oleh LAPAN diintegrasikan ke dalam BRIN. Mengantisipasi
hal-hal tersebut, kiranya perlu disiapkan rencana pengintegrasian tugas
dan fungsi serta pengelolaan program, kegiatan, dan anggaran; SDM;
sarana dan prasarana litbangjirap; dan d. barang milik/kekayaan negara,
arsip, dan dokumen ke dalam BRIN.
6. Dampak Pandemi Global Covid-19
Terjadinya pandemi global COVID-19 mempercepat terjadinya
perubahan di berbagai aspek terutama dengan adanya kebijakan bekerja
- 12 -
dari rumah atau work from home (WFH). Kebijakan WFH diambil oleh
pemerintah adalah dalam rangka mencegah penyebaran virus corona agar
tidak semakin banyak orang yang terjangkit COVID-19. Hal ini
menyebabkan banyak sekali kegitan seperti rapat-rapat, seminar,
sosialisasi, pelatihan, dan sebagainya yang dilakukan secara online.
Bahkan kehadiran (presensi) pegawai maupun penyampaian kinerja
individu baik harian maupun bulanan dilakukan secara online. Disamping
itu terjadinya pandemi COVID-19 beberapa kegiatan seperti perjalanan
dinas sangat dibatasi pelaksanaannya. Dampak positif dari semua ini
adalah terjadi efisiensi penggunaan anggaran. Namun dampak negatifnya
adalah terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Walaupun demikian, pandemi COVID-19 tidak menurunkan
semangat bagi LAPAN untuk terus meningkatkan pelayanan kepada
publik. Sebagaimana dijelaskan di dalam Rensta LAPAN 2020-2024 bahwa
pelayanan publik oleh LAPAN diarahkan untuk memanfaatkan SPBE
seoptimal mungkin, sehingga layanan publik berorientasi kepada
pengguna, makin mudah dijangkau, cepat, dan akurat.
ANAK LAMPIRAN III
TAHUN 2020-2024
BAB IV
Dalam merumuskan Road Map Reformasi Birokrasi 2020-2024 pada
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, kerangka regulasi yang menjadi
acuan adalah Rencana Pambangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024
(Perpres nomor 18 tahun 2020), Road Map Reformasi Birokrasi Nasional 2020-
2024 (Peraturan Menteri PANRB nomor 25 tahun 2020), serta Peraturan Menteri
PANRB nomor 26 tahun 2020 tentang Pedoman Evaluasi Pelaksanaan Reformasi
Brirokrasi, dan hasil evaluasi pelaksanaan reformasi birokrasi LAPAN tahun
2015-2019, serta hasil analisis lingkungan strategis saat ini.
1.1. TUJUAN DAN SASARAN
pemerintahan yang baik dan bersih, dengan mewujudkan ASN
LAPAN yang unggul dan berdaya saing yang memiliki nilai-nilai
BAIIK (Berorientasi pada Pelanggan, Akuntabel, Integritas, Inovatif,
dan Kolaboratif) sehingga pelaksanaan litbangjirap di bidang
penerbangan dan antariksa serta penyelenggaraan keantariksaan
dapat menjadi penggerak pembangunan nasional dan dirasakan
masyarakat.
1.1.2.SASARAN
sasaran pembangunan aparatur negara sebagaimana yang tertuang
pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-
2024 adalah, membangun birokrasi yang bersih dan akuntabel,
birokrasi yang kapabel, dan dapat memberikan pelayanan yang
- 2 -
keberlanjutan sasaran Reformasi Birokrasi periode 2015-2019
dengan memperhatikan lingkungan strategisnya.
a. Birokrasi yang bersih dan akuntabel
- Indikator perilaku anti korupsi
- Customer Engagement Index (CEI)
4.2 STRATEGI DAN PROGRAM
melakukan penguatan di aspek-aspek tertentu yang dinilai kurang
berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan reformasi birokrasi periode
sebelumnya. Aspek yang akan diperkuat adalah
menginternalisasikan arah perubahan yang dicanangkan di LAPAN
kepada seluruh pegawai secara berjenjang, melakukan percepatan
perbaikan budaya kerja untuk merubah mindset aparatur dengan
mewajibkan setiap atasan langsung melakukan supervise, coaching
and mentoring, serta konseling, dengan penyegaran terhadap
aparatur melalui pelatihan dan penguatan sikap, meningkatkan
kapasitas assesor, menerapkan manajemen sumber daya manusia
yang berbasis merit, dan mendorong inovasi dalam pelayanan
publik.
