Richards arends ppt oleh Sutrisno, S,Kom s=SMKN2 Kalianda

of 136/136
OLEH : SUTRISNO, S.Kom Mahasiswa Program Megister Teknologi Pendidikan, Universitas Lampung Tahun 2013
  • date post

    05-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    127
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of Richards arends ppt oleh Sutrisno, S,Kom s=SMKN2 Kalianda

  • 1. OLEH :SUTRISNO, S.Kom Mahasiswa Program Megister Teknologi Pendidikan, Universitas Lampung Tahun 2013

2. Prespektif Tentang Manajemen KelasPekerjaan terbesar guru adalah mengembangkan komunitas belajar demokratis yang semua siswanya dihargai, saling menghormati satu sama lain, dan termotivasi untuk bekerja bersama sama. Manajemen kelas yang baik membutuhkan guru yang mampu menciptakan hubungan autentik dengan siswa dan mengembangkan etika kepedulian. 3. Adadua ide lain yang dapat memberikan prespektif tambahan tentang manajemen kelas1.Manajemen kelas barangkali merupakan tantangan terpenting yang dihadapi para guru pemula2. Manajemen kelas dan pengajaran saling terkait erat. 4. 1. Reinforcement Theory ( Teori Penguatan ) Teori penguatan menekankan tentang sentralisasi kejadian eksternal dalam mengarahkan perilaku dan pentingnya penguat positif dan negatif ( Skiner, 1956 ). 2. Ekologi Kelas dan Proses Kelompok Prespektif ini mengkaji bagaimana kerjasama dan keterlibatan siswa diperoleh sehingga kegiatan kegiatan belajar yang penting dapat diselesaikan 5. 3. Tradisi Child Centered Perilaku buruk merupakan akibat instruksi yang berusaha menekan siswa, sekalipun hal itu dimaksudkan untuk kebaikan mereka sendiri atau untuk kebaikan masyarakat atau akibat situasi pengendalian kita terhadap perilaku dan berusaha membuat siswa melakukan yang kita inginkan dan bukan membantu mereka menjadi orang orang yang canggih secara moral, yang memikirkan tentang dirinya sendiri dan sekaligus peduli pada orang lain. 6. 1. Manajemen Kelas Preventatif Banyak masalah yang terkait dengan perilaku buruk siswa yang ditangani oleh guru guru efektif melalui pendekatan preventatif dan membahas tentang berbagai tuntutan manajemen yang terkait dengan pendekatan pengajaran tertentu. 7. a). Menetapkan Aturan dan Prosedur Aturan adalah pernyataan yang menyebutkan apa yang diharapkan untuk dilakukan atau untuk tidak dilakukan oleh siswa. Biasanya, aturan dibuat secara tertulis, dimengerti dengan jelas oleh siswa, dan dibuat minimum. Proseduradalah cara untuk menyelesaikan pekerjaan atau kegiatan lainnya. 8. b). Gerakan Siswa Pengelola kelas yang efektif merancang cara untuk membuat gerakan yang dibutuhkan oleh siswa berjalan lancar. Mereka mengorganisasikan prosedur antrean dan distribusi yang efisien; Mereka menetapkan aturan yang meminimalkan disrupsi dan memastikan keselamatan. 9. c). Pembicaraan Siswa Pengelola kelas yang efektif memiliki sejumlah aturan yang jelas, yang mengatur kapan siswa boleh berbicara. Kebanyakan guru mempreskripsikan kapan bicara dilarang, kapan bicara dengan dengan suara rendah diizinkan dan disarankan, dan kapan boleh bebas berbicara. 10. d). Mengajarkan Aturan dan Prosedur Pengelola kelas yang efektif pada umumnya hanya menetapkan beberapa aturan dan prosedur saja, mengajarkannya dengan cermat kepada siswa, dan menjadikannya sesuatu yang rutin dengan menggunakannya secara konsisten. e). Menjaga Konsistensi Pengelola kelas yang efektif konsisten dalam menegakkan aturan dan menerapkan prosedur. Bila tidak, aturan dan prosedur apa pun akan buyar dengan cepat. 11. f). Mencegah Perilaku Menyimpang dengan Smoothness dan Momentum Meminimalkan perilaku disruptif dan memperlambat pelajaran sulit dipelajari oleh guru pemula, seperti banyak ketrampilan manajemen efektif lainnya, karena begitu banyaknya aspek manajemen yang bersifat situasional. 12. g). Memulai Pelajaran Pengelola kelas yang efektif merencanakan dan melaksanakan prosedur yang membantu agar segala sesuatunya dapat dimulai dengan cepat dan pasti. h). Transisi Sistem cuing ( memberi isyarat ) dan signaling ( memberi signal ) digunakan oleh guru guru efektif untuk mengelola periode transisi yang sulit. Cues digunakan oleh guru untuk memberi tanda kepada siswa bahwa mereka akan segera mengganti kegiatan atau tugas dan segera mempersiapkan diri. 13. i). Mengakhiri Pelajaran Guru guru efektif mengantisipasi potensi masalah manajemen yang terkait dengan akhir pelajaran dengan memasukkan prosedur prosedur berikut : Menyisakan waktu yang cukup untuk menyelesaikan kegiatan penutup Memberikan pekerjaan rumah lebih awal sehingga ketidakjelasan dapat diatasi sebelum menit akhir pelajaran 14. Menetapkanprosedur rutin untuk mengumpulkan pekerjaan siswa, sehingga waktu pelajaran tidak harus dikorbankan untuk kegiatan tersebut Menetapkan prosedur alerting dan cuing untuk menyiagakan siswa bahwa akhir pelajaran akan segera tiba dan beberapa tugas tertentu perlu diselesaikan sebelum mereka meninggalkan kelas Mengajari siswa yang lebih tua bahwa kelas akan dibubarkan oleh guru, bukan oleh bel sekolah 15. j). Mengembangkan Tanggung Jawab Siswa Pedoman berikut yang diadaptasi dari rekomendasi Emmer, Evertson, dan Anderson ( 1980 ) dan Evertson, Emmer, dan Worsham ( 2002 ), seharusnya dimasukkan ke dalam rencana manajemen preventatif secara keseluruhan yang dibuat oleh guru : Komunikasikan dengan jelas tugas tugas dan prasyarat untuk menyelesaikannya. Bagaimana cara kerja prosedur untuk memantau pekerjaan siswa Konsisten dalam memeriksa pekerjaan yang telah selesai dikerjakan Memberikan umpan balik yang tepat pada hasil pekerjaan siswa 16. a). Penyebab Perilaku Buruk Para guru mungkin ingin memikirkan tentang penyebab perilaku yang tidak semestinya tetapi mereka seharusnya juga berhati hati untuk tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menganalisis semacam ini karena dua alasan : 17. 