ROAD MAP PENGEMBANGAN APARATUR SIPIL NEGARA BADAN

Click here to load reader

download ROAD MAP PENGEMBANGAN APARATUR SIPIL NEGARA BADAN

of 42

  • date post

    14-Jan-2017
  • Category

    Documents

  • view

    221
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of ROAD MAP PENGEMBANGAN APARATUR SIPIL NEGARA BADAN

  • LAMPIRAN

    KEPUTUSAN SEKRETARIS UTAMA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

    NOMOR HK.04.02.243.08.16.3167 TAHUN 2016

    TENTANG

    ROAD MAP PENGEMBANGAN APARATUR SIPIL NEGARA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN TAHUN 2015-2019

    ROAD MAP PENGEMBANGAN APARATUR SIPIL NEGARA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN TAHUN 2015-2019

    BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

    2016

  • - 2 -

    KATA PENGANTAR

    Reformasi Birokrasi bukan lagi sekedar tuntutan, tetapi merupakan kebutuhan dalam perbaikan manajemen kinerja di lingkungan Instansi Pemerintah, tak terkecuali di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Penerapan Reformasi Birokrasi harus mampu dirasakan manfaatnya, tidak hanya bagi internal organisasi Pemerintah, tetapi juga harus dapat dirasakan manfaatnya oleh Masyarakat. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 81 tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025, Reformasi Birokrasi dilaksanakan untuk mewujudkan Pemerintahan Kelas Dunia pada tahun 2025. Untuk mewujudkan hal tersebut, dirasa perlu melakukan percepatan pelaksanaan Reformasi Birokrasi melalui optimalisasi faktor-faktor pengungkit pelaksanaan Reformasi Birokrasi, salah satunya adalah pengelolaan Aparatur Sipil Negara (ASN).

    ASN merupakan faktor kunci dalam keberhasilan pelaksanaan Reformasi Birokrasi di sebuah Instansi Pemerintah. Keberhasilan pelaksanaan Reformasi Birokrasi ditentukan oleh kualitas ASN yang dimiliki oleh Instansi Pemerintah. Kualitas ASN dapat dilihat melalui kualifikasi dan kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing ASN. Agar kualitas ASN tetap terjaga dan meningkat, perlu dilakukan pengelolaan kompetensi pegawai melalui peningkatan kompetensi pegawai secara sistematis dan berkesinambungan. Selain dalam rangka mendukung pelaksanaan Reformasi Birokrasi, adanya globalisasi, perdagangan bebas dan komitmen Internasional, antara lain diwujudkan melalui perjanjian-perjanjian internasional di bidang ekonomi yang menghendaki adanya area perdagangan bebas (free trade area) juga menjadi faktor lain yang mewajibkan setiap Instansi Pemerintah untuk meningkatkan kompetensi ASN dengan standar kualitas global.

    Didasari hal-hal tersebut, maka BPOM menyusun road map pengembangan ASN BPOM Tahun 2015-2019 sebagai acuan dan upaya dalam pengembangan kualitas ASN BPOM. Semoga road map pengembangan ASN BPOM Tahun 2015-2019 dapat memberikan manfaat dalam mempercepat pelaksanaan Reformasi Birokrasi sehingga peningkatan pelayanan publik dapat diwujudkan.

  • - 3 -

    DAFTAR ISI

    Hal.

    1. Halaman Judul . 1

    2. Kata Pengantar . 2

    3. Daftar Isi . 3

    4. Daftar Gambar . 4

    5. BAB I PENDAHULUAN .. 5

    6. BAB II RENCANA STRATEGIS BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN TAHUN 2015-2019

    15

    7. BAB III MANAJEMEN DAN PENGEMBANGAN APARATUR SIPIL NEGARA 2015-2019 BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN .

    20

    Tujuan Manajemen ASN BPOM ... 21

    Arah Kebijakan Manajemen ASN BPOM 22

    Roadmap Manajemen ASN BPOM 2015-2019 . 27

    8. BAB IV PENUTUP 40

    9. Daftar Pustaka . 41

    10 Daftar Peraturan .. 42

  • - 4 -

    DAFTAR GAMBAR

    Hal.

    1. Gambar 1, Data Penilaian Kompetensi Tahun 2012 s.d 2015 dan

    Nilai Prestasi Kerja Pegawai Tahun 2014 BPOM ..

    8

    2. Gambar 2, Data Pegawai BPOM berdasarkan kelompok umur .. 11

    3. Gambar 3, Peta Bisnis Proses Utama BPOM sesuai Peran dan

    Kewenangan ..

    17

    4. Gambar 3, Roadmap Pembinaan Kompetensi ASN BPOM 2015-2019 27

    5. Gambar 4, Roadmap Pembinaan Kinerja ASN BPOM 2015-2019 .. 31

    6. Gambar 5, Roadmap Pembinaan Karier ASN BPOM 2015-2019 35

  • - 5 -

    BAB I PENDAHULUAN

    Pemberlakuan kesepakatan kerjasama Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada akhir tahun 2015 dimana perdagangan barang, jasa, modal, dan investasi dapat bergerak bebas tanpa halangan geografis menjadi tantangan tersendiri bagi sektor usaha maupun pemerintah, tidak terkecuali di bidang obat dan makanan. Indonesia dengan pasar dan kondisi geografis yang paling besar di antara negara-negara ASEAN lainnya akan menjadi magnet yang paling strategis untuk menjadi target pasar peredaran obat dan makanan negara-negara ASEAN. Dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta (posisi ke 4 di dunia setelah Tiongkok, India dan Amerika) dan daya beli (pendapatan per kapita) yang semakin membaik, maka Indonesia akan menjadi target pasar yang paling potensial.