- 3 -
4.2.2.PROGRAM
Akuntabilitas, dan Peningkatan Pelayanan Publik.
1. Manajemen Perubahan
serta mindset (pola pikir) dan cultureset (cara kerja)
individu ASN menjadi lebih adaptif, inovatif, responsif,
profesional, dan berintegritas sehingga dapat
memenuhi tuntutan perkembangan zaman dan
kebutuhan masyarakat.
serta konsistensi keterlibatan pimpinan dan seluruh
jajaran pegawai dalam melaksanakan reformasi
birokrasi
perkembangan dinamika masyarakat
melekat pada seluruh pegawai LAPAN
c. Indikator
jajaran pegawai LAPAN dalam melaksanakan reformasi
birokrasi
LAPAN dalam merespon perkembangan zaman
- Intesifikasi dan internalisasi budaya perubahan di
LAPAN
- 4 -
kapabel dan mendukung pelayanan publik yang prima
di LAPAN
c. Indikator
fungsi, tepat proses, dan tepat ukuran serta
mewujudkan LAPAN sebagai smart institution sehingga
mendukung pencapaian arah dan strategi tujuan
organisasi LAPAN.
c. Indikator
- Indeks Kelembagaan
d. Program
fungsi
- 5 -
b. Kondisi yang diharapkan
cerdas dan tangkas (smart and agile) dalam merespon
dinamika lingkungan strategis;
sesuai Proses Bisnis terbaru dan Standar Operasional
Prosedur Mikro sesuai identifikasi kebutuhan
- Standar Operasional Prosedur yang ada sesuai dengan
aturan dan mampu menjadi guidence setiap kegiatan
- Peningkatan tingkat kapabilitas fungsi teknis layanan
SPBE pada level 5 (“optimalisasi”) dimana Layanan
SPBE dapat beradaptasi terhadap perubahan
lingkungan internal dan eksternal
pada level 5 (“optimum”) dimana Pengaturan telah
ditetapkan dan dievaluasi terhadap perubahan
kebutuhan di lingkungan internal dan eksternal dan
proses tata kelola dilaksanakan dengan peningkatan
kualitas secara berkesinambungan.
data/informasi kepada masyarakat melalui platform
layanan digital berbasis internet
d. Program
- 6 -
Mikro LAPAN
- Pengembangan Layanan SPBE
5. Penataan Sistem Sumber Daya Manusia
a. Tujuan
pegawai baru
akuntabel dan bebas KKN
- Penerapan Manajemen Talenta dalam pengisian
Jabatan
kompetitif
(outcome) sesuai pada levelnya;
pemberian Tunjangan
pemberian tunjangan kinerja / penghasilan dan
penghargaan lainnya
- Tersedianya perlindungan hukum, perlindungan di luar
jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja dan
program persiapan pensiun yang diselenggarakan
secara nasional
- 7 -
dan akuntabel
lingkungan LAPAN
- Meningkatnya kepatuhan terhadap pengelolaan
unit kerja di lingkungan LAPAN
c. Indikator
- Maturitas SPIP
- Kapabilitas APIP
- Opini BPK
d. Program
- Peningkatan kompetensi dan pemenuhan rasio APIP;
- Peningkatan asistensi dan konsultasi pengelolaan dan
akuntabilitas keuangan dan pengadaan barang dan
jasa (PBJ) sesuai kaedah dan aturan yang berlaku;
- Pembangunan Zona Integritas di seluruh unit kerja
menuju WBK/WBBM;
Whistle Blowing System (WBS) Online yang meliputi:
whistle blowing system, gratifikasi, benturan
kepentingan, dan pengaduan masyarakat.