1. Mengetahui penyebab perilaku buruk siswa, meskipun membantu dalam menganalisis masalahnya, belum tentu menyebabkan perubahan apa pun pada perilaku itu. 2.Terlalu banyak menangani penyebab psikologis atau sosiologis perilaku buruk, khususnya yang tidak dapat dipengaruhi guru, dapat mengakibatkan penerimaan dan / atau pengunduran diri. 18. b). Menangani Perilaku Buruk Pendekatan umum yang direkomendasikan bagi guru guru pemula untuk menangani perilaku disruptif adalah dengan tidak terlalu ngotot mencari penyebabnya, tetapi memfokuskan pada perilaku buruk itu sendiri dan mencari cara untuk mengubahnya, paling tidak selama siswa yang bersangkutan berada dalam kelas. 19. c). Overlappingness Berarti mampu menengarai siswa yang berbuat tidak semestinya dan menanganinya secara tidak mencolok sehingga pelajarannya tidak terganggu. 20. d). Merespons Desist Incident dengan Cepat Prosedur yang direkomendasikan oleh Evertson dan Emmer berkonsentrasi pada menghentikan perilaku yang tidak semestinya dengan cepat dan memastikan bahwa siswa paham mereka berbuat salah. Model LEAST termasuk prosedur untuk perilaku buruk ringan maupun masalah masalah yang cukup serius yang perlu di tangani dalam waktu cukup lama. 21. e). Menggunakan Hadiah Salah satu prinsip yang tidak dapat dipungkiri lagi dalam psikologi adalah bila perilaku tertentu diperkuat, perilaku itu cenderung akan diulangi; sebaliknya perilaku yang tidak di perkuat cenderung berkurang atau menghilang.Prinsip ini berlaku untuk kelas dan memberikan cara kepada guru untuk menangani perilaku siswa. 22. f). Pujian Pujian adalah hadiah yang paling mudah di berikan oleh guru, akan tetapi pujian harus digunakan dengan tepat agar efektif. 23. g). Rewads dan Previleges Guru juga dapat mendorong perilaku yang diinginkan melalui pemberian rewads dan previleges kepada siswa. Reward ( hadiah ) yang dapat diberikan oleh guru termasuk antara lain: - Point untuk jenis pekerjaan atau perilaku tertentu yang dapat menambah nilai siswa - Simbol simbol seperti bintang emas, happy face, atau piagam penghargaan - Piagam kehormatan khusus untuk prestasi akademik dan perbuatan sosial 24. Privilege ( hak istimewa ) yang dapat diberikan guru termasuk : Dijadikan ketua kelas atau pembantu guru Diberi waktu ekstra untuk istirahat Diberi waktu khusus untuk mengerjakan proyek individual khusus Dibebaskan dari beberapa tugas wajib Diberi waktu bebas untuk membaca 25. h). Hukuman dan Pinalti Koersif Hukuman dan pinalti digunakan untuk menekan pelanggaran aturan dan prosedur. Secara sosial, hukuman dan pinalti guru yang dapat diterima pada kenyataannya agak terbatas, termasuk : Mengurangi point untuk perilaku buruk yang pada gilirannya, akan mempengaruhi nilai siswa Tidak memperbolehkan siswa untuk istirahat atau melarang pulang sekolah setelah sekolah usai Menghapus hak istimewa Mengeluarkan siswa dari kelas atau mengirim siswa ke konselor atau administrator 26. Program program ini berasal dari teori atau prespektif tertentu dan membutuhkan partisipasi di tingkat sekolah. Para kreator program mengembangkan materi untuk membantu guru memahami cara penggunaan program tersebut. Program program tradisional yang didasarkan pada teori penguatan : 27. a. Assertive Discipline Asertif discipline adalah salah satu pendekatan manajemen kelas yang menekankan bahwa guru meminta dengan tegas agar siswa berperilaku baik dan merespons setiap pelanggaran secara asertif. 28. b. Respons Asertif Guru seharusnya merespons perilaku buruk siswa dengan gaya asertif dan bukan dengan merespons secara pasif atau memusuhi.Gaya asertif menuntut guru untuk benar benar jelas dalam mengungkapkan harapannya dan merespons perilaku buruk siswa dengan tegas dan penuh percaya diri. 29. c. Konsekuensi Menurut pendekatan Canter dan Canter, konsekuensinya harus dibuat sederhana dan dirancang sedemikian rupa agar implimentasinya tidak akan menyebabkan disrupsi berat terhadap kegiatan instruksional yang sedang berjalan. 30. d. Konsekuensi Logis Dreikurs Dreikurs melihat konsekuensi logis terhadap perilaku lebih dari sekedar sebagai hukuman yang sewenang wenang. Tujuan jangka panjang pendekatan pendisiplinan ini adalah untuk membuat siswa memahami alasan perilaku buruk mereka dan menemukan cara untuk memuaskan kebutuhan untuk merasa berguna dan kebutuhan afiliasinya dengan cara yang dapat diterima secara sosial. 31. Program program manajemen kelas yang mendasarkan diri pada premis premis yang berakar pada psikologi humanistik dan prinsip prinsip mengajar dan belajar konstruktivis dan child-centered. Glassers Classroom Meeting Melaksanakan Classroom Meeting Saran saran untuk memulai dan melaksanakan Classroom Meeting Perencanaan Melaksanakan pertemuan 32. Sebagian besar ketrampilan siswa dan guru yang dibutuhkan untuk kesuksesan pertemuan, antara lain: Membentuk iklim Mengidentifikasi permasalahan Menangani nilai nilai Mengidentifikasi berbagai alternatif rangkaian tindakan Membuat komitmen publik Tindak lanjut dan asesmen 33. Pentingnya Asesmen dan Evaluasi : a. Pentingnya Nilai bagi Orangtua Siswa Orang tua sangat penduli pada nilai anaknya karena mereka, melebihi anaknya, benar benar memahami fungsi penting penyortiran yang terjadi di sekolah. Kebanyakan orangtua masih ingat penentuan kritis tentang hasil kerja mereka dulu dan apa konsekuensinya . 34. b. Era Akuntabilitas Kita yang hidup di era warga masyarakat berharap guru dan sekolah bertanggung jawab atas pembelajaran siswa. 35. Asesmenbiasanya merujuk pada seluruh rentang informasi yang dikumpulkan dan disintesiskan oleh guru tentang siswa siswanya maupun tentang kelasnya. Informasi tentang siswa dapat diperoleh secara informal, misalnya melalui observasi dan pertukaran verbal. Informasi juga dapat diperoleh melalui cara cara formal seperti PR, tes, dan laporan tertulis. Informasi tentang kelas dan pengajaran guru juga dapat menjadi bagian asesmen. 