Rinitis Hormonal

download Rinitis Hormonal

of 20

  • date post

    30-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    69
  • download

    0

Embed Size (px)

description

stwr

Transcript of Rinitis Hormonal

BAB IPENDAHULUAN

Rhinitis diderita hampir 25% dari populasi di seluruh dunia. Rhinitis bukan merupakan penyakit tunggal melainkan kumpulan dari berbagai macam gangguan dengan berbagai macam mekanisme patofisiologi yang bukan selalu karena inflamasi. Gejalanya terdiri dari satu atau lebih dari hal berikut : rinorhea, bersin, gatal-gatal dan/atau sumbatan pada hidung yang menyebabkan penurunan dari indera penciuman.Penyebabnya lebih dari satu, misalnya obstruksi anatomis, infeksi, underlying systemic disease, inflamasi alergi ataupun non-alergik. Walaupun gejala klinis dari rhinitis alergik dan non-alergik bisa sama, subtipe ini dapat dibedakan secara klinis. Sebagai contoh, penyebab dari rhinitis non-alergik adalah rhinitis karena infeksi, rhinitis medikamentosa, rhinitis non-alergik persisten dengan atau tanpa eosinofilia (NARES), rhinitis atropik, drug-induced rhinitis dan rhinitis hormonal. Rhinitis hormonal.Rhinitis hormonal sendiri merupakan rhinitis yang disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan hormon, terutama hormon esterogen sehingga biasanya rhinitis hormonal diderita oleh wanita yang sedang menopause, wanita hamil.

BAB IITINJAUAN PUSTAKAII. 1 ANATOMIHidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas kebawah:11. pangkal hidung (bridge), 2. dorsum nasi, 3. puncak hidung, 4. ala nasi,5. kolumela dan 6. lubang hidung (nares anterior).

Gambar 1.1 Anatomi Hidung Bagian Luar Sumber : http//:visualdictionaryonline.com

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari:11. tulang hidung (os nasalis), 2. prosesus frontalis os maksila dan 3. prosesus nasalis os frontal

Gambar 1.2. Anatomi Kerangka HidungSumber :http://4.bp.blogspot.com/_bdoZHdubEbw/TH6LLZ1mCEI/AAAAAAAAAKY/ZCH7f0VbYnk/s1600/externalnoseparts.jpg

Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu:11. sepasang kartilago nasalis lateralis superior, 2. sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago alar mayor), 3. beberapa pasang kartilago alar minor dan 4. tepi anterior kartilago septum.Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan kebelakang, dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasikanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut naresanterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yangmenghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.1Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepatdibelakang nares anteriror, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulityang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yangdisebut vibrise.1Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior dan superior.Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulangdan tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina perpendikularis os etmoid, vomer,krista nasalis os maksila dan krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan adalahkartilago septum (lamina kuadrangularis) dan kolumela.1Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan danperiostium pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosahidung. Bagian depan dinding lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dandibelakangnya terdapat konka-konka yang mengisi sebagian besar dinding lateralhidung.1Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknyapaling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka media,lebih kecil lagi ialah konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konkasuprema. Konka suprema disebut juga rudimenter.1

Gambar 1.3. Anatomi Hidung Bagian DalamSumber :http://lh5.ggpht.com/_I0UHlGxoP6A/SaVl7Jfr_KI/AAAAAAAAAtQ/yupDo2elruw/clip_image0024.jpg

Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksiladan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakanbagian dari labirin etmoid.Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior, medius dan superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis. Meatus medius terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus medius terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris dan infundibulum etmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung dimana terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior.1Pada meatus superior yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid. Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung.1

2. 1. 1. PENDARAHANBagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a.etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a.oftalmika, sedangkan a.oftalmika berasal dari a.karotis interna.1Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a.maksilaris interna, di antaranya ialah ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media.1Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a.fasialis. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina, a.etmoid anterior, a.labialis superior dan a.palatina mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach. Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cidera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis terutama pada anak.1Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi sampai ke intrakranial.1

Sumber: biologimediacenter.com

2. 1. 2. PERSARAFANBagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal dari n.oftalmikus. Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatina.1Ganglion sfenopalatina, selain memberikan persarafan sensoris, jugamemberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung.Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris dari n.maksila, serabut parasimpatis dari n.petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n.petrosus profundus.Ganglion sfenopalatina terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media.1Fungsi penghidu berasal dari Nervus olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina kribosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.1

Sumber: biologimediacenter.com2. 1. 3. MUKOSA HIDUNGRongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan (mukosa respiratori) dan mukosa penghidu (mukosa olfaktorius).Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu (pseudo stratified columnar epithalium) yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel-sel goblet.1Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang-kadang terjadi metaplasia, menjadi sel epitel skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel-sel goblet.1Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung.1Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat.Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang, sekret kental dan obat-obatan. Di bawah epitel terdapat tunika propria yang banyak mengandung pembuluh darah, kelenjar mukosa dan jaringan limfoid.1Pembuluh darah pada mukosa hidung mempunyai susunan yang khas. Arteriol terletak pada bagian yang lebih dalam dari tunika propria dan tersusun secara paralel dan longitudinal. Arteriol ini memberikan pendarahan pada anyaman kapiler perigalnduler dan subepitel. Pembuluh eferen dari anyaman kapiler ini membuka ke rongga sinusoid vena yang besar yang dindingnya dilapisi oleh jaringan elastik dan otot polos. Pada bagian ujungnya sinusoid ini mempunyai sfingter otot. Selanjutnya sinusoid akan mengalirkan darahnya ke pleksus vena yang lebih dalam lalu ke venula. Dengan susunan demikian mukosa hidungmenyerupai suatu jaringan kavernosus yang erektil, yang mudah mengembang dan mengerut. Vasodilatasi dan vasokontriksi pembuluh darah ini dipengaruhi oleh saraf otonom.1

II. 2 FISIOLOGI HIDUNGBerdasarkan teori structural, teori evolusioner dan teori fungsional, fungsi fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah:11. Fungsi respirasi Untuk mengatur kondisi udara, humidikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik local.2. Fungsi penghidu Terdapatnya mukosa olfaktorius dan reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu.3. Fungsi fonetik Yang berguna