b. Kondisi yang diharapkan
- Internalisasi pemahaman SAKIP ke seluruh individu
pegawai LAPAN;
Tanpa Pengecualian;
memperoleh predikat Sangat Baik;
minimal di angka 90;
dan
Kerja;
kebutuhan masyarakat
pelayanan publik yang prima
perundangan yang berlaku
LAPAN yang tinggi
- Customer Engagement Index (CEI)
pegawai LAPAN serta stake holder dalam mewujudkan
pelayanan publik yang prima
- Percepatan Pelayanan Publik
- Pembangunan/pengembangan penggunaan Teknologi
reformasi birokrasi, dipergunakan untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan
Reformasi Birokrasi LAPAN 2020-2024. Uraian indikator yang akan dicapai pada
akhir tahun 2024 pada setiap 8 area perubahan disajikan sebagaimana pada
tabel berikut, dimana target seluruh area perubahan pada tahun 2024
diharapkan dengan kategori setara minimal baik, yaitu sama atau lebih baik
dibanding perolehan periode reformasi birokrasi sebelumnya pada akhir tahun
2019. Adapun rincian rencana aksi program dan capaian target tahunan 2020
hingga 2024 sebagaimana disajikan dalam lampiran. Target indikator program
Reformasi Birokrasi LAPAN 2020-2024 dari masing-masing area perubahan
sebagaimana dalam tabel berikut:
Area


Indeks Profesionalitas ASN
√ Nilai
Catatan: * Dalam Renstra LAPAN 2020-2024, target dihitung dengan menggunakan metoda Likert (skala 1-4) ** Sedangkan untuk pengukuran CEI ini banyak menggunakan metoda Gallup International (skala 0-100)
4.4. QUICK WINS
tahun adalah melaksanakan penyederhanaan birokrasi, yaitu
menyederhanakan struktur organisasi LAPAN dengan mengurangi jumlah
jabatan administrator dan pengawas serta menyetarakan jabatan administrator
pengawas dengan jabatan fungsional tertentu.
Quick Wins mandiri LAPAN dirumuskan berdasarkan hasil eveluasi
pelaksanaan reformasi birokrasi pada periode sebelumnya, di mana pada area
perubahan Penataan Sistem Sumber Daya Manusia, ada masalah manajemen
ASN yang berpengaruh terhadap kinerja LAPAN. Quick Wins mandiri LAPAN
akan dilaksanakan maksimal dalam 2 (dua) tahun, yaitu melaksanakan
transformasi digital menuju smart institution dalam penyelenggaraan
keantariksaan:
terpadu dalam penyelenggaraan keantariksaan;
professional dan smart.
TAHUN 2020-2024
BAB V
Nasional (LAPAN) dapat berjalan dengan baik, maka perlu dilakukan pengelolaan yang
baik pula. Untuk itu perlu dibentuk tim yang berperan untuk melakukan pengelolaan
Reformasi Birokrasi agar seluruh rencana aksi dapat dilaksanakan sesuai dengan target
dan jadwal yang telah ditentukan. Mengacu pada pola pelaksanan Reformasi Birokrasi
Nasional Pelaksanan Reformasi Birokrasi LAPAN dapat dilihat pada Gambar 5.1 di
bawah ini.
Dengan mempertimbangkan hasil evaluasi pelaksanaan RB Tahun 2015-
2019, maka Pelaksana RB LAPAN 2020-2024 dirancang dalam 3 tingkat yang
dapat mengaskan komitmen Pimpinan, menjangkau dan memberdayakan
seluruh elemen unit organisasi terkecil LAPAN sehingga Reformasi Birokrasi
tidak hanya sekedar kegiatan formalitas saja namun dapat menjadi gerakan
Pengarah
- 2 -
Pada implementasinya setiap pelaksanaan Reformasi Birokrasi pada level
LAPAN dikoordinasikan oleh Sekretaris Utama LAPAN. Hal ini untuk
memastikan bahwa program-program mikro RB telah dilaksanakan secara masif
dan komprehensif oleh semua unit kerja di LAPAN. Sementara itu, monitoring
dan evaluasi (monev) pelaksanaan Reformasi Birokrasi di internal dilaksanakan
oleh Inspektorat/Satuan Pengawas Internal LAPAN.