36. Evaluasi biasanya mengacu pada proses membuat keputusan ( judgment), menetapkan nilai (value), atau memutuskan tentang worth (manfaat). Evaluasi Formatif Evaluasi ini dikumpulkan sebelum atau selama pengajaran dan dimaksudkan untuk menginformasikan kepada guru tentang pengetahuan dan ketrampilan yang sebelumnya sudah dimiliki siswa, untuk membantunya dalam membuat perencanaan. 37. EvaluasiSumatif Evaluasi ini dirancang sedemikian rupa sehingga judgment tentang pencapaian/prestasi dapat dibuat. Informasi yang diperoleh dari evaluasi sumatif digunakan oleh guru untuk menetapkan nilai dan untuk menjelaskan tentang laporan yang dikirim kepada siswa dan orang tuanya. 38. Para pakar pengukuran mengukur reliabilitas dengan beberapa cara : a). Test retest Reliability adalah ukuran yang menunjukkan apakah sebuah tes mendapatkan hasil yang konsisten untuk orang yang menjalaninya lebih dari satu kali selama kurun waktu tertentu. 39. b). Alternate form Relability Menunjukkan bahwa dua bentuk tes membawa hasil hasil yang konsisten untuk kelompok siswa yang sama. Tipe reliabilitas ini terutama penting bagi guru yang mengembangkan dua tes dengan daftar tes yang serupa, namun, berbeda; tes yang satu dapat diberikan kepada siswa-siswa yang absen pada saat tes primernya diadministrasikan. 40. c). Split-half Reliability Beberapa soal tes pada sebuah tes dibagi menjadi dua , dan kinerja dari siswa dibandingkan untuk masing masing bagian. Bila perbandingannyamirip, tes itu disebut memiliki reliabilitas tes-retes atau konsisten internal baik. Tipe reliabilitas ini lebih banyak digunakan oleh guru guru yang merancang tes untuk asesmen kelas. 41. a). Efek Nilai Penggunaan nilai dapat meningkatkan prestasi siswa, tetapi pengaruhnya tetap kompleks. Kemenarikan tugas belajar itu secara intrinsik berdampak pada motivasi, demikian juga penghargaan yang ditempatkan oleh siswa sendiri terhadap nilai tersebut. 42. b). Efek Testing dan Umpan Balik Pada Motivasi dan Pembelajaran Terlepas dari efek nilai pada pembelajaran siswa, pada umumnya diketahui bahwa asesmen, bila dilakukan secara efektif, meningkatkan keterlibatan dan pembelajaran siswa. Beaulieu dan Utecht(1987) menyimpulkan bahwa prestasi siswa pada ujian akhir meningkat di kelas kelas yang gurunya memberikan kuis kuis mingguan. 43. c). Efek Testing Terstandar Penggunaan tes-tes terstandar di sekolah benar benar meluas, dan orang-orang secara umum berpikir bahwa bila skor tesnya tinggi, bararti sekolah dan guru guru efektif .Akan tetapi untuk berbagai alasan, efek tes tes terstandar mungkin tidak selalu sepositif yang diyakini sebagaian orang. Salah satu alasannya adalah tes yang paling terstandar hanya mengukur rentang kemampuan yang terbatas, terutama tes-tes yang difokuskan pada tugas kuantitatif dan verbal. 44. a. Tes tes Yang Mengacu Norma Tes ini berupaya mengevaluasi kinerja siswa tertentu dengan membandingkannya dengan kinerja kelompok siswa lain pada tes yang sama.Kebanyakan tes mengacu norma menghasilkan dua macam skor raw score dan percentile rank . 45. Raw score ( skor kasar ) adalah jumlah daftar dalam tes yang dijawab dengan benar oleh siswa. Percentile Rank ( peringkat persentil) adalah alat statistik yang menunjukkan bagaimana kedudukan seorang siswa dibandingkan siswa siswa lain, khususnya proporsi individu individu yang memiliki skor kasar yang sama atau lebih rendah untuk bagain tes tertentu. 46. b. Criterion referenced Test ( tes-tes yang mengacu kriterion ) Tes ini mengukur kinerja siswa dibandingkan tingkat kinerja atau kriterion yang telah disepakati. Secara umum, isi dan ketrampilan yang diukur pada tes tes yang mengacu kriterion jauh lebih spesifik dibanding yang dikur pada tes tes yang mengacu norma. 47. Prinsip Prinsip Umum Grondlund (1991, 2005) memberikan beberapa prinsip yang dapat memandu guru pada saat merancang istem asesmen dan membuat tes sendiri : 48. a. Mengases Seluruh Tujuan Instruksional Guru semestinya mengonstruksikan tesnya sedemikian rupa sehingga dapat mengukur dengan jelas tujuan belajar yang sudah mereka komunikasikan kepada siswa dan materi yang telah mereka bahas. Pendek kata tes itu seharusnya selaras dengan tujuan instruksional guru. 49. b. Mencakup Seluruh Ranah Kognitif Sebuah tes yang baik tidak sepenuhnya difokuskan salah satu tipe tujuan, misalnya ingatan faktual. Sebaliknya, ia mengukur sampel tujuan tujuan pembelajaran secara representatif. c. Menggunakan Soal Soal Tes Yang Tepat Tes yang baik mencakup soal soal yang paling tepat untuk tujuan tertentu. 50. d. Menggunakan Tes Untuk Meningkatkan Pembelajaran Dengan membahas hasil hasil tes, guru memiliki kesempatan untuk mengajarkan kembali informasi penting yang mungkin belum diserap dengan baik oleh siswa. Para guru efektif mengintegrasikan proses testing ke dalam program instruksionalnya untuk memandu dan meningkatkan pembelajaran siswa. 51. a. Merencanakan Tes Rancangan tes adalah alat yang ditemukan oleh para spesialis evaluasi untuk membantu para guru dalam membuat keputusan dan menentukan berapa banyak ruang yang dialokasikan bagi jenis pengetahuan tertentu dan untuk berbagai tingkat proses kognitif siswa yang berbeda. 52. b. Menyusun Tes Setelah guru memutuskan tipe pengetahuan dan proses kognitif mana yang dicakup pada tes tertentu, langkah selanjutnya adalah memutuskan tentang format tes dan tipe soal yang akan digunakan. 53. Soal soal tes tradisional dapat dibagi menjadi dua tipe : 1). Selected-response items, seperti soal pilihan ganda dan benar salah, memungkinkan siswa untuk memilih responsnya diantara alternatif alternatif yang tersedia. 