    MEA diprediksi berkontribusi terhadap peningkatan arus peredaran obat dan makanan di Indonesia, di samping faktor-faktor lainnya seperti pemberlakukan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), agenda Sustainable Development Goals (SDGs), perubahan sosial ekonomi dan gaya hidup masyarakat, serta perkembangan teknologi di bidang obat dan makanan. Berbagai faktor tersebut menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam melakukan pengawasan produk obat dan makanan yang beredar di Indonesia. Dengan berbagai kesepakatan harmonisasi di tingkat ASEAN akan mengubah paradigma pengawasan obat dan makanan yang semula difokuskan pada pengawasan pre market akan bergeser menjadi pengawasan post market. Hal ini telah dimulai dengan pemberlakuan notifikasi kosmetik pada tahun 2011, dimana produk kosmetik lebih bebas beredar di negara-negara ASEAN dengan skema pre market yang lebih longgar. Sebagai konsekuensinya pengawasan post market harus lebih diperketat untuk tetap menjamin keamanan, mutu dan manfaat produk yang digunakan oleh masyarakat.

    Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah non Departemen yang telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2013, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merupakan Lembaga Pemerintah yang diberikan kewenangan dan tugas untuk melakukan pengawasan terhadap peredaran obat, obat tradisional, suplemen kesehatan, kosmetik dan makanan di Indonesia. Dengan berbagai tantangan dalam pengawasan obat dan makanan

  • - 6 -

    di Indonesia, maka BPOM harus meningkatkan kualitas pengawasan obat dan makanan di Indonesia. Untuk dapat melakukan peningkatkan kualitas pengawasan obat dan makanan, faktor utama yang harus diperhatikan dan mendapatkan intervensi pertama kali adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas dan bertanggung jawab dalam melakukan pengawasan obat dan makanan.

    Peningkatan kualitas pengawasan obat dan makanan harus didukung dengan kapasitas dan kapabilitas kelembagaan organisasi BPOM. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan ASN yang smart (baca: Smart ASN) dengan kompetensi unggul, menguasai teknologi informasi dan berwawasan global sebagai faktor utama untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan BPOM. Selain itu, Smart ASN merupakan kunci keberhasilan dalam melakukan bimbingan dan pemberdayaan kepada masyarakat, pelaku usaha dan stakeholders terkait untuk meningkatkan daya saing bangsa di bidang obat dan makanan, khususnya dalam menghadapi MEA dan globalisasi. ASN yang dimiliki BPOM merupakan kekuatan utama yang akan menentukan kelangsungan hidup organisasi dan menjadi penentu BPOM akan menjadi institusi pengawas obat dan makanan yang disegani di tingkat Asia bahkan di ti tingkat dunia.

    Kebutuhan terhadap Smart ASN di bidang pengawasan obat dan makanan semakin diperlukan karena obyek pengawasan BPOM menjadi semakin komplek sebagai dampak dari adanya globalisasi, perkembangan teknologi serta implementasi perjanjian Internasional bidang ekonomi. Obyek pengawasan BPOM tidak hanya produk hasil produksi di dalam negeri, tetapi juga produk luar negeri yang beredar di Indonesia, serta produk hasil perkembangan teknologi. Obat dan makanan merupakan kebutuhan dasar setiap orang dan telah menjadi komoditi yang diproduksi oleh perusahaan global dengan standar kualitas dan teknologi tinggi, serta target pasar di berbagai negara di dunia. Pengawasan terhadap peredaran produk obat dan makanan tidak cukup hanya dilakukan oleh ASN dengan standar kualitas nasional, tetapi dibutuhkan ASN dengan standar kualitas global. Sudut pandang dan pola pikir dalam menetapkan kebijakan di bidang pengawasan obat dan makanan harus mengikuti perkembangan dan tantangan global dengan tetap memperhatikan kesiapan industri obat dan makanan dalam negeri.

    Pengembangan kualitas ASN yang dimiliki BPOM untuk menjadi Smart ASN dengan kualitas global wajib dilakukan agar BPOM mampu berperan dalam mewujudkan kesehatan masyarakat dan meningkatkan daya saing bangsa. Pengembangan kualitas ASN BPOM tidak dapat terlepas dari arah kebijakan pengembangan dan pemberdayaan ASN di Indonesia sesuai dengan UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN dan arah pembangunan nasional Indonesia yang saat ini telah sampai pada implementasi RPJM Ke III periode 2015-2019 dengan harapan mampu menghasilkan Smart ASN untuk

  • - 7 -

    mendukung tujuan mewujudkan pemerintahan kelas dunia pada tahun 2025. Selain itu, peningkatan kualitas ASN juga dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi nasional Indonesia sesuai dengan koridor pembangunan ekonomi masing-masing daerah atau wilayah.

    Hasil survey maupun penilaian terhadap indikator pemerintahan dan kondisi ASN di Indonesia yang dilakukan oleh berbagai lembaga Internasional masih menunjukkan beberapa kekurangan dan kebutuhan perbaikan. Berdasarkan data Worldwide Government Indicators (Efektifitas Pemerintahan) yang dikeluarkan oleh Bank Dunia tahun 2013, diantara negara ASEAN, peringkat Indonesia hanya lebih baik dari Myanmar, Timor Leste dan Kamboja. Peringkat Indonesia masih di bawah Philipina, Malaysia, Brunei dan negara ASEAN lainnya. Berdasarkan data Human Development Index (HDI) Tahun 2015 yang dikeluarkan oleh United Nations Development Programme (UNDP), Indonesia menduduki peringkat ke 110 dari 188 negara dengan nilai HDI 0