Gambar 5.2. Pelaksana Reformasi Birokrasi LAPAN 2020-2024
5.1. Pembentukan Tim Pelaksana Reformasi Birokrasi
Tim pelaksana Reformasi Birokrasi LAPAN 2020-2024 dibentuk dalam 3
tingkatan yaitu Pengarah, Tim Pelaksana level Lembaga, serta Tim Pelaksana
Level Eselon-1 dan Inspektorat, sesuai dengan Keputusan Kepala LAPAN Nomor
138 Tahun 2020 tentang Tim Reformasi Birokrasi LAPAN Tahun 2020-2024.
Pada Tim Pelaksana level Lembaga. level Eselon-1 dan Inspektorat, terdiri dari
kelompok-kelompok kerja sesuai dengan area perubahan dan disertai agen
perubahan sebagai motor dari gerakan Reformasi Birokrasi LAPAN, yaitu
Manajemen Perubahan, Deregulasi Kebijakan, Penataan Organisasi, Penataan
Tata Laksana, Penataan SDM Aparatur, Penguatan Akuntabilitas, Penguatan
Pengawasan, dan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik. Khusus utuk
Kelompok kerja (Pokja) Deregulasi Kebijakaan dan Penataan Organisasi secara
terpusat dikoordinir oleh Tim Reformasi level Lembaga dikarenakan secara tugas
Sekretaris
Utama
Eselon-1
- 3 -
dan fungsi ada pada Sekretaris Utama. Meskipun demikian pada Tim Pelaksana
level Eselon-1 juga terdapat Pokja Deregulasi Kebijakan dan Penataan
Organisasi, yang melaksanakan inisiatif perbaikan atau mengisi substansi
hingga mengukur outcome dan dampak dari inisiatif perbaikan pada area
perubahan Deregulasi Kebijakan dan Penataan Organisasi. Secara umum
mekanisme tata hubungan kerja Tim Pelaksana Level Lembaga dengan Tim
Pelaksanan Level Eselon-1 dan Inspektorat disajikan secara ringkas pada
Gambar 2 di bawah ini:
Gambar 5.3. Mekanisme Tata Kelola Tim Kerja RB
Level Lembaga dan Unit Eselon-1/ Inspektorat
Road Map RB Level Lembaga akan diacu Road Map level Eselon-1 dan
Inspektorat, dengan mempertimbangkan fokus dan prioritas perubahan masing-
masing unit Eselon-1 dan Inspektorat sesuai dengan kondisi masing-masing.
5.2. Uraian Tugas dan Peran Tim Pelaksana Reformasi Birokrasi
Adapun tugas dan peran Tim Pelaksanan Reformasi Birokrasi LAPAN
2020-2024 adalah sebagai berikut:
- 4 -
Kepala LAPAN yang bertugas:
Birokrasi serta menetapkan Road Map Reformasi Birokrasi;
b. memastikan pelaksanaan reformasi birokrasi sesuai dengan sasaran
reformasi birokrasi nasional, yang dapat memberikan dampak pada
perbaikan birokrasi dan memberikan dampak bagi pemangku
kepentingan; dan
arahan agar pelaksanaan reformasi birokrasi tetap berjalan
konsisten, berkelanjutan, dan terarah sesuai dengan Road Map.
B. Tim RB level Lembaga
Tim RB level Lembaga dipimpin oleh Sekretaris Utama LAPAN
sebagai Ketua Pelaksana RB level Lembaga dan dibantu oleh Sekretaris.
Tugas Ketua Pelaksana RB LAPAN adalah sebagai berikut:
a. melakukan perencanaan strategis terhadap proses pelaksanaan
reformasi birokrasi;
c. merumuskan Road Map reformasi birokrasi;
d. melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan reformasi birokrasi
secara berkala;
Pengarah;
Percepatan (Quick Wins) di lingkungannya; dan
g. memberikan dukungan SDM, anggaran, serta sarana dan prasarana
bagi pelaksanaan reformasi birokrasi.
menjalankan program reformasi birokrasi;
antara Tim Reformasi Birokrasi;
dan evaluasi pelaksanaan reformasi birokrasi; dan
d. Mengkoordinir pelaksanaan tugas Sekretariat Reformasi Birokrasi.