2). Constructed-response items, seperti esai atau jawaban pendek, mengharuskan siswa untuk memberikan respons/jawabannya sendiri. 54. c. Mengonstruksikan dan Memberikan Skor Pertanyaan Pertanyaan Selected Response Test Contoh contoh soal tes yaitu tes benar salah, menjodohkan, dan pilihan ganda. Keuntungan tipe soal soal tes ini kiranya cukup jelas. Mereka memungkinkan cakupan yang lebih besar untuk beragam topik yang sudah diajarkan guru, dan mereka dapat diberikan skor dengan mudah dan obyektif. Kelemahannya tipe soal tes ini adalah kadang kadang sulit untuk menulis pertanyaan yang mengukur ketrampilan dan proses kognitif tingkat tinggi. 55. d. Mengonstruksikan dan Memberikan Skor Pertanyaan Pertanyaan Constructed Response Test Guru menggunakan dua macam pertanyaan constructed-response tes : i). Fill in the blanks ( mengisi titik titik ) / jawaban pendek Tes ini lebih mudah untuk ditulis dan mampu mengukur kemampuan siswa untuk mengingat informasi. Trik untuk menulis pertanyaan fill in the blanks adalah menghindari ambiguitas dan memastikan bahwa pertanyaannya tidak memiliki lebih dari satu jawaban yang benar. 56. ii). Esai Banyak guru dan pakar tes setuju bahwa tes / ujian esai merupakan cara terbaik untuk menyadap proses berpikir tingkat tinggi dan kreatifitas siswa. Kelebihan yang lain yaitu tes ini tidak begitu membutuhkan banyak waktu untuk dikonstruksikan. 57. Beberapa pedoman yang berasal dari praktik praktik para guru efektif dibawah ini perlu dipertimbangkan : Temukan cara untuk mengatasi kecemasan tes Organisasikan lingkungan belajar agar kondusif untuk menjalani tes Menjelaskan rutinitas dan instruksi tes Hindari kompetisi dan time pressure yang tidak semestinya Menyediakan waktu yang cukup kepada siswa Memberikan dukungan yang tepat bagi siswa siswa dengan kebutuhan khusus. 58. a. Performance Assesment ( Asesmen Kinerja ) Menginginkan siswa untuk mendemonstrasikan bahwa mereka dapat mengerjakan tugas tertentu, seperti menulis esai, melakukan eksperimen, menginterpretasi solusi untuk suatu masalah, atau menggambar sesuatu. 59. b. Authentic Assessment ( Asesmen Autentik ) Asesmen ini membawa demonstrasi selangkah lebih maju dan menekankan pentingnya Penerapan ketrampilan atau kemampuan yang dimaksud dalam konteks situasi kehidupan nyata. 60. IkhtisarTentang Pengajaran dengan Presentasi Presentasi adalah model yang berpusat pada guru yang terdiri atas empat fase utama : 1. Aliran yang berjalan mulai dari usaha awal guru untuk mengklarifikasikan tujuan pelajaran dan menyiapkan siswa untuk belajar 2. Presentasi sebuah advance organizer 3. Presentasi informasi baru 4. Memperkuat keterampilan berpikir mereka 61. PsikologiKognitif Mengenai Belajar Kerangaka acuannya penting bagi guru karena memberikan jalan untuk memikirkan tentang bagaimana pikiran bekerja dan bagaimana pengetahuan diperoleh, diorganisasikan, dan dipresentasikan dalam sistem ingatan. 62. 1. Tipe Tipe Pengetahuan Secara tradisional, para teoritisi belajar membedakan antara dua tipe utama pengetahuan a. Declarative Konowledge Adalah pengetahuan tentang sesuatu atau pengetahuan bahwa sesuatulah keadaan yang sebenarnya. b. Procedural Knowledge Adalah pengetahuan tentang how to do something ( bagaimana cara melakukan sesuatu ) 63. 2. Pemrosesan Informasi Ingatan jangka pendek adalahtempat dalam pikiran yang kerja mentalnya dilakukan secara sadar; sedangkan ingatan jangka panjang adalah tempat dalam ingatan yang informasinya disimpan, siap untuk didapatkan kembali bilamana dibutuhkan. 64. 3. Representasi Pengetahuan Prinsip prinsip pengajaran tentang mempresentasikan informasi yang tumbuh dari ide ide psikologi kognitif ini memiliki empat hal penting bagi guru : a. Untuk mengetahui bahwa pengetahuan diorganisasikan dan distrukturisasikan di seputar proposisi proposisi dasar dan ide ide pemersatu. 65. b. Kemampuan siswa untuk mempelajari ide ide baru bergantung pada pengetahuan mereka sebelumnya dan struktur kognitif yang sudah ada c. Tugas utama guru dalam membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan adalah : Mengorganisasikan bahan bahan belajar dengan pemikiran yang mendalam dan dengan mahir 66. Memberikanadvance organizer kepada siswa yang akan membantu mengaktifkan, mengaitkan, dan mengintegrasikan pembelajaran baru Memberikan isyarat / petunjuk kepada siswa untuk membantu mereka dalam mengambil informasi dari ingatan jangka panjang untuk dipindahkan ke ingatan jangka pendek 67. d. Ingat bahwa struktur kognitif berubah akibat adanya informasi baru dan oleh karenanya menjadi dasar untuk mengembangkan struktur struktur kognitif baru 68. 1. Pengetahuan Sebelumnya, Establishing, dan Memberikan Cues Salah satu prosedur pengajaran penting untuk membantu siswa mengunakan pengetahuan yang sudah mereka miliki sebelumnya adalah induksi, atau di istilahkan dengan establishing set yaitu sebuah teknik yang digunakan guru pada awal presentasi untuk menyiapkan siswa untuk belajar dan untuk membangun hubungan komunikatif antara pelajar dan informasi yang akan dipresentasikan. 69. 2. Menggunakan Advance Organizers Kegunaan advance organizer sebagai sarana untuk membantu membuat informasi bermakna bagi siswa; terdiri atas pernyataan pernyataan yang dibuat guru tepat sebelum presentasi aktual berbagai materi belajar. 70. 3. Kejelasan Guru Variabel lain yang terkait dengan presentasi informasiyang ditemukan memengaruhi pembelajaran siswa adalah kejelasan guru. Guru perlu mengambil beberapa langkah sebelum mempresentasikan informasi kepada siswa-siswanya : a. Memastikan bahwa isinya dimengerti sepenuhnya b. Melatih dan menghafalkan ide ide kunci dalam ingatan sebelum memberikan presentasi c. Mengikuti dengan seksama catatan tertulis yang telah disiapkan 71. 4. Antusiasme Guru Hal ini adalah konsep yang menarik karena dua alasan : Antusiasme sering dikacaukan pengertiannya dengan theatrics dan distraksi yang terkait dengannya Penelitian tentang hubungan antara antusiasme guru dan pembelajaran siswa masih campur aduk 72. 5. Efek Antusiasme Saat ini kita seharusnya menyadari bahwa antusiasme itu penting dan tampaknya membuat perbedaan dalam siswa terhadap presentasi. Akan tetapi, bagaimana persisnya sifat antusiasme dan seberapa banyak seharusnya digunakan, sampai saat ini masih belum diketahui dengan jelas. 73. Pengguanaan yang efektif membutuhkan pelaksanaan secara mahir berbagai keputusan dan perilaku selama fase pra instruksional, fase interaktif, dan fase pasca instruksional dalam pengajaran. 74. Membuat keputusan tentang apa isi yang akan dimasukkan ke dalam sebuah presentasi dan bagaimana mengorganisasikan isinya agar logis dan bermakna bagi siswa membutuhkan persiapan ekstensif oleh guru. 75. Ada empat tugas perencanaan terpenting yang harus dilakukan : 1. Memilih Tujuan dan Isi Tujuan untuk pelajaran presentasi terutama adalah tujuan tujuan yang dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan deklaratif. Mengajar lebih dari sekedar berbicara, pelajaran presentasi yang baik membutuhkan persiapan ekstensif. Akan tetapi, banyaknya pengetahuan di bidang apapun dapat dikatakan tidak ada habisnya, dan beberapa prinsip dapat membantu para guru ketika merencanakan sebuah presentasi atau serangkaian presentasi tertentu. 76. 2. Mendiagnosis Pengetahuan Yang Sebelumnya Telah Dimiliki Siswa Informasi yang diberikan dalam sebuah presentasi didasarkan pada estimasi guru tentang struktur kognitif yang sudah ada dan pengetahuan yang sebelumnya sudah dimiliki tentang subyek tertentu. Agar materi baru bermakna bagi siswa, guru harus menemukan cara untuk mengaitkannya dengan sesuatu yang sudah diketahui oleh siswa. 77. 3. Memilih Advance Organizers Advance Organizer membantu siswa untuk melihat gambar besar dari berbagai hal yang dipresentasikan. Sebuah advance organizer yang baik berisi materi mater yang sudah dikenal dengan baik oleh siswa dan dirancang untuk mengaitkan dengan pengetahuan yang sebelumnya sudah dimiliki siswa. 78. 4. Merencanakan Penggunaan Waktu dan Ruang Merencanakan dan mengelola waktu dan ruang sangat penting bagi presentasi yang efektif.Ada dua hal yang seharusnya paling diperhatikan oleh guru : memastikan bahwa waktu yang dialokasikan pas dengan kemampuan dan sikap siswa di kelas, dan memotivasi siswa agar mereka tetap memerhatikan dan on-task selama pelajaran. 79. a. Menyiapkan Penggunaan Gambar dan Ilustrasi Gambar dan ilustrasi dapat menjelaskan berbagai konsep yang tidak dapat dijelaskan dengan kata kata, khususnya bagi anak anak yang masih belia atau siswa siswa yang abstraksinya kurang baik 80. b. Menggunakan Beragam Cues ( isyarat ) dan Contoh Penggunaan isyarat dan contoh adalah salah satu cara yang dapat digunakan guru untuk membantu siswa menghubungkan informasi baru itu dengan apa yang sudah mereka ketahui. 81. c. Sedikit Banyak Konkret Siswa yang lebih tua dan berprestasi lebih tinggi dapat berpikir lebih abstrak dibanding siswa yang lebih muda dan berprestasi lebih rendah. Bila keduanya ada di kelas yang sama, penting bagi guru untuk menjelaskan berbagai ide secara konkret dan secara abstrak untuk memenuhi kebutuhan siswa siswa yang memiliki tingkat perkembangan intelektual yang berbeda. 82. Melaksanakan Pelajaran Presentasi Sintaksis pelajaran presentasi terdiri atas empat fase dasar : 1. Mengklarifikasikan tujuan pelajaran dan menyiapkan siswa untuk belajar 2. Mempresentasikan advance organizer-nya 3. Mempresentasikan informasi baru yang di maksud 4. Memantau dan memeriksa pemahaman siswa serta memperluas dan memperkuat keterampilan berpikir mereka. 83. Ketrampilankognitif maupun fisik adalah fondasi yang dibangun pembelajaran tingkat tingginya (termasuk Learning to Learn, belajar mengajar). Sebelum siswa dapat menemukan berbagai konsep yang kuat, berpikir kritis, mengatasi masalah, atau menulis secara kreatif, mereka mulamula harus mendapatkan berbagai keterampilan dan informasi dasar. 84. Pengajaranlangsung dapat dideskripsikan dalam kait-annya dengan tiga fitur: (1) tipe hasil belajar yang dihasilkannya; (2) sintaksis atau aliran kegiatan instruksionalnya secara keseluruhan; dan (3) lingkungan belajarnya. Secara singkat, pengajaran langsung dirancang untuk meningkatkan penguasaan berbagai keterampilan (pengetahuan prosedural) dan pengetahuan faktual yang dapat diajarkan secara langkah demi langkah. 85. Beberapa aspek model ini diambil dari pro-sedurprosedur pelatihan yang dikembangkan dalam lingkup industri dan militer. Barak Rosenshine dan Robert Stevens (1986), melaporkan bahwa mereka menemukan sebuah buku yang berjudul How to Instruct yang diterbitkan pada 1945 telah memasuk-kan banyak ide yang terkait dengan pengajaran langsung. Ada tiga tradisi teoretis yang menjadi da-sar pemikiran untuk penggunaan pengajaran langsung kontemporer, yakni: behaviorisme, teori belajar sosial, dan penelitian tentang efektivitas guru. 86. Hasil hasil dari perbandingan perbandingan yang ada, Good dan Grouws menyimpulkan bahwa efektivitas guru sngat terkait dengan klasterklaster berikut : Pengajaran seluruh kelas. Secara umum, pengajaran seluruh kelas ( bila dibandingkan kelompok kecil ) didukung oleh studi ini terutama bila guru memiliki kapabilitas tertentu seperti kemampuan untuk menyatukan hal-hal yang cerai berai. 87. Kejelasanpengajaran dan presentasi. Guru efektif mengintroduksikan pelajaran dengan maksud yang jelas dan menerangkan materi-materi belajar dengan lebih jelas. 88. Ekspektasikinerja yang tinggi Guru-guru efektif mengomunikasikan ekspektasi kinerja yang lebih tinggi terhadap siswa siswanya, memberikan lebih banyak tugas, dan menyelesaikan kurikulum dengan lebih cepat dibandingkan dengan guru-guru yang tidak efektif. 89. Lingkunganbelajar yang berorentasi tugas tetapi produktif Guru-guru efektif memiliki masalah manajerial yang lebih sedikit dibanding guru-guru yang tidak efektif. Kelas lebih difokuskan pada tugas dan ditandai oleh pengajaran yang berjalan lancar, relatif bebas disrupsi. 90. Perilakuyang diprakarsai siswa Siswa-siswa di kelas efektif lebih banyak memprakarsai interaksi dengan guru-guru, dibanding guru-guru tidak efektif memprakarsai interaksi antara guru dengan siswa. 91. Memprosesumpan balik ( pengetahuan tentanghasil ). Guru-guru efektif memberitahukan hasil kerja siswa. Memberikan umpan balik tentang proses atau perkembangan, khususnya selama tugas siswa di kelas, dan umpan balik ini bersifat segera dan nonevaluatif. Memuji. Guru-guru efektif secara konsisten memberikan lebih sedikit pujian dibanding guru-guru yang tidak efektif. 92. 1.Merencanakan Pengajaran Langsung Model pengajaran langsung dirancang secara spesifik untuk meningkat-kan pembelajaran pengetahuan faktual yang terstruk-tur dengan baik, yang dapat diajarkan secara langkah- demi-langkah dan dimaksudkan untuk membantu sis-wa menguasai pengetahuan prosedural yang dibutuh-kan untuk melakukan berbagai keterampilan sederha-na maupun kompleks. 93. a). Menyiapkan Tujuan. Ketika menyiapkan tujuan untuk pelajaran dengan model pengajaran langsung, dengan pendekatan yang lebih disukai. Tujuan yang baik seharusnya berbasis siswa dan spesifik, menyebutkan situasi testing-nya, dan mengidentifikasi tingkat kinerja yang diharapkan. 94. b). Melaksanakan Analisis Tugas. Task analysis (analisis tugas) adalah sesuatu yang tingkat kesulitan dan kekompleksannya tidak masuk akal, meskipun pada kenyataannya analisis tugas adalah sebuah proses yang agak mudah dan sederhana, khususnya bagi guru-guru yang mengetahui subjeknya dengan baik. 95. c). Merencanakan waktu dan Ruang Merancang dan mengelola waktu sangat penting bagi pelajaran dengan model pengajaran. Guru harus memastikan bahwa waktunya cukup, dengan kecerdasan siswa di kelas, dan siswa termotivasi untuk tetap terlibat sepanjang pelajaran. 96. Melaksanakan Pelajaran dengan Model Pengajaran Langsung Model pengajaran secara langsung memiliki lima fase ( langkah esensial ) yaitu : 1). Mengklarifikasikan Tujuan. 2). Mendemonstrasikan pengetahuan. 3). Memberikan praktek dengan bimbingan. 4). Memeriksa pemahaman siswa dan memberikan umpan balik. 5). Memberikan praktek dan transfer yang diperluas. 2. 97. Prinsip prinsip yang dapat menuntun guru memberikan kesempatan untuk praktek kepada siswa seperti di bawah : a). Berikan Praktek yang pendek dan bermakna b). Berikan Praktek untuk meningkatkan Overlearning c). Memerhatikan Tahap-tahap Awal Praktek d). Memeriksa Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik 98. Umpanbalik yang spesifik, "students will not learn to write well by writing, read well by reading, or run well by running." Pedoman 1 : Berikan Umpan Balik Segera Mungkin setelah Praktek. Pedoman 2 : Memberikan Umpan Balik yang Spesifik. Pedoman 3 : Berkonsentrasi pada Perilaku, bukan Niat. 99. Pedoman 4 : Pastikan Umpan Balik sesuai dengan Perkembengan Siswa Pedoman 5 : Menekankan Pujian dan Memberikan Umpan Balik pada Kinerja yang Benar. Pedoman 6 : Ketika Memberikan Umpan Balik Negatif, Tunjukkan Tata Cara yang benar untuk Melakukannya Pedoman 7 : Ajari Siswa untuk Memberikan Umpan Balik kepada Dirinya Sendiri dan untuk Menilai Kinerjanya Sendiri. 100. Praktek independen dapat dilakukan melalui : seatwork ( tugas di kelas ) dan homework ( tugas di rumah ). Pedoman untuk Seatwork : 1. Berikan seatwork yang menaik dan menyenangkan 2. Pastikan siswa memahami tuntutan seatwork 3. Buatlah seatwork yang mengikuti pelajaran langsung 4. Miliki prosedur yang jelas tentang apa yang harus dilakukan siswa bila menemui jalan buntu. 101. Pedoman yang disarankan untuk memberikan homework : 1. Berikan tugas yang menarik dan secara potensial menyenangkan dan pastikan bahwa siswa memahami tugasnya. 2. Berikan PR yang cukup menantang dan dapat disele-saikan dengan baik. 3. Gunakan tugas-tugas PR dengan cukup sering dan tidak terlalu besar (banyak) dan bukan lebih jarang tetapi berupa tugas-tugas besar (berat). Pedoman ini tentunya dipengaruhi oleh sifat bidang studinya dan umur siswa. 4. Bualah aturan yang jelas untuk pengerjaan PR. 5. Beri tahukan kepada orang tua tentang tingkat keterlibatan yang diharapkan. 6. Berikan umpan balik dan nilai pada PR segera mungkin. 102. 1. Buat Variasi pada Struktur Pelajaran. Buat pelajaran terstruktur untuk siswa yang lebih muda dan berprestasi rendah, buatlah agar tujuannya spesifik; gunakan tingkat kecepatan sedang dalam menyampaikan pengajaran. Tingkatkan perluasan pengajaran keterampilan dasar dan berikan kesempatan untuk eksplorasi bagi siswa-siswa yang lebih tua dan berprestasi tinggi. 103. 2. Buat Variasi pada Presentasi dan Demonstrasi Garis bawahi ide-ide atau prosedur pokoknya di papan tulis, overhead projector, untuk siswa-siswa yang lebih muda atau berprestasi lebih rendah. Batasi presentasi-nya pada beberapa poin atau ide saja, buat agar presentasinya ringkas dan tidak berkepanjangan. Perluas ke luar ide dan keterampilan dasar untuk siswa-siswa yang lebih tua dan berprestasi lebih tinggi. 104. 3. Buat Variasi pada Sifat Interaksinya Dasarkan pengajarannya pada pengetahuan yang sebelumnya sudah dimiliki siswa. Mengajarkan apa yang sudah diketahui akan membuat siswa bosan; mengajarkan ide atau keterampilan tanpa pengetahuan yang cukup tidak akan ada artinya. Memberi perhatian pada perbedaan kultural di antara kelompok-kelompok rasial atau etnik da-lam kaitannya dengan kemauan untuk berinter-aksi di depan orang lain; hat yang sama juga ber-laku untuk gender. 105. 4. Buat Variasi pada Sifat Dorongan dan Dukungan Berikan dorongan dlan dukungan terus-menerus kepada siswa-siswa yang berprestasi rendah atau tidak mandiri. Semakin sedikit yang diketahui siswa, semakin banyak dukungan instruksional yang mereka butuhkan. Memberikan kesempatan kepada siswa-siswa yang berprestasi lebih tinggi dan lebih mandiri untuk memahami sendiri berbagai hal. 106. 5. Buat Variasi pada Penggunaan Praktik, Seatwork, dan PR Pastikan bahwa latihan praktiknya dipahami de-ngan baik dan berikan seatwork dan PR singkat untuk siswa-siswa berprestasi rendah. Batasiseatwork dan buat PR-nya menantang bagi mereka yang berprestasi lebih tinggi dan lebih mandiri. 107. MengelolaLingkungan Belajar Tugas-tugas yang terkait dengan mengelola lingkung-an belajar selama pelajaran dengan model pengajaran langsung hampir identik dengan yang digunakan guru ketika menerapkan model presentasi. Dalam pengajar-an langsung, guru menstrukturisasikan lingkungan belajarnya dengan sangat ketat, mempertahankan fo-kus akademis, dan berharap siswa menjadi pengamat, pendengar, dan partisipan yang tekun. 108. Assesmendan Evaluasi Pentingnya mencocokkan strategi testing dan evaluasi dengan sasaran relevan tidaknya antara tujuan dengan harapan. Model pengajaran langsung digunakan paling tepat untuk mengajarkan ketrampilan dan pengetahuan. 109. Sebuah Pemikiran Akhir : Mempertimbangkan Penggunaan Pengajaran Langsung Model ini berpusat pada guru dan terlalu menekankan teacher talk. Kebanyakan pengamat mengatakan bahwa teacher talk mengguna-kan antara setengah sampai tiga perempat dari setiap periode pengajaran di kelas, dan menurut Cuban (1982, 1993). Model ini mau tak mau mendukung pandangan bahwa siswa adalah bejana kosong yang akan diisi dengan informasi yang disegmentasikan dengan cermat dan bukan pelajar aktif dengan kebutuhan untuk mendapatkan informasi dan mengonstruksikan pengetahuan sendiri ( Marshall. 1992 ). 110. Ikhtisar tentang Pengajaran Konsep Menggabungkan sesuatu yang konkret seperti bola dengan sebuah kualitas abstrak seperti bundar memungkinkan untuk mengidentifikasi golongan-golongan benda, kejadian, dan ide yang berbeda satu sama lain. Dengan berulang kali menyortir dan mengklasifikasikan bola-bola yang berbeda, pada akhimya ia mampu membentuk sebuah konsep abstrak untuk bendabenda yang serupa ini, yang memungkinkannya berpikir tentang benda itu dan, akhirnya, berkomunikasi dengan orang lain tentang konsep. 111. Banyakpendekatan pengajaran konsep, tetapi ada dua pendekatan dasar yaitu : 1). Pendekatan direct presentat-ion (presentasi langsung) dan 2). Pendekatan concept at-tainment (pencapaian konsep). Sebuah konsep pengajaran konsep pada dasarnya terdiri etas empat face atau langkah utama: (1). Mempresentasikan tujuan dan establishing set, (2.) Memberi masukan examples (contoh) dan nonexamples (bukan-contoh), (3). Menguji pencapaian konsep, dan (4). Menganalisis proses berpikir siswa 112. 1). Konsep-konsep itu sendiri dapat ditempatkan ke dalam kategori-kategori. Konsep konsep, seperti objek, ide-ide dapat dikategorisasikan dan diberi nama/label. Konsep adalah alat yang digunakan untuk mengorganisasikan pengetahuan dan pengalaman ke dalam berbagai macam kategori, konsep juga dapat dikategorikan dan dinamai. 113. 2). Konsep dipengaruhi oleh konteks sosial. Atributatribut penting konsep konjungtif, misalnya segi tiga sama sisi, berlaku tetap di semua konteks sosial. 3). Konsep memiliki definisi dan label. Semua konsep memiliki nama atau label dan definisi yang lebih kurang tepat. 4). Konsep Memiliki Atribut-Atribut Kritis. Contoh : Berbulu ( Atribut kritis ), warna bulu ( Atribut non kritis ) 5). Konsep memiliki atribut-atribut nonkritis. 114. Bruner(1966) mengidentifikasi tiga modes (cara) belajar: (1) belajar dengan melakukan (learning by doing), yang disebut enactive mode, (2) belajar dengan membentuk gambaran mental, yang disebut iconic mode, dan (3) belajar melalui serangkaian simbol atau repre-sentasi abstrak, yang disebut symbolic mode. 115. Sebuahstudi yang sangat menarik dan penting ( Novak dan Musonda, 1991 ) tentang belajar konsep di bidang sains : 1). Permasalahan dan Pendekatan: Menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, Novak dan Musonda mengeksplorasi apakah siswa-siswa kelas satu dan dua SD dapat diajari konsep-konsep sains dasar dan, bila dapat apakah pembelajaran sains awal itu menguatkan pemahaman mereka kelak. 116. 2). Sampel dan Setting: Dari tahun 1971 sampai 1973 guru-guru di sebelas kelas satu dan dua SD, para peneliti mengajarkan dua puluh delapan pelajaran sains kepada 191 siswa. 3). Prosedur: Sebelum studi dilaksanakan, para peneliti mengembangkan dua puluh delapan pelajaran yang masing-masing dibangun sebuah konsep sains dasar. 4). Hasil-hasil: Hasil-hasil studi yang dilaporkan di sini terutama berasal dari data yang diambil petapeta konsepnya. 117. 1). Memilih Konsep. Kurikulum adalah sumber utama untuk memilih konsep-konsep yang akan diajarkan. Konsep-konsep itu mungkin terdapat dalam textbooks, dan edisi yang digunakan guru sering kali menjadi pedoman dalam memilih konsep-konsep kunci yang akan diajarkan. Contoh : benda-benda yang bergerak dapat melakukan work (pekerjaan ) 118. 2). Memutuskan Pendekatan yang Akan Dipakai. Ada dua ( 2 ) pendekatan yang akan di bahas antara lain : Pendekatan direct presentation ( presentasi langsung ), menerapkan rule to example process deduktif ( Tennyson et al, 1983 ) guru untuk mendifinisikan sebuah konsep yang diikuti dengan pemberian contoh dan bukan contoh. 119. Pendekatanconcept attainment ( pencapaian konsep ), di lain pihak, membalik sekuensi dan menggunakan example to rule procss ( proses dari contoh ke aturan ) Bruner, 1996. Guru mula-mula memberikan contoh dan non contoh tentang suatu konsep, dan siswa menemukan atau mencapai konsep itu sendiri melalui proses penalaran induktif. 120. 3). Mendefinisikan Konsep. Contoh: konsep pohon dapat didefinisikan sebagai tumbuhan yang hidup selama bertahun-tahun dan memiliki sebuah batang tubuh tunggal dan berkayu . Konsep konsep yang kompleks dari berbagai subjek akademis perlu didefinisikan dan diajarkan sesuai dengan umur siswa. 121. Adatiga langkah dalam mendifinisikan konsep : 1. Identifikasi nama konsepnya 2. Buat daftar atribut-atribut kritis dan nonkritis 3. Tulis definisi ringkasnya Contoh : Pulau, mendaftar semua atribut kritis seperti daratan dan air, dan membrikan definisi berikut : pulau adalah daratan yang lebih kecil dibanding benua dan dikelilingi oleh air. 122. 4). Menganalisis Konsep. Setelah sebuah konsep dipilih dan didefinisikan dalam kaitannya dengan atribut--atribut kritisnya, konsep itu perlu dianalisis untuk mencari beberapa contoh dan bukan-contohnya. 123. 5). Memilih dan Mengurutkan Berbagai Contoh dan Bukan Contoh. Secara umum, telah ditunjukkan bahwa contohcontoh awal seharusnya cukup familier bagi kelas yang bersangkutan. Bila robin digunakan sebagai contoh terbaik (paling fami-lier) untuk konsep burung, lebih mudah bagi siswa untuk membedakan burung-burung yang paling mirip dengan robin, misalnya kardinal, burung pipit, atau bluebird, daripada membedakannya dengan burung--burung lain yang kurang mirip, seperti bebek, ayam, atau penguin. 124. 6). Menggunakan Gambar-Gambar Visual. Menggunakan gambaran-gambaran visual memengaruhi pembelajaran konsep dan mendukung pepatah is picture is worth a thousand words. Alat bantu dan gambar gambar visual diketahui sangat memfasilitasi pemahaman siswa tentang berbagai konsep yang kompleks. 125. 7). Grafik organizers dan conceptual web ( jejaring konseptual ) adalah bentuk-bentuk representasi visual lain yang dapat berguna. Alatalat ini dapat membantu menjelaskan atributatribut kritis sebuah konsep dan membuat konsep itu lebih kongkret bagi siswa. 126. Ada 4 langkah dalam mengkonstruksikan sebuah jaring untuk konsep tertentu : Langkah 1: Buat inti/pusatnya, yang menjadi fokus, jaring itu. Fokus jaring adalah nama konsep yang dimaksud.Langkah 2: Konstruksikan strands (helai-helai) jaring-nya, ke luar dari intinya. Strands adalah atribut-atribut kritis konsep itu. Langkah 3: Gambarkan penopang-penopang strand, yang menghubungkan atribut-atribut kritis itu dengan konsepnya. Langkah 4: Identifikasi pertaliannya, yang menunjukkan hubungan di antara berbagai atribut. 127. 8). Merencanakan Waktu dan Ruang. Persyaratan waktu bergantung pada tingkat dan kemampuan mengajarkan konsep sampai yang akan dibutuhkan untuk kognitif siswa dan kompleksitas konsep yang diajarkan. Kesalahan yang lazim dibuat oleh guru pemu-la adalah menetapkan estimasi yang terlalu rendah yang dibutuhkan untuk mengajarkan konsepkonsep, bahkan yang sederhana, sampai tuntas. 128. Empatfase pengajaran konsep : Fase 1 : Mengklasifikasikan maksud dan estabilishing set. Guru menjelaskan maksud dan prosedur untuk pelajaran itu dan menyiapkan siswa untuk belajar. Fase 2 : Memberi masukan contoh dan bukan contoh. Guru menamai berbagai konsep, mengidentifikasi atribut-atribut kritis, dan memberi ilustrasi dengan contoh dan bukan contoh. 129. Fase 3 : Menguji kecapaian. Guru mempresentasikan contoh dan bukan contoh tambahan untuk menguji pemahaman siswa tentang konsep. Fase 4 : Menganalisis proses berfikir dan integrasi pembelajaran siswa. Guru membawa siswa untuk memikirkan tentang proses berfikirnya sendiri, dan menghubungkan konsep itu dengan konsepkonsep lain. 130. Direct presentation. Dalam pendekatan, direct presentation (presentasi langsung), aliran internal pelajaran ter-masuk antara lain: 1. Menamai konsepnya dan memberikan definisi-nya. 2. Menidentifikasi atribut-atribut kritis dan memberi contoh dan bukan contoh untuk konsep itu. 3.Menguji pemahaman konsep dengan meminta siswa untuk memberikan contoh dan bukan-contoh. 131. Concept attainment. Dalam concept attainment (penca-paian konsep), siswa sudah memiliki pemahaman ter-tentu tentang konsep . Guru yang menggunakan pendekatan concept attainment akan meng-gunakan langkah-langkah sebagai berikut: 1.Berikan contoh-contoh kepada siswa, sebagian merepresentasikan konsep yang dimaksud, sebagian lainnya tidak 2.Memaksa siswa untuk menghipotesiskan tentang atributatribut konsep itu dan mencatat alasan spekulasinya. 132. 3. Bila siswa tampak sudah mengetahui konsepnya, siswa menamai konsep itu dan mendiskripsipkan proses yang mereka gunakan. 4. Guru memeriksa apakah siswa sudah mencapai konsep itu dengan meminta mereka mengidentifikasi contoh-contoh tambahan dengan ya, atau tidak. 133. Conceptattainment adalah proses induktif yang membantu siswa dalam mengorganisasikan data menurut konsep-konsep yang sudah dipelajari sebelumnya berbeda dengan pendekatan direct presentation, guru memberikan label dan definisi setelah siswa terlibat dalam penemuan atributatribut kritisnya. 134. Untukpendekatan ini, guru efektif menstrukturisasikan lingkungan belajarnya dengan cukup ketat. Selama pelajaran berjalan, mereka mengharapkan siswa untuk memerhatikan baik-baik pelajarannya, menjadi pengamat yang tekun dan pendengar yang baik. 135. Untukmencapai tingkat belajar konsep yang lebih tinggi, siswa seharusnya mampu untuk : 1). Mendifinisikan konsep dan mengetahui atribut-atribut kritisnya 2). Mengenali contoh dan bukan contoh 3). Mengevaluasi contoh dan bukan contoh dalam kaitannya dengan atribut-atribut kritisnya. 136. TERIMA KASIH