Risalah masjid

download Risalah masjid

of 46

  • date post

    18-Aug-2015
  • Category

    Education

  • view

    84
  • download

    73

Embed Size (px)

Transcript of Risalah masjid

  1. 1. RISALAH MASJID ASWAJA NU CENTER JAWA TIMUR Panduan bagi Pengurus dan Pecinta Rumah Allah
  2. 2. DAFTAR ISI Bab I: Masjid dalam Islam Pengertian Masjid Masjid Jami Kedudukan Masjid dalam Islam Hukum Mendirikan Masjid di Daerah Islam Motivasi dan Fungsi Pembangunan Masjid 1. Sebagai media memperoleh pahala besar 2. Masjid adalah pusat ilmu 3. Masjid sebagai Baitul Mal 4. Masjid sebagai tempat pencetakan uang (dar al- dharb) 5. Masjid sebagai benteng dan tempat perlindungan 6. Masjid sebagai tempat pengadilan 7. Masjid sebagai tempat penyediaan air minum 8. Masjid tempat berdiskusi dan penetapan hukum 9. Masjid sebagai pusat informasi 10. Masjid sebagai pusat baca Syarat-Syarat Pembangunan Masjid Bab II: Bangunan dan Fasilitas Penunjang di Masjid Minbar Mihrab Menara Kubah Bangunan atau Lahan (Rahbah) di Sekitar Masjid Toilet dan Tempat Wudhu Taman di Halaman Masjid Hiasan Masjid Bagian yang Dihukumi Masjid
  3. 3. Bab III: Hukum Seputar Masjid A. Wakaf Masjid Tanah yang Diwakafkan Keluar dari Kepemilikan Pribadi Pemberian Izin, Merupakan Wakaf? Keabsahan Wakaf Tidak Tergantung pada Keputusan Pemerintah Mewakafkan Satu Lantai di Gedung Bertingkat Mewakafkan Tenda Sebagai Masjid Menyewakan Masjid atau Bagian Masjid Wasiat untuk Masjid Wakaf dari Orang Kafir Menjual Barang Wakaf Uang Kotak Amal Uang Masjid Untuk Bisyarah Khatib Shalat Jumat Memindah al-Quran Wakaf Uang Masjid untuk Madrasah Al-Quran Wakaf di Masjid Masjid Terkena Pelebaran Jalan Meminjamkan Barang Wakaf Barang Wakaf Dibakar Wakaf Bersyarat Memindah Bagian dari Masjid Membangun Masjid Bukan di Tanah Wakaf Menukar Tanah Wakaf untuk Masjid dengan Tanah yang Lebih Banyak Manfaatnya Uang Wakaf untuk Pembangunan Masjid Digunakan Membiayai Pekerjaan Bangunan Memungut Derma untuk Mendirikan Masjid yang Akan Dibangun Pengeras Suara Masjid untuk Pengumuman Inventarisasi Kantor yang Dibeli dengan Uang Sumbangan dengan Maksud Wakaf Kewakafan Alat-Alat Masjid yang Sudah Rusak Membangun Gedung Madrasah di Tanah yang Diwakafkan untuk Masjid Memberi Nama Masjid Memberikan Zakat kepada Masjid Shalat di Masjid yang Dibangun dari Dana Haram Kas Masjid Dinamakan Baitul Mal Pencari Biaya Masjid dapat 10 % Kotak Amal Ketika Khutbah Menara Masjid Untuk BTS
  4. 4. B. Membangun Masjid Lebih dari Satu di Satu Daerah C. Kiblat Masjid D. Pendirian Masjid di Gedung Tinggi E. Beberapa Aktifitas di Masjid Itikaf Mengajar Anak Kecil di Masjid Bersuara Keras di Masjid Pelaksanaan Eksekusi di Masjid Makan dan Minum di Masjid Bernyanyi, Bertepuk Tangan, dan Menari di Masjid Shalat Janazah di Masjid Tempat Tinggal dan Bangunan di Masjid Akad Nikah di Masjid Meludah di Masjid Jual Beli di Masjid
  5. 5. Pengertian Masjid Menurut bahasa, masjid artinya adalah tempat sujud. Menurut istilah, Madzhab Hanafi dan SyafiI menjelaskan, masjid adalah tempat yang diwakafkan untuk digunakan shalat secara berjamaah. Dengan demikian, setiap masjid pasti merupakan tempat yang diwakafkan. Namun tidak semua tempat yang diwakafkan untuk shalat dapat disebut sebagai masjid. Oleh karena itu, agar setiap tempat yang diwakafkan untuk shalat dapat dihukumi sebagai masjid, harus ada niat tertentu, yaitu niat menjadikannya masjid.
  6. 6. Masjid Jami Menurut bahasa, menurut Ibnu Manzhur, masjid jami adalah tempat yang dapat menghimpun jamaahnya.Dinamakan jami, karena tempat ini menghimpun (jamaa) umat untuk waktu tertentu. Menurut istilah fikih, masjid jami adalah masjid yang dipergunakan untuk shalat Jumat. Setiap jami pasti masjid, dan tidak setiap masjid berfungsi sebagai jami, karena jami adalah tempat yang digunakan untuk shalat jumat dan shalat id (al-Zarkasyi)
  7. 7. Hukum Mendirikan Masjid di Daerah Islam Mendirikan masjid di kota, desa, dan lokasi tertentu sesuai kebutuhan hukumnya adalah fardhu kifayah. Sedang ulama lain mengatakan, hukum mendirikan masjid itu hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan).
  8. 8. Syarat-Syarat Pembangunan Masjid Pertama, masjid tersebut berada di tengah desa, kota, atau daerah tertentu. Kedua, memiliki akses jalan yang mudah. Ketiga, bangunan masjid menghadap kiblat. Keempat, masjid tidak boleh dihiasi gambar dan patung. Kelima, terkait kuburan di dalam masjid, terdapat tiga kemungkinan, yaitu: (1) Masjid dibangun di atas kuburan. (2) Jenazah dimakamkan di dalam masjid (3) Kuburan berada di dalam masjid, sebagai dampak perluasan. Keenam, materi bangunan masjid harus suci.
  9. 9. Bab II Bangunan dan Fasilitas Penunjang di Masjid Minbar Menurut bahasa, minbar adalah sesuatu yang ditinggikan. Menurut istilah, minbar adalah tempat naiknya khatib atau penceramah di masjid. Para fukaha (yuris) sepakat bahwa keberadaan minbar ini hukumnya sunnah, sebagaimana khutbah dan duduk di atas minbar sebelum memulai khutbah hukumnya juga sunnah. Dianjurkan, minbar ini ditempatkan di sisi kanan mihrab dari arah jamaah shalat. Ulama madzhab Syafii menambahkan, ukuran minbar yang terlalu besar, yang membuat sempit tempat shalat dan bangunan masjid memang tidak luas, hukumnya makruh.
  10. 10. Mihrab Menurut bahasa, mihrab adalah ruang yang tinggi, tempat duduk, tempat yang mulia di suatu bangunan atau rumah. Menurut istilah, mihrab adalah tempat berongga yang berada di dinding masjid, tempat imam dalam shalat, dan selalu menghadap kiblat. Ulama berbeda pendapat mengenai hukum mihrab ini. Ulama mahab Hanbali berpendapat, keberadaan mihrab dalam masjid hukumnya boleh (mubah). Menurut Imam Ahmad, keberadaan mihrab ini hukumnya dianjurkan (mustahab). Jalaluddin al-Suyuthi al-SyafiI menghukuminya haram. ulama madzhab Hanafi dan Maliki memperbolehkannya. Al-Zarkasyi juga menegaskan, pendapat yang masyhur, penggunaan mihrab hukumnya boleh, tidak makruh, dan umat Islam melakukannya, tanpa ada yang mengingkari.
  11. 11. Menara Menara juga disebut dengan makdzanah atau shaumaah. Makdzanah adalah alat atau tempat untuk mengumandangkan adzan. Sedangkan kata shaumaah, artinya adalah tiang yang tinggi (al- burj al-aly). Kata manarah (menara), menurut Fairuz Abadi, berasal dari manurah, tempat perapian, seperti manar yang artinya adalah penanda. Ulama berbeda pendapat mengenai hukum menara, setidaknya dalam dua pendapat: Pertama, keberadaan menara di masjid adalah bidah yang haram, atau minimal makruh. Kedua, menurut mayoritas ulama, keberadaan menara di masjid hukumnya mubah, karena merupakan bagian dari syiar.
  12. 12. Apakah menara dihukumi masjid, sehingga berlaku hukum dan etika masjid? Apakah menara dihukumi masjidApakah menara dihukumi masjid, sehingga berlaku hukum dan etika masjid?, sehingga berlaku hukum danApakah menara dihukumi masjid, sehingga berlaku hukum dan etika masjid? etApakah menara dihukumi masjid, sehingga berlaku hukum dan etika masjid?ika masjid? Apakah menara dihukumi masjid, sehingga berlakApakah menara dihukumi masjid, sehingga berlaku hukum dan etika masjid?u hukum dan etika masjApakah menara dihukumi masjid, sehingga berlaku hukum dan etika masjid?id?
  13. 13. Kubah Al-Samhudi menjelaskan perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hal ini. Kelompok pertama melarangnya, karena kubah dinilai sebagai bangunan yang tidak perlu. Nabi bersabda, . Setiap bangunan adalah bencana bagi pemilikinya, kecuali yang tidak, kecuali yang tidak. Maksudnya, kecuali yang memang dibutuhkan. (HR. Abu Dawud) Sedangkan kelompok ulama lain menghukumi mubah atau boleh keberadaan kubah di atas masjid. Alasannya, karena itu merupakan pelengkap bangunan, bukan merupakan perbuatan bidah dalam agama. Hadits pengingkaran Nabi Muhammad kepada sahabat Anshar itu adalah suatu kejadian di masa itu (waqiatu hal). Sedangkan suatu kejadian di masa tertentu, tidak bisa digeneralisasi. Imam Syafii memiliki kaidah: . Kejadian-kejadian di suatu masa, masih diliputi baju keumuman, maka tidak sah dijadikan dalil.
  14. 14. Bulan Sabit di Atas Kubah Masjid Orang yang pertama kali memasang bulan sabit di atas kubah adalah Sultan Hasan bin Sultan Malik Nashir Muhammad Qulun, pada abad ke-8 H. Kronologi bulan sabit sebagai simbol Islam, dijelaskan Syaikh Abdul Hayyi al-Kattani al-Maghribi dalam al-Taratib al-Idariyah. Pada mulanya, sesuai riwayat dari Ibnu Yunus, Saad bin Malik al-Azdi telah bertamu kepada Nabi Muhammad SAW, dengan membawa bendera kaumnya, berwarna hitam yang terdapat gambar bulan sabit berwarna putih. Kaum muslimin mencetak gambar bulan sabit di mata uang mereka pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab. Setelah itu, bulan sabit menjadi simbol islami bagi Turki dan terus berlangsung sampai jatuhnya Khilafah Ustmani (Ottoman). Pada tahap berikutnya, bulan sabit menjadi simbol islami untuk menandingi simbol palang merah. Mengenai hukumnya, ulama memiliki dua pendapat. 1) Bulan sabit di atas kubah merupakan bidah, karena Nabi tidak memasangnya di masjid beliau. 2) Penggunaan bulan sabit di atas kubah bukanperkara bidah. Hal ini berdasarkan pengertian bahwa bidah adalah suatu cara dalam agama yang belum dilakukan sebelumnya dan bertentangan dengan syariat, yang ditujukan untuk berlebihan-lebihan dalam beribadah kepada Allah Subhanah (thariqah fi al-din mukhtaraah tudhahi al-syariah yuqshadu bi al-suluk alaiha al-mubalaghah fi al-taabbud lillahi Subhanah). (Abu Ishaq al-Syathibi, al-Itisham, 1/26).
  15. 15. Toilet dan Tempat Wudhu Tempat wudhu merupakan fasilitas penting bagi suatu masjid, terutama yang dipisahkan dari toilet yang menjadi tempat najis. Keberadaan tempat wudhu dan fasilitas- fasilitas pendukung untuk bersuci, di antaranya toilet dan kamar mandi, sudah menjadi tradisi umum di tiap masjid, dengan syarat terjaganya kesucian masjid dari najis yang berpotensi besar terdapat di toilet atau kamar mandi itu. Keberadaan tempat wudhu, mandi dan tempat membasuh najis ini tersirat misalnya dalam keterangan al-Allamah al-Thanbadawi sebagaimana dijelaskan dalam Ianah al-Thalibin, jil