C. Tim RB level Eselon-1
Tim RB level Eselon I dipimpin oleh Sekretaris Utama/ Deputi atau
disebut sebagai Tim Pengendali bertugas:
a. melakukan koordinasi pelaksanaan reformasi birokrasi di lingkungan
organisasi tingkat eselon I masing-masing;
b. merumuskan Road Map reformasi birokrasi di lingkungan organisasi
tingkat eselon I masing-masing;
di organisasi tingkat eselon I masing-masing;
f. melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan reformasi birokrasi
di lingkungan organisasi tingkat eselon I masing-masing secara
berkala; dan
organisasi tingkat eselon I masing-masing secara berkala kepada
Pengarah.
kebijakan dan pelaksanan Reformmasi Birokrasi LAPAN
D. Penjaminan Kualitas dan Penilaiaan Reformasi Birokrasi LAPAN
Untuk pelaksanaan penilaian pelaksanaan RB LAPAN dibentuk Tim
Asesor Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi. Tim terdiri
dari:
penjaminan kualitas kebijakan Reformasi Birokrasi LAPAN, yang terdiri
dari Kepala LAPAN, Sestama dan para Deputi. Sedangkan Koordinator
dilaksanakan Inspektorat yang memimpin Tim Assesor untuk menilai
- 6 -
pelaksanaan RB LAPAN. Tim Assesor dibentuk untuk level Lembaga dan
level Eselon 1.
Birokrasi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional adalah
sebagai berikut:
kebijakan, dan rencana tindak yang telah disusun; dan
b. memberikan arahan kepada Tim Asesor atas setiap proses
penilaian mandiri pelaksanaan reformasi birokrasi di lingkungan
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.
2. Tugas Koordinator Tim Asesor:
a. mengoordinasikan pelaksanaan tugas Asesor;
b. mengoordinasikan pelaksanaan, reviu, rencana perbaikan, dan
tindaklanjut penilaian mandiri pelaksanaan reformasi birokrasi
di tingkat Lembaga dan Eselon I;
c. mengoordinasikan pelaksanaan rapat panel penilaian mandiri
pelaksanaan reformasi birokrasi;
aksi dan tindak lanjut pelaksanaan reformasi birokrasi di tingkat
Lembaga dan Eselon I;
f. menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan, hasil penilaian,
serta monitoring dan evaluasi kepada para Pembina.
3. Tugas Asesor:
a. Tingkat Lembaga
2) melakukan reviu terhadap penilaian mandiri pelaksanaan
reformasi birokrasi di tingkat Lembaga dan Eselon I;
3) membuat kertas kerja penilaian mandiri pelaksanaan
reformasi birokrasi di tingkat Lembaga;
4) melaksanakan rapat panel penilaian mandiri pelaksanaan
reformasi birokrasi;
area perubahan di tingkat Lembaga;
6) memberikan arah perbaikan pelaksanaan reformasi birokrasi
di tingkat Lembaga;
mencapai konsensus dalam hal penilaian di setiap area
perubahan di tingkat Lembaga;
kegiatan, hasil penilaian, serta monitoring dan evaluasi di
tingkat lembaga kepada Koordinator;
b. Tingkat Eselon I
birokrasi di lingkungan eselon I masing-masing sesuai
ketentuan melalui koordinasi dengan Koordinator dan
Asesor tingkat Lembaga;
4) melakukan monitoring dan evaluasi atas rencana aksi dan
tindak lanjut pelaksanaan reformasi birokrasi di setiap area
perubahan di tingkat eselon I masing-masing;
5) memberikan arah perbaikan pelaksanaan reformasi birokrasi
untuk setiap satuan kerja di lingkungan eselon I masing-
masing;
perubahan di tingkat eselon I masing-masing; dan
7) menyusun dan meyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan,
hasil penilaian, serta monitoring dan evaluasi di tingkat
eselon I masing-masing kepada Pembina di lingkungan eselon
I masing-masing dan Koordinator